UNSUR PORNOGRAFI DALAM PROGRAM ACARA TEL

Teks penuh

(1)

Perkembangan media saat ini adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi. Hal ini secara tidak langsung telah digunakan namun pada dasarnya seluruh media memiliki peranan yang sama yaitu memberikan informasi, hiburan, edukasi, serta kontrol sosial. Media massa dapat menjadi media pembelajaran dalam kehidupan masyarakat karena media massa membawa nilai-nilai baru ataupun mengubah nilai-nilai yang sudah ada di dalam masyarakat dan berdampak dalam kurun waktu tertentu. Hal ini seperti yang dikatakan Nurudin (2009, h. 255) media massa mampu mengarahkan, membimbing, dan mempengaruhi kehidupan di masa kini dan di masa mendatang. Nilai-nilai kehidupan masyarakat itu sendiri merupakan bagian dari kebudayaan.

(2)

Pornografi merupakan salah satu produk dari kebudayaan yang sudah terbentuk dari satu generasi ke generasi. Kebudayaan telah membentuk makna Pornografi bagi lelaki ataupun perempuan yang dilahirkan ke dunia. Nilai-nilai kebudayaan tersebut tentu sangat berpengaruh terhadap makna Pornografi, seperti yang dikatakan Beynon (2001, h.1) bahwa yang menjadikan kita sebagai masyarakat yang informatif. Informasi-informasi didapatkan salah stunya melalui media massa.

(3)

Salah satu media yang berperan dalam kehidupan masyarakat adalah Televisi. Pada dasarnya televisi berfungsi sebagai media komunikasi untuk medapatkan informasi, pendidikan dan hiburan, tentu tidak ada permasalahan yang kontroversial dengan fungsi tersebut. Barulah pada sisi televisi sebagai media bisnis banyak muncul program acara yang mengabaikan isi acara yang berdampak negatif. Ketika demi bisnis terjadi banyak eksploitasi yang berlebihan untuk menarik pengiklan sebanyak-banyaknya tanpa mempersoalkan ruang publik. Media televisi adalah media yang menggunakan ruang publik dan seharusnya menghormati hak pihak atau individu lain yang juga termasuk di wilayah itu.

(4)

Program ini ditayangkan setiap satu minggu dua kali yakni setiap hari sabtu dan minggu pukul 21.00-22.00 WIB di saluran televisi nasional di Trans 7. Program ini masih mengedepankan sejarah tentang tempat yang dianggap mistik yang berada di Indonesia. Selain itu, konten dari program acara ini menghadirkan seperangkat alat untuk menggambar mahluk astral atau tak kasat mata dan menghadirkan para ahli spiritual untuk mendeteksi dan menjelaskan keberadaan mahluk gaib apa saja yang ada di tempat angker tersebut, dan untuk mengetahui mengapa tempat tersebut dianggap angker.

(5)

Gambar 1.

Capture tayangan Mister Tukul Jalan-jalan menampilkan perempuan berpakian seksi (lekukan dada terlihat dan celana hotpant yang mengekspos

paha). (Sumber: Youtube)

Dari hal itulah penulis memilih program acara Mister Tukul Jalan-Jalan untuk dijadikan subjek penelitian, hal ini penulis angap bahwa sudah terdapat beberapa sisipan-sisipan dalam beberapa scene yang kemudian sudah tidak lagi sejalan dengan konsep awal Mister Tukul Jalan-Jalan tayang di televisi. Salah satunya yang dianggap menjadi “pemanis” dalam tayangan ini adalah hadirnya peran wanita seksi yang dijadikan sebagai magnet bagi penonton untuk tidak melwatkan acara ini satu episode pun.

(6)

Dalam konteks media massa, pornografi, pornoteks, porno suara, dan porno aksi dalam buku pronomedia (Bungin Burhan 2003,h.134) menjadi bagian-bagian yang saling berhubungan sesuai dengan karakter media yang menyiarkannya. Bahkan varian-varian porno ini menjadi satu dalam media jaringan,seperti internet yaitu yang sering dikenal dengan cyber sex, cyber porno, dan sebagainya. Agenda media tentang varian porno dan penggunaan media massa dan telekomunikasi ini untuk menyebarkan varian tersebut inilah yang dimaksud dengan pornomedia. Dengan demikian, konsep porno media meliputi realitas porno yang diciptakan oleh media, seperti antara lain gambar-gambar dan teks porno yang dimuat di media cetak, film-film porno, cerita cerita cabul dan provider telepon yang menjual jasa suara-suara rayuan porno.

Dalam (Agus Sudibyo 2008) tulisannya berjudul UU Pornografi Sebagai Masalah Media mengatakan media massa adalah locus publicus. Di sana aneka ekspresi budaya dari masyarakat yang plural dan multikultur bisa tampil setiap saat. Untuk kebutuhan produksi pemberitaan, talk show, variety show, iklan, dan lain-lain. Media juga tak terelakkan mengangkat realitas-realitas yang barangkali bisa ditafsirkan mengandung muatan pornografi atau semacamnya.

(7)

Dalam konteks itulah, RUU Pornografi harus dilihat sebagai masalah pers di Indonesia. Konstruksi berpikir yang dominan dalam RUU Pornografi dan dalam benak pendukungnya notabene merujuk pada asumsi, dugaan, dan fakta tentang pornografi dalam representasi media. Khususnya setelah term pornoaksi dihilangkan, jelas sekali porsi terbesar dalam RUU Pornografi sesungguhnya adalah regulasi tentang pornografi media.

Pasal 4 RUU Pornografi menjelaskan ruang lingkup pornografi adalah (1) produksi materi pornografi media, (2) penggandaan materi media massa atau media lain yang mengandung unsur pornografi, (3) penyebarluasan materi media massa atau media lain yang mengandung unsur pornografi, (4) penggunaan materi media massa atau media lain yang mengandung unsur pornografi, (5) penyandang dana, prasarana, sarana media dalam penyelenggaraan pornografi. Meski ketentuan itu mengatur materi dan medium yang luas cakupannya, semua kategori (produksi, penggandaan, penyebarluasan, penggunaan, dan penyelenggaraan) terfokus pada entitas media.

(8)

ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, atau bentuk-bentuk pesan komunikasi lain dan/atau melalui media yang dipertunjukkan di depan umum dan/atau dapat membangkitkan hasrat seksual serta melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat dan/atau menimbulkan berkembangnya pornoaksi dalam masyarakat ”(Sidobyo, 2008. h. 3).

Topik mengenai masalah seksualitas, erotika dan pornografi belakangan ini kembali menarik perhatian dan menjadi bahan perbincangan oleh banyak kalangan. Perdebatan mengenai batasan antara nilai-nilai moral dan pendapat yang menempatkan seksualitas, erotika dan pornografi dalam tataran seni tidak pernah habis dibahas. Walaupun hal ini bukanlah sesuatu yang baru namun karena sifatnya yang timbul tenggelam, maka tema perbincangan ini seolah tidak pernah berakhir.

Hal ini sangatlah bergantung pada tempat dan kondisi atau keadaan dimana unsur erotika, seksualitas dan pornografi itu muncul dalam tampilan yang beragam dari berbagai tayangan televisi. Beberapa artis sampai aksi panggung artis yang dipandang terlalu mengeksploitasi unsur sensualitas pada tubuh artis tersebut.

(9)

ingin terkenal, jalan pintas untuk populer dan sebagainya. Namun yang dimaksud eksploitasi disini adalah lebih pada gagasan yang dibawa oleh pornografi itu sendiri, artinya melalui pornografi kaum perempuan secara konsisten dan berkelanjutan ditampilkan dalam posisi yang rendah. Perempuan dianggap sebagai mahkluk yang hanya bermodalkan daya tarik seksual semata. Kaum perempuan yang tampil dalam media pornografi secara tidak langsung telah mempertegas eksploitasi terhadap kaumnya sendiri dan memperkokoh cara pandang bahwa pada dasarnya perempuan hanyalah sebatas obyek seks semata. Akibat yang ditimbulkan dari cara pandang yang demikian adalah makin subur dan langgengnya berbagai bentuk pelecehan, penindasan dan eksploitasi perempuan baik yang bersifat fisik maupun non-fisik.

(10)

negatif yang terjadi di masyarakat, (d) selama ini berbagai pendapat yang menyudutkan perempuan sebagai subyek yang bertanggung jawab atas pornomedia tidak pernah mendapat pembelaan dari media massa dengan alasan pemberitaan dari media harus berimbang, (e) media massa secara politik menempatkan perempuan sebagai bagian dari kekuasaan mereka secara umum.

Dalam peraturan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) terdapat Bab tentang pelarangan program siaran yang memuat adegan seksual, yakni di Bab XII Pasal 18. Selain tidak boleh (a) menampilkan adegan yang menggambarkan aktivitas seks dan/atau persenggamaan; juga (b) mengeksploitasi dan/atau menampilkan bagian-bagian tertentu seperti: paha, bokong, payudara, secara close-up dan/atau medium shot; (c) menampilkan gerakan tubuh dan/atau tarian erotis; dan (d) mengesankan ciuman bibir; dan/atau (e) menampilkan kata-kata cabul.

(11)

didampingi oleh praktisi kesehatan atau psikolog, dan hanya dapat disiarkan pada klasifikasi D, pukul 22:00-03:00 waktu setempat”.

Dari dasar inilah kemudian peneliti tertarik untuk mengamati tayangan Mister Tukul Jalan-Jalan kedalam sebuah penelitian yang berjudul “UNSUR PORNOGRAFI PADA PROGRAM ACARA TELEVISI (ANALISIS ISI UNSUR PORNOGRAFI PADA TAYANGAN “MISTER TUKUL JALAN-JALAN” DI STASIUN TELEVISI TRANS 7)”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah seberapa besar kemunculan unsur pornografi pada tayangan Mister Tukul Jalan-Jalan di stasiun televisi Trans 7?

1.3. Tujuan Penelitian

(12)

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitan yang dilakukan ini mempunyai manfaat sebagai berikut: 1.4.1. Secara akademis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan wawasan kepada mahasiswa khususnya Jurusan Ilmu Komunikasi agar mengetahui unsur kekerasan terutama pornografi yang disampaikan atau yang terdapat pada sebuah tayangan di media televisi.

1.4.2. Secara praktis

Figur

Gambar 1.Capture tayangan Mister Tukul Jalan-jalan menampilkan perempuan

Gambar 1.Capture

tayangan Mister Tukul Jalan-jalan menampilkan perempuan p.5

Referensi

Memperbarui...