II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengetahuan Lokal
Pengetahuan berdasarkan definisi secara umum merupakan luaran dari pembuatan model tentang bagaimana memfungsikan alam semesta, dengan cara melogika bagaimana alam semesta berjalan kemudian menerapkan apa yang didapatkan demi memanipulasi lingkungan sekitarnya (Gadgil et al. 1993). Manusia secara bijaksana berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya sehingga menciptakan bentuk hubungan timbal balik yang menuju keseimbangan. Pemanfaatan alam untuk mencukupi kebutuhan memberikan alasan bagi manusia bagi penciptaan suatu aturan-aturan dalam penggunaannya demi terjaminnya kelangsungan hidup.
Pengembangan pengetahuan manusia secara tradisional merupakan hasil pengendapan pengalaman dan praktek selama beberapa generasi yang melahirkan kompleksitas dan kemampuan tinggi dalam mengenali sumberdaya alamnya (Berkes et al. 2000). Sebagai contoh pengenalan terhadap kualitas gaharu yang masih didasarkan pada pengetahuan masyarakat tradisional terhadap performa fisik gubal gaharu dan wangi yang dihasilkan setelah dibakar, karena ternyata pembedaan kualitas berdasarkan resin yang dikandung sulit untuk distandartkan
(Santoso et al. 2007). Sedangkan masyarakat Himalaya di Nepal memiliki
pengetahuan tradisional untuk mengenali tumbuhan obat, mulai dari distribusinya,
habitat yang disukai, ukuran populasi maupun keberadaannya di alam (Ghimire et
al. 2004). Keberadaan pengetahuan yang merupakan proses terus-menerus
tersebut mampu menciptakan suatu bentuk yang solid yang selalu berkembang. Hal tersebut menjadikan pengetahuan lokal dan tradisional tidak bersifat imun dan terisolasi karena terjadinya kontak antar manusia dan dipercepat lagi oleh adanya revolusi terhadap komunikasi dan transportasi (Adimiharja 2008).
Pada awalnya istilah-istilah tradisional dan lokal terhadap pengetahuan seringkali diperdebatkan. Pengetahuan disebut tradisional pada saat bersifat sederhana, liar dan statis (Warren 1995 dalam Berkes et al. 2000). Sedangkan disebut lokal pada saat merujuk pada penggunanya yang bukan masyarakat
setempat, tidak memiliki keterikatan turun temurun dengan lingkungan sekitarnya, namun kemudian memiliki kearifan, pengalaman dan praktek-praktek yang diadaptasi dari ekosistem yang ada di sekitarnya (Berkes dan Folke 1998 dalam
Balard dan Hunsinger 2006). Perkembangan baru mendorong terminologi tentang lokal dan tradisional tidak lagi diperdebatkan dan semakin berkembang dengan
munculnya hal baru yaitu Traditional Ecological Knowledge (TEK). TEK
semakin berkembang karena ternyata berisi pelajaran-pelajaran penting yang didapatkan manusia sepanjang sejarah peradabannya dalam mengelola
sumberdaya alam untuk mencukupi kebutuhan hidupnya (Berkes et al. 2000).
Pengetahuan tradisional manusia yang selalu berkembang untuk beradaptasi dengan lingkungannya seringkali dapat dibuktikan secara ilmiah dengan penelitian sains terkini. Persamaan yang bisa didapatkan dari TEK dengan sains modern adalah keduanya berusaha untuk memaparkan realitas dalam kehidupan yang dapat diterima oleh pemikiran manusia (Berkes et al. 1995). Sedangkan perbedaan TEK dengan dengan sains modern adalah :1) skala observasi yang terbatas pada suatu tempat, 2) lebih kepada trial and eror daripada eksperimen sistematik, 3) ketiadaan bangunan teori untuk menggeneralisasi pengetahuan.
Kemampuan manusia berkembang melalui pengetahuan tradisional dengan kearifan yang mampu memberikan kelangsungan sumberdaya alam dan ramah terhadap ekosistem pendukungnya. Walaupun bersifat spesific site namun akan memberikan pemahaman yang penting bagi pengelolaan sumber daya alam beserta upaya konservasinya. Untuk itulah pemahaman aktifitas manusia dan aturan-aturannya dalam konservasi merupakan dasar bagi konservasi yang efektif, dengan kata lain pemahaman terhadap faktor manusia merupakan bagian yang sangat penting dalam konservasi (Clauss et al.2010).
2.2. Komersialisasi Hasil Hutan Bukan Kayu
Ketertarikan terhadap pemanfaatan HHBK sebagai komoditas yang menjanjikan secara ekonomi dimulai pada sekitar akhir tahun 80-an atau awal tahun 90-an sebagai perkembangan dari perhatian masyarakat global pada isu-isu lingkungan terutama kehilangan luasan hutan yang besar dan upaya peningkatan taraf hidup masyarakat sekitar hutan dengan mengedepankan konsep pembangunan berkelanjutan (Belcher et al. 2005). Sekaligus merupakan upaya
mencurahkan perhatian yang lebih besar terhadap hutan sebagai sebuah ekosistem sekaligus pemberi kesejahteraan bagi masyarakat sekitar atau di dalam hutan (Byron dan Arnold 1997).
Upaya pengembangan HHBK merupakan wujud perubahan paradigma sektor kehutanan yang semula dalam kerangka pikir hutan sebagai suatu ekosistem yang merupakan interaksi antara flora fauna dan segala siklus alami yang terjadi di dalamnya atau faktor ekologis tanpa memasukkan unsur sosial atau pengaruh keberadaan manusia yang juga melingkupinya (Contreras 2001). Kemudian berkembang pada pemikiran bahwa keberadaan masyarakat sekitar kawasan konservasi tidak mungkin dilepaskan dari unit pengelolaan kawasan, karena interaksi mereka dengan lingkungan telah berkembang sejak sebelum ditetapkannya kawasan.
Sektor kehutanan kemudian bergerak menjadi sektor yang menghasilkan suatu produk yang lebih multifungsi, multiguna dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, juga memiliki keunggulan komparatif yang paling bersinggungan denngan kepentingan masyarakat sekitar hutan (Dephut 2009). Departemen Kehutanan RI melalui Peraturan Menteri Kehutanan No. 35/Menhut-II/2007 kemudian menetapkan jenis-jenis HHBK yang terdiri dari 9 kelompok HHBK dari 558 spesies tumbuhan dan satwa dan 5 jenis HHBK prioritas yaitu rotan, bambu, lebah, sutera dan gaharu (Dephut 2009). Pengelolaan pemanfaatan HHBK merupakan bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan konservasi dengan tujuan untuk meningkatkan partisipasi aktif dalam mengelola dan menjaga keutuhan kawasan. Sebagaimana dibuktikan dalam penelitian tentang perilaku melestarikan hutan lindung oleh petani tepi hutan pada 12 Desa di Propinsi Lampung oleh Budiono et al. (2006), hasil yang diperoleh adalah bahwa aspek sosial ekonomi merupakan hal yang sangat penting diperhatikan dalam pengelolaan hutan, karena ternyata peningkatan ekonomi petani akan meningkatkan kepeduliannya terhadap kelestarian hutan.
2.3. Pengenalan Jenis Lebah Penghasil Madu
Lebah penghasil madu yang sesungguhnya adalah dari genus Apis. Lebah ini memiliki perilaku sosial menyimpan bahan makanan berupa madu dalam jumlah banyak untuk melalui masa paceklik pakan, dan persediaan makanan
inilah yang dimanfaatkan manusia dari dulu hingga saat ini (Bradbear 2009). Hanya sedikit spesies yang dikenali sebagai lebah madu, meliputi 11 jenis yang berbeda dalam tipe persarangannya: 1) single combs, terdiri dari: A.andreniformis,
A.binghami, A.breviligula, A.dorsata, A.laboriosa A.florea, 2) multiple combs, terdiri dari: A.koschevnikovi, A.mellifera, A.nigrocincta, A.nuluensis, A.cerana. Jenis lebah dengan tipe persarangan multiple comb akan bersarang di tempat yang tertutup, sedangkan pada tipe persarangan single combs lebah bersarang ditempat-tempat yang terbuka. Tipe persarangan juga dapat menunjukkan kemudahannya untuk upaya budidaya, multiple combs akan lebih mudah dibudidayakan karena secara alami bersarang di tempat tertutup sebagaimana upaya budidaya yang dilakukan di kotak-kotak buatan (Bradbear 2009).
Lebah penghasil madu yang dimanfaatkan oleh masyarakat di lokasi penelitian adalah dari jenis A.dorsata, famili Apidae dan ordo Hymenoptera. Terdapat 3 subspesies dari A.dorsata yaitu: A.d.dorsata, A.d.binghami, dan
A.d.breviligula, dari ketiga sub spesias terdapat dua yang merupakan lebah asli Indonesia yakni A.d.dorsata,dan A.d.binghami (Hadisoesilo dan Kuntadi 2007).
Secara morfologis lebah hutan A.dorsata memiliki ukuran tubuh yang
paling besar sehingga seringkali juga disebut sebagai giant bee, panjang sayap depan berkisar 12-14 mm, panjang kaki belakang antara 10,5-11,5mm, panjang
proboscis mencapai 6,5mm (Hadisoesilo 1990 dalam Hadisoesilo dan Kuntadi
2007). Lebah madu merupakan serangga sosial yang mengenal pembagian kerja dalam koloni, sehingga terdapat lebah ratu, pejantan dan lebah pekerja. Lebah ratu berfungsi sebagai penghasil telur yang dikawini oleh pejantan, sedangkan lebah pekerja akan membagi tugas sesuai tingkatan umurnya, lebah muda bertugas memelihara sarang, lebah remaja bertugas menerima pakan hasil pencarian lebah pekerja yang telah dewasa.
Lebah ratu akan menempatkan telur dalam sel-sel sarang, calon lebah pejantan akan menempati sel sarang yang lebih luas, calon lebah pekerja menempati sarang yang lebih sempit, sedangkan calon lebah ratu akan memiliki sel sarang dengan bentuk besar dan tersendiri. Masa pembentukan dari telur hingga menjadi individu lebah yang baru membutuhkan 18 hari bagi lebah
pekerja, 15 hari untuk lebah ratu dan 22 hari untuk lebah jantan (Oldroyd dan Wongsiri 2006).
Lebah madu memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan sesamanya melalui tarian-tarian (waggle dance). Bagi lebah pekerja, tarian dilakukan berupa lingkaran-lingkaran yang semakin besar lingkarannya maka semakin jauh jarak yang ditempuh untuk mendapatkan pakan. Kemampuan komunikasi lebah untuk menunjukkan sumber pakan pada koloninya inilah yang menyebabkan keutamaan lebah madu sebagai polinator yang efisien (Seely 1995 dalam Van Engelsdrop dan Meixner 2010). Lebah madu memiliki kekhasan dalam kegiatan foragingnya, yakni mengambil nektar tumbuhan yang sama, sepanjang masih ada nektar dari tumbuhan tersebut, dan tidak berpindah-pindah ke tumbuhan yang lain dalam satu trip perjalanannya mencari pakan, perilaku yang berbeda dengan serangga-serangga yang lain (Bradbear 2009).