• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN EKONOMI PEMERINTAH RI TINJAUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEBIJAKAN EKONOMI PEMERINTAH RI TINJAUAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

KEBIJAKAN EKONOMI PEMERINTAH RI: TINJAUAN ETIKA BISNIS∗)

Oleh:

Kwik Kian Gie∗∗)

Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang Terhormat Menteri Agama Republik Indonesia, Para panelis dan peserta seminar yang saya hormati,

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Panitia

Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih Muhamaadiyah ke 26, dan merasa

sangat terhormat menjadi salah satu pembicara utama dalam

kesempatan ini.

Pada acara seminar yang menjadi rangkaian Munas Tarjih ini,

perkenankanlah saya menyampaikan beberapa pemikiran yang

mudah-mudahan dapat memperkaya materi yang akan Saudara-saudara

diskusikan. Di samping itu saya berharap pemikiran-pemikiran tersebut

dapat membantu menempatkan diskusi hari ini dalam memperbaiki

carut-marut pembangunan ekonomi kita yang sedang terpuruk. Bahasan

seminar ini sangat luas cakupannya dan mendalam. Isu mengenai

kebijakan ekonomi Pemerintah telah banyak dibahas di berbagai

kesempatan, oleh banyak kalangan. Ditinjau dari sudut tinjauan etika

bisnis maka topik tentang kebijakan ekonomi Pemerintah menjadi

∗) Makalah disampaikan dalam forum Munas Tarjih ke-26 PP Muhammadiyah di Padang, tanggal 3 Oktober

2003

∗∗) Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

(2)

sesuatu yang sangat menarik untuk dibahas. Krisis ekonomi yang sangat

parah, dan hingga kini kita masih belum pulih, merupakan refleksi

buruknya etika bisnis di Indonesia, baik di kalangan pemerintahan

maupun swasta, baik di pusat maupun di daerah, serta di segala

tingkatan.

Etika Bisnis dan Governance

Saya akan mulai pembahasan dengan penjelasan secara singkat

apa yang dimaksud dengan etika bisnis dan konsep governance.

Etika bisnis merupakan bagian Code of Conduct (pedoman tentang

perilaku etis) suatu entitas usaha. Pemerintah dan lembaga-lembaga

Pemerintah dapat kita anggap di sini sebagai entitas usaha, yang

memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam bentuk produk

kebijakan publik maupun produk barang/jasa publik. Di dalam Code of

Conduct inilah tercantum nilai-nilai etika berusaha sebagai salah satu

pelaksanaan kaidah-kaidah Good Governance. Dengan kata lain,

pembahasan etika bisnis tidak dapat terlepas dari pembahasan

muaranya, yakni governance.

Di dalam literatur ilmu ekonomi pembangunan, konsep governance

meliputi berbagai faktor kelembagaan dan organisasi (termasuk

perangkat peraturan) yang mempengaruhi operasi perekonomian dan

membentuk kebijakan publik Pemerintah. Kapasitas governance

Pemerintah yang baik diyakini akan memberikan hasil adanya suatu

pasar di berbagai sektor yang berjalan secara efisien dan kemampuan

negara untuk mengatasi berbagai permasalahan ekonomi secara efektif.

Secara umum, etika adalah ilmu normatif penuntun manusia, yang

memberi perintah apa yang mesti kita kerjakan dalam batas-batas kita

sebagai manusia. Etika menunjukkan kita dengan siapa dan apa yang

sebaiknya dilakukan. Maka, etika diarahkan menuju perkembangan

manusia dan mengarahkan kita menuju aktualisasi kapasitas terbaik

(3)

bahwa kita harus bertindak secara masuk akal. Itu akan membawa kita

menuju ke keutamaan.

Mengapa suatu entitas perlu menerapkan nilai-nilai etika berusaha

sebagai bagian dari pelaksanaan good governance? Jawabannya adalah dengan adanya praktek etika berusaha dan kejujuran dalam berusaha

dapat menciptakan aset yang langsung atau tidak langsung dapat

meningkatkan nilai entitas. Banyak kasus di berbagai Negara yang telah

membuktikan hal tersebut.

Sayangnya, sebagai manusia para penguasa dan pebisnis sangat

rentan terhadap godaan untuk melanggar etika. Tujuan para pebisnis

adalah untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin. Filosofi yang

dominan bagi para pebisnis adalah cara mana yang membuat uang paling

banyak. Tujuan hidup mereka didasarkan atas pertanyaan ini.

Orang-orang macam ini seperti yang dikatakan oleh Charles Diskens dalam

Martin Chuzzlewit, "Semua perhatian, harapan, dorongan, pandangan

dan rekanan mereka meleleh dalam dolar. Manusia dinilai dari dolarnya."

Theodore Levitt mengatakan bahwa para pebisnis ada hanya untuk satu

tujuan, yaitu untuk menciptakan dan mengalirkan nilai kepuasan dari

suatu keuntungan hanya pada dirinya dan nilai budaya, spiritual dan

moral tidak menjadi pertimbangan dalam pekerjaaannya.

Jelas tanpa suatu etika yang menjadi acuan, para penguasa dan

pebisnis akan lepas tidak terkendali, mengupayakan segala cara,

mengorbankan apa saja untuk mencapai tujuannya. Akibatnya sungguh

mengerikan. Mereka dapat menyebabkan perang antar bangsa, antar

lembaga, atau antar perusahaan. Mereka menganggap dan membuat

bisnis seperti medan perang. John Rodes menggambarkan mereka

sebagai orang yang tidak alamiah, yang bahkan disamakan dengan

(4)

Ketidakwarasan dalam Etika Bisnis yang Tercermin dari Angka-angka

Para hadirin yang terhormat,

Telah disinggung sedikit di muka, bahwa keterpurukan bangsa ini

adalah disebabkan oleh bobroknya perilaku penguasa dan pengusaha

kita. Tidak adanya etika bisnis yang baik merupakan akar terjadinya

KKN. Bagaimana kinerja Pemerintah dari dulu hingga sekarang, tercermin

pada gambaran menyeluruh dari kondisi bangsa kita sekarang. Kebijakan

ekonomi kita selama ini ditinjau dari etika bisnis banyak yang tidak

masuk akal. Ketidakwarasan ini tercermin dari angka angka-angka

berbagai indikator ekonomi.

Selama 30 tahun sebelum masa krisis pembangunan ekonomi

dianggap berhasil. Indonesia dipuja-puja oleh Bank Dunia sebagai salah

satu contoh negara yang pembangunannya dianggap berhasil dan

dimasukkan sebagai bagian dari keajaiban dari Asia Timur. Tetapi

sangatlah ironis bahwa negara kita yang kaya akan minyak telah menjadi

importir netto minyak untuk kebutuhan bangsa sendiri. Negara yang

dikaruniai dengan hutan yang demikian luas dan lebatnya sehingga

menjadikannya negara produsen eksportir kayu terbesar di dunia

dihadapkan pada hutan-hutan yang gundul dan dana reboisasi yang

praktis nihil karena dikorup. Walaupun telah gundul, masih saja terjadi

penebangan liar yang diselundupkan ke luar negeri dengan nilai sekitar 2

milyar dollar AS. Sumber daya mineral kita dieksploitasi secara tidak

bertanggung jawab dengan manfaat terbesar jatuh pada kontraktor asing

dan kroni Indonesianya secara individual. Rakyat yang adalah pemilik

dari bumi, air dan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya

memperoleh manfaat yang sangat minimal.

Utang dipicu terus tanpa kendali sehingga sudah lama pemerintah

hanya mampu membayar cicilan utang pokok yang jatuh tempo dengan

utang baru atau dengan cara gali lubang tutup lubang. mengandung

(5)

Soeharto dikatakan bahwa ukuran apakah utang luar negeri sustainable

atau tidak diukur dengan Debt Service Ratio (DSR). Juga disebutkan patokannya yang sudah merupakan lampu merah, yaitu kalau sudah

menyentuh angka 20 persen. Ketika angka ini sudah jauh dilampau,

ukurannya diubah menjadi berapa persen dari GDP. Jelas angkanya

menurun drastis dan lalu dikatakan bahwa utang luar negeri masih

sustainable. Pikiran kita sudah corrupted, sehingga kita sudah

mengacaukan antara likuiditas dan soliditas. Jumlah utang dalam persen

dari GDP adalah indikator untuk soliditas, sedangkan DSR adalah

indikator untuk likuiditas. Corrupted mind memakainya secara

opportunistis tanpa mempedulikan dampaknya pada kondisi keuangan

negara.

Sementara gambaran utang seperti tersebut di atas, kita

membiarkan ikan kita dicuri senilai USD 3,5 milyar. Pasir yang dicuri

sebesar USD 3 milyar. Hutan yang sudah gundul masih ditebang secara

liar dan hasilnya laku dijual senilai USD 2,5 milyar. Kalau ini dijumlah

sudah mencapai USD 9 milyar setahun. Tetapi kita mengemis utangan

sebesar USD 3 milyar setahun on top dari penundaan pembayaran cicilan utang pokok dan bunga di Paris Club sambil dimintai

pertanggungjawaban bagaimana pemerintah Indonesia mengurus

bangsanya sendiri.

Industri-industri yang kita banggakan hanyalah industri

manufaktur yang sifatnya industri tukang jahit dan perakitan yang

bekerja atas upah kerja dari para majikan asing dengan laba yang

berlipat-lipat ganda dari upah atau maakloon yang membuat pemilik

industri perakitan dan industri penjahitan itu cukup kaya atas

penderitaan kaum buruh Indonesia seperti yang dapat kita saksikan di

film "New Rulers of the World" buatan John Pilger.

Bank-bank kita digerogoti oleh para pemiliknya sendiri. Bank yang

(6)

dengan menciptakan apa yang dinamakan fasilitas diskonto. Setelah itu

masih kalah clearing lagi, dan diselamatkan lagi dengan fasilitas diskonto

ke II. Uang masyarakat yang dipercayakan kepada bank-bank dalam

negeri dipakai sendiri oleh para pemilik bank untuk mendanai

pembentukan konglomerat sambil melakukan mark up. Legal Lending

Limit dilanggar selama bertahun-tahun dalam jumlah yang

menghancurkan banknya dengan perlindungan oleh Bank Indonesia

sendiri. Maka ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di akhir tahun

1997, terkuaklah betapa bank sudah hancur lebur.

Apa hubungan kerusakan ini semuanya dengan etika bisnis, good

governance yang sudah membuat kita tidak waras lagi?

Karena para pemimpin kita tidak dapat melihat bahwa apa yang

tergambarkan itu sudah sangat merusak keuangan negara dan akan

merusak terus yang semakin hari semakin hebat. Pernyataan-pernyataan

pendapat dari elit penguasa menganggap kesemuanya itu normal-normal

saja. Kalau kita baca setiap LoI dan setiap Country Strategy Report serta setiap keikutsertaan lembaga-lembaga internasional dalam perumusan

kebijakan pemerintah, kita tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan

bahwa yang memerintah Indonesia sudah bukan pemerintah Indonesia

sendiri. Jelas sekali bahwa kita sudah lama merdeka secara politik, tetapi

sudah kehilangan kedaulatan dan kemandirian dalam mengatur diri

sendiri.

Pemerintah harus menjalankan kebijakan IMF. Sedikit

kebijakannya yang baik, tetapi banyak yang merusak keuangan negara

secara fatal. Selama program berjalan, pinjamannya diberikan sedikit

demi sedikit setelah dinilai sebagai good boy menjalankan semua perintah IMF. Elit bangsa kita memuji perolehan kucuran dana IMF ini, padahal

tidak boleh dipakai dan kita harus membayar bunga. Yang lebih gila lagi,

sejak kuartal pertama tahun 2001 setiap kali kita menerima beberapa

(7)

total penerimaan sebesar USD 12 milyar, dan yang sudah dibayarkan

USD 3 milyar. Tersisa USD 9 milyar ketika IMF meninggalkan Indonesia

nanti pada akhir tahun 2003. Jadi ditinjau dari sudut keuangan tidak

ada gunanya karena hanya boleh dipakai untuk mendukung neraca

pembayaran dan hanya boleh dipakai kalau cadangan devisa habis.

Kenyataannya cadangan devisa kita meningkat terus karena sejak tahun

1997 transaksi berjalan selalu positif.

Apa hubungan antara patuh kepada IMF dengan korupsi? Mental

dan mindset-nya sudah korup, sehingga tidak bisa lagi melihat persoalan

dengan jernih, apakah IMF masih ada gunanya ataukah sudah banyak

merusak dan akan merusak terus. Mari kita telaah dengan cermat

panduan atau bahkan "paksaan" oleh IMF dalam kebijakan pemerintah

tentang perbankan. Serentetan kebijakannya mengakibatkan bahwa

setiap tahunnya minimal sekitar Rp. 80 trilyun anggaran dipakai untuk

membiayai perbankan yang tidak pernah menjadi lebih sehat setelah

lebih dari 3,5 tahun diberi subsidi sebesar itu. Secara konsepsional bank

tidak akan pernah dapat berfungsi sebagai intermediasi yang menjadi hak

hidupnya selama perbankan Indonesia nurut dengan cara menghitung

kecukupan modal atau CAR yang ditetapkan oleh BIS dan dipaksakan

oleh IMF untuk diikuti oleh Indonesia. Kesemuanya ini diterima dan

dijalankan sampai saat ini tanpa dapat melihat apa dampaknya buat kita

dalam jangka menengahnya.

Keseluruhan anggaran pembangunan untuk tahun anggaran 2003

sebesar Rp. 65 trilyun, tetapi pengeluaran untuk subsidi kepada

bank-bank sebesar Rp. 91 trilyun. Semua subsidi dari bahan pokok yang

dibutuhkan oleh rakyat harus dipangkas, tetapi subsidi besar-besaran

untuk bank-bank yang tidak pernah akan sehat dibela. Jumlah uang

sebesar minimal Rp. 90 trilyunan per tahun untuk membela bank tidak

apa-apa, tetapi para menteri berkelahi untuk program-program

(8)

Bukankah ini manifestasi dari pikiran-pikiran yang sudah tidak waras

lagi, yang sudah tumpul sama sekali terhadap sense of priority?

Dalam bidang perpajakan, pendapatan pajak kita untuk tahun

anggaran 2003 diperkirakan sebesar Rp. 240 trilyun. Jumlah ini dinilai

terlalu kecil karena tax ratio kita yang masih rendah. Maka ekstensifikasi

dan intensifikasi akan ditingkatkan. Tidak ada yang berbicara tentang

kebocoran pajak. Dalam praktek jumlah pajak yang harus dibayar oleh

wajib pajak ditentukan bersama antara wajib pajak dan pejabat pajak.

Kalau jumlah sudah disetujui sebesar Rp. 400 juta misalnya, sering

sekali yang masuk ke kas negara hanya Rp. 100 juta. Pembayar pajak

diberi tanda terima dari kas negara dan dijamin tidak diganggu lagi.

Katakanlah bahwa tidak ¾ yang tidak masuk ke kas negara. Kita aman

mengasumsikan bahwa yang masuk ke kas negara hanya 50 persen.

Sisanya dikorup oleh pejabat pajak. Biaya korupsi perolehan pajak ini Rp.

240 trilyun setiap tahunnya, atau USD 24 milyar dengan menggunakan

kurs Rp. 10.000 per satu dolar.

Ditambah dengan ikan, pasir dan kayu yang dicuri senilai USD 9

milyar jumlahnya sudah mencapai USD 33 milyar. Kalau obligasi

rekapitalisasi perbankan dapat ditarik kembali dengan cara-cara yang

dapat dipertanggungjawabkan, paling sedikit dapat dihemat USD 4 milyar

lagi. Kesemuanya ini sudah mencapai angka USD 37 milyar hanya dalam

satu tahun, sedangkan utang luar negeri kita seluruhnya sekitar USD 76

milyar. Kalau kebocoran anggaran rutin dan anggaran pembangunan

diperkirakan 20 persen saja, yang bocor sudah sebesar Rp. 74 trilyun

lagi. Seluruhnya menjadi USD 44,4 milyar atau Rp. 444 trilyun. Yang

terbuang sia-sia sudah lebih besar dari seluruh APBN tahun 2003! Dari

angka-angka ini sangat jelas bahwa KKN memang sudah merusak daya

pikir kita yang berdampak kerugian material yang luar biasa dahsyatnya.

Republik Indonesia yang demikian besarnya dan sudah 57 tahun

(9)

Batam dari pengenaan pajak pertambahan nilai setiap kali batas waktu

untuk diberlakukannya pengenaan PPn sudah mendekat. Semua orang

menjadikan tidak datangnya investor asing sebagai instrumen untuk

mengancam sikap dan pikiran yang sedikit saja mencerminkan keinginan

untuk mandiri, dan keinginan untuk mempunyai percaya diri serta harga

diri. Sikap percaya diri dan sikap harga diri langsung dihujat sebagai

sikap anti asing yang kerdil seperti katak dalam tempurung.

Sikap yang demikian dianggap sebagai sikap yang berbahaya

karena akan membuat kita miskin. Kita dibuat yakin oleh para pemimpin

bangsa kita bahwa kita tidak mungkin hidup layak tanpa utang atau

bantuan dari negara-negara lain.

Rendahnya Etika Bisnis dan KKN: Sumber Permasalahan Bangsa

Kita lihat bahwa rusaknya kebijakan ekonomi Pemerintah ditinjau

dari sudut etika bisnis sudah sangat dahsyat. Kerusakan oleh KKN yang

sudah menjelma menjadi kerusakan pikiran, perasaan, moral, mental dan

akhlak membuahkan kebijakan-kebijakan yang sangat tidak masuk akal.

Menurut saya KKN adalah sumber dari segala permasalahan yang

mencuat dalam segala bidang. KKN adalah the roots of all evils. Kalau kita telusuri akar penyebab dari hampir semua permasalahan, yang berarti

tidak hanya terbatas pada bidang ekonomi saja, kita selalu terbentur

pada KKN. Sebagai contoh, mengapa daya saing bangsa kita lemah?

Karena banyaknya pungutan liar dan komersialisasi jabatan. Mengapa

banyak proyek tidak masuk akal dibangun dengan utang yang

memberatkan? Mengapa demikian banyaknya proyek dirancang dengan

pembiayaan utang yang tidak diwujudkan karena tidak mampu

melaksanakannya? Karena tidak ada kemampuan melakukan

perencanaan yang baik? Tidak, sebabnya adalah karena setiap

pengeluaran untuk proyek dibocorkan untuk kantungnya pimpinan

(10)

pertimbangannya tidak karena proyek itu bermanfaat, tetapi karena

mudah di mark up dan dikorup untuk dirinya penggagas beserta

kelompoknya. Jadi kemampuan merencanakan ada, tetapi otaknya sudah

dimasuki virus KKN. Mengapa mutu pendidikan kita sangat rendah?

Karena gelar kesarjanaan dikomersialkan dan akreditasi oleh pemerintah

dapat dibeli. Dampaknya tidak dalam bidang ekonomi, tetapi

pembodohan seluruh rakyat.

Logika juga sudah dibolak balik dengan pembelaan yang gigih

dengan gaya menggebrak dengan dalil-dalil tanpa argumentasi. Banyak

istilah-istilah terang-terangan diartikan lain. Utang yang terang-terangan

utang disebut pendapatan untuk pembangunan. Pemberi utang yang

mengenakan rente disebut donor. Anggaran yang terang-terangan defisit

disebut berimbang. KKN dibenarkan, yang dibela dengan dalih bahwa

karena hanya melalui KKN menjebol uang bank, maka industri-industri

besar dapat tumbuh dan PDB meningkat terus. Maka semuanya justru

yang sangat besar merugikannya dibebaskan dengan pemberian R&D.

Pembelaan terhadap pemberian R&D tidak dapat dimengerti, karena

lagi-lagi menggebrak tanpa argumentasi. Pejabat sangat tinggi dalam bidang

penegakan hukum terang-terangan menawarkan trade off mau

menghukum orang yang bersalah atau memperoleh kembali uang

curiannya. Menangkap orang tanpa bukti kuat dikatakan mengamankan.

Menganiaya dikatakan mendidik, mendevaluasi mata uang dikatakan

menyesuaikan nilainya; tidak peduli bahwa kalau diukur dengan

purchasing power parity dengan devaluasi itu nilai rupiah menjadi

sangat-sangat undervalued. IMF yang jelas sudah memporak-porandakan perekonomian kita dikatakan membuat ekonomi kita sekarang stabil.

Ekonomi dengan sendirinya menjadi stabil setelah mengalami gejolak

yang siklis.

Yang menentukan adalah stabilnya pada tingkat yang normal

ataukah pada tingkat yang rusak? Tingkat suku bunga deposito yang

(11)

negara-negara sekitar kita yang pada awal pembangunannya sama

kondisi ekonominya, tingkat suku bunganya sekarang sekitar 4 persen

sampai 6 persen. Bunga deposito dalam dollar AS sekitar 1,5 persen.

Inflasi sekitar 6-7 persen dianggap bagus, sedangkan di negara-negara

yang dianggap setara dengan kita antara 1 persen sampai 3 persen. Nilai

tukar rupiah dianggap stabil, sedangkan dalam periode yang sama

dengan Thailand rupiah turun dari Rp. 3870 per dollar menjadi Rp. 9.000

dan Bath Thailand turun dari Baht 20 menjadi sedikit lebih dari Baht 40.

Konglomerat jahat yang sudah terang-terangan membenani APBN

ribuan trilyun dikatakan harus diberi kepastian untuk berusaha lagi

supaya ekonomi tumbuh lebih cepat. Bank-bank yang jelas disubsidi

sangat besar sampai saat ini sudah mengucurkan kredit sangat besar

kepada konglomerat jahat yang sama tetapi memakai nama orang lain.

Perusahaan diterima sebagai pembayaran lunas utang konglomerat jahat,

tetapi sampai saat ini masih dikelola oleh mereka sepenuhnya, dan

nilainya merosot tajam. Terus dikatakan itu adalah biaya krisis yang

harus ditanggung oleh rakyat pembayar pajak. Kalau ada yang

memprotes dan berani membela kepentingan rakyat tak berdosa yang

membayar pajak dimaki bahwa rakyat pembayar pajaknya tidak

mengeluh. Yang mengatakan hal yang benar itu dimaki sebagai orang

yang kalau ditelusuri tidak membayar pajak, hanya ingin mencari

popularitas. BUMN harus diprivatisasi karena mesti rusaknya dan mesti

ruginya. Tetapi Telkom sejak tahun 1996 disehatkan. Setelah sangat

sehat diprivatisasi. Ketika ditanya mengapa dijual kepada kepada swasta

dijawab bahwa kalau tidak sehat tidak laku dijual. Jadi dikatakan rusak,

merugi dan obatnya adalah penjualan kepada swasta. Tetapi ketika yang

dijual jelas-jelas sangat sehat dikatakan kalau tidak sehat tidak laku

dijual.

Kalau kita perhatikan semuanya ini, bukankah bangsa kita bukan

saja sudah terjangkit KKN luar biasa, tetapi juga sudah sakit jiwa dan

(12)

ucapan, perbuatan, perilaku dan alur pikir dari banyak elit terpandai

sudah tidak bisa lagi dimengerti oleh nalar dan etika moral yang paling

elementer sekalipun.

Kesemuanya ini menunjukkan betapa bangsa kita sudah sakit

walaupun belum separah Nazi Jerman, Cina kuno dan beberapa dinasti

kerajaan Eropa menjelang revolusi Perancis. Penyakit bangsa seperti ini

bisa berlangsung sangat lama. Di Cina berdinasti-dinasti. Demikian pula

dengan banyak raja-raja Eropa sebelum revolusi Perancis.

Secara terbuka, elit kita bersama-sama dengan tokoh-tokoh asing

memberi pernyataan di mana-mana bahwa Indonesia masih harus

berpikir keras apakah bisa hidup terus tanpa bantuan dari

lembaga-lembaga internasional yang dipimpin oleh IMF.

Kalau kita perhatikan dan baca semua publikasi dari IMF, Bank

Dunia, ADB, PBB dan masyarakat internasional lainnya, isi

keseluruhannya memberi arahan dan ajaran kepada pemerintah

Indonesia bagaimana pemerintah harus mengurus bangsanya sendiri.

Tidak sedikit yang arahan-arahannya bersifat imperatif, merupakan

conditionalities atau persyaratan untuk mendapatkan utangan dari

masyarakat internasional.

Dari pihak pemerintah sendiri, oleh para pejabat tingginya boleh

dikatakan tidak ada hal lain yang dipikirkan kecuali bagaimana

mendapatkan utangan yang sebesar-besarnya dari negara mana saja.

Buat saya yang sangat baru dalam pemerintahan sangat mengejutkan

dan menyedihkan betapa utang sebanyak-banyaknya dianggap hal yang

rutin dan mesti. Para pejabat itu bahkan menakut-nakuti siapa saja yang

menyuarakan kemandirian sedikit saja, bahwa kalau mandiri pasti akan

(13)

Di mana-mana di dunia bangsa Indonesia sudah dijadikan bahan

hinaan dan tertawaan dalam percakapan-percakapan sosial. Namun

semakin lama semakin sering publikasi internasional menggambarkan

Indonesia yang sudah mirip dengan banana republic.

Tetapi bukannya malu dan mati-matian mengkoreksinya,

melainkan minta-minta, mengemis kepada bangsa-bangsa lain.

Bukannya menciptakan kekayaan, tetapi menjual apa saja yang

dimilikinya dengan harga murah. Bukannya membangun

industri-industri sendiri dengan semua kekayaan alam yang ada, tetapi berkeliling

dunia mengemis supaya perusahaan-perusahaan asing datang

berinvestasi di Indonesia. Mereka tidak dapat membayangkan bahwa

tanggung jawab investor adalah mencari laba untuk para pemegang

sahamnya, tidak membantu bangsa Indonesia secara altruistis. Semakin

kita minta-minta mereka datang, semakin mereka mentertawakan dan

menghina, selama mereka tidak dapat membuat laba di Indonesia.

KKN sudah membuat beberapa elit bangsa kita tidak lagi dapat

berpikir secara waras. Nalarnya jungkir balik dan tanpa sadar

menyatakannya di mana-mana hal-hal yang sama sekali tidak masuk

akal.

Sejarah telah membuktikan bahwa kalau kita sedang lemah dan

terpuruk, apapun yang kita katakan dan apapun yang kita lakukan

dirasakan sebagai demonstrasi kelemahan. Tetapi kalau pada suatu hari

nanti kita kuat, semua gerak-gerik kita dianggap sebagai hebat.

Contoh selaku pribadi adalah Mahatma Gandhi, yang selama

menjadi mahasiswa di London selalu bersikap sangat correct dan santun,

berpakaian sangat sopan. Tetapi seringkali mahasiswa Inggris meludah

dipingggir kakinya sebagai penghinaan. Namun ketika dia berhasil

(14)

Gandhi hanya mengenakan cawet dan membawa tongkat. Koran-koran di

London menyebutnya the holy man!

Contoh sebagai negara adalah Cina yang terpuruk selama

berpuluh-puluh tahun. Mereka justru menutup diri sehingga terkenal

dengan nama negara tirai bambu. Dengan pengorbanan yang luar biasa

mereka bekerja keras sendirian dalam ketertutupan. Entah berapa besar

korban benda maupun jiwa. Tetapi tidak pernah mengeluh, tidak pernah

mengemis dan tidak pernah minta-minta supaya investor datang. Dalam

keterpurukan dan ketertutupannya itu, mereka bahkan menolak investor

asing seandainya mereka mau datang. Namun setelah dirinya kuat dan

mulai membuka diri, tanpa berbicara sama sekali beberapa orang sudah

mulai mengenali bahwa Cina sudah mulai bangkit memasuki aufklärung

dan renaisance. Namun masih sangat-sangat banyak orang

menganggapnya masih sangat ketinggalan. Hanya beberapa tahun yang

lalu pejabat sangat tinggi Indonesia menyatakan terbuka bahwa dalam

penguasaan teknologi RRC masih ketinggalan 30 tahun dibandingkan

dengan Indonesia. Sebuah lembaga pengkajian terkemuka dan ternama

ketika itu juga masih mengatakan bahwa RRC masih sangat miskin dan

tertinggal. Tetapi ketika majalah-majalah dan pers internasional

menggambarkan bahwa RRC sedang bangkit menjadi salah satu super

power, RRC sendiri tidak berbicara apa-apa.

Alangkah kontrasnya dengan kita yang berteriak bahwa dunia

internasional mempercayai kita karena mendapat kucuran utang dari IMF

sebesar USD 365 juta. Ini dianggap sebagai vote of confidence. Sudah berkali-kali IMF memberikan kucuran utangnya setiap kali RI

menyelesaikan pelaksanaan LoI. Tetapi tetap saja tidak ada investor asing

yang masuk. Bagaimana disebut vote of confidence? IMF sendiri di

mana-mana mendapatkan demonstrasi besar-besaran sebagai vote of no

confidence. Semakin lama semakin banyak ahli-ahli Barat yang

(15)

boleh dipakai sebelum cadangan devisa yang kita miliki habis. Nyatanya

cadangan devisa kita meningkat terus. Tingkat bunga yang sekitar 4

persen dikatakan sebagai incredibly low, sedangkan kalau kita

menempatkan uang dalam dollar AS sebagai deposito berjangka hanya

mendapatkan 1,3 persen setahun. Dikatakan bahwa utangan dari IMF

masih dibutuhkan sedangkan sejak kuartal pertama tahun 2001 kita

sudah mulai membayar kembali. Jumlah utang dari IMF sejak tahun

1997 tidak pernah melampui sekitar USD 10 milyar, karena sejak kuartal

pertama tahun 2001, sambil memberi pencairan utang sedikit demi

sedikit, yang dibayarkan setiap kalinya lebih besar. Toh dikatakan

liquidity support. Lagi-lagi, bukankah kita sudah sakit karena KKN?

Bukan karena uang, tetapi KKN yang sudah menjangkiti mindset

sehingga tidak lagi dapat melihat dan membaca dengan jernih.

Dikatakan terang-terangan di mana-mana oleh para pembentuk

opini publik bahwa kecuali uangnya, IMF beserta seluruh gerbongnya

yang Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan CGI sangat diperlukan

untuk mendisplinkan para pemimpin Indonesia. Beberapa menteri

tertentu dari kelompok tertentu pula sejak era Presiden Soeharto sampai

sekarang sengaja melakukan penekanan-penekanan dan menakut-nakuti

Presidennya sendiri lewat para pejabat IMF dan lembaga internasional

lainnya bahwa kalau tidak nurut lembaga-lembaga internasional yang

mereka pertuankan, bangsa Indonesia akan celaka, akan hidup sangat

sengsara, akan timbul revolusi sosial dan sebagainya.

Kalau kita hanya dapat mengurus diri sendiri atas tekanan, arahan

dan rangsangan utangan yang diberikan bagaikan pawang memberikan

makanan kepada ikan Flipper untuk berkinerja, buat apa kita dahulu

merdeka? Bukankah Belanda mengajukan tawaran kepada Bung Karno

dan rekan-rekannya supaya menunda kemerdekaan barang 10 sampai 15

tahun. Maksudnya supaya Belanda dapat mengajari para pemimpin

Indonesia bagaimana mengurus negara sambil memberikan bantuan

(16)

Bung Karno menolak keras yang tercermin dengan tajam dalam

pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945, yang sekarang terkenal dengan

judul "Lahirnya Pancasila". Ketika itu Bung Karno mengatakan bahwa

Indonesia harus merdeka sekarang juga, menit ini juga walaupun dalam

kemiskinan dan kesengsaraan yang seperti apapun juga. Dalam alam

kemerdekaan itulah kita membangun menurut pola dan yang sesuai

dengan kehendak kita sendiri. Itulah hakikat dari kemerdekaan yang

diperjuangkan sekian lama dengan pengorbanan yang tidak terhingga.

Sekarang ini, saya harus mengatakan dengan sedih dan kecewa,

bahwa etika moral penguasa dan pengusaha tidak mendapat perbaikan

yang berarti sejak jatuhnya Suharto, sehingga falam hal-hal tertentu,

bahkan menjadi lebih buruk lagi. Saya menyaksikan korupsi yang makin

bertambah ganas, brutal dan merusak. Namun, betapapun berat beban

dan betapapun sulitnya memperbaiki etika bisnis dan memberantas

korupsi, kita harus terus mengakui bahwa korupsi adalah sebab yang

utama dari penyakit dan kesulitan kita, dan kita harus tetap bertekad

dan terus berusaha untuk memberantasnya.

Kesimpulan

Pembenahan etika bisnis dan pemberantasan KKN harus

diwujudkan secepatnya. Tidak melalui slogan-slogan, tetapi melalui

konsep dan rencana tindak (action plan) yang konkret. Kerugian

kebendaan yang diakibatkan oleh KKN buat bangsa kita luar biasa

besarnya. Yang lebih menyedihkan, KKN terus berjalan yang semakin

lama semakin hebat, dan sudah merambat ke dalam otak, budaya, gaya

hidup, tata nilai yang membuat kita tidak mempunyai kepercayaan dan

tidak mempunyai harga diri lagi. Sogok menyogok dan korupsi tetap

merajai negara ini. Apa sebabnya? Sebab moralitas bukan sesuatu yang

diajarkan dengan baik. Lebih parah lagi, politikus kita seringkali malah

(17)

perundang-undangan tetap sangat lemah. Adalah sangat penting untuk

membangkitkan moralitas dikalangan penguasa dan pengusaha agar

secara pelahan moralitas ditegakkan dinegara ini. Ataukah kita sudah

apatis dengan kondisi yang tak menguntungkan ini? Kalau sudah

demikian, celakalah bangsa Indonesia.

Para hadirin yang terhormat,

Demikian paparan saya, atas perhatian yang diberikan diucapkan

terima kasih. Selamat berseminar dan semoga sukses.▀

Jakarta, 3 Oktober 2003

Referensi

Dokumen terkait

Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi dan bahan jadi menjadi barang yang nilainya lebih tinggi untuk

Menurut saya, program ini bagus sih. Hasil dari program Sistem Informasi Kesehatan adalah mulai dari pemeriksaan gratis sampai obat-obat yang diberikan juga

Sebuah Skripsi yang Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan. © Wildan Nur Aditya Universitas

Analisis Kinerja Portofolio Saham Subsektor Perkebunan Dengan Sharpe Measure, Treynor Measure, dan Jensen Measure.. Artie Arditha Rachman 1) dan Igo Febrianto

Deis dan Groux (1992) dalam Nurul (2015) mengemukakan 4 hal yang memiliki hubungan dengan kualitas audit yaitu: (1) lama waktu auditor melakukan pemeriksaan terhadap suatu

– Dapat bekerja seperti DBMS yg ada – Mendukung model data spasial, tipe data abstrak spasial (ADT /Abstract Data Type ) & bahasa queri yg dapat memanggil ADT.. –

Kami menyadari bahwa pertumbuhan yang bernilai tambah hanya akan dihasilkan dari proses inovasi tiada henti yang membuka ruang tumbuhnya ide-ide baru yang akan menjadi semangat

Ini ber t epat an dengan kajian ini, iait u unt uk mengenal past i masalah kemahir an membaca dan menulis mat a pelajar an Bahasa Melayu dalam kalangan mur id sekolah