• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan perjalanan ke pacitan oke (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan perjalanan ke pacitan oke (1)"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

DISUSUN OLEH :

1. Ade Algantara J.N (01) 2. Hanung Prasetyo (20)

3. Pardiyana (30)

4. Reza Fardilla R. (33)

SMP NEGERI 4 NGAWEN

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Karya tulis berjudul “Laporan Perjalanan Wisata SMP Negeri 4 Ngawen Ke Pacitan 2014”

Disusun Oleh :

1. Ade Algantara J.N (01) 2. Hanung Prasetyo (20) 3. Pardiyana (30) 4. Reza Fardilla R. (33)

Telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing Karya Tulis, dan Kepala Sekolah selaku penanggung jawab kegiatan pada tanggal 23 Juni 2014.

Mengetahui Kepala Sekolah

(Gemi, S.Pd.MA)

NIP. 19620401 198403 2 010

Ngawen, 03 September 2014 Pembimbing

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan perjalanan studi wisata dengan baik, walaupun masih banyak kekurangan, kejanggalan kata-kata, kekeliruan dan hambatan.

Laporan ini disusun berdasarkan kegiatan yang

dilaksanakan siswa SMP N 4 Ngawen yang merupakan kewajiban untuk membuat laporan hasil studi wisata tahun 2013/2014. Laporan ini tidak akan sukses dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak. Maka tiada kata terukir indah selain ucapan terima kasih kepada yangterhormat:

1. Ibu Gemi, S.Pd.MA selaku kepala SMP N 4 Ngawen sebagai penanggung jawab.

2. Ibu Ima Khulata Purwaningsih, S.Pd Selaku pembimbing karya wisata.

3. Ayah dan Ibu tercinta yang telah mencurahkan perhatian dan dukungannya baik secara materil maupun non materil 4. Teman-teman yang telah membantu dalam penyusunan

laporan ini

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis berharap kepada semua pihak dan pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan lebih lanjut.

Demikian laporan ini penulis buat semoga bermanfaat bagi semua pihak.

(4)
(5)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PENGESAHAN... ii

KATA PENGANTAR... iii

DAFTAR ISI... iv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Maksud dan Tujuan ... 1

C. Metode Pengumpulan Data... 2

D. Waktu dan Tempat obyek Wisata Belajar... 2

BAB II PEMBAHASAN A. Goa Tabuhan... 3

B. Goa Gong... 6

C. Pantai Teleng Ria... 11

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ... 14

B. Saran ... 14

(6)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Karya Wisata adalah kegiatan wisata yang dilakukan dengan tujuan untuk menambah pengetahuan siswa dan menambah pengalaman. Setelah karya wisata dilaksanakan, siswa diwajibkan untuk menyusun karya tulis. Karya tulis adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah selesai dilaksanakan.

Dalam penyusunan karya tulis ini, siswa diharapkan dapat melaporkan segala pengetahuan dan pengalamannya yang diperoleh selama menjalankan study tour. Pengalaman dan pengetahuan selama mengikuti study tour ke Pacitan Jawa Timur diharapkan dapat memberikan manfaat untuk kehidupan sehari-hari. Dalam laporan karya tulis ini membahas tentang beberapa objek wisata dan objek study tour yang berada di Pacitan Jawa Timur dan sekitarnya.

B. Maksud dan Tujuan

Tujuan yang hendak kami capai dalam pembuatan laporan perjalanan ini serta dalam pelaksanaan study tour adalah sebagai berikut:

1. Menyelesaikan tugas akhir Bahasa Indonesia

2. Untuk mengembangkan potensi, etika, estetika, dan pratika. 3. Untuk memupuk rasa cinta terhadap tanah air.

4. Untuk menambah pengetahuan dan pengalaman siswa. 5. Mensyukuri Keindahan Alam

6. Dapat menerapkan ilmu dan pengetahuan yang telah didapat sehingga dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

(7)

C. Metode Pengumpulan Data

Dalam penyusunan karya tulis ini teknik pengumpulan data yang kami gunakan adalah sebagai berikut :

1. Teknik pengamatan

Dalam observasi di Pulau Bali, kami melakukan pengamatan dengan cara mengamati bagian – bagian atau tempat – tempat yang ada di sana serta melakukan pemotretan ( Pengambilan gambar ).

2. Studi Pustaka

Dalam pengumpulan data kami menggunakan cara kepustakaan, yaitu dengan mencari data dari majalah – majalah perpustakaan buku panduan tentang Pulau Bali, buku – buku lainnya yang berkaitan dengan penyusunan karya tulis dan juga dari Internet.

D. Waktu Dan Tempat Tujuan Wisata

(8)

BAB II PEMBAHASAN A. GOA TABUHAN

1. Sejarah Goa Tabuhan

Menurut ceritera masyarakat sekitar, Goa Tabuhan yang ditemukan oleh Kyai Santiko yang kehilangan lembu tetapi tidak segan lembu yang telah datang ke goa. Lembu itu tidak ingin keluar dari goa, karena

menyimpan banyak air dari pada akar itu. Setelah belukar telah dibersihkan, goa perawatan diambil oleh Raden Bagus Joko Lelono dan puteri Raden Ayu Mardilah.

Oleh karena keaslian bebatuan di dalam gua. Raden Bagus Joko Lelono dan Putri Raden Ayu Mardilah, masih keturunan Kyai Santiko, membersihkan gua dari semak belukar. Belakangan keturunan Raden Bagus Joko yang memiliki darah seni menyebutnya sebagai Gua Tabuhan karena bebatuan menjulur dari langit-langit ataupun yang menjulang (stalagmit dan stalaktit), dapat dijadikan alat musik (gamelan).

Kemudian dipopulerkan oleh Kertodirodjo, wedana Punung tahun 1936 diberi nama Goa Tabuhan, karena batu-batuan di dalamnya jika ditabuh menimbulkan ritme laras seperti gamelan Jawa. Mungkin karena banyak cerita yang mengaitkan Goa Tabuhan dengan perjuangan bangsa, maka goa tersebut banyak dijadikan kunjungan objek wisata kalangan militer.

Sentot Prawirodirjo salah satu pengikut setia Pangeraan diponegoro pernah bersembunyi dan bertapa di tempat tersebut, juga Pangeran

(9)

menjulur dari langit-langit ataupun yang menjulang (stalagmit dan stalaktit), dapat dijadikan alat musik (gamelan).

2. Lokasi Goa Tabuhan

Lokasinya berada di Dukuh Tabuhan, Desa Wareng, Kecamatan Punung, atau sekitar 35 kilometer arah barat Kota Pacitan. Daerah itu dikenal dengan kawasan perbukitan gamping Pegunungan Seribu di selatan Pulau Jawa, goa-goa yang berada di gugusan Pegunungan Seribu.

Gua Tabuhan terletak di pantai barat daya Jawa Timur. Gua ini disebut Tabuhan karena bebatuan yg ada di gua ini bisa digunakan untuk bermain musik khas jawa dan juga kerap mengeluarkan suara khas gamelan jawa. Gua ini sangat spektakuler , dengan varilored stalagmites ke atas mencapai setinggi 50 meter menuju liontin stalagtites dibentuk oleh tetesan air dari atap. Hal ini disebut sebagai gua Tabuhan karena jika lapped akan

menghasilkan suara seperti irama musik Jawa (gamelan).Gua ini terletak di desa Wareng, Punung – Pacitan.

Keunikan nya adalah beberapa stalagnit nya kalau di pukul mirip suara gendang."Tempat itu mulai ramai dikunjungi orang sejak 1998. Dulunya setiap minggu dipakai sebagai tradisi,” kata Wisanggeni. Penduduk bisa mendapatkan nafkah dengan cara mengadakan pertunjukan bunyi-bunyian dari stalagmit alam yang dipadu dengan suara tembang.

Goa Tabuhan yang letaknya tidak jauh dari Goa Gong, dan masih di Kecamatan Punung. Di goa ini terdapat keunikan yang tiak ditemui di goa lainnya. Terdapat stalaktit yang mengeluarkan suara merdu saat

dipukul.Keindahan suara stalaktit di goa itu dimanfaatkan penduduk setempat sebagai atraksi untuk pengunjung. Jika ingin mendengar pemusik setempat memainkan musik dari stalaktit, pengunjung membayar sekitar Rp 40.000 untuk lima lagu.

(10)

kapur. Dengan panjang rata-rata hingga tujuh meter dan diameter hingga satu meter. stalagtit dan stalagmit di goa yang termasuk wilayah Dukuh Tabuhan, Wareng, Kecamatan Punung, sekitar 24 kilometer arah barat kota Desa Pacitan ini tampak menyerupai pilar-pilar raksasa yang sangat

menakjubkan. Untuk sampai ke kawasan perbukitan gamping Pegunungan Seribu dari Kota Kabupaten Pacitan tidaklah sulit Selain banyak kendaraan umum.

Sesampainya di lokasi objek wisata, selain akan disambut pedagang suvenir, wisatawan juga akan disambut penjual jasa lampu senter dan panduan masuk gua. Bila berniat menggunakan pemandu agar mengetahui sejarah dan latar belakang Gua Tabuhan, wisatawan tinggal memberi tips. Sementara bila hanya membutuhkan senter, wisatawan tinggal merogoh kocek Rp 2.000.

Sebelum masuk, kita terlebih dahulu harus menaiki anak tangga landai sejauh 10 meter, di hadapan kita terpampang mulut gua dengan tinggi 3 meter dan lebar 10 meter dengan "taring-taring" putih aneka ukuran Seperti mulut yang siap terkatup.

Taring-taring itulah pemandangan utama Gua Tabuhan, taring yang tak Iain adalah juluran-juluran stalag-mit dengan panjang mencapai 7 meter dan diameter pangkalnya 01 meter. Kalau diamati satu per satu, bisa ditemui macam-macam rupa di tiap ujung akar stalagmit Ada yang bentuknya mirip wayang, ada yang mirip sepasang kaki sedang berayun, ada juga yang seperti kepala ular. Berkunjung ke Gua Tabuhan selain menikmati fenomena alam berupa bebatuan, sekaligus menikmati simfoni gamelan yang tercipta dari bebatuan.

(11)

stalagmit maupun stalaktit ada yang berfungsi sebagai kenong, cente penerus, kempul, dan gong. Masing-masing dipukul oleh satu orang laki-laki. "Memang tidak semua bebatuan bernada, karenanya digunakan yang memiliki suara mendekati nada. Jika letak ujung stalagmitnva rendah, pemainnya cukup duduk di bangku, tapi jika stalagmitnva tinggi, pemainnya berdiri di atas bangku.

Lokasi bebatuan rang ditabuh menempel di dinding gua. Untuk membuat nyaman wisatawan, pihak pengelola membuatkan kursi dari tembok semen. "Hanya dengan membayar Rp 70.000, selama 15 menit pengunjung bisa duduk sambil menikmati lima langgani Jawa dari permainan gamelan unik yang hanya dijumpai di Goa Tabuhan

Selain menikmati bebatuan serta musik gamelan batu, wisatawan juga dapat menikmati seluk beluk gua hingga ke rongga paling dalam. Panjang Gua Tabuhan mencapai lebih dari 300 meter dengan bagian terdalam adalah rongga tempat semedi. Letaknya agak tinggi, yakni setinggi pinggang orang dewasa. Ruangannya sempit, hanya muat satu orang, dan tidak

memungkinkan untuk berdiri. Berkunjung ke Gua Tabuhan selain

menikmati keindahan alam berupa bebatuan, sekaligus menikmati simponii gamelan yang berasal dari bebatuan.

Jika ingin mencari souvenir gak sah bingung di sekitar tempat ini, ramai para penjual. Meski menurut mereka, goa ini hanya ramai pada saat hari libur saja. Sejumlah cinderamata yang bisa didapat di sekitar lokasi wisata, antara lain batu akik, meja batu marmer, jam dinding dari batu, patung kuda batu dan banyak perhiasan rumah tangga terbuat dari batu.

B. GOA GONG

(12)

Selain keindahan stalagtit dan stalagmitnya Goa Gong memiliki empat sendang yang dinilai magis bagi siapa saja yang mempercayainya.

1. Riwayat Penemuan Goa Gong

Dalam sejarahnya Goa Gong sebenarnya sudah lama dimasuki oleh manusia yaitu nenek moyang kita dahulu, namun seiring perjalanan waktu goa tersebut sepertinya hilang begitu saja dan yang ada hanyalah cerita-cerita lama/dongeng orang-orang tua, namun justru dongeng dan cerita-cerita itulah pada akhirnya warga dusun Pule desa Bomo bertekad untuk

menemukan kembali goa tersebut. Dan dengan dipimpin Kepala Dusun Pule maka pencarian goa dimulai :

Pertama : memcocokkan cerita-cerita

Kedua : mencari arah dan alur kehidupan, baik kehidupan binatang maupun kea-dan alam sekelilingnya

Ketiga : memastikan letak Keempat : mulai memasuki goa

(Dikisahkan oleh Drs. Wakino/ Penemu Goa Gong)

Ketika itu hari Minggu Pon tanggal 5 Maret 1995 sekitar pukul 09.00 wib, ayah bersama kami duduk di ruang depan bercerita tentang kejadian yang dialami oleh mbah Noyo Semito (kakek Drs. Wakino) dengan teman-temannya yang bernama mbah Joyo ± 60 tahun silam.

Ketika itu Dusun Pule, Desa Bomo, Kecamatan Punung,

Kabupaten Pacitan dilanda kemarau pangjang hingga sulit untuk mencari air minum dan untuk keperluan sehari-hari.

Dengan keadaan seperti itu kedua kakek tersebut dengan

(13)

Walaupun pengalaman itu telah diceritakan pada masyarakat disekitar, namun tak seorangpun yang berani mengikuti jejaknya, karena menurut kepercayaan masyarakat di sana goa itu dianggap masing wingit (angker).

Setelah mendengar cerita ayah tersebut, terketuklah hati kami timbul niatan untuk membuktikan kebenaran yang kakek alami. Keinginan itu ternyata didukung oleh ayah (Bpk. Suramin) dan teman-teman lain yang berjumlah 8 orang. Namun di antara teman-teman itu ada yang pro dan kontra mengenai rencana itu, bahkan ada yang ingin menunda untuk mencari hari baik. Akhirnya niat kami itu disetujui setelah kami menyampaikan bahwa besuk akan segera pulang ke Magetan. 2. Perjalanan di dalam Goa

Dengan peralatan yang sederhana, perasaan was-was, takutdan ngeri dikhawatirkan ada binatang buas, kami beserta rombongan terus berusaha menelusuri lorong-lorong goa.

Liku-liku perjalanan pada waktu itu memang penuh dengan perjuangan yang luar biasa antara hidup dan mati. Sambil terus

memanjatkan doa kehadirat Illahi Robbi, tetap melangkahkan kai mencari arah mana yang harus diikuti. Memang pada waktu itu kamilah sebagai pencari jalan dan selalu memberikan motivasi pada rombongan, (“ayo maju terus…slamet-slamet…ojo wedi!”).

Tiba-tiba kami dikejutkan olehgambaran yang menakutkanseolah-olah ada seorang manusia yang berdiri tegak menghadang kehadiran kami, ternyata setelah terkena sinar itu hanyalah sebuah batu besar yang

menjulang tinggai yang berfungsi sebagai penyangga goa.

(14)

Setelah kami bersama meyakini bahwa jalan tersebut benar maka

perjalananpun dilanjutkan. Berkat petunjuk Illahi berhasilla kami keluar dari goa.

3. Pemberian Nama Goa

Penamaan goa Gong bertalian erat denag salah satu nama dari perangkat gamelan Jawa. Konon pada saat –saat tertentu, di gunung yang terdapat goa tersebut sering terdengar bunyi-bunyian seperti seperti gamelan Jawa, pertunjukkan reog, terbangan, bahkan sering terdengar orang

menangis yang memilukan. Karena itu masyarakat di sekitarnya memberi nama gunung tersebut gunung Gong-Gongan. Maka kami bersama

rombongan yang berjumlah 8 orang tadi memberi nama goa itu adalah goa Gong.

Selain itu kalau kita menyasikan keindahan goa tersebut

memperlihatkan suatu pertanda bahwa goa itu tiada duanya. Sehingga kami bersama rombongan menyimpulkan goa Gong tersebut merupakan gongya goa.

4. Letak Goa Gong

Goa Gong terletak di pesisir pantai selatan, tepatnya di Dusun Pule, Desa Bomo, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, 37 km ke arah barat kota Pacitan. Goa Gong dikelilingi oleh sederetan gunung, diantaranya :

 Sebelah utara aladah gunung Manyar  Sebelah timur adalah gunung Gede

 Sebelah selatan adalah gunung Karang Pulut  Sebelah barat adalah gunung Grugah

(15)

5. Keberadaan Goa Gong

5. 1. Goa Gong Sebelum Direnovasi

Goa Gong tidak bisa dielakkan lagi tentang keindahan, keasrian, dan keunikan yang ada di dalamnya. Pengunjung pasti akan merasa heran, kagum dikarenakan seolah-olah kita memasuki dunia baru. Ruang pertama yang sudah penuh dengan ukiran alami itu, seakan-akan pengunjung disambut dengan ucapan selamat datang.

Pintu abadi yang sudah ada, seakan mengajak kita untuk memasuki ruang kedua dengan ukuran yang sangat luas, di sana ada semacam kamar manidi yang terbuat secara alami. Kemudian dari sini kita akan berjalan lagi, sambil melihat ke bawah akan tampak

beberapa sendang yang airnya jernih dan bisa melihat taman goa yang kelihatan jauh di ruang ketiga.

Di kiri-kanan tangga alami tampak beberapa lukisan dari batu-batuan yang menggambarkan sutu keinginan Tuhan. Di samping itu banyak terdapat batu berwarna putih yang dapat memberikan gambaran seolah-olah goa ini benar-benar masih perawan, asli, dan belum dijamah oleh manusia. Di sana-sini terdengar tetesan

airsehingga menambah keasrian dan kesejukan di dalam goa. 5. 2. Goa Gong Sesudah Direnovasi

Berkat kesigapan Pemerintah Daerah Tingkat II Pacitan yang dipimpin oleh Bapak Bupati Sutjipto dan kerjasama yang baik antara instansi terkait serta masyarakat sekitar, maka pada tanggal 31 Juli 1996 beberapa fasilitas mulai dikerjakan yang ditangani oleh PT. Citra Pule Raya.

Sarana yang dibangun untuk memasuki goa adalah : jalan undak-undakan,dengan pagar pengaman di kiri-kanan, aliran listrik sebagai penerangan, dan AC sebagai pendingin goa.

(16)

berlajalan sukses dan lancar. Kemudian Goa Gong siap diapasarkan sebagai komoditi wisata unggulan nasional.

C. PANTAI TELENG RIA

Pantai Teleng Ria merupakan lautan yang menjorok ke darat atau biasa disebut teluk. Pantainya diapit oleh dua dataran tinggi yang merupakan bagian dari pegunungan kapur Selatan yang membujur dari Gunung Kidul ke

Trenggalek, menghadap Samudera Indonesia. Kendati pantai ini disinari matahari yang terik, namun udaranya masih terasa sejuk layaknya hembusan angin pegunungan.

Meskipun merupakan pantai selatan, namun ombak di Pantai Teleng Ria relatif kecil, ini cukup bagus bagi para pecinta olahraga surfing, khususnya mereka yang masih dalam kategori pemula. Antara bulan Juni - Agustus pantai Teleng Ria menjadi tempat migrasi kelompok ubur-ubur. "Biasanya pada bulan Juni - Agustus banyak ubur-ubur yang berwarna ungu muncul di pantai ini," ungkap Hamdoko Kordinator Baywacth (penjaga pantai) Teleng Ria.

Hari mulai merambat menjelang siang. Dari kejauhan mulai nampak pengunjung yang datang. Ada yang berkelompok menggunakan sepeda motor, banyak juga yang datang dengan mobil pribadi, bahkan ada rombongan yang menggunakan bus dan truk.

"Pengunjung yang datang ke Teleng Ria tahun ini jauh lebih ramai dari sebelumnya. Tahun kemarin banyak pedagang yang hanya membawa uang cuma Rp 50.000, tapi sekarang pendapatan merata semua kebagian hasil yang lebih banyak," ujar penjual makanan dan minuman ringan di sekitar pantai. Hal senada juga disampaikan seorang kusir dokar, pengunjung yang menyewa dokarnya unutk berkeliling pantai lebih banyak dari tahun sebelumnya. "Pengunjung yang sewa dokar lebih banyak dari tahun kemarin, saya hampir ndak bisa istirahat," ujar kusir ini dengan logat Jawa yang kental.

(17)

mampu memberikan kontribusi positif bagi pendapatan Pacitan dari sektor pariwisata.

Untuk mempercantik diri, beberapa fasilitas yang sudah ada akan dipugar. Selain itu juga akan ada penambahan fasilitas di sekitar Pantai Teleng Ria seperti plaza seni, plaza anak untuk bermain, dan plaza kuliner. "Kita akan buat arena permainan anak yang sifatnya edukatif dan membuat anak kreatif," jelas Ardy.

Pengembangan dan pembangunan kawasan pantai Teleng Ria juga akan menggandeng masyarakat Pacitan, khususnya yang tinggal disekitar Pantai Teleng Ria "Kita juga ingin mereka masyarakat juga merasakan manfaat positif dari tempat yang kita kelola, dan juga meningkatkan kesejahteraan

masyarakat," tambah Ardy.

Salah satu bentuk nyata dari merangkul masyarakat sekitar adalah El JOHN akan menggandeng nelayan untuk mendapatkan keuntungan dengan menyewakan perahunya kepada pengunjung Teleng Ria. "Pada musim musim tertentu kan nelayan tidak melaut kita beri mereka kesempatan menyewakan perahunya dengan pembagian hasil 70 persen untuk nelayan dan 30 persen masuk ke pihak pengelola," ujar Ardy lagi.

Meskipun karakter ombaknya yang tidak besar, namun Pantai Teleng Ria cukup representatif untuk melakukan surfing. Karakter ombak yang tidak besar membuat pantai ini cocok untuk para surfer pemula. "Banyak orang yang ingin belajar surfing datang ke pantai ini, seperti dari Semarang dan kota lain dekat Pacitan," jelas Choirul pengurus Pacitan Surfing Club.

(18)

Daya tarik lain mengapa banyak para surfer asing memilih Teleng Ria adalah karena suasana pantainya yang relatif masih sepi. "Turis asing yang surfing di sini biasanya dari Australia dan Swiss. Mereka senang ke sini karena suasanya masih sepi, tidak seramai pantai pantai di Bali". Melihat kelengkapan alam dan fasilitas yang akan dibangun, kiranya Pantai Teleng Ria siap menjadi destinasi pantai primadona baru.

Pantai Teleng Ria berada di Kabupaten Pacitan, sekitar 3 Km dari pusat kota. Hanya butuh waktu 10 menit mencapai Pantai Teleng Ria dari Alun-alun kota. Kabupaten Pacitan terletak di Pantai Selatan Pulau Jawa dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah, sehingga untuk mencapai Pantai Teleng Ria akan lebih cepat jika melalui Yogyakarta. Hanya butuh waktu 3 jam perjalanan. Akses jalan dari Yogyakarta menuju Pacitan pun sangat baik meski ruas jalannya tidak terlalu lebar.

Jika berangkat dari Yogyakarta hanya butuh waktu 3 jam perjalanan untuk mencapai pantai ini dengan menggunakan travel jurusan Jogjakarta-Pacitan. Tarifnya berkisar antara Rp 40.000 - Rp 50.000. Pilihan lain

(19)

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasaran isi laporan ini , dapat disimpulkan bahwa tujuan obyek wisata yang dikunjungi oleh siswa – siswi SMP N 4 Ngawen di Pacitan Jawa Timur. Di dalam obyek tersebut sangat menarik untuk di datangi saat liburan Karena di dalam sana kita dapat memperoleh pengalaman yang menyenangkan sekaligus untuk refresing dengan biaya yang terjangkau .

B. SARAN

(20)

LAMPIRAN

(21)
(22)

Referensi

Dokumen terkait

Dari uraian di atas, penelitian kemudian mencoba mengembangkan suatu strategi pembelajaran berbasis DST yang diaplikasian dalam bentuk penugasan kinerja (proyek)

Media objek 3 dimensi kabel fiber optic ini telah melalui proses validasi dan hanya sampai tahap validitas media saja. Kegiatan validasi dilakukan oleh ahli materi berjumlah satu

Penggunaan cendawan endofit dari bunga bawang dayak untuk mengendalikan penyakit moler pada tanaman bawang merah masih belum pernah dilakukan padahal mengingat lahan budidaya

Tema yang saya ambil untuk makalah ini adalah “Bhinneka Tunggal Ika”, alasan saya menggunakan tema ini adalah karena seperti yang sudah diketahui bahwa Bhineka Tunggal

Dengan banyaknya kejadian jisatsu yang terjadi di Jepang, penulis bermaksud untuk membahas apa yang melatarbelakangi orang Jepang untuk melakukan tindakan bunuh

kepemimpinan pemimpin Negara Indonesia ini. Apakah beliau akan sanggup membawa bangsa ini menuju bangsa dan Negara yang maju atau sebaliknya Negara Indonesia ini akan

Menurut SNI 3547.2-2008, permen jelly adalah permen bertekstur lunak yang diproses dengan penambahan komponen hidrokoloid seperti agar, gum, pektin,

Dalam penelitian ini, waktu yang diperlukan untuk memunculkan gejala pertama yang dibutuhkan patogen cepat karena patogen tidak perlu menembus masuk dirinya ke jaringan