• Tidak ada hasil yang ditemukan

Determinan Perilaku Merokok pada Remaja Putra di Pondok Pesantren

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Determinan Perilaku Merokok pada Remaja Putra di Pondok Pesantren"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

M K M I

Media Kesehatan Masyarakat Indonesia

Fa kultas Kesehatan Masyarakat Universita s Diponegoro DOI:10.14710/mkmi.19.3.213-218

Determinan Perilaku Merokok pada Remaja Putra di Pondok Pesantren

Chaterina Novelle Turnip1*, Besar Tirto Husodo1, Bagoes Widjanarko1

1 Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro, Semarang

*Corresponding author : [email protected]

Info Artikel : Diterima 27 September 2019 ; Disetujui 12 Mei 2020 ; Publikasi 1 Juni 2020

ABSTRAK

Latar Belakang : Merokok merupakan sa la h sa tu masalah dunia kesehatan yang serius sa a t ini. Wa laupun da mpak yang ditimbulkan dari a ktivitas merokok dapat menyebabkan kematian, namun aktivitas tersebut tetap membuat seseorang ketagihan. Berdasarkan ha sil studi pendahuluan ya ng dila kukan didapatkan hasil bahwa Pondok Pesa ntren Sa rochaniyyah, Pondok Pesa ntren Nurul Huda Azhudi da n Pondok Pesa ntren Al-Islah memiliki tingka t PHBS ya ng pa ling renda h diantara pondok pesantren la innya di wila ya h kerja Puskesmas Rowosari dimana salah satu indikator dari PHBS a dalah tidak merokok.

Metode : Jenis penelitia n yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik dengan metode kuantitatif dengan desa in cross-sectional. Populasi berjumlah 61 sa ntri ya ng berusia 15-18 ta hun. Pengambilan sa mpel dengan metode total sampling.

Hasil : Ha sil penelitia n menunjukkan 90,2% dari 61 responden mengaku merupakan perokok a ktif dan 9,8% responden la innya mengaku tida k pernah melakukan a ktifitas merokok. Va ria bel ya ng berhubungan dengan perila ku merokok adalah keterjangkauan akses untuk mendapatkan rokok (p- value= 0,048), keterjangkauan harga rokok (p- value= 0,000), a kses informasi mengenai ba haya rokok (p- value= 0,090), peraturan pondok pesantren mengenai la rangan merokok(p- value= 0,020), dukungan teman sebaya (p- value= 0,021) dan dukungan pengurus pondok pesantren (p- value= 0,048).

Kesimpulan : Terda pat 90,2% responden merupakan perokok a ktif yang a rtinya praktik merokok marak terjadi di lingkunga n pondok pesantren.

Kata Kunci : perila ku merokok, remaja, pondok pesantren

ABSTRACT

Title: Smoking Behaviour Determinants among Male Teenagers in Islamic Boarding School

Background : Smoking is one of the problems of the world health serious that time. Although the impact caused

by the activity of smoking can cause death, but those activities keep someone addicted to. Based on the results of the study done obtained the introduction that the results showed that in islamic boarding schools Sarocahniyyah, Nurul Huda Azhudi, Al-Islah having a level PHBS (a clean and healthy behaviors) the lowest of the low among other in islamic boarding schoools in the work area of Puskesmas Rowosari by which either an indicator of PHBS is do not smoke.

Method : The kind of research is research used descriptive analytic with quantitative methods with the design

cross-sectional. The population were 61 santri with total sampling methods.

Result : The research results show 90,2% of respondents stated is 61 active smokers and 9,8% of respondents

confessed that they had never doing activities smoking. Variable are associated with smoke are affordability access to cigarettes (p- value= 0,048), affordability makes cigarette price (0,000), access to information about dangers of cigarette (0,090), regulation on smoking islamic boarding schoool (p- value= 0,020), support friend age ( p- value= 0,021) and support the islamic boarduing schoool (p- value= 0,048)

Conclusion : There are active smokers 90,2% respondents this practice is widespread in the smoking Islamic

Boarding School.

(2)

PENDAHULUAN

Kebia saan merokok di Indonesia merupakan sua tu aktivitas ya ng sa ngat mudah untuk ditemui. Merokok merupakan sa la h sa tu ma salah dunia kesehatan ya ng serius sa a t ini. Wa la upun dampak ya ng ditimbulkan da ri a ktivitas merokok dapat menyebabkan kematian, na mun aktivitas tersebut teta p membuat seseorang ketagihan.(1)

Menurut WHO pa da tahun 2017, setiap ta hunnya tembakau telah menewaskan lebih dari 7 juta orang. Dimana pada perokok a ktif lebih dari 6 juta kematian terja di da n sisa nya terja di pada perokok pasif sekitar 890.000 kematian. Hal tersebut diperkira kan a kan terus meningkat setiap tahunnya hingga pa da ta hun 2030 mencapai 10 juta kematian.(2)

Da ta WHO juga menyebutkan bahwa setelah Cina da n India , Indonesia merupakan negara terbesar didunia . Pa da ta hun 2010 ha sil sensus penduduk oleh Ba dan Pusa t Sta tistik menyatakan jumlah penduduk Indonesia a dalah 237.556.363 ora ng. Sekitar 65 juta orang a tau 28% dari jumlah penduduk tersebut merupakan perokok a ktif. Fakta ini ya ng kemudian menjadikan Indonesia sebagai peringka t ketiga didunia dengan perokok terbesar. Artinya , satu dari empat orang Indonesia merupakan seora ng perokok. Dengan persentase sebanyak 34% da ri 65 juta ora ng a dalah ora ng dewa sa dan 13% dia ntaranya adalah rema ja. Ha l ini yang menyebabkan kebiasaan merokok tidak hanya menjadi ma salah ba gi dunia teta pi juga ba gi Indonesia. (3)

Usia pertama ka li mula i merokok di kota Sema rang tertinggi terdapat pada kelompok usia 15- 19 ta hun ya itu 53,9%, kemudian disusul pada kelompok usia 10- 14 ta hun sebesar 18%. Usia perta ma ka li merokok tia p ha ri tertinggi juga terda pat pada kelompok usia 15- 19 ta hun yaitu 43,8%, kemudian disusul kelompok usia 20- 24 ta hun sebesar 28,6%.(4). Ha l di a tas menunjukkan ba hwa merokok tela h menjadi kebia saan dalam kehidupan seha ri-hari ba gi semua ka langan khususnya pa rarremaja.(5) Dima na usia pa ling ba nyak terdapat pada jenjang usia 15-18 tahun, yang dima na terma suk pada ra ta-rata usia pelajar SMA/MA/SMK/ sederajat.

Pondok pesantren merupakan sebuah institusi pendidikan yang dimana siswa nya tinggal bersama-sa ma disuatu a srama yang disebut pondok. Salah sa tu jenjang pendidikan ya ng terda pat di pondok pesa ntren a dalah MA (Ma drasah Aliya h) yang rata-ra ta rentang usia siswanya 16-18 tahun yang dalam a rtia n ma suk kedalam kelompok usia remaja. Penelitia n terda hulu menunjukkan ba hwa sekitar 90% da ri kura ng lebih 5.000 sa ntri di pondok pesa ntren merupakan perokok aktif.(6)

Pondok Pesantren Sa rochaniyyah, Pondok Pesa ntren Nurul Huda Azhudi da n Pondok Pesa ntren Al-Isla h merupakan pondok pesa ntren

ya ng berada di wila yah kerja Puskesmas Rowosari Kota Semarang.

Berda sarkan ha sil studi pendahuluan yang tela h dila kukan dengan menggunakan wawancara kepa da pemegang la ya nan Promosi Kesehatan Puskesmas Rowosa ri menyatakan ba hwa ketiga pesa ntren tersebut memiliki tingka t PHBS yang pa ling rendah diantara pondok pesantren la innya di wila ya h kerja Puskesmas Rowosa ri. Sa la h satu indika tor PHBS a dalah tida k merokok dan berda sarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan denga n ca ra membagikan a ngket kepada 27 orang sa ntriwan Pondok Pesa ntren Sa rochaniyyah dida patkan hasil ba hwa 89% responden menyatakan ba hwa dirinya sa at ini merupakan perokok a ktif, serta 11% dia ntaranya mengaku sa mpai sa a t ini tida k pernah menjadi perokok aktif.

Terbentuknya perila ku merokok pa da remaja bukan terja di ta npa penyebab. Seca ra umum berda sarkan ka jian Kurt Lwein, merokok merupakan fungsi da ri lingkunga n da n individu. Artinya , perila ku merokok sela in diseba bkan oleh fa ktor lingkungan juga disebabkan oleh faktor diri.(7) MATERI DAN METODE

Jenis penelitia n ini ya itu deskriptif a nalitik denga n pendekatan penelitian kuantitatif, dan desain penelitia n yang digunakan yaitu desain peneltian cross-sectional. Populasi dalam peneltia n ini adalah sa ntri yang berjenis kelamin la ki- la ki yang berusia 15- 18 ta hun denga n jumla h 61 sa ntri. Sa mpel menggunakan tota l sa mpling ya itu sejumlah 61 ora ng. Pengumpulan da ta dila kukan dengan menggunakan wa wa ncara kepada pa ra sa ntri tersebut dan a nalisis da ta dilakukan secara univariat da n bivariat menggunakan chi-square.

Ada pun defenisi opera sional ya itu perilaku merokok a dalah tindakan membakar tembakau yang kemudian dihisa p denga n menggunakan rokok (denga n skoring 0= ya dan 1= tidak), keterjangkauan a kses untuk mendapatkan rokok a dalah Keterja ngkauan santri untuk mendapatkan rokok, denga n indikator: lokasi penjualan rokok, jumlah penjual rokok disekitar pesantren, penjualan rokok da la m bentuk eceran, wa ktu tempuh menuju tempat penjualan rokok (denga n skoring rokok mudah diakses ≤ 1 dan rokok sulit diakses > 2), keterjangkauan harga rokok adalah Keterjangkauan sa ntri da lam mendapatkan rokok dari segi da ya beli, dia mbil da ri ua ng sa ku sendiri a ta u merupakan pemberia n dari teman (dengan skoring harga rokok terjangkau≤ 2 dan harga rokok kurang terjangkau >3), a kses informasi mengenai bahaya rokok adalah sa ntri mendapatkan paparan informasi yang terkait denga n bahaya rokok. dimana informasi mengenai rokok dida patkan da ri ora ngtua, tema n dekat, pengurus ponpes, internet da n media cetak, ketersediaan media informasi kesehatan mengenai ba haya rokok di pondok pesa ntren, a da atau

(3)

tida knya penyuluhan mengenai ba haya rokok di pondok pesantren (dengan skoring a kses informasi mengenai bahaya rokok baik > 7 dan akses informasi mengenai bahaya rokok kurang baik ≤ 6), peraturan pondok pesa ntren mengenai la ra ngan merokok a dalah Keberja lanan penerapan komitmen atau pera turan yang mela rang sa ntri merokok dan terda pat hukuman bagi yang tidak menaati peraturan (denga n skoring peraturan la rangan merokok baik > 6 da n peraturan la rangan merokok kurang baik ≤ 5), Dukungan teman sebaya terhadap praktik merokok a dalah Pengaruh a tau suatu respon ya ng diberikan oleh teman mengenai pra ktik merokok. Teman seba ya a da lah ora ng ya ng memiliki status

pemikiran, usia da n tingka t kedewasaan yang ha mpir sa ma (denga n skoring teman kurang mendukung pra ktik merokok > 4 da n teman mendukung praktik merokok ≤3), dukungan pengurus pondok pesantren a dalah dukungan atau penga ruh ya ng diberika n oleh pengurus pondok pesa ntren mengenai pra ktik merokok. Pengurus pondok pesantren adalah seseorang yang dipercayai oleh pimpinan pesa ntren untuk membantu dalam kepengurusan pesa ntren da n mengawasi perilaku sa ntri serta memberikan pembelajaran kepada santri (denga n skoring pengurus pondok pesantren kurang mendukung pra ktik merokok > 6 da n pengurus pondok pesantren mendukung praktik merokok ≤ 5). HASIL DAN PEMBAHASAN

Sebesa r 90,2% da ri 61 responden mengaku merupakan perokok a ktif da n 9,8% responden la innya mengaku tida k pernah melakukan a ktifitas

merokok. Berikut ha sil a nalisis da n pembahasan terha dap va ria bel-variabel ya ng mempengaruhi perila ku merokok pa da rema ja putra di pondok pesa ntren.

Ta bel 1. Ka rakteristik Analisis Biva riat Antara Va riabel Bebas Dengan Varia bel Terika t

No Va ria bel

Perila ku Merokok

p- va lue

Iya Tida k Tota l

n % n % N %

1 Keterja ngkauan akses untuk mendapatkan rokok

0,048

Sulit 15 78,9 4 21,1 19 100

Mudah 40 95,2 2 4,8 42 100

2 Keterja ngkauan harga rokok

0,00

Kura ng terjangkau 11 64,7 6 35,3 17 100

Terja ngkau 44 100 0 0 44 100

3 Akses informasi mengenai ba haya rokok

0,09

Ba ik 29 96,7 1 3,3 30 100

Kura ng baik 26 83,9 5 16,1 31 100

4 Pera turan pondok pesantren mengenai la rangan merokok

0,02

Ba ik 20 80 5 20 25 100

Kura ng baik 35 97,2 1 2,8 36 100

5 Dukungan teman sebaya

0,021

Kura ng mendukung 15 65,2 5 34,8 23 100

Mendukung 40 89,5 1 10,5 38 100

6 Dukungan pengurus pondok pesa ntren

0,09

Kura ng mendukung 29 96,7 1 3,3 30 100

(4)

Hubungan Keterjangkauan Akses Untuk Mendapatkan Rokok Dengan Perilaku Merokok Pa da penelitian yang telah dila kukan diketahui ba hwa responden yang melakukan praktik merokok lebih ba nyak terdapat pada responden yang memiliki a kses informasi mengenai bahaya rokok yang baik (96,7%) diba ndingkan denga n responden yang memiliki a kses informasi mengenai ba haya rokok ya ng kura ng ba ik (83,9%), wa la upun memiliki selisih ya ng kecil. Ba ik dalam kategori ini memiliki a rti a kses mendapatkan rokok sa nga tlah mudah, 54,1% responden bia sanya membeli rokok dari wa rung terdekat dimana 62,3% menyatakan bahwa terda pat >5 tempat penjualan rokok di pesa ntren, lebih da ri setengah responden wa ktu yang dibutuhkan pun selama ≤ 3 menit.

Setela h dila kukan uji hipotesis dengan menggunakan uji Chi-Square a ntara keterjangkauan a kses untuk mendapatkan rokok denga n praktik merokok pada remaja putra di pondok pesantren dida patkan nila i p-value sebesar 0,048 < 0,05 maka Ho ditola k da n Ha diterima . Denga n demikian disimpulkan ba hwa a da hubungan a ntara keterjangkauan a kses untuk mendapatkan rokok denga n praktik merokok pa da remaja putra di pondok pesantren. Hal ini seja la n dengan penelitian Muliya na dan Ida pada tahun 2013 yang menyatakan ba hwa terda pat hungan kemudahan mengakses rokok dengan tindakan merokok dengan p-value = 0,000.(8) Sejalan pula dengan penelitian Aisyah dkk pa da ta hun 2017 ya ng menyatakan bahwa ada hubungan antara a kses mendapatkan rokok dengan perila ku merokok dengan p-value = 0,011.(9)

Penelitia n ini seja la n dengan teori La urence Green ya ng menyatakan ba hwa keterjangkauan a kses untuk mendapatkan rokok termasuk kedalam fa ktor pemungkin (enabling factor) ya ng dapat mempengaruhi perila ku seseorang. Sehingga dapat disimpulkan, semakin mudah a kses seseorang untuk mendapatkan rokok ma ka sema kin besa r pula kemungkinan untuk melakukan praktik merokok. Hubungan Keterjangkauan Harga Rokok Dengan Perilaku Merokok

Pa da penelitian yang telah dila kukan diketahui ba hwa responden yang melakukan praktik merokok lebih ba nyak terda pat pa da responden yang menganggap ha rga rokok terja ngkau (100%) diba ndingkan dengan responden yang menganggap ha rga rokok kurang terjangkau (64,7%). Responden menganggap ha rga rokok terjangkau dikarenakan seba nyak 70,5% responden biasanya membeli rokok seca ra eceran. Sebanyak 62,3 % dari total responden juga mampu untuk mengalokasikan sebagian uang sa kunya untuk membeli rokok da n ma yoritas responden mengeluarkan biaya sebesar ≤ 5.300 untuk membeli rokok.

Setela h dila kukan uji hipotesis dengan menggunakan uji Chi-Square a ntara keterjangkauan ha rga rokok dengan pra ktik merokok pada remaja

putra di pondok pesantren didapatkan nila i p-value sebesa r 0,00 < 0,05 ma ka Ho ditola k dan Ha diterima . Denga n demikian da pat disimpulkan ba hwa a da hubungan a ntara keterjangkauan harga rokok dengan praktik merokok pada remaja putra di pondok pesantren. Hal ini seja la n dengan penelitian nurtini ta hun 2018 yang menyatakan ba hwa harga rokok yang rela tif murah mempengaruhi seseorang untuk memulai merokok.(10)

Penelitia n ini seja la n dengan teori La urence Green ya ng menyatakan ba hwa keterjangkauan ha rga rokok termasuk kedalam fa ktor pemungkin (enabling factor) ya ng da pat mempengaruhi perila ku seseora ng. Sehingga da pat disimpulkan, sema kin terja ngkau ha rga rokok ma ka semakin besa r pula kemungkinan seseorang untuk mela kukan praktik merokok.

Hubungan Akses Informasi Mengenai Bahaya Rokok Dengan Perilaku Merokok

Pa da penelitia n ini dida patkan bahwa responden ya ng mela kukan pra ktik merokok lebih ba nyak terda pat pa da responden ya ng memiliki a kses informasi mengenai bahaya rokok yang baik (96,7%) diba ndingkan denga n responden yang memiliki a kses informasi mengenai ba haya rokok ya ng kura ng ba ik (83,9%), ya ng a rtinya a kses informasi mengenai ba haya rokok tida k memiliki penga ruh yang signifikan terhadap praktik merokok. Seba gia n besar responden mendapatkan informasi mengenai bahaya asap rokok dari orangtua (85,2%), pengurus pondok pesa ntren (82%), kebanyakan responden juga mendapatkan informasi mengenai ba haya rokok mela lui media ceta k (57,4%) dan televisi (82%) serta mendapat penyuluhan mengenai ba haya rokok yang dila kukan di lingkungan pondok pesa ntren (67,2%).

Setela h dila kukan uji hipotesis dengan menggunakan uji Chi-Square a ntara akses informasi mengenai ba haya rokok dengan pra ktik merokok pa da remaja putra di pondok pesantren didapatkan nila i p-va lue sebesar 0,09 < 0,05 maka Ho ditolak da n Ha diterima. Denga n demikian dapat disimpulkan ba hwa a da hubungan a ntara a kses informasi mengenai ba haya rokok dengan praktik merokok pa da remaja putra di pondok pesantren. Da la m penelitia nnya, de Walque menemukan bahwa sema kin ma rak dan intens informasi mengenai ba haya merokok, prevalensi merokok individu sema kin menurun.(11) Hal ini tida k seja lan dengan penelitia n Liviya na dkk yang menyatakan bahwa tida k a da hungungan a ntara a kses informasi dengan pra ktik merokok dengan p-value = 0,246.(12)

Penelitia n ini seja la n dengan teori La urence Green ya ng menyatakan ba hwa akses informasi ba haya rokok termasuk kedalam faktor pemungkin (enabling factor) ya ng da pat mempengaruhi perila ku seseora ng. Sehingga da pat disimpulkan, sema kin ba ik a kses informasi mengenai bahaya rokok ma ka semakin besar pula kemungkinan

(5)

seseora ng untuk mela kukan pra ktik merokok, seka lipun tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Hubungan Peraturan Pondok Pesantren Mengenai Larangan Merokok Dengan Perilaku Merokok

Diketa hui ba hwa responden ya ng melakukan pra ktik merokok lebih ba nyak terda pat pada responden yang menganggap ba hwa peraturan pondok pesa ntren mengenai rokok kura ng baik (97,2%) diba ndingkan denga n responden yang menganggap peraturan pondok pesantren mengenai rokok baik (80%).

Setela h dila kukan uji hipotesis dengan menggunakan uji Chi-Square a ntara peraturan pondok pesantren mengenai rokok dengan praktik merokok pada remaja putra di pondok pesantren dida patkan nila i p-value sebesar 0,02 < 0,05 maka Ho ditola k dan Ha diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan a ntara peraturan pondok pesantren mengenai rokok dengan praktik merokok pa da remaja putra di pondok pesantren. Ha l ini tida k seja lan dengan penelitan yang dila kukan Noviana dkk yang menyatakan bahwa tida k a da hubungan antara regulasi tentang rokok disekola h dengan praktik merokok siswa dengan p-va lue = 0,462.(13)

Penelitia n ini seja la n dengan teori La urence Green ya ng menyatakan bahwa peraturan pondok pesa ntren mengenai rokok termasuk kedalam faktor pemungkin (enabling factor) ya ng dapat mempengaruhi perila ku seseorang. Sehingga dapat disimpulkan, semakin kurang baik peraturan pondok pesa ntren mengenai rokok maka semakin besar pula kemungkinan seseorang untuk melakukan praktik merokok.

Hubungan Dukungan Teman Sebaya Dengan Perilaku Merokok

Pa da penelitian ini mayoritas teman responden mela kukan pra ktik merokok (98,4%), teman responden juga merokok sa a t bersa ma dengan responden (88,5%) dan pernah mengajak responden merokok (88,5%). Seba gian besar responden juga menyatakan ba hwa teman responden pernah membelikan responden rokok (83,6%) dan merokok bersa ma ketika sedang berkumpul (72,1%).

Setela h dila kukan uji hipotesis dengan menggunakan uji Chi-Square a ntara dukungan teman sebaya dengan praktik merokok pada remaja putra di pondok pesantren didapatkan nila i p-value sebesa r 0,021< 0,05 ma ka Ho ditola k dan Ha diterima .Dengan demikia n da pat disimpulkan ba hwa ada hubungan antara dukungan teman sebaya denga n praktik merokok pa da remaja putra di pondok pesa ntren. Ha sil penelitia n ini sejalan denga n penelitian yang dila kukan oleh Adistie dkk menegenai faktor- fa ktor yang mendukung perilaku merokok ma hasiswi, menyatakan ba hwa adanya hubungan antara teman sebaya dan praktik merokok,

penelitia n tersebut mengungkapkan bahwa semakin ba nyak ma hasiswi perokok ma ka sema kin besar kemungkinan teman- tema nnya a dalah perokok a ktif.(14)

Diketa hui ba hwa responden ya ng melakukan pra ktik merokok lebih ba nyak pada responden yang memiliki tema n seba ya pada kategori mendukung (89,5%) diba ndingkan denga n responden yang memiliki teman sebaya ya ng kura ng mendukung (65,2%). Hasil penelitian Nujumun Ni’mah juga menyatakan bahwa perilaku merokok pada ma hasiswi disebabkan karena a danya pengaruh dari teman berma in, penelitia n tersebut juga menunjukkan ba hwa lingkunga n pergaulan merupakan da ktor penting ya ng dapat mela tarbelakangi individu untuk merokok.(54) Penelitia n ini seja lan dengan teori La urence Green ya ng menyatakan ba hwa dukungan teman sebaya termasuk keda lam fa ktor pengua t (reinforcing factor) ya ng da pat mempengaruhi perilaku seseora ng. Sehingga da pat disimpulkan, semakin tinggi dukungan teman sebaya maka semakin besar pula kemungkinan seseora ng untuk melakukan pra ktik merokok.

Hubungan Dukungan Pengurus Pondok

Pesantren Dengan Perilaku Merokok

Pa da penelitia n ini diketahui ba hwa responden ya ng melakukan praktik merokok lebih banyak pada responden yang menga nggap pengurus pondok pesa ntren ya ng kura ng mendukung (96,7%) diba ndingkan dengan responden yang menganggap pengurus pondok pesa ntren ya ng mendukung (83,9%). Ma yoritas responden menyatakan pengurus pondok pesantren memberi tahu adanya la ra ngan merokok dilingkungan pesa ntren (90,2), pengurus pondok pesantren a kan menegur (93,4) da n memberikan sa nksi (93,3) ba gi sa ntri yang merokok. Na mun disa mping itu responden menyatakan pernah meliha t pengurus pondok pesa ntren merokok dilingkungan pesantren (80,3).

Setela h dila kukan uji hipotesis dengan menggunakan uji Chi-Square a ntara dukungan pengurus pondok pesantren dengan praktik merokok pa da remaja putra di pondok pesantren didapatkan nila i p-va lue sebesar 0,09 < 0,05 maka Ho ditolak da n Ha diterima. Denga n demikian dapat disimpulkan bahwa a da hubungan a ntara dukungan pengurus pondok pesantren dengan praktik merokok pa da remaja putra di pondok pesantren. Penelitian ini seja la n denga n penelitia n Fa tmawati yang menyebutkan bahwa ada hubungan antara kebiasaan merokok petugas a tau pimpinan ponpes dengan pra ktik merokok dengan p-value = 0,017.(5)

Penelitia n ini seja la n dengan teori La urence Green ya ng menyatakan bahwa dukungan pengurus pondok pesantren termasuk kedalam faktor penguat (reinforcing factor) ya ng da pat mempengaruhi perila ku seseora ng. Sehingga da pat disimpulkan, sema kin tinggi dukungan pengurus maka semakin

(6)

besa r pula kemungkinan seseorang untuk mela kukan praktik merokok.

SIMPULAN

Berda sarkan hasil penelitia n dapat disimpulkan ba hwa sebesar 90,2% da ri 61 responden mengaku merupakan perokok a ktif. Ada pun determinan (fa ktor- fa ktor ya ng berhubungan) dengan perilaku merokok pa da remaja putra di Pondok Pesa ntren a dalah keterjangkauan akses untuk mendapatkan rokok (p- value= 0,048), keterjangkauan harga rokok (p- value= 0,000), a kses informasi mengenai bahaya rokok (p- value= 0,090), peraturan pondok pesantren mengenai la ra ngan merokok(p- value= 0,020), dukungan teman sebaya (p- value= 0,021) dan dukungan pengurus pondok pesa ntren (p- value= 0,048).

DAFTAR PUSTAKA

1. Toba cco Control Support Center. Declaration Of The 1st Indonesian Conference On Tobacco Or Hea lth 2014. Toba cco Control Support Center. Ja karta; 2014.

2. Who. Fa ct Sheet Tobacco. 2018.

3. Christina M. Da ta Sta tistikperokok Di Indonesia. 2011.

4. Kemenkes Ri. Riset Keseha tan Da sa r 2013. Ja karta; 2013.

5. Fa tmawati, M Dkk. Fa ktor-Faktor Yang Berhubungan Denga n Perila ku Merokok Remaja Santri Di Pondok Pesantren Nurul Huda Az Zuhdi Kota Sema rang. Universitas Diponegoro; 2014.

6. Keda ulatan Ra kyat Jogja : Sembilan Puluh Persen Sa ntri Di Pontren Perokok Aktif.(2007, 29 Juli). Arsip Universita s Ga jah Mada

7. Rizky.2018 . Perila ku Merokok Sebagai Identitas Sosia l Remaja Da lam Perga ulan Di Sura baya. Jurnal depa rtemen sosiologi FISIP. Yniversita s a irlangga

8. Muliya na, D da n Ida L. Faktor Yang Berhubungan Dengan Tindakan Merokok Pada Mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar. Jurna l MKMI. 2013.

9. Aisya h, D.C, dkk. Analisis Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Pada Anggota TNI-AD Di Yonif Mekanis 201/Jaya Yudha Jakarta. Volume 5, Nomor3. Jurnal Keseha tan Masyarakat. 2017.

10. Ma de, N. N., P., Komang, at al. (2018). Faktor ya ng berhubungan denga n perila ku beresiko pa da remaja. Educational reviewer, 2 (1), 25-31. 11. De Wa lque, D. Educa tion, Information, and Smoking Decision: Evidence from Smoking Histories, 1940-2000. World ba nk policy resea rch paper no 3362.2004

12. Liviya na, O, dkk. Fa ktor- fa ktor Yang Berhubungan Dengan Pra ktik Merokok Pada Ma hasiswi S1 Universita s Diponegoro Serma rang. Volume 5, Nommor 3. Jurnal Keseha tan Masyarakat. 2017

13. Novia na, A, dkk. Determinan Faktor Remaja Merokok Studi Kasus di SMK “X” Surakarta. Volume 3, Nomor 3. Jurna l Kesehatan Ma syarakat.2015

14. Adistie,dkk. Fa ktor- fa ktor ya ng mendukung perila ku merokok mahasiswi. JKA.Vol.2, No. 1. Ba ndung: STIKES AISYIYAH.2015

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini menunjukkan pengetahuan remaja tentang bahaya rokok terhadap kesehatan, serta zat berbahaya dalam rokok tidak menyebabkan remaja memutuskan

Mengenai alasan pendidikan di pondok pesantren lebih dipilih dalam usaha penanggulangan kenakalan yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja, karena pendidikan pondok

Akan tetapi kesadaran akan bahaya rokok tidak diikuti dengan pengetahuan yang menyeluruh mengenai bahaya merokok : hanya 4 dari 10 responden yang mengetahui mengenai kandungan

Dilakukan juga tinjauan mengenai Pondok pesantren Assalafiyah, kegiatan kegiatan dalam podok pesantren, rencana pengembangan, dan juga pengambilan data yang mendukung.. Selain

Hal ini lah yang menyebabkan penyakit skabies dengan prevalensi yang tinggi seringkali ditemukandi pondok pesantren mengingat kondisi pondok pesantren yang dihuni

Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis mengenai efektifitas pelatihan pramuka peduli dalam meningkatkan perilaku prososial remaja di Pondok Pesantren X

Saran Berdasarkan hasil penelitian mengenai Motivasi Orang Tua Dalam Memilih Pondok Pesantren Sebagai Pendidikan Lanjutan Bagi Anak Studi Pada Wali Santri Pondok Pesantren Sentot Ali