Instalasi
Pengolahan Air
Limbah
Semanggi
Oleh:
Dina Arifia I0612012
Nilla Teni P. I0612030
Perencanaan Wilayah dan Kota
Jurusan Arsitektur
Fakultas Teknik
Univesitas Sebelas Maret
Surakarta, 2013
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masyarakat perkotaan tentunya akan menghasilkan suatu buangan akibat dari aktivas sehari-hari. Buangan tersebut dapat berbentuk cair, padat, maupun gas. Secara terminologi, hasil buangan itu disebut sebagai limbah. Limbah mengandung bahan pencemar yang berbahaya dan mengandung racun karena terdapat kandungan bahan kimia organic maupun anorganik, tingkat keasaman yang tinggi, alkalinitas (mengandung logam) dan sifat-sifat lainnya. Hasil buangan didomininasi oleh limbah cair yang biasa disebut air limbah. Air limbah adalah kombinasi dari cairan dan sampah-sampah cair yang berasal dari daeraha permukiman, perdagangan, perkantoran, dan industri.yang tercampur dengan air tnah, air permukaan, dan air hujan (Metcalf & Eddy: 2003).
Keberadaan air limbah ini dapat diindikasi dengan 3 indikator, yaitu indikator fisik (contohnya: air menjadi keruh dan berbau tak sedap), indikator kimiawi (contohnya: mengandung bahan kimia yang mengganggu kesehatan lingkungan), dan yang terakhir indikator organo-biologis (contohnya: mengandung bakteri pathogen dan mikroba). Untuk pencemaran air limbah domestik/rumah tangga didominasi oleh limbah yang bersifat organomikrobiologis. Sedangkan untuk limbah nondomestik/industri didominasi oleh limbah yang bersifat fisik kimiawi terutama tercemar oleh logam berat (Sugiharto: 1987).
2 dikatakan kuat apabila volume suspensi padat lebih dari 500 mg/L. Karakteristik kimiawi air limbah mengandung campuran zat kimia anorganik yang berasal dari air bersih serta bermacam-macam zat organik yang berasal dari penguraian tinja, urin, dan sampah lainnya. Karakteristik bakteriologi air limbah mengandung bakteri yang berfungsi untuk menyeimbangkan DO dan BOD. Perlu diketahui pengertian BOD adalah suatu ukuran jumlah oksigen yang digunakan oleh populasi mikroba.
1.2 Tujuan
Tujuan penelitian ini antara lain:
1. Mengetahui area layanan dan sumber limbah di IPAL Semamnggi 2. Mengetahui unit-unit pengolahan limbah IPAL Semanggi
3. Mengethaui seistem pengolahan limbah di IPAL Semanggi 4. Mengtahui baku mutu IPAL Semanggi
5. Mengetahui masalah yang muncul di IPAL Semanggi
3
BAB II
METODE PENELITIAN
2.1 Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian, teknik pengumpulan data merupakan faktor penting demi keberhasilan penelitian. Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara mengumpulkan data, siapa sumbernya, dan apa alat yang digunakan.
Untuk mengidentifikasi profil instalasi pengolahan air limbah semanggi digunakan metode observasi lapangan dan metode wawancara.
Obrservasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi). Teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan
dilakukan pada responden yang tidak terlalu besar.
4
Tabel 2. 1 Kebutuhan Data Wawancara
No. Pertanyaan Jawaban
1. Bagaimana sistem pengolahan limbah IPAL Semanggi?
Pipa dipasang di rumah-rumah pendudukan kemudian di alirkan grit chamber yang sebelumnya sudah di screening, kemudian melawati proses equalisasi untuk pengaturan debit air setelah itu masuk ke bak aerasi untuk meratakan seluruh isi bak lalu proses selanjutnya masuk ke bak sedimentasi yang berfungsi untuk mengendapkan lumpur dan yang terakhir air yang sudah sesuai dengan baku mutu lingkungan di buang ke sungai dan lumpurnya masuk ke bak pengering.
2. Apa saja unit yang digunakan unutk pengolahan IPAL Semanggi
Grit Chamber, Pipa, Screen, Bak Equalisasi, Bak Aerasi, Bak Sedimentasi, dan Bak Pengering Lumpur.
3. Bagaimana baku mutu
lingkungan di IPAL Semanggi
Berdasar hasil penelitian terkahir pada tanggal 5 Desember 2013 BOD dan COD IPAL Semanggi sebesar 30-40 mg/L dan 75-80 mg/L. Ini menunjukan air limbah yang masuk ke sungai sudah memenuhi baku mutu lingkungan.
4. Darimana asal limbah yang ditampung dan berapa luas jangkauan layanan IPAL
5
Semanggi? selatan kota Surakarta.
5. Apa saja masalah yang muncul di IPAL Semanggi?
Masyarakat masih belum sadar kebersihan sehingga masih banyak terdapat sachet shampoo dan sabun yang seharusnya tidak boleh masuk ke aliran air limbah karena akan
menyumbat proses pengolahan limbah.
6. Bagaimana solusi atas masalah yang muncul ini?
Melakukan sosialisasi kepada masayarakat melalui PKK dan rapat kelurahan.
2.2 Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan untuk penelitian IPAL Semanggi adalah metode penelitian deskriptif kualitatif, yaitu melalui wawancara dari sumber-sumber yang berhubungan dengan penelitian, observasi melalui pengamatan yang diteliti, dan dokumentasi untuk melengkapi data hasil wawancara. Data kualitatif sering dikumpulkan menggunakan penelitian lapangan. Penelitian lapangan melibatkan pemilihan sebuah peristiwa, kondisi, atau situasi untuk dipelajari, dan pengamatan interaksi dengan peristiwa, kondisi atau situasi yang sudah diatur. Penelitian lapangan membuat catatan rinci pada proses perekrutan ini dan mungkin akan mewanwancara semua yang terlibat dalam proses perekrutan tersebut (secara formal atau informal). Penelitian deskriptif kualitatif memberikan gambaran dengan menggunakan data dalam bentuk kata-kata atau gambar.
6
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Sejarah Pendirian IPAL Semanggi
Kota Surakarta telah memiliki sumber air yang terkenal yaitu Sungai Bengawan Solo. Jumlah yang melimpah tidak menjamin bahwa air tersebut berkualitas bagus dan dapat dikonsumsi. Aktivitas manusia dan kurangnya kesadaran manusia membuat air di sungai ini menjadi tercemar dan tidak terjaga kemurniannya sehingga tidak terjadi keseimbangan di alam yang berakibat menurunnya kualitas kesehatan manusia maupun makhluk hidup lain di sekitar sungai. Oleh karena itu air menjadi tanggungjawab masyarakat untuk menjaga kelestariannya agar dapat dimanfaatkan makhluk hidup pada umumnya dan manusia pada khususnya.
Kurangnya pengetahuan dan lemahnya kesadaran masyarakat tentang pengelolaan air perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah sosialisai atau penyuluhan tentang bahaya limbah domestik, yaitu limbah yang berasal dari usaha atau kegiatan permukiman dan perdagangan. Meskipun limbah domestik merupakan limbah yang berbahaya, masyarakat masih mengabaikan cara pembuangan limbah domestik yang sesuai dengan standar. Banyak masyarakat yang belum memasang pipa saluran limbah ke instalasi pengolahan, melainkan langsung dibuang begitu saja ke sungai.
7 Bak Equalisasi, Bak Sedimentasi-Aerasi, dan Bak Pengering Lumpur. Pada tahun 2006 kapasitas IPAL Semanggi ditingkatkan menjadi 60 liter per detik dengan penambahan unit pengolahan berupa Bak Aerasi.
3.2 Lokasi IPAL Semanggi
IPAL Semanggi terletak di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta. IPAL Semanggi ini berdekatan dengan Pasar Klithikan Notoharjo dan juga Rusun Semanggi. Batas selatan dan timur dari lokasi IPAL ini adalah Kabupaten Sukoharjo, bagian utara berbatasan dengan Kelurahan Sangkrah, sedangkan bagian barat berbatasan dengan Kelurahan Joyosuran dan Pasar Kliwon.
3.3 Pengolahan Limbah IPAL Semanggi
3.3.1 Area Layanan dan Sumber Limbah IPAL Semanggi
Instalasi Pengolahan Air Limbah di Semanggi melayani pemgolahan limbah untuk Kota Surakarta bagian selatan. Sedangkan pelayanan daerah utara digunakan IPAL Mojosongo,
Gambar 3.2.1 Lokasi IPAL Semanggi Surakarta
8 untuk daerah tengah direncanakan menggunakan IPAL Pucangsawit yang saat ini sudah dibangun namun belum memiliki sambungan jaringan sehingga belum dioperasikan. Limbah yang tertampung di IPAL Semanggi merupakan limbah domestik yaitu air buangan rumah tangga, perkantoran, dan perdagangan. Sedangkan limbah industri batik yang banyak terdapat di Kelurahan Laweyan, walaupun termasuk Kota Surakarta bagian selatan namun limbah batik tersebut diolah oleh IPAL Laweyan.
Kelurahan-kelurahan yang dilayani oleh IPAL Semanggi ada 14 kelurahan dan terbagi menjadi 3 sistem, yaitu:
a) Sistem Mangkunegaran, terdiri dari Kelurahan Mangkubumen, Timuran, Ketelan, Punggawan, Kestalan, Keprabon, Setabelan, dan Kampung Baru.
b) Sistem Kasunanan, terdiri dari Kelurahan Pajang, Purwosari, Penumping, Bumi, Panularan, Jayengan, Tipes, Sondakan, Panularan, Sriwedari, Gajahan, Baluwarti, Danukusuman, Serengan, Kratonan, dan Kauman.
c) Tambahan baru, terdiri dari Kelurahan Joyosuran, Pasar Kliwon, Kedung Lumbu, Joyotakan, dan Semanggi.
Sumber: Tim Penulis Analisis IPAL Semanggi 2013
9 3.3.2 Unit Pengolahan IPAL Semanggi
Sistem pengolahan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah di Semanggi ini terdiri dari beberapa sistem, yaitu:
a) Unit Grit Chamber, terdiri dari:
Screen Bar, berfungsi untuk menyaring kotoran dan ampas sampah yang mengapung supaya aliran air limbah tidak tersumbat
Pompa Lumpur, berfungsi untuk menguras lumpur yang terendapkan
Pintu Air, berfungsi sebagai gerbang masuk aliran air
V Notch, berfungsi untuk mengatur limpasan air menuju bak Ekualisasi
b) Unit Ekualisasi, berfungsi untuk meratakan fluktuasi debit harian, terutama pada jam-jam puncak pembuangan limbah oleh penduduk (pagi dan sore hari) sehingga dapat dipompa secara kontinu menuju ke bak Aerasi.
10 c) Unit Aerasi, berfungsi untuk mencampurkan dan meratakan seluruh isi bak, selain itu udara yang dialirkan juga turut menyuplai oksigen yang dibutuhkan bagi mikroorganisme.
d) Unit Sedimentasi, berfungsi untuk mengendapkan lumpur sehingga terpisah antara air yang siap buang dengan lumpur yang terbentuk.
Gambar 3.3.2.2 Bak dan Pompa Ekualisasi
11 e) Bak Pengering Lumpur, berfungsi untuk media penjemuran lumpur hasil sedimentasi sehingga diperoleh lumpur kering yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos. Namun kompos dari lumpur kering ini hanya dapat digunakan untuk jenis tanaman keras seperti Pohon Jati saja.
Berikut merupakan tabel spesifikasi unit-unit pengolahan limbah yang teradapat di IPAL Semanggi Surakarta:
Gambar 3.3.2.4 Bak dan Pompa Sedimentasi
12
Tabel 3.3.2.1 Unit Pengolahan IPAL Semanggi
No. Unit Satuan Spesifikasi Keterangan
1. Grit
Sumber: SOP IPAL Semanggi Surakarta, 2009
3.3.3 Sistem Pengolahan IPAL Semanggi
Pipa-pipa saluran air limbah yang sudah dipasang pada rumah-rumah penduduk, perkantoran, maupun perdagangan sudah terhubung dengan sistem pengolahan limbah di IPAL Semanggi. Pipa-pipa tersebut mengambil air dari saluran buangan warga dan dialirkan menuju Grit Chamber dengan sebelumnya disaring terlebih dahulu dengan Screen yang letaknya di bawah jalan raya. Fungsi dari Screen ini adalah untuk menyaring limbah padat yang masih tercampur dengan air limbah, seperti misalnya bungkus shampo, sabun, deterjen, dan sebagainya.
13 Chamber adalah untuk menyaring kembali sampah serta untuk memisahkan air dengan lumpur yang tercampur. Grit Chamber di IPAL Semanggi ini dibuat secara tertutup untuk menghindari bau menyengat karena dekat dengan permukiman warga. Alasan lainnya adalah karena banyak anak-anak kecil yang sering bermain di areal IPAL sehingga bak dibuat tertutup untuk menghindari resiko kecelakaan yang tidak diharapkan.
Sistem pengaliran limbah dilakukan dengan memanfaatkan gravitasi bumi dari Grit Chamber menuju bak Ekualisasi, yaitu bak yang berfungsi untuk menyeimbangkan jumlah aliran air yang masuk. Sedangkan pengaliran limbah dari bak Ekualisasi menuju bak Aerasi dilakukan menggunakan pompa dengan memanfaatkan enam unit pompa. Selanjutnya pengaliran air limbah dari bak Aerasi menuju bak Sedimentasi dilakukan secara gravitasi kembali hingga pengaliran menuju badan penerima air, dalam hal ini Sungai Bengawan Solo.
14 3.3.4 Baku Mutu IPAL Semanggi
Baku mutu air limbah adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar dan/atau jumlah unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam air limbah yang akan dibuang atau dilepas ke dalam sumber air dari suatu usaha dan/atau kegiatan. Baku mutu air limbah IPAL Semanggi ditentukan oleh kadar BOD dan COD.
BOD atau Biological Oxygen Demand adalah suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme (biasanya bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik (Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991). Ditegaskan lagi oleh Boyd (1990), bahwa bahan organik yang terdekomposisi dalam BOD adalah bahan organik yang siap terdekomposisi (readily decomposable organic matter). Mays (1996) mengartikan BOD sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan sebagai respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat diurai.
15 Kadar baku mutu air limbah berdasarkan PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 03 TAHUN 2010 ditetapkan sebagai berikut:
Tabel 3.3.4.1 Kadar Baku Mutu Air Limbah
Sedangkan untuk baku mutu limbah IPAL Semanggi dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3.3.4.2 Kadar Baku Mutu IPAL Semanggi
No. Parameter Satuan Kadar Maksismum
1. pH Mg/L 6 – 9
2. BOD 5 mg/L 30-40
3. COD Mg/L 75-80
Tabel di atas menunjukkan bahwa kadar baku mutu air limbah IPAL Semanggi sudah memenuhi standar yang telah ditentukan pada Permen Lingkungan Hidup No.03 tahun 2010 dan sudah aman untuk dibuang ke sungai.
No. Parameter Satuan Kadar Maksismum
1. pH Mg/L 6 – 9
2. BOD 5 mg/L 50
16 Untuk membuktikan kelayakan air limbah IPAL Semanggi dilakukan uji laboraturium. Adapun hasil pengujian sampel pada air limbah IPAL Semanggi sebagai berikut:
Tabel 3.3.4.3 Hasil Pengujian Sampel Inlet dan Outlet IPAL Semanggi 2012
Komponen Inlet Outlet
DO 0,67 mg/L 1,99 mg/L
Ph 6,88 mg/L 7,30 mg/L
TDS dan Konduktivitas
912 /cm 854 µS/cm
Fluktuasi debit inlet yang masuk ke IPAL Semanggi terjadi kondisi maksimum pada pukul 06.00-10.00 dan pukul 18.00-22.00, sedangkan kondisi minimum terjadi pada pukul 10.00-16.00 dan pukul 23.00-04.00. adapun tabel debit inlet yang masuk ke IPAL Semanggi pada jam pagi dan sore hari:
Tabel 3.3.4.4 Debit Inlet IPAL Semanggi
JAM OPERASI OPERASI
(JAM)
POMPA
TRANSFER AERATOR TOTAL
17 3.3.5 Permasalahan IPAL Semanggi
a) Kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuang air limbahnya ke jaringan pipa air limbah.
b) Masyarakat masih menganggap mahalnya pemasangan/penyambungan air limbah.
c) Minimnya dana untuk meningkatkancakupan pelayanan pengolahan air limbah, sehingga pengembangan pelayanan berjalan lamban.
d) Masih adanya masyarakat yang membuang air limbahnya ke sungai, sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan.
e) Jasa penyedot tinja swasta masih membunag lumur tinjanya ke sungai.
3.3.6 Solusi dan Pemecahan Masalah IPAL Semanggi
a) Melakukan kampanye kepada masayarakat untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya penanganan air limbah. Forum: RT/RW, Kelurahan, PKK, serta media masa dan lain-lain.
b) Pelibatan masayarakat untuk pembangunan sanitasi kota atau kawasan.
c) Perlunya dukungan dana baik dari berbagai sumber, Pemerintah (Pusat, Pemerintah Provinsi, maupun Pemerintah Kota Surakarta, Swasta, Masyarakat serta pihak donor).
d) Pengembangan sistem jaringan pemipaan untuk peningkatan cakupan layanan.
18
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
a. Pengujian kimia limbah cair di IPAL Semanggi Kota Surakarta sudah memenuhi persyaratan baku mutu air limbah.
b. Pengolahan air limbah di IPAL Semanggi Kota Surakarta sangat membantu Perusahaan Daearah Air Minum Kota Surakarta karena turut menjaga kelestarian air dengan mengolah limbah domestik masyarakat sebelum dibuang ke sungai Bengawan Solo, yang pada akhirnya akan diolah PDAM Kota Surakarta menjadi air konsumsi.
4.2 Saran
a. IPAL Semanggi Kota Surakarta sebaiknya lebih menggalakkan sosialisasi tentang sistem pemipaannya dan lebih tegas dalam menghimbau masyarakat Kota Surakarta agar tiak membuang sampah ke sungai.
b. Adanya kerjasama yang jelas antara IPAL Semanggi Kota Surakarta dengan jasa sedot tinja, karena menguntungkan bagi kedua belah pihak dan sanksi bagi yang tidak taat.
c. IPAL Semanggi Kota Suarakarta harus berpandangan ke depan dengan kerjasama dengan berbagai pihak khusunya untuk masalah dana, karena selama ini untuk pengolahan air limbah IPAL Semanggi Kota Surakarta hanya mengandalkan dana bantuan dari pusat.