PROPOSAL
PROGRAM KAMPANYE
By Anastasya Carmelita
VINOVO PR AGENCY
I certify that the attached assignment is my own work and that any material obtained from other sources has been acknowledged.
I grant permission to the London School of Public Relations to make copies of assignments for assessment, review and/or record keeping purposes. I note that the London School of Public Relations reserves the right to check my assignment for plagiarism.
PHASE ONE
Formative Research
1. Analisa Situasi
Masalah korupsi politik di Indonesia terus menjadi berita utama (headline) setiap hari di media Indonesia dan menimbulkan banyak perdebatan panas dan diskusi sengit. Di kalangan akademik para cendekiawan telah secara terus-menerus mencari jawaban atas pertanyaan apakah korupsi ini sudah memiliki akarnya di masyarakat tradisional pra-kolonial, zaman penjajahan Belanda, pendudukan Jepang yang relatif singkat (1942-1945) atau pemerintah Indonesia yang merdeka berikutnya. Meskipun demikian, jawaban tegas belum ditemukan.
nepotisme. Korupsi di Indonesia berkembang secara sistematik dan turun temurun, bagi banyak orang korupsi bukan lagi dianggap pelanggaran hukum, melainkan suatu hal yang lumrah. Berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pun tak juga mampu memberantas praktek korupsi ini.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah lembaga negara yang dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. KPK bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Komisi ini didirikan berdasarkan kepada
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 mengenai Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam pelaksanaan tugasnya, KPK berpedoman kepada lima asas, yaitu: kepastian hukum, keterbukaan, akuntabilitas, kepentingan umum, dan proporsionalitas. KPK bertanggung jawab kepada publik dan menyampaikan laporannya secara terbuka dan berkala kepadaPresiden, DPR, dan BPK.
Salah satu organisasi non-pemerintah atau NGO yang bergerak dalam bidang anti korupsi adalah ICW atau yang disebut Indonesia Corruption Watch. ICW memiliki misi untuk mengawasi dan melaporkan kepada publik mengenai aksi korupsi yang terjadi di Indonesia. ICW adalah lembaga nirlaba yang terdiri dari sekumpulan orang yang memiliki komitmen untuk memberantas korupsi melalui usaha - usaha pemberdayaan rakyat untuk terlibat/ berpartisipasi aktif melakukan perlawanan terhadap praktik korupsi. ICW berdiri sejak tanggal 21 Juni 1998 di Jakarta. Di tengah gerakan reformasi yang menghendaki pemerintahan pasca Soeharto yang demokratis bersih dan bebas korupsi.
wewenang, penyalahgunaan dana serta pemalsuan data. Dari semua jenis kasus korupsi tersebut, terdapat lebih dari 1300 orang yang telah ditetapkan tersangka. Data tahun 2014 ini lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah kasus korupsi tahun 2013 sebanyak 560 kasus dengan 1271 orang tersangka.
Transparency International, institusi non-partisan yang berbasis di Berlin
(Jerman) menerbitkan Indeks Persepsi Korupsi tahunan (berdasarkan polling)
yang menilai "sejauh mana korupsi dianggap terjadi di kalangan pejabat publik
dan politisi" di semua negara seluruh dunia. Indeks Persepsi Korupsi Tahunan ini
menggunakan skala dari satu sampai sepuluh. Semakin tinggi hasilnya, semakin
sedikit (dianggap) korupsi yang terjadi. Dalam daftar terbaru mereka tahun 2014
Indonesia menempati peringkat 107 (dari total 175 negara). Meskipun demikian,
mengukur korupsi karena sifat korupsi (sering tersembunyi untuk umum). Oleh
karena itu, angka-angka di bawah ini hanya menunjukkan tingkat persepsi
korupsi oleh para pemilih yang berpartisipasi dalam jajak pendapat dari negara
tertentu. Namun karena masyarakat biasanya memiliki pemahaman yang baik
tentang apa yang terjadi di negeranya, angka-angka ini mengindikasikan
sesuatu hal yang menarik.
1 Denmark 9,2
2 Selandia Baru 9,1
3 Finland 8,9
4 Swedia 8,7
5 Norwegia 8,6
- Swiss 8,6
107 Indonesia 3,4
2. Analisa Organisasi
2.1 Latar Belakang Organisasi
yang menunjukan kesewenang - wenangan Para Penegak hukum khususnya Polri. Keprihatinan tersebut mendorong ratusan mahasiswa, guru besar dan alumni beberapa perguruan tinggi termasuk UI, ITB, IPB, UGM, ITS, UNPAD, USAKTI, IKJ, UPN Veteran, Unhas, UNDIP, dan dari sejumlah perguruan tinggi lain, termasuk dari luar negeri mendatangi KPK pada tanggal 18 Februari 2015, untuk berorasi memberikan dukungan kepada Pimpinan KPK dengan motto “Save KPK, Reformasi Polri, dan hentikan Kriminalisasi KPK”.
Aksi tersebut dilanjutkan dengan aksi - aksi lain diantaranya aksi di Bundaran Hotel Indonesia 22 Februari 2015, sebagai ajakan untuk membangun institusi Polri yang bersih dan beraudiensi dengan Pimpinan Polri dan jajarannya di Mabes Polri. Civitas Academica sejumlah Perguruan Tinggi menyambut dengan aski keprihatinan “Indonesia Gawat Korupsi” pada maret 2015, termasuk oleh Unibraw Malang, ITS Surabaya, Unpad Bandung, UNDIP Semarang, IPB Bogor, Unila Lampung, Unsoed Purwokerto, UIN Suska Pekanbaru, ITB Bandung, dan rapat akbar UI Jakarta.
Sampai saat ini sudah banyak kegiatan yang telah dilakukan GAK, antara lain beraudiensi dengan Ketua KPK pengganti Abraham Samad, mengawal pembentukan PANSEL KPK dengan melakukan pertemuan dengan Presiden Jokowi pada tanggal 25 Mei 2015, melakukan bedah kasus Deni Indrayana, diskusi publik tentang putusan pra-peradilan dan aksi - aksi lainnya. Sehubungan dengan hal tersebut GAK bermaksud meresmikan keberadaan Gerakan Anti Korupsi (GAK) Alumni Lintas Perguruan Tinggi kepada masyarakat luas dengan melaksanakan deklarasi; yang menunjukan bahwa alumni Perguruan Tinggi ada dan perduli terhadap keadaan nasib bangsa Indonesia.
2.2.1 Visi
Mewujudkan cita - cita Indonesia tanpa korupsi, kolusi dan nepotisme maupun segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan sehingga tercipta masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.
2.2.2 Misi
Bersama masyarakat mengikis fikiran, sikap dan perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme dimulai dari keluarga, dalam membangun budaya transparansi, akuntabilitas dan integritas di semua aspek kehidupan berbangsa, bernegara, berorganisasi, dan bermasyarakat.
2.3 Nilai - Nilai
- Transparansi - Akuntabilitas - Integritas - Solidaritas
- Jujur, Benar dan Berani - Keadilan
- Demokrasi
- Kolaborasi dan Kerjasama
1. Sebagai sebuah gerakan moral berbasis intelektual dan masyarakat madai non-partai yang didukung alumni berbagai perguruan tinggi, GAK bersama masyarakat mendukung dan mengawal Polri, Kejaksaan, dan KPK sebagai Trisula penanggulangan korupsi, seta bekerja sama dengan Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi, dan organisasi maupun perorangan, baik dari dalam maupun luar negeri, nirlaba maupun bukan, yang berkomitmen sama yaitu mewujudkan misi dan visi
3. Para relawan dan pegiat GAK adalah warga negara Indonesia yang berpikiran dan bersikap terbuka, jujur, dan akuntabel dalam saling berinteraksi, kedalam maupun luar dengan pihak lain.
4. GAK menjunjung tinggi hukum, demokrasi dan bersikap non partisian, serta membatasi diri sebagai entitas pengawal dan penekan secara moral dan intelektual, selalu menjaga reputasi dengan membuat distansi dan tidak terlibat dalam proses penegakan hukum.
5. GAK mengancam segala bentuk praktek penyuapan dan korupsi, kolusi dan nepotisme dimanapun, kapanpun, untuk alasan apapun dan oleh siapapun, terutama para pemimpin dan penyelenggara negara.
panjang.
7. GAK hanya menerima bantuan sejauh tidak mengikat dan tidak mempengaruhi GAK dalam menyatakan pendapat dan pandangannya secara bebas, obyektif dan tuntas. 8. GAK melaporkan semua kegitannya secara akurat dan tangkap kepada masyarakat
luas melalui portal yang dapat diakses dengan mudah.
9. GAK senantiasa menghormati hak azasi manusia dan menjunjung tinggi kebebasan berpendapat warga negara Indonesia.
10. GAK mendukung penegakkan semua produk hukum yang bertujuan mencegah dan memberantas korupsi.
2.5 Deklarasi GAK
Kami pegiat Gerakan Anti Korupsi, sebagai bagian dari elemen bangsa Indonesia bersama ini menyatakan;
1. Korupsi menghambat pencapaian tujuan nasional, oleh karenanya seluruh elemen bangsa wajib melawan segala bentuk korupsi.
2. Pencegahan penindakan korupsi tidak dapat dipisahkan dari tindak pencucian uang hasil korupsi.
3. Kejujuran, integritas dan transpaaransi dalam kehidupan sehari - hari harus dimulai dari keluarga, dan harus dijunjung tinggi sebagai basis penanggulangan korupsi, terutama oleh para pemimpin dan penyelenggara negara.
memberikan efek jera.
2.6 Rencana Program Gerakan Anti Korupsi (GAK) Lintas Alumni Perguruan Tinggi
1. Merangkul dan meningkatkan peranan media, baik media konvensional (media cetak
dan elektronika), maupun media social (blogspot, facebook, twitter, WA, dsb) dalam
mendukung gerakan anti korupsi;
2. Mendorong berbagai kegiatan dan pelatihan terkait kesadaran anti korupsi di
sekolah-sekolah dan di perguruan tinggi;
3. Melakukan sosialisasi serta mendorong kesadaran serta partisipasi seluruh masyarakat
tentang pentingnya pencegahan dan pemberantasan korupsi sejak dini, dimulai dari
keluarga masing-masing.
2.7 SWOT
Strength
1. Salah satu organisasi anti korupsi yang besar di Indonesia
2. Memiliki prinsip - prinsip dasar yang kuat
Weakness
1. Masih kurangnya awareness dikalangan masyarakat
3. Analisa Publik
3.1 Target Publik
SEX : Laki - laki dan perempuan.
SES : A - C
Age : 17 - 25
Demographic : Indonesia (khususnya Jabodetabek) Occupation : Pelajar, Mahasiswa, dan First Jobbers
Target publik diatas dipilih karena memiliki potensi untuk menunjang program yang
akan dijalankan oleh Gerakan Anti Korupsi (GAK) pada point pertama yaitu, merangkul dan meningkatkan peranan media, baik media konvensional (media cetak dan
elektronika), maupun media social (blogspot, facebook, twitter, WA, dsb) dalam
mendukung gerakan anti korupsi.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan narasumber, Ibu Betti Alisjahbana selaku salah satu founder dari Gerakan Anti Korupsi (GAK) alumni lintas perguruan tinggi. Beliau mengatakan bahwa hal - hal yang harus diperhatikan terlebih dahulu untuk GAK ini adalah awareness nya dibenak masyarakat. Karena menurut beliau, jikalau tidak ada awareness yang kuat dikalangan masyrakat maka akan berat rasanya memberantas korupsi di negara ini.
memiliki dasar - dasar dalam hidup bernegara.
Peranan mahasiswa dalam mencegah tindak korupsi di Indonesia memiliki peran penting. Peran penting mahasiswa tersebut tidak dapat dilepaskan dari karakteristik yang mereka miliki, yaitu: intelektualitas, jiwa muda dan idealisme. Dengan kemampuan intelektual yang tinggi, jiwa muda yang penuh semangat, dan idealisme yang murni terlah terbukti bahwa mahasiswa selalu mengambil peran penting dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Mahasiswa didukung oleh kompetensi dasar yang mereka miliki, yaitu: intelegensia, ide-ide kreatif, kemampuan berpikir kritis, dan keberanian untuk menyatakan kebenaran. Dengan kompetensi yang mereka miliki tersebut mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan, mereka mampu menyuarakan kepentingan`rakyat, mampu mengkritisi kebijakan-kebijakan yang koruptif, dan mampu menjadi watch dog lembaga-lembaga negara dan penegak hukum.
Untuk mendukung program yang akan dilakukan Gerakan Anti Korupsi (GAK) yaitu merangkul dan meningkatkan peranan media, baik media konvensional (media cetak dan elektronika), maupun media social (blogspot, facebook, twitter, WA, dsb) dalam mendukung gerakan anti korupsi. Guna menciptakan awareness terlebih dahulu dibenak para target publik yaitu para mahasiswa dan first jobbers melalui media konvensional dan media social. Mengapa media konvensional dan media social? Hal ini didukung oleh riset yang dijabarkan dibawah ini.
internet secara reguler. Jika masyarakat Indonesia sampai saat ini memiliki 75 juta pengguna internet, itu berarti hampir setengahnya adalah remaja.
Menurut CNN Indonesia, data yang diperoleh 58,4% pengunna internet dan social
PHASE TWO
STRATEGY
4. Goals dan Objective
4.1 Goals
- Untuk menciptakan image dan awareness target publik terhadap Gerakan Anti Korupsi (GAK).
- Membangun dan menciptakan konekifitas yang efektif dengan target publik.
4.2 Positioning
Gerakan Anti Korupsi (GAK) ingin terlihat sebagai salah satu organisasi non-pemerintahan yang mendukung program pemerintah dalam memberantas aksi korupsi yang terjadi di Indonesia. Serta, memiliki para mahasiswa lintas perguruan tinggi di seluruh Indonesia dalam mendukung program tersebut.
4.3 Objective
- To have an effect on awareness, untuk menciptakan awareness masyarakat dan target publik terhadap Gerakan Anti Korupsi (GAK) melalui media konvensional dan media online atau digital dalam periode 3 bulan.
- To have an effect of acceptance, menciptakan dan membangkitkan ketertarikan para mahasiswa untuk bergabung dalam Gerakan Anti Korupsi (GAK) ini dalam periode 4 bulan.
- To have an effect of action, untuk mengajak target publik atau para mahasiswa dalam setiap program kampanye yang diadakan oleh Gerakan Anti Korupsi (GAK) untuk mendukung lembaga anti korupsi pemerintahan atau KPK serta jajaran aparat lainnya yang bersangkutan dalam periode 6 bulan.
5. Response Strategic and Action
5.1 Strategi Kehumasan Proaktif
didalamnya, yaitu Strategi Tindakan dan Strategi Komunikasi.
5.1.1 Strategi Tindakan
- Kinerja organisasi yang terstruktur dalam jadwal dan kegiatan yang telah disepakati setiap akhir tahun untuk dijalankan di tahun berikutnya
- Membuat berbagai rancangan program publisitas mengggunakan media konvensional seperti radio dan majalah serta memfokuskan kampanye menggunakan media social seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube channel guna menarik partisipasi target publik.
- Mengadakan berbagai event off air yang mengandung sifat Fun dan Educative. - Bekerja sama dengan salah satu lembaga atau organisasi yang memiliki visi dan misi
yang sama dengan Gerakan Anti Korupsi (GAK) dalam membangun budaya transparansi, akuntabilitas dan integritas di semua aspek kehidupan berbangsa, bernegara, berorganisasi dan bermasyarakat. Sehingga tercipta masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.
- Mensponsori berbagai kegiatan kemahasiswaan diperguruan tinggi negeri dan swasta.
- Menjadi salah satu organisasi yang bersedia menjadi sponsor untuk menyediakan narasumber atau pembicara dalam program perduli lingkungan maupun mengenai anti korupsi itu sendiri.
5.1.2 Strategi Komunikasi
20 tersebut.
- Menggandeng Key Opinion Leader dalam Gerakan Anti Korupsi (GAK) ini yang berperan sebagai juru bicara. Hal ini bertujuan agar tercapainya informasi yang ingin disampaikan oleh pihak GAK kepada masyrakat dan target publik.
- Memberikan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat atau target publik selengkap - lengkapnya dengan transparansi serta didukung oleh data - data dan sumber yang akurat.
Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, maka kami akan menggunakan gabungan antara strategi tindakan dan strategi komunikasi yang telah dijabarakan diatas. Strategi ini dinilai efektif sehingga dapat mencapai objective yang akan dicapai oleh membuat account Facebook Page ‘Gerakan Anti Korupsi (GAK)’, Instagram, Twitter, dan Youtube Channel. Semua account media social ini akan digunakan secara aktif untuk memberikan informasi - informasi kegiatan GAK. Setiap media social memiliki fungsi dan cara yang berbeda untuk menciptakan awareness di target publik.
Strategi Tindakan dan Strategi Komunikasi diatas merupakan salah satu contoh kegiatan program kampanye yang kami nilai merupakan langkah awal yang harus dilakukan Mensponsori kegiatan mahasiswa dibeberapa perguruan tinggi negeri maupun swasta yang ada di Indonesia, khususnya di Jabodetabek. Kegiatan yang dapat disponsori dapat berbentuk kegiatan reguler yang diadakan oleh perguruan tinggi tersebut
STRATEGI KOMUNIKASI
Membina hubungan baik dengan para rekan media. Program yang dapat dilakukan adalah mengadakan media gathering 3 bulan sekali. Hal ini dilakukan agar Gerakan Anti Korupsi (GAK) mendapatkan dukungan publisitas dari pihak rekan media sebagai media antara GAK dengan para target publik.