MAKALAH
DASAR-DASAR KEPENDIDIKAN
Pendidikan, Pengajaran , Persekolahan,
Komponen Pendidikan, Komponen
Pengajaran, dan Komponen
Persekolahan
DISUSUN OLEH : KELOMPOK 2
SYARIFAH AINI (13-550-0077)
VINY MAFAZA (13-550-0142)
AINUR ROSYIDAH (13-550-0150)
AINUN ROUDHOTUL KHASANAH (13-550-0154)
ANDIKA KAROMAH DEWI (13-550-0169)
UNIVERSITAS PGRI ADI
BUANA SURABAYA
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya. Sehingga kami selaku penulis dapat menyelesaikan tugas Pendidikan Pancasila yaitu Makalah tentang Pendidikan, Pengajaran , Persekolahan, Komponen Pendidikan,
Komponen Pengajaran, dan Komponen Persekolahandengan baik.
Makalah ini disusun menggunakan bahasa yang efektif dan mudah dimengerti serta dipahami. Sehingga diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu tersusunnya makalah ini. Semoga awal baik yang diberikan mendapat balasan dari Allah SWT. Sebagai penulis, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran selalu kami harapkan agar makalah ini dapat lebih bermutu dan bermanfaat. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih.
Surabaya, 01 April
2014
DAFTAR ISI
Kata
pengantar... ...2
Daftar
isi... ...3
BAB 1
PENDAHULUAN... ...4
1.1 latar
belakang... ...4
1.2 batasan
masalah... ...4
1.3 rumusan
masalah... ...4
1.4 tujuan dan
manfaat... ...5
1.5 hasil yang
diharapkan... ...5
BAB 2
PEMBAHASAN... ...6
2.1
2.2 komponen
pendidikan... ..8
2.3
pengajaran... ...12
2.4 komponen
pengajaran... .13
2.5
persekolahan... ...16
2.6 komponen
persekolahan... .17
2.7 keterkaitan antara pendidikan, pengajaran, dan persekolahan... 18
BAB 3
PENUTUP... ...19
3.1
kesimpulan... ...19
3.2
saran... ...21
Daftar
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kita sering mendengar ‘pendidikan’, ‘pengajaran, ‘persekolahan’ merupakan suatu keterkaitan yang penting. Kita menganggap, untuk belajar dan mendapatkan pendidikan, orang harus bersekolah. Belajar adalah sekolah, dan sekolah adalah belajar, dan itulah yang disebut pendidikan. Padahal ketiga hal itu tidak selalu dapat dikaitan secara kasual satu dengan lainnya.
Untuk belajar, orang tidak selalu harus bersekolah. Orang yang bersekolah tidak selalu belajar. Sekolah adalah tempat, lembaga yang mengajari murid di bawah bimbingan guru. Sepintas, orang yang bersekolah pastilah belajar, karena sekolah adalah tempat atau lembaga yang mengajari, dan di sana ada guru yang membimbing proses belajar. Kita lupa, bahwa belajar adalah otonomi individu. Di tempat apapun, dan dengan bimbingan siapapun, orang tidak akan belajar kalau dia tidak berkeinginan belajar. Sebaliknya, di manapun dan dengan atau tanpa bimbingan siapapun, orang tetap bisa belajar kalau dia berkeinginan untuk belajar. Belajar adalah gerak individu, dan sekolah hanyalah fasilitas yang disediakan untuk membantu dan mengarahkan gerak itu.
Pendidikan bukan hanya perihal persekolahan. Sekolah formal yang berjenjang mulai SD-SMA hanya merupakan salah satu bentuk jalur pendidikan. Sekolah seringkali justru menjadi penghambat/pengekang bagi orang-orang yang mempunyai kemauan dan tenaga sendiri untuk belajar. Education Is NOT the Same as Schooling. Jadi, dalam makalah ini, kita akan mengupas masing-masing pendidikan, pengajaran, dan persekolahan sehingga kita tidak lagi sesat mengartikan ketiganya suatu hubungan dalam proses pendidikan.
1.2 BATASAN MASALAH
1.3 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang, berikut beberapa rumusan masalah yang akan kita bahas pada makalah ini :
Apakah pendidikan itu ?
Bagaimanakah komponen-komponen pendidikan?
Apakah pengajaran itu ?
Bagaimanakah komponen-komponen pengajaran?
Apakah persekolahan itu?
Bagaimanakah komponen-komponen persekolahan?
Bagaimanakah keterkaitan antara pendidikan, pengajaran, serta persekolahan?
1.4 TUJUAN dan MANFAAT
Mengetahui apa itu pendidikan.
Mengetahui komponen-komponen dalam pendidikan.
Mengetahui apa itu pengajaran.
Mengetahui komponen-komponen dalam pengajaran.
Mengetahui apa itu persekolahan.
Mengetahui komponen-komponen dalam persekolahan.
Mengetahui bagaimana keterkaitan antara pendidikan, pengajaran, dan persekolahan.
1.5 HASIL yang DIHARAPKAN
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENDIDIKAN
a.
Pengertian pendidikan
Para ahli pendidikan menemui kesulitan dalam merumuskan definisi pendidikan. Kesulitan itu antara lain disebabkan oleh banyaknya jenis kegiatan serta aspek kepribadian yang dibina dalam kegiatan itu, masing-masing kegiatan tersebut disebut pendidikan .berikut pendapat para ahli pendidikan:
1. menurut Rupert C. Lodge dalam philosophiy of education menyatakan bahwa dalam pegertian yang luas pendidikan itu menyangkut seluruh pengalaman.
2. Joe Park merumuskan pendidikan sebagai the art or process of importing or acquiring knowledge and habit through instructional as strudy. Dalam definisi ini ditekankan kegiatan pendidikan diletakkan pada pengajaran ( instruction ) sedangkan segi kepribadian yang dibina adalah aspek kognitif dan kebiasaan.
4. Alfed Nort Whitehead menyusun definisi pandidikan yang menekankan segi keterampilan menggunakan pengetahuan
sehingga cakupan pendidikan sempit.
( http://pandidikan.blogspot.com/2010/05/pengertian-pendidikan-dan-pengajaran.html, diakses tanggal : 23-maret-2014, pukul: 10.43 WIB)
Dapat disimpulkan bahwa Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang ditransfer dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir,
merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan, diakses tanggal 25/03/2014.pukul 18.58WIB).
Atau: Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan agar dapat memajukan
kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya (
http://izzazhoetd.blogspot.com/2011/12/komponen-komponen-pendidikan.html, tanggal:25/03/2014. Pukul 13.14 WIB)
Contoh : seorang ayah yang menasehati anaknya ia sadar bahwa pada waktu itu merupakan kesempatan yang tepat untuk memberikan nilai-nilai tertentu pada anak sehingga anak berubah tingkah laku. Seorang guru dalam mengajar murid-muridnya diharuskan telah merumuskan tujuan pengajarannya baik dalam bentuk tujuan instruksional umum maupun khusus.(pengantar pendidikan bagian 1, universitas press IKIP Surabaya, 1996: 28)
b.
Fungsi pendidikan
Pendidikan sebagai proses transformasi budaya.
sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Yang berarti nilai-nilai kebudayaan mengalami proses transformasi generasi tua ke generasi muda. Yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan, misalnya nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan lain-lain, yang kurang cocok diperbaiki, misalnya tata cara pesta perkawinan, dan yang tidak cocok diganti misalnya pendidikan seks yang dahulu ditabukan sekarang diganti dengan pendidikan seks melalui pendidikan formal.
Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi.
mencakup pembentukan cipta, rasa, dan karsa (kognitif, efektif, dan psikomotor) yang sejalan dengan pengembangan fisik.
Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja
Pendidikan diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon luaran.
Pendidikan sebagai proses penyiapan warga negara
Pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik.
(umar tirtarahardja,2008 : 33-36)
c.
Filosofi pendidikan
Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.
Bagi sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya."
Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam, sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka, walaupun
pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.
2.2 KOMPONEN PENDIDIKAN
tidaknya proses pendidikana. Tujuan Pendidikan
manusia yang utuh dengan memperhatikan aspek jasmani dan rohani, aspek diri (individualitas) dan aspek sosial, aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, serta segi serba keterhubungan manusia dengan dirinya (konsentrasi), dengan lingkungan sosial dan alamnya (horizontal), dan dengan Tuhannya(vertikal). ( http://zuwaily.blogspot.com/2012/11/komponen-komponen-dalam-sistem.html#.Uy4XGs4pLDc. diakses tanggal 22/03/2014,pukul: 06.36 WIB).
Tujuan pendidikan berdasarkan rumusan para ahli:
1. Tujuan umum
Ialah tujuan pendidikan yang bersifat universal dan merumuskan berdasarkan kepada hakekat manusia yaitu “kedewasaan” dalam arti “pribadi yang integral baik segi individualitas” sosialitas dan moralitasnya, atau pribadi yang bertanggung jawab secara individual, sosial dan moral.
2. Pengkhususan tujuan umum
Ialah tujuan pendidikan yang merumuskan berdasar filsafat bangsa atau kebudayaan serta kepentingan bangsa sehingga tercipta tujuan pendidikan nasional suatu bangsa.
3. Tujuan tak lengkap
Ialah tujuan yang berhubungan dengan suatu aspek kepribadian tertentu seperti halnya tujuan pendidikan agama, tujuan pendidikan sosial, tujuan pendidikan moral, tujuan pendidikan jasmani, tujuan pendidikan intelektual, dan sebagainya.
4. Tujuan sementara
Ialah tujuan pendidikan yang sementara dicapai untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, seperti : “anak dibiasakan tidak kencing di tempat tidur agar ia tahu tentang kebersihan”, anak dibiasakan berdisiplin menempatkan barang-barangnya ditempat tertentu atau datang dan berangkat teapt waktunya, agar ia kelak berdisiplin dalam segala hal “atau” lulus SD merupakan tujuan sementara untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih tinggi.
5. Tujuan insidental
Ialah suatu tujuan yang terjadi secara kebetulan. Tujuan ini adalah tujuan pendidikan yang terjadi khusus pada situasi tertentu. Contohnya: di waktu orang tua melihat seorang anak mengganggu anak lain maka ia menasehati anak tersebut agar tidak mengganggu.
6. Tujuan intermediair
dapat menguasai pelajaran di SD. (pengantar pendidikan bagian 1, universitas press IKIP Surabaya, 1996: 31-32)
Namun pada umumnya, Tujuan umum pendidikan tergantung pada nilai-nilai atau pandangan hidup tertentu. Pandangan hidup yang menjiwai tingkah laku manusia akan menjiwai tingkah laku pendidikan dan sekaligus akan menentukan tujuan pendidikan manusia.
b. Peserta Didik
Peserta didik sangat menunjang dalam proses pendidikan, dengan perkembangan konsep pendidikan yang tidak hanya terbatas pada usia sekolah saja memberikan konsekuensi pada pengertian peserta didik. Kalau dulu orang mengansumsikan peserta didik terdiri dari anak-anak pada usia sekolah, maka sekarang peserta didik dimungkinkan termasuk juga didalamnya orang dewasa. (http://imammalik11.wordpress.com/2013/12/12/ komponen-pendidikan/ 23/03/14 , 6:44)
à Pemahaman mengenai beberapa hal dari anak/ peserta didik, yaitu: latar belakang budaya peserta didik, tingkat kemampuan peserta didik, hambatan peserta didik, dan penguasaan bahasa peserta didik.
à Pendidikan harus memperhatikan perbedaan individual, memberikan perhatian khusus pada anak didik yang memiliki kelainan (berkebutuhan khusus), dan penanaman sikap bertanggung jawab kepada peserta didik.
(http://www.slideshare.net/astikarhy/komponen-pendidikan-15693926#, tanggal 23/03/2014. Pukul:13.40).
c. pendidik
hidup prinsip hidup yang pasti dan tetap, (2) manusia yang telah memiliki tujuan hidup atau cita-cita hidup tertentu, termasuk cita-cita untuk mendidik, (3) manusia yang cakap mengambil keputusan batin sendiri atau perbuatannya sendiri dan yang akan dipertanggungjawabkan sendiri, (4) manusia yang telah cakap menjadi anggota masyarakat secara konstruktif dan aktif penuh inisiatif, (5) manusia yang telah mencapai umur kronologis paling rendah 18 th, (6) manusia berbudi luhur dan berbadan sehat, (7) manusia yang berani dan cakap hidup berkeluarga, dan (8) manusia yang berkepribadian yang utuh dan bulat.
2. Orang Tua
Kedudukan orang tua sebgai pendidik, merupakan pendidik yang kodrati dalam lingkungan keluarga. Artinya orang tua sebagai pedidik utama dan yang pertama dan berlandaskan pada hubungan cinta-kasih bagi keluarga atau anak yang lahir di lingkungan keluarga mereka. Kedudukan orang tua sebagai pendidik sudah berlangsung lama, bahkan sebelum ada orang yang memikirkan tentang pendidikan. Secara umum dapat dikatan bahwa semua orang tua adalah pendidik, namun tidak semua orang tua mampu melaksanakan pendidikan dengan baik. Sebagaimana telah dikemukakan dalam bahasan di atas, bahwa kemampuan untuk menjadi orang tua sama sekali tidak sejajar dengan kemampuan untuk mendidik.
3. Guru/Pendidik di Sekolah
Guru sebagai pendidik disekolah yang secara lagsung maupun tidak langsung mendapat tugas dari orang tua atau masyarakat untuk melaksanakan pendidikan. Karena itu kedudukan guru sebagai pendidik dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan baik persyaratan pribadi maupun persyaratan jabatan. Persyaratan pribadi didasrkan pada
4. Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
tampak pada aktifitas pembinaan atau pengembangan sifat kerokhanian manusia, yang didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.
d. . Metode Pendidikan
Dalam interaksi pendidikan tidak terlepas dari metode atau bagaimana pendidikan dilaksanakan. Terdapat beberapa metode yang dilakukan dalam mendidik,yaitu :
1. Metode Diktatoral
Metode ini bersumber dari teori empiris yang menyatakan bahwa perkembangan manusia semata-mata ditentukan oleh faktor luar manusia. Metode ini menimbulkan sikap dictator dan otoriter, pendidik yang menentukan segalanya.
2. Metode Liberal
Bersumber dari pendirian Naturalisme yang berpendapat bahwa perkembangan manusia itu sebagian besar ditentukan oleh kekuatan dari dalam yang secara wajar ada pada diri manusia. Pandangan ini menimbulkan sikap bahwa pendidik jangan terlalu banyak ikut campur terhadap perkembangan anak. Membiarkan anak berkembang sesuai dengan kodratnya secara bebas.
3. Metode Demokratis
Bersumber dari teori konvergen yang mengatakan bahwa perkembangan manusia itu tergantung pada faktor dari dalam dan dari luar. Didalam perkembangan anak kita tidak boleh bersifat menguasai anak, tetapi harus bersifat membimbing perkembangan anak. Disini tampak bahwa pendidik dan anak didik sama-sama penting dalam proses pendidikan untuk mencapai tujuan.
e. Isi Pendidikan/Materi Pendidikan
Isi pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan tujuan pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan perlu disampaikan kepada peserta didik isi/materi yang biasanya disebut kurikulum dalam pendidikan formal. Macam-macam pendidikan tersebut terdiri dari pendidikan agama, pendidikan social, pendidikan keterampilan, pendidikan jasmani dll.
Lingkungan pendidikan meliputi segala segi kehidupan atau kebudayaan. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak membatasi pendidikan pada sekolah saja. Dalam artian yang sederhana lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada di sekeliling anak didik dan komponen-komponen pendidikan yang lain.
g. Alat dan Fasilitas Pendidikan
Alat dan fasilitas pendidikan sangat dibutuhkan dalam proses pendidikan, dengan adanya fasilitas-fasilitas pendidikan maka proses pendidikan akan berjalan dengan lancar sehingga tujuan pendidikan akan mudah dicapai. Misalnya laboratorium lengkap dengan alat-alat percobaannya, internet dll. ( http://izzazhoetd.blogspot.com/2011/12/komponen-komponen-pendidikan.html, diakses tanggal: 25/03/2014.pukul 13.46 WIB).
2.3 PENGAJARAN
a.Pengertian pengajaran
1. Pengajaran merupakan cara yang digunakan atau metode yang digunakan dalam pendidikan untuk mengupayakan tercapainya kemandirian serta kematangan mental dari individu lain sehingga dapat survive dalam kompetisi kehidupannya.
2. Menurut Jones A. Majid, (2005:16), Pengajaran adalah suatu cara bagaimana mempersiapkan pengalaman belajar bagi peserta didik. Dengan kata lain pengajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh para guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar.
(http://diarydahlia.blogspot.com/2011/09/pengertian-pengajaran.html, diakses tanggal
25/03/2014. Pukul 19.26WIB)
b.
Tujuan pengajaran
Tujuan dalam proses belajar mengajar merupakan komponen pertama yang harus diterapkan dalam proses pengajaran, berfungsi sebagai indikator keberhasilan pengajaran. Tujuan ini pada dasarnya merupakan rumusan tingkah laku dan kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki oleh siswa setelah ia menyelesaikan pengalaman dan kegiatan belajar dalam proses pengajaran. Pada hakikatnya, isi tujuan pengajaran adalah hasil belajar yang diharapkan.
pendidik/guru dalam hubungan dengan tugas-tugasnya membina peserta didik/siswa. Misalnya :
- Meningkatkan kemampuan baca siswa - Melatih keterampilan tangan siswa
- Menumbuhkan sifat disiplin dan percaya diri dikalangan siswa.
Dewasa ini, tujuan pengajaran lebih diartikan sebagai perilaku hasil belajar yang diharapkan dimiliki siswa-siswa setelah mereka menempuh proses belajar mengajar. Misalnya :
1. Siswa-siswa memiliki kemampuan membaca yang lebih baik. 2. Siwa-siswa bersikap disiplin dan percaya diri.
3. Siswa-siswa dapat menuliskan contoh-contoh kalimat dalam Bahasa Arab.
4. Siswa-siswa dapat memecahkan persamaan kuadrat.
5. Siswa-siswa gemar membuat kerajinan tangan dari tanah liat.
Dari contoh diatas, terlihat bahwa pada waktu yang lalu. Tujuan pengajaran diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan guru,
sedangkan dewasa ini tujuan pengajaran lebih diartikan sebagai produk atau hasil yang dicapai oleh siswa. Dengan kata lain, tujuan pengajaran pada waktu yang lalu berpusat pada pendidik/guru.(ilmu dan aplikasi pendidikan bagian 2, ilmu pendidikan praktis, 2007: 153)
c. Kegiatan pengajaran
Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu. Proses pengajaran berlangsung pada tempat tertentu, misalnya terjadi didalam kelas dengan penjadwalan yang ketat, sehingga siswa hanya belajar manakala ada kelas yang telah di desain sedemikian rupa sebagai tempat belajar. Adanya tempat dan waktu yang telah ditentukan, sering proses pengajaran terjadi secara sangat formal, siswa duduk di bangku berjejer, dan guru di depan kelas.
2.4 KOMPONEN PENGAJARAN
1. Kemahiran induksi
2. Penerangan
3. Penyoalan
4. Variasi ransangan
1. KEMAHIRAN INDUKSI
Omardin Ashaari (1997) mendefinisikan set induksi adalah proses
terawal dalam sesuatu pengajaran yang dirancang dengan sengaja untuk tujuan-tujuan tertentu.
Ee Ah Meng (1987) menyatakan set induksi ialah kemahiran yang berkaitan dengan cara untuk menyediakan pelajar anda bagi mengikuti sesi pengajaran iaitu orientasi prapengajaran.
Dengan kata lain, Kemahiran set induksi merupakan sesi permulaan sesuatu proses pengajaran. Ia bertujuan supaya murid bersedia belajar dan berfikir sesuatu.
Objektif Set Induksi
Menarik perhatian dan menimbulkan minat murid terhadap
aktivitas pengajaran yang akan dijalankan.
Membina aliran fikiran murid supaya mereka bersedia
mempelajari sesuatu yang berkaitan.
Memotivasikan murid supaya bersedia untuk belajar.
Mengaitkan pengalaman atau pengetahuan lepas murid dengan isi
pelajaran baru yang hendak disampaikan.
Membantu murid mengikuti pelajaran dengan lebih mudah dan bermakna.
menggambarkan, memindahkan sesuatu perkara yang diketahui kepada orang lain.
Penerangan merupakan suatu kemahiran yang digunakan untuk menjelaskan atau menghuraikan sesuatu benda dengan
menggunakan contoh atau ilustrasi.
( http://agusleo2.blogspot.com/2012/03/komponen-dan-karakteristik-pengajaran.html , diakses tanggal 25/03/2014. pukul 19.55WIB)
Teknik Memberi Penerangan : a) MERANCANG
Kenali pasti sasaran, bahan bantu mengajar, pilih kaidah
b) MENEPATI SASARAN
Kebolehan, kemampuan usia dan pengalaman. Bahan bantu
mengajar perlu menepati kumpulan murid.
3. KOMPONEN PENYOALAN
Kemahiran menyoal merupakan suatu kemahiran yang amat kompleks. Sekiranya kemahiran ini digunakan dengan berkesan
Objektif Penyoalan
Merangsang dan mencungkil fikiran murid. Menguji pengetahuan dan kefahaman murid.
Membimbing murid menggunakan kaidah inkuiri-penemuan untuk
membuat kesimpulan atau menyelesaikan sesuatu masalah yang kompleks.
Menarik perhatian murid supaya menumpukan perhatian
mereka kepada aktivitas pengajaran guru atau kepada sesuatu penegasan.
Menilai keberkesanan pengajaran guru dan pencapaian objektif
pelajaran.
Membantu murid mengulangkaji pelajaran untuk menyediakan diri
dalam ujian yang akan datang.
Menjalin perhubungan yang baik diantara guru dengan murid
melalui aktivitas soal jawab.
Membantu murid mengukuhkan konsep dan kefahaman yang baru
dipelajari pada peringkat akhir pelajaran.
Mengembangkan daya pemikiran murid melalui satu
siri soalan yang terancang.
Melibatkan murid secara aktif dalam aktivitas pengajaran dan
pembelajaran.
c) Sebaran - Soalan ditumpukan lebih kepada satu idea,
Soalan divergen.
d) Hentian - soalan disebarkan kepada seluruh kelas.
e) Melayani Jawaban - memberi masa kepada murid memikirkan
jawapannya
f) Memberi petunjuk menjawab - Memberi pujian,
Melengkapkan jawapan, Membaiki jawapan.
g) Memberi petunjuk menjawab - Memberi petua atau petunjuk
untuk membantu murid.
4.VARIASI RANGSANGAN
Prinsip Variasi Ransangan
Perubahan kaidah dan teknik penyampaian guru hendaklah
dikaitkan dengan tujuan dan isi pelajaran
Perubahan aktivitas pengajaran haruslah lancar dan dikaitkan
dengan langkah-langkah penyampaian di antara satu sama lain
Penggunaan alat bantu mengajar untuk mempelbagaikan
pengalihan saluran deria haruslah dirancang dan disampaikan dengan teknik yang berkesan.
Setiap langkah penyampaian haruslah mengandungi
aktivitas pengajaran yang berbeda dengan langkah penyampaian yang lain.
Guru harus mengubah rangsangan berdasarkan maklum balas
yang didapati daripada pelajarnya.
Komponen Variasi Rangsangan
Komponen perubahan pergerakan langkah guru. Guru bergerak
ke kiri dan kanan, belakang dan depan semasa mengajar. Pergerakan langkah guru perlu dilakukan secara perlahan supaya tidak mengganggu P&P dan tumpuan kanak-kanak.
Komponen perubahan fokus deria murid. Perhatian
kanak-kanak akan berubah apabila guru mengubah cara mengajar dengan menggunakan BBM.
Komponen perubahan pergerakan anggota guru. Guru juga
boleh menggunakan bahagian anggota badan yang lain contohnya tangan untuk menegaskan penerangan dan penyampaian.
Komponen perubahan nada suara guru. Guru tidak hanya
menggunakan suara yang mendatar tetapi perlu mengubah nada suara mengikut kepentingan bahan pengajaran.
Komponen perubahan bentuk lisan murid. Kanak-kanak boleh
Komponen perubahan bentuk fizikal murid. Perubahan bentuk fizikal murid seperti lakonan, menulis, dan simulasi.
2.5 PERSEKOLAHAN
a. DEFINISI PERSEKOLAHAN
Menurut Daoed Joesoef (www.suarapembaruan.com/23-03-14/10.20WIB) Persekolahan adalah pembelajaran di sekolah dengan aksentuasi pada penguasaan materi yang diajarkan. Dalam hal ini, peserta didik diwajibkan atau lebih tepatnya dituntut untuk menguasai semua materi yang diberikan guru.
Sekolah merupakan sebuah lembaga yang didalamnya terjadi proses belajar-mengajar. Dewasa ini, persekolahan hanya berorientasi pada Guru mengajar dan Siswa belajar sebagai respon materi yang diajarkan guru. Kesalahan paling fatal adalah menganggap persekolahan yang mengesampingkan nilai pendidikan adalah pendidikan terbaik bagi anak. Pada kenyataannnya, saat ini persekolahan hanya mementingkan sisi kognitif siswa dan emosi serta psikomotorik siswa pun terabaikan. Padahal proses pendidikan mestinya memerhatikan IQ, EQ, dan SQ secara keseluruhan.
Dalam persekolahan yang salah, materi yang dapat dikuasai anak didik dianggap sebagai “pengetahuan”. Mereka mengelirukan “informasi” sebagai “pengetahuan”. Anggapan ini menjadi sumber kelemahan persekolahan saat ini. Mengingat “pengetahuan” berarti “kekuatan” bagi pemiliknya, ada kecenderungan sekolah menjejali anak didik dengan sebanyak mungkin mata pelajaran, hingga menjadi beban yang tak sepadan dengan daya tangkap anak didik sesuai dengan usia fisiknya. Pembelajaran yang eksesif ini, terutama terjadi di lingkungan SD. Padahal, tujuan dari pendidikan dasar di SD bukanlah menjejalkan siswa dengan semua yang mungkin diketahui dari berbagai materi yang (bisa) diajarkan, tetapi benar-benar mempelajari apa-apa yang tidak boleh diabaikan dari setiap materi yang diajarkan itu.
b. TUJUAN PERSEKOLAHAN
‘salah arti’ tersebut, maka anak didik dibekali berbagai informasi yang sebenarnya diluar kapasitasnya.
c. FUNGSI DAN MANFAAT PERSEKOLAHAN
Tuntutan peguasaan materi pada persekolahan dinilai kurang efektif dan keluar dari fungsi sebenarnya. Proses pembelajaran yang semestinya berjalan untuk mempelajari “apa-apa” yang tidak boleh diabaikan dalam setiap materi, menjadi berpusat pada penguasaan anak didik terhadap materi dalam hal menghafal ataupun sekedar mengetahui tanpa mengerti dan memahami materi yang diajarkan.
Dari pemahaman persekolahan inilah muncul beberapa anak didik yang mulai tertinggal materi di kelas. Mengingat daya tangkap dan daya ingat masing-masing dari mereka berbeda-beda. Manfaat dan fungsional sistem dalam persekolahan ini dapat dipastikan hanya berlaku pada anak didik yang memiliki daya tangkap dan daya ingat tinggi, sedangkan anak didik yang memiliki daya tangkap dan daya ingat rendah cenderung berpikir keras agar dapat mengikuti perkembangan “pengetahuan” (informasi) yang diberikan guru, atau bahkan mereka memilih untuk membenci materi guru tersebut.
2.6 KOMPONEN PERSEKOLAHAN
Mc Donal (1965: 3 dalam Nana S. Sukmadinata 2010: 5) berpendapat, sistem persekolahan terbentuk atas empat subsistem, yaitu :
a. Mengajar
Mengajar merupakan suatu perlakuan professional seorang guru. Dalam mengajarpun ada beberapa teori yang dapat diterapkan.
b. Belajar
Belajar merupakan kegiatan atau upaya yang dilakukan oleh siswa sebagai respon terhadap kegiatan mengajar yang diberikan oleh guru. Pada sistem persekolahan, belajar menjadi sesuatu yang orang lain lakukan untuk anak, bukan sebagai bagian dari pengalaman anak itu sendiri untuk belajar bagi dirinya.
c. Pembelajaran
Keseluruhan pertautan kegiatan yang memungkinkan dan berkenaan dengan terjadinya interaksi belajar-mengajar disebut pembelajaran.
d. Kurikulum.
siap ketika telah berada di tengah masyarakat berikut perkembangannya.
2.7 KETERKAITAN ANTARA
PENDIDIKAN, PENGAJARAN, serta
PERSEKOLAHAN
Pengajaran, pendidikan, dan persekolahan adalah perkara yang berbeda. Pendidikan merupakan sistem, sedangkan pengajaran merupakan suatu proses, dan persekolahan merupakan lembaga yang bersifat sebagai fasilitator. Dari pembahasan sebelumnya ada berbagai definisi yang dapat disimpulkan bahwa ketiga hal tersebut disamakan pengertiannya sebagai sistem. Hal itu tentu memengaruhi fungsi dari masing-masing komponen. Mengingat pengertian dari pandangan penulis, ketiganya adalah hal-hal yang saling berkaitan pada proses terjadinya pendidikan.
Kegiatan pendidikan, pengajaran, dan persekolahan sangat terkait. Tidak dapat di pisahkan dari kegiatan peserta didik. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan kegiatan terpadu yang dalam kehidupan manusia di laksanakan pada setiap saat dimanapun manusia itu berada dan pada hakekatnya kegiatan-kegiatan tersebut menjadi usaha manusia untuk memanusiakan manusia itu sendiri serta membudayakan manusia menjadi manusia yang tinggi peradabannya, yang maju mengantisipasi masa depannya.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
PENDIDIKAN
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang ditransfer dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.
Fungsi pendidikan :
Pendidikan sebagai proses transformasi budaya. Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi. Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja
Pendidikan sebagai proses penyiapan warga negara
KOMPONEN PENDIDIKAN
Komponen merupakan bagian dari suatu sistem yang memiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk mencapai tujuan sistem .
Komponen Pendidikan adalah : Bagian-bagian dari sistem proses pendidikan yang menentukan berhasil atau tidaknya atau ada atau tidaknya proses pendidikan
Jadi komponen pendidikan adalah :
a. Tujuan Pendidikan
b. Peserta Didik
c. pendidik
d. Metode Pendidikan
e. Isi Pendidikan/Materi Pendidikan
f. Lingkungan Pendidikan
g. Alat dan Fasilitas Pendidikan
PENGAJARAN
Pengajaran merupakan cara yang digunakan atau metode yang digunakan dalam pendidikan untuk mengupayakan tercapainya
Tujuan pengajaran
Tujuan pada dasarnya merupakan rumusan tingkah laku dan kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki oleh siswa setelah ia menyelesaikan pengalaman dan kegiatan belajar dalam proses pengajaran. Pada
hakikatnya, isi tujuan pengajaran adalah hasil belajar yang diharapkan.
KOMPONEN PENGAJARAN
1. Kemahiran induksi
2. Penerangan
3. Penyoalan
4. Variasi ransangan.
PERSEKOLAHAN
Persekolahan adalah pembelajaran di sekolah dengan aksentuasi pada penguasaan materi yang diajarkan.
Tujuan Persekolahan
tujuan pelaksanaan persekolahan ialah anak didik menguasai semua materi yang diajarkan guru, dimana materi tersebut merupakan “informasi” telah disalah artikan sebagai “pengetahuan”.
Fungsi Dan Manfaat Persekolahan
Fungsinya sebagai lembaga yang melaksanakan pendidikan melalui proses pengajaran.
KOMPONEN PERSEKOLAHAN
Mengajar Belajar
Pembelajaran Kurikulum.
KETERKAITAN ANTARA PENDIDIKAN, PENGAJARAN,
serta PERSEKOLAHAN
kegiatan tersebut diharapkan hasil akhir yang akan meningkatkan kualitas peserta didik sebagai sumber daya manusia yang berpotensi.
3.2 SARAN
Dalam dunia pendidikan indonesia, terjadi “salah kaprah” pemahaman terhadap pendidikan, pengajaran, dan persekolahan. Dimana kegiatan pengajaran pada persekolahan hanya mementingkan output tanpa memerhatikan proses pendidikan selama kegiatan pengajaran berlangsung.
Disini penulis memahami pendidikan, pengajaran, dan persekolahan adalah 3 pilar kesuksesan mencerdasan kehidupan bangsa dan membangun insan berbudi luhur. Apabila ketiga pilar tersebut di pahami dan di implementasikan menjadi satu kesatuan, maka input, proses, maupun output akan mendapat perhatian maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Tim pengembangan ilmu pendidikan FIP-UPI.2007. Ilmu & Aplikasi Pendidikan Bagian 2 Ilmu Pendidikan Praktis. Jakarta: PT IMPERIAL BHAKTI UTAMA.
Tirtarahardja, umar ,dkk. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Renika Cipta.
http://pandidikan.blogspot.com/2010/05/pengertian-pendidikan-dan
pengajaran.html,
http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan
http://izzazhoetd.blogspot.com/2011/12/komponen-komponen-pendidikan.html,
http://zuwaily.blogspot.com/2012/11/komponen-komponen-dalam
sistem.html#.Uy4XGs4pLDc.
http://imammalik11.wordpress.com/2013/12/12/komponen-pendidikan
http://www.slideshare.net/astikarhy/komponen-pendidikan-15693926#,
http://izzazhoetd.blogspot.com/2011/12/komponen-komponen-pendidikan.html,
http://diarydahlia.blogspot.com/2011/09/pengertian-pengajaran.html,
http://www.kawansejati.org/perbedaan-antara-pendidikan-dan-pengajaran,
h
ttp://elisiusjunaidi.blogspot.com/2012/03/perbedaan-pendidikan-dan-pengajaran.html