OBESITAS PADA ANAK
oleh
dr. I Wayan Surudarma, M.Si.
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan rahmat-Nya maka penyusun dapat menyelesaikan tulisan yang berjudul “Obesitas pada Anak”.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan semua pihak yang membantu terselesaikannya tulisan ini yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Kami menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih kurang dari sempurna, karena itu kami mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan tulisan ini.
Semoga karya ini dapat berguna dan memberi manfaat serta memenuhi harapan para pembaca yang selalu haus akan ilmu, khususnya ilmu kedokteran.
Denpasar, Juli 2017
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……….. ..i
DAFTAR ISI………...ii
PENDAHULUAN………...1
OBESITAS PADA ANAK ……… 4
2.1. Definisi ……… 4
2.2. Epidemiologi ………4
2.3. Etiologi ……… 5
2.4. Patofisiologi ……… 7
2.5. Manifestasi Klinis ………... 7
2.6. Penilaian Status Gizi ………... 8
2.7. Komplikasi ……….. 9
2.8. Faktor Penyebabab ………. 10
KESIMPULAN………. 14
PENDAHULUAN
Obesitas di Indonesia terjadi pada semua kelompok umur dan strata sosial ekonomi. Obesitas merupakan masalah yang serius karena dapat berlanjut hingga usia dewasa (KKRI, 2012; Mistry dan Puthussery, 2015). Obesitas merupakan salah satu masalah yang dihadapi Indonesia selain kekurangan nutrisi. Ketimpangan pendapatan yang menyertai pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat memperburuk masalah yang dihadapi Indonesia tersebut (Hanandita dan Tampubolon, 2015).
Prevalensi obesitas di seluruh dunia meningkat dua kali lipat antara tahun 1980 sampai 2014. Pada tahun 2014 lebih dari 1,9 miliar orang dewasa usia 18 tahun atau lebih mengalami kelebihan berat badan. Dari jumlah tersebut lebih dari 600 juta mengalami obesitas. Secara keseluruhan, sekitar 13% populasi dewasa di dunia (11% laki-laki dan 15% perempuan) yang mengalami obesitas dan 39% dari orang dewasa berusia 18 tahun ke atas (38% pria dan 40% wanita) mengalami kelebihan berat badan (Who.int, 2015).
Tahun 2013, 42 juta anak-anak di bawah usia 5 mengalamai kelebihan berat badan atau obesitas. Sebelumnya telah diketahui kelebihan berat badan dan obesitas merupakan masalah bagi negara yang berpenghasilan tinggi, kelebihan berat badan dan obesitas sekarang meningkat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama di perkotaan. Di negara-negara berkembang tingkat kenaikan kelebihan berat badan dan obesitas pada kanak-kanak sudah lebih dari 30% lebih tinggi dari negara-negara maju (Who.int, 2015).
Kelebihan berat badan dan besitas merupakan akumulasi lemak yang tidak normal yang dapat mengganggu kesehatan (Who.int, 2015). Obesitas merupakan
keadaan patologis sebagai akibat dari konsumsi makanan yang jauh melebihi kebutuhannya sehingga terdapat penimbunan lemak yang berlebihan dari apa yang diperlukan untuk fungsi tubuh (Soetjiningsih, 1995). Asupan energi diperoleh dari makanan tinggi kalori sedangkan rendahnya pengeluaran energi dapat disebabkan oleh kurangnya akifitas fisik (KKRI, 2012).
Penyebab obesitas pada anak belum sepenuhnya diketahui. Diduga obesitas pada anak disebabkan adanya interaksi antara faktor genetik dan faktor nongenetik. Faktor genetik diantaranya salah satu atau kedua orang tua yang mengalami obesitas, memiliki kemungkinan anaknya juga mengalami obesitas (Hidayati et al, 2006; Soetjiningsih, 1995; Mistry dan Puthussery, 2015; Bhuiyan, Zaman dan Ahmed, 2013). Faktor nongenetik diantaranya kurangnya aktifitas fisik, perilaku menetap seperti terlalu lama menonton televisi atau bermain game, nutrisi yang berlebihan, dan sosial ekonomi. Faktor sosial ekonomi seperti gaya hidup seperti, pola makan, pendapatan orang tua, tingkat pendidikan orang tua mempengaruhi terjadinya obesitas pada anak (Sihadi, 2012; Hidayati et al, 2006).
Pola makan seperti makan dengan jumlah yang besar, makanan tinggi energi seperti tinggi lemak, tinggi karbohidrat dan salah dalam memilih makanan seperti junk food, makanan dalam kemasan dan minuman ringan (Sihadi, 2012; Payab et al., 2015). Kurangnya aktifitas fisik seperti olah raga dan tingginya perikalu menetap yang disebabkan oleh adanya berbagai media hiburan seperti televisi, playstation, komputer, gedget dan sebagainya (Sihadi, 2012; KKRI, 2012; Mistry dan Puthussery, 2015).
Dampak kelebihan berat dan obesitas pada anak lebih ringan dibandingkan kelebihan berat badan dan obesitas pada orang dewasa (Sihadi, 2012). Kelebihan
berat badan dan obesitas pada anak dapat menyababkan terjadinya komplikasi seperti adanya gangguan pernapasan, penyakit kulit, efek pfikologis seperti gangguan dalam pergaulan, gangguan ortopedi yang berakibat terjadinya gangguan beraktifitas (Soetjiningsih, 1995). Kelebihan berat badan dan obesitas pada anak bila tidak ditangani dengan baik dapat berlanjut menjadi kelebihan berat badan dan obesitas pada dewasa. Kelebihan berat badan dan obesitas pada dewasa seperti meningkatkan risiko diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan hiperlipidemia (Sihadi, 2012; Ariani dan Tembiring, 2007; Soetjiningsih, 1995; Kliegman, n.d).
OBESITAS PADA ANAK
2.1. DefinisiKelebihan berat badan dan besitas merupakan penumpukan lemak yang tidak normal atau berlebih yang dapat mengganggu kesehatan. (Who.int, 2015) Obesitas terjadi bila terjadi pertambahan jumlah sel lemak dan pertambahan ukuran sel lemak (Sugondo,S.,2009). Obesitas disebabkan oleh pemasukan jumlah makan yang lebih besar dari pada pemakaiannya oleh tubuh sebagai energi. Energi yang berlebihan akan disimpan dalam jaringan adiposa. (Hall dan Guyton, n.d.)
2.2. Epidemiologi
Obesitas merupakan akumulasi penumpukan lemak yang tidak normal yang dapat mengganggu kesehatan. Pada tahun 2014 lebih dari 1,9 miliar orang dewasa usia 18 tahun atau lebih mengalami kelebihan berat badan. Prevalensi obesitas di seluruh dunia meningkat dua kali lipat antara tahun 1980 dan 2014. Dari jumlah tersebut lebih dari 600 juta mengalami obesitas. Secara keseluruhan, sekitar 13% dari populasi dewasa di dunia (11% laki-laki dan 15% perempuan) yang mengalami obesitas dan 39% dari orang dewasa berusia 18 tahun ke atas (38% pria dan 40% wanita) mengalami kelebihan berat badan. (Who.int, 2015)
Tahun 2013, 42 juta anak-anak di bawah usia 5 mengalamai kelebihan berat badan atau obesitas. Sebelumnya telah diketahui kelebihan berat badan dan obesitas merupakan masalah bagi negara yang berpenghasilan tinggi, kelebihan berat badan dan obesitas sekarang meningkat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama di perkotaan. Di negara-negara berkembang
tingkat kenaikan kelebihan berat badan dan obesitas pada kanak-kanak sudah lebih dari 30% lebih tinggi dari negara-negara maju (Who.int, 2015).
Di Indonesia Secara nasional masalah gemuk pada anak umur 5-12 tahun masih tinggi yaitu 18,8 persen, terdiri dari gemuk 10,8 persen dan sangat gemuk (obesitas) 8,8 persen. Prevalensi gemuk terendah di Nusa Tenggara Timur (8,7%) dan tertinggi di DKI Jakarta (30,1%). Sebanyak 15 provinsi dengan prevalensi sangat gemuk diatas nasional, yaitu Kalimantan Tengah, Jawa Timur, Banten, Kalimantan Timur, Bali, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Jambi, Papua, Bengkulu, Bangka Belitung, Lampung dan DKI Jakarta. Tahun 2013 sebesar 0,6 persen balita di Bali mengalami gizi lebih (Riskesdas, 2013). 2.3. Etiologi
Kelebihan berat badan dan besitas terjadi karena ketidakseimbangan asupan energi antara pengeluaran energi. Obesitas adalah hasil dari interaksi yang kompleks antara faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik menentukan habitus tubuh, napsu makan, pemasukan energi, aktivitas fisik, dan pengeluaran energi. Faktor lingkungan menentukan tingkat ketersediaan makanan, pilihan jenis makanan, tingkat aktivitas fisik dan untuk jenis aktivitas fisik (Kliegman, n.d.).
Perubahan lingkungan seperti adanya industri makanan menyebabkan semakin sedikitnya keluarga yang menyiapkan makanannya sendiri. Industri makanan menyediakan makanan dengan kalori tinggi, karbohidrat sederhana, dan lemak. Banyaknnya anak yang senang mengkonsumsi makanan ini meningkatkan risiko terjadinya obesitas. Tingginya konsumsi minuman yang tinggi karbohidrat seperti minuman bersoda, minuman berenergi, dan sari buah menambah faktor ini (Kliegman, n.d.).
Tingkat aktivitas fisik pada anak dan dewasa disebabkan oleh banyaknya kendaraan dan berkuranganya minat untuk berjalan kaki. Televisi, komputer, video games, dan media hiburan lainnya menyebabkan anak kurang melakukan aktivitas fisik ditambah lagi dengan persepsi kurang amannya lingkungan menyebabkan anak untuk tetap diam di dalam rumah (Kliegman, n.d.).
Penurunan waktu tidur pada anak-anak dan dewasa meningkatkan risiko terjadinya obesitas, dengan dampak yang mungkin lebih besar pada anak-anak dibandingkan pada orang dewasa. Penurunan waktu tidur berhubungan dengan penurunan tingkat leptin dan peningkatan ghrelin yang menyebabkan peningkatan rasa lapar (Kliegman, n.d.).
Faktor genetik seperti mutasi beberapa gen berhubungan dengan obesitas gen Lep (ob), LepR (db), POMC, MCR4R, PC-1, dan TrkB dapat menyebabkan obesitas. Sindrom genetik yang mempunyai asosiasi dengan obesitas pada anak-anak diantaranya, sindrom Prader-Willi, Pseudohypoparathyroidism, Sindrom Laurence-Moon-Biedl (Bardet-Biedl), Sindrom Cohen, Sindrom Down, Sindrom Turner (Jameson dan Harrison, 2013; Kliegman, n.d.).
Faktor endokrin dan neurofisiologi yaitu penurunan tingkat leptin dan peningkatan ghrelin yang menyebabkan peningkatan rasa lapar juga dapat menyebabkan terjadinya obesitas pada anak anak-anak dan dewasa. Hormon pencernaan, termasuk cholecystokinin, GLP-1, peptida YY, dan umpan balik dari neuronal vagal mendorong rasa kenyang, sedangkan ghrelin merangsang nafsu makan. Jaringan adiposa memberikan umpan balik mengenai tingkat penyimpanan energi ke otak melalui rilis hormon adiponektin dan leptin (Kliegman, n.d).
2.4. Patofisiologi
Obesitas terjadi bila asupan energi lebih besar dari pengeluaran energi. Asupan energi berlebih akan disimpan di jaringan lemak. Menurut jumlah sel lemak, obesitas dapat terjadi karena hipertrofi sel lemak dan atau hiperplasia sel lemak. Penambahan dan pembesaran sel lemak paling cepat pada masa tahun pertama kehidupan dan mencapai puncaknya pada masa meningkat dewasa. Setelah masa dewasa, tidak akan terjadi hiperplasia sel lemak, tetapi hanya terjadi hipertrofi sel lemak. Obesitas yang terjadi pada masa anak-anak selain terjadi hipertrofi sel lemak juga terjadi hiperplasia sel lemak (Jameson dan Harrison, 2013; Soetjiningsih, 1995).
Sebuah konsep "set point" berat badan yang didukung oleh mekanisme fisiologis berpusat di sekitar sistem penginderaan dalam jaringan adiposa yang mencerminkan cadangan lemak dan reseptor, atau "adipostat," yang ada di pusat hipotalamus. Ketika simpanan lemak berkurang, sinyal adipostat rendah, dan hipotalamus merespon dengan merangsang rasa lapar dan penurunan pengeluaran energi untuk menghemat energi. Sebaliknya, ketika penyimpanan lemak berlimpah, sinyal meningkat, dan hipotalamus merespon dengan menurunkan rasa lapar dan meningkatkan pengeluaran energi (Jameson dan Harrison, 2013).
2.5. Manifestasi klinis
Anak obesitas memiliki berat badan lebih yang lebih tinggi dari anak seusianya. Anak obesitas akan mencapai masa pubertas lebih capat. Hal ini menyebabkan tidak hanya memiiki berat badan yang lebih tinggi tetapi juga pematangan tulang anak obesitas lebih cepat dari anak seusianya. Pertumbuhan anak obesitas lebih cepat dari anak seusianya dan pertumbuhan tingginya lebih
cepat selesai. Ini menyebabkan anak obesitas relatif lebih tinggi pada masa remaja awal dan akhirnya memiliki tinggi badan yang relatif lebih pendek dari anak sebayanya (Soetjiningsih, 1995).
Anak obesitas memiliki bentuk muka yang tidak proporsional, hidung dan mulut relatif kecil dan memiliki dagu ganda. Terdapat timbunan lamak pada daerah lengan atas, payudara, perut, dan paha. Timbunan lemak ini menyebabkan payudara anak obesitas laki-laki terlihat tumbuh, penis terlihat kecil, dan jari-jari terlihat kecil dan runcing. Pada beberapa bagian tubuh terdapat striae (Soetjiningsih, 1995).
2.6. Penilaian status Gizi
Obesitas atau peningkatan adipositas didefinisikan menggunakan indeks massa tubuh (IMT), yang merupakan indikator yang sangat baik untuk pengukuran lebih langsung dari lemak tubuh. IMT = berat badan dalam kg / (tinggi dalam meter) 2. Orang dewasa dengan IMT ≥30 memenuhi kriteria untuk obesitas, dan orang-orang dengan IMT 25-30 jatuh di kisaran kelebihan berat badan (Kliegman, n.d.). Menurut WHO, kriteria IMT untuk Asia IMT = 23-24,9 termasuk dalam kriteria kelebihan berat badan, IMT = 25-29,9 termasuk dalam kriteria obesitas tipe 1 dan IMT ≥ 30 termasuk kriteriadalam kriteria obesitas tipe 2 (Lancet, 2004).
Selama masa kanak-kanak, tingkat perubahan lemak tubuh dimulai dengan adipositas tinggi selama masa bayi. Kadar lemak tubuh menurun sekitar 5,5 tahun sampai periode yang disebut adipositas Rebound, ketika lemak tubuh biasanya pada tingkat terendah. Adipositas kemudian meningkat sampai awal masa dewasa (Kliegman, n.d.). Obesitas dan kelebihan berat badan pada anak umur 5-19 tahun
dapat menggunakan indeks masa Tubuh menurut umur (BB/U). Anak dikatakann obesitas badan bila IMT/U > +2 SD anak dikatakan kelebihan berat bila IMT/U > +1SD, anak dikatakan kurus IMT/U < -2 SD, dan anak dikatakan sangat kurus bila IMT/U < -3 SD (Who.int, 2016).
2.7. Komplikasi
Obesitas yang muncul pada anak dan remaja meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas pada usia dewasa muda dan dapat berlajut menjadi obesias pada usia dewasa (Juonala et al., 2011; Mistry dan Puthussery, 2015). Obesitas pada anak menjadi faktor risiko beberapa penyakit seperti kardiovaskular, diabetes mellitus tipe 2, hipertensi, hiperlipidemia, non alcoholic fatty liver disease (NAFLD), pubertas dini, haid yang tidak teratur dan sindrom ovarium polikistik, steatohepatitis, sleep apnea, asma, gangguan muskuloskeletal, dan masalah psikologi seperti depresi (Kliegman, n.d; Soetjiningsih, 1995; Lakshman, Elks and Ong, 2012; Mistry dan Puthussery, 2015)
Resistensi insulin meningkat seiring dengan meningkatnya jaringan adiposa dan secara tidak langsung memiliki efek terhadap metabolise lipid dan kesehatan kadiovaskular. NAFLD terjadi 10-25% remaja obesitas. NAFLD dapat muncul dengan fibrosis berat atau steatohepatitis alkohol dan dapat menyebabkan sirosis dan karsinoma hepatoseluler. NAFLD berkaitan secara tidak langsung dengan penyakit kardiovaskular (Kliegman, n.d). Anak obesitas memiiki risiko tinggi mengalami prediabetes, dislipidemia, steatosis hati, dan hipertensi. Anak laki-laki cenderung memiliki profil risiko metabolisme dan kardiovaskular yang lebih buruk dan komorbiditas yang lebih tinggi dibandingkan anak perempuan (Dalla Valle et al., 2015).
Beberapa komplikasi mekanik dari obesitas seperti obstructive sleep apnea dan gangguan orthopedi. Komplikasi orthopedi termasuk penyakit Blount dan slipped femoral capital epiphysis. Komplikasi psikologikal pada anak obesitas seperti ansietas, depresi, kurang percaya diri, tanda-tanda depresi, memburuknya prestasi sekolah, isolasi sosial, masalah dengan intimidasi atau ditindas (Kliegman, n.d; Chung, Chiou dan Chen, 2015).
2.8. Faktor Penyebab Obesitas pada Anak A. Aktifitas Fisik
Aktifitas fisik merupakan salah satu pengeluaran energi (Kliegman, n.d). Tingakat aktivitas fisik yang rendah dapat menurunkan pengeluaran energi sehingga energi akan disimpan dalam jaringan lemak (Kliegman, n.d.; Hall dan Guyton, n.d.). Rendahnya aktivitas fisik dan tingginya perilaku menetap berhubungan dengan tingginya persentil indeks masa tubuh. Temuan ini secara umum disepakati dengan ulasan penelitian obesitas pada anak yang menyimpulkan rendahnya aktivitas fisik dan perilaku menetap merupakan faktor risiko terjadinya obesitas pada anak (Carlson et al., 2012). Aktivitas fisik secara independen berhubungan dengan indeks adipositas. Anak yang kurang aktif dalam melakukan aktifitas fisik lebih cenderung mengalami obesitas (Chaput et al., 2012).
Anak yang mengaami kelebihan berat badan dan obesitas cenderung memiliki level aktivitas fisik yang rendah dan diikuti dengan peningkatan level perilaku menetap. Aktivitas fisik memiliki hubungan negatif yang kuat terhadap dan obesitas pada anak laki dan perempuan. Aktivitas fisik berbanding terbalik dengan komposisi tubuh anak laki-laki, tetapi tidak untuk anak perempuan. Pada
anak laki-laki waktu di depan layar dan aktivitas fisik berbanding lurus dengan risiko kelebihan berat badan, tetapi pada anak perempuan aktivitas fisik memiliki hubungan yang lebih kuat dengan kelebihan berat badan (Prentice-Dunn dan Prentice-Dunn, 2012).
Penelitian review sistematis Mistry dan Puthussery (2015) menemukan dari delapan studi enam diantaranya menunjukan hubungan positif anatara aktivitas fisik dan kelebihan berat badan atau obesitas. Contoh kegiatan fisik termasuk olahraga (berjalan cepat, berenang, berjalan, jogging, ras berjalan, dan aerobik) dan permainan luar ruangan (bola voli, sepak bola, kriket, bulu tangkis, dan tenis lapangan). Durasi kegiatan berkisar dari kurang dari 2 jam per minggu sampai kurang dari 30 menit per hari. Meskipun, dua studi tidak menemukan korelasi positif yang signifikan antara aktivitas fisik dan berat berlebih atau obesitas, satu studi menemukan kegiatan di rumah seperti olahraga teratur untuk menitper hari sebagai faktor protektif terhadap kelebihan berat badan atau obesitas (Mistry dan Puthussery, 2015).
Perilaku menetap meningkatkan risiko terjadinya obesitas. Perilaku menetap seperti waktu di depan layar seperti menonton televisi, menonton DVD, video games, dan bermain gadget kurang dari dua jam sehari merupakan tindakan untuk mencegah terjadinya obesitas. Banyak penelitian telah menemukan bahwa peningkatan waktu di depan layar yaitu lebih dari dua jam sehari berkorelasi dengan peningkatan massa tubuh. Beberapa studi telah menemukan perilaku menetap merupakan faktor risiko independen terhadap obesitas (Prentice-Dunn dan Prentice-Dunn, 2012). Perilaku menetap lebih dari empat jam per hari memiliki hubungan positif dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Anak
yang menghabiskan waktunya lebih dari empat jam untuk kegiatan menetap setiap hari dua kali lebih besar kemungkinan kelebihan berat badan atau obesitas dibandingkan anak-anak yang menghabiskan lebih sedikit waktu pada kegiatan menetap (Bhuiyan, Zaman dan Ahmed, 2013). Menonton televisi selama berjam-jam juga cenderung mendorong anak untuk ngemil makanan yang berkalori tinggi. Iklan yang ditampilkan di televisi seperti iklan minuman ringan yang tidak sehat dan makanan padat energi juga akan mendorong anak untuk ngemil makanan yang berkalori tinggi (Mistry dan Puthussery, 2015; Payab et al., 2015).
B. Kebiasaan Makan
Pola makan anak seperti sering mengkonsumsi makanan yang tinggi kalori dan rendah nutrien memiliki hubungan dengan terjadinya kelebihan berat badan dan obesitas. Dari lima studi empat diantaranya menunjukkan hubungan yang positif antara mengkonsumsi makanan tinggi kalori seperti makanan cepat /junk food dan terjadinya kelebihan berat badan atau obesitas (Mistry dan Puthussery, 2015; Payab et al., 2015).
Peningkatan konsumsi camilan pada anak seperti karbohidrat olahan (gula, tepung putih, dan lemak jenuh) meningkatkan terjadinya obesitas dan penyakit kronik lainnya. Konsumi makanan manis seperti kue, cokelat, dan permen memiliki hubungan yang signifikan dengan terjadinya obesitas dan obesitas abdominal. Anak yang jarang mengkonsumsi junk food atau makanan cepat saji seperti hot dogs,hamburgers, cheeseburgers, fried chicken, and pizza memiliki risiko obesitas general dua puluh lima persen lebih rendah dan sembilan belas persen lebih rendah dari pada anak yang mengkonsumsi makanan cepat saji setiap hari. Anak yang jarang mengkonsumsi minuman manis seperti soda dan minuman
ringan memiliki risiko obesitas general 15% lebih rendan dari pada anak yang mengkonsumsi minuman manis seiap hari (Payab et al., 2015).
C. Faktor Penyebab lainnya
Orang tua obesitas memiliki peran dalam terjadinya obesitas pada anak. Salah satu dari orang tua kelebihan berat badan atau obesitas, anaknya tiga kali lebih besar kemungkinan mengalami kelebihan berat badan atau obesitas dari pada orang tua yang tidak kelebihan berat badan atau obesitas (Bhuiyan, Zaman dan Ahmed, 2013). Anak obesitas lima puluh persen memiliki riwayat keluarga kelebihan berat badan atau obesitas (Mistry dan Puthussery, 2015).
Enam studi yang dilakukan di Asia Selatan empat diantaranya menemukan hubungan positif antara status sosial ekonomi dan terjadinya kelebihan berat badan dan obesitas pada anak. Status sosial ekonomi di tentukan melalui tempat tinggal (perkotaan/pedesaan), biaya pendidikan per bulan, riwayat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, kekayaan menggunakan status sosial demografi, stratifikasi sosial ekonomi, dan pengeluaran keluarga per bulan. Satu studi menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja dengan sosial ekonomi yang lebih tinggi dan tinggal di perkotaan delapan belas kali lebih mungkin untuk menjadi kelebihan berat badan atau obesitas dibandingkan dengan sosial ekonomi rendah dan tinggal di pedesaan. Status sosial ekonomi yang lebih tinggi di negara berkembang merupakan faktor penyapihan dini pemberian ASI dan memberikan pengganti ASI. Pemberian ASI yang panjang berkaitan dengan penurunan adipositas pada masa kanak-kanak kemudian (Mistry dan Puthussery, 2015).
KESIMPULAN
Obesitas dan kegemukan merupakan keadaan patologis sebagai akibat dari konsumsi makanan yang jauh melebihi kebutuhannya sehingga terdapat penimbunan lemak yang berlebihan dari apa yang diperlukan untuk fungsi tubuh dan dapat mengganggu kesehatan. Faktor risiko kelebihan berat badan dan obesitas antara lain faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor yang paling mempengaruhi adalah faktor seperti lingkungan aktifitas fisik, nutrisi, dan sosial ekonomi. Obesitas pada anak memberikan dampak buruk bagi tumbuh kembang anak. Dampak obesitas pada anak diantaranya memiliki kecenderuangan obesitas pada dewasa dan berpotensi menjadi penyakit metabolik dan penyakit degeneratif. Obesitas merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskuler, hipertensi, resistensi insulin, diabetes mellitus (DM) tipe 2, gangguan ortopedik, Obstruktive sleep apnea. Kegemukan dan obesitas pada anak juga memiliki dampak pada psikososial anak seperti terbatas dalam pergaulan, terbatas dalam aktifitas fisik. Penanganan kelebihan berat badan pada anak harus dilakukan secara komprehensif mulai dari pencegahan, intervensi pada anak dengan obesitas dan peran lingkungan terdekat sangat membantu.
DAFTAR PUSTAKA
Riset Kesehatan Dasar. 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Ariani, A. and Tembiring, T. (2007). Prevalensi Obesitas pada Anak Sekolah Dasar di Kota Medan. Majalah Kedokteran Nusantara, 40(2), pp.86-89. Bhuiyan, M., Zaman, S. and Ahmed, T. (2013). Risk factors associated with
overweight and obesity among urban school children and adolescents in Bangladesh: a case–control study. BMC Pediatrics, 13(1), p.72.
Carlson, J., Crespo, N., Sallis, J., Patterson, R. and Elder, J. (2012). Dietary-Related and Physical Activity-Dietary-Related Predictors of Obesity in Children: A 2-Year Prospective Study. childhood Obesity, 8(2), pp.110-115.
Chaput, J., Lambert, M., Mathieu, M., Tremblay, M., O' Loughlin, J. and Tremblay, A. (2012). Physical activity vs. sedentary time: independent associations with adiposity in children. Pediatric Obesity, 7(3), pp.251-258. Chung, K., Chiou, H. and Chen, Y. (2015). Psychological and physiological
correlates of childhood obesity in Taiwan. Sci. Rep., 5, p.17439.
Cintari, L, Padmiari, I.A., and Utami, IGA. (2011). Perbedaan Kejadian Obesitas pada Anak Sekolah Berdasarkan Jenis Sarapan dan Faktor Keturunan. Skala Husada, 8(2), pp.102-118.
Dalla Valle, M., Laatikainen, T., Kalliokoski, T., Nykänen, P. and Jääskeläinen, J. (2015). Childhood obesity in specialist care – searching for a healthy obese child. Annals of Medicine, 47(8), pp.639-654.
Hanandita, W. and Tampubolon, G. (2015). The double burden of malnutrition in Indonesia: Social determinants and geographical variations. SSM -Population Health, 1, pp.16-25.
Hapsari IA, Putu YA, Luh SA, (2011).Gambaran Status Gizi Siswa SD Negeri 3 Peliatan Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Denpasar: Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Available at: http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/download/6695/5104. [Diakses 30 Desember 2015]
Hidayati S, Irawan R, Hidayat B, (2006). Obesitas Pada Anak. Surabaya : Divisi Nutrisi Dan Penyakit Metabolic Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair
Juonala, M., Magnussen, C., Berenson, G., Venn, A., Burns, T., Sabin, M., Srinivasan, S., Daniels, S., Davis, P., Chen, W., Sun, C., Cheung, M., Viikari, J., Dwyer, T. and Raitakari, O. (2011). Childhood Adiposity, Adult
Adiposity, and Cardiovascular Risk Factors. New England Journal of Medicine, 365(20), pp.1876-1885.
KKRI, (2012). Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Kegemukan dan Obesitas pada Anak Sekolah. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kliegman, R. (n.d.). Nelson textbook of pediatrics.
Lakshman, R., Elks, C. and Ong, K. (2012). Childhood Obesity. Circulation, 126(14), pp.1770-1779.
Lancet (2004). Appropriate body-mass index for Asian populations and its implications for policy and intervention strategies. The Lancet, 363(9403), pp.157-163.
Mistry, S. and Puthussery, S. (2015). Risk factors of overweight and obesity in childhood and adolescence in South Asian countries: a systematic review of the evidence. Public Health, 129(3), pp.200-209.
Payab, M., Kelishadi, R., Qorbani, M., Motlagh, M., Ranjbar, S., Ardalan, G., Zahedi, H., Chinian, M., Asayesh, H., Larijani, B. and Heshmat, R. (2015). Association of junk food consumption with high blood pressure and obesity in Iranian children and adolescents: the CASPIAN-IV Study. Jornal de Pediatria, 91(2), pp.196-205.
Prentice-Dunn, H. and Prentice-Dunn, S. (2012). Physical activity, sedentary behavior, and childhood obesity: A review of cross-sectional studies. Psychology, Health & Medicine, 17(3), pp.255-273.
Sastroasmoro, S. dan Ismael, S.(2011). Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Jakarta: Sagung Seto.
sihadi, (2012). Kelebihan Berat Badan pada Balita. CDK-196, 39(8). Soetjiningsih,(1995), Tumbuh Kembang Anak, Jakarta :ECG.
Sugondo,S. (2009) Obesitas. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, dkk (Editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-V. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK UI. P 439
Who.int, (2015). WHO | Obesity and overweight. [online] Available at: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs311/en/ [Accessed 1 Nov. 2015].
Who.int, (2016). WHO | BMI-for-age (5-19 years). [online] Available at: http://www.who.int/growthref/who2007_bmi_for_age/en/ [Accessed 20 Jan. 2016].