• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROYEK PEMBANGUNAN MASYARAKAT PESISIR KOTA TERNATE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROYEK PEMBANGUNAN MASYARAKAT PESISIR KOTA TERNATE"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 1 of 141

LAPORAN AKHIR KEGIATAN TAHUN 2013

PROYEK PEMBANGUNAN MASYARAKAT

PESISIR

KOTA TERNATE

(COASTAL COMMUNITY DEVELOPMENT PROJECT – INTERNATIONAL

FUND FOR AGRICULTURAL DEVELOPMENT)

DISUSUN KONSULTAN PIU KOTA TERNATE

SYAHNUL SARDI TITAHELUW KARIM ABUBAKAR

(2)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 2 of 141

KATA PENGANTAR

Coastal Community Development International Fund for Agricultural Development (CCD-IFAD) atau disebut Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir

(PMP) merupakan kerjasama Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan IFAD berdasarkan Financing Agreement antara Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini diwakili oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan dengan President IFAD yang ditandatangani pada tanggal 23 Oktober 2012. Proyek tersebut sebagai respon langsung terhadap kebijakan dan prakarsa Pemerintah Indonesia, yang mencerminkan kebijakan pemerintah, khususnya KKP untuk pengentasan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan yang berkelanjutan (pro-poor, pro-job, pro-growth

and pro-sustainability) yang sejalan dengan kebijakan dan program IFAD.

Program ini sejalan dengan visi misi dari Kota Ternate dalam mengetaskan kemiskinan, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi dan pembengunan yang berkelanjutan di wilayah pesisir kota ternate. Selain itu, ssekitar ¾ wilayah pemerintahan kota ternate merupakan perairan yang menghubungkan kecamatan-kecamatan yang satu dengan lainnya. Sehingga kehadiran program tersebut sangat di dukung oleh pemerintah Kota, yang di jabarkan melalui dana pendamping setiap tahun yang dikelola oleh dinas kelautan dan perikanan (DKP) Kota ternate. Kehadiran program ini cukup dirasakan langsung baik dimsyarakat maupun pemerintah.

Akhir kata kami sangat mengharapkan semoga laporan ini bisa menjada manfaat untuk pengelolaan program CCDP-IFAD kedepannya.

(3)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 3 of 141

(4)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 4 of 141

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

GLOSSARY / DAFTAR ISTILAH DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR RINGKASAN EKSEKUTIF 1. Pendahuluan 9 1.1. Latar belakang 9 1.2. Tujuan 15 1.3. Kelembagaan Proyek 15

1.4. Tahapan Kegiatan, Strategi dan Implementasi Proyek 17 1.5. Pemantauan, Evaluasi dan Indikator Kinerja Proyek 18 1.6. Deskripsi Singkat Capaian Kegiatan Tahun 2013 19

2. Gambaran Umum Lokasi CCDP IFAD 20

2.1. Profile Singkat 9 Desa Target CCDP-IFAD 20 2.2. Potensi Ekonomi Kelautan dan Perikanan 43 2.3. Distribusi dan Pemasaran Hasil Kelautan dan Perikanan 44

3. Peran Konsultan PIU Kota Ternate 45

3.1. Tugas dan Tanggung Jawab 45

3.2. Kegiatan dan Intervensi Yang Dilakukan 50

3.3. Hasil Yang Dicapai dan Indikatornya 52

4. Implementasi Kegiatan Atau Proyek 53

5. Analisis/Strategis Untuk Optimalisasi Pendampingan Pemberdayaan Masyarakat Dalam CCDP Tahun 2014 74 6. Analisis/Strategis Untuk Efektifitas Pemasaran dan

Pengembangan Usaha Dalam CCDP Tahun 2014 75 72

7. Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan 77

7.1. Pemantauan Kegiatan Kelompok 77

7.2. Evaluasi Kegiatan 78

7.3. Pelaporan 79

8. Gender Perspektif 79

8.1. Gambaran Singkat Pola Keterlibatan Wanita Dalam Berbagai Aktifitas Kelautan dan Perikanan Kota Ternate 79

(5)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 5 of 141 8.2. Keterlibatan Perempuan Dalam Berbagai Aktifitas Ccdp-Ifad

(Termasuk Di Piu, Lokakarya, Danaktifitaslainnya) 80

8.3. Keterlibatan Perempuan Dalam Kelompok Masyarakat/Usaha

Ccdp 81

8.4. Hal Yang Perlu Dilakukan Untuk Meningkatkan Peran

Perempuan 82

9. Pengembangan Kapasitas / Pelatihan / Workshop 86 10. Peran Strategis Dan Koordinasi Kelembagaan 87

10.1. PMO 87

10.2. PIU Kabupaten Kota Ternate 88

10.3. Komite Pesisir (DOB) 91

10.4. Provinsi / BPSPL 92

10.5. Tim Pendamping Desa / Penyuluh 93

10.6. Kelompok Masyarakat 94

11. Kendala dan Tantangan Yang Di Hadapi 96

11.1. Kendala Teknis 97

11.2. Kendala Non-Teknis 97

12. Focus dan Rencana Imlementasi Program Tahun 2014 97 12.1. Rencana Kegiatan / Kegiatan Prioritas Yang Akan

Dilakukan tahun 2014 (RKAKL dan AWPB) 98 94

12.2. Tahapan Pelaksanaa 99

12.3. Strategi Untuk Mengimplementasikan Proyek 102 12.4. Strategi Pemberdayaan dan Pendampingan Masyarakat 102 12.5. Strategi Pemasaran dan Pengembangan Usaha/Value

Chain 103

12.6. Kordinasi dan Kelembagaan 108

12.7. Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan Kegiatan 108

13. Rekomendasi Strategis 109

14. Pembelajaran 111

(6)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 6 of 141

DAFTAR TABEL

1. Tabel 1. Luas Wilayah Kota Ternate (Kota Ternate dalam angka 2009) 9

2. Tabel 2 Perbandingan Luas Wilayah 10

3. Tahapan Kegiatan, Komponen Dan Strategi Implementasi Proyek 17 4. Tabel 4. Jumlah Masyarakat Pesisir yang menggantungkan hidupnya dari

sektor Perikanan 37

5. Table 6 kegiatan pengembangan kapasitas / pelatihan / worshop 84 6. Tabel 6 jumlah Fasilitator dan Desa yang yang menjadi priorotas proyek

selama 5 tahun 91

7. Tabel 7. Pembentukan dan Fungsi Kelompok di Desa 93

8. Table 8 Rencana Kegiatan 2014 95

(7)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 7 of 141

DAFTAR GAMBAR

1. Struktur kelembagaan proyek 16

2. Gambar. 2 Peta Administrasi Kota Ternate 23 3. Gambar 3. Peta administrasi Kecamatan Moti, Kota Ternate 32 4. Gambar 4. Peta administrasi Kecamatan Moti, Kota Ternate 38 5. Gambar 5. Peta administrasi Kelurahan Moti Kota Kecamatan Moti 41

6. Struktur kelembagaan PIU Kota Ternate 88

7. Struktur dan pengaturan pengelolaan untuk proyek di pusat,

(8)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 8 of 141

RINGKASAN EKSLUSIVE

Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir (PMP) atau disebut Coastal

Community Development Project - International Fund for Agricultural Development

(CCDP-IFAD) merupakan kerjasama Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan IFAD berdasarkan Financing Agreement antara Pemerintah Republik Indonesia, dengan IFAD yang ditandatangani pada tanggal 23 Oktober 2012. Proyek tersebut sebagai respon langsung terhadap kebijakan Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pengentasan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan yang berkelanjutan (poor, job, growth and

pro-sustainability) yang sejalan dengan program IFAD.

Pemberian atau penyaluran BLM kepada POKMAS dapat dilakukan pada 9 desa target program, baik POKMAS Usaha (Penangkapan, Dibo-Dibo, Ikan Fufu-Fufu, Abon IKan) dan Infrastruktur juga berhasil dilakukan 100%. Untuk kelompok SDA, tahun 2013 tidak diberikan BLM karena POKMAS tersebut diproyeksikan untuk tahun 2014 yang akan melakukan rehabilitasi berbagai sumberdaya pesisir dan lautan yang ada di Desa bersangkutan sesuai dengan perencanaan berbasisi Desa yang sudah dibuat. Pembangunan pondok informasi dapat terlaksankan bagi semua desa yang benjadi target program untuk tahun 2013 maupun 2014 di 9 desa tersebut, diantaranya Desa Sulamadaha, Tobololo, Kulaba, Dorai Isa, Togolobe, Mado, Moti Kota, Tadenas dan Tafaga. Pembangunan pondok informasi tersebut sudah mencapai 70-80 % sampai awal januari 2014.

Dukungan berbagai Stakeholder yang terkait dengan program ini cukup membantu dalam memprcepat kegiatan di tahun 2013 sangat dirasakan. Oleh karena itu, spr=irit ini harus dipertahankan dan lebih ditingkatkan lagi sehingga proyek ini dapat terlaksana sesuai dengan yang diharap bersama oleh pemerintah Pusat (KKP) maupun pemerintah daerah.

(9)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 9 of 141

1. PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

GAMBARAN UMUM KOTA TERNATE Kondisi Fisik Geografis Wilayah

Wilayah Kota Ternate mempunyai luas 5.795,4 km2, terdiri dari luas perairan 5.544,55 km2 atau 95,7 % dan luas daratan 250,85 km2 atau 4,3% dengan bentangan pantai sepanjang ± 124 km. Secara geografis wilayah Kota Ternate terletak antara 30LS dan 30LU serta 1240-1290BT, dan terdiri dari 8 buah pulau, 3 diantaranya tidak berpenghuni. Kawasan daerah ini seluruhnya dikelilingi oleh laut dan mempunyai batas-batas sebagai berikut :

 Sebelah Utara dengan Laut Maluku

 Sebelah Selatan dengan Laut Maluku

 Sebelah Timur dengan Selat Halmahera

 Sebelah Barat dengan Laut Maluku

Tabel 1. Luas Wilayah Kota Ternate (Kota Ternate dalam angka 2009)

Kecamatan Darat Laut Jumlah

Km2 Ha Km2 Ha Km2 Ha Ternate Utara 24.575 2457.5 15.7 1570 40.275 4027.5 Ternate Selatan 31.875 31.875 62.1 6210 93.975 9397.5 Pulau Ternate 169.8 169.8 5262.75 526275 5432.55 543255 Pulau Moti 24.6 2460 204 20400 228.6 22860 Luas Wilayah 250.85 250085 5544.55 554455 5795.4 579540

(10)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 10 of 141

Sebaran Wilayah Pesisir

Secara administratif Kota Ternate terdiri dari 7 Kecamatan dan 77 Kelurahan, dimana terdapat 62 Kelurahan (86%) diantaranya berada di kawasan pesisir. Adapun penyebaran kelurahahn dalam wilayah Kota Ternate masing-masing adalah sebagai berikut :

 Kecamatan Ternate Utara terbagi menjadi 14 Kelurahan  Kecamatan Ternate Selatan terbagi menjadi 17 Kelurahan  Kecamatan Ternate Tengah terbagi menjadi 15 Kelurahan  Kecamatan Pulau Ternate terbagi menjadi 13 Kelurahan  Kecamatan Pulau Hiri terbagi menjadi 6 Kelurahan  Kecamatan Pulau Moti terbagi menjadi 6 Kelurahan  Kecamatan Pulau Batang Dua terbagi menjadi 6 Kelurahan Sebaran Pulau-Pulau Kecil

Wilayah Kota Ternate mencakup delapan pulau yaitu Pulau Ternate (110,7 km2), Pulau Moti (24,6 km2), Pulau Hiri (12,4 km2), Pulau Mayau (78,4 km2), Pulau Tifure (22,1 km2), Pulau Maka (0,5 km2), Pulau Mano (0,05 km2) dan Pulau Gurida (0,05 km2). Ketiga pulau terakhir disebut sebagai Gura Mangofa atau pulau tidak berpeng-huni. Pulau-pulau tersebut terletak dalam lingkup yang bergerak melalui kepulauan Filipina, Sangihe Talaut dan Minahasa serta dilengkapi dengan lengkung Sulawesi dan Pulau Sangihe.

Tabel 2 Perbandingan Luas Wilayah

No PULAU

Luas Wilayah (Ha)

Selisih (Ha) Data Digitasi Citra (%) Data BPS (%) 1 P. Gurida 22.43 0.14 55.00 0.22 32.57 2 P. Hiri 669.16 4.13 1.240.00 4.94 570.84

(11)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 11 of 141

Geologi Lingkungan Kota Ternate Fisiografi

Pulau Ternate secara geografis terletak di sebelah timur laut Maluku dan sebelah barat Pulau Halmahera di kepulauan Maluku. Pulau Ternate berada di barat laut Pulau Tidore berjarak sekitar 2 km dan diantaranya terdapat Pulau Maitara yang merupakan pulau kecil. Kota Ternate yang terletak di pantai tenggara Pulau Ternate pernah berperan sebagai pusat perdagangan cengkeh merupakan ibukota Kabupaten Maluku Utara, dimana saat ini menjadi Provinsi Maluku Utara. Hampir separuh penduduk di Pulau Ternate hidup di Kota Ternate. Daerah lain yang dihuni sebagai permukiman penduduk sebagian besar berada di sepanjang pantai, dengan matapencaharian sebagai nelayan atau petani. Di Pulau Ternate terdapat Gunung Gamalama merupakan salah satu gunung api aktif yang terletak di sepanjang busur Pulau Halmahera di sebelah timur laut Maluku.

Topografi Wilayah

Topografi wilayah Kota Ternate sebagian besar adalah daerah bergunung dan berbukit, yang terdiri dari pulau vulkanis dan pulau karang dengan jenis tanah:

Regosol : Pulau Ternate, Pulau Hiri dan Pulau Moti

3 P. Mako 1.3 0.01 50.00 0.02 48.70 4 P. Mano 0.04 0.00 50.00 0.02 49.96 5 P. Mayau 2.417.70 14.92 7.840.00 31.25 5.422.51 6 P. Moti 2.478.70 15.29 2.460.00 9.81 18.70 7 P. Ternate 10.157.30 62.67 11.180.00 44.57 1.022.70 8 P. Tifure 460.44 2.48 2.260.00 9.01 1.799.56 Jumlah 16.206.86 100.00 25085.00 100 8.878.14

(12)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 12 of 141 Rensika : Pulau Mayau, Pulau Tifure, Pulau Malea, Pulau Mano dan Pulau

Gurita Geomorfologi

Geomorfologi adalah kenampakan bentang alam dengan ciri karakteristik seperti elevasi, kemiringan lereng, bentuk geometri dan lain-lain. Geomorfologi ini dipengaruhi oleh jenis batuan, struktur geologi, serta proses-proses geologi antara lain magmatisme, pengangkatan, erosi, pelapukan, sedimentasi dan lain-lain. Pulau Ternate karena terbentuk dari kegiatan magmatisme sehingga terbentuk geomorfologi gunung api.

Puncak Gunung Api

Di Pulau Ternate terdapat puncak gunung api Gamalama yang mempunyai tipe strato. Puncak tertinggi berelevasi sekitar 1715 m di atas permukaan laut (m dpl) berada ditengah-tengah pulau. Mempunyai kemiringan lereng curam, umumnya lebih dari 25 %, batuan dominan tersusun oleh produk gunung api Gamalama Muda dan proses erosi belum berjalan terlalu kuat. Sebagian besar relief terbentuk oleh bentuk asal aliran lava muda, dengan kawah berdia-meter sekitar 200 m dengan kedalaman 30 m

Lereng Gunung Api

Lereng gunung api mempunyai elevasi antara 250 – 1000 m dpl, berada mengeliling puncak. Kemiringan lereng sedang hingga curam, yaitu sekitar 15 % hingga lebih dari 25 %, batuan dominan tersusun oleh produk gunung api Gamalama Dewasa, erosi sebagian telah berjalan kuat. Sebagian relief curam hingga halus, terdapat bukit-bukit di bagian barat P. Ternate dengan puncaknya berbentuk sabit berarah barat ke timur dikenal sebagai bukit Keramat atau Bukit Madiena.

Kaki Gunung Api dan Dataran Aluvial

Kaki gunung api dan dataran alluvial mempunyai elevasi 0 – 250 m dpl, berada di pesisir pantai mengelilingi pulau. Kemiringan lereng datar hingga sedang, setempat curam, yaitu sekitar 0 % hingga 15 %, setempat > 25%. Batuan

(13)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 13 of 141 dominan tersusun oleh produk gunung api Gamalama Tua di selatan, Gamalama

Muda di utara dan alluvium lanau, pasir dan kerikil. Proses erosi, baik di lahan ataupun di pantai berjalan kuat, sedangkan sedimentasi terdapat di muara-muara sungai. Mempunyai relif kasar dan topografi tertoreh pada kaki gunung, puncaknya memanjang dari timur laut ke baratdaya dikenal dengan Bukit Melayu atau Gunung Kekau. Di lereng selatan terdapat danau Marr Laguna, di lereng barat laut terdapat danau Marr Tolire Jaha dengan luas kawah berukuran 500 x 700 m2 kedalaman 80 m. Sejauh 250 m diutaranya terdapat Danau Maar yaitu Tolire Kecil dengan luas 150x300 m2, kedalaman 5-10 m. Pesisir pantai terdapat pasir hitam halus, sebagian terumbu karang dan bertebing, membentuk tanjung antara lain Tg. Marikaso, Tg. Kaome, Tg. Amo, Tg. Tomboko. Permukiman-permukiman antara lain kota Ternate, Dufa-dufa, Sulamadaha, Togopo dan Jambula terkonsentrasi pada geomorfologi ini.

Jumlah Sebaran dan Kepatan Penduduk

Distribusi atau timgkat persebaran penduduk hingga akhir tahun perencanaan diperkiraan akan masih sama dengan pola perkembangan penduduk eksiiesting. Dimana jumlah konsentrsi penduduk akan relative terkonsentrsi pada pusat-pusat aktifitas ekonomi dengan kelngkapan sarana dan infrasturktur yang pada umunya terletak pada kawasan perkotaan. Selain itu analisis distribusi penduduk akan berpengaruh pula terhadap rencana kebutuhan sarana dan prasarana pendukung penduduk di kemudian hari.

Jumlah penduduk Kota Ternate pada akhir tahun 2010 berjumlah 185.907 jiwa, dan tersebar di tujuh kecamatan. Dengan tingkat penyebaran penduduk menurut kecamatan dapat dilihat seperti uraian berikut :

Kecamatan Pulau Ternate : 14.788 jiwa (7.97 %) Kecamatan Moti : 4.399 jiwa (2.37%) Kecamatan Ternate Selatan : 63.707 jiwa ( 34,31 %) Kecamatan Ternate Utara : 45.487 jiwa ( 24.50 %) Kecamatan Ternate Tengah : 52.083 jiwa (28.08 %)

(14)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 14 of 141 Kecamatan Pulau Batang Dua : 2.463 jiwa (1.33 %)

Kecamatan Pulau Hiri : 2.728 jiwa (1.47 %) Potensi Kelautan dan Perikanan Kota Ternate :

 Potensi Sumber Daya Perikanan Tangkap 1.035.230,00 ton/tahun  Standing stock ikan 121.757,38 ton/thn

 MSY sebesar 47.838,25 ton/thn

 Sampai dengan Tahun 2010 Total Tingkat Pemanfaatan Sumberdaya Ikan di Perairan Kota Ternate baru mencapai 21,91% dari Potensi MSY

 Tingkat Pemanfaatan Ikan Tuna & Cakalang baru mencapai 21, 17 %  Produksi Perikanan Tangkap Tahun 2010 yg didaratkan di Dua Pelabuhan

Perikanan Kota Ternate sebesar 170.147, 58 ton, terdiri dari pendaratan di PPN Bastiong sebesar 5.147, 58 ton dan yg didaratkan di PPI Dufa-Dufa sebesar 165.000 Ton

 Produksi Perikanan Budidaya Tahun 2010 sebesar 13.677 Kg

 Memiliki fasilitas perikanan yang cukup memadai dengan 2 Pelabuhan Perikanan (PPI & PPN) & 3 Unit pasar ikan konsumsi

 Konsumsi Ikan per kapita untuk Tahun 2010 adalah 22 kg

Lembaga Keuangan Mikro Yang Terkait Dengan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan

Sampai dengan saat ini lembaga-lembaga keuangan mikro yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya perikanan di Kota Ternate adalah Koperasi Unit Desa (KUD) yang tersebar pada setiap kecamatan dan Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3). LEPP-M3 adalah lembaga yang dibentuk dari Kegiatan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) di Kota Ternate, dimana lembaga ini pendanaan awal bersumber dari dana APBN dan APBD Kota Ternate dan untuk wilayah kerjanya mencakup seluruh wilayah dikota Ternate. Sumber ekonomi utama masyarakat Kota Ternate sekarang ini sebagaian besar bergantung pada hasil pertanian dan perikanan.

(15)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 15 of 141

1.2. TUJUAN DAN SASARAN PROYEK

Tujuan

Tujuan proyek ini untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga masyarakat pesisir yang terlibat dalam kegiatan kelautan dan perikanandi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Sasaran

Sasaran Proyek PMPadalah:

1. Terfasilitasinya 70.000 rumah tangga di 180 desa pesisir dan pulau-pulau kecil di 12 kabupaten/kota; dan

2. Terfasilitasinya pusat pembelajaran (learning center) di 1 kabupaten (Kabupaten Badung).

(16)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 16 of 141

1.3. STRUKTUR KELEMBAGAAN PROYEK

Gambar 1 Struktur Kelembagaan Proyek

Propinsi Pemerintah Propinsi UPT KP3K

Dinas KP

Kabupaten Pemerintah Kabupaten/Kota Bupati Pemberdayaan Komite

Masyarakat Pesisir

Dinas KP Kabupaten/Kota

Unit Pelaksana Proyek (PIU)

Kelompok Kerja Teknis ad hoc NSC

(Panitia Pengarah Nasional)

Kantor Pengelola Proyek

Direktur PMO

Desa Pemerintah Desa

Tenaga Pendamping Desa / Penyuluh

dengan Konsultan Kabupaten

Desa-desa pesisir lainnya

Kelompok Tabungan Kelompok Usaha

Kelompok Jasa

Kelompok Pengelolaan Pesisir Terpadu Kelompok Prasarana Kelompok Kerja Desa (VWG) Catatan: Garis Perintah Garis Koordinasi Garis Kegiatan Utama

Garis Perintah

Garis Koordinasi

(17)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 17 of 141

1.4. TAHAPAN KEGIATAN, KOMPONEN DAN STRATEGI IMPLEMENTASI PROYEK

No Komponen Kegiatan Status Pelaksanaan Keterangan

1. Pembentukan Layanan Fasilitator Telah dilakukan -

2 Sosialisasi Desa Telah dilakukan

3 Penilaian Desa Berbasis Masyarakat Telah dilakukan 10,11,12 Des 4 Pertemuan Desa (Perencanaan,

Pengawasan dan Evaluasi)

Telah dilakukan 24, 25, 26, 27 Juni. 24,25 Okt

5 Pelatihan dan Pengawasan Kapasitas Pokmas

Telah dilakukan 21,22,23 Okt. 13,14,15 Des. 6 Inventori Sumberdaya Pesisir Berbasis

Masyarakat

Telah dilakukan

7 Pembangunan Pondok Informasi Telah dilakukan 8 Pembentukan dan Pelatihan

Co-Omanagement Group

Telah dilakukan

9 Persiapan Detailed Village Coastal Marine Co-Omanagement Plant

Telah dilakukan

10 Workshop Coastal Marine Resources Co-Omanagement

Telah dilakukan

11 Fasilitasi P3MP Telah dilakukan

12 Penyusun dan Pelatihan Sistem Monitoring Sumberdaya Pesisir

Telah dilakukan

13 Dana Community Enterprice Group and Infrastrukture

Telah dilakukan

14 Pelatihan Market Awarness Telah dilakukan 15 Pengembangan Alternative Income

Generating dan Jaringan Pemasaran

Telah dilakukan

16 Singkronisasi Perencanaan dan Koordinasi

Telah dilakukan

(18)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 18 of 141

1.5. PEMANTAUAN, EVALUASI, DAN INDIKATOR KINERJA PROYEK

Monitoring & Evaluasi (M&E) merupakan kegiatan yang sebaiknya tidak dilakukan hanya pada akhir tahuna semata, namun melaikan ditentukan waktu untuk setiap triwulan untuk lebih mengawal tujuan dari program. Sehingga akan menjadi bagian terpadu dari proyek pada semua tingkat dan tugas spesifik M & E akan disertakan dalam kerangka kerja. Seluruh stakeholder yang tergabung PIU konsultan, TPD dan Penyuluh terus akan memantau dan mengarahkan pokmas dalam pengelolaan BLM dan memberikan pehaman kepada POKMAS akan pentingnya nilai sumberdaya untuk untuk saat ini dan akan datang dalam bentuk pengelolaan yang berwawasan pelestarian sumberdaya pesisir.

 Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Pelaksanaan yang efektif dari rencana pengelolaan sumber daya desa.

 Pembangunan Ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Kelompok usaha yang menguntungkan dan tabungan kelompok yang efektif yang didukung oleh prasarana yang tepat.

 Keberlanjutan. Operasi dan perluasan yang berkelanjutan dan menguntungkan dari rantai pasok (value chain) dan operasi yang efektif dan diperpanjang dari rencana pengelolaan sumber daya pesisir.

Indikator keberhasilan kinerja proyek dapat dilihat dari perspektif perencanaan pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu dan pengelolaan sumberdaya pesisir dikelola dengan efektif. Dalam proyek CCDP-IFAD, pokmas diarahkan untuk memanfaatkan sumberdaya pesisir untuk jangka panjang dan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Hal ini tergambar dalam salah satu implementasi kegiatannya, yaitu pelatihan sistem monitoring dan evaluasi sumberdaya alam pesisir.

Indikator kinerja proyek juga dapat dilihat dari peningkatan perekonomian masyarakat/pokmas. Sehingga tingkat kemiskinan di wilayah pesisir dapat ditekan untuk mengurangi jumlah penduduk nelayan miskin.

(19)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 19 of 141

1.6. DESKRIPSI SINGKAT CAPAIAN KEGIATAN TAHUN 2013

Capaian program di Kota Ternate hingga akhir Desember 2013 mencapai target 100 % dalam pelaksanaan kegiatan CCDP-IFAD T.A 2013 termaksud pembangunan pondok informasi di 9 desa target. Status pembangunan pondok informasi sampai pada bulan januari 2014 masih dalam tahap pembangunan untuk 9 desa tersebut. Beberapa desa target seperti Tafaga dan Tadenas sudah mencapai 80 % atau hanya menunggu pemasangan atap pondok dan pengecetan. Sedangkan untuk desa Moti Kota suda memualai pembangunan pondok, keterlambatan di desa tersebut dikarenakan permasalahan tanah yang sudah dihibahkan oleh pemerintah desa yang kemudian di gugat oleh masyarakat, namun permasalahan tersebut sudah diselesaikan pada tanggal 2 januari dan pembangunan sudah mulai dilaksanakan.

Sedangkan pembangunan pondok informasi untuk desa Mado, Togolobe dan Dorari Isa sudah mencapai 70 % dari pemantauan yang dilakaukan pada tanggal 28 Desember 2013 di ketiga desa tersebut. Percepatan permabangunan pondok ini karena tingkat kordinasi yang dilakukan dengan pihak pemerintahan kelurahan, TPD dan Penyuluh yang begitu intensif sehingga percepatan pembangunan bisa dilakukan. Pembangunan keseluruhan pondok informasi baru mencapai 60 % jika di rata-ratakan, ini berdasarkan hasil pemantauan terakhir pada tanggal 28 desember 2013.

Selain pembangunan pondok informasi untuk 9 desa, perencanaan pengelolaan umberdaya berbasisi desa juga sudah dimiliki yang nantinya dikembangkan sesuai perencanaan tahunan. Berbagai perencanaan untuk 9 desa lebih focus pada rehabilitasi sumberdaya desa yang memang sudah mengalami kerusakan atau degradasi untuk tahun pertama. Selanjutnya pengembangan program rahbilitasi lebih ditekankan pada konsep ekowisata berbasis desa.

(20)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 20 of 141

2. GAMBARAN UMUM LOKASI CCDP-IFAD

2.1. PROFIL SINGKAT 9 DESA TARGET CCDP-IFAD KECAMATAN PULAU TERNATE

Secara geografis wilayah Kota Ternate terletak pada posisi 0o-2o Lintang Utara dan 126o-128o Bujur Timur, Kota Ternate berbatasan dengan :

• Sebelah Utara dengan Laut Maluku. • Sebelah Selatan dengan Laut Maluku.

• Sebelah Timur dengan Selat Halmahera, dan. • Sebelah Barat dengan Laut Maluku

Jumlah penduduk Kota Ternate berdasarkan proyeksi penduduk yang didasari pada hasil Survei Penduduk Antar Sensus dan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas 2009) adalah sejumlah 184.473 jiwa, dan tersebar di tujuh kecamatan. Tingkat penyebaran penduduk untuk Kecamatan Pulau Ternate adalah Kecamatan Pulau Ternate adalah 14.693 jiwa atau 7,97 % dari total jumlah penduduk Kota Ternate. Topografi lahan Kepulauan Ternate adalah berbukit-bukit dengan sebuah gunung berapi yang masih aktif dan terletak di tengah Pulau Ternate. Permukiman masyarakat secara intensif berkembang di sepanjang garis pantai kepulauan. Dari 5 (lima) pulau besar yang ada, umumnya masyarakat mengolah lahan perkebunan dengan produksi rempah-rempah sebagai produk unggulan dan perikanan laut yang diperoleh di sekitar perairan pantai. Pulau Ternate memiliki kelerengan fisik terbesar di atas 40% yang mengerucut ke arah puncak Gunung Gamalama dan terletak di tengah-tengah pulau

Kondisi Ekonomi

Potensi unggulan daerah (Kota Ternate) yang memiliki peluang dalam rangka pengembangan diklasifikasikan dalam beberapa sektor untuk Perikanan Wilayah perairan laut Kota Ternate memiliki standing stock ikan sebesar 71.757,28 ton/tahun, dengan potensi lestari (MYS) sebesar 47.838,25 ton/tahun. Komoditi perikanan tersebut terdiri dari ikan pelagis besar seperti Tuna,

(21)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 21 of 141 Cakalang, tongkol, ikan pelagis kecil seperti Selar, Layang, Kembung, Julung, Ekor

Kuning, Teri, dan ikan dasar seperti Kerapu, Bawal, Kakap merah, dan beberapa ikan lainnya. Hasil identifikasi jenis-jenis ikan yang ditangkap oleh nelayan di sekitar pantai terdapat sekitar 217 jenis ikan, 45 iantaranya bernilai ekonomis penting, 172 jenis telah dikomersialkan termasuk didalamnya cumi-cumi, udang lobster, penaed, ikan teri dan nener estuary, serta 9 jenis ikan hias ekonomis penting. Hasil identifikasi dan estimasi produksi sumber daya perikanan tangkap di perairan Kota Ternate tahun 2010 mencapai 15.439,56 ton, dengan penyebaran sumber daya ikan yang hampir merata di seluruh wilayah Kecamatan Pulau Ternate dan Kota Ternate secara umum.

Jasa dan Perdagangan

Salah satu potensi Kota Ternate yang cukup menonjol adalah sektor jasa dan perdagangan, yang sekaligus salah satu misi pembangunan Kota Ternate, perkembangan sektor jasa dan perdagangan dalam beberapa tahun ini mengalami peningkatan yang cukup pesat, sehingga memberikan kontribusi dalam pembentukan struktur ekonomi, meliputi sektor perdagangan, perhotelan dan restoran, jasa, transportasi dan komunikasi. Beberapa faktor potensial sebagai penunjang adanya peluang-peluang dimaksud yaitu : letak strategis Kota Ternate sebagai titik sentral transportasi/perhubungan (laut dan udara) dalam wilayah Maluku Utara, sehingga menjadikan Ternate sebagai pintu masuk dan titik temu perdagangan lokal (perdagangan), adanya sarana dan prasarana penunjang seperti Bandara Babullah dan Pelabuhan Laut (Dermaga Ahmad Yani) serta didukung dengan ketersediaan sarana transportasi lokal lainnya yang menghubungkan Kota Ternate dengan beberapa kabupaten/kota, dan ketersediaan ruang publik pengembangan investasi melalui kebijakan

pengembangan kawasan khusus sebagai pusat bisnis dan perdagangan (central bussines distric). Sejalan dengan tingginya aktivitas pembangunan sektor perdagangan telah ditandai dengan adanya peningkatan jumlah sarana perbankan.

(22)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 22 of 141

Kelurahan Kulaba, Tobololo dan Sulamadaha sebagai tiga calon lokasi kegiatan CCD-IFAD 2012 adalah kelurahan tiga kelurahan yang secara geografis terletak pada wilayah Kecamatan Pulau Ternate sekaligus berada didalam pulau Ternate. Hal ini sangat mendukung karena lokasinya yang sangat strategis dan dekat dengan pusat jasa dan perdagangan. Selain itu potensi perikanan dan kelautan dari ketiga kelurahan ini masih sangat potensial untuk dikelola dan dikembangkan

Pariwisata

Potensi pariwisata merupakan salah satu primadona Kota Ternate, oleh karena itu pariwisata merupakan bagian dari misi pembangunan, fokus pengembangan sektor pariwisata mencakup wisata sejarah, hal ini ditandai dengan adanya peninggalan beberapa situs bersejarah, seperti Keraton dan Masjid Kesultanan, serta benteng-benteng peninggalan yang terus dilestarikan sebagai objek wisata sejarah. Kemudian wisata bahari ditandai dengan karakteristik Kota Ternate yang memiliki panorama alam yang sangat indah, dimana Kelurahan Sulamadaha memiliki potensi pariwisata yang sangat menarik, pesisir dan terumbu karangnya yang masih alami memumngkinkan daerah ini untuk dikembangan.

(23)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 23 of 141 Gambar. 2 Peta Administrasi Kota Ternate

Keadaan Penduduk Kelurahan Kulaba, Kelurahan Tobololo dan Kelurahan Sulamadaha

Keadaan masyarakat yang ada Kelurahan Kulaba, Tobololo dan Sulamadaha pada umumnya hampir sama karena letak lokasinya yang berdekatan sehingga pola hidup dan budaya yang ada pada tiga kelurahan ini hampir sama dan sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Dilihat dari keragaman masyarakatnya, masyarakat ketiga kelurahan ini memiliki susunan masyarakat yang lebih seragam dibandingkan dengan yang lainnya. Hal ini dilihat dari agama, budaya, tingkat pendidikan serta mata pencaharian penduduk. Kelurahan Kulaba dan Tobololo hampir

(24)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 24 of 141

seluruhnya didominasi oleh nelayan yang semuanya beragama Islam. Sedangkan masyarakat Kelurahan Sulamadaha sebagian adalah petani dan sebagian lagi

adalah nelayan.

Keadaan Lingkungan Pesisir Kelurahan Kulaba, Kelurahan Tobololo dan Kelurahan Sulamadaha

Umumnya ketiga Kelurahan ini merupakan daerah pesisir dengan daerah pantai bertopografi landai umumnya garis pantainya merupakan garis pantai yang melekuk ke dalam, yang antara lain beberapa bagian lekukannya disebabkan oleh abrasi namun pada umumnya masih dalam kondisi baik. KECAMATAN PULAU HIRI

Kecamatan Pulau Hiri merupakan salah satu, Kecamatan yang berada dalam wilayah Kota Ternate, yang secara geografis berbatasan dengan Laut Maluku di bagian Utara dan Barat, Selat Halmahera di Bagian Timur serta dengan Kecamatan Kota Ternate Utara di bagian Selatan. Secara, astronomi Kecamatan Pulau Hiri terletak pada posisi 00° 52' 30" - 00° 55' 00" LU dan 127° 18' 30" - 127° 20' 45" BT. Luas wilayah daratan Kecamatan Pulau Hiri adalah seluas 13 km2, yang terdiri dari luas pulau utama (Pulau Hiri) ditambah dengan pulau-pulau kecil disekitarnya. Kecamatan Pulau Hiri terdiri atas 6 (enam) kelurahan, yakni Kelurahan Togolobe, Kelurahan Mado, Kelurahan Faudu, Kelurahan Tomajiko, Kelurahan Dorari Isa, dan Kelurahan Tafraka.

Kelurahan Mado

Kelurahan Mado adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Pulau Hiri yang dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kota Ternate nomor 2 tahun 2009 tentang pembentukan kelurahan Mado dan Tafraka dalam wilayah kecamatan pulau ternate dalam rangka meningkatkan pelayanan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Kecamatan. Pada umumnya dan adanya tuntutan / aspirasi masyarakat untuk memperoleh pelayanan dan pemberdayaan

(25)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 25 of 141 yang lebih efisien serta dalam upaya memperpendek rentang kendali

pemerintahan pada wilayah-wilayah yang berada di pulau-pulau terluar.

Kelurahan Mado secara administratif tertetak di Kecamatan Pulau Hiri dan termasuk dalam wilayah Kota Ternate dengan luas wilayah seluas 7,43 km2 (742,54 hektar) dan memiliki panjang garis pantai sepanjang 7 kilometer. Secara, geografis kelurahan ini berbatasan dengan Laut Maluku di sebelah Utara, Kelurahan togolobe di sebetah Selatan , Kelurahan Tomajiko dan Kelurahan Dorari Isa di sebelah Barat dan di sebelah Timur berbatasan dengan Selat Halmahera. Secara astronomi Kelurahan ini terletak pada 00°54'24" - 00°54'26" LU dan 127°19'37" 127°18'68" BT

Keadaan topografi kelurahan ini umumnya merupakan daerah perbukitan dengan tipe bentukan lahan adalah bentuk lahan asal vulkanik dicirikan dengan topografi bergunung dan berlereng terjal dengan kemiringan lereng antara 15 — 40%, dan memiliki ketinggian sekitar 100 — 250 meter diatas permukaan laut. Untuk dapat mencapai wilayah kelurahan ini dapat ditempuh melalui jalur laut sejauh 1,6 mil laut dari Kota Ternate, dengan waktu tempuh kurang lebih selama 45 menit. Sebagian besar lahan wilayah kelurahan Mado adalah lahan perkebunan rakyat dengan luas sekitar 5,69 km2 atau 568,81 hektar. Hasil utama dari lahan tersebut diantaranya adalah kelapa. Wilayah permukiman penduduk di Kelurahan Faudu berpusat di bagian tengah dari kelurahan ini, dengan pola penyebaran pemukiman penduduk yang cukup dekat antara satu rumah dengan rumah lainnya.

Kondisi Masyarakat

Kelurahan Mado hingga tahun 2010 memiliki jumlah penduduk sebanyak 311 jiwa. Mayoritas penduduk di kelurahan ini beragama Islam dan memiliki 1 buah mesjid sebagai sarana peribadatannya. Sebagian besar penduduknya merupakan penduduk asli Maluku Utara, dan masih menggunakan bahasa asli Ternate sebagai bahasa keseharian mereka.

(26)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 26 of 141

Kondisi Perekonomian

Mata pencaharian utama sebagian besar masyarakat di Kelurahan Mado adalah sebagai petani, nelayan, pengumpul dan pengolah ikan, pengrajin, dan lain-lain. Barang kebutuhan pokok untuk kelurahan ini diperoleh dari wilayah kelurahan ini sendiri, dan juga disuplai dari kelurahan-kelurahan disekitarnya serta dari wilayah Kota Ternate dan sekitarnya pula. Fasilitas pendukung kegiatan jual beli di kelurahan ini adalah Koperasi Unit Desa (KUD) sebanyak 1 buah yang bergerak dalam bidang usaha simpan pinjam, sementara itu di kelurahan ini juga terdapat 3 buah kios yang menunjang aktifitas ekonomi masyarakat. Untuk fasilitas pasar di kelurahan ini tidak tersedia, umumnya masyarakat melakukan kegiatan jual beli langsung di pasar-pasar di Kota Ternate dan sekitarnya.

Kondisi Pemukiman

Kondisi pemukiman masyarakat di Kelurahan Mado umumnya didominasi oleh jenis pemukiman dengan tipe rumah semi permanen, dengan pola penyebaran pemukiman yang terpusat pada bagain tengah dari wilayah kelurahan ini. Kelurahan Mado memiliki 2 kilometer jalan lingkungan yang terbuat dari aspal dan semen. Kondisi jalan tersebut cukup baik. Di wilayah kelurahan ini juga telah dibuka jalan lintas Pulau Hiri yang menghubungkan Kelurahan Mado dengan kelurahan kelurahan lain disekitarnya, dan memberikan akses bagi transportasi darat bagi masyarakat diwilayah Utara Pulau Hiri ini. Untuk konsumsi air bersih, umumnya masyarakat menggunakan air sumur bagi keperluan sehari-harinya. Sementara itu, untuk jenis angkutan dan sarana, transportasi yang digunakan oleh masyarakat dalam kesehariannya adalah kendaraan roda 2 dan gerobak serta angkutan perahu motor tempel untuk angkutan laut dari dan menuju kelurahan ini.

(27)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 27 of 141

Kelurahan Togolobe Kondisi Geografis

Kelurahan Togolobe adalah kelurahan yang secara administratif tertetak di Kecamatan Pulau Hiri dan termasuk dalam wilayah Kota Ternate dengan luas wilayah seluas 3,39 km2 (339,09 hektar) dan memiliki panjang garis pantai sepanjang 3,4 kilometer. Secara, geografis kelurahan ini berbatasan dengan Kelurahan Tafraka di sebelah Utara dan Timur, Laut Maluku di sebetah Selatan, dan Kelurahan Dorari Isa di sebelah Barat. Secara astronomi Kelurahan ini terletak pads 00°53'2" - 00°53'5" LU dan 127°18'8" -127°19'5"BT.

Keadaan topografi kelurahan ini umumnya merupakan daerah perbukitan dengan tipe bentukan lahan adalah bentuk lahan asal vulkanik dicirikan dengan topografi bergunung dan berlereng terjal dengan kemiringan lereng antara, 15 – 40%, dan memiliki ketinggian sekitar 50 – 250 meter diatas permukaan laut. Untuk dapat mencapai wilayah kelurahan ini dapat ditempuh melalui jalur laut sejauh 1,5 mil laut dari Kota Ternate, dengan waktu tempuh kurang lebih selama 30 menit. Sebagian besar lahan wilayah kelurahan Togolobe adalah lahan perkebunan rakyat dengan luas sekitar 2,43 km2 atau 243,49 hektar. Hasil utama dari lahan tersebut diantaranya adalah kelapa. Wilayah permukiman penduduk di Kelurahan Togolobe berada diwilayah pesisir dan penyebarannya cenderung terpusat, dengan pola penyebaran pemukiman penduduk yang cukup dekat antara satu rumah dengan rumah lainnya.

Kondisi Masyarakat

Kelurahan Togolobe hingga tahun 2010 memiliki jumlah penduduk sebanyak 379. Mayoritas penduduk di kelurahan ini beragama Islam dan memiliki 2 buah mesjid sebagai sarana peribadatannya. Sebagian besar penduduknya merupakan penduduk asli Maluku Utara, dan masih menggunakan bahasa asli Ternate sebagai bahasa keseharian mereka.

(28)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 28 of 141

Kondisi Perekonomian

Mata pencaharian utama sebagian besar masyarakat di Kelurahan Togolobe adalah sebagai petani, nelayan, pengumpul dan pengolah ikan. Barang kebutuhan pokok untuk kelurahan ini diperoleh dari wilayah kelurahan kelurahan disekitarnya serta dari wilayah Kota Ternate dan sekitarnya pula. Fasilitas pendukung kegiatan jual beli di kelurahan ini masih sangat minim, sementar untuk fasilitas pasar di kelurahan ini juga tidak tersedia, umumnya masyarakat melakukan kegiatan jual beli langsung di pasar-pasar di Kota Ternate dan sekitarnya.

Kondisi Pemukiman

Kondisi pemukiman masyarakat di Kelurahan Togolobe umumnya didominasi oleh jenis pemukiman dengan tipe rumah permanen, semi permanen dan rumah gubuk, dengan pola penyebaran pemukiman yang terpusat pada wilayah pesisir Barat dari wilayah kelurahan ini. Kelurahan Togolobe memiliki 1,5 kilometer jalan lingkungan yang terbuat dari aspal dan semen, dengan jalan aspal sepanjang 1,2 km dan jalan yang belum beraspal sepanjang 0,3 km. Kondisi jalan tersebut cukup baik. Di wilayah kelurahan ini juga telah dibuka jalan lintas Pulau Hiri yang menghubungkan Kelurahan Togolobe dengan kelurahan-kelurahan disekitarnya dan memberikan akses bagi transportasi darat bagi masyarakat diwilayah Utara Pulau Hiri ini.

Kelurahan togolobe memiliki fasiltas penunjang berupa dermaga tambat perahu 1 unit. Umumnya masyaraka menambat perahu atau kapalnya di sekitar pesisir pantai togolobe. Untuk konsumsi air bersih, umumnya masyarakat mengambil dari kelurahan lain disekitarnya, mengingat di wilayah ini tidak terdapat sarana air bersih bagi keperluan sehari-hari mereka. Sementara itu, untuk jenis angkutan dan sarana transportasi yang digunakan oleh masyarakat dalam kesehariannya adalah kendaraan rods dua dan gerobak (transportasi dalam wilayah kelurahan dan antar kelurahan di Pulau Hiri).

(29)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 29 of 141

Kondisi Sumberdaya Alam

Ekosistem kelapa dan kebun campuran mendominasi sebagian besar wilayah Kelurahan Togolobe sebagaimana pada wilayah lain di Kecamatan Pulau Hiri. Ekosistem ini juga dibarengi dengan berbagai sumberdaya alam lainnya yang tersebar diwilayah kelurahan. ini. Selain itu, di wilayah kelurahan ini, juga memiliki ekosistem terumbu karang yang cukup luas, yang tersebar hampir di seluruh pesisir kelurahan ini. Berdasarkan hasil analisis spasial dengan menggunakan data Citra Satelit Landsat 7 ETM+ (akuisisi 13 Agustus 2007) dan data spasial pendukung lainnya, pola pemanfaatan lahan dan sebaran ekosistem yang ada di Kelurahan Togolobe, dibedakan atas wilayah pemukiman, kebun campuran, hutan tersier, suaka alam dan daerah berbatu, serta wilayah terumbu karang.

Berdasarkan hasil analisis spasial yang dilakukan oleh CV. Langkie Pratama 2009, maka didapatkan hasil kondisi sumberdaya alam di Kelurahan Togolobe tersebar hampir disebagian besar wilayah kelurahan ini, dengan didominasi oleh wilayah yang sesuai untuk pengembangan pertanian/perkebunan rakyat. Dengan melihat pads kondisi sumberdaya ala mini, maka pengembangan potensi ekonomi masyarakat di kelurahan ini dapat ditingkatkan melalui pemanfaatan sumberdaya alam yang dimiliki. Untuk bidang kelautan dan perikanan, terlihat jelas bahwa besarnya wilayah terumbu karang yang dimiliki oleh kelurahan ini, memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan ekonomi masyarakat di wilayah ini, dengan tetap memperhatikan pads kaidah-kaidah pengelolaan yang lestari dan berkelanjutan.

Kelurahan Dorari Isa Kondisi Geografis

Kelurahan Dorari Isa, secara administratif tertetak di Kecamatan Pulau Hiri dan termasuk dalam wilayah Kota Ternate dengan luas wilayah seluas 5,41 km2 (541,18 hektar) dan memiliki panjang garis pantai sepanjang 5,41

(30)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 30 of 141 kilometer. Secara, geografis kelurahan Dorari Isa berbatasan dengan Kelurahan

Tafraka di sebelah Utara, Kelurahan Tomajiko di sebelah Selatan, Laut Maluku di sebelah Barat dan di sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Togolobe. Secara astronomi Kelurahan ini terletak pada 00°53'58" - 00° 54'26" LU dan 127°18'38" - 127°18' 68" BT. Keadaan topografi kelurahan ini umumnya merupakan daerah perbukitan dengan tipe bentukan lahan adalah bentuk lahan asal vulkanik dicirikan dengan topografi bergunung dan berlereng terjal dengan kemiringan lereng antara 15 – 45%, dan memiliki ketinggian sekitar 100 – 250 meter diatas permukaan laut. Untuk dapat mencapai wilayah kelurahan ini dapat ditempuh melalui jalur laut sejauh 2 mil laut dari Kota Ternate, dengan waktu tempuh kurang lebih selama 60 menit. Sebagian besar lahan wilayah kelurahan Dorari Isa adalah lahan perkebunan rakyat dengan luas sekitar 4,70 km2 atau 469,88 hektar. Hasil utama dari lahan tersebut diantaranya adalah kelapa dan tanaman produksi lainnya. Wilayah permukiman penduduk di Kelurahan Dorari Isa berpusat di bagian tengah dan pesisir dari kelurahan ini, dengan pola penyebaran pemukiman penduduk yang cukup dekat antara satu rumah dengan rumah lainnya.

Kondisi Masyarakat

Kelurahan Dorari Isa hingga Tahun 2010 memiliki jumlah penduduk sebanyak 493 jiwa yang terdiri dari 702 jiwa. Ini adalah merupakan jumlah jiwa yang terbesar di antara Kelurahan-Kelurahan di Kecamatan Pulau Hiri. Mayoritas penduduk di keurahan ini beragama Islam dan memiliki sebuah mesjid sebagai sarana peribadatannya. Sebagian besar penduduknya merupakan penduduk asli Maluku Utara, dan masih menggunakan bahasa asli Ternate sebagai bahasa keseharian mereka.

Kondisi Perekonomian

Mata pencaharian utama sebagian besar masyarakat di Kelurahan Dorari Isa adalah sebagai petani, nelayan, pengumpul dan pengolah ikan, pengrajin, dan pedagang. Kebutuhan pokok untuk kelurahan ini diperoleh dari wilayah

(31)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 31 of 141 kelurahan ini sendiri, dan juga disuplai dari kelurahan-kelurahan disekitarnya

serta dari wilayah Kota Ternate dan sekitarnya pula. Untuk fasilitas pasar di kelurahan ini tidak tersedia, umumnya masyarakat melakukan kegiatan jual beli langsung di pasar-pasar di Kota Ternate dan sekitarnya. Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan, tingkat kesejahteraan penduduk di kelurahan ini umumnya berada pada tingkat keluarga pra-sejahtera dan keluarga miskin, dengan tingkat persentasi dapat dilihat pada lampiran tabel.

KECAMATAN MOTI

Sesuai dengan kondisi geografis wilayah, Pulau Moti merupakan bagian dari wilayah Kota Ternate yang memiliki spesifikasi tersendiri, ini dikarenakan kondisi flora dan fauna yang tidak sama dengan pulau-pulau lainnya di Kota Ternate. Pulau Moti yang luas keseluruhan wilayahnya 83.833 Km2 . Sedangkan Jarak Pulau Moti dengan Pulau Ternate adalah 11 Mil laut, dimana rute perjalanan harus ditempuh melalui lautan dengan transportasi motor laut selama kurang lebih 2 Jam. Pulau Moti terbagi atas 6 kelurahan dengan jumlah penduduk 5140 jiwa dengan mata pencaharian sebagian besar adalah nelayan dan petani. Hal ini dikarenakan semua wilayah kelurahan berada pada wilayah pesisir, sedangkan potensi wilayah dibidang Perikanan yang dimiliki dapat digambarkan sebagai berikut :

Potensi Perikanan Laut Budidaya Laut

Pulau Moti sebagian wilayahnya ada yang bisa dikembangkan rumput laut, teripang dan budidaya ikan kerapu. Hal ini karena secara alami bibit ikan kerapu laut sudah tumbuh secara alami di daerah ini, demikian juga teripang. Selain itu kondisi perairan yang cukup aman terlindung dari ombak karena terlindung dari pulau-pulau dan berbentuk teluk sehingga potensial untuk dikembangkan budidaya ikan kerapu. Di samping itu potensi ikan dasar juga sangat baik di wilayah ini.

(32)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 32 of 141

Penangkapan

Sesuai dengan karakteristik Pulau Moti, bahwa para nelayan didaerah ini banyak yang melakukan penangkapan dengan Purse seine , Hand line, Gill net, Keramba apung, Bubu dan Pancing tonda. Selain itu jenis ikan yang dominan di pulau Moti antara lain ikan layang, ikan tongkol, kuwe, cakalang, kerapu, ikan dasar dan lain-lain.

Potensi Perikanan Darat / Air Payau

Selain Potensi Perikanan laut, Pulau Moti juga mempunyai potensi untuk dikembangkan perikanan darat. Hal ini karena ditunjang dengan adanya hutan bakau (mangrove) yang tumbuh subur disebagian pesisir wilayah Pulau Moti. Dengan demikian kegiatan budidaya yang bisa dikembangkan diantaranya adalah tambak udang dan ikan bandeng serta Jenis ikan air tawar.

Kelurahan Tadenas

Kondisi Geografis batas Administrasi, Luas Wilayah dan Topografi Kondisi Geografis

Secara umum kondisi geografis terletak antara 120 bujur timur dan 124 bujur barat serta 33 lintang selatan, sementara iklim secara umum adalah

Gambar 3. Peta administrasi Kecamatan Moti, Kota Ternate.

$ $ $ $ # # # # 220 m 875 m 950 m 180 m Takofi Tafaga Tafamutu Kota Moti Pulau Moti I II BWK V II VII /I VII /I I Batas D esa Danau Danau Laguna Danau Tol ire B esar Danau Tol ire K ecil Jal an Sung ai $Titik Tingg i #Pemu kim an 1:36002 Ke teran ga n : A. Ta hu n 1 99 9 B. Ta hu n 2 02 0 1. T K 2. SD 3. SLT P 4. SLT A 5. SLT A Kh usus 6. Bala i Pen go bat an (B P) 7. BKI A + R um ah Be rsa lin 8. Apo tik 9. Pus ke sm as P em ba ntu + BP 10. Pu skesm as + B P 11. R um ah Sakit W ila yah TI NG KAT R U KU N W AR G A 12. Po s H ansip + Ba la i Pe rt em uan + Bis S ur at 13. Pa rkir U mu m + MC K TI NG KAT L IN G KU N G AN 14. Ka nto r Ling kung an 15. Po s Po lisi 16. Ka nto r Pos Pem ba ntu 17. Po s Pe ma dam K eba kar an 18. Pa rkir U mu m + MC K 19. Biosko p T IN G KAT KEC AM AT AN 20. Ka nto r Keca ma tan 21. Ka nto r Polisi 22. Ka nto r Pos Ca ba ng 23. Ka nto r Te lepo n 24. Po s Pe ma dam K eba kar an 25. Pa rkir U mu m 26. W ar un g 27. Per to koa n 28. Pu sat Per be lanja an Ling kun gan 29. Pu sat Per be lanja an + Nia ga 30. T am an , T em pa t M ain Pen du du k 25 0 Jiw a 31. T am an , T em pa t M ain Pen du du k 25 00 Jiwa 32. T am an , T em pa t M ain , La pa nga n O lahr ag a Pen du duk 30. 00 0 Jiw a 33. Ma sjid

34. Mu sha lla /La ng gar 35. G er e ja Pr ot esta n 36. G er e ja K ato lik 37. Ku bur an 38. T er min al Bis

PEMERIN TAH DAERAH KOT A TERNATE BADAN PERENC ANAAN PEMBANGUN AN D AERAH (BAPPEDA) PRO YEK PEMBUATAN SIST IM INFO RMASI DATA POKOK (SIDP) KO TA TERNATE PROPINSI MALUKU UT AR A

Sekala :

Tanggal No. Peta Jumlah Lembar N

E W

S KOTAMADYA TERNATE PROPINSI MALUKU UTARA PETA PEMBAGIAN BLOK BWK VII Pulau Ternat e

Pulau Moti Pulau Mayau

Pulau Hi ri

Pulau Tif ure Kotamadya Ternate 123456789 10 1112131415 161718192021 222324252627282930313233343536373839 I123456789 1011121314 151617181920 212223242526272829303132333435363738 A021000000000182000000000000000420210010 B00110200000200000000000000000 1610000000 II 123456789 1011121314 151617181920 212223242526272829303132333435363738 A020000000000182000000000000000420220010 B00000200000200000000000000000 1610000000

(33)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 33 of 141 subtropis, selain itu jarak tempuh dari Kota Ternate ke Kecamatan Moti jaraknya

berkisar 18 mil. Batas Administrasi

Penentuan batas administrasi sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Ternate nomor 11 tahun 2001 tentang Pembentukan Kelurahan Tadenas dan Kelurahan Figur adalah sebagai berikut :

- Sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Moti Kota - Sebelah Selatan berbatasan dengan kelurahan Tafaga - Sebelah Timur berbatasan dengan Gunung Tuanane - Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Halmahera

- Luas Wilayah

Luas Wilayah Kecamatan Moti secara keseluruhan adalah + 2560 Ha dengan panjang keliling Pulau Moti berkisar + 18,42 Km, sedangkan luas wilayah kelurahan Tadenas berkisar 8,7 Ha

- Topografi

Dilihat dari kondisi serta karakteristik, maka kondisi topografi kelurahan Tadenas pada umumnya bervariasi mulai dari tanah datar, lereng, berbukit serta pegunungan dan juga ada sebagian wilayah yang berawa.

Perkembangan Kelurahan Sejarah Kelurahan

Wujud nyata dari salah satu tuntutan perubahan adalah dengan ditetapkannya UU nomor 11 tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Ternate, seiring dengan ditetapkannya UU tersebut maka sejak saat itu Pulau Moti yang awalnya berada pada Pemerintah Kecamatan Makian Malifut Kabupaten Maluku Utara pada akhirnya dimasukkan dalam wilayah Pemerintah Daerah Kotamadya Ternate di bawah wilayah pemerintahan Kecamatan Pulau Ternate. Kemudian dengan berbagai pertimbangan yang ada di Pemerintah Kota Ternate diantaranya untuk memperluas jangkauan pelayanan, memperluas

(34)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 34 of 141 penyediaan fasilitas publik, memudahkan pengawasan dan pengendalian

kawasan, memudahkan pengelolaan potensi untuk meningkatkan kesejahteraan serta perimbangan geografis dan kultur budaya, maka Pemerintah Kota Ternate meningkatkan status pulau Moti diresmikan menjadi kecamatan definitif sesuai dengan surat Keputusan Walikota Ternate nomor 10 tahun 2000 tentang Pembentukan Kecamatan Moti sudah diresmikan menjadi kecamatan definitif sesuai dengan Surat Keputusan Walikota Ternate nomor 01 tahun 2000 tentang Peresmian Kecamatan Moti walaupun Kecamatan Moti sudah diresmikan menjadi satu kecamatan definitif namun tuntutan perubahan masih terus disuarakan salah satu diantaranya yaitu pemekaran wilayah kelurahan.

Dengan memperhatikan berbagai masukan, usulan dan saran dari berbagai elemen masyarakat maka dengan berbagai pertimbangan antaranya yaitu, memperpendek rentan kendali serta memudahkan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat serta didukung dengan persyaratan lain yang sudah terpenuhi, maka Kecamatan Moti yang sebelumnya terdiri dari empat kelurahan kemudian dimekarkan lagi dua kelurahan berdasarkan peraturan daerah Kota Ternate nomor 11 tahun 2001 tentang pembentukan kelurahan Figur dan kelurahan Tadenas. Kelurahan Tadenas yang merupakan paduan 2 lingkungan yaitu Tadena dan Nanas yang disingkat menjadi Tadenas.

Struktur Pemerintahan Desa

Kelembagaan Kelurahan Tadenas sudah lengkap sebagaimana di Kelurahan –Kelurahan definitif lain di Indonesia., Ketua LKMD, Lurah, Sekretaris Sekretaris Lurah., Kepala Urusan Umum, Kepala Urusan Pemerintahan, Kepala Urusan Pembangunan .

Sarana dan Prasarana Kelurahan

Kelurahan Tadenas Mempunyai Jalan dalam kelurahan masih berupa jalan Aspal dan jalan tanah dan sebagian besar bisa dilalui oleh kendaraan roda

(35)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 35 of 141 empat dan roda dua ,sampai saat ini belum ada peningkatan kualitas jalan dalam

kelurahan. Permukiman penduduk umumnya terdapat di sepanjang jalan raya dan pingiran pantai. Kelurahn Tadenas belum menikmati aliran listrik PLN, sementara yang lainnya belum didukung . Sarana lainnya yang sudah ada, yaitu satu Sekolah Dasar Negeri (SDN), satu sanawiyah (MTs), dan satu Taman Kanak-kanak. Sarana ibadah yang ada terdiri dari satu masjid. Fasilitas kesehatan belu ada.

Kependudukan

Penduduk kelurahan Tadenas semenjak dahulu telah dihuni oleh dua suku yang saling berdampingan yaitu Suku Tidore dan Suku Makian, dengan bahasa daerah yang digunakan adalah bahasa Tidore dan bahasa Ternate. Secara keseluruhan jumlah penduduk sampai pada akhir bulan April 2011, berjumlah 443 jiwa, dengan perbandingan laki-laki berjumlah 243 jiwa dan berjumlah 200 jiwa, sementara kepala keluarga secara keseluruhan berjumlah 108 KK.

Peranan Kaum Perempuan

Peran dan Sumbangan Perempuan dalam Kehidup lain didapatkan bahwa perempuan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan di Kelurahan, terutama dalam bidang sosial, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan, sedangkan dalam struktur kekuasaan dan pemerintahan Kelurahan hampir tidak ada. Tingkat pendidikan perempuan (rata-rata SD, SLTP) lebih rendah dari kaum laki-laki (rata-rata SMU). Bekal keterampilan yang dimiliki perempuan , seperti membuat makanan, menjahit, menjadi dukun, Pedagang Ikan, Kebun, dan lain-lain. pada umumnya ditangani oleh kaum perempuan, seperti pembuatan keripik pisang dan singkong, makanan gorengan, dan lain-lain.

Sumbangan perempuan terhadap pendapatan keluarga sangat bervariasi mulai dari tidak memberikan sumbangan sampai dengan yang penghasilannya lebih besar dari kaum laki-laki, dan ternyata hal ini tidak menjadikan beban psikologis dalam hubungan keluarga. Di samping itu perempuan melakukan

(36)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 36 of 141

Survival strategy dengan berbagai cara, antara lain pinjam meminjam uang,

gadai, mengambil barang di toko untuk dibayar kemudian bagi keperluan khusus, berhutang pada pedagang keliling, memelihara ternak dan menanam sayuran di rumah, selain melakukan kegiatan ekonomi utama. Lembaga-lembaga yang berperan di Kelurahan dan secara nyata mempengaruhi kehidupan perempuan antara lain Dasawisma, yasinan (lembaga informal keagamaan), arisan, rukun kematian (sosial ekonomi),

Perekonomian Desa Pertanian dan Perikanan

Kegiatan utama pertanian di Kelurahan Tadenas adalah usaha tani (Pala, Cengkeh, Kelapa) dan sayuran (cabai, bawang merah). Dalam menghadapi kondisi pertanian yang demikian sulit, para petani di Kelurahan Tadenas hingga saat ini hanya menghadapi masalah tersebut dengan caranya sendiri-sendiri. Sampai saat ini belum ada kelompok yang mampu berkembang untuk menghadapi masalah-masalah yang ada secara bersama-sama dalam satu garis perjuangan - membangkitkan nasib petani dan menuju kemandirian. Disisi Lain Sumber ekonomi utama masyarakat Kelurahan Tadenas sekarang ini bergantung pada hasil Perikanan Tangkap.

Ini telah memberi manfaat secara langsung pada masyarakat Kelurahan Tadenas untuk meningkatkan perekonomian mereka, sementara penyedian sarana penangkapan masi terbatas dan bersifat tradisional. Selain Potensi perikanan laut, Kelurahan Tadenas juga mempunyai potensi untuk dikembangkan perikanan darat. Hal ini karena ditunjang dengan adanya hutan bakau (mangrove) yang tumbuh subur disebagian pesisir wilayah kelurahan Tadenas. Dengan demikian kegiatan budidaya yang bisa dikembangkan di antaranya adalah tambak udang dan ikan bandeng serta ikan air tawar.

Perdagangan

Sarana dan prasarana perdagangan yang terdapat di kelurahan Tadenas masih relatif kecil seperti kios – kios yang sehari hari melayani Sembilan bahan

(37)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 37 of 141 pokok untuk kebutuhan masyarakat itu sendiri, sementara produksi pertanian

dan perikanan yang terkonsentrasi di Kecamatan dan ternate sebagai pusat perdagangan .

Status Potensi Sumberdaya Perikanan

Kelurahan Tadenas memiliki potensi-potensi sumberdaya perikanan yang potensial untuk dikembangkan diantaranya adalah potensi budidaya dan perikanan tangkap.hal ini terlihat sebagaimana pada tabel dibawah ini. Namun demikian

Tabel 4. Jumlah Masyarakat Pesisir yang menggantungkan hidupnya dari sektor Perikanan Jumlah Penduduk Jumlah Nelayan Jumlah Pengolah Ikan Jumlah Pedagang Ikan Jumlah Pembudidaya ikan Jumlah pembudidaya rumput laut Perahu Tanpa Mesin Perahu dengan Mesin < 10 GT 402 60 2 3 8 2 47 47 Kelurahan Tafaga

Secara umum kondisi geografis Kelurahan Tafaga terletak antara 120 bujur timur dan 124 bujur barat serta 33 lintang selatan, sementara iklim secara umum adalah subtropis, selain itu jarak tempuh dari Kota Ternate ke Kecamatan Moti jaraknya berkisar 18 mil.

- Batas Administrasi

Penentuan batas administrasi sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Ternate nomor 11 tahun 2001 tentang Pembentukan Kelurahan Tafaga dan dusun Dobang, dusun sapongo sebagai berikut :

- Sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Tadenas - Sebelah Selatan berbatasan dengan kelurahan Takofi - Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Halmahera

(38)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 38 of 141 - Sebelah Barat berbatasan dengan Gunung Tuanane

Gambar 4. Peta administrasi Kecamatan Moti, Kota Ternate - Luas Wilayah

Luas Wilayah Kecamatan Moti secara keseluruhan adalah + 2560 Ha dengan panjang keliling Pulau Moti berkisar + 18,42 Km, sedangkan luas wilayah Daratan Kelurahan Tafaga 131 Ha dan Garis pantai 6,5 KM

- Topografi

Dilihat dari kondisi serta karakteristik, maka kondisi topografi kelurahan Tafaga pada umumnya bervariasi mulai dari tanah datar, lereng, berbukit serta pegunungan dan juga ada sebagian wilayah yang berawa.

Perkembangan Desa

Pemerintah Kota Ternate meningkatkan status pulau Moti diresmikan menjadi kecamatan definitif sesuai dengan surat Keputusan Walikota Ternate nomor 10 tahun 2000 tentang Pembentukan Kecamatan Moti sudah diresmikan menjadi kecamatan definitif sesuai dengan Surat Keputusan Walikota Ternate nomor 01 tahun 2000 tentang Peresmian Kecamatan Moti walaupun Kecamatan Moti sudah diresmikan menjadi satu kecamatan definitif namun tuntutan perubahan masih terus disuarakan salah satu diantaranya yaitu pemekaran

$ $ $ $ # # # # 220 m 875 m 950 m 180 m Takofi Tafaga Tafamutu Kota Moti Pulau Moti I II BWK V II VII /I VII /I I Batas Desa Danau Danau Laguna Danau Tol ire B esar Danau Tol ire K ecil Jal an Sung ai $Titik Tingg i #Pemu kim an 1:36002 Ke teran ga n : A. Ta hu n 1 99 9 B. Ta hu n 2 02 0 1. T K 2. SD 3. SLT P 4. SLT A 5. SLT A Kh usus 6. Bala i Pen go bat an (B P) 7. BKI A + R um ah Be rsa lin 8. Apo tik 9. Puske sm as P em ba ntu + BP 10. Pu skesm as + B P 11. R um ah Sakit W ila yah TI NG KAT R U KU N W AR GA 12. Po s H ansip + Ba la i Pe rt em uan + Bis S ur at 13. Pa rkir U mu m + MC K TI NG KAT L IN G KU N G AN 14. Ka nto r Ling kung an 15. Po s Po lisi 16. Ka nto r Pos Pem ba ntu 17. Po s Pe ma dam K eba kar an 18. Pa rkir U mu m + MC K 19. Biosko p T IN GKAT KEC AM AT AN 20. Ka nto r Keca ma tan 21. Ka nto r Polisi 22. Ka nto r Pos Ca ba ng 23. Ka nto r Te lepo n 24. Po s Pe ma dam K eba kar an 25. Pa rkir U mu m 26. W ar un g 27. Per to koa n 28. Pu sat Per be lanja an Ling kun gan 29. Pu sat Per be lanja an + Nia ga 30. T am an , T em pa t M ain Pen du du k 25 0 Jiw a 31. T am an , T em pa t M ain Pen du du k 25 00 Jiwa 32. T am an , T em pa t M ain , La pa nga n O lahr ag a Pen du duk 30. 00 0 Jiw a 33. Ma sjid

34. Mu sha lla /La ng gar 35. Ger e ja Pr ot esta n 36. Ger e ja K ato lik 37. Ku bur an 38. T er min al Bis

PEMERIN TAH DAERAH KOT A TERNATE BADAN PERENC ANAAN PEMBANGUN AN D AERAH (BAPPEDA) PROYEK PEMBUATAN SIST IM INFO RMASI DATA POKOK (SIDP) KOTA TERNATE PROPINSI MALUKU UT AR A

Sekala :

Tanggal No. Peta Jumlah Lembar

N E W

S

KOTAMADYA TERNATE PROPINSI MALUKU UTARA PETA PEMBAGIAN BLOK BWK VII

Pulau Ternat e

Pulau Moti Pulau Mayau

Pulau Hi ri

Pulau Tif ure

Kotamadya Ternate 123456789 10 1112131415 161718192021 222324252627282930313233343536373839 I123456789 1011121314 151617181920 212223242526272829303132333435363738 A021000000000182000000000000000420210010 B00110200000200000000000000000 1610000000 II 123456789 1011121314 151617181920 212223242526272829303132333435363738 A020000000000182000000000000000420220010 B00000200000200000000000000000 1610000000

(39)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 39 of 141 wilayah kelurahan. Dengan memperhatikan berbagai masukan, usulan dan saran

dari berbagai elemen masyarakat maka dengan berbagai pertimbangan antaranya yaitu, memperpendek rentan kendali serta memudahkan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat serta didukung dengan persyaratan lain yang sudah terpenuhi, maka Kecamatan Moti yang sebelumnya terdiri dari empat kelurahan kemudian dimekarkan lagi dua kelurahan berdasarkan peraturan daerah Kota Ternate nomor 11 tahun 2001 tentang pembentukan kelurahan Tafaga. Kelurahan Tafaga yang merupakan paduan 3 lingkungan yaitu Tafaga, Sapongo dan Dobang.

Struktur Pemerintahan Desa

Kelembagaan Kelurahan Tafaga sudah lengkap sebagaimana di Kelurahan – Kelurahan definitif lain di Indonesia., Ketua LKMD, Lurah, Sekretaris Sekretaris Lurah., Kepala Urusan Umum, Kepala Urusan Pemerintahan, Kepala Urusan Pembangunan .

Sarana dan Prasarana Kelurahan

Kelurahan Tafaga Mempunyai Jalan dalam kelurahan masih jalan tanah dan sebagian besar bisa dilalui oleh roda dua ,sampai saat ini belum ada peningkatan kualitas jalan dalam kelurahan. Permukiman penduduk umumnya terdapat di sepanjang jalan raya dan pingiran pantai. Kelurahn Tafaga belum menikmati aliran listrik PLN, sementara yang lainnya belum didukung dengan Sarana lainnya yang sudah ada, yaitu satu Sekolah Dasar Negeri (SDN), satu Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan satu Taman Kanak-kanak. Sarana ibadah yang ada terdiri dari satu masjid. Fasilitas kesehatan belum ada.

Kependudukan

Penduduk kelurahan Tafaga semenjak dahulu telah dihuni oleh dua suku yang saling berdampingan yaitu Suku Tidore dan Suku Makian, dengan bahasa daerah yang digunakan adalah bahasa Tidore dan Makian. Secara keseluruhan jumlah penduduk sampai pada akhir bulan April 2011, berjumlah 791 jiwa,

(40)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 40 of 141 dengan perbandingan laki-laki berjumlah 403 jiwa dan berjumlah 388 jiwa,

sementara kepala keluarga secara keseluruhan berjumlah 175 KK Peranan Kaum Perempuan

Peran dan Sumbangan Perempuan dalam Kehidup lain didapatkan bahwa perempuan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan di Kelurahan, terutama dalam bidang sosial, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan, sedangkan dalam struktur kekuasaan dan pemerintahan Kelurahan hampir tidak ada. Tingkat pendidikan perempuan (rata-rata SD, SLTP) lebih rendah dari kaum laki-laki (rata-rata SMU). Bekal keterampilan yang dimiliki perempuan , seperti membuat makanan, menjahit, menjadi dukun, Pedagang Ikan, Kebun, dan lain-lain. pada umumnya ditangani oleh kaum perempuan, seperti pembuatan keripik pisang dan singkong, makanan gorengan, dan lain-lain. Sumbangan perempuan terhadap pendapatan keluarga sangat bervariasi mulai dari tidak memberikan sumbangan sampai dengan yang penghasilannya lebih besar dari kaum laki-laki, dan ternyata hal ini tidak menjadikan beban psikologis dalam hubungan keluarga. Di samping itu perempuan melakukan Survival strategy dengan berbagai cara, antara lain pinjam meminjam uang, gadai, mengambil barang di toko untuk dibayar kemudian bagi keperluan khusus, berhutang pada pedagang keliling, memelihara ternak dan menanam sayuran di rumah, selain melakukan kegiatan ekonomi utama. Lembaga-lembaga yang berperan di Kelurahan dan secara nyata mempengaruhi kehidupan perempuan antara lain Dasawisma, yasinan (lembaga informal keagamaan), arisan, rukun kematian (sosial ekonomi),

Kelurahan Moti Kota

Kelurahan Moti Kota merupakan Ibu Kota Kecamatan Pulau Moti, dimana kelurahan Moti Kota Merupakan pusat transportasi dan ekonomi dari Kecamatan Pulau Moti. Sesuai dengan kondisi geografis wilayah, Pulau Moti merupakan bagian dari wilayah Kota Ternate yang memiliki spesifikasi tersendiri, ini dikarenakan kondisi flora dan fauna yang tidak sama dengan pulau-pulau lainnya di Kota Ternate. Sedangkan Jarak Pulau Moti dengan Pulau Ternate adalah 11

(41)

LAPORAN AKHIR KEGIATAN CCDP-IFAD TAHUN 2013 Page 41 of 141 Mil laut, dimana rute perjalanan harus ditempuh melalui lautan dengan

transportasi motor laut selama kurang lebih 2 Jam. Penduduk kelurahan Moti semenjak dahulu telah dihuni oleh satu suku yang saling berdampingan yaitu Suku Tidore, dengan bahasa daerah yang digunakan adalah bahasa Tidore. Secara keseluruhan jumlah penduduk sampai pada akhir bulan Oktoberl 2011, berjumlah 1210 jiwa, dengan perbandingan laki-laki berjumlah 62 jiwa dan berjumlah 588 jiwa, sementara kepala keluarga secara keseluruhan berjumlah 307 KK

Batas Administrasi

Penentuan batas administrasi sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Ternate nomor 11 tahun 2001 tentang Pembentukan Kelurahan Moti Kota sebagai berikut :

- Sebelah Selatan berbatasan dengan kelurahan Tadenas - Sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Tafamutu - Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Halmahera - Sebelah Barat berbatasan dengan Gunung Tuanane

Gambar 5. Peta administrasi Kelurahan Moti Kota Kecamatan Moti

$ $ 875 m 950 m 180 m 700 2 75 175 400 6 25 925 850 300 75 550 450 25 150 1:16054 N E W S

PEMERINTAH DAERAH KOT A TERNATE BADAN PERENCANAAN PEMBANGU NAN DAERAH ( BAPPEDA) PROYEK PEMBUATAN SISTIM INFORMASI DATA POKOK ( SIDP) KOTA TERNATE PROPINSI MALUKU UTARA

Keterangan :

N o . P e t a PE TA ADM INIS TRAS I

DE SA KOTA MOTI KOTA TE RNATE PROPINSI M ALUKU UTARA

J u m l a h L e m b a r Des a/ Ke lu raha n : Ko ta M ot i Pe mu kim an Su nga i Ja la n Ga ris K on tur $ T itik T ingg i T a n g g a l Sek ala : KO T A M OT I

Gambar

Tabel 1.  Luas Wilayah Kota Ternate  (Kota Ternate dalam angka 2009)
Tabel 2 Perbandingan Luas Wilayah
Tabel 4. Jumlah Masyarakat Pesisir yang menggantungkan hidupnya dari sektor  Perikanan  Jumlah  Penduduk  Jumlah  Nelayan  Jumlah  Pengolah  Ikan  Jumlah  Pedagang Ikan  Jumlah  Pembudidaya ikan  Jumlah  pembudidaya rumput laut  Perahu Tanpa Mesin  Perahu
Gambar 5. Peta administrasi Kelurahan Moti Kota Kecamatan Moti
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil simulasi pada kondisi normal dan tidak normal (blade yang pitch terganggu) akan digunakan sebagai imputan pengaruh tambahan gaya dan momen analisa pada

Berdasarkan latar belakang dan research gap dari penelitian terdahulu, maka penelitian ini menganalisis pengaruh makroekonomi yaitu nilai tukar, suku bunga, inflasi dan

Sedang PT Rimba Karya Rayatama telah melakukan kegiatan inventarisasi dan identifikasi terhadap jenis-jenis flora dan fauna tetapi belum mencakup seluruh jenis yang

Faktor-faktor yang memengaruhi perubahan cuaca suatu wilayah adalah .... suhu udara dan arah angin B. kelembaban udara dan waktu C. tekanan udara dan pencahayaan D. angin dan arus

Salah satu masalah yang dihadapi Indonesia yang berkaitan dengan kependudukan adalah tingginya angka kelahiran. Upaya untuk mengatasinya

Madrasah yang sejak awal berdiri- nya ingin menjembatani gap antara pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional dan sekolah umum sebagai lembaga pendidikan

Analisa berdasarkan hasil morfometrik dan meristik menunjukkan bahwa tiga jenis ikan sapu-sapu asal sungai Ciliwung yang telah diidentifikasi merupakan satu

Pada siklus I disusun rencana pelaksanaan pembelajaran sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran.Topik bacaan yang dijadikan materi adalah bacaan dengan judul Teknologi