• Tidak ada hasil yang ditemukan

7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori - Nurma Ratri Lestari Bab II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori - Nurma Ratri Lestari Bab II"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Hakikat Moral

a) Pengertian Moral

Moral merupakan penjabaran nilai, tapi tidak seoperasional etika (Syahidin, 2009 : 239). Menurut Lilie, kata moral berasal dari kata mores / bahasa latin yang berarti tata cara dalam kehidupan atau adat istiadat. Dewey mengatakan bahwa moral sebagai hal-hal yang berhubungan dengan nilai-nilai susila. Sedangkan Baron, bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar. Oleh Magnis-Suseno dikatakan bahwa kata moral selalu mengacu pada baik buruknya manusia sebagai manusia (Budiningsih, 2008 : 24).

Sedangkan menurut tokoh lain di papaparkan seperti menurut Daradjat dalam Ernawati (2005 : 21) bahwa :

moral adalah tata cara, adat istiadat, kebiasaan, akhlak, kelakuan, kesusilaan, berupa nilai yang sebenarnya bagi manuisa yang sesuai dengan ukuran-ukuran (nilai-nilai) masyarakat, yang ditimbulkan dari hati dan bukan paksaan dari luar yang disertai pula oleh rasa tanggung jawab atas kelakuan (tindakan tersebut).

(2)

tindakannya. Menurut Muhammad (2008 : 69) bahwa nilai moral adalah nilai atau hasil perbuatan yang baik. Dengan demikian, moral merupakan kendali dalam bertingkah laku.

b) Identitas Moral

Masalah identifikasi individu dan komitmen bersama pada norma-normanya yang sarat nilai, menurut Blasi dalam Nucci (2016 : 49) bahwa identitas moral tidak jauh dari model diri tindakan moralnya. Misalnya, jika pertimbangan moral sangat penting untutk diri esensial (the essential self), maka integritas diri (self integrity) akan bergantung pada apakah seseorang konsisten diri (self consistent) dalam tindakan. Dan gagal bertindak dengan cara yang konsistem diri pada apa yang sentral, esensial, dan penting bagi identitas moral sseorang beresiko pada pengkhianatan diri (self betrayal).

(3)

Aquino dan Reed juga mendefinisikan identitas moral sebagai konsepsi diri yang dianugerahi oleh sifat-sifat moral tertentu (misalnya, peduli,kasih sayang, adil, ramah, dermawan, suka menolong, pekerja keras, jujur, baik hati). Sifat-sifat ini kemudian berfungsi untuk mengerakkan identitas moral seseorang ketika menilai arti penting diri dari sifat-sifat ini pada instrumen identitas moral. Analisis faktor instrumen ini mengungkapkan dua faktor : faktor simbolisasi (sejauh mana ciri-ciri ini tercermin dalam tindakan publik seseorang), dan faktor internalisasi (sejauh mana sifat-sifat moral ini sangat penting bagi konsep diri seseorang).

(4)

c) Penalaran Moral

Perkembangan moral berpengaruh pada penalaran moral, seperti yang diungkapkan oleh Piaget dalam Nucci (2016 : 78) yang membedakan dua jenis penalaran moral, masing-masing memiliki pemahaman yang berbeda akan rasa hormat, keadilan, dan hukuman :

1. Moralistas heteronom. Awalnya moralitas didasarkan pada rasa

hormat sepihak otoritas dan aturan-aturan yang mereka terapkan. Dari perspektif heteronom, keadilan dipahami sebagai kepatuhan pada otoritas dan kesesuaian dengan aturan suci mereka, konsekuensi dipahami sebagai kerusakan nyata tujuan, yang lebih relevan daripada niat, hukuman penebusan adalah cara yang disukai untuk memperbaiki perilaku.

2. Moralitas otonom. Dari perspetif otonom, moralitas didasarkan pada

saling menghormati, ketimbal balikkan, dan kesetaraan di antara rekan-rekan sebaya. Keadilan dipahami sebagai kerja sama dan pertukaran timbal balik yang disepakati bersama. Tujuan dipahami sebagai berhubungan niat dan konsekuensi dapat ditangkap secara bersamaan, hukum timbal balik lebih disukai.

d) Unsur-unsur Moralitas

(5)

1. Semangat disiplin. Disiplin meliputi tindakan yang konsisten dan peri laku yang dapat diandalkan, menghormati norma-norma sosial, dan arti otoritas. Disiplin membebaskan kita dari kebutuhan untuk merancang setiap solusi untuk setiap situasi dari awal. Hanya dengan menetapkan batas-batas, anak-anak dapat dibebaskan dari frustasi yang tak bisa dihindari dari tidak pernah berhenti berusaha.

2. Keterikatan pada kelompok sosial dan semangat altruisme. Unit perilaku moral dan pendidikan moral adalah kelompok atau masyarakat. Moralirtas bagi Durkheim, merupakan kegiatan sosial atau interpersonal. Tindakan mementingkan diri sendiri atau egois tidak pernah dianggap sebagai moral oleh Durkheim. Kita adalah makhluk yang bermoral hanya karena kita adalah makhluk sosial. Dengan demikian, moralitas mengharuskan kita terikat pada atau terhubung dengan kelompok. Hanya ketika seorang anak secara sistematis dibiasakan pada warisan budaya masyarakatnya, anak dapat mewujudkan arti identitas sosial dan altruisme.

(6)

Durkheim membedakan otonomi dari ketundukan. Otonomi memerlukan keputusan pribadi, mengetahui sepenuhnya akan konsekuensi dari berbagai tindakan yang berbeda, setia pada masyarakatnya dan melakukan tugasnya. Individu menjadi makhluk moral ketika mereka menjadi sadar akan keterlibatan mereka dalam masyarakat yang di situ mereka ingin mengikatkan kewajibannya. e) Ciri-ciri Nilai Moral

Menurut K. Bertens, (2007 : 143-147) bahwa nilai-nilai moral mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. Berkaitan dengan tanggung jawab kita

Nilai moral berkaitan dengan pribadi manusia. Tapi hal yang sama dapat dikatakan juga tentang nilai-nilai lain. Yang khusus menandai moral ialah bahwa nilai ini berkaitan dengan pribadi manusia yang bertanggung jawab. Nilai-nilai moral mengakibatkan bahwa seseorang bersalah atau tidak bersalah, karena ia bertanggung jawab. Suatu nilai moral hanya bisa diwujudkan dalam perbuatan-perbuatan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang bersangkutan.

b. Berkaitan dengan hati nurani

(7)

menimbulkan “suara” dari hati nurani yang menuduh kita bila

meremehkan atau menentang nilai-nilai moral dan memuji kita bila mewujudkan nilai-nilai moral.

c. Mewajibkan

Kewajiban absolut yang melekat pada nilai-nilai moral berasal dari kenyataan bahwa nilai-nilai ini berlaku bagi manusia sebagai manusia. Kewajiban absolut yang melekat pada nilai-nilai moral berasal dari kenyataan bahwa nilai-nilai ini menyangkut manusia sebagai manusia. Karena itu kewajiban moral tidak datang dari luar, tidak ditentukan oleh instansi lain, tapi berakar dalam kemanusiaan kita sendiri.

d. Bersifat Formal

Nilai moral tidak merupakan suatu jenis nilai yang bisa ditempatkan begitu saja di samping jenis-jenis nilai lainnya. Biarpun nilai-nilai moral merupakan nilai-nilai tertinggi yang baru dihayati di atas semua nialai lain, namun itu tidak berarti bahwa nilai-nilai ini menduduki jenjang teratas dalam suatu hierarki nilai-nilai. Tidak ada nilai-nilai moral yang “murni”, terlepas dari nilai-nilai lain. Hal itulah yang kita maksudkan dengan mengatakan bahwa nilai moral bersifat formal.

f) Metode Pendidikan Moral

(8)

a. Pendidikan secara langsung, yaitu dengan cara mempergunakan petunjuk, tuntunan, nasehat, menyebutkan manfaat dan bahayanya sesuatu. Seperti menjelaskan hal-hal yang bermanfaat dan yang tidak, menuntun kepada amal-amal baik, mrndorong berbudi pekerti yang tinggi dan menghindari hal-hal tercela b. Pendidikan secara tidak langsung, yaitu dengan jalan sugesti.

Seperti berkata benar, jujur dalam perkataan, adil dalam menimbang, suka berterus terang, berani dan ikhlas

c. Mengambil manfaat dari kecenderungan dan pembawaan anak-anak dalam rangka pendidikan akhlak

Salah satu komponen dalam pendidikan yaitu masyarakat. Masyarakat juga harus berperan menjadi pengontrol moral tersebut. Untuk memupuk rasa sosial ini dibutuhkan kesadaran yang tinggi dari tiap-tiap individu masyarakat, bahwa ia juga mempunyai tanggung jawab dalam pendidikan.

2. Hakikat Masyarakat

a) Pengertian Masyarakat

Dalam bahasa Inggris masyarakat disebut society, asal katanya socius yang berarti kawan. Adapun kata “masyarakat” berasal dari

(9)

Dalam arti yang lebih khusus masyarakat disebut pula kesatuan sosial yang mempunyai ikatan-ikatan kasih sayang yang erat. Kemantapan unsur-unsur masyarakat mempengaruhi struktur sosial. Maka integrasi masyarakat dimana tindakan individu dikendalikan, dan hanya akan nampak bila diabstrakan secara induksi dari kenyataan hidup masyarakat yang konkret.

b) Fungsi Masyarakat

Keberadaan masyarakat sangat berpengaruh bagu individu-individu yang hidup di dalamnya. Setiap individu-individu tidak mungkin hidup tanpa bergaul dengan keadaan masyarakat. Selain itu juga banyak hal yang dapat diperoleh dari kehidupan bermasyarakat. Salah satunya yaitu adanya fungsi masyarakat. Menurut Soekanto (2015 : 109) secara fungsional mempergunakan patokan-patokan sebagai berikut:

a. Fungsi mempertahankan pola

Fungsi mempertahankan pola termasuk dalam kerangka hubungan antara masyarakat sebagai system sosial, dengan sub-sistem budaya sebagai sub-sub-sistem gerak sosial. Suatu sub-sub-sistem budaya memberikan jawaban terhadap masalah- masalah mengenai faktor-faktor dasar kehidupan manusia, yang pada hakikatnya berkisar pada falsafah hidupnya. Falsafah hidup tersebut kemudian terwujud di dalam system nilai-nilai.

b. Faktor integrasi

(10)

sosial (agar bagian-bagian tadi berfungsi sebagai suatu keseluruhan atau kesatuan). Hal ini mencakup identitas masyarakat, keanggotaan seseorang dalam masyarakat, dan susunan normative dari bagian-bagian tersebut.

c) Unsur-unsur Masyarakat

Adanya bermacam-macam wujud kesatuan berbagai manusia menyebabkan memerlukan istilah untuk menyebut kesatuan khusus yang merupakan unsur dari masyarakat. Adapun unsur masyarakat seperti yang di paparkan oleh Setiadi (2006 : 84) bahwa terdapat beberapa unsur dalam masyarakat :

a. Kumpulan orang

b. Sudah terbentuk dengan lama

c. Sudah memiliki system dan struktur sosial tersendiri

d. Memiliki kepercayaan (nilai), sikap, dan perilaku yang dimiliki bersama

e. Adanya kesinambungan dan pertahanan diri f. Memiliki kebudayaan

d) Masyarakat Setempat

(11)

Dengan demikian, masyarakat setempat mempunyai ikatan solidaritas yang kuat sebagai pengaruh kesatuan tempat tinggalnya serta sadar akan peranannya dalam masyarakat itu sendiri. Adapun menurut Kingsley Davis dalam Soekanto (2015 : 132) bahwa dalam mengadakan klasifikasi masyarakat setempat, dapat digunakan empat kriteria yang saling berpautan, yaitu :

a. Jumlah penduduk

b. Luas, kekayaan dan kepadatan daerah pedalaman

c. Fungsi-fungsi khusus masyarakat setempat terhadap seluruh masyarakat

d. Organisasi masyarakat setempat yang bersangkutan

Kriteria diatas dapat digunakan untuk membedakan antara bermacam-macam jenis masyarakat setempat yang sederhana dan moderm, serta antara masyarakat pedesaan dan perkotaan.

e) Masyarakat Pedesaan

Menurut Koentjaraningrat dalam Soelaeman (2009 : 130), suatu masyarakat desa menjadi suatu persekutuan hidup dan kesatuan sosial didasarkan atas dua macam prinsip yang pertama, prinsip hubungan kekerabatan (geneologis) dan kedua, prinsip hubungan tinggal dekat / teritorial. Prinsip ini tidak lengkap apabila yang mengikat adanya aktivitas tidak diikutsertakan, yaitu:

a. Tujuan khusus yang ditentukan oleh faktor ekologis

(12)

berbeda-beda, mungkin dengan hubungan tiap individu yang dimulai dengan lingkungan kecil mencakup kerabat dan tetangga dekat, atau dengan hubungan terjaring dimana orang bergaul untuk suatu lapangan kehidupan dalam batas lingkungan sosial tertentu, dalam hal ini dapat tejadi hubungan tempat tinggal dekat, kebutuhan khusus, ekologi, atau kekerabatan.

Sedangkan menurut Soelaeman (2009 : 132) bahwa masyarakat pedesaan ditentukan oleh basis fisik dan sosialnya, seperti ada kolektivitas, petani individu, tuan tanah, buruh tani, pemaro, dan lain-lain. ciri lain bahwa desa terbentuk erat kaitannya dengan naluri alamiah untuk mempertahankan kelompoknya, melalui kekerabatan tinggal bersama dalam memenuhi kebutuhannya.

(13)

B. Kerangka Berfikir

Gambar 2.1 Kerangka Berfikir

Kurangnya penanaman nilai-nilai moral pada

masyarakat

Kajian tentang penanaman nilai-nilai moral pada

masyarakat

Internalisasi

Bertanggung

Jawab

Diharapkan dapat menjadi masyarakat yang

(14)

C. Hasil Penelitian yang Relevan

Dalam penyusunan skripsi ini, peneliti menemukan beberapa penelitian yang relevan yaitu dari hasil peneliti sebelumnya. Kajian yang relevan tersebut antara lain adalah:

1. Topik Moral

Penelitian yang dilakukan oleh Sri Pujiati (2015) yang berjudul “Faktor

Determinan Perubahan Perilaku Moral Remaja yang Tinggal Terpisah dengan Orang Tuanya (Studi Kasus terhadap Remaja Pelaku Penyimpangan Sosial di Desa Wanasari Kabupaten Sumedang” yang menyatakan bahwa faktor internal yang berperan dalam menyebabkan remaja di Desa Wanasari yang tinggal terpisah dengan orang tuanya mengalami perubahan perilaku moral kemudian melakukan penyimpangan sosial terbagi menjadi tiga faktor yakni kurangnya dasar-dasar keimanan di dalam diri remaja, lemahnya pertahanan diri remaja untuk mengontrol diri mereka sendiri dari pengaruh- pengaruh negatif yang datang dankurangnya kemampuan penyesuaian diri remaja terhadap lingkungan sosial.

(15)

2. Topik Nilai-Nilai Moral

Penelitian yang dilakukan oleh Nurul Hidayatul Wahidah (2014) yang berjudul “Nilai-Nilai Moral dalam Teks Pancasila dan Relevansinya

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Berfikir

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Fahmi (2014) bagi investor, informasi mengenai kinerja keuangan perusahaan dapat digunakan untuk mlihat apakah mereka akan mempertahankan investasi mereka di

Menurut Kotler dan Keller (2009) menyatakan bahwa nilai pelanggan merupakan kombinasi kualitas, pelayanan, harga dari suatu produk. Nilai terhantar pada pelanggan adalah

SURABAYA.. pengambil keputusan saat membeli atau menyewa sesuatu. Warna juga dapat meningkatkan brand recognition sebanyak 80%, menurut penelitian yang dilakukan

c. Bahwa pengelolaan lingkungan hidupdilakukan melalui pendekatan terpadu dengan adanya penataan ruang maupun perlindungan unsur- unsur lingkungan hidup. Perubahan

Pemakai harus dapat memperbandingkanlaporan keuangan perusahaan antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerja keuangan. Pemakai juga harus

Dalam teori sakral dan profan dari kedua tokoh yakni Emile Durkheim dan Mircea Eliade, maka dapat dikatakan bahwa bagi Durkheim, yang mensakralkan segala

Menurut Nurlan Kusmaedi (2002:2) ”Rekreasi adalah suatu kegiatan pengisi waktu luang yang melibatkan fisik, mental/emosi dan sosial yang mengandung sifat pemulihan

Begitu juga ketika muncul kebijakan pembatasan perolehan hak milik atas tanah bagi Warga Negara Indonesia keturunan, hendaknya masyarakat juga melihat apa yang