1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pandangan terhadap kelestarian hutan telah mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan paradigma pengelolaan hutan. Davis,dkk. (2001) menggambarkan ada empat pandangan kelestarian hutan yaitu kelestarian hasil dengan fokus hasil kayu, kelestarian aneka hasil hutan (kayu, air, rekreasi, dan lain-lain), kelestarian fungsi ekosistem hutan alami, dan kelestarian ekosistem hutan dan manusia. Walaupun fokus pandangan kelestarian berbeda-beda, tetapi semuanya mensyaratkan adanya tegakan hutan (dalam wujud fisiknya) yang tetap lestari.
Kelestarian tegakan hutan (forest resource) dapat dikatakan sebagai inti kelestarian hutan.Kelestarian lingkungan sangat tergantung pada kualitas dan kuantitas keberadaan tegakan hutan. Kelestarian fungsi sosial juga akan tergantung pada kelestarian tegakan hutan dan kelestarian lingkungan (Warsito, 2010). Davis, dkk.(2001) dalam Warsito (2010) menyebutkan bahwa kelestarian hasil (sustained yield) merupakan prinsip kelestarian tegakan hutan.
Kelestarian tegakan hutan dapat diukur dengan melihat sediaan (stock) tegakan, atau dengan kata lain stock tegakan hutan sebagai indikator kelestarian tegakan hutan (Warsito, 2010). Selanjutnya Warsito menyatakan bahwa tegakan hutan dikatakan lestari apabila stock tegakan dari waktu ke waktu tidak mengalami penurunan. Kondisi stock tegakan dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini (early warning system)untuk pemantauan kelestarian hutan dalam suatu unit pengelolaan.
2 Stock tegakan hutan pada suatu saat dapat diketahui melalui inventarisasi secara menyeluruh terhadap total kawasan kelola. Untuk mengetahui dinamika stock tegakan dari waktu ke waktu maka inventarisasi harus dilakukan secara berkala. Hasil Inventarisasi Hutan Menyeluruh secara Berkala (IHMB) merupakan salah satu instrumen untuk memantau stock tegakan hutan (Warsito, 2010). IHMB umumnya dilakukan dalam periode waktu tertentu misal 10 tahun sekali, 5 tahun sekali, atau sesuai rotasinya untuk tegakan berdaur pendek. Artinya lestari atau tidaknya tegakan hutan baru dapat diketahui selama periode waktu tersebut.
Karena stock tegakan hutan sulit untuk diketahui setiap tahun, sementara pemanfaatan hasil hutan (panenan) dilaksanakan setiap tahun, maka harus ada pengaturan tebangan tahunan yang dapat menjamin kelestarian tegakan hutan. Salah satu cara pengaturan tebangan tersebut adalah dengan menetapkan metode perhitungan etat tebangan tahunan atau Annual Allowable Cut (AAC). Dalam hal ini etat tebangan tahunan bukan merupakan indikator kelestarian tegakan hutan tetapi berfungsi sebagai pengendali pemanenan hasil hutan yang diharapkan mampu menjamin kelestarian tegakan hutan. Pemanenan yang terkendali adalah pemanenan yang tidak melebihi kemampuan produksinya (riapnya).
Pengaturan pemanenan hasil hutan dalam rangka mewujudkan kelestarian hasil (sustained yield) yang merupakan prinsip kelestarian tegakan hutan dikenal dengan pengaturan hasil (yield regulation) (Osmaston, 1968). Osmaston memberikan gambaran bahwa pengaturan hasil dalam rangka mewujudkan kelestarian tegakan hutan tidak hanya sekedar perhitungan etat, tetapi juga menyusun rencana pemanenannya. Prinsip pengaturan kelestarian tegakan hutan mencakup tiga hal, yaitu (1) perhitungan jumlah
3 (volume) yang akan dihasilkan, (2) pembagian hasil tersebut kedalam hasil penjarangan dan tebangan akhir, dan (3) penyusunan rencana penebangan menurut tempat dan tata waktunya.Warsito (2010) menggambarkan pengaturan kelestarian tegakan hutan tersebut dengan penyusunan rencana penebangan menurut tahun dan petak/blok tebangan dan proyeksi tebangan selama daur tegakan. Penyusunan rencana tersebut didasarkan pada hasil IHMB yang juga mencakup perhitungan AAC baik berdasar luas maupun volume.
Penetapan etat yang didasarkan pada hasil IHMB merupakan salah satu cara untuk mengendalikan penebangan legal dalam pengelolaan hutan sebagai upaya mewujudkan kelestarian tegakan hutan. Berbagai metode perhitungan etat telah banyak dikembangkan baik berdasarkan luas maupun volume. Metode perhitungan etat tesebut ada yang sederhana, misal membagi luas kawasan kelola dengan daurnya, tetapi ada juga yang rumit yang memperhitungkan riap tegakan, kenormalan tegakan, dan lain-lain. Untuk jenis tanaman yang berdaur panjang seperti tanaman jati di Perum Perhutani, perhitungan etat termasuk yang rumit karena berkaitan dengan prediksi-prediksi selama daur.
Pengelolaan hutan jati (Tectona grandis L.f.) di Indonesia terutama di Pulau Jawa telah berlangsung lebih dari 12 abad, sejak jaman kerajaan, dilanjutkan jaman Hindia Belanda, dan diteruskan sampai sekarang oleh Perum Perhutani sebagai Badan Usaha Milik Negara (Simon, 2010). Saat ini kurang lebih 61% luas hutan negara di pulau Jawa merupakan hutan produksi (Departemen Kehutanan, 2008) dan sekitar 60% dari hutan produksi tersebut dikelola sebagai kelas perusahaan jati (Perhutani, 2011a). Dalam pengelolaan hutan jati tersebut, Perum Perhutani telah berupaya untuk
4 menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari yang salah satunya berupa penerapan sistem pengaturan kelestarian tegakan hutan.
Pengaturan kelestarian tegakan hutan di Perum Perhutani khususnya tanaman jati telah dirumuskan sejak jaman pemerintah Hindia Belanda dalam bentuk pedoman penyusunan rencana perusahaan yang dikeluarkan tahun 1938 atau dikenal dengan Instruksi ‟38. Pada tahun 1974 disusun pedoman baru yaitu Pedoman Penyusunan Rencana Pengaturan Kelestarian Hutan (RPKH) yang dikenal dengan Instruksi ‟74. Sistem pengaturan kelestarian hasil di Perum Perhutani tersebut mengacu pada sistem pengaturan hasil yang dikembangkan di Jerman (Vandergeest danPeluso, 2006).
Sistem pengaturan kelestarian hutan yang diterapkan di Perum Perhutani belum mempertimbangkan perubahan sosial yang sebenarnya sudah mulai terjadi sejak awal tahun 1950-an (Simon, 2001). Meskipun kerusakan tegakan hutan terus terjadi, hal tersebut masih diabaikan dalam sistem pengaturan hasil yang selama ini berjalan (Tiryana, dkk. 2011). Instruksi ‟74 telah diganti dengan Peraturan Menteri Kehutanan No P.60/Menhut-II/2011 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengaturan Kelestarian Hutan dan Rencana Teknik Tahunan di Wilayah Perum Perhutani.Namun demikian, khusus untuk metode perhitungan etat tidak ada perbedaan antara Peraturan Menteri Kehutanan No. 60 tahun 2011tersebut dengan Instruksi ‟74 (Perhutani, 2013).
Sejak dekade 1960-an hutan jati di Jawa mengalami proses kemerosotan kualitas tegakan yang terus berlangsung sampai sekarang. Struktur tegakan yang didominasi tegakan muda (umur 1-20 tahun), tanah kosong, dan kelas hutan tidak produktif lainya yang masih luas, mengindikasikan kemerosotan kualitas tegakan tersebut. Tahun 2011
5 luas tegakan muda mencapai sekitar 435 ribu ha atau 79% dari total luas kelas hutan jati produktif seluas sekitar 550 ribu ha (Perhutani, 2011b).
Proses penurunan kualitas tegakan tersebut dapat dihubungkan dengan jumlah penduduk di Jawa yang terus meningkat, yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial yang berpengaruh pada pengelolaan hutan. Perubahan sosial tersebut antara lain ditunjukkan dengan jumlah penggarap lahan hutan (pesanggem) yang semakin banyak, adanya perambahan (pembibrikan), dan terjadinya pencurian kayu yang semakin meningkat (Simon, 2001). Peningkatan jumlah penduduk telah manambah tekanan penduduk terhadap lahan hutan dan merupakan penyebab utama terjadinya degradasi hutan (Widiaryanto,2012).
Selama ini, berbagai upaya untuk mengendalikan kerusakan hutan telah dilakukan oleh Perum Perhutani dengan berbagai program tetapi belum mencapai hasil sesuai yang diharapkan (Setiahadi,2012). Penyebab kerusakan hutan seperti pencurian, penggembalaan, pembibrikan, dan lain-lain terus berlangsung walaupun sudah ada berbagai upaya dari pengelola baik dengan pendekatan sosial maupun kerjasama dengan aparat keamanan. Hal ini sebenarnya menunjukkan adanya “ketidakmungkinan” menghilangkan faktor kerusakan hutan secara keseluruhan . Artinya bahwa faktor kerusakan hutan harus dipertimbangkan dalam setiap pengambilan keputusan termasuk pengaturan kelestarian hasil hutan.
Mengintegrasikan risiko kerusakan hutan akibat faktor manusia ke dalam rencana pengelolaan hutan jangka panjang relatif belum berkembang di bidang kehutanan. Pertimbangan risiko dalam rancangan pengelolaan hutan jangka panjang umumnya dilakukan terhadap risiko bencana alam seperti kebakaran (Carmel dkk.2009), akibat
6 angin (Hanewinkel, 2004), atau akibat bencana alam lain (Knoke dan Wurm, 2006; Hanewinkel, dkk. 2011). Dalam perencanaan pengelolaan hutan, pertimbangan risiko yang sering digunakan berupa pemberian allowance dan mengurangi volume yang akan dipanen berdasarkan risiko yang diperkirakan (Leech, 2002).
Dalam pengeloaan hutan tanaman jati di Perum Perhutani, Tiryana dkk. (2011) memperkenalkan pendekatan analisis kelangsungan hidup (survival analysis) untuk memprediksi persentase tegakan yang selamat sejak dilakukan penanaman sampai mencapai umur siap tebang. Pendekatan Tiryana dkk. (2011) tersebut perlu dikaji lebih lanjut terutama penggunaannya dalam perhitungan etat tebangan.
Hutan normal yang selama ini menjadi acuan dalam perhitungan etat adalah hutan normal ideal yang belum mempertimbangkan kerusakan hutan. Hutan normal yang digambarkan dengan luas hutan yang sama (misal A ha) tiap umur atau kelas umurnya diharapkan akan memberikan hasil akhir sebesar A ha tersebut. Dengan mempertimbangkan kerusakan hutan, apabila diharapkan hasil akhir sebesar A ha, maka yang harus ditanam adalah A‟ dengan A‟>A. Dengan demikian perlu dikaji bagaimana merumuskan normalitas tegakan yang mempertimbangkan kerusakan hutan.
1.2 Rumusan Masalah Penelitian
Salah satu prinsip utama yang menjadi dasar pengelolaan sumber daya hutan adalah bahwa usaha pengambilan manfaat hutan harus dilaksanakan secara lestari (sustainable). Manfaat (yield) yang dihasilkan oleh sumbernya bisa diperoleh secara lestari (sustained yield) apabila sumber (resource) penghasil manfaat yang bersangkutan
7 juga lestari. Manfaat yang bisa dihasilkan sumber tersebut dapat berupa barang dan jasa. Dalam sektor kehutanan, sumber manfaat adalah tegakan hutan (Warsito, 2010).
Indikator kelestarian tegakan hutan yang paling mungkin dipantau adalah stock tegakan hutan (Warsito, 2010). Selama periode tertentu, stock volume tegakan mengalami perubahan baik penambahan maupun pengurangan. Penambahan bisa terjadi karena tambah tumbuh dari tegakan yang ada atau adanya pendatang baru yang menjadi komponen tegakan tersebut. Pengurangan volume stock tegakan dapat terjadi karena adanya penebangan yang legal, penebangan ilegal, atau mati karena peristiwa alam seperti angin, api, penyakit, dan lain-lain. Apabila volume stock tegakan pada awal periode pengukuran sebesar Vst0 dan pada akhir periode pengukuran sebesar Vst1, maka tegakan akan lestari apabila selisih antara Vst1 dengan Vst0 setiap saat adalah nol atau positif.
Pengurangan volume stock tegakan hutan yang mungkin dikendalikan adalah penebangan yang legal. Agar penebangan yang legal tidak menyebabkan stock tegakan menurun, perencanaan penebangan yang legal tersebut harus memperhitungkan adanya penebangan ilegal dan yang mati karena peristiwa alam. Dalam pengelolaan sumber daya hutan, perencanaan penebangan yang legal diatur melalui sistem yang dikenal dengan pengaturan kelestarian hasil hutan. Pengaturan kelestarian hasil hutan dilakukan melalui kegiatan inventarisasi hutan, perhitungan etat tebangan, dan penyusunan rencana pemanenan.
Metode pengaturan kelestarian hasil hutan tanaman jati di Perum Perhutani tertuang dalam Instruksi ‟74 yang telah diganti dengan Peraturan Menteri Kehutanan No P.60/Menhut-II/2011. Berdasarkan peraturan tersebut, inventarisasi hutan dilaksanakan
8 dengan menggunakan metode uniform systematic distribution sampling dengan intensitas sampling dan jarak antar petak ukur tertentu. Dengan metode tersebut diharapkan dapat menghasilkan kecermatan sampling antara 10-15%. Angka ketelitian sampling tersebut belum didasarkan pada hasil penelitian. Kerusakan hutan yang terjadi pada suatu unit penaksiran (assessment unit) dalam inventarisasi hutan dapat menyebabkan keragaman tegakan hutan yang semakin tinggi. Hal ini dapat berpengaruh terhadap kecermatan sampling yang dihasilkan dalam inventarisasi hutan.
Berdasarkan Instruksi ‟74, perhitungan etat sebagai dasar perencanaan penebangan yang legal belum memperhitungkan adanya penebangan yang ilegal maupun yang mati karena peristiwa alam. Dalam kenyataannya, peluang kerusakan tegakan hutan akibat penebangan yang ilegal maupun yang mati karena peristiwa alam selalu ada.
Berdasarkan uraian tersebut di muka, permasalahan penelitian dirumuskan dengan pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Apakah metode pengaturan kelestarian hutan yang digunakan oleh Perum Perhutani yang belum memperhitungkan kerusakan hutan berpengaruh terhadap kelestarian stock tegakan hutan? Pertanyaan lebih detail mengenai metode pengaturan kelestarian hutan tersebut adalah :
a. Apakah kerusakan hutan yang terjadi berpengaruh terhadap kecermatan sampling dalam inventarisasi hutan tanaman jati di Perum Perhutani? b. Apakah metode perhitungan etat yang saat ini digunakan berpengaruh
9 c. Apakah penyusunan rencana pemanenan yang ada saat ini menjamin
terwujudnya kelestarian stock tegakan hutan?
2. Bagaimana mengintegrasikan peluang terjadinya kerusakan hutan dalam metode pengaturan kelestarian hutan yang diharapkan dapat menjamin kelestarian stock tegakan hutan?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah sebagaimana diuraikan di muka, tujuan penelitian ini secara garis besar dirumuskan sebagai berikut :
a. Mengetahui pengaruh adanya kerusakan hutan terhadap kecermatan sampling dalam pengambilan data untuk perhitungan stock tegakan dan etat tebangan hutan tanaman jati Perum Perhutani.
b. Mengetahui pengaruh penerapan metode pengaturan kelestarian hutan tanaman jati yang tidak mempertimbangkan peluang adanya kerusakan hutan terhadap kelestarian stock tegakan hutan di Perum Perhutani.
c. Merumuskan alternatif sistem pengaturan kelestarian hutan yang mempertimbangkan peluang adanya kerusakan hutan.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif perbaikan metode pengaturan kelestarian hutan yang saat ini digunakan oleh Perum Perhutani.
10 2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan pendekatan penetapan target-target pengelolaan terutama penanaman dan pemanenan sesuai kondisi masing-masing lokasi (KPH) di Perum Perhutani
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi pengembangan ilmu kehutanan khususnya bidang pengaturan kelestarian hutan.