PENGARUH PROFITABILITAS, LEVERAGE, HARGA SAHAM, DAN FIRM SIZE TERHADAP JUMLAH DIVIDEN TUNAI
Fransiskus Randa
Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Makassar Ingrid Abraham
Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Makassar
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh profitabilitas, leverage, harga saham, dan firm size sebagai faktor-faktor yang menjadi pertimbangan manajemen dalam pembagian dividen perusahaan. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang membagikan dividen selama periode 2003-2007 berturut-turut dan masih beroperasi pada tahun 2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa retun on equity dan harga saham mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap dividen tunai. Sedangkan debt to equity ratio dan total asset tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap dividen tunai.
Kata Kunci: dividen kas, profitabilitas, leverage, harga saham, dan firm size.
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Salah satu keputusan adalah deviden yang saat ini menjadi masih mnejadi
fokus penelitian pasar modal tetang apa yang menajdi pertimbagan manajemen dalam
pembangaindeviden dan rekasi investor terhadap keputsan pembagian deviden
tersebut. Manajemen diperhadapkan pada dua pilihan apakah membangi deviden
untuk mendapat reaksi positif dari investor atau menahan laba demi peningkatan
ekspasi perushaaan. (Sartono; 1992; 167). Namun demikian pertimbangan menjadi
semakin rumit apabila kepentingan berbagai pihak diakomodasi. Di satu sisi ada pihak
yang cenderung berharap pembayaran dividen lebih besar seperti pemegang saham
yang mengharapkan dividen kas dalam jumlah relatif besar karena ingin menikmati
hasil investasi pada saham perusahaan namun disis lain manajemn befrkepentingan
untuk menahan laba untuk meningkatkan leverage perusahan dan melakukan ekspansi.
Kondisi inilah yang dilihat sebagai salah satu konflik yang dapat dijelaskan dalam
teori agensi sebagai konflik antara prinsipal dan agen (Jensen & Meckling,1976).
Berdasarkan agency theory, pihak manajemen adalah agen (agents),
sedangkan pemilik perusahaan merupakan principal yang mempunyai kepentingan
antara manajer dan pemegang saham akan mengakibatkan biaya keagenan (agency
cost) yang dapat mengurangi return pemegang saham demi untuk menjaga
kepentingan mereka. Salah satu kebijakan yang popular yang sering menajdi konflika
principal dana gen adalah kebijakan deviden kas. Kebijakan dividen kas dapat menjadi
salah satu bentuk mekanisme pengawasan pemegang saham terhadap pihak
manajemen. Pemegang saham berusaha menjaga agar pihak manajemen tidak terlalu
banyak memegang kas karena kas yang banyak mendorong manajemen untuk
melakukan investasi demi untuk meningkatkan kienrja mereka. Namun di sisi lain
pihak investor sangat berkepentingan dengan return deviden kas.
Berbagai pertimbangan mengenai penetapan jumlah yang tepat untuk
dibayarkan sebagai dividen adalah sebuah keputusan finansial yang sulit bagi pihak
manajemen (Ross, 1977). Keputusan suatu perusahaan mengenai dividen terkadang
diintegrasikan dengan keputusan pendanaan dan keputusan investasi. Semakin rumit
kegiatan perusahaan maka konflik kepentingan antara pemegang saham dan pihak
manajemen akan semakin banyak. Perusahaan memiliki pemisahan yang jelas antara
kepemilikan (ownership), pengoperasian (operation), dan pengendalian (control).
Pemisahaan antara kepemilikan, pengoperasian dan pengendalian memungkinkan
manajemen lebih mementingkan kepentingan mereka daripada kepentingan
perusahaan atau para pemilik.
Penelitian ini mencoba menguji kembali pengaruh profitabilitas, leverage, dan
harga saham dengan menambahkan ukuran perusahaan (firm size) sebagai
pertimbangan dalam kebijakan jumlah dividen tunai perusahaan-perusahaan go public
di Indonesia pada periode 2003-2007. Perusahaan yang diteliti adalah
perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur, pernah membagikan dividen pada
periode penelitian dan dipilih untuk tujuan penelitian (purposive sampling).
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka masalah dalam penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah rasio profilabilitas (ROE) mempengaruhi dividen tunai perusahaan ?
3. Apakah harga saham (closing price) mempengaruhi dividen tunai perusahaan ?
4. Apakah size perusahaan (total assets) mempengaruhi dividen tunai perusahaan ?
2. TINJAUAN TEORITIS
Fenomena dividen telah menciptakan suatu kondisi yang membuat peneliti
tertarik untuk lebih mengetahui hal-hal yang menyelubungi dividen. Fenomena yang
terjadi membuat Black (1976) melakukan penelitian empiris terhadap dividend dan
mengatakan, “The harder we look at the dividend pictures, the more is seems like a
puzzle, with pieces that just don’t fit together”. Ternyata fenomena dividen di masa
lampau tidak berbeda dengan apa yang terjadi saat ini. Jadi, untuk dapat mencapai
kesepakatan mengenai dividend puzzle maka perlu dilakukan banyak penelitian secara
empiris mengenai dividen.
2.1.Teori Agensi (Agency Theory)
Menurut Pearce dan Robinson (2008;47) teori agensi merupakan
“Sekelompok gagasan mengenai pengendalian organisasi yang didasarkan pada
keyakianan bahwa pemisahaan kepemilikan dengan manajemen menimbulkan potensi
bahwa keinginan pemilik diabaikan”. Hubungan keagenan,seperti hubungan antara
pemegang saham dengan manajer, akan efektif selama manajer mengambil keputusan
investasi yang konsisten dengan kepentingan pemegang saham. Namun, ketika
kepentingan manajer berbeda dengan kepentingan pemilik , maka keputusna yang
diambil oleh manajer kemungkinan besar akan mencerminkan preferensi manajer
dibandingkan dengan pemilik.
Teori agensi mengasumsikan bahwa semua individu bertindak dalam
kepentingan mereka sendiri. Ernita (2007) mengutip (Anthony dan
Govindarajan,2004) bahwa satu elemen kunci dari teori agensi yaitu, agen (manajer)
dan prinsipal (pemegang saham) memiliki tujuan yang berbeda. Agen dan prinsipal
aalah rasional sehingga agen dan prinsipal ingin memaksimumkan kepentingan
mereka masing-masing. Penelitian ekonomi berfokus pada penyusunan kesetimbangan
2.2. Teori Pensinyalan
Teori ini dikembangkan oleh Ross (1977). Teori Signalling menyatakan
bahwa pihak eksekutif perusahaan memiliki informasi lebih baik mengenai
perusahaannya akan terdorong untuk menyampaikan informasi tersebut kepada calon
investor agar harga saham perusahaannya meningkat.
Frankfurter dan Wood (2002) mengutip bahwa Bhattacharya (1979,1980),
Talmor (1981), Hakansson (1982), John dan Williams (1985), Miller dan Rock
(1985), Makhija dan Thompsom (1986), Ambarish, John dan Williams (1987), Kumar
(1988), Kale dan Noe (1990), Rodriques (1992), dan lainnya memperkenalkan model
pensinyalan di dalam kebijakan dividen perusahaan. mereka juga mengatakan bahwa
dividen berisi informasi mengenai tingkat keuntungan sekarang maupun masa yang
akan datang. Weston (1986) menyebutkan bahwa peningkatan atau penurunan yang
tidak diharapkan di dalam dividen tunai membuat reaksi positif atau negatif pada
harga saham.
Miller dan Modigliani (1961) dalam Apriani (2005) menyatakan faktor yang
mungkin untuk pembayaran dividen adalah penggunaan kebijakan dividen untuk
mengkomunikasikan informasi mengenai prospek masa depan perusahaan bagi
investor yang kemudian dapat berpengaruh terhadap harga saham. Asimetri informasi
memberi kesan bahwa manajer mempunyai informasi melebihi investor luar. Jika
manajer mempunyai informasi yang tidak dipunyai oleh investor maka manajer dapat
menggunakan perubahan dalam dividen sebagai cara untuk menunjukkan sinyal
informasi dan kemudian menurunkan asimetri informasi. Kemudian investor akan
menggunakan pengumuman dividen sebagai informasi untuk menilai harga saham
perusahaan.
2.3.Dividen
Kebijakan deviden (dividend policy) adalah suatu keputusan untuk
menentukan berapa besar bagian dari pendapatan perusahaan akan dibagikan kepada
para pemegang saham dan akan diinvestasikan kembali (reinvesment) atau ditahan
pada rentang pertimbangan atau kepentingan pemegang saham di satu sisi dan
kepentingan perusahan disisi lain.
Ada beberapa teori yang digunakan sebagai landasan dalam menentukan
kebijakan dividen untuk perusahaan. Sehingga dapat dijadikan pemahaman mengapa
suatu perusahaan mengambil kebijakan dividen tertentu. Teori – teori tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Smoothing Theory
Teori ini dikembangkan oleh Lintner (1956) dikutip Suharli (2006). Lintner
mengatakan bahwa jumlah dividen bergantung akan keuntungan perusahaan sekarang
dan dividen tahun sebelumnya.
b. Dividend irrelevance theory
Teori ini diperkenalkan oleh Miller dan Moldigliani (1961) memperkenalkan
Dividend Irrelevance Proposisition. Paper tersebut menjelaskan bahwa dalam dunia
tanpa pajak, dan tidak diperhitungkannya biaya transaksi serta dalam kondisi pasar
yang sempurna, maka kebijakan dividen tidak akan memberikan pengaruh apapun
pada harga pasar saham perusahaan tersebut.
c. Bird-in-the-hand theory
Teori ini dikemukakan oleh Myron Gordon dan John Linther yang
menyatakan bahwa biaya modal sendiri akan naik jika Dividend Payout Ratio (DPR)
rendah. Hal ini dikarenakan investor lebih suka menerima dividen daripada capital
gains. Gordon (1962) menegemukakan Bird in the Hand Theory yang mengatakan
bahwa dengan mendapatkan dividen (a bird in the hand) adalah lebih baik daripada
saldo laba (a bird in the bush) karena pada akhirnya saldo laba tersebut mungkin tidak
akan pernah terwujud sebagai dividen dimasa depan (it can fly away).
d. Tax preference theory
Adalah suatu teori yang menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap
keuntungan dividen dan capital gains maka para investor lebih menyukai capital
gains karena dapat menunda pembayaran pajak. Teori ini diungkapkan Bhattacharya
(1979) yang menjelaskan bahwa terkait dengan pajak, investor lebih memilih
e. Clientele Effect Theory
Teori ini diungkapkan oleh Black (1976) yang mengasumsikan jika
perusahaan membayarkan dividen, investor seharusnya mendapatkan keuntungan dari
dividen tersebut untuk menghilangkan konsekuensi negatif dari pajak.
2.4. Dividen Kas
Dividen yang paling umum dibagikan perusahaan adalah bentuk kas. Yang
perlu diperhatikan pimpinan perusahaan sebelum membuat pengumuman adanya
dividen kas adalah apakah jumlah kas yang ada mencukupi untuk pembagian dividen
tersebut. Skousen (2001) menyatakan bahwa dividen tunai (cash dividend) merupakan
dividen yang dibayarkan dalam bentuk uang tunai. Sedangkan dividen saham (stock
dividend) merupakan dividen yang di bayarkan dalam bentuk saham dengan proporsi
tertentu.
2.5. Profitabilitas dan Dividen Tunai
Dalam signaling theory, pihak manajemen akan membayarkan dividen untuk
memberikan sinyal mengenai keberhasilan perusahaan membukukan profit
(Wirjolukito, dkk ; 2003). Pemaparan teori sinyal tersebut didukung bukti empiris
Lintner (1956) yang menyimpulkan bahwa kemampuan perusahaan untuk membayar
dividen merupakan fungsi dari keuntungan. Lebih lanjut Lintner (1956)
mengemukakan bahwa perusahaan hanya akan meningkatkan dividen apabila earning
meningkat. Model dividen sebagai fungsi profitabilitas penelitian tersebut diadopsi
juga dalam penelitian Allen (1992), yaitu ;
Dt – Dt-1 = a + c ( TPt – Dt-1)
Yang dimaksud Dt adalah dividen yang dibayarkan pada periode tertentu (t).
symbol a menggambarkan konstanta, symbol c menggambarkan koefisien seberapa
cepat penyesuaian terhadap perubahan kebijakan dividen. Selanjutnya T
menggambarkan target dividen yang dibayarkan, dan P adalah profitabilitas.
Berdasarkan teori dan uraian di atas, maka penulis mengajukan hipotesis
2.6.Leverage dan Dividen Tunai
Menurut Suharli (2006), mengutip Opler dan Titman (1993) dan Johnson
(1995); perusahaan leverage memiliki peluang investasi yang tidak menguntungkan
serta arus kas bebas yang tinggi. Dengan membedakan perusahaan yang pembayaran
dividennya tinggi dengan yang rendah, Johnson (1995) mengatakan bahwa perusahaan
yang pembayaran dividennya rendah mempengaruhi harga saham secara positif pada
pengumuman penawaran utang. Kebijakan utang dinyatakan dalam rasio leverage.
Suharli (2006) mengutip Rozeff (1982) menyatakan bahwa perusahaan yang
leverage operasi atau keuangannya tinggi akan memberikan dividen yang rendah.
Pernyataan sesuai dengan pandangan bahwa perusahaan yang berisiko akan membayar
dividennya rendah, dengan maksud untuk mengurangi ketergantungan akan
pendanaan secara eksternal. Struktur permodalan perusahaan akan membandingkan
antara permodalan dari kreditor dan dari pemegang saham. Struktur permodalan yang
lebih tinggi dimiliki oleh utang akan menyebabkan pihak manajemen akan
memproksikan pelunasan kewajiban terlebih dahulu sebelum membagikan dividen.
Berdasarkan teori dan uraian tersebut, maka penulis mengajukan hipotesis
kedua (H2) : “Semakin besar ketergantungan perusahaan pada utang (leverage) maka semakin kecil jumlah dividen yang dibayarkan.”
2.7.Harga Saham dan Dividen Tunai
Black (1976) mengungkapkan bahwa jumlah penawaran dividen dan
penawaran saham akan saling mempengaruhi serta saling mencari kesesuaian.
Seandainya manajemen hendak meningkatkan harga saham di masa yang akan datang
maka pihak manajemen akan memutuskan rasio pembayaran dividen yang lebih tinggi
dari tahun sebelumnya. Dalam teori agen, para prinsipal menginginkan kondisi
perusahaan yang baik sehingga kesejahteraannya meningkat, salah satunya dengan
peningkatkan harga saham (Jensen dan Meckling,1976). Oleh karena itu dengan
memperhatikan hal ini pihak manajemen perlu mempertimbangkan harga saham untuk
menentukan kebijakan dividen yang akan diambil. Suharli (2006) menemukan bahwa
Belum banyak penelitian yang menguji pengaruh harga saham terhadap kebijakan
jumlah dividen.
2.8.Firm Size dan Dividen Tunai
Perusahaan besar akan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya dan
dapat mengakses ke pasar modal dengan lebih mudah jika dibandingkan dengan
perusahaan kecil. Perusahaan yang dapat dengan mudah mengakses ke pasar modal
maka perusahaan tersebut akan mampu mendapatkan dana dalam waktu yang relatif
cepat (Hidayat,2006). Oleh karena itu, perusahaan dengan ukuran yang lebih besar
diperkirakan akan memiliki kemampuan untuk menghasilkan earning yang lebih
besar, sehingga akan mampu membayar dividen yang lebih tinggi dibandingkan
dengan perusahaan kecil. Wetson dan Copelan (1986:648) menyatakan bahwa “ a large, well-established firm with a record of profitability and stability of earnings has
easy access to capital markets … thus likely to have a higher dividend payout rate
than a new or small firm.”
Berdasarkan teori dan uraian tersebut, maka penulis mengajukan hipotesa
keenam (H4) yaitu : “Semakin besar ukuran (size) perusahaan maka semakin besar jumlah dividen yang dibayarkan.”
2.9.Kerangka Pikir
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini berangkat dari adanya anggapan
bahwa kebijakan dividen dalam perusahaan dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu :
Pertama, Profitabilitas dalam penelitian ini diproksikan oleh Return On Equity (ROE)
yang berarti kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Laba inilah yang akan
menjadi dasar pembagian dividen perusahaan, apakah dividen tunai ataupun dividen
saham. Laba perusahaan tersebut dapat ditahan (sebagai saldo laba) dan dapat dibagi
(sebagai dividen). Sehingga secara sederhana dapat ditarik simpulan bahwa
perusahaan yang tidak mampu menghasilkan laba akan mustahil membagikan dividen.
Dugaan penelitian ini adalah semakin tinggi profitabilitas maka semakin besar jumlah
dividen yang dibagikan. Kedua, analisis terhadap rasio leverage yang diproksikan oleh
Debt to Equity Ratio (DER). Rozeff (1982, 1992) menyatakan bahwa perusahaan yang
dengan maksud mengurangi ketergantungan akan pendanaan secara eksternal. Oleh
karena itu leverage perusahaan diduga mempengaruhi kebijakan jumlah dividen
secara negatif. Ketiga, analisis terhadap harga saham (stock price) merupakan indikasi
tentang kondisi suatu perusahaan (Black,1976). Kondisi perusahaan yang semakin
baik diindikasikan oleh peningkatan pembagian dividen. Keempat, analisis terhadap
firm size merupakan indikasi tentang ukuran perusahaan. Semakin besar firm size
maka akan memberikan dividen yang besar (Wetson dan Copelan:1986:648).
Kerangka pikir penelitian
3. METODE PENELITIAN 3.1 Populasi dan Sampel
Populasi di dalam penelitian ini adalah perusahaan go public yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI). Sedang sampel dalam penelitian ini ditetapkan dengan
metode purposive sampling yaitu sampel yang ditetapkan adalah perusahan perushaan
yang membagikan deviden secara tunai pada periode tahun 2003-2007.
Teknik pegolahan dan analisis data menggunakan perangkat lunak SPSS
(Statistical Program for Social Science) untuk mengetahui pengaruh independen
variable terhadpvariabel dependen.
3.2. Uji Hipotesa
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel independen
baik secara simultan maupun secara parsial mempengaruhi variabel dependen yang
mana dilakukan dengan uji statistik t (t-test) dan uji statistik (F-test) dengan tingkat
signifikansi (α) 5% atau α =0.05. Profitabilitas (ROE)
Leverage (DER)
Dividend Pay-Out Ratio (DPR) Harga Saham
Untuk menentukan variabel bebas yang paling menentukan dalam
mempengaruhi nilai variabel dependen dalam suatu model regresi linier, maka
digunkan koefisien beta yang dihasilkan dari analisis regresi menggunakan program
SPSS. Nilai beta yang paling besar menunjukkan variabel bebas yang paling dominan.
4. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1.Uji Asumsi Klasik
4.1.1 Uji Multikoleniaritas
Metode ini dapat dilihat pada tolerance value atau Variance Inflator Factor
(VIF). Batas Tolerance Value adalah 0,10 dan batas VIF adalah 10. Apabila hasil
analisa menunjukkan nilai VIF di bawah nilai 10 dan tolerance value diatas 0,10 maka
tidak terjadi multikoleniaritas. Dari hasil perhitungan tolerance value yang
ditunjukkan pada tabel 4.1
Tabel 4.1
Hasil Uji Multikoleniaritas
Variabel
Collinearity
Statstics Variabel
Tolerance VIF TA ROE DER Stock
TA 0.825 1.212 1.000 -0.293 -0.307 0.197 ROE 0.787 1.271 -0.293 1.000 0.111 -0.402 DER 0.891 1.123 -0.307 0.111 1.000 0.042 Stock 0.818 1.222 0.197 -0.402 0.042 1.000 (Sumber :survei, data diolah)
Dari tabel 4.1 dapat disimpulkan bahwa tolerance value di atas 0,10 dan nilai
VIF tidak ada yang lebih besar dari 10. Dengan demikian disimpulkan bahwa
persamaan model regresi tidak mengandung masalah multikoleniaritas, dan layak
digunakan untuk analisis lebih lanjut.
4.1.2 Uji Heterokedastisitas dan Normalitas.
Hasil uji heterokedaitqas tersebar diantara nilai plus dan minus, serta tidak memiliki
pola tertentu, demikian juga dengan hasil uji normalitas yang menunjukkan bahwa
juga titik menyebar di sekitar garis diagonal, serta penyebarannya mengikuti arah garis
diagonal. Dengan demikian model regresi layak digunakan.
Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini menyatakan bahwa TA(03-07),
ROE(03-07), DER(03-07), dan STOCK(03-07) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
dividen tunai. Hasil pengujian terhadap hipotesis ini dapat dilihat pada tabel berikut
ini :
Tabel 4.2 Hasil Estimasi Regresi
Koefisien Regresi t-statistik Sig-t
Konstanta -0.658 0.513
TA(03-07) 0.119 1.165 0.248
ROE(03-07) 0.223 2.131 0.036
DER(03-07) -0.039 -0.398 0.692
STOCK(03-07) 0.459 4.471 0.000
R square 0.753
Adj. R square 0.718 F-statistik 10.230
Sig-F 0.000
(sumber: data pengolahan SPSS)
4.2. Pembahasan
Hasil analisis dari hipotesis satu (H1) yang diajukan menunjukkan bahwa
variabel ROE(03-07) yang mencerminkan profitabilitas perusahaan yaitu kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan laba menghasilkan nilai signifikan pada level 5%
yaitu 0,036. Rasio profitabilitas atau rasio rentabilitas menunjukkan keberhasilan
perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Stabilitas keuntungan adalah penting
untuk mengurangi risiko apabila terjadi penurunan laba yang memaksa manajemen
untuk memotong dividen (Partington, 1989) dalam Suharli dan Oktorina (2005).
Perusahaan yang memiliki stabilitas keuntungan dapat menetapkan tingkat
pembayaran dividen dengan yakin dan mensinyalkan kualitas atas keuntungan mereka.
Oleh karena itu, semakin tinggi rasio profitabilitas maka semakin besar dividen yang
dibagikan ke investor. Hasil penelitian ini konsisten dengan yang diajukan oleh
Suharli dan Oktorina (2005) dan Suharli (2006) yang menyatakan bahwa semakin
pengembalian investasi berupa pendapatn dividen. Hasil penelitian ini
mengindikasikan bahwa perusahaan di Indonesia khususnya perusahaan go public
yang menjadi sampel dalam penelitian ini maupun penelitian peneliti sebelumnya
cenderung menggunakan rasio profitabilitas (ROE) dalam mempertimbangkan
besarnya dividen tunai yang akan dibagikan perusahaan kepada para pemegang
saham.
Hasil analisis dari hipotesis dua (H2) yang diajukan bahwa variabel DER(03-07)
yang memberikan indikasi tentang seberapa jauh kreditor terlindungi jika terjadi
insolvensi memiliki nilai yang tidak signifikan, lebih besar dari level 5% yaitu 0,692.
Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Suharli dan Oktorina (2005) dan
Suharli (2006) yang menemukan bahwa variabel DER tidak berpengaruh signifikan
terhadap jumlah dividen tunai perusahaan. Hasil penelitian ini juga konsisten dengan
hasil penelitian Wirjolukito, Yanto, dan Sandy (2003) dan William (2006) yang
menyatakan bahwa struktur permodalan tidak mempengaruhi kebijakan dividen.
Hasil analisis dari hipotesis tiga (H3) yang diajukan bahwa variabel STOCK
(03-07) lebih kecil dari 5% yaitu 0,000 menunjukkan bahwa harga saham mempunyai dampak yang signifikan terhadap keputusan pembayaran dividen dari
perusahaan-perusahaan di Indonesia, khususnya pada perusahaan-perusahaan-perusahaan-perusahaan yang menjadi
sampel penelitian. Dengan kata lain semakin tinggi harga saham, maka pembayaran
dividen juga semakin tinggi. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian
Suharli (2006). Hal ini juga konsisten dengan penelitian Apriani (2005) dan Aharony,
Falk dan Swary (1988) dan Impson (1997) seperti yang dikutip Apriani (2005).
Hasil analisis dari hipotesis empat (H4) yang diajukan bahwa variabel SIZE
(03-07) mempunyai pengaruh yang sigifikan tidak terbukti. Hal ini dapat dilihat dari tingkat signifikansi yang lebih besar dari 5% yaitu 0,248. Hasil ini konsisten dengan hasil
penelitian Rachman (2005) dan Hidayat (2006) yang mana hasil penelitiannya
mengindikasikan bahwa size tidak dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
dalam pembayaran dividen kas oleh manajemen perusahaan.
Secara simultan variasi keempat variabel independen tersebut dapat digunakan
kecil dari 5% yaitu 0,000. Tampilan output SPSS menunjukkan besarnya Adjusted R2
adalahh 0,718. Hal ini berarti 71,8% variasi pengumuman dividen bisa dijelaskan oleh
variasi dari keempat variabel independen TA(03-07), ROE(03-07), DER(03-07), dan
STOCK(03-07) sedangkan sisanya (100% - 71,8% = 28,2%) dijelaskan oleh
faktor-faktor yang lain. Kemampuan faktor-faktor lain tersebut adalah faktor-faktor fundamental lainnya
(seperti rasio solvabilitas atau leverage yang lain dan rasio aktivitas) serta variabel
makro ekonomi (seperi tingkat bunga, kurs rupiah terhadap valuta asing, neraca
pembayaran, ekspor-impor, dan kondisi ekonomi lainnya) dan variabel non ekonomi
(seperti kondisi politik). Variabel-variabel diluar kondisi perusahaan tersebut sangat
mungkin mempengaruhi kinerja perusahaan terutama yang tercermin dalam besaran
pembayaran dividen terutama dividen kas.
5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1.Simpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan dalam Bab IV, maka dapat
ditarik kesimpulan bahwa secara simultan terbukti bahwa 71,8% jumlah dividen tunai
bisa dijelaskan oleh variasi dari keempat variabel independen yang terdiri dari TA
(03-07), ROE(03-07), DER(03-07), dan STOCK(03-07) secara bersama-sama, sedangkan sisanya (100% - 71,8% = 28,2%) dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain.
Secara parsial hasil uji mendukung hipotesis pertama yang menyatakan bahwa
profitabilitas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap jumlah dividen tunai
perusahaan-perusahaan go public, hasil penelitian ini konsisten dengan yang diajukan
oleh Suharli dan Oktorina (2005) dan Suharli (2006). Hasil uji tidak mendukung
hipotesis kedua. Hal ini dapat dilihat pada hasil pengujian bahwa variabel DER(03-07)
tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel DPR(03-07), hasil penelitian ini konsisten
dengan Suharli dan Oktorina (2005), Suharli (2006), Wirjolukito, Yanto, dan Sandy
(2003) dan William (2006). Hasil uji mendukung hipotesis ketiga yang menyatakan
bahwa harga saham mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel DPR(03-07),
hasil ini konsisten dengan hasil penelitian Suharli (2006), Apriani (2005) dan
(2005). Hasil uji tidak mendukung hipotesis keempat. Hal ini dapat dilihat pada hasil
pengujian bahwa variabel TA(03-07) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel
DPR(03-07), hasil ini konsisten dengan hasil penelitian Rachman (2005) dan Hidayat
(2006)
5.2. Implikasi
Implikasi yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat mengkonfirmasi
hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya mengenai faktor-faktor
yang mempengaruhi dividen tunai.Disamping itu penelitian ini juga dapat memberi
masukan terhadap literatur-literatur dan penelitian-penelitian khususnya terhadap
perkembangan pasar modal dan manajemen portofolio.
5.3. Keterbatasan
Salah satu keterbatasan dalam penelitian ini, yaitu sampel yang diambil hanya
16 perusahaan industri manufaktur saja sehinggaperlu menanbah sampel untuk dapat
mengahsilkan generalisasi lebih memadai.
DAFTAR PUSTAKA
Allen, D. E. 1992. “Target Payout Ratio and Dividen Policy”. Managerial Finance pp.9;
Apriani, Lisia. 2005.”Reaksi Pasar Terhadap Pengumuman Kenaikan/Penurunan
Dividen (Studi Empiris Pada Perusahaan Utilitas Publik Dan Perusahaan Dalam Industri Tidak Diregulasi)”. SNA VIII Solo, 15 – 16 September 2005.
Black, F .1976.”The Dividend Puzzle”, The Journal of Portfolio Management, vol.2 Th.3.pp.5-8
Ernita, Etti.2007. “Pengaruh Asimetri Informasi, Alokasi Sumber daya, Etika dan
Komitmen Organisasi Terhadap Bidget Slack : Suatu Eksperimen”.Jurnal Widya Manajemen & Akuntansi, Vol 7 No. 1 April 2007 :67-83
Frankfurter, George M., and Bob, G. W. Jr. 2002. “Dividend Policy Theories and Their Empirical Tests”. International Review of Financial Analysis, vol.11. Th.2
Gordon. M. J. 1962. “The Savings. Investment and Valuation of a Corporation”.
Review of Economics and Statistic. (February);
Hidayat, Nur.2006. Analisis Faktor-Faktor yang mempengaruhi Dividen Kas di Bursa Efek Jakarta. Media Riset Akuntansi Universitas Islam Indonesia
Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akutansi Keuangan. per 1 Oktober 2009. Salemba Empat, Jakarta;
Jensen, M. C., dan W. H. Meckling. 1976. “ The Theory of The Firm: Manajerial Behavior, Agency Cost, and Ownership Structure”. Journal of Financial Economics;
Keown, Arthur J., Martin, Jhon D., Petty, J. William, dan Scott, David F., 2005. Foundations of Finance (The logic and Practice of Financial Management), New Jersey: Prentice Hall.
Rachman, I. D. 2005. Analisis Faktor-Faktor Kebijakan Dividend dan Pengaruhnya terhadap Harga Pasar Saham. Draft Skripsi Universitas Widyatama. Dipublikasikan
Ross, S.A. 1977. “ The Determination of Financial Structure: The Incentive Signaling Approach”. Bell Journal of Financial Economics. 8:23-40;
Rozeff, M. 1982. “ Beta and Agency Cost as Determinants of Payout Ratios”. Journal of Financial Research. Fall. 249-259;
________ . 1992. “ How Companies Sets Their Dividend-Payout Ratios”, dalam J.M., Stern and D. H. Chew, the revaluition in corporate finance, Blackwell publishers, Oxford.
Sartono, R. Agus, 1992. Manajemen Keuangan (Soal dan Penyelesaiaan), Edisi 1, Yogyakarta : BPFE.
Skousen, K. Fred, W.Steve Albrecht, James D. Stice, dan Earl K. Stice. 2001. Akuntansi Keuangan: Konsep dan Aplikasi, Edisi 7. Salemba Empat : Jakarta.
Suad, Husnan.1998. Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Edisi 2, AMP YKPN, Yogyakarta.
Suharli, M. dan Oktorina, M. 2005. “Memprediksi Tingkat Pengembalian Investasi
pada Equity Securities Melalui Rasio Profitabilitas, Likuiditas, dan Utang Pada
.2006.”Studi Empiris Mengenai Pengaruh Profitabilitas,Leverage, dan Harga
Saham Terhadap Jumlah Dividen Tunai”. Jurnal Maksi Vol 6 N0. 2 Agustus
2006 : 243-256.
Sutrisno. 2003. Manajemen Keuangan (Teori, Konsep, dan Aplikasi), Edisi pertama,Yogyakarta: EKONISIA.
Weston, J. Fred dan Thomas E. Copeland.1986. Managerial Finance,Eighth Edition. CBS College Publishing:Japan.
Wirjolukito, A. Yanto, H. dan Sandy. 2003. “Faktor-Faktor Yang Merupakan Pertimbangan Dalam Keputusan Pembagian Dividen: Tinjauan Terhadap Teori Pensinyalan Dividen Pada Perusahaan Go Public di Indonesia”. Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Jakarta.