• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Fakultas

Ilmu dan Teknologi Kebumian

Program Studi Meteorologi

© 2012 Program Studi Meteorologi Institut Teknologi Bandung

PENERBITAN ONLINE AWAL

Paper ini adalah PDF yang diserahkan oleh penulis kepada

Program Studi Meteologi sebagai salah satu syarat kelulusan

program sarjana. Karena paper ini langsung diunggah setelah

diterima, paper ini belum melalui proses peninjauan, penyalinan

penyuntingan, penyusunan, atau pengolahan oleh Tim Publikasi

Program Studi Meteorologi. Paper versi pendahuluan ini dapat

diunduh, didistribusikan, dan dikutip setelah mendapatkan izin

dari Tim Publikasi Program Studi Meteorologi, tetapi mohon

diperhatikan bahwa akan ada tampilan yang berbeda dan

kemungkinan beberapa isi yang berbeda antara versi ini dan

versi publikasi akhir.

(2)

1

PENGARUH FAKTOR METEOROLOGI TERHADAP BESARNYA

KONSENTRASI SO2

(Studi Kasus Gerbang Tol Pasteur Bandung)

CRETACEOUS FADHAL BAMAHRY

Program Studi Meteorologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung ABSTRAK

Gerbang tol Pasteur dilewati kendaraan dalam jumlah yang banyak setiap harinya. Hal ini meningkatkan emisi di sepanjang jalan tol dan akhirnya meningkatkan konsentrasi SO2 Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan parameter meteorologi dengan konsentrasi SO2 yang dihasilkan kendaraan di kawasan gerbang tol Pasteur. Parameter yang dihubungkan dengan konsentrasi SO2 ini adalah kelembaban, curah hujan dan intensitas matahari.

Jenis data yang akan dipakai untuk perhitungan adalah data kendaraan dan data meteorologi. Model untuk menghitung konsentrasi SO2 yang akan dipakai adalah Delhi Finite Line Source (DFLS). Penelitian dilakukan dengan pengelompokkan waktu pagi, siang, dan sore hari pada hari senin, selasa, (hari sibuk) dan sabtu minggu (hari libur).

Selain menentukan hubungan parameter meteorologi dengan konsentrasi SO2, penelitian ini juga menemukan adanya faktor-faktor lain yang lebih mempengaruhi konsentrasi SO2yaitu kereaktifan zat ini sendiri dan penggabungan dengan zat-zat kimia lain. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa konsentrasi SO2 tidak dipengaruhi secara langsung oleh faktor meteorologi. Dibuktikan oleh kelembaban, curah hujan dan intensitas matahari yang bervariasi terhadap konsentrasi SO2.

Kata kunci: konsentrasi SO2, kendaraan, meteorologi, DFLS, kereaktifan zat, intensitas matahari.

1. Pendahuluan

Pencemaran udara di Indonesia setiap tahunnya semakin meningkat dikarenakan bertambahnya polusi oleh kegiatan industri dan kendaraan bermotor. Pencemaran udara dapat didefinisikan sebagai hadirnya substansi di udara dalam konsentrasi yang cukup untuk menyebabkan gangguan pada manusia, hewan, tanaman maupun material. Substansi ini bisa berupa gas, cair maupun partikel padat. Ada lima jenis polutan di udara, yaitu partikulat dengan diameter

kurang dari 10 µ m (PM10), sulfur dioksida (SO2),

nitrogen dioksida (NO2), karbon monoksida (CO) dan

timbal (Cooper,1994).

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan perekonomian suatu daerah menyebabkan jumlah perjalanan/mobilisasi yang dilakukan setiap individu semakin meningkat. Oleh karenanya kebutuhan akan transportasi umum akan semakin tinggi. Meningkatnya kebutuhan transportasi harus disertai dengan pengembangan sarana/prasarana transportasi (kendaraan, jalan dan lingkungan). Ketersediaan sarana jalan terhadap jumlah kendaraan di Kabupaten Bandung pada tahun 2008 mencapai 1 : 156, ini artinya bahwa setiap panjang jalan sepanjang 1 km, dapat diakses kendaraan baik kendaraan roda 4 maupun roda 2 sebanyak 156 kendaraan. Kondisi ini berbeda dengan kondisi pada tahun 2007, sedangkan pada tahun 2007 ketersediaan sarana jalan terhadap jumlah kendaraan mencapai 1 : 136, yang berarti bahwa setiap panjang jalan sepanjang 1 km dapat diakses kendaraan baik kendaraan roda 4 maupun roda

2 sebanyak 136 kendaraan. Kondisi ini menunjukkan bahwa jumlah kendaraan pada tahun 2008 lebih banyak atau mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2007, demikian pula panjang jalan pada tahun 2008 mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2007 (Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung, 2008).

Jumlah kendaraan ini masih bertambah sekitar 16% pertahun. Maka dapat dibayangkan masalah

kemacetan yang ditimbulkan dengan makin

banyaknya kendaraan bermotor di Bandung. Sudah tidak terhitung waktu dan bahan bakar yang terbuang saat terjebak dalam kemacetan atau antri di jalur lalu lintas yang padat. Perkembangan transportasi tersebut, selain memberikan dampak positif juga memberikan dampak negatif yang banyak. Dampak positifnya yaitu dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk bepergian ataupun untuk bekerja. Dampak negatifnya yaitu semakin bertambahnya jumlah kendaraan bermotor, makin bertambah pula emisi yang berada di udara yang disebabkan karena pembakaran dari kendaraan bermotor tersebut. Proses pembakaran dari kendaraan bermotor menghasilkan beberapa unsur pencemar seperti Partikulat, CO. Belum lagi jumlah kendaraan dari luar Kota Bandung dimana setiap harinya banyak yang melintasi Kota Bandung dan tentunya akan menyumbang polusi yang tinggi.X,

NOX, SOX (Dinas Perhubungan, 2011).

Seiring dengan perkembangannya, banyak

peneliti yang mulai mencoba merambah dunia udara. Seperti, telah ditemukannya rumus dan persamaan perkembangan model awal dari rumus Gauss. Rumus

(3)

2

DFLS (Delhi Finite Line Source) adalah suatu rumus yang paling logis untuk memprediksi konsentrasi polutan di udara. Beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu dari faktor meteorologis khususnya kecepatan udara, arah angin, stabilitas atmosfer dan lainnya. Data semacam ini diperoleh dari stasiun pemantau yang berada di wilayahnya (Khaled,et al, 2006).

Konsentrasi SO2 ini sangat dipengaruhi oleh

faktor meteorologi. Angin, turbulensi, stabilitas atmosfer, inversi, hujan, kabut dan radiasi surya

(Vesilind, et al, 1990). Mendukung pernyataan sebelumnya, angin akan mempengaruhi kecepatan penyebaran dan pencampuran polutan udara dengan udara disekitarnya di atmosfer (Lutgens dan Tarbuck,

1982). Radiasi surya secara tidak langsung

mempengaruhi polusi udara yaitu sebagai energi penggerak udara karena perbedaan pemanasan permukaan sehingga mempengaruhi terjadinya inversi dan stabilitas udara (Suharsono, 1985).

2. Data dan Metode 2.1. Data

a) Data kendaraan mobil bensin, mobil solar, bus dan

truk dengan rentang waktu 26 Januari 2008 sampai 29 Januari 2008

b) Data arah dan kecepatan angin, intensitas matahari,

temperatur udara, kelembaban dan curah hujan dengan rentang waktu 26 Januari 2008 sampai 29 Januri 2008

c) Data sampling konsentrasi SO2 untuk verifikasi.

2.2. Model Delhi Finite Line Source

Penelitian ini diawali dengan melakukan pengelompokkan data kendaraan dan data meteorologi dari PT Jasa Marga dan LAPAN Bandung dengan rentang waktu 06.30-09.30, 11.30-14.30, 15.30-18.30 WIB, dimana waktu-waktu ini mewakili pagi, siang dan sore hari. Pengelompokkan ini dikarenakan aktivitas kesibukan yang terjadi di waktu tersebut. Berikut akan dijelaskan mengenai metode-metode yang akan dipakai pada penelitian ini.

Untuk mencari beban emisi menggunakan rumus : Beban emisi (g/jam) = jumlah kendaraan (kendaraan/jam) x faktor emisi (g/km/kendaraan) x panjang jalan (km) (Srikandi, 2009).

Untuk menghitung nilai konsentrasi polutan

Sulfur Dioksida (SO2) yang berasal dari sumber garis

maka metode yang digunakan adalah dengan menggunakan metode Delhi Finite Line Sorce. Perhitungan konsentrasi polutan Sulfur Dioksida

(SO2) ini menggunakan persamaan:

= 2. √2 . πσ . ū × exp −12 z − hσ + exp −12 z + hσ

Dalam perhitungan DFLS ini diperlukan langkah-langkah awal sebagai berikut:

Perbedaan kedua domain prediksi terletak pada kondisi batas lateral arah zonal. Pengaturan kondisi batas diatur pada namelist.input dibagian kontrol kondisi batas.

Dari data kecepatan angin dan intensitas matahari kita dapat menetukan klasifikasi stabilitas udara Pasquil pada tabel 1

Tabel 1 Klasifikasi Stabilitas Udara Pasquil (Khaled et al, 2006) Kecepatan angin (m/s) Siang 1jam sebelum matahari terbit/setelah matahari tenggelam Intensitas radiasi matahari

Kuat Sedang Lemah Mendung >600 W/m2 300-600 W/m2 <300 W/m2 <2 A A-B B C D 3-2 A-B B C C D 5-3 B B-C C C D 6-5 C C-D D D D >6 C D D D D

Berdasarkan kondisi kestabilan atmosfer didapat pada tabel 1 kemudian perlu pendekatan dengan menggunakan bilangan Richardson. Setelah diketahui kecepatan angin dan huruf intensitas matahari, maka dapat dilanjutkan dengan mengaplikasikan parameter dalam tabel 2 berikut :

Tabel 2 Nilai Parameter Untuk Model DFLS (Chock, 1978)

Parameter Stabil (Ri>0.07) Pasquil (E-F) Neutral (0.07 >Ri>-0.1) Pasquil (C-D)

Tidak Stabil (Ri >-0.1) PasquIl (A-B) a 1.49 1.14 1.14 b 0.15 0.10 0.05 c 0.77 0.97 1.33 α 20.7 11.1 11.1 β 5.82 3.46 3.46 ƴ 3.57 3.50 3.5 U1 0.18 0.27 0.27 U0 0.23 0.38 0.63

Untuk mengetahui kecepatan angin efektif, perlu mengaplikasikan persamaan berikut :

Ūe = (ū sin θ + Uo)

Vertical dispersion coefficient (σz) tergantung

pada jarak dari sumber (x) dan stabilitas atmosfer. Persamaan yang digunakan untuk menentukan nilai (σz) adalah :

σz =

!

" + #

$

sin )%

*+

,

Tinggi efektif sumber (ho) adalah penjumlahan dari tinggi line source (H) dan kenaikan emisi (Hp).

Untuk mendapatkan ho dapat menggunakan

persamaan berikut:

(4)

3

2.3. Verifikasi Hasil

Hasil dari keluaran model akan diverifikasi dengan melakukan perbandingan terhadap hasil sampling lapangan. Galat nilai konsentrasi hasil model dengan sampling dihitung berdasarkan rumusan sebagai berikut :

-"."/ = 012345 1672

1234 8 x 100 %

3. Hasil dan Pembahasan 3.1. Beban Emisi Total

Gambar 1 Total Beban Emisi Kendaraan Sabtu 26 Januari 2008

Gambar 2 Total Beban Emisi Kendaraan Minggu 27 Januari 2008

Pada hari libur beban emisi maksimum kendaraan terjadi pada sore hari yaitu jam 15.30-16.30 WIB. Untuk hari Sabtu beban emisi adalah 497 g/jam dan untuk hari Minggu adalah 562 g/jam.

Gambar 3 Total Beban Emisi Kendaraan Senin 28 Januari 2008

Gambar 4 Total Beban Emisi Kendaraan Selasa 29 Januari 2008

Untuk hari Senin pada jam 08.30-09.30 WIB dan 17.30-18.30 WIB beban emisi adalah 412 g/jam dan 417 g/jam. Untuk hari Selasa adalah 415 g/jam dan 420 g/jam.

3.2. Konsentrasi SO2

Dari hasil beban emisi kemudian didapatkan

konsentrasi SO2. Konsentrasi ini menunjukkan

rata-rata maksimum pada pagi hari yaitu pukul 06.30 sampai dengan 09.30 WIB. Konsentrasi rata-rata

maksimum pada pagi hari adalah 6,3 μg/m3.

Konsentrasi untuk siang hari pada jam 11.30-14.30

WIB adalah 3 μg/m3. Konsentrasi untuk sore hari pada

jam 15.30-18.30 WIB adalah 4,5 μg/m3. Konsentrasi

harian SO2 adalah sekitar 4,6 μg/m3.

0 100 200 300 400 500 600 B e b a n E m is i (g /j a m ) Waktu (jam)

Total Beban Emisi Sabtu 26 januari 2008

Total Beban Emisi

0 100 200 300 400 500 600 B e b a n E m is i (g /j a m ) Waktu (jam)

Total Beban Emisi Minggu 27 Januari 2008

Total Beban Emisi

0 100 200 300 400 500 600 B e b a n E m is i (g /j a m ) Waktu (jam)

Total Beban Emisi Senin 28 Januari 2008

Total Beban Emisi

0 100 200 300 400 500 600 B e b a n E m is i (g /j a m ) Waktu (jam)

Total Beban Emisi Selasa 29 Januari 2008

(5)

4

3.3. Hubungan Konsentrasi SO2 dengan

Kelembaban, Curah Hujan, dan Intensitas Matahari

Gambar 5 Perbandingan konsentrasi SO2 model dengankelembaban Sabtu 26 Januari 2008

Gambar 6 Perbandingan konsentrasi SO2 model dengan curah hujan Sabtu 26 Januari 2008

Gambar 7 Perbandingan konsentrasi SO2 model dengan intensitas matahari Sabtu 26 Januari 2008

Dari gambar di atas dapat dilihat pada pagi hari

konsentrasi SO2 adalah 9,06 μg/m3, siang konsentrasi

SO2 adalah 2,8 μg/m3, dan sore hari adalah 5.94

μg/m3. Sedangkan untuk kelembaban pada pagi hari

adalah 77,15 %. siang hari adalah 67,54 %, sore hari adalah 87,41 %. Perbandingan pagi dan siang hari

untuk konsentrasi dan kelembaban adalah ∆C = 6.26

μg/m3 dan ∆RH = 9,62%. Perbandingan siang dan sore

hari untuk kelembaban adalah ∆C = 3,14 μg/m3 dan

∆RH = 19,87%. Hal ini menunjukkan bahwa

konsentrasi dan kelembaban memiliki hubungan positif. Dimana konsentrasi naik seiring dengan naiknya kelembaban dan sebaliknya. Akan tetapi pengaruh parameter ini berkisar kecil terhadap

konsentrasi SO2.

Dari gambar di atas dapat dilihat pada pagi hari

konsentrasi SO2 adalah 9,06 μg/m3, siang konsentrasi

SO2 adalah 2,8 μg/m3, dan sore hari adalah 5.94

μg/m3. Sedangkan untuk curah hujan pada pagi hari

adalah tidak ada hujan, siang hari adalah 0,88 mm, sore hari adalah 6,9 mm. Perbandingan pagi dan siang

hari untuk konsentrasi dan curah hujan adalah ∆C =

6.26 μg/m3 dan ∆CH = 0,88 mm. Perbandingan siang

dan sore hari adalah ∆C = 3,14 μg/m3 dan ∆CH = 6,05

mm. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi dan curah hujan tidak memiliki korelasi.

Dari gambar di atas dapat dilihat pada pagi hari

konsentrasi SO2 adalah 9,06 μg/m

3

, siang konsentrasi

SO2 adalah 2,8 μg/m3, dan sore hari adalah 5.94

μg/m3. Sedangkan untuk intensitas matahari pada pagi

hari adalah 152 W/m2. siang hari adalah 667 W/m2,

sore hari adalah 57 W/m2. Perbandingan pagi dan siang hari untuk konsentrasi dan intensitas matahari

adalah ∆C = 6.26 μg/m3 dan ∆Im = 515 W/m2.

Perbandingan siang dan sore hari untuk konsentrasi

dan intensitas matahari adalah ∆C = 3,14 μg/m3 dan

∆Im = 610 W/m2. Hal ini menunjukkan bahwa

konsentrasi dan intensitas matahari memiliki

hubungan negatif. Dimana konsentrasi naik seiring

dengan berkurangnya intensitas matahari dan

sebaliknya.

Gambar 8 Perbandingan konsentrasi SO2 model dengan kelembaban Minggu 27 Januari 2008

0 20 40 60 80 100 0 2 4 6 8 10 R H ( % ) C ( u g ra m /m 3 ) Waktu (jam) SO2Terhadap RH Konsentrasi SO2 (ugram/m3) Kelembaban (%) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 0 2 4 6 8 10 C H ( m m ) C ( u g ra m /m 3 ) Waktu (jam) SO2 Terhadap CH Konsentrasi SO2 (ugram/m3) Curah Hujan (mm) 0 100 200 300 400 500 600 700 800 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Im ( W /m 2 ) C ( u g ra m /m 3 ) Waktu (jam) SO2 Terhadap Im Konsentrasi SO2 (ugram/m3) Intensitas Matahari (W/m2) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 0 1 2 3 4 5 6 R H ( % ) C ( u g ra m /m 3 ) Waktu (jam) SO2 Terhadap RH Konsentrasi SO2 (ugram/m3) Kelembaban (%)

(6)

5

Gambar 9 Perbandingan konsentrasi SO2 model dengan curah hujan Minggu 27 Januari 2008

Gambar 10 Perbandingan konsentrasi SO2 model dengan intensitas matahari Minggu 27 Januari 2008

Dari gambar di atas dapat dilihat pada pagi hari

konsentrasi SO2 adalah 2,93 μg/m3, siang konsentrasi

SO2 adalah 3,9 μg/m3, dan sore hari adalah 5.4 μg/m3.

Sedangkan untuk kelembaban pada pagi hari adalah 81,5 %. siang hari adalah 61,87 %, sore hari adalah 86,97 %. Perbandingan pagi dan siang hari untuk

konsentrasi dan kelembaban adalah ∆C = 0.97 μg/m3

dan ∆RH = 19,6%. Perbandingan siang dan sore hari

untuk kelembaban adalah ∆C = 1,5 μg/m3 dan ∆RH =

25 %. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi dan kelembaban tidak memiliki korelasi.

Dari gambar di atas dapat dilihat pada pagi hari

konsentrasi SO2 adalah 2,93 μg/m

3

, siang konsentrasi

SO2 adalah 3,9 μg/m3, dan sore hari adalah 5.4 μg/m3.

Sedangkan untuk curah hujan pada pagi dan siang hari adalah tidak ada hujan, sore hari adalah 14,07 mm. Perbandingan siang dan sore hari untuk konsentrasi

dan curah hujan adalah ∆C = 1,5 μg/m3 dan ∆CH = 1,5

mm. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi dan curah hujan memiliki hubungan positif. Dimana konsentrasi naik seiring dengan hujan dan sebaliknya. Dari gambar di atas dapat dilihat pada pagi hari

konsentrasi SO2 adalah 2,93 μg/m3, siang konsentrasi

SO2 adalah 3,9 μg/m

3

, dan sore hari adalah 5.4 μg/m3.

Sedangkan untuk intensitas matahari pada pagi hari

adalah 209 W/m2. siang hari adalah817 W/m2, sore

hari adalah 117 W/m2. Perbandingan pagi dan siang

hari untuk konsentrasi dan intensitas matahari adalah

∆C = 0.97 μg/m3 dan ∆Im = 608 W/m2. Perbandingan

siang dan sore hari untuk konsentrasi dan intensitas

matahari adalah ∆C = 1,5 μg/m3 dan ∆Im = 701 W/m2.

Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi dan intensitas tidak memiliki korelasi.

Gambar 11 Perbandingan Konsentrasi SO2 model dengan kelembaban Senin 28 Januari 2008

Gambar 12 Perbandingan konsentrasi SO2 model dengan intensitas matahari Senin 28 Januari 2008

Dari gambar di atas dapat dilihat pada pagi hari

konsentrasi SO2 adalah 7,8 μg/m3, siang hari

konsentrasi SO2 adalah 1,4 μg/m3, dan sore hari adalah

1,99 μg/m3. Sedangkan untuk kelembaban pada pagi

hari adalah 82,5 %. siang hari adalah 64,7 %, sore hari adalah 72 %. Perbandingan pagi dan siang hari untuk

konsentrasi dan kelembaban adalah ∆C = 6.4 μg/m3

dan ∆RH = 17,8%. Perbandingan siang dan sore hari

untuk kelembaban adalah ∆C = 0,62 μg/m3 dan ∆RH =

7,3%. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi dan kelembaban memiliki hubungan positif. Dimana konsentrasi naik seiring dengan naiknya kelembaban dan sebaliknya. Akan tetapi pengaruh parameter ini

berkisar kecil terhadap konsentrasi SO2

.

Dari gambar di atas dapat dilihat pada pagi hari

konsentrasi SO2 adalah 7,8 μg/m3, siang hari

konsentrasi SO2 adalah 1,4 μg/m3, dan sore hari adalah

1,99 μg/m3. Sedangkan untuk intensitas matahari pada

pagi hari adalah 230 W/m2, siang hari adalah 313

W/m2, sore hari adalah 52 W/m2. Perbandingan pagi

dan siang hari untuk konsentrasi dan kelembaban 0 2 4 6 8 10 12 14 16 0 1 2 3 4 5 6 C H ( m m ) C ( u g ra m /m 3 ) Waktu (jam) SO2 Terhadap CH Konsentrasi SO2 (ugram/m3) Curah Hujan (mm) 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 0 1 2 3 4 5 6 Im ( W /m 2 ) C ( u g ra m /m 3 ) Waktu (jam) SO2 Terhadap Im Konsentrasi SO2 (ugram/m3) Intensitas Matahari (W/m2) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 R H ( % ) C ( u g ra m /m 3 ) Waktu (jam) SO2 Terhadap RH Konsentrasi SO2 (ugram/m3) Kelembaban (%) 0 50 100 150 200 250 300 350 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Im ( W /m 2 ) C ( u g ra m /m 3 ) Waktu (jam) SO2 Terhadap Im Konsentrasi SO2 (ugram/m3) Intensitas Matahari (W/m2)

(7)

6

adalah ∆C = 6.4 μg/m3 dan ∆Im = 83 W/m2.

Perbandingan siang dan sore hari untuk kelembaban

adalah ∆C = 0,62 μg/m3 dan ∆Im = 261 W/m2. Hal ini

menunjukkan bahwa konsentrasi dan intensitas

matahari memiliki hubungan negatif. Dimana

konsentrasi naik dengan berkurangnya intensitas matahari dan sebaliknya.

Gambar 13 Perbandingan konsentrasi SO2 model dengan kelembaban Selasa 29 Januari 2008

Gambar 14 Perbandingan konsentrasi SO

2

model

dengan curah hujan Selasa 29

Januari

2008

Gambar 15 Perbandingan konsentrasi SO2 model dengan intensitas matahari Selasa 29 Januari

2008

Dari gambar di atas dapat dilihat pada pagi hari

konsentrasi SO2 adalah 5,34 μg/m3, siang hari

konsentrasi SO2 adalah 3,9 μg/m3, dan sore hari adalah

4,65 μg/m3. Sedangkan untuk kelembaban pada pagi

hari adalah 81,4 %. siang hari adalah 85 %, sore hari

adalah 86,7 %. Perbandingan pagi dan siang hari

untuk konsentrasi dan kelembaban adalah ∆C = 1.36

μg/m3 dan ∆RH = 3,6%. Perbandingan siang dan sore

hari untuk kelembaban adalah ∆C = 0,67 μg/m3 dan

∆RH = 1,74%. Hal ini menunjukkan bahwa

konsentrasi dan kelembaban tidak memiliki hubungan. Dari gambar di atas dapat dilihat pada pagi hari

konsentrasi SO2 adalah 5,34 μg/m3, siang konsentrasi

SO2 adalah 3,9 μg/m

3

, dan sore hari adalah 4,65

μg/m3. Sedangkan untuk curah hujan pada pagi hari

adalah tidak ada hujan. siang hari adalah 18,2 mm, sore hari adalah tidak ada hujan. Perbandingan pagi dan siang hari untuk konsentrasi dan curah hujan

adalah ∆C = 1.36 μg/m3 dan ∆CH = 18,21 mm.

Perbandingan siang dan sore hari untuk konsentrasi

dan curah hujan adalah ∆C = 0,67 μg/m3 dan ∆CH =

18,21 mm. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi dan curah hujan memiliki hubungan negatif. Dimana konsentrasi naik ketika tidak ada hujan dan sebaliknya.

Dari gambar di atas dapat dilihat pada pagi hari

konsentrasi SO2 adalah 5,34 μg/m

3

, siang hari

konsentrasi SO2 adalah 3,9 μg/m

3

, dan sore hari adalah

4,65 μg/m3. Sedangkan untuk intensitas matahari pada

pagi hari adalah 225 W/m2, siang hari adalah 364

W/m2, sore hari adalah 56 W/m2. Perbandingan pagi

dan siang hari untuk konsentrasi dan intensitas

matahari adalah ∆C = 1.36 μg/m3 dan ∆Im = 139

W/m2. Perbandingan siang dan sore hari untuk

konsentrasi dan matahari adalah ∆C = 0,67 μg/m3 dan

∆Im = 308 W/m2. Hal ini menunjukkan bahwa

konsentrasi dan intensitas matahari memiliki

hubungan negatif. Dimana konsentrasi naik dengan berkurangnya intensitas matahari dan sebaliknya.

Dari parameter-parameter meteorologi yang

telah dibandingkan dengan konsentrasi SO2 hasilnya

bervariasi. Hal ini dapat terjadi karena senyawa SO2

itu sendiri yang bersifat sangat reaktif sehingga kenaikan atau penurunan konsentrasi dapat terjadi

karena faktor lain, yaitu penggabungan SO2 itu sendiri

dengan zat-zat lain di udara.

3.4. Validasi Konsentrasi SO2

Konsentrasi SO2 pada daerah sampling lebih

besar dibandingkan dengan konsentrasi simulasi

model, hal ini dikarenakan masuknya polutan SO2 dari

berbagai sumber lain pada daerah observasi. Dari perhitungan nilai eror didapat nilai eror terkecil sebesar 5.10% pada hari Sabtu 26 Januari 2008 pukul 15.30-16.30 WIB.

Tabel 3 Nilai Konsentrasi SO2 Hasil Sampling dengan Hasil Model Tanggal Waktu Simulasi (μg/m3) Sampling (μg/m3) Galat 26 Januari 2008 07.30-08.30 14.79 46.9 68.46 % 26 Januari 2008 15.30-16.30 5.92 5.63 5.10% 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 0 2 4 6 R H ( % ) C ( u g ra m /m 3 ) Waktu (jam) SO2 Terhadap RH Konsentrasi SO2 (ugram/m3) Kelembaban (%) 0 5 10 15 20 0 1 2 3 4 5 6 C H ( m m ) C ( u g ra m /m 3 ) Waktu (jam) SO2 Terhadap CH Konsentrasi SO2 (ugram/m3) Curah Hujan (mm) 0 100 200 300 400 0 1 2 3 4 5 6 Im ( W /m 2 ) C ( u g ra m /m 3 ) Waktu (jam) SO2 Terhadap Im Konsentrasi SO2 (ugram/m3) Intensitas Matahari (W/m2)

(8)

7

26 Januari 2008 16.30-17.30 8.07 7.39 9.25% 26 Januari 2008 17.30-18.30 3.84 10.07 61.87 % 27 Januari 2008 08.30-09.30 3.47 8.36 58.49 % 27 Januari 2008 16.30-17.30 8.49 5.09 66.61 % 28 Januari 2008 07.30-08.30 11.13 56.59 80.33 % 28 Januari 2008 08.30-09.30 7.71 41.71 81.52 % 28 Januari 2008 12.30-13.30 0.72 9.12 92.15 % 28 Januari 2008 16.30-17.30 1.41 9.77 85.57 % 29 Januari 2008 13.30-14.30 6.17 8.12 23.98 % 4. Kesimpulan

Dari hasil model DFLS menunjukkan bahwa

konsentrasi rata-rata maksimum SO2 di gerbang tol

Pasteur terjadi pada pagi hari yaitu pukul 06.30 sampai dengan 09.30 WIB dengan konsentrasi

rata-rata maksimum sebesar 6,3 μg/m3. Konsentrasi ini

dipengaruhi oleh beban emisi kendaraan. Dalam hal

hubungannya dengan kelembaban, curah hujan, dan intensitas matahari, hasilnya bervariasi sehingga dapat dikatakan parameter meteorologi tidak berpengaruh

langsung terhadap konsentrasi SO2.

Hal ini dapat terjadi karena senyawa SO2 itu

sendiri yang bersifat sangat reaktif sehingga kenaikan atau penurunan konsentrasi dapat terjadi karena faktor

lain, yaitu penggabungan SO2 itu sendiri dengan

zat-zat lain di udara. Selain itu juga dikarenakan faktor model DFLS ini sendiri, karena dalam model hanya memasukkan koefisien dispersi atmosferik pada basis kecepatan angin dan temperatur, tidak dimasukkannya sinar matahari dan tutupan awan pada koefisien dispersi atmosferik. Selain itu pengaruh inversi juga harus diteliti lebih lanjut untuk mendapatkan prediksi yang akurat dan lengkap.

5. Daftar Pustaka

Wardhana, Wisnu Arya. (2004). Dampak Pencemaran Lingkungan.Yogyakarta: Penerbit Andi Yogyakarta.

Chock, D.P., 1978. “A simple line source model for

dispersion near roadways. Atmos-pheric Environment”, 12

(4), 823- 829.

Khare, M. dan Sharma, P. 2007. An Empirically Modified

Traffic Forecasting Model For Delhi. India

Khaled, S. M, Essa. M, dkk. 2006. Estimation of Seasonal

Atmospheric Stability and Mixing Height by Using Different Scheme. Radiation Physics & Protection

Conference

Khare, M. dan Nagendra, S.M.S. 2006. Artificial Neural

Networks in Vehicular Pollution Modelling. Indian Institute

of Technology Madras. India

Pasquil, F.1961. The Estimation Of The Dispersion Of Wind

Borne Material. Meteorological Magazine, 90,33-49

Sharma, P. Khare, M. and Chakrabarti, S.P. 1999.

Application of Extreme Value Theory ForPredicting Violations Of Air Quality Standards For An Urban Road Intersection. Transportation Research D4,

201-216.

Soedomo. 2000. Pencemaran Udara, Kumpulan Karya Ilmiah, Institut Teknologi Bandung.

Gambar

Tabel 1 Klasifikasi Stabilitas Udara Pasquil (Khaled et  al, 2006)  Kecepatan  angin  (m/s)  Siang  1jam  sebelum  matahari  terbit/setelah  matahari  tenggelam Intensitas radiasi matahari
Gambar 4 Total Beban Emisi Kendaraan Selasa 29 Januari  2008
Gambar 7 Perbandingan konsentrasi SO 2  model dengan
Gambar 12 Perbandingan konsentrasi SO 2  model dengan
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengukuran kadar kalium pada bubuk bawang putih dengan berbagai variasi suhu pengeringan dapat dilihat pada Gambar 6.. Kalium bubuk bawang putih dengan variasi

Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung, dan ke dalamnya termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari

Pada aktivitas mental, terbagi menjadi 5 indikator kinerja yaitu siswa yang memperhatikan contoh dari guru, siswa yang bekerja sama dengan teman saat proses

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) ada atau tidaknya perbedaan pengaruh model blended learning dan learning cycle 7E terhadap kemampuan kognitif

soils from Indonesia, the results of standard penetration tests and seismic down hole tests from three locations in Jakarta area are compiled and analyzed.. The focus of the

DLNA dibagun diatas protokol uPnP (universal Plug and Play) yang memungkinkan perangkat untuk menemukan satu sama lain menggunakan pesan broadcast.dalam penerapannya di

Webinar terlaksana bersama 52 peserta yang terdiri dari 43,1% pelaku usaha dan 59, 6% masyarakat yang berdomisili area danau Maninjau, Hasil pra-survey menunjukkan bahwa nilai TCR

Didapatkan perbedaan yang bermakna pada cukup tinggi, tindakan skrining yang dilanjutkan dengan angka resistensi antibiotik chloramphenicol pada dekolonisasi bakteri