• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Tesis ini membahas tentang proses reformasi birokrasi pada Kantor Pelayanan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Tesis ini membahas tentang proses reformasi birokrasi pada Kantor Pelayanan"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1   BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Tesis ini membahas tentang proses reformasi birokrasi pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Yogyakarta. Reformasi birokrasi merupakan agenda penting dalam meningkatkan kinerja birokrasi pemerintah. Berbagai macam patologi birokrasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik seperti pelayanan berbelit-belit, lambat, serta banyak pungutan liar telah menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi pemerintah. Perubahan secara mendasar pada kelembagaan, ketatalaksanaan dan sumber daya manusia penting dilakukan untuk memperbaiki kinerja birokrasi pemerintah.

Kementerian Keuangan merupakan salah satu penggerak reformasi birokrasi di Indonesia. Pada tahun 2007 melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK.01/2007, Menteri Keuangan mencanangkan reformasi birokrasi sebagai program prioritas di lingkungan Kementerian Keuangan. Terdapat tiga pilar utama yang menopang reformasi birokrasi di Kementerian keuangan yaitu mencakup penataan organisasi, perbaikan proses bisnis, dan peningkatan manajemen sumber daya manusia (SDM). Penataan organisasi meliputi modernisasi dan pemisahan, penggabungan, serta penajaman fungsi. Perbaikan proses bisnis meliputi analisa dan evaluasi jabatan, analisa beban kerja, dan penyusunan standard operating procedure (SOP). Sementara peningkatan manajemen SDM meliputi penyelenggaraan pendidikan dan latihan berbasis kompetensi, pembangunan assessment center, penyusunan pola mutasi, peningkatan disiplin dan pengintegrasian Sistem Informasi Manajemen Pegawai (SIMPEG).

(2)

Adapun tujuan reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan adalah untuk mewujudkan tata kelola keuangan negara yang professional, amanah, dan tepat arah (good governance) serta membangun kepercayaan publik melalui peningkatan pelayanan publik.

Reformasi birokrasi Kementerian Keuangan secara nyata diwujudkan dengan pembentukan kantor pelayanan modern di kantor pelayanan yang dimiliki Kementerian Keuangan. Pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan, kantor pelayanan modern ini diterapkan di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara. Kantor Pelayanan Modern ini lebih dikenal dengan Kantor pelayanan Perbendaharaa Negara Percontohan.

Konsep kantor pelayanan modern atau percontohan adalah menyelenggarakan pelayanan yang prima kepada pemangku kepentingan yaitu pelayanan yang cepat, tepat dan tidak dipungut biaya. Choiroel (2010) 1 mengatakan bahwa KPPN Percontohan menjadi alat unggulan untuk

membangun image birokrasi Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Image KPPN yang lambat, red tape, birokratis, dan rentan pungli, diputarbalikkan dengan model KPPN Percontohan menjadi cepat, transparan, profesional, dan bersih.

Terobosan yang paling diunggulkan dalam pelayanan ini adalah penerbitan surat perintah pencairan dana belanja non pegawai langsung (SP2D LS) yang semula diselesaikan dalam waktu 8 jam menjadi hanya 1 jam. Untuk mencapai tujuan tersebut dalam pelayanannya KPPN menerapkan standar operasional prosedur – SOP, didukung oleh pegawai yang telah lulus seleksi hard competency dan soft competency serta didukung sarana prasarana dan struktur organisasi yang lebih ramping.

Standar pelayanan KPPN Percontohan di uji coba pada 18 KPPN yang tersebar di Indonesia pada bulan oktober 2007 dan secara bertahap diterapkan di beberapa KPPN lainnya.                                                                                                                          

1  Choiroel,  Didyk.  Membangun Image Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara dengan Konsep "Behind a Powerful Corporate

(3)

3  

Pada bulan Oktober 2012 seluruh KPPN ( sebanyak 178 ) yang tersebar di Indonesia sudah menerapkan standar pelayanan KPPN percontohan.

Reformasi birokrasi yang dilakukan di KPPN secara bertahap telah membawa perbaikan pada kinerja pelayanan publiknya. Berdasarkan hasil survey integritas yang diseleggarakan KPK tahun 2008 yaitu setahun sejak diterapkan reformasi birokrasi di KPPN percontohan, kinerja pelayanan KPPN masih buruk. Dari 105 jumlah unit layanan yang dilakukan survey, KPPN menduduki peringkat 104. Hal ini berarti tingkat integritas pegawai di KPPN masih sangat buruk. Tahun berikutnya, peringkat KPPN semakin baik yaitu pada tahun 2009 dari 98 unit layanan yang disurvey, KPPN mendapat peringkat ke 54. Dan tahun 2011, tingkat integritas KPPN terbaik yaitu peringkat pertama dari 284 unit layanan yang disurvey. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel berikut :

Tabel 1

Peringkat KPPN dalam survey integritas yang dilakukan oleh KPK terhadap unit pelayanan pemerintah.

Tahun Peringkat Jumlah Unit Layanan

Ynag dilakukan survey

2008 104 105

2009 52 98

2010 Tidak termasuk unit yang

disurvey KPK

2011 1 284

Sumber: ftp://ftp1.perbendaharaan.go.id/peraturan /surat/2011/S-11461-PB-2011.pdf

Berdasarkan survey tingkat kepuasan pengguna layanan yang dilakukan IPB Bogor dalam lingkup Kementerian Keuangan, pelayanan Ditjen Perbendaharaan sejak tahun 2010 s.d

(4)

tahun 2013 memuaskan pengguna layanan yaitu skor diatas 4 dari skala 5. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini :

Gambar 1 Skor tingkat kepuasan responden pengguna jasa terhadap kinerja Ditjen Perbendaharaan

Sumber: www.kementeriankeuangan.go.id/Laporan Survey Opini Stakeholder 2013

Berdasarkan gambar tersebut dapat juga dilihat bahwa kepuasan pengguna layanan cenderung meningkat sejak tahun 2011 hingga 2013.

Pada lingkup internal Ditjen Perbendaharaan capaian kinerja setiap KPPN berbeda-beda. Dari 178 KPPN di seluruh Indonesia, KPPN Yogyakarta adalah salah satu yang memiliki kinerja dan berprestasi baik. Beberapa prestasi yang telah dicapai oleh KPPN Yogyakarta antara lain sebagai berikut :

1. Memperoleh peringkat pertama dalam rangka penilaian kinerja pelayanan publik KPPN Percontohan pada Tingkat Ditjen Perbendaharaan tahun 2010

2. Memperoleh peringkat empat dalam rangka Penilaian Kinerja Pelayanan Publik Kantor Percontohan di Tingkat Kementerian Keuangan RI tahun 2010.

3. Memperoleh peringkat pertama KPPN Tipe A1 Provinsi dalam rangka penilaian kinerja pelayanan publik pada Tingkat Ditjen Perbendaharaan tahun 2010

(5)

5  

4. Memperoleh peringkat kedua dalam rangka Penilaian Kinerja Pelayanan Publik Kantor Percontohan di Tingkat Kementerian Keuangan RI tahun 2014.

Dalam penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tingkat Ditjen Perbedaharaan, KPPN Yogjakarta juga memperoleh beberapa prestasi antara lain :

1. Tahun 2008, peringkat ke-5

2. Tahun 2009 dan 2010 , peringkat ke-2 3. Tahun 2011, peringkat ke-3

4. Tahun 2012, Peringkat ke-3 dan tahun 2013 peringkat ke- 56

Berbeda dengan KPPN Yogyakarta, KPPN Kota Baru yang merupakan wilayah kerja Kanwil Ditjen Perbendaharaan Kalimantan Selatan, prestasinya kurang menggembirakan. Berdasarkan penilaian LKPP tahun 20112 KPPN Kota Baru hanya menduduki peringkat ke-43 tahun 20123 menduduki peringkat ke-122 dan tahun 20134 menduduki peringkat ke-11.

KPPN Yogyakarta maupun KPPN Kota Baru sama-sama telah melaksanakan reformasi baik pada organisasi, proses bisnis maupun sumber daya manusia sebagaimana yang ditetapkan oleh Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Namun masing-masing memiliki prestasi yang berbeda.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang reformasi birokrasi di KPPN Yogyakarta sehingga dapat menjadi parameter pelaksanaan reformasi birokrasi di KPPN lainnya di lingkungan Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

                                                                                                                         

2  Kep-­‐212/PB/2012  tentang  Penetapan  Peringkat  Penilaian  LKPP  Tingkat  Kuasa  BUN  KPPN  dan  Kanwil  Ditjen   Perbendaharaan  tahun  2011  

3  Kep-­‐191/PB/2013  tentang  Penetapan  Peringkat  Penilaian  LKPP  Tingkat  Kuasa  BUN  KPPN  dan  Kanwil  Ditjen   Perbendaharaan  tahun  2012  

4  Kep-­‐248/PB/2014  tentang  Penetapan  Peringkat  Penilaian  LKPP  Tingkat  Kuasa  BUN  KPPN  dan  Kanwil  Ditjen   Perbendaharaan  tahun  2013  

(6)

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka perumusan masalahnya adalah : “ bagaimana proses reformasi birokrasi di KPPN Yogyakarta dilihat dari tiga aspek yaitu penataan kelembagaan, penyempurnaan proses bisnis, dan manajemen sumber daya manusia ?”.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan permasalahan tersebut di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses reformasi birokrasi di KPPN Yogyakarta yang dilihat dari tiga aspek yaitu penataan kelembagaan, penyempurnaan proses bisnis, dan manajemen sumber daya menusia.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

1. Manfaat Akademis

Sebagai bahan masukan untuk pengembangan Ilmu Adminsitrasi Publik terutama berkaitan dengan kajian terhadap reformasi birokrasi

2. Manfaat Praktis

Sebagai salah satu sumber informasi bagi masyarakat tentang reformasi birokrasi yang telah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan khususnya Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara

(7)

7   E. Sistematika Penulisan

Tesis ini memiliki sistematika penyajian sebagai berikut:

Bab I : Pendahuluan yang memuat latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II : Konsep reformasi birokrasi di KPPN Percontohan yang memuat konsep-konsep teori yang berkaitan dengan judul penelitian yaitu reformasi birokrasi, reformasi birokrasi di KPPN Percontohan, konsep kinerja

Bab III : Metode penelitian yang memuat beberapa pembahasan yaitu jenis penelitian, lokasi penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data

Bab IV : Deskripsi lokasi penelitian yang memuat gambaran umum lokasi Penelitian KPPN Yogyakarta

Bab V : Penataan Kelembagaan yang memuat beberapa pembahasan yaitu perampingan organisasi, model pelayanan one stop service

Bab VI : Penyempurnaan proses bisnis yang memuat pembahasan tentang mekanisme penerbitan SP2D sebelum reformasi birokrasi, penerapan sop, dan optimalisasi penggunaan informasi dan teknologi.

Bab VII : Peningkatan Manajemen Sumber Daya Manusia yang memuat tentang rekrutmen pegawai, pengembangan pegawai dan penilaian kinerja

Gambar

Gambar 1 Skor tingkat kepuasan responden   pengguna jasa terhadap kinerja Ditjen  Perbendaharaan

Referensi

Dokumen terkait

Mengacu pada uraian yang telah dikemukakan, jelas bahwa dari ketiga faktor tersebut, terlihat bahwa kurang terlaksanaya pelaksanaan hak mengajukan Ranperda oleh

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN BARANG TOKO CANTIK KOTA TIDORE KEPULAUAN MENGGUNAKAN BAHASA PEMROGRAMAN HTML :

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkat dan rahmatnya sehingga penulis mampu menyelesaikan Skripsi yang berjudul : “Evaluasi

Berat jenis maksimum campuran (Gmm) diukur dengan AASHTO T.209-90, maka berat jenis efektif campuran (Gse), kecuali rongga udara dalam partikel agregat yang menyerap

Yang pertama akan disajikan adalah gambaran deskriptif tentang ketiga konstruk yang akan dianalisis dalam model prestasi belajar, yaitu self efficacy, attitude, dan

Bawaslu juga akan melakukan adaptasi terhadap perkembangan yang ada dengan cara melakukan perubahan (revisi) terhadap muatan Renstra Bawaslu Daerah Istimewa

Secara umum pemberian abu sekam 187,5 g menghasilkan panjang malai rata-rata yang cukup baik, sedangkan untuk umur pindah memperlihat- kan bahwa umur pindah 10 hari

Berdasarkan hasil pengujian pada tabel di atas, diperoleh nilai t hitung > t tabel atau (6,356 > 2,006), dengan demikian hipotesis kedua yang diajukan bahwa