1
A. Latar Belakang Masalah
Kehamilan bagi seorang wanita merupakan hal yang membahagiakan sekaligus menggelisahkan. Dikatakan membahagiakan karena ia akan memperoleh keturunan sebagai pelengkap dan penyempurna fungsinya sebagai wanita, namun juga menggelisahkan karena penuh dengan perasaan takut dan cemas mengenai hal-hal yang buruk yang dapat menimpa dirinya, terutama pada saat proses persalinan. Secara psikologis, ibu hamil mengalami ketakutan, kecemasan, dan berbagai emosi lain yang muncul secara mendadak. Perubahan psikologis yang labil terjadi pada trimester pertama dan biasanya disebabkan oleh ketidaknyamanan fisik, misalnya tubuh yang dulu langsing kini membesar, sehingga dapat menurunkan rasa percaya diri pada ibu hamil. Pada trimester akhir ibu hamil tidak lagi dapat dengan leluasa untuk bergerak. Kondisi psikologis yang labil dapat berpengaruh terhadap pola tidur ibu hamil (Louise, 2006). Selama hamil, sangat normal apabila calon ibu mengalami mood swing. Mood swing adalah perubahan suasana hati yang naik turun secara fluktuatif. Sebagian besar ibu hamil mengalaminya, hanya saja ada yang ringan dan ada yang ekstrim (Kolopaking, 2009).
Kecemasan ibu hamil dapat diuraikan menjadi 2 bentuk kecemasan, yaitu kecemasan terhadap diri sendiri dan kecemasan terhadap anak.
Kecemasan terhadap diri sendiri umumnya berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan. Ibu hamil merasa cemas terhadap kemungkinan komplikasi waktu hamil dan waktu bersalin, cemas terhadap nyeri dan pendarahan waktu bersalin, kekhawatiran tidak segera memperoleh pertolongan ataupun perawatan yang semestinya dan mungkin pula cemas terhadap ancaman bahaya maut. Bahkan, kadang-kadang dapat timbul kecemasan yang tidak langsung berhubungan dengan proses kehamilan, misalnya soal rumah tangga, mata pencaharian suami ataupun mengenai hubungan dengan suami yaitu gangguan seks dengan suami serta kekhawatiran bahwa suami akan meninggalkan istri karena tubuh sudah tidak cantik seperti dulu dan tidak mampu melayani suami dengan baik (Ikarus, 2009). Menjelang persalinan, kecemasan semakin meningkat karena rasa takut terhadap proses kelahiran dan membayangkan rasa sakit, sehingga ibu sulit tidur (Louise, 2006).
Bentuk kecemasan kedua, yaitu kecemasan terhadap anak, berhubungan dengan kemungkinan anak yang dilahirkan cacat, mengalami trauma selama proses kelahiran seperti patah tulang, keguguran, kematian dalam kandungan, kemungkinan beranak kembar, dan berat badan anak yang berlebihan. Berbagai kecemasan ini akan timbul apabila ibu sendiri telah mengalami, melihat atau mendengar hal-hal yang tidak diinginkan telah menimpa tetangga, saudara atau teman (Ikarus, 2009).
Kecemasan yang dirasakan oleh wanita yang sedang hamil, akan berdampak pada janin yang dikandungnya. Banyak penelitian yang
membuktikan bahwa pikiran negatif dapat berdampak buruk bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Menurut Stanley dan Oberta (Lestariningsih, 2005). Ibu hamil yang sering kali merasa khawatir bahkan stres memiliki kecenderungan untuk melahirkan bayi prematur. Hal ini terjadi karena stres dan kecemasan memicu produksi cortiotrophin releasing hormone (CRH), hormon ini juga memiliki fungsi sebagai “tanda” bila persalinan akan tiba. Janin dalam rahim dapat merespon yang sedang dirasakan ibu, misalnya detak jantung ibu. Semakin cepat detak jantung ibu, semakin cepat pula pergerakan janin dalam rahim. Ibu hamil yang mengalami kecemasan atau stres, detak jantungnya akan meningkat dan akan melahirkan bayi prematur atau lebih kecil dari bayi normal lainnya, bahkan mengalami keguguran (Arief, 2008).
Ibu hamil yang mengalami kecemasan dan stres dapat mengakibatkan tekanan darahnya naik. Tekanan darah tinggi atau hipertensi pada ibu hamil dapat menyebabkan bayi yang dilahirkan memiliki berat lahir rendah, bahkan kematian. Menurut Tobing (2007), tekanan darah tinggi atau hipertensi pada ibu hamil dapat berdampak pada pertumbuhan janin yang tidak sempurna, prematur, lahir dengan berat rendah, bahkan kematian ibu dan bayi. Pada ibu hamil yang menderita hipertensi, kecemasan yang dirasakan dapat mempengaruhi kondisi psikologis ibu bahkan sampai ke kondisi janin. Hal ini sesuai dengan pendapat Eisenberg (1996), bahwa ibu hamil dengan hipertensi memiliki rasa cemas, senantiasa berpikir tentang kelangsungan kehidupan janin hingga masa persalinan. Hipertensi didefinisikan secara sederhana
sebagai peningkatan tekanan darah. Poole (dalam Jesen, 2005) menyatakan bahwa hipertensi yang menyertai kehamilan menjadi salah satu penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi. Ibu hamil dengan hipertensi memiliki risiko mengalami komplikasi lebih, seperti penyakit pembuluh darah dan organ, sedangkan janin atau bayi berisiko terkena komplikasi penghambatan pertumbuhan.
Menurut data WHO (World Health Organization), pada tahun 2012 jumlah kasus hipertensi ada 839 juta kasus. Kasus ini diperkirakan akan semakin tinggi pada tahun 2025 dengan jumlah 1,15 miliar kasus atau sekitar 29% dari total penduduk dunia. Secara global, 80% kematian ibu hamil yang tergolong dalam penyebab kematian ibu secara langsung, yaitu disebabkan karena terjadi perdarahan (25%) biasanya perdarahan pasca persalinan, hipertensi pada ibu hamil (12%), partus macet (8%), aborsi (13%) dan karena sebab lain (7%) (WHO, 2012). Berdasarkan data dari WHO (World Health Organization) pada tahun 2005 terdapat 536.000 ibu hamil meninggal akibat hipertensi dalam kehamilan. Kejadian ini terjadi hampir di seluruh dunia. Angka Kematian Ibu (AKI) di Asia Tenggara berjumlah 35 per 100.000 kelahiran hidup. Hasil laporan WHO pada tahun 2005 juga menyatakan bahwa di Indonesia AKI tergolong tinggi dengan 420 per 100.000 kelahiran hidup (WHO, 2005).
Hasil dari SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia) tahun 2012 (Depkes, 2013), menyatakan bahwa sepanjang tahun 2007-2012 kasus
kematian ibu melonjak naik. Pada tahun 2012 AKI mencapai 359 per 100.000 penduduk atau meningkat sekitar 57% bila dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2 2007, yaitu sebesar 228 per 100.000 penduduk. Lima penyebab kematian ibu terbesar adalah perdarahan, hipertensi dalam kehamilan (HDK), infeksi, partus lama/macet dan abortus. Kematian ibu di Indonesia tetap didominasi oleh 3 penyebab utama kematian, yaitu: perdarahan, hipertensi dalam kehamilan (HDK), dan infeksi. Proporsi ketiga penyebab kematian ibu telah berubah, yaitu perdarahan dan infeksi cenderung mengalami penurunan sedangkan HDK proporsinya semakin meningkat. Lebih dari 30% kematian ibu di Indonesia pada tahun 2010 disebabkan oleh HDK (Depkes, 2013).
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa hipertensi merupakan penyakit yang berbahaya, terutama apabila terjadi pada wanita yang sedang hamil. Hal ini dapat menyebabkan kematian bagi ibu dan bagi bayi yang akan dilahirkan. Karena tidak ada gejala atau tanda khas sebagai peringatan dini. Hipertensi dalam kehamilan atau yang disebut dengan preeklampsia, kejadian ini persentasenya 12% dari kematian ibu di seluruh dunia. Kemenkes tahun 2013 menyatakan bahwa hipertensi meningkatkan angka kematian dan kesakitan pada ibu hamil (Depkes, 2013).
Pada tahun 2012 AKI berjumlah 116,34 per 100.000 kelahiran hidup, kejadian ini mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2011 yang jumlahnya sebesar 116,01 per 100.000 kelahiran hidup. AKI pada ibu hamil terjadi pada waktu nifas sebesar 57,93%, kemudian terjadi
pada usia akhir kehamilan sebesar 24,74% dan pada waktu persalinan sebesar 17,33%. Sementara itu berdasarkan kelompok umur, kematian terbanyak terjadi pada ibu hamil usia 20-34 tahun sebesar 66,96%, kemudian pada kelompok umur ≥35 tahun sebesar 26,67% dan pada kelompok umur ≤ 20 tahun sebesar 6,37% (Profil Jateng, 2012). Kasus tertinggi hipertensi terjadi pada seluruh wilayah Jawa Tengah dengan jumlah 554.771 kasus (67,57%) pada tahun 2012. Kasus ini juga termasuk hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia). Jumlah komplikasi pada 3 kehamilan sebanyak 126.806. Dari kasus ini, yang telah tertangani pada tahun 2012 sebanyak 90,81% (Dinkes Jateng, 2012).
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada bidan pada tanggal 19 November 2015 di salah satu rumah bersalin mengenai ibu hamil dengan hipertensi, gejala kecemasan yang dialami oleh ibu hamil yang mengalami hipertensi antara lain jantung berdegup kencang, keringat dingin, sulit tidur, nafsu makan berkurang, khawatir mengenai kondisi kesehatan ibu hamil itu sendiri dan janin, merasa takut jika kondisi bayi tidak normal saat lahir, merasa bingung dan tidak berdaya karena mengetahui tekanan darah yang tinggi. berbagai macam gejala kecemasan tersebut sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh para ahli.
Para ahli membagi ciri-ciri kecemasan menjadi 2 aspek gejala kecemasan, yaitu gejala psikologis dan gejala fisiologis (Halgin, Whitbourne, & Krauss, 2005). Gejala psikologis meliputi gejala yang terkait dengan
kondisi emosi dan pikiran seseorang yang mengalami kecemasan seperti takut dan khawatir yang tidak terkendali, merasa tertekan, merasa tidak mudah menghadapi sesuatu yang buruk yang akan terjadi, terus menerus mengomel tentang perasaan takut terhadap masa depan, percaya sesuatu yang menakutkan akan terjadi dengan sebab yang tidak jelas, kepekaan yang tajam dengan sensasi tubuh, terancam dengan orang atau keadaan yang secara normal tidak diperhatikan, takut kehilangan kontrol, takut tidak bisa menghadapi permasalahan, berpikir hal tertentu berulang-ulang, ingin melarikan diri, bingung, sulit berkonsentrasi, perilaku dependen, perilaku agitatif (Halgin, Whitbourne, & Krauss, 2005; Rathus & Nevid, 1991). Gejala fisiologis meliputi gejala yang menyangkut kondisi badan atau tubuh seseorang yang cemas, terutama yang menyangkut fungsi sistem syaraf yang ditunjukkan dari ekspresinya seperti gemetar, pucat, menggigit kuku, aktivitas kelenjar adrenalin, tidak dapat tidur, perut mual, keringat berlebihan, telapak tangan berkeringat, terasa akan pingsan, perasaan kering di mulut atau tenggorokan, sulit bicara, nafas pendek, jantung berdebar-debar, suara bergetar, jari-jari terasa dingin, lemas, sulit menelan, kepala pusing, kekakuan leher atau punggung, tangan terasa dingin, sakit perut atau mual, sering buang air kecil, dan diare (Rathus & Nevid, 1991).
Pada dasarnya terdapat dua jenis hipertensi selama kehamilan, yaitu: pertama, hipertensi yang telah diderita sebelum hamil atau mulai diderita setelah beberapa bulan kehamilan. Kedua, hipertensi yang diderita pada
kehamilan bulan kelima, enam atau tujuh, dan hal ini berhubungan dengan yang dinamakan toxemia of pregnancy, yaitu keracunan kehamilan dengan ciri-ciri kenaikan tekanan darah, jaringan membengkak dan kebocoran protein dari ginjal ke dalam air seni (Siauw, 1994).
Lebih lanjut, Siauw (1994) mengungkapkan bahwa tekanan darah kaum wanita selama kehamilan enam bulan pertama akan menurun yang secara relatif cukup rendah, yaitu di sekitar 110/60 hal ini disebabkan karena terjadinya pembesaran pada pembuluh darah dalam tubuh. Oleh karena itu, apabila seorang wanita yang hamil pada bulan-bulan pertama tekanan darahnya telah mencapai 130/85 – 135/90 (sekalipun hal ini dianggap normal bagi wanita yang tidak hamil), hal ini telah menunjukkan atau dapat dianggap menjurus ke hipertensi, sebaliknya pada triwulan terakhir akan meningkat.
Ibu hamil dengan hipertensi mempunyai kecemasan tinggi selama proses kehamilan, dikarenakan risiko yang besar yang akan dihadapi oleh dirinya maupun bayi yang dilahirkan. Kondisi tersebut akan bertambah sulit jika ibu hamil dengan hipertensi memiliki perasaan-perasaan yang mengancam seperti munculnya perasaan khawatir yang berlebihan, kecemasan dalam menghadapi kelahiran, ketidakpahaman mengenai yang akan terjadi di waktu persalinannya. Gejala-gejala tersebut akan mempengaruhi kondisi ibu hamil dengan hipertensi, baik secara fisik maupun psikis. Ibu hamil dengan hipertensi diharapkan memiliki cara yang tepat dan
benar, sehingga dapat mengurangi bahkan menghilangkan kecemasan yang dirasakan.
Penanganan masalah kecemasan digunakan berbagai macam pendekatan, baik secara farmakologi ataupun non farmakologi. Pemberian obat maupun teknik relaksasi bertujuan untuk mengurangi atau menurunkan kecemasan, meningkatkan rasa nyaman dan kepercayaan diri serta meningkatkan kemandirian sehingga tidak tergantung pada orang lain. Salah satu terapi spesialis keperawatan jiwa sebagai manajemen kecemasan adalah dengan progressive muscle relaxation yang merupakan bagian dari terapi relaksasi. Progressive muscle relaxation adalah terapi relaksasi dengan gerakan mengencangkan dan melemaskan otot–otot pada satu bagian tubuh pada satu waktu untuk memberikan perasaan relaksasi secara fisik. Gerakan mengencangkan dan melemaskan secara progresif kelompok otot ini dilakukan secara berturut-turut (Synder & Lindquist, 2002). Latihan relaksasi secara fisiologis akan menimbulkan efek relaks yang melibatkan syaraf parasimpatis dalam sistem syaraf pusat. Salah satu fungsi syaraf parasimpatis ini adalah menurunkan produksi hormon adrenalin atau epinefrin (hormon stres) dan meningkatkan sekresi hormon noradrenalin atau norepinefrin (hormon relaks) sehingga terjadi penurunan kecemasan serta ketegangan pada ibu hamil yang mengakibatkan ibu hamil menjadi lebih relaks dan tenang (Wulandari, 2006). Namun, dari sisi emosi belum terungkap lebih dalam hal-hal yang membuat ibu tersebut mengalami kecemasan.
Pada beberapa penelitian yang pernah dilakukan di atas, secara keseluruhan mendapatkan hasil yang positif, namun terdapat kelebihan dan kekurangan dari masing-masing terapi yang telah dilakukan para peneliti sebelumnya. Berangkat dari hal tersebut, berdasarkan kebutuhan ibu hamil dengan hipertensi, peneliti melakukan terapi yang berbeda dari terapi yang pernah dilakukan sebelumnya berupa pelatihan regulasi emosi terhadap kecemasan ibu hamil dengan hipertensi. Menurut Benson (dalam Ikarus, 2009), kemampuan dalam menghadapi kondisi cemas bergantung pada beberapa hal, yaitu ; usia, pendidikan, maturitas (kesiapan), kepribadian, pengalaman kehamilan persalinan sebelumnya dan kondisi sosial ekonomi. Kematangan kepribadian mencakup kemampuan individu dalam menguasai diri dan peraturan tingkah laku serta emosi yang baik. Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Oleh karena itu, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia (Prawitasari, 1995).
Berkaca dari kompleksnya permasalahan di atas bahwa emosi menjadi sangat penting untuk dikelola oleh ibu hamil saat mengalami kecemasan agar tetap bisa bertahan dalam situasi yang menekan. Adaptasi emosi-emosi negatif agar menjadi emosi positif menjadi hal yang sangat penting. Hal ini dikarenakan jika individu tidak mampu mengelola perasaannya dia akan
semakin terpuruk dalam tekanan hidup yang dialaminya. Kemampuan untuk merespon proses-proses emosi disebut dengan regulasi emosi.
Penelitian mengenai regulasi emosi dengan kecemasan pernah dilakukan oleh Pusvitasari (2013) untuk melihat efektivitas pelatihan regulasi emosi terhadap penurunan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa, Subjek yang mengikuti pelatihan regulasi emosi mengungkapkan bahwa setelah mengikuti pelatihan regulasi emosi berharap akan merasa lebih baik dan dapat mengontrol serta mengaplikasikan cara meregulasi emosi dalam berbagai hal yang positif, baik itu ketika presentasi maupun diskusi. Beberapa subjek mengaku mendapatkan ketenangan dan penyegaran baru terutama dalam hal pengendalian emosi serta hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan diri. Selain itu, ada pula yang senang karena dapat mencurahkan segala perasaannya kepada peserta lainnya dalam sesi mengekspresikan emosi. Beberapa subjek juga mengaku tidak merasa gugup lagi dan lebih tenang ketika bertemu dengan orang banyak atau berbicara dalam suatu forum.
Pengaturan emosi dikenal dengan regulasi emosi (emotion regulation). Regulasi emosi adalah suatu proses luar dan dalam, kesadaran atau ketidaksadaran, akan pengaruh dari emosi yang menggabungkan, mewujudkannya, berdasarkan situasi dari fakta-fakta, dan berjalannya konsekuensi yang akan terjadi (Gross, 2007). Regulasi emosi adalah strategi
yang digunakan individu untuk mengubah jalan dan pengalaman dalam mengungkapkan emosi (Dennis, 2007).
Regulasi emosi berhubungan dengan suasana hati. Konsep regulasi emosi luas dan meliputi kesadaran dan ketidaksadaran psikologis, tingkah laku dan proses kognitif. Selain itu, regulasi emosi beradaptasi dalam kondisi situasi emosi yang stimulusnya berhubungan dengan lingkungan. Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa regulasi emosi berkaitan dengan perasaan tertentu pada kecemasan. Penelitian mengenai regulasi emosi dapat dijadikan alternatif penanganan masalah kecemasan (Gross, 2007).
Kecemasan adalah perasaan takut dan khawatir yang tidak menyenangkan yang disertai dengan meningkatnya ketegangan fisiologis (David, Neale & Kring, 2006). Menurut Nevid, Rathus & Greene (2005), kecemasan adalah keadaan emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan kekhawatiran bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Menurut Stuart & Sundeen (1998), kecemasan adalah perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya karena keadaan emosi yang tidak memiliki objek yang spesifik. Kondisi subjektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal, sehingga respon emosional terhadap penilaian intelektual menjadi sesuatu yang berbahaya. Ibu hamil diharapkan mampu mengatasi kecemasan yang mungkin muncul selama masa kehamilan. Agar dapat menjalani proses kehamilan dengan nyaman,
diperlukan regulasi emosi sebagai cara untuk mengurangi kecemasan selama kehamilan pada ibu hamil dengan hipertensi.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan regulasi emosi terhadap penuruan tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi.
B. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan regulasi emosi terhadap penurunan kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi.
2. Manfaat penelitian a. Manfaat teoritis
Penelitian ini dapat memberikan tambahan pemahaman tentang upaya menurunkan kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi melalui pelatihan regulasi emosi yang diberikan.
b. Manfaat praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini adalah dengan dirancangkannya pelatihan regulasi emosi ini, diharapkan nantinya dapat digunakan sebagai acuan ataupun alternatif intervensi bukan hanya pada ahli kesehatan untuk dapat mengarahkan ibu hamil dengan hipertensi agar mampu meregulasi emosinya. Pelatihan regulasi emosi
ini besar manfaatnya untuk penurunan kecemasan yang pada akhirnya nanti diharapkan dapat membantu menejemen hipertensi yang dijalankan oleh ibu hamil dengan hipertensi.
C. Keaslian Penelitian
Banyak penelitian yang telah dilakukan yang berhubungan dengan kecemasan maupun regulasi emosi, antara lain :
1. Keefektifan Pelatihan Ketrampilan Regulasi Emosi terhadap Penurunan Tingkat Stres pada Ibu Hamil yang dilakukan oleh Setyowati (2010). Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan jenis quasi-experimental research dengan menggunakan model non randomized control group pretest-post test design. Quasi-experimental merupakan eksperimen yang dilakukan tanpa randomisasi, namun masih menggunakan kelompok kontrol (Latipun, 2002). Hasil penelitian yang telah dilakukan pada 5 subjek menyimpulkan bahwa pelatihan regulasi emosi dapat menurunkan tingkat stres pada subjek penelitian ini, yaitu ibu hamil dengan tingkat stres sedang atau tinggi, tingkat pendidikan SMA. Pelatihan regulasi emosi disusun berdasarkan teori Greenberg (2002).
Kemampuan ibu hamil untuk melakukan regulasi emosi, yaitu menilai, mengatur dan mengungkapkan emosinya secara tepat, dapat mengurangi tingkat stres. Kekurangan dari penelitian ini adalah
peneliti tidak memberikan tugas rumah (misalnya buku harian) untuk mengevaluasi dan memantau kemajuan atau peningkatan yang terjadi pada subjek. Peneliti selanjutnya diharapkan melakukan pemantauan pada kelompok eksperimen setelah pelatihan berakhir sehingga diketahui secara kuantitatif besarnya efek pelatihan ketrampilan regulasi emosi dalam menurunkan tingkat stres pada ibu hamil.
2. Pengaruh Pelatihan Relaksasi dengan Dzikir untuk Mengatasi Kecemasan Ibu Hamil Pertama yang dilakukan oleh Maimunah (2011). Penelitian tersebut bertujuan untuk mengukur pengaruh pelatihan relaksasi dengan dzikir untuk mengurangi kecemasan yang dialami oleh ibu hamil pertama (primipara). Pelatihan relaksasi dengan dzikir yang sesi-sesinya disusun dengan menggabungkan dan memodifikasi sesi latihan relaksasi pernafasan oleh Davis, Eshelman, dan McKay (1995) dan relaksasi religius yang disusun Purwanto (2006).
Subjek penitian tersebut adalah 10 orang ibu hamil yang memiliki karakteristik sebagai berikut ; ibu hamil dengan kehamilan pertama, berusia antara 18-30 tahun, memiliki kecemasan kehamilan sedang diukur dengan Skala Kecemasan Menghadapi Kehamilan Pertama, beragama Islam, dan bersedia untuk tidak mengikuti kegiatan lain yang sejenis selama proses pengukuran dan intervensi dilakukan. Metode penelitian yang dilakukan adalah eksperimen kuasi dengan
disain penelitian the untreated control group design with dependent pretest and posttest samples (Shadish, dkk., 2002). Data yang didapatkan kemudian dianalisis menggunakan analisis MannWhitney dengan menggunakan bantuan SPSS. Penelitian tersebut dapat membuktikan bahwa relaksasi dengan dzikir juga dapat membantu mengurangi kecemasan kehamilan.
Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dijabarkan, kebaruan yang ditawarkan pada penelitian ini adalah responden. Peneliti belum menemukan penelitian terkait dengan terapi regulasi emosi untuk mengatasi kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi. Penelitian ini memilih responden yang spesifik yaitu ibu hamil dengan hipertensi. Untuk teori, aspek, dan alat ukur dalam penelitian ini, kecemasan menghadapi persalinan dalam penelitian ini diungkap dengan skala kecemasan ibu hamil dengan hipertensi yang dimodifikasi dari Prima (2009) berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Daradjat (1990) yang terdiri dari: aspek fisiologis dan aspek psikologis. Pelatihan regulasi emosi dilakukan dengan mengenal emosi, mengekspresikan emosi, mengelola emosi serta mengubah emosi negatif menjadi emosi positif (Greenberg, 2002). Modul pelatihan regulasi emosi yang peneliti gunakan merupakan modifikasi dari modul yang pernah disusun Karjuniwati (2010) yang juga berlandaskan teori Greenberg (2002).