• Tidak ada hasil yang ditemukan

Status Keberlanjutan Pengelolaan Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Status Keberlanjutan Pengelolaan Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika (2018). Vol 2 (2), 22-29

STATUS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN PELABUHAN PERIKANAN

SAMUDERA LAMPULO

SUSTAINABILITY

ASSESSMENT

OF

LAMPULO

OCEANIC

FISH

ING

PORT

Andriani1, Indra M.P1 and Edwarsyah2

1Pengelolaan Sumber Daya Pesisir Program Pascasarjana Universitas Syiahkuala Banda Aceh 2 Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Teuku Umar Meulaboh

email: [email protected]

Abstrak: Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo sebagai salah satu Pelabuhan Perikanan terbesar di Provinsi Aceh diharapkan dapat memberikan dukungan terutama di bidang perniagaan perikanan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui status keberlanjutan pengelolaan Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo terutama pada dimensi ekologi, sosial budaya dan teknologi. Pendekatan rapfish digunakan untuk menganalisis status keberlanjutannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi ekologi merupakan dimensi yang memiliki nilai indeks keberlanjutan yang paling rendah yai tu sebesar 46,32 dengan status kurang berkelanjutan. Persepsi masyarakat mengenai kelimpahan ikan menjadi atribut yang paling mempengaruhi dimensi ekologi.

Kata Kunci : Pelabuhan perikanan, Keberlanjutan, Lampulo

Abstract: Lampulo Oceanic Fishing Port (Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo) as one of the largest Fishing Port in Aceh Province, expected to support fisheries trade. The purpose of this study is to determine the sustainability status of Lampulo Ocean Fisheries Port management, especially in the dimensions of ecology, socio-culture and technology. The rapfish approach is used to analyze its sustainability status. The results showed that the ecological dimension is the dimension that has the lowest sustainability index value of 46.32 with a less sustainable status. Community perceptions of fish abundance are the attributes that most influence the ecological dimension.

Keywords: Fishing Port, Sustainability, Lampulo

I. PENDAHULUAN

Provinsi Aceh memiliki panjang garis pantai 1.660 km dengan luas wilayah perairan laut 295,370 km² yang terdiri dari laut wilayah (perairan teritorial dan perairan kepulauan) seluas 56,563 km² dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) seluas 238,807 km². Kota Banda Aceh sebagai ibukota yang terletak di ujung barat Indonesia, secara geografis terletak antara 05 16’ 15” – 95 22’ 35” Bujur Timur dengan tinggi rata-rata 0,80 meter di atas permukaan laut. Pelabuhan perikanan merupakan sebuah kawasan yang terdiri dari daratan dan perairan sekitarnya dengan batas-batas tertentu yang digunakan sebagai tempat kegiatan pemerintahan serta kegiatan perniagaan di bidang perikanan yang menjadi tempat berlabuh dan bersandarnya kapal perikanan, dan tempat bongkar-muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas kegiatan penunjang pelabuhan perikanan dan keselamatan pelayaran (AlMuntahar et al, 2013).

Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo sebagai salah satu pelabuhan perikanan terbesar di Provinsi Aceh terletak di Kota Banda Aceh (Rahmah, et.al, 2018). Pelabuhan perikanan

samudera lampulo melayani nelayan aceh, melakukan bongkar muat ikan dan terjadi transaksi jual beli di pelabuhan setiap hari. Pelabuhan perikanan Samudera Lampulo dewasa ini telah berjalan dengan cukup baik hal ini terbukti dengan mengurangi pengangguran di sekitar wilayah Lampulo, ditambah penghasilan pelaku perikanan yang mengalami peningkatan dibandingkan beberapa tahun yang lalu.

Permasalahan yang terjadi saat ini di pelabuhan perikanan samudera Lampulo berupa belum maksimalnya sarana dan prasarana dalam mendukung kegiatan berlabuh dan bongkar muat hasil perikanan serta pendistribusian ikan. Suatu pelabuhan dapat dikatakan berhasil dalam pengelolaannya jika dampak yang ditimbulkan dari pelabuhan itu sendiri berpengaruh bagi semua aspek yang ada di sekitar, diantaranya adalah aspek ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi dan kelembagaan. Mengingat pentingnya fungsi Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo bagi masyarakat dan daerah dalam rangka keberlanjutan pengelolaan pelabuhan perikanan tangkap, maka perlu adanya penelitian mengenai keberlanjutan pengelolaan Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo khususnya untuk mengetahui

(2)

Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika Vol. 2 (2): 22 - 29

keberlanjutan pada dimensi ekologi, sosial budaya, dan teknologi yang ingin dianalisis.

II. METODOLOGI PENELITIAN

Lokasi Penelitian dilakukan di Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo Banda Aceh. Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan dimulai dari bulan April hingga Juni 2016.

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo Metode pengambilan data yang digunakan

dalam penelitian ini adalah metode survei untuk pengambilan data primer dan data sekunder yang diperoleh dari penelusuran literature. Pemilihan responden dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling (sampel terpilih). Purposive Sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, kriteria telah dipilih berdasarkan kebutuhan dari penelitian itu sendiri. Responden dalam penelitian terdiri para nelayan, masyarakat, tokoh masyarakat, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Aceh. Usia Responden berkisar diantara 25 – 45 tahun terdiri laki – laki dan wanita.

Pengambilan data yang berhubungan dengan dimensi ekologi difokuskan ke permasalahan berupa jenis ikan hasil tangkapan, daerah penangkapan, hasil tangkapan, luas pelabuhan perikanan terhadap aktivitas perikanan tangkap, kebersihan pelabuhan perikanan, persepsi masyarakat terhadap ukuran ikan, persepsi masyarakat terhadap kelimpahan ikan dan persepsi masyarakat terhadap kesehatan terumbu karang.

Kesadaran masyarakat dalam menjaga Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo, keaktifan masyarakat dalam organisasi, ketersediaan koperasi, budaya menabung, ketergantungan terhadap Pelabuhan Perikanan

Samudera Lampulo, tingkat pendidikan, konflik antar nelayan dan SDM yang tersedia yang menjadi fokus permasalahan pada pengambilan data dimensi sosial budaya.

Pengambilan data untuk dimensi teknologi difokuskan pada kualitas ikan hasil tangkapan, peningkatan investor, ketersediaan pabrik pengolaan ikan hasil tangkapan, ketersediaan akses data perikanan, aktifitas pendaratan hasil perikanan, ketersediaan alat tangkap, sarana dan prasarana.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara penyebaran kuisioner dan wawancara berbentuk data kuantitatif, kemudian data tersebut ditabulasikan berupa data skoring. Analisis keberlanjutan pengelolaan pelabuhan perikanan Samudera Lampulo dilakukan dengan pendekatan Rapfish (Rapid Appraisal for Fisheries). Dalam implementasinya, Rapfish menggunakan teknik Multi Dimensional Scaling (MDS). Nilai indeks pada setiap dimensi tersebut mencerminkan status keberlanjutan pengelolaan pelabuhan perikanan samudera Lampulo, dimana nilai indeks keberlanjutan status pengelolaan pelabuhan perikanan berkelanjutan di PPS Lampulo akan mempunyai selang 0 - 100%. Berikut empat kategori status keberlanjutan berdasarkan Susilo (2003) sebagaimana

(3)

Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika Vol. 2 (2): 22 - 29

Tabel 1. Kategori Keberlanjutan Pengelolaan Ikan Nilai Indeks Kategori

0 – 25 Buruk (bad) tidak berkelanjutan 26 – 50 Kurang berkelanjutan

51 – 75 Cukup berkelanjutan

76 – 100 Baik (good) sangat berkelanjutan

III. HASIL

Analisis RAPFISH terhadap delapan atribut dimensi ekologi pada Gambar 2 memiliki indeks keberlanjutan sebesar 46,32 dengan status ”kurang berkelanjutan”, sedangkan dimensi sosial budaya memiliki nilai 55,37 yang memenuhi skor untuk dikategorikan sebagai “cukup berkebelanjutan”. Kemudian, dilihat dari analisis

RAPFISH dimensi teknologi, nilai yangdiperoleh sbesar 51,17 yang juga dikategorikan kedalam “cukup berkebelanjutan”. Analisis RAPFISH diperkuat oleh analisis Monte Carlo sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar (3a), (3b) dan (3c).

Analisis leverage pada Gambar 4., menggambarkan untuk dimensi ekologi, menunjukkan atribut yang paling sensitif adalah persepsi masyarakat terhadap kelimpahan ikan. Sementara itu, untuk dimensi sosial budaya, atribut yang memiliki nilai tertinggi adalah ketergantungan terhadap pelabuhan perikanan samudra, sedangkan untuk dimensi teknologi, atribut uang menjadi komponen utama adalah ketersediaan akses terhadap data perikanan.

Gambar 2. (2a) Grafik RAPFISH dimensi ekologi; (2b) Grafik RAPFISH dimensi Sosial Budaya; (2c) Grafik RAPFISH dimensi teknologi dan; (2d) RAPFISH multidimensi

46.32 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 O th er D is tin gi sh in g Fe atur es Fisheries Sustainability RAPFISH Dimensi Ekologi

Real Fisheries References Anchors a. 55.37 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 O th er D is tin g is h in g F eat u re s Fisheries Sustainability RAPFISH Dimensi Sosial Budaya

Real Fisheries References Anchors b. 51.17 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 O the r D is ting is hi ng Fe atur es Fisheries Sustainability RAPFISH Dimensi Teknologi

Real Fisheries References Anchors c. 63.27 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 50 100 150 O the r D is ting is hi ng Fe atur es Fisheries Sustainability Real Fisheries References Anchors RAPFISH Multidimesi d.

(4)

Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika Vol. 2 (2): 22 - 29

Analisis leverage pada Gambar 4. dibawah, menggambarkan untuk dimensi ekologi, menunjukkan

atribut yang paling sensitif adalah persepsi

masyarakat terhadap kelimpahan ikan. Sementara itu, untuk dimensi sosial budaya, atribut yang memiliki nilai tertinggi adalah ketergantungan terhadap pelabuhan perikanan samudra, sedangkan untuk dimensi teknologi, atribut uang menjadi komponen utama adalah ketersediaan akses terhadap data perikanan.

Gambar 5 menunjukkan nilai indeks keberlanjutan hasil analisis RAPFISH, dari masing-masing dimensi baik dimensi ekologi, sosial budaya dan dimensi teknologi dan selanjutnya diposisikan dalam bentuk diagram layang dengan maksud agar lebih mudah memahami gambaran status keberlanjutan Pengelolaan Pelabuhan

Perikanan Samudera Lampulo.

Gambar 3. (3a) Hasil analisis monte carlo untuk dimensi ekologi; (3b) Hasil analisis Monte Carlo untuk dimensi sosial budaya; (3c) Hasil analisis Monte Carlo untuk dimensi teknologi dan (3d) Hasil analisis Monte Carlo multi dimensi.

-60 -40 -20 0 20 40 60 0 50 100 150 Ot her D is tingi shi ng Fea ture s Fisheries Sustainability Analisis Monte Carlo

a. -60 -40 -20 0 20 40 60 0 50 100 150 Ot her D is tingi shi ng Fea ture s Fisheries Sustainability Analisis Monte Carlo

b. -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Ot her D is tingi shi ng Fea ture s Fisheries Sustainability Analisis Monte Carlo

c. -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Ot her D is tingi shi ng Fea ture s Fisheries Sustainability Analisis Monte Carlo

(5)

Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika Vol. 2 (2): 22 - 29

Gambar 5. Indeks nilai keberlanjutan untukmasing-masing dimensi

Gambar 4. (4a) Analisis leverage untuk dimensi ekologi; (4b) Analisis Leverage untuk dimensi sosial budaya; (4c) Analisis leverage untuk dimensi teknologi; (4d) Analisis leverage multidimensional

1.39 2.38 1.13 1.36 1.57 1.10 3.54 0.06 0 1 2 3 4

Jenis ikan hasil tangkapan Daerah penangkapan Hasil tangkapan Luasan PPS terhadap aktifitas

Perikanan Kebersihan PPS Persepsi masyarakat terhadap

ukuran ikan persepsi masyarakat terhadap

kelimpahan ikan Persepsi masyarakat terhadap

kesehatan terumbu karang

Analisis Leverage Dimensi Ekologi

A tt rib ut e a. 0.33 0.28 0.72 3.31 0.99 0.99 0.63 0.15 0 2 4 SDM Konflik antar nelayan Tingkat pendidikan masyarakat ketergantungan terhadap pps budaya menabung ketersediaan koperasi keaktifan dalam organisasi kesadaran masyarakat dalam menjaga

PPS A tt rib u te

Analisis Leverage Dimensi Sosial Budaya b. 0.64 3.67 0.37 7.62 0.33 0.56 0.77 0 2 4 6 8 Sarana dan prasarana

Ketersediaan alat tangkap yang memadai Aktifitas pendaratan hasil

perikanan Ketersediaan akses data

perikanan Ketersediaan pabrik pengolahan

ikan Peningkatan investor Kualitas ikan A tt rib ut e

Analaisis Leverage Dimensi Teknologi

c. 1.65 3.73 3.11 5.08 3.53 5.26 6.14 4.15 1.83 2.64 0 5 10

Jenis ikan hasil tangkapan Daerah penangkapan Kebersihan PPS persepsi masyarakat terhadap

kelimpahan ikan Sarana dan prasarana Ketersediaan alat tangkap yang

memadai Ketersediaan akses data perikanan

Kualitas ikan Tingkat pendidikan masyarakat ketergantungan terhadap pps At tr ib u te d.

(6)

Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika Vol. 2 (2): 22 - 29

IV. PEMBAHASAN

Dimensi Ekologi

Nilai indeks yang dihasilkan pada dimensi ekologi menghasilkan status “ kurang berkelanjutan”. Persepsi masyarakat terhadap kelimpahan ikan menjadi atribut yang memiliki sensitivitas yang sangat tinggi. Persepsi tersebut perlu diubah dari pandangan para stakeholder di bidang perikanan. Hal ini dikarenakan jika masyarakat terus beranggapan bahwa jumlah ikan yang tersedia masih berlimpah di sekitaran perairan pelabuhan perikanan samudera Lampulo maka pemanfaatan akan terus dilakukan tanpa adanya pengontrolan atau pengelolaan. Jika hal tersebut terjadi secara terus menerus akan memberikan dampak buruk yaitu terjadinya over fishing, sebagai akibat pemanfaatan yang berlebihan. Hal ini akan mempengaruhi kondisi ekologi perairan di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo. Erwina et. al (2015) menjelaskan bahwa persepsi nelayan mengenai sumber daya ikan yang terus mengalami penurunan akan sangat berpengaruh terhadap dimensi ekologi disekitarnya. Kondisi ini mengindikasikan jika pengelolaan yang sedang diterapkan di kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo perlu ditingkatkan proses pengelolaannya. Jika kondisinya tetap seperti saat ini maka dikhawatirkan kondisi ekologi di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo akan mengalami kerusakan yang lebih besar. Supriyanto (2013) menjelaskan bahwa pada pengelolaan suatu Pelabuhan perikanan tidak boleh hanya memperhatikan dimensi ekonomi dan sosial, tetapi dimensi ekologi juga merupakan dimensi penting yang harus diperhatikan dalam pengelolaan pelabuhan perikanan. Perpaduan ketiga dimensi aspek ekologi, ekonomi dan sosial merupakan suatu model pendekatan pengelolaan pelabuhan yang berkelanjtutan.

Dimensi Sosial Budaya

Status pengelolaan pelabuhan perikanan samudera lampulo pada dimensi sosial budaya berada pada kategori “cukup berkelanjutan” (nilai indeks berada diantara 51–75). Kesadaran masyarakat dalam menjaga Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo yang masih sangat rendah dan Ketergantungan Masyarakat terhadap Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo yang sangat tinggi menjadi atribut yang memiliki nilai yang sangat kontradiktif, dimana kedua kondisi ini sangat bertolak belakang, mengingat masyarakat masih belum menyadari bahwa keberadaan Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo menjadi sumber kehidupan bagi para masyarakat disekitarnya, sedangkan kesadaran masyarakat masih sangat

rendah dalam menjaga keberlangsungan pelabuhan, baik dari segi kebersihan maupun aspek lainnya.

Atribut ketergantungan masyarakat terhadap pelabuhan perikanan samudera Lampulo akan lebih meningkat dari kondisi saat ini, keberlanjutan dimensi sosial budaya akan semakin menurun hingga pada status yang tidak berkelanjutan. Hal ini disebabkan oleh peningkatan pemanfaatan kawasan pelabuhan dan perikanan yang semakin tinggi tanpa diimbangi oleh pengelolaan yang seimbang kedepannya, dimana akan berdampak buruk bagi pelabuhan dan sumberdaya pesisir dan laut. Tingginya ketergantungan masyarakat terhadap pelabuhan diharapkan dapat meningkatnya jika diiringi dengan kesadaran masyarakat untuk lebih menjaga dan memelihara pelabuhan dan kondisi pesisir pelabuhan dengan lebih baik. Dalengkade et. al (2013) juga menjelaskan kurangnya pengetahuan masyarakat didalam bidang perikanan menjadi permasalahan dalam dimensi sosial,. Oleh sebab itu diperlukan untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat umum dan pelaku perikanan di kawasan pelabuhan perikanan samudera Lampulo khususnya untuk lebih menjaga dan mengelola pelabuhan dengan baik dari sekarang demi keberlanjutan pelabuhan perikanan tangkap kedepan.

Dimensi Teknologi

Ada dua attribute yang memiliki nilai paling tinggi pada dimensi teknologi dengan nilai 7,62 dan 3,67 yaitu atribut ketersedian akses data perikanan dan alat tangkap yang memadai. Ketersediaan akses data perikanan yang cepat, mudah dan terupdate dapat memberikan informasi secara tepat dan akurat kepada seluruh masyarakat, pemerintah seta para stageholder mengenai harga ikan, kelimpahan ikan, jumlah ikan yang di daratkan, waktu pendaratan dan jumlah ikan yang telah di produksi selama ini serta menghasilkan data grafik perikanan tangkap pada periode waktu tertentu. Jika data perikanan tersebut tersedia dengan baik maka kedepannya juga dapat diprediksi stok perikanan di kawasan perairan pelabuhan perikanan samudera Lampulo dan sekitarnya untuk beberapa tahun kedepan. Dari data tersebut masyarakat dapat mengetahui kapan perikanan di perairan wilayah pelabuhan Samudera Lampulo akan mengalami overfishing jika pemanfaatannya dilakukan tanpa menjaga dan mengontrol penangkapan dewasa ini. Hal ini pasti akan memberikan dampak buruk bagi para pelaku perikanan jika terjadi overfishing, dengan adanya data tersebut dapat menjadi dasar untuk pengambilan kebijakan dalam pengelolaan

(7)

Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika Vol. 2 (2): 22 - 29

Status Keberlanjutan Pengelolaan Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo

Status keberlajuntan pengelolaan Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo berada pada kategori “ cukup berkelanjutan “ hasil ini diperoleh dari analisis RAPFISH secara multidimensi yang diperkuat dengan analisis monte carlo. Berdasarkan hasil analisis leverage secara multidimensi seperti pada Gambar 12 terdapat 3 atribut yang memiliki nilai indeks terbesar yaitu ketersediaan akses data perikanan dengan nilai sebesar 6,12, ketersediaan alat tangkap yang memadai dengan nilai 5,26 serta persepsi masyarakat terhadap kelimpahan ikan dengan

nilai 5,08. Ketiga atribut diatas merupakan atribut yang paling sensitive terhadap keberlanjutan pengelolaan pelabuhan perikanan samudera Lampulo.

Status keberlanjutan pengelolaan pelabuhan perikanan lampulo baik secara keseluruhan berada pada kondisi yang baik, tetapi ada dimensi yang harus menjadi perhatian utama yaitu dimensi ekologi, dimana status keberlanjutan dimensi ini berada pada kategori yang mengkhawatirkan yaitu pada kategori “kurang berkelanjutan”. Adapun nilai indeks keberlanjutan multi dimensi dari pengelolaan pelabuhan perikanan samudera lampulo dapat dilihat pada Tabel 2

Tabel 2. Nilai indeks keberlanjutan multidimensi pengelolaan Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo

No Dimensi Indeks Keberlanjutan Status Keberlajutan

1 Dimensi Ekologi 46.32 Kurang Berkelanjutan

2 Dimensi Sosial Budaya 55,37 Cukup Berkelanjutan

3 Dimensi Teknologi 51.17 Cukup Berkelanjutan

4 Multi-dimensi 63,27 Cukup Berkelanjutan

Dimensi ekologi ini harus diperbaiki pengelolaannya dengan tujuan agar persepsi masyarakat tentang ketersediaan ikan yang melimpah harus diluruskan, dimana kondisi ekologi di sekitar peraiaran pelabuhan perikanan samudera lampulo harus dijaga dan dikelola secara baik dan benar untuk menjaga kelestarian sumber daya ikan, hal ini juga sangat berhubungan dengan atribut ketersediaan data akses perikanan dimana atribut ini bisa menjadi dasar pengambilan kebijakan terhadap pengelolaaan pelabuhan perikanan samudera lampulo

Gambaran keberlanjutan terhadap masing-masing dimensi ditunjukkan pada Diagram layang-layang pada Gambar 14 yang menjelaskan kondisi pengelolaan pelabuhan perikanan samudera lampulo. Pada Gambar tersebut memperlihatkan nilai indeks keberlanjutan yang berbeda – beda pada setiap dimensi. Pada konsep pembangunan berkelanjutan tidak diperlukan nilai indeks keberlanjutan yang sama dari setiap dimensi, akan tetapi dari diagram tersebut kita dapat menentukan prioritas dimensi mana yang membutuhkan perhatian lebih (Hast et al, 2014)

Gambar 14 tersebut menunjukakn bahwa dimensi ekologi memerlukan kontrol lebih besar dibandingkan dimensi lainnya guna mencapai pengelolaan pelabuahan perikananan samudera lampulo yang berkelanjutan. Diagram layang-layang tersebut juga menunjukkan bahwa pengelolaan pelabuhan perikanan samudera Lampulo belum optimal dikarenakan belum

tercapainya keseimbangan dari tiga dimensi yang dianalisa.

Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengatur kebijakan untuk menjalankan kebijakan yang sudah diambil sangatlah tidaklah mudah (Soong et al. 2015). Permasalahan inilah yang sering dihadapi dibanyak negara (Burke et al. 2011). Oleh sebab itu, diperlukan kerjasama dari berbagai pemangku kepentingan ataupun stakeholder untuk ikut berpartisipasi dalam melakukan pengawasan. Burke et al. (2011) menambahkan dukungan dari semua pemangku kepentingan diperlukan untuk upaya keberhasilan management. Menjalin komunikasi merupakan cara yang efektif untuk mengurangi risiko dan meningkatkan manajemen pengelolaan pelabuhan perikanan samudera lampulo.

KESIMPULAN

1. Status keberlanjutan pengelolaan pelabuhan perikanan Lampulo berada dalam kategori “Cukup berkelanjutan “ dengan nilai indeks keberlanjutan sebesar 64,32

2. Pengelolaan pelabuhan perikanan samudera Lampulo secara berkelanjutan dapat terwujud dengan memperhatikan faktor – faktor sebagai berikut yaitu berupa ketersediaan akses data perikanan, ketersediaan alat tangkap yang memadai dan persepsi masyarakat mengenai kelimpahan ikan.

3. Dimensi ekologi merupakan dimensi dengan nilai indeks berkelanjutan yang sangat rendah

(8)

Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika Vol. 2 (2): 22 - 29

V. REKOMENDASI

Diperlukan analisis terhadap beberapa dimensi lain seperti dimensi kelembagaan dan sosial ekonomi untuk sebagai bahan pertimbangan pada saat pengambilan kebijakan pengelolaan pelabuhan perikanan samudera Lampulo

DAFTAR PUSTAKA

Almutahar, AM, Sutjipto D.O, Sukandar. 2013.

Analisis Strategi Pengelolaan Pelabuhan Perikanan Pantai Sungai Rengas Kabupaten Kubu Raya-Kalimantan Barat. Jurnal pemanfaatan sumberdaya perikanan dan kelautan. Vol 1 (1). Hal. 1-10.

Burke L, Reytar K, Spalding M, Perry A. 2011. Reefs at Risk Revisited. Washington DC (AS): World Resources Institute

Dalengkade Y.D, Wantasen A.S, Luasunaung A. Penatakelolan Pelabuhan Perikanan Dagho, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Indonesia. Aquatic Science & Management, Vol. 1, No. 2, 188-192

Erwina Y, Kurnia R, Yonvitner . 2015. Status keberlanjutan Sumber Daya Perikanan di Peraiaran Bengkulu. J. Sosek KP Vol. 10 No. 1 .

Hasrat As, Haluan J, Budiastra K.I. 2014. Status Keberlanjutan Pengelolaan Perikanan Budidaya Di Pulau-Pulau Kecil Makassar Jurnal Manajemen Perikanan dan Kelautan Vol. 1 No. 1, artikel .

Rahmah. A, Rizayani M, Chaliluddin C, 2018. Pengaruh Kualitas Pelayanan Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo Terhadap Kelancaran Operasional Penangkapan Ikan. Depik, Jurnal Ilmu – Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan. Vol 7 (1). Hal 1-8

Soong K, Chavanich S, Zvuloni A, Rinkevichd B, Alinoe P. 2015. Conservation, Management and Restoration of Coral Reefs. Zoology. 118(2015):132-134.

Supriyanto 2013. Analisis Pengelolaan Pelabuhan Perikananan Berwawasan Lingkungan di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizham Zachman Jakarta. Jurnal Ilmu Lingkungan Vol (7).

Susilo, B.S. 2003. Keberlanjutan pembangunan pulau pulau kecil: studi kasus kelurahan Pulau Panggang dan Pulau Pari. Kepulauan Seribu. DKI Jakarta. Disertasi Sekolah Pascasarjana

Gambar

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo  Metode  pengambilan  data  yang  digunakan
Gambar 2. (2a) Grafik RAPFISH dimensi ekologi; (2b) Grafik RAPFISH dimensi Sosial Budaya; (2c) Grafik RAPFISH  dimensi teknologi dan; (2d) RAPFISH multidimensi
Gambar  5  menunjukkan  nilai  indeks  keberlanjutan hasil analisis RAPFISH, dari  masing-masing  dimensi  baik  dimensi  ekologi,  sosial  budaya  dan  dimensi  teknologi    dan  selanjutnya  diposisikan  dalam  bentuk  diagram  layang  dengan  maksud  ag
Gambar 5. Indeks nilai keberlanjutan untukmasing-masing dimensi
+2

Referensi

Dokumen terkait

Menurut teori Wortlington Robert B.S dan S.R Rodwel dalam Imam Aulia (2012: 18), faktor-faktor yang mempengaruhi kosumsi makanan jajanan adalah faktor internal dan faktor

a. Dalam menentukan kegiatan anak telah sesuai dengan indikator perkembangan anak usia dini. Penggunaan metode pembelajaran yang sudah sesuai dengan tingkat

Berdasarkan hasil penelitian nugget ikan lele dengan substitusi tepung terigu menggunakan tepung biji nangka, maka dapat disimpulkan :.. Substitusi tepung terigu menggunakan

1) Attention (Perhatian) BUMDes Berjo menyuguhkan keindahan alam , wahana dan fasilitas yang serta menawarkan keunikan yang membedakan dari wisata lain yaknni

Untuk membandingkan derajat kerusakan hati di daerah vena porta dan vena sentralis dari ketiga kelompok perlakuan, maka dilakukan perhitungan persentase hepatosit yang mengalami

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektifitas pemberian multivitamin terhadap gambaran darah merah berupa jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit pada

Pihak Terkait menerangkan bahwa pada saat penangkapan dilakukan Polres Manggarai Barat, Pihak Terkait selaku Anggota KPU Kabupaten Manggarai Barat tidak mengetahuinya;..

Numbered Heads Together. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari rabu tanggal 27 Maret 2013 dengan menyampaikan tiga indikator yaitu mengurutkan susunan lapisan matahari,