• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Guru Dalam Meningkatkan Civic Knowledge Siswa Melalui Model Pembelajaran Controversial Issues Pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Mujahidin Pontianak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Upaya Guru Dalam Meningkatkan Civic Knowledge Siswa Melalui Model Pembelajaran Controversial Issues Pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Mujahidin Pontianak"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN

CIVIC KNOWLEDGE

SISWA

MELALUI MODEL PEMBELAJARAN

CONTROVERSIAL ISSUES

PADA

MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI KELAS VIII

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA MUJAHIDIN PONTIANAK

Rohani dan Samsiar

Dosen Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan IKIP PGRI Pontianak Jl Ampera No. 88 Pontianak

email: [email protected] ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya guru untuk meningkatkan civic knowledge siswa

melalui model pembelajaran controversial issues. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

penelitian tindakan sedangkan bentuk penelitiannya Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Mujahidin Pontianak yang berjumlah 38 orang siswa yang terdiri dari 28 orang siswa laki-laki dan 10 orang siswa perempuan beserta 1 orang guru PKn. Pemilihan kelas yang dikenai tindakan berdasarkan hasil prariset yang dilakukan peneliti dan rekomendasi guru bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan. Terdapat peningkatan civic knowledge siswa melalui penerapan model pembelajaran controversial issues pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Mujahidin Pontianak, bisa dilihat perolehan tes hasil belajar siswa dimulai dari pra siklus mendapat ketuntasan klasikal 37,8% dengan nilai rata-rata 69, dilanjutkan dengan siklus I mengalami peningkatan dengan ketuntasan klasikal 56,75% dengan nilai rata-rata 71,35. Siklus II mengalami peningkatan dengan ketuntasan klasikal 77,14% dengan nilai rata-rata 80.

Kata kunci: civic knowledge, model pembelajaran controversial issues, Pendidikan Kewarganegaraan

A. Pendahuluan

Pendidikan adalah usaha sadar

dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran

agar peserta didik secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pendidikan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1, 2003). Pendidikan juga dapat diartikan segala proses perubahan sikap dan perilaku individu atau kelompok individu melalui pengayaan pengetahuan dan penguatan kesadaran. (Gatara & Sofhian, 2012: 6). Adapun UU No. 20 Tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3, fungsi Pendidikan Nasional yaitu :

Pendidikan Nasional berfungsi

mengembangkan kemampuan dan

membentuk watak serta peradaban

bangsa yang bermatabat dalam rangka

mencerdaskan kehidupan bangsa,

bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sejalan dengan fungsi dan tujuan Pendidikan Nasional, salah satu mata

pelajaran yang memfokuskan pada

(2)

pelajaran pendidikan kewarganegaraan. Sesuai perkembangan terakhir kurikulum sekolah di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP), pendidikan

kewarganegaraan sebagai mata pelajaran dimunculkan dengan nama mata pelajaran

Pendidikan Kewarganegaraan singkat

PKn (Permendiknas No. 22 Tahun 2006). Pendidikan Kewarganegaraan diartikan

sebagai mata pelajaran yang

memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Cogan (Winarno, 2013: 4)

mengartikan civic education sebagai ³the

foudational course work in school the signed to prepare young citizens for an active role in their communities in their DGXOW OLYHV´ Pendidikan kewarganegaraan adalah suatu mata pelajaran dasar di

sekolah yang dirancang untuk

mempersiapkan warga negara muda, agar kelak setelah dewasa dapat berperan aktif dalam masyarakatnya. Menurut Winarno

(2013: 95), tujuan pembelajaran

Pendidikan Kewarganegaraan adalah

sebagai berikut:

Agar peserta didik memiliki

kemampuan berfikir secara kritis, rasional,

dan kreatif dalam menanggapi isu

kewarganegaraan. Berpatisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, bertindak

secara cerdas dalam kegiatan

bermasyarakat, berbangsa, dan

bernegara, serta anti korupsi, berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain.

Untuk mencapai tujuan PKn

sebagaimana yang dimaksud di atas,

maka harus adanya kegiatan

pembelajaran yang dapat mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran tersebut. Rombepajung (Thobroni & Mustofa, 2011: 18), mengemukakan bahwa pembelajaran adalah pemerolehan suatu mata pelajaran atau pemerolehan suatu keterampilan

melalui pelajaran, pengalaman, dan

pengajaran. Dalam proses pembelajaran

PKn, terdapat banyak faktor yang

mempengaruhi seperti faktor guru, siswa, iklim belajar, materi pelajaran yang diberikan, media dan lain-lain. Faktor-faktor tersebut perlu mendapat perhatian agar proses belajar mengajar dapat

berlangsung dengan baik, sehingga

akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara optimal. Dalam upaya

pencapaian kompetensi dan

meningkatkan hasil belajar serta mutu pendidikan, seorang guru khususnya guru PKn diharapkan memiliki pengetahuan yang luas dan mampu merancang pembelajaran serta mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi

siswa. Suprihatiningrum (2014: 24)

PHQJHPXNDNDQ EDKZD ³JXUX DGDODK

orang yang memiliki kemampuan

merancang program pembelajaran, serta mampu menata dan mengelolah kelas agar siswa dapat belajar dan pada

akhirnya dapat mencapai tingkat

kedewasaan sebagai tujuan akhir dari SURVHV SHQGLGLGNDQ´

Dalam proses pembelajaran, hasil

belajar merupakan suatu hal yang

diperoleh atau dicapai siswa selama kegiatan pembelajaran di sekolah. Adapun hasil belajar dalam penelitian ini adalah kemampuan kognitif siswa, kemampuan kognitif siswa yang akan diteliti yaitu civic

knowledge (pengetahuan

kewarganegaraan), dimana siswa dapat

mengetahui dan memahami serta

mengaplikasikan materi pelaksanaan

demokrasi dalam berbagai aspek

(3)

pembelajaran. Budimansyah (2010: 29)

PHQJHPXNDNDQ EDKZD ³3HQJHWDKXDQ

kewarganegaraan (civic knowledge)

berkaitan dengan kandungan atau apa yang seharusnya diketahui oleh warga QHJDUD´ &LYLF NQRZOHGJH EHUNHQDDQ dengan apa-apa yang perlu diketahui dan dipahami secara layak oleh warga negara.

Sejalan dengan pendapat di atas

Wahidmurni, dkk. (2010: 18) menjelaskan bahwa seseorang dapat dikatakan telah berhasil dalam belajar jika mampu menunjukan adanya perubahan dalam dirinya. Perubahan-perubahan tersebut

diantaranya dari segi kemampuan

berpikirnya, keterampilannya, atau

sikapnya terhadap suatu objek. Dalam penelitian ini untuk mengetahui hasil

belajar (civic knowledge) dari segi kognitif

dapat diukur melalui tes yang diberikan guru.

Dari hasil pra observasi yang dilakukan, peneliti menemukan bahwa saat proses pembelajaran PKn hasil yang diperoleh belum maksimal. Ulangan umum semester ganjil tahun pelajaran 2015/2016 ketuntasan kurang lebih 37,8 % dari seluruh jumlah siswa di kelas VIII SMP Mujahidin Pontianak. Dengan rata-rata nilai 69, padahal kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang telah ditetapkan sekolah adalah 74. Pada saat proses

pembelajaran pendidikan

kewarganegaraan berlangsung masih

banyak siswa yang belum memahami

mengenai materi ketaatan terhadap

perundang-undangan nasional yang di sampaikan, sehingga nilai siswa yang belum dapat memenuhi ketuntasan belajar

yaitu belum mampu menyelasaikan,

mengusai kompetensi atau mencapai tujuan pembelajaran pada saat dilakukan evaluasi. Adapun faktor yang menjadi penyebabnya yaitu pada saat proses pembelajaran siswa hadir di kelas dengan persiapan belajar yang tidak memadai seperti siswa tidak memiliki buku paket

dan hanya menggunakan lembar kerja siswa (LKS). Model pembelajaran yang di gunakan dominan menggunakan model konvensional yaitu metode ceramah dan tanya jawab, sehingga timbul kebosanan bagi siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Kegiatan belajar siswa terbatas pada mendengarkan, mencatat, dan menghafal. Partisipasi Siswa dalam kegiatan pembelajaran, seperti bertanya, menanggapi, maupun guru melakukan sesi tanya jawab, para siswa kurang memberikan respon yang baik, hanya ada satu sampai dua orang saja yang aktif menjawab pertanyaan guru.

Selain melakukan observasi

terhadap proses pembelajaran di kelas VIII, peneliti juga melakukan wawancara kepada guru PKn. Hasil wawancara tersebut didapatkan informasi bahwa respon dan sikap siswa selama kegiatan berlangsung masih pasif, hanya ada

beberapa siswa saja yang aktif,

kebanyakan mereka masih malu untuk mengeluarkan pendapat dan siswa sulit memahami materi ketaatan terhadap perundang-undangan nasional yang telah

disampaikan walaupun guru sudah

semaksimal mungkin dalam

menyampaikan materi tersebut. Dengan permasalahan yang ada, penting bagi guru PKn untuk memahami bagaimana

menentukan dan mendesain model

pembelajaran yang mampu

mengembangkan pengetahuan dan

wawasan kewarganegaraan (civic

knowledeg). Atau dengan kata lain

bagaimana merancang pendekatan,

strategi, metode, maupun teknik yang dapat mengembangkan ranah kognitif siswa.

Untuk menyelesaikan masalah

tersebut di atas, yaitu tentang bagaimana upaya yang di lakaukan oleh guru untuk meningkatkan civic knowledge siswa pada mata pelajaran PKn, Guru dapat memilih

(4)

Komalasari, (2010: 57) mengemukakan

EDKZD ³0RGHO SHPEHODMDUDQ SDGD

dasarnya merupakan bentuk

pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas ROHK JXUX´ 6DODK VDWXQ\D DGDODK PRGHO

pembelajaran Controversial Issues.

Muessig (Komalasari, (2010: 269)

mengemukakan bahwa: ³Controversial

Issues (isu kontroversial) adalah sesuatu yang mudah diterima oleh seseorang atau kelompok, tetapi juga mudah ditolak oleh RUDQJ DWDX NHORPSRN ODLQ´ &RQWURYHUVLDO Issues marupakan salah satu model

pembelajaran kontekstual. Penerapan

model ini diharapkan mampu

meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam memahami isu-isu dan

permasalahan yang terjadi dalam

lingkungan kehidupan siswa. Siswa diajak untuk mampu mengambil keputusan dengan alasan atau pertimbangan yang rasional didukung dengan fakta, konsep, dan prinsip yang akurat (Komalasari, 2010: 259). Adapun alasan peneliti

menggunakan model pembelajaran

controversial issues agar siswa aktif, kreatif, dan berpikir secara kritis mengenai isu-isu kewarganegaraan yang diberikan oleh guru pada saat proses pembelajaran. Melalui model pembelajaran ini siswa belajar untuk mengemukakan pendapat, mendengarkan opini orang lain, mencari informasi, menyadari adanya perbedaan, membangun empati dan pengertian, untuk kemudian mengambil kesimpulan. Dengan pembelajaran isu-isu kontroversial siswa

akan mengamati, memikirkan, dan

bertindak menghadapi situasi tertentu, siswa lebih menyakini apa yang diamati dan menemukan banyak cara untuk mencari jalan keluar tentang isu-isu kontroversial. Pengamatan seperti di atas akan membantu siswa mengembangkan daya berpikir secara sistematis dan logis,

sehingga siswa mampu mengambil

keputusan yang tepat. Pembelajaran

menggunakan model controversial issues

yang dimana pembelajarannya

menyajikan isu-isu kontroversial akan membantu siswa dalam mengembangkan

daya intelektual dan keterampilan

berkomunikasi secara lisan maupun

secara tulisan. harapan peneliti melalui model pembelajaran controversial Issues, upaya guru dalam meningkatkn civic knowledge siswa dapat tercapai.

Permasalahan-permasalahan yang dipaparkan di atas memotivasi peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas

(PTK). PTK dipilih sebagai bentuk

penelitian karena merupakan suatu

penelitian yang akar permasalahannya muncul di kelas, dan dirasakan oleh guru yang bersangkutan. PTK bertujuan untuk

memperbaiki atau mengatasi

permasalahan yang bersangkutan dengan pembelajaran yang baik dari segi proses maupun hasilnya, dalam hal ini adalah proses meningkatkan civic knowledge siswa.

B. Metode Penelitian

Metode merupakan suatu hal atau cara yang penting yang digunakan seseorang untuk mencapai tujuan yang

diinginkan, karena dengan metode

penelitian inilah penelitian akan dapat berfungsi sebagai alat unutk mencapai tujuan tertentu. Hamid Darmadi (2014: 1)

mengemukaNDQ EDKZD ³PHWRGH

penelitian adalah pembahasan mengenai konsep teoritik tentang berbagi metode, kelebihan dan kelemahannya yang dalam karya ilmiah kemudian dilanjutkan dengan

SHPLOLKDQ PHWRGH \DQJ GLJXQDNDQ´

Senada dengan pendapat di atas

Purwanto (2010: 169) menyatakan bahwa metode penelitian dapat dikelompokkan atas dasar tujuannya, metode penelitian

dapat dibagi menjadi pertama penelitian

dan pengembangan, kedua penelitian

(5)

empat penelitian tindakan, kelima

penelitian perkembangan, keenam

penelitian survei, dan ketujuh penelitian

kasus.

Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

tindakan. Purwanto (2010: 172)

mengemukakan bahwa: ³Penelitian

tindakan adalah penelitian yang

merupakan kolaborasi antara peneliti dengan pelaku kerja untuk memperbaiki

praktik secara bersama-VDPD´

Sedangkan Gregory S. C. H. (2013). 0HQJHPXNDNDQ EDKZD ³$FWLRQ UHVHDUFK is a process of systematic inquiry that seeks to improve social issues affecting

the lives of eYHU\GD\ SHRSOH´ SHQHOLWLDQ

tindakan adalah suatu proses penyelidikan

sistematis yang bertujuan untuk

meningkatkan isu-isu sosial

mempengaruhi kehidupan manusia sehari-hari.

Sejalan dengan pendapat di atas Burns, A. (2010: 5) mengemukakan EDKZD ³$FWLRQ UHsearch is research carried out in the classroom by the teacher of the course, mainly with the purpose of solving a problem or improving the WHDFKLQJ OHDUQLQJ SURFHVV´ SHQHOLWLDQ tindakan adalah penelitian yang dilakukan di kelas oleh guru kursus, terutama dengan tujuan memecahkan masalah atau meningkatkan proses pengajaran atau

pembelajaran. Suryabrata (Purwanto,

2010: 172) mengemukakan bahwa

penelitian tindakan mempunyai tujuan

untuk mengembangkan

keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru untuk memecahkan masalah dalam penerapan langsung didunia kerja dan dunia aktual lainnya.

Berdasarkan pendapat di atas

dapat disimpulkan bahwa penelitian

tindakan adalah kolaborasi antara peneliti dengan kelompok sasaran dengan tujuan

untuk memecahkan masalah dalam

kegiatan pembelajaran.

Suatu metode peneltian, akan

dapat digunakan dengan adanya

dukungan dari bentuk penelitian. Bentuk

penelitian yang digunakan dalam

penelitian ini adalah penelitian tindakan

kelas (Classroom Action Research).

Muslikah (2010: 32) mengemukakan

EDKZD ³3HQHOLWLDQ WLQGDNDQ NHODV

didefinisikan secara umum sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif

dengan melakukan tindakan-tindakan

tertentu agar dapat memperbaiki dan

meningkatkan praktek-praktek dikelas

VHFDUD SURIHVLRQDO´ 6HGDQJNDQ $ULNXQWR dkk. (2014: 4) berpendapat bahwa ³3HQHOLWLDQ WLQGDNDQ NHODV PHUXSDNDQ suatu pencerminan terhadap kegiatan pembelajaran berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi

dalam sebuaK NHODV VHFDUD EHUVDPDDQ´

Adapun tujuan penelitian tindakan kelas menurut Arikunto, dkk. (2008: 107) adalah sebagai berikut:

1. Memerhatikan dan meningkatkan

kualitas isi, masukan, proses, dan hasil pembelajaran.

2. Menumbuhkan budaya meneliti bagi tenaga kependidikan agar lebih proaktif mencari solusi akan permasalahan pembelajaran.

3. Menumbuhkan dan meningkatkan

produktivitas meneliti para tenaga pendidik dan kependidikan, khususnya

mencari solusi masalah-masalah

pembelajaran.

4. Meningkatkan kolaborasi antara tenaga pendidik dan tenaga kependidikan

dalam memecahkan masalah

pembelajaran.

Berdasarkan pendapat di atas

dapat disimpulkan bahwa Penelitian

Tindakan Kelas adalah suatu proses

pemecahan masalah dalam bentuk

tindakan langsung dalm proses belajar menagajar untuk meningkatkan hasil belajar siswa, di mana hasil belajar siswa dalam penelitian ini adalah pemahaman

(6)

civic knowledge siswa. Alasan peneliti menggunakan penelitian tindakan kelas dalam penelitian ini adalah berdasarkan permasalahan yang ada di kelas VIII Sekolah Menengah pertama Mujahidin

Pontianak, terkait pemahaman civic

knowledge siswa.

Prosedur yang digunakan dalam penelitian Tindakan Kelas pada umumnya dilakukan dalam beberapa siklus. Di

dalam penelitian ini penelitian

menggunakan dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Suharsimi Arikunto (2014: 16), mengemukakan model penelitian tindakan yang setiap siklus terdapat empat langkah

yaitu perencanaan (planning),

pelaksanaan (acting), pengamatan

(observing), dan refleksi (reflecting). Lokasi yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu di SMP Mujahidin Pontianak. Alasan mengapa dilakukan penelitian di sekolah tersebut di karenakan masih kurangnya pemahaman siswa

khususnya di kelas VIII mengenai

pengetahuan Kewarganegaraan (civic

knowladge) pada mata pelajaran PKn.

Zuldafrial (2010: 96)

mengemukakan bahwa sumber data dalam penelitian adalah subjek dimana data dapat diperoleh. Sumber data yang di gunakn dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kuatitatif, yaitu data kemampuan civic knowledge siswa menggunakan model pembelajaran controversial Issues yang diperoleh dari tes hasil belajar yang diberikan di setiap

siklus setelah melalui proses

pembelajaran menggunakan model

controversial Issues. Sedangkan data kualitatif, yaitu data mengenai proses pembelajaran dan aktivitas siswa di kelas serta kesan siswa selama pembelajaran menggunakan model controversial Issues. Data ini diperoleh dari hasil observasi dan angket selama proses pembelajaran.

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Mujahidin Pontianak

yang berjumlah 38 orang siswa yang terdiri dari 28 orang siswa laki-laki dan 10 orang siswa perempuan beserta 1 orang guru PKn. Pemilihan kelas yang dikenai tindakan berdasarkan hasil prariset yang dilakukan peneliti dan rekomendasi guru

bidang studi Pendidikan

Kewarganegaraan.

Penelitian tindakan kelas adalah

sebagai proses pengkajian masalah

didalam kelas berupa tindakan yang

terencana untuk memecahkan

permasalahan dan sekaligus

meningkatkan kualitas yang dapat

dirasakan implikasinya oleh subjek yang diteliti. Menurut Kurt Lewin (Kusuma & Dwitagama, 2011: 27) Konsep pokok

action research terdiri dari empat

komponen, yaitu: perencanaan (Planning),

tindakan (acting), pengamatan

(observing), dan refleksi (reflecting).

Hubungan keempat komponen itu

dipandang sebagai satu siklus.

Adapun menurut Arikunto (2014: 16) model penelitian tindakan dengan

empat langkah yaitu: Perencanaan

(planning), pelaksanaan (acting),

pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Untuk melakukan siklus PTK selalu menggunakan empat langkah tersebut. Keempat langkah dalam setiap siklus dapat dilihat pada gambar 3.1

Gambar : 3.1 Skema alur penelitian tindakan kelas

Gambar: 1. 1 Skema Alur Siklus Penelitian Tindakan Kelas

(7)

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas meliputi beberap siklus seperti yang tertera pada gambar diatas. Setiap siklus

dilakukan tahapan-tahapan sebagai

berikut:

1. Perencanaan Tindakan (Planning)

a. Peneliti meminta kesedian sekolah

dan guru Pendidikan

Kewarganegaraan di SMP

Mujahidin Pontianak sebagai mitra PTK.

b. Menyusun rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP) yang

berisikan langkah-langkah

pembelajaran menggunakan Model

Controversial issues yang akan digunakan dalam siklus I dan siklus II.

c. Merancang observasi untuk

melihat bagaimana kegiatan

pembelajaran di kelas.

d. Membuat instrumen penelitian

(kisi-kisi soal evaluasi)

e. Merancang panduan observasi

f. Merancang panduan wawancara

terhadap guru

g. Peneliti sebagai observer.

2. Pelaksanaan Tindakan (Acting)

a. Guru menyampaikan tujuan

pembelajaran dan memotivasi

siswa.

b. Guru memberikan informasi

berkaitan dengan materi diselingi dengan tanya jawab.

c. Guru atau siswa menyodorkan suatu

kasus atau isu.

d. Guru mengundang berbagai

pendapat siswa mengenai isu

tersebut. Setiap pendapat harus

dijelaskan dan diberi alasan

mengapa pendapat itu

dikemukakan.

e. Pendapat-pendapat yang berbeda

diidentifikasi sebagai isu

kontroversial dan dijasikan bahan diskusi kelas.

f. Setiap siswa dapat menjadi pembela

dan penyerang suatu pendapat

tentang controversial issues

(kontroversial isu) disertai alasan.

Hal ini memperlihatkan pula

kekuatan dan kelemahan pendapat masing-masing.

g. Guru tidak perlu mengarahkan

kegiatan kelas untuk mendapatkan kesepakatan-kesepakatan.

h. Guru dan siswa menarik kesimpulan

mengenai kesamaan dan perbedaan pendapat yang ada, kelemahan dan

keunggulan masing-masing

pendapat.

i. Guru mengadakan evaluasi diakhir

pembelajaran menggunakan tes. 3. Observasi

Observasi dilaksanakan oleh

seorang partner terhadap guru untuk mengetahui dan mendokumentasikan

bagaimana proses pembelajaran

berlangsung. Pada tahap pengamatan dilakukan perekaman data oleh seorang

pengamat atau observer yang meliputi

proses dan hasil pelaksanaan tindakan. Perekaman data ini bertujuan untuk mengumpulkan bukti hasil tindakan agar dapat dievaluasi dan dijadikan landasan melakukan refleksi. Hal ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi dalam proses pembelajaran.

4. Refleksi

Refleksi ini dilakukan dengan cara berdiskusi antara guru dan peneliti terhadap masalah yang diperoleh pada saat observasi dan melihat apakah tindakan yang telah dilakukan dapat

meningkatkan civic knowledge siswa.

Melalui refleksi inilah maka peneliti akan

menentukan keputusan untuk

melaksanakan siklus II dan siklus selanjutnya.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah:

teknik observasi langsung, teknik

(8)

dan dokumenter. Sedangkan alat

pengumpul data yaitu: panduan

observasi, panduan wawancara, tes hasil belajar dan dokumentasi. Teknik analisis data penelitian ini, yaitu menggunakan

rumus rata-rata (mean), rumus

ketuntasan hasil belajar dan analisis model Miles dan Huberman meliputi reduksi data, display data, dan verifikasi data.

Untuk mengukur keberhasilan

pembelajaran pada penelitian ini

diperlukan indikator keberhasilan.

Indikator keberhasilan merupakan tolak ukur yang ingin dicapai pada saat

penelitian. Dalam penelitian ini

keberhasilan belajar siswa dapat dilihat dari jumlah siswa yang mendapat nilai

standar KKM yaitu 74, dengan

persentase keberhasilan yang

ditargetkan oleh peneliti adalah •70 %

dari siswa yang mencapai ketuntasan belajar secara klasikal dengan nilai standar KKM yaitu 74. Untuk megetahui keberhasilan pelaksanaan tindakan yang dilakukan, Data yang diperoleh melalui hasil belajar dihitung dengan rumus persentase ketuntasan.

C. Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan pada bab satu serta deskripsi hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran

controversial issues dapat meningkatkan

civic knowledge. Berikut ini dibahas hasil penelitian berdasarkan rumusan masalah dan dikontrusikan dengan teori yang relevan.

Perencanaan model pembelajaran controversial issues pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Mujahidin Pontianak, sudah terlaksana dengan baik. Hal ini ditandai dengan guru menentukan

SK dan KD, menyusun rencana

pelaksanaan pembelajaran (RPP), silabus, soal evaluasi yang berupa tes uraian.

Peneliti sebagai observer juga

menyiapkan panduan observasi untuk

mengamati proses pembelajaran

Pendidikan Kewarganegaraan melalui

penerapan controversial issues di kelas

VIII Sekolah Menengah Pertama

Mujahidin Pontianak, serta menyiapkan panduan wawancara terhadap guru PKn.

Hal ini sejalan dengan pendapat Arikunto, dkk. (2014:43) mengemukakan bahwa hal yang dimaksud dengan perencanaan tindakan (PTK) adalah

kegiatan menyusun Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), yaitu kegiatan yang membuat rencana akan

dilaksanakan dalam pelaksanaan

tindakan. Selanjutnya Arikunto (2014:17) mengatakan bahwa:

Dalam tahap penyusunan rencana, peneliti menemukan titik-titik atau fokus peristiwa yang mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk membantu peneliti merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Jika yang digunakan dalam penelitian ini bentuk terpisah, yaitu penelitian dan pelaksanaan guru adalah berbeda, daslam tahap penyusunan rencana harus ada kesepakatan antara keduanya.

Berdasarkan penjelasan yang telah

dipaparkan di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa perencanaan

pembelajaran merupakan proses

penyusunan materi pembelajaran,

penggunaan media pembelajaran,

penggunaan model atau pendekatan pembelajaran, serta penggunaan alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Dalam tahap perencanaan ini

menekankan pada titik permasalahan

yang akan dibahas, yaitu dengan

membuat Silabus, dan Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dalam penyusunan RPP peneliti berkolaborasi

(9)

dengan guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan karena penelitian ini melibatkan dua pihak yang berkerjasama (peneliti dan guru) pada saat dilakukannya penelitian.

Pelaksanaan model pembelajaran controversial issues pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegraan di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Mujahidin Pontianak sudah tergolong baik. Hal ini ditandai dengan guru melaksanakan proses pembelajaran berjalan sesuai

dengan rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP), materi yang

disajikan guru menarik perhatian siswa,

langkah-langkah model pembelajaran

controversial issues telah terlaksana dengan baik, keaktifan siswa dalam bertanya dan menjawab mulai terlatih dan

siswa berani untuk mengeluarkan

pendapatnya dalam menjawab isu-isu yang diberikan, serta alokasi waktu

berjalan sesuai dengan yang

direncanakan. Hal ini diungkapkan oleh Wiriaatmadja (Komalasari, 2010: 271) mengemukakan bahwa langkah-langkah

pembelajaran dengan menggunakan

Controversial Issues (Isu Kontroversial) adalah sebagai berikut:

1. Guru dan siswa melakukan

brainstorming mengenai isu-isu kontroversial yang akan dibahas. 2. Siswa berkelompok memilih salah satu

kasus untuk dikaji

3. Siswa melakukan inkuiri, mengundang

nara sumber, membaca buku,

mengumpulkan informasi lain.

4. Siswa menyajikan/mendiskusikan hasil

inkuiri, mengajukan argumentasi,

mendengar counter-argument atau

opini lainnya.

5. Siswa menerapkan konsep,

generalisasi, teori ilmu sosial unutk

secara akademis menganalisis

pemasalahan.

Selanjutnya Hasan (Komalasari,

2010: 263) mengemukakan bahwa

langkah-langkah dalam pembelajaran

Controversial Issues sebagai berikut: 1. Guru atau siswa menyodorkan suatu

kasus atau isu

2. Guru mengundang berbagai pendapat siswa mengenai isu tersebut. Setiap pendapat harus dijelaskan dan diberi

alasan mengapa pendapat itu

dikemukakan

3. Pendapat-pendapat yang berbeda

diidentifikasi sebagai isu kontroversial dan dijadikan bahan diskusi kelas. 4. Setiap siswa dapat menjadi pembela

atau penyerang suatu pendapat

tentang isu kontroversial disertai

alasan. Hal ini memperlihatkan pula kekuatan dan kelemahan pendapat masing-masing.

5. Guru tidak perlu mengarahkan

kegiatan kelas untuk mendapatkan kesepakatan-kesepakatan.

6. Guru dan siswa menarik kesimpulan mengenai kesamaan dan

perbedaan-perbedaan pendapat yang ada,

kelemahan dan keunggulan masing-masing pendapat.

Langkah-langkah di atas merupakan suatu panduan dalam menerapkan suatu model pembelajaran yang dapat berjalan

dengan baik sebab dalam model

pembelajaran ini siswa diharapkan untuk aktif dan bertanggung jawab baik secara individu maupun kelompok dalam proses

pembelajaran mulai dari langkah yang

pertama sampai langkah akhir

pembelajaran, melalui model

pembelajaran ini suasana belajar terasa lebih efektif, kerja sama kelompok dan dapat membangkitkan semangat siswa

untuk memiliki keberanian dalam

mengemukakan pendapat.

Pemahaman civic knowledge siswa

melalui tes hasil belajar yang diperoleh mulai pada kegiatan pra siklus mendapat ketuntasan klasikal 37,8% dengan nilai rata-rata 69. Dilanjutkan dengan siklus I

(10)

mengalami peningkatan dengan ketuntasan klasikal 56,75% dengan nilai rata-rata 71,35. Berhubung siklus I belum mencapai indikator yang ditentukan maka dilanjutkan dengana siklus II, yang dimana siklus II mengalami peningkatan dengan ketuntasan klasikal 77,14% dengan nilai rata-rata 80. Karena siklus II telah mencapai indikator yang telah ditentukan maka penelitian dihentikan sampai siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan tindakan penerapan model

pembelajaran controversial isssues pada

mata pelajaran Pendidikan

Kewarganegraan dapat meningkatkan

civic knowledge siswa di kelas VIII SMP Mujahidin Pontianak.

D. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka secara umum dapat disimpulkan bahwa upaya yang dilakukan guru melalui penerapan model pembelajaran controversial issues dapat meningkatan civic knowledge siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Mujahidin Pontianak.

Perencanaan model pembelajaran controversial issues pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Mujahidin Pontianak, sudah terlaksana dengan baik. Hal ini ditandai dengan guru menentukan

SK dan KD, menyusun rencana

pelaksanaan pembelajaran (RPP), silabus, soal evaluasi yang berupa tes uraian.

Peneliti sebagai observer juga

menyiapkan panduan observasi untuk

mengamati proses pembelajaran

Pendidikan Kewarganegaraan melalui

penerapan controversial issues di kelas

VIII Sekolah Menengah Pertama

Mujahidin Pontianak, serta menyiapkan panduan wawancara terhadap guru PKn.

Pelaksanaan model pembelajaran controversial issues pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegraan di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Mujahidin

Pontianak sudah tergolong baik. Hal ini ditandai dengan guru melaksanakan proses pembelajaran berjalan sesuai

dengan rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP), materi yang

disajikan guru menarik perhatian siswa,

langkah-langkah model pembelajaran

controversial issues telah terlaksana dengan baik, keaktifan siswa dalam bertanya dan menjawab mulai terlatih dan

siswa berani untuk mengeluarkan

pendapatnya dalam menjawab isu-isu yang diberikan, serta alokasi waktu

berjalan sesuai dengan yang

direncanakan.

Terdapat peningkatan civic

knowledge siswa melalui penerapan model pembelajaran controversial issues

pada mata pelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Mujahidin Pontianak, bisa dilihat perolehan tes hasil belajar siswa dimulai dari pra siklus mendapat ketuntasan klasikal 37,8% dengan nilai rata-rata 69, dilanjutkan dengan siklus I

mengalami peningkatan dengan

ketuntasan klasikal 56,75% dengan nilai rata-rata 71,35. Siklus II mengalami peningkatan dengan ketuntasan klasikal 77,14% dengan nilai rata-rata 80. Karena siklus II telah mencapai indikator yang

telah ditentukan maka penelitian

dihentikan sampai siklus II. DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, dkk. (2014). Penelitian Tindakan

Kelas. Jakarta: Bumi aksara.

Budimansyah, D. (2010).Pembelajaran

Pendidikan Kesadaran

Kewarganegaraan Multidimensional.

Bandung: Genesindo.

Burns, A. (2010). Doing Action Research In

English Language Teaching A Guide For Practitioners. Australia: Departemen Of Linguistich, Macquarie University.

(11)

Gatara, A. S. & Sofihian, S. (2012). Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education).

Bandung: Fokus Media.

Gregory, S. C. H. (2013). ³7KH ,PSRUWDQFH 2I

action Research In teacher Education 3URJUDP´ -RXUQDO ,VVXHV ,Q (GXFDtional Research. (online) tersedia. www.iier.org.au. (31 Maret 2016).

Komalasari, K. (2010). Pembelajaran

Kontekstual. Bandung: Refika Aditama.

Purwanto. (2010). Metodologi Penelitian

Kuatitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suprihatiningrum, J. (2014). Guru Profesional

Pedoman Kinerja, Kualifikasi, dan kompetensi Guru. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Thobroni, M. & Mustofa, A. (2011). Belajar dan

Pembelajaran. Jogjakarta: Ar- Ruzz Media.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Winarno. (2013). Pembelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan. Jakarta: Bumi Aksara.

Zuldafrial. (2010). Penelitian Kuantitatif.

Referensi

Dokumen terkait

Penulis menganalisa penelitian ini dengan menggunakan 2 metode, yang pertama adalah Chi Kuadrat ( Chi Square ) yaitu suatu metode mengenai perbandingan antara frekuesi observasi

Tahun Pelajaran ……… Bulan Januari s.d Maret 2016 Melaksanakan tugas mengajar dengan beban kerja sebanyak ……… Jam Tatap Muka (JTM) yang terdiri

Bibik selaku orang yang masih mempunyai perjanjian kontrak terhadap mobil Mekar Jaya BK- 1222 GO dengan terdakwa, dan terdakwa membuat perjanjian pembiayaan

Pengaruh Strategi Think-Talk-Write Terhadap Peningkatan Kemampuan Analogi Dan Komunikasi Matematis Siswa Sekolah Menengah Pertama.. Universitas Pendidikan Indonesia

(2) demonstrates this and shows that even though a point has been identified as a change by being evaluated against a point on the cliff, the actual change relates to the

Meningkatkan hasil belajar matematika siswa tentang pokok bahasan bangun datar pada tema lingkungan melalui Penggunaan alat peraga bangun datar.. Universitas Pendidikan Indonesia

Atas dasar uraian, penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut dengan judul “Analisis Pengaruh Struktur Kepemilikan Dan Efektivitas Dewan Komisaris Terhadap Tingkat

Sebagai contoh, jika suatu perusahaan pelayaran memiliki 3.000 TEUs untuk salah satu rutenya, maka dapat dilihat yang paling efisien pada rute tersebut dengan jumlah