• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUMBER AJARAN AGAMA ISLAM (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SUMBER AJARAN AGAMA ISLAM (1)"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

As-Sunnah merupakan penafsiran Al-Qur’an dalam praktik atau penerapan ajaran islam secara faktual dan ideal. Hal ini mengingat bahwa pribadi Nabi saw, merupakan perwujudan dari Al-Qur’an yang ditafsirkan untuk manusia, serta ajaran islam yang dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari. Kedudukan As-Sunnah sebagai sumber ajaran islam selain didasarkan pada keterangan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis juga didasarkan kepada pendapat kesepakatan para sahabat. Kedudukan Sunnah sebagai sumber hukum kedua setelah alquran disebabkan beberapa alasan. Salah satunya karena Al-Qur’an diturunkan secara global, sehingga kedudukan Sunnah terhadap Al-Qur’an sebagai penguat, penjelas dan penetapan hukum baru yang belum ada dalam alquran.

Kita sebagai muslim harus mengamalkan Sunnah sesuai seperti yang telah dilaksanakan oleh para sahabat dan tabi’in. Tapi di zaman sekarang banyak orang muslim yang meragukan keotentikan Sunnah dan enggan mengamalkan Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam. Tapi menggunakan Sunnah sebagai sumber hukum islam kita juga jangan berlebih-lebihan dalam mengamalkannya. Kita harus beramal dengan Sunnah sesuai dengan yang telah dianjurkan oleh AL-Qur’an. Dan dalam mendudukan Sunnah kita harus faham betul ajaran Islam.

1.2 Rumusan Masalah

a. Apa definisi As-Sunnah?

b. Apa hubungan antara As-Sunnah dengan Al-Qur’an?

c. Bagaimana sejarah singkat perkembangan dan seleksi Hadits? 1.3 Tujuan

a. Memahami definisi As-Sunnah secara bahasa dan syariat.

b. Memahami bahwa As-Sunnah dan Al-Qur’an itu saling berkaitan. c. Mengetahui sejarah singkat perkembangan dan seleksi hadits.

(2)

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Definisi As-Sunnah

A. Definisi As-Sunnah

Menurut bahasa (Arab), kata As-Sunnah berasal dari kata-kata “sanna-yasinnu-wayasunnu-sannaa” yaitu yang disunnahkan. As-sunnah juga mempunyai arti ةققيررططقلا yang berarti metode, kebiasaan, perjalanan hidup, atau perilaku, baik terpuji maupun tercela. Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Rasulullah saw bersabda :

"Barangsiapa melakukan sunnah yang baik dalam Islam, maka selain memperoleh pahala bagi dirinya, juga mendapat tambahan pahala dari orang yang mengamalkan sesudahnya, dengan tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka. Dan barang siapa melakukan sunnah yang jelek dalam Islam, maka selain memperoleh dosa bagi dirinya, juga mendapat tambahan dosa dari orang yang melakukan sesudahnya dengan tanpa mengurangi sedkitpun dosa mereka." (HR Muslim).

Adapun menurut istilah As-Sunnah ialah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam bentuk qaul (ucapan), fi’il (perbuatan), taqrir (penetapan), sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai tasyri’ (pensyariatan) bagi ummat Islam.

Adapun sunnahitu sendiri, terbagi menjadi empat definisi: Pertama

Sesungguhnya, segala sesuatu yang terdapat di dalam Al-Kitab (Al-Quran ) dan As-Sunnah (hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia merupakan sebuah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara contoh definisi ini adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

((

يينطرمر سقييلقفق ييترنطقسس نيعق بقغررق نيمق

))

(3)

Kedua

Sunnah yang bermakna “al-hadits”. Hal tersebut jika digandengkan dengan “Al-Kitab”. Di antara contohnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

((

هريطربرنق ةقنطقسسوق هرللا بقاتقكر اددبقأق اويلطسضرتق نيلقفق هربر ميتسميصقتقعيا نرإر امق ميكسييفر تسكيرقتق ديقق سسانطقلا اهقيطسأق ايق

:

مقلطقسقوق هرييلقعق هسللا ىلطقصق

))

“Wahai sekalian manusia, sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya maka kalian kalian tidak akan tersesat selamanya: (yaitu) Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

((

ييترنطقسسوق هرللا بقاتقكر امقهسدقعيبق اويلطسضرتق نيلق نرييئقييشق ميكسييفر تسكيرقتق ديقق يينطرإر

:

))

“Sesungguhnya telah aku tinggalkan dua hal bagi kalian sehingga kalian tidak akan tersesat selamanya setelah berpegang teguh dengan kedua hal tersebut: (yaitu) Kitabullah dan sunnahku.”

Kedua hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Mustadrak beliau (I/93).

Di antara bentuk kata “sunnah” yang bermakna “al-hadits” adalah perkataan sebagian ulama dalam menyebutkan beberapa permasalahan, “Dan ini adalah sebuah permasalahan yang berdasarkan dalil Al-Kitab, as-sunnah, dan ijma’ para ulama.”

Ketiga

Sunnah pun dapat didefinisikan sebagai lawan dari bid’ah. Di antara contoh

penggunaannya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah,

((

ءرافقلقخسليا ةرنطقسسوق ييترنطقسسبر ميكسييلقعقفق ،اردييثركق افدلقترخيا ىرقيقسقفق ميكسنيمر شيعريق نيمق هسنطقإرفق

؛ررويمسلساي تراثقدقحيمسوق ميكسايطقإر وق ،ذرجراوقنطقابر اهقييلقعق اويضطسعقوق اهقبر اويكسسطقمقتق ،نقييدرشرارطقلا نقيييطردرهيمقليا

(4)

“Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang tetap hidup (setelah kematianku –pen), niscaya akan menyaksikan banyak perselisihan. Maka, berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang memperoleh petunjuk dan berilmu. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta berhati-hatilah terhadap perkara-perkara baru yang dibuat-buat. Sungguh, setiap perkara baru yang dibuat-buat adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat!” (Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud [4607] -–lafal hadits ini adalah milik beliau–, dikeluarkan pula oleh At-Tirmidzi [2676] dan Ibnu Majah [43—44]; At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih”)

Di antara contoh penerapan istilah “sunnah” yang bermakna “lawan dari bid’ah” adalah sebagian ulama hadits zaman dahulu yang menyebut buku-buku karya mereka dalam bidang akidah dengan nama “As-Sunnah”, semisal As-Sunnah karya Muhammad bin Nashir

Al-Marwazii, As-Sunnah karya Ibnu Abii ‘Aashim, As-Sunnah karya Al-Laalikaa`i, dan selainnya. Dalam kitab Sunan karya Abu Daud pun terdapat bab berjudul “As-Sunnah” yang memuat banyak hadits tentang akidah.

Keempat

Sunnah pun dapat bermakna “mandub” dan “mustahab”, yaitu segala sesuatu yang diperintahkan dalam bentuk anjuran, bukan dalam bentuk pewajiban. Definisi ini digunakan oleh para ahli fikih. Di antara contohnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

((

ةةل

ق صق لطركس دقنيعر كراوقسطرلابر ميهستسريمقأقلق ييترمطقأس ىلقعق قطقشسأق نيأق لقويلق

))

“Seandainya bukan karena takut memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka untuk melakukan siwak setiap hendak melaksanakan shalat.”(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari [887] dan Muslim [252])

Sesungguhnya perintah untuk bersiwak berada pada derajat anjuran, dan hal tersebut semata-mata karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir akan memberatkan umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam jika menetapkannya sebagai sebuah kewajiban.

B. Macam-Macam As-Sunnah

Dari definisi sunnah yang telah dijelaskan, dilihat dari bentuknya para Ushul Fiqih membagi Sunnah sebanyak tiga macam, yaitu:

1. Sunnah Qauliyyah atau sunnah yang berupa perkataan adalah hadis yang memuat ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Salah satu contohnya ialah hadis yang

(5)

ىوقنق امق ئةررميا لطركسلر امقنطقإروق ترايطقنطرلابر لسامقعيأقليا امقنطقإر

Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

2.

Sunnah Fi’liyyah atau sunnah yang berupa perbuatan yaitu seorang sahabat menukilkan kepada kita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuat seperti ini dan seperti itu, meninggalkan ini dan itu, dan berbagai aktivitas yang lain.

Di antara sunnah fi’liyyah lainnya adalah apa yang bersumber dari Rasulullah berupa perbuatannya yang menjelaskan tentang salat, zakat, puasa, haji, dan selainnya. Hal ini pun termasuk sunnah fi’liyyah. Sebagai contoh dalam shalat hendaklah dengan thaharah, Nabi saw bersabda :

“ Rasulullah saw bersabda : Allah tidak akan menerima shalat yang tidak dengan bersuci”. (HR. Muslim)

3. Sunnah Taqririyyah adalah ketika seseorang sahabat misalnya menceritakan atau

mengerjakan suatu perbuatan di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, atau pada masa beliau saat wahyu masih turun, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau wahyu menetapkannya, tanpa diingkari maupun diubah. Inilah taqrir menurut syariat di untuk suatu perbuatan. Sebagai contoh :

ل

ل اقل

(6)

menjawab, ‘Sebaik-baik amal yang aku kerjakan ialah, bahwa setiap kali aku berwudhu’ siang atau malam mesti dengan wudhu’ itu aku shalat (sunnah) beberapa raka’at yang dapat aku laksanakan.”

4. Sunnah hammiyah, yaitu sesuatu yang telah direncanakan akan dikerjakan tapi tidak sampai dikerjakan

 Ditinjau dari segi jumlah orang-orang yang menyampaikannya, yaitu :

1. Mutawir, yaitu yang diriwayatkan oleh orang banyak

2. Masyhur, diriwayatkan oleh banyak orang, tetapi tidak sampai (jumlahnya) kepada derajat mutawir

3. Ahad, yang diriwayatkan oleh satu orang.

 Ditinjau dari kualitasnya, yaitu :

1. Shahih, yaitu hadits yang sehat, benar, dan sah

2. Hasan, yaitu hadits yang baik, memenuhi syarat shahih, tetapi dari segi hafalan pembawaannya yang kurang baik.

3. Dhaif, yaitu hadits yang lemah 4. Maudhu’, yaitu hadits yang palsu.

 Ditinjau dari segi diterima atau tidaknya 1. Maqbul, yang diterima.

2. Mardud, yang ditolak.

2.2 Hubungan As-Sunnah dengan Al-Qur’an

(7)

A. Bukti atas Kehujjahan As-Sunnah

Bukti atas kehujjahan (pegangan) As-Sunnah dapat dibuktikan sebagai berikut:

Pertama: Dalil-dalil Al-Qur’an. Allah dalam beberapa ayat telah memerintahkan untuk menaati Rasul-Nya dan menjadikan ketaatan kepada Rasul-Nya sebagai suatu ketaatan kepada Allah, juga memerintahkan kaum muslimin untuk mengembalikan semua kepada Allah dan Rasul-Nya apabila terdapat pertentangan. Dan ayat-ayat ini mempunyai banyak jenis, dan terkadang ayat yang satu mengandung lebih dari satu jenis atau macam. Berikut ini kami sebutkan 5 jenis ayat-ayat Al Qur’an tersebut :

1. Yang menunjukkan wajibnya beriman kepada Nabi Muhammad SAW

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah Ta’ala turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah Ta’ala turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah Ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya” (Q.S.An Nisaa:136). Juga Firman Allah Ta’ala :

" Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, menguatkan (agama) Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang" (QS.Al Fath:8-9)

(8)

"… keterangan-keterangan (mu`jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” ( Q.S. An Nahl:44)

3. Yang menunjukkan wajibnya taat kepada Rosulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallam secara mutlak dan ketaatan kepadanya merupakan perwujudan ketaatan kepada Allah Ta’ala serta ancaman bagi yang menyelisihi dan mengubah sunnahnya. Firman Allah Ta’ala :

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat keras hukuman-Nya”. (QS.Al Hasyr:7) Juga Allah Ta’ala berfirman:

"Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah Ta’ala. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka."(QS.An Nisaa;80)

4. Yang menunjukkan wajibnya mengikuti serta beruswah kepada beliau r dan mengikuti sunnahnya merupakan syarat untuk meraih mahabbatullah. Firman Allah Ta’ala :

(9)

“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah Ta’ala, ikutilah aku, niscaya Allah Ta’ala mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Ta’ala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS.Ali Imron:31)

5. Yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala U memerintahkan kepada beliau r untuk

mengikuti firman-Nya dan menyampaikan seluruh wahyu serta penegasan bahwa beliau telah melaksanakan perintah tersebut dengan baik . Allah Ta’ala berfirman:

“Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhanmu

kepadamu. Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS.Al Ahzab:1-2). Juga Firman Allah Ta’ala :

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah Ta’ala memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS.Al Maaidah:67)

Kedua : Al-Hadits. Sebagaimana Al Qur’an, dalam Al Hadits juga sangat banyak memuat dalil-dalil yang menunjukkan bahwa As Sunnah merupakan hujjah. Dalil-dalil tersebut bisa diklasifikasikan menjadi 3 jenis :

1. Kabar yang beliau shallallahu 'alaihi wa sallam sampaikan bahwa beliau diberikan wahyu dan apa yang beliau sampaikan merupakan syari’at Allah Ta’ala, karenanya

mengamalkan As Sunnah berarti mengamalkan Al Qur’an. Dan Iman tidak akan

(10)

a. Dari Al Miqdam bin Ma’dikarib t dari Rosulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallam

bersabda : “ Ketahuilah sesungguhnya telah diberikan kepadaku Al Kitab (Al Qur’an) dan yang semisal dengannya (As Sunnah), ketahuilah akan datang seorang laki-laki yang kekenyangan di atas sofanya dan berkata :”Hendaknya kalian berpegang teguh pada Al Qur’an ini, apa yang kalian dapati di dalamnya tentang kehalalannya maka halalkan, dan apa yang kalian dapati tentang keharamannya maka haramkan.”

b. “Dari Abu Hurairah Radhiyallah ‘anhu bahwasanya Rosulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda :” Barangsiapa yang taat kepadaku sungguh ia telah taat kepada Allah Ta’ala dan siapa yang bermaksiat kepadaku sungguh dia telah bermaksiat kepada Allah Ta’ala…”

c. ” Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan. (Para sahabat) bertanya, “Siapa mereka itu yang enggan wahai Rosulullah” ? Beliau bersabda : “Barangsiapa yang menaatiku maka dia akan masuk surga dan siapa yang mendurhakaiku maka dialah yang enggan masuk surga .“

d. Dan lain-lain

2. Perintah beliau untuk memegang teguh sunnahnya dan larangan beliau hanya mengambil dan mengamalkan Al Qur’an tanpa As Sunnah dan mengikuti hawa nafsu serta hanya menggunakan logika belaka. Sperti tertera dalam Hadits sebagai berikut :

a. Dari ‘Irbadh bin Sariyah t bahwasanya Rosulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda :” Saya berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah Ta’ala, dan untuk mendengar serta taat (kepada pemimpin), walaupun (yang memerintah kalian) seorang hamba yang bersal dari Habasyah(Ethiopia), karena sesungguhnya siapa yang hidup diantara kalian sesudahku maka dia akan melihat ikhtilaf (perselisihan) yang banyak, maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rosyidin, pegangilah sunnah tersebut dan gigitlah dengan gigi geraham kalian, dan jauhilah seluruh perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya segala yang baru itu bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat.”

b. Dari Abu Hurairah Radhiyallah ‘anhu dari Nabi Shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Tinggalkanlah apa yang aku tinggalkan, karena sesungguhnya yang membinasakan orang sebelum kalian adalah pertanyaan mereka dan kedurhakaan mereka terhadap nabi-nabi mereka, maka jika aku melarang sesuatu maka

(11)

3. Perintah beliau untuk mendengarkan haditsnya, menghafalkannya, dan

menyampaikannya kepada yang belum mendengarnya dan beliau menjanjikan bagi yang menyampaikannya berupa pahala yang sangat besar. Seperti tertera dalam Hadits sebagai berikut :

a. Dari Abdullah bin Mas’ud t berkata: Saya telah mendengar Nabi Shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Semoga Allah Ta’ala menjadikan berseri-seri wajah seseorang yang mendengarkan sesuatu dari kami kemudian dia menyampaikannya sebagaimana yang dia dengarkan. Boleh jadi yang disampaikan lebih memahami dari yang

mendengar (langsung). “

b. Dari Abu Bakrah t dari Nabi Shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda:”… Perhatikanlah, hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, sebab boleh jadi sebagian orang yang disampaikan lebih paham dari orang yang (langsung) mendengar”

c. Dan lain-lain.

Ketiga: Ijma’ (kesepakatan) para sahabat, baik pada masa hidup Rasulullah SAW maupun sesudah wafatnya, terhadap kewajiban mengikuti sunnahnya. Pada masa hidup Nabi, mereka melaksanakan hukum-hukum, menjalankan segala perintah dan menjauhi laranganya. Alasan Ijma’ dapat menjadi hujjah adalah berdasarkan Firman Allah dalam Al-Qur’an dan Hadits. Di antaranya :

1. Firman Allah Swt :

“Wahai orang-orang yang beriman patuhilah Allah, Rasulullah dan orang-orang yang memerintahkan di antara kamu.” (QS An-Nisa: 59)

2. Rasulullah Saw bersabda :

“Umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan.”

(12)

sebagai pengiring atau sebagai urutan kedua setelah Al-Qur’an, yakni

sebagai rujukan mujtahid (orang yang berijtihad) dalam menentukan hukum jika memang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an.

B. Hubungan antara As-Sunnah dengan Al-Qur’an

Berikut ini beberapa fungsi atau hubungan antara As-Sunnah dengan Al-Qur’an :

1. As-Sunnah sebagai Penguat Hukum di dalam Al-Qur’an.

Dengan demikian hukum tersebut mempunyai dua sumber dan terdapat pula dua dalil. Yaitu dalil-dalil yang tersebut di dalam Al-Qur-an dan dalil penguat yang datang dari Rasulullah

Shallallahu 'alaihi wa sallam. Berdasarkan hukum-hukum tersebut banyak kita dapati perintah dan larangan. Ada perintah mentauhidkan Allah, berbuat baik kepada kedua orang tua, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, ibadah haji ke Baitullah, dan disamping itu dilarang menyekutukan Allah, menyakiti kedua orang tua, serta banyak lagi yang lainnya.

Sebagai contoh perintah mewajibkan shalat bagi orang yang bertaqwa. Firman Allah Swt sebagai berikut :

“ Dan laksanakan lah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkan (pahala) di sisi Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. ” (QS Al-Baqarah : 110)

Dan disandingkan pula dengan sabda Rasulullah Saw :

“Islam ialah bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mengerjakan shalat 5 waktu, memberi zakat, melakukan puasa pada bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah Haji bila mampu diperjaalanannya.” (HR Muslim dari Umar Bin Khatab)

2. As-Sunnah sebagai Penafsir atau Pemerinci Ayat Al-Qur’an

(13)

yang muthlaq dan 'aam (umum). Karena tafsir, taqyid dan takhshish yang datang dari As-Sunnah itu memberi penjelasan kepada makna yang dimaksud di dalam Al-Qur-an.

Dalam hal ini Allah telah memberi wewenang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memberikan penjelasan terhadap nash-nash Al-Qur-an dengan firman-Nya :

"Keterangan-keterangan (mukjizat) dan Kitab-Kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur-an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” [An-Nahl: 44]

Di antara contoh As-Sunnah mentakhshish Al-Qur-an adalah:

“Allah berwasiat kepada kamu tentang anak-anak kamu, bagi laki-laki bagiannya sama dengan dua orang perempuan...” [An-Nisaa’: 11]

Ayat ini ditakhshish oleh As-Sunnah sebagai berikut:

 Para Nabi tidak boleh mewariskan apa-apa untuk anak-anaknya dan apa yang mereka tinggalkan adalah sebagai shadaqah,

 Tidak boleh orang tua kafir mewariskan kepada anak yang muslim atau sebaliknya, dan  Pembunuh tidak mewariskan apa-apa.

As-Sunnah mentaqyid kemutlakan al-Qur-an:

“Pencuri laki-laki dan perempuan, hendaklah dipotong kedua tangannya...” [Al-Maa-idah: 38] Ayat ini tidak menjelaskan sampai di manakah batas tangan yang akan dipotong. Maka dari as-Sunnahlah didapat penjelasannya, yakni sampai pergelangan tangan.

As-Sunnah sebagai bayan dari mujmal Al-Qur-an:

 Menjelaskan tentang cara shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(14)

 Menjelaskan tentang cara ibadah haji Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda:

“Ambillah dariku tentang tata cara manasik haji kamu sekalian.”

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang perlu penjelasan dari As-Sunnah karena masih mujmal.

3. As-Sunnah sebagai Pembentuk Hukum

Terkadang As-Sunnah menetapkan dan membentuk hukum yang tidak terdapat di dalam Al-Qur-an. Di antara hukum-hukum itu ialah tentang haramnya memakan daging keledai negeri, daging binatang buas yang mempunyai taring, burung yang mempunyai kuku tajam, juga tentang haramnya mengenakan kain sutera dan cincin emas bagi kaum laki-laki. Semua ini disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih.

Dengan demikian tidak mungkin terjadi kontradiksi antara Al-Qur-an dengan As-Sunnah selama-lamanya.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Apa-apa yang telah disunnahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak terdapat pada Kitabullah, maka hal itu merupakan hukum Allah juga. Sebagaimana Allahmengabarkan kepada kita dalam firman-Nya:

“...Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” [Asy-Syura: 52-53]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi was allam telah menerangkan hukum yang terdapat dalam Kitabullah, dan beliau menerangkan atau menetapkan pula hukum yang tidak terdapat dalam Kitabullah. Dan segala yang beliau tetapkan pasti Allah mewajibkan kepada kita untuk

(15)

memberikan kelonggaran kepada siapa pun untuk tidak mengikuti Sunnah-Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.”

Adapun hukum-hukum tambahan selain yang terdapat di dalam Al-Qur-an, maka hal itu merupakan tasyri’ dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang wajib bagi kita mentaatinya dan tidak boleh kita mengingkarinya. Tasyri’ yang demikian ini bukanlah mendahului Kitabullah, bahkan hal itu sebagai wujud pelaksanaan perintah Allah agar kita mentaati Rasul-Nya. Seandainya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak ditaati, maka ketaatan kita kepada Allah tidak mempunyai arti sama sekali. Karena itu kita wajib taat terhadap apa-apa yang sesuai dengan Al-Qur-an dan terhadap apa-apa yang beliau tetapkan hukumnya yang tidak terdapat di dalam Al-Qur-an.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

‘Barangsiapa taat kepada Rasul berarti ia taat kepada Allah...’” [An-Nisaa’: 80]

2.3 Sejarah Singkat Perkembangan Dan Seleksi Hadits

A. Modifikasi Hadits

1. Masa kodifiksai hadist

Kodifikasai atau tadwin hadist, artinya adalah pencatatan, penulisan atau pembukuan hadist. Pencatatan telah dilakukan oleh para sahabat sejak zaman Rasulullah Saw. Akan tetapi yang dimaksud dengan pembahasan disini adalah kodifikasi secara resmi berdasarkan perintah khalifah, dengan melibatkan beberapa personil yang ahli dalam masalah ini. Bukan yang dilakukan secara perseorangan atau untuk kepentingan pribadi, seperti yang trjadi pada masa-masa sebelumnya.

(16)

“perhaitkanlah atau periksalah hadist-hadist Rasulullah SAW. Kemudian tuliskanlah! Aku kahawatir akan lenyapnya ilmu dengan meninggalnya para ahlinya. Menurut suatu riwayat disebutkan, “meninggalnya para ulama, dan janganlah kamu terima kecuali hadist Rasulullah SAW.”

Khalifah menginstruksikan kepada Abu Bakar ibn Muhammad bin Hazm (w.117 H) agar mengumpulkan hadist-hadist yang ada pada Amrah binti Abdurrahman Al-Anshari (w. 98 H yang dinilainya sebagai orang yang lebih banyak mengetahui hadist daripada yang lainnya[2]).

Peranan para ulama ahli hadist, khususnya Az-zuhri ini, para ulama dimasanya memberikan komentar, bahwa jika tanpa dia, diantara hadist-hadist niscaya sudah banyak yang hilang. Abu Bakar ibn Hazm berhasil menghimpun hadist dalam jumlah yang menurut para ulama kurang lengkap.

2. Latar Belakang Pemikiran munculnya usaha Kodifikasi Hadis

Ada tiga hal pokok mengapa kahlifah Umar bin Abd Al-Aziz mengambil kebijaksanaan seperti ini.

a. Ia khawatir hilangnya hadist-hadist dengan meninggalnya para ulama dimedan perang. Ini faktor yang utama, sebagaimana terlihat pada naskah surat-surat yang dikirimkan kepada para ulama lainnya. Sebab, peranan para ulama pada saat ini juga saat-saat sebelumnya, bukan hanya mengajarkan ilmu agama, melainkan juga turut ke medan perang, atau bahkan mengambil peranan penting dalam suatu pertempuran. Para ulama disetiap kota menyambut-nyambut melaksanakan sebaik-baiknya pembukuan hadist yang dianjurkan khalifah kepada mereka. Mereka mengumpulkan berbagai hadist,

menyaringnya dan memisah-misahkan hadist yang shahih dan baik dari hadist yang tidak baik. Pekerjaan ini dipandang sebagai suatu kebaikan, bahkan dipandang suatu perbuatan wajib bagi orang-orang tertentu sebagai manifestasi tabligul ‘ilmi, menyampaika ilmu-ilmu.

b. Ia khawatir akan tercampurnya antara hadist-hadist yang shahih dengan hadist-hadist yang palsu.

c. Bahwa dengan semakin meluasnya daerah kekuasaan islam, sementara kemampuan tabi’in antara yang satu dengan yang lainnya tidak sama, jelas sangat memerlukan adanya usaha kodifikasi ini.

(17)

Peranan Umar bin Abd al-Aziz dapat pula dikemukakan disini, bahwa ia selain terkenal sebagai khalifah pelopor yang memberikan instruksi untuk membukukan hadist, secara pribadi ia juga merupakan asset dan mengambil bagian dalam kegiatan ini. Menurut beberapa riwayat, ia turut terlibat mendiskusikan hadist-hadist yang sedang dihimpun. Disamping itu, ia sendiri memiliki beberapa tulisan tentang hadist-hadist yang diterimanya.

3. Pembukuan hadist pada kalangan Tabi’in dan tabi’at-tabi’in setelah Ibn Syihab Az-zuhri

Diantara para ulama setelah Az-zuhri, ada ulama ahli hadist yang berhasil menyusun kitab tadwin, yang bisa diwariskan kepada generasi sekarang, yaitu Malik bin Anas (93-179 H) di Madinah, dengan kitab hasil karyanya bernama al-muwaththa’. Kitab tersebut selesai disusun pada tahun 143 H dan para ulama menilainya sebagai kitab tadwin yang pertama.

Dari kenyataan diatas terlihat adanya garis pembeda antara karya-karya ulama sebelum az-Zuhri dengan karya-karya ulama setelahnya. Karya ulama setelah az-az-Zuhri, yang juga tidak lepas dari peranan az-Zuhri sendiri, dapat mewariskan buah karyanya dan tetap terpelihara sampai sekarang. Sedang karya ulama-ulama sebelumnya hanya sampai ditangan murid-muridnya, dan tidak dapat diwariskan kepada generasi yang lebih jauh. Para pen-tadwin selain Malik bin Anas, diantaranya ialah:

 Abu Muhammad Abdul Malik bin Abdul Aziz bin juraij, wafat pada tahun 150 H di Mekah.

 Ma’mar bin Rasyid, wafat tahun 153 H di Yaman

 Sa’id bin Abi ‘Rubah, wafat pada tahun 151 H.

 Rabi’ bin Sabih wafat tahun 160 H

 Hammad bin Abi Salamah, wafat tahun 176 H di Basrah.

 Muhammad bin Ishaq wafat tahun 151 H.

 Imam Malik bin Anas, wafat tahun 179 H di Madinah.

 Abu Abdullah Sofyan as-sauri, wafat tahun 161 H di Kufah.

 Abdullah bin Mubarok, wafat tahun 181 H di Khusasan

(18)

o Abu Amr Abdur Rahman al-Awza’I, wafat tahun 156 H di Syam

o Jarir bin Abdul Hamid, wafat tahun 188 H di Rei.

4. Masa seleksi, penyempurnaan dan pengembangan sestem penyusunan kitab-kitab hadist.

4.A Masa Seleksi Hadist

Yang dimaksud dengan masa seleksi atau penyaringan disini, ialah masa upaya para

mudawwin Hadist yang melakukan seleksi secara ketat, sebagai kelanjutan dari upaya para ulama sebelumnya yang telah berhasil melahirkan suatu kitab tadwin. Masa ini dimulai sekitar akhir abad II atau awal abad III, atau ketika pemerintahan dipegang oleh dinasti Bani Abbas,

khususnya sejak masa al-Makmun sampai dengan akhir abad III atau abad IV, masa al-Muktadir.

Munculnya periode seleksi ini, karena pada periode sebelumnya yakni periode tadwin, belum berhasil memisahkan beberapa hadist mauquf dan maqhtu’ dari hadist Marfu. Begitu pula belum bisa memisahkan beberapa hadist yang dha’if dari yang shahih. Bahkan masih adanya hadist yang maudhu’ tercampur pada hadist-hadist yang shahih.

Pada masa ini para ulama bersungguh-sungguh mengadakan penyaringan hadist yang diterimanya. Melalui kaidah-kaidah yang ditetapkannya, para ulama dimasa ini berhasil memisahkan Hadist-hadist yang dha’if dari yang shahih dan hadist-hadist yang ma’uquf dan yang maqtu’ dari yang marfu’, meskipun berdasarkan penelitian para ulama berikutnya masih ditemukan tersisipkannya hadist-hadist yang dha’if pada kitab-kitab yang shahih.

4.B Kitab-Kitab Induk Yang Enam (Al-Kutub As-Sittah)

Satu per satu kitab-kitab hasil seleksi ketat itu muncul pada masa ini. Ulama yang pertama kali berhasil menyusun kitab tersebut ialah Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari, ysng terkenal dengan “Al-Bukhari” (194-252 H) dengan kitabnya al-jami’ ash-shahih. Setelah itu, muncul kemudian Abu Hasan Muslim bin al-Hajjaj al-Kusairi an-Naisaburi, yang dikenal dengan “Muslim” (204-261 H) dengan kitabnya yang juga disebut al-jami’ ash-shasih.

Menyusul kemudian Abu Daud Sulaiman bin al-Asy’ ats bin Ishaq al-Sijistani (202-275 H), Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah at-Turmudzi (200-279 H), dan Abu Abdillah ibn Yazid ibn Majah (207-273 H). hasil keempat ulama ini dikenal dengan kitab “as-Sunah” yang menurut para ulama kualitasnya dibawah karya al-Bukhari dan Muslim.

(19)

tempat merujuk kitab-kitab lain yang datang sesudahnya. Secara lengkap kitab-kitab yang enam diatas, diurutkan sebagai berikut:

Al-Jami’ ash-Shahih susunan al-Bukahri

Al-Jami’ ash-Shahih susunan Muslim

As-sunan susunan Abu Daud

As-sunan susunan at-Tarmudzi

As-sunan susunan an-Nasa’i

o As-sunan susunan Ibn Majah

Menurut sebagian ulama aturan-aturan diatas menunjukkan urutan kualitas masing-masing, sehingga penyebutannya menjadi baku. Namun menurut sebagian yang lainnya, tidak selalu baku, sebab ada yang mempersoalkan apakah yang pertama itu adalah karya al-Bukhari atau karya Muslim. Begitu juga halnya dengan urutan-urutan lainnya. Kemudian untuk urutan

keenam juga terdapat perbedaan pendapat, ada yang menempatkan Malik bin Anas dan ada yang menempatkan ad-Darimi. Mayoritas ulama nampaknya mengikuti pendapat yang disebut

pertama.

4.C Zaman Keemasan Pembukuan Hadist (200-300 H)

Pada periode ini muncul suatu langkah baru dalam pembukuan hadist yaitu membukukan hadist Rasulullah semata. Ini berlangsung dipenghujung abad ke II Hijriah. Para penghimpun hadist ini diantaranya ada yang menyusun kitab-kitab “Musnad” yaitu suatu sistem penyusunan hadist, yang oleh penyusunnya dikelompokkan, masing-masing sahabat tersendiri, tanpa terikat oleh kesuatuan masalah tertentu. Hadist-hadist tentang shalat ditempatkan berdampingan dengan hadist-hadist zakat, dan bersama-sama dengan hadist jual beli umpamanya. Jadi, yang dijadikan patokan dalam penyusunan menurut sistem ini adalah kelompok sahabat.

Sebagian penyusunan hadist dengan sistem ini mengklasifikasikan sahabat berdasarkan kronologi keislamannya. Mereka menempatkan dalam urutan pertama sepuluh orang sahabat yang mendapat jaminan masuk surga. Berikutnya adalah para peserta Badar, lalu para peserta Hudaibiyah, kemudian disusul dengan sahabat yang masuk islam dan hijrah dalam pertengahan kurun hudaibiyah dan penaklukan mekah. Selanjutnya mereka yang memeluk islam pada waktu penaklukan mekah, sahabat yang berusia muda, kemudian para sahabat wanita yang

(20)

Ulama terbaik yang menyusun hadist dengan sistem ini pada masa itu adalah Imam besar Ahmad bin Hanbal dalam kitab musnad-nya yang mashur. Pengarang lainnya, yang mengikuti sistem musnad ini mengklasifikasikan sahabat berdasarkan abjad nama. Mereka memulai dengan sahabat yang huruf pertama namanya huruf “alif”, huruf “ba”, dan seterusnya.

Pada masa itu ulama terbaik yang menyusun berdasarkan cara demikian ialah Imam Abul Qasim at-Tabrani (wafat 260 H) dalam kitabnya Al-Mu’jamul Kabir. Ulama lainnya yang juga menyusun hadist dengan sisitem musnad ini adalah Ishaq bin Rahawaih (wafat 238 H), Usman bin Abi Syaibah (wafat 239 H), Ya’qub ibn Abi Syaiubah (wafat 263 H), dan lain-lain.

Disamping itu, pada masa ini ada juga ulama yang menyusun kitabnya menurut sistematika BAB fiqh dan sebagainya. Ia memulai penyusunannya dengan kitab shalat, zakat, haji, lalu BAB gadaian dan seterusnya.

4.D Masa Pengembangan Dan Penyempurnaan Sistem Penyusunan Kitab-Kitab Hadist

Peyusunan kitab-kitab pada masa ini lebih mengarah kepada usaha mengembangkan beberapa variasi pen-tadwinan terhadap kitab-kitab yang sudah ada. Maka setelah berjalan beberapa saat dari munculnya kutub as-Sittah, al-Muwaththa’ Malik bin Abas, dan al-Musnad

Ahmad ibn Hambal, para ulama mengalihkan perhatiannya untuk menyusun kitab-kitab jawami

(mengumpulakn kitab-kitab hadist menjadi satu karya), kitab syarah (kitab komentar dan uraian), kitab mukhtashar (kitab ringkasan), men-takhrij (mengkaji sanad dan mengembalikan kepada sumbernya), menyusun kitab athraf (menyusun pangkal-pangkal suatu hadist sebagai petunjuk kepada materi hadist secara keseluruhan), dan penyusunan kitab hadist untuk topik-topik tertentu.

Diantara usaha itu, ialah mengumpulkan isi kitab shahih al-Bukhari dan Muslim, seperti yang dilakukan oleh Muhammad ibn Abdillah al-Jauzaqi dan ibn al-Furrat (w. 414 H).

Diantaranya juga yang mengumpulkan isi kitab yang enam, seperti ysng dilakukan oleh Abd al-Haq ibn Abd ar-Rahman al-Asybili (terkenal dengan ibn al-Kharrat. W 583 H), al-Fairu az-Zabadi dan ibn al-Atsir al-Jazari. Ulama yang mengumpulkan kitab-kitab hadist mengenai hukum diantaranya ialah ad-Daruquthni, al-Baihaqi, Ibn Daqiq al’Id. Ibn Hajar al-Asqalani, dan Ibn Qudmah al-Maqdisi.

(21)

Ilmu Hadits pada dasarnya telah tumbuh sejak zaman Nabi SAW masih hidup. Akan tetapi ilmu ini terasa diperlukan setelah Nabi SAW wafat,

terutama sekali ketika umat Islam memulai upaya mengumpulkan hadits dan mengadakan perlawatan yang mereka lakukan, sudah barang tentu secara langsung atau tidak,memerlukan kaidah-kaidah guna menyeleksi

periwayatan hadits. Pada perkembangan berikutnya kaidah-kaidah itu

semakin disempurnakan oleh para ulama yang muncul pada abad kedua dan ketiga Hijriyah, baik mereka yang mengkhususkan diri dalam mempelajari bidang hadits, maupun bidang-bidang lainnya, sehingga menjadi satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Dan ilmu Hadits itu sendiri adalah Ilmu

pengetahuan yang membicarakan cara-cara persambungan hadits sampai kepada Rasul SAW.

Uraian berikut akan menitkberatkan sejarah pertumbuhan dan

perkembangan ilmu hadits menjadi tiga periodesasi yaitu awal lahirnya ilmu hadits sampai pada masa sekarang. Berikut ini adalah sejarah singkatnya :

1. Masa Klasik (Masa Nabi SAW sampai Abad 7 H)

Hadits-hadits Nabi yang terhimpun di dalam kitab-kitab hadits yang ada sekarang adalah hasil kesungguhan para sahabat dalam menerima dan memelihara dimasa Nabi SAW dahulu. Apa yang telah diterima oleh sahabat dari Nabi SAW disampaikan pula oleh mereka kepada sahabat lain yang tidak hadir ketika itu, dan selanjutnya mereka menyampaikannya kepada generasi berikutnya dan demikianlah seterusnya hingga sampai kepada perawi terakhir yang melakukan kodifikasi hadits.

Cara penerimaan hadits dimasa Nabi SAW tidak sama dengan penerimaan hadits di masa generasi sesudahnya. Penerimaan hadits dimasa Nabi SAW dilakukan oleh sahabat dekat beliau, seperti Khulafa’ al-Rasyidin dan dari kalangan sahabat lainnya. Para sahabat Nabi mempunyai minat yang besar untuk memperoleh hadits Nabi SAW, oleh karenanya mereka berusaha keras mengikuti Nabi SAW agar ucapan, perbuatan dan taqrir beliau dapat mereka terima atau lihat secara langsung. Apabila diantara mereka ada yang berhalangan, maka mereka mencari sahabat yang kebe Ketigatulan mengikuti atau hadir bersama Nabi SAW ketika itu untuk meminta apa yang mereka peroleh dari beliau.

Pada masa ini kritik atau penelitian terhadap suatu riwayat (hadits) yang menjadi cikal bakal ilmu hadits terutama ilmu hadits dirayah dilakukan dengan cara yang sederhana sekali. Apabila seorang sahabat ragu-ragu menerima suatu riwayat dari sahabat lainnya, ia segera menemui Nabi SAW atau sahabat lain yang dapat dipercaya untuk mengonfirmasikannya. Setelah itu, barulah ia menerima dan mengamalkan hadits tersebut.

(22)

a. Para khulafa al-rasyidin dan para sahabat berpegang bahwa hadits adalah dasar Tasyri’, maka setiap amalan syariat Islam selalu berpedoman kepada hadits disamping al-Quran yang menjadi dasar hukum umat Islam.

b. Para sahabat berusaha mentablighkan segala hadits yang diterima mereka.

Namun periwayatan hadits dipermulaan masa sahabat terutama pada masa Abu Bakar dan Umar, masih terbatas sekali disampaikan kepada yang memerlukan saja , belum bersifat

pelajaran.

Dalam prakteknya, cara sahabat meriwayatkan hadits ada dua, yakni:

a. Dengan lafazh asli, yakni menurut lafazh yang mereka terima dari Nabi SAW yang mereka hafal benar lafazh dari Nabi.

b. Dengan maknanya saja, yakni mereka meriwayatkan maknanya bukan dengan lafazhnya karena tidak hafal lafazh yang asli dari Nabi SAW.

Suasana masyarakat masa khulafa al-rasyidin terutama pada masa Abu bakar mengalami pesoalan-pesoalan, diantaranya murtadnya orang sepeninggalan Nabi SAW, maka para sahabat berhati-hati dalam periwayatan sebuah hadits, dan mengambil langkah berupa:

a. Menyedikitkan riwayat, yakni hanya mengeluarkan hadits dalam batas kadar kebutuhan primer dalam pengajaran dan tuntutan pengalaman agama.

b. Menapis dalam penerimaan hadits, yakni meneliti keadaan rawi setiap hadits, apakah cukup adil atau masih meragukan, hadits mutawatir atau masyhur. Terkadang kalau menerima hadits yang diragukan, para sahabat meminta saksi, keterangan-keterangan yang bisa menyakinkan. c. Melarang meriwayatkan secara luas hadits yang belum dapat difahami sacara umum.

Dalam masa sahabat ini, perkembangan penelitian hadits menyangkut sanad maupun matan

hadits semakin menampakkan wujudnya, dalam rangka menjaga kemurnian sebuah hadits, seperti halnya yang telah dilakukan khalifah pertama Abu Bakar yang diikuti sahabat

sesudahnya, yaitu tidak mau menerima suatu hadits yang disampaikan seseorang, kecuali yang bersangkutan mampu mendatangkan saksi untuk memastikan kebenaran riwayat yang

disampaikanya. Kecuali sahabat Ali r.a memiliki persyaratan tersendiri dalam menerima suatu hadits, yaitu orang yang menyampaikan sebuah hadits harus bersedia disumpah atas kebenaran riwayat yang dibawanya.

Perinsip dasar penelitian sanad yang terkandung dalam kebijaksaan yang dicontohkan oleh para sahabat diikuti dan dikembangkan pula oleh para tabiin. Di antara tokoh tabiin yang terkenal dalam bidang ini adalah Sa’id bin Mussab (15-94 H), Al-Hasan Al-bashri (21-110 H), Amir bin Syurahbi Asy-sya’bi (17-104 H) dan Muhammad bin Sirin (w. 110 H).

(23)

Kemudian muncul ulama-ulama muhaditsin lainnya seperti Al-Hakim Abu Abdillah (405 H), yang mengarang kitab Ma’rifah Ulumil Hadits, yang isinya membagi ilmu hadits menjadi 50 macam. Sesudah itu dilanjutkan oleh Abu Nu’aim Al-Ashbahani (430 H), yang menambah beberapa pembahasan yang telah dibahas oleh Al-Hakim. Kemudian Al-Khathieb Al-Baghdad (463 H), beliau mengarang beberapa macam kitab ilmu hadits, yang dijadikan rujukan oleh ulama-ulama yang datang sesudahnya. Seperti dalam masalah Qawaninur Riwayat (aturan-aturan periwayatan), beliau menyusun kitab Al-Kifayah fi Qawaninur Riwayah dan dalam masalah adab-adab riwayat beliau menyusun kitab Al-Jami’ li Adabibsy Syaikh was Sami’.

Setelah itu ada Al-Qadli Iyadl (544) yang menyusun kitab Al-Ilma’ yang pembahasannya diambil dari kitab-kitab Al-Khathieb dan setelah itu bermunculan ulama-ulama yang menyusun ilmu seperti ini, seperti Al-Hafidh Taqiyuddin Abu Amer Utsman Ibnush Shalah Ad Dimasyqi (642 H) dalam kitabnya Muqaddamah Ibnush Shalah atau Ulumul Hadits yang dajarkan kepada murid-muridnya di perguruan Al-Asyrafiyah di Damaskus. Kitab ini dinadhamkan oleh ulama-ulama berikutnya seperti Al-Iraqi dalam Alfiyahnya yang kemudian disyarahkan olehnya sendiri dalam kitab Fathul Mughits dan oleh Al Hafidh As Sakhawy. Ada juga ulama yang

mengikhtisarkan seperti An Nawawy dalam kitabnya Al-Irsyad yang diringkas dalam kitab At-Taqrib yang selanjutnya disyarahkan oleh Jalal al-Din Abd al-Rahman ibn Abu Bakar al-Suyuthi (911 H) dalam kitabnya At Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi. Demikian perkembangan ilmu hadits pada abad ini yang kemudian di sempurnakan kembali oleh ulama-ulama yang datang belakangan.

2. Masa Pertengahan (Abad 7 H sampai Abad 14 H)

Ulama pada abad ini mencoba untuk menyempurnakan atas kitab-kitab yang telah ditulis oleh ulama-ulama sebelumya seperti kitab Mukhtasar Muqaddamah Ibnush Shalah yang paling baik ialah Ikhtishar Ulumil Hadits yang ditulis oleh Al-Hafidh Ibnu Katsir Ad Dimasyqi (774 H), yang kemudian disyarahkan oleh Al-Allamah Ahmad Muhammad Syakiz dalam kitab Al

Ba’atsul Hatsits ala Ma’rifati Ulumil Hadits.

Dan dalam kitab Nukhbatul Fikar fi Mushtalahi Ahli Al-Atsar karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (852 H), merupakan kitab kecil yang diringkasan namun termasuk ringkasan yang paling bagus dan paling baik susunan dan pembagiaanya, serta telah disyarahkan oleh

penyusunnya sendiri dalam kitab Nuzhatu An-Nazhar.

Muhammad bin Abdirrahman As-Sakhawi (902 H), juga menulis kitab tentang ilmu hadits dalam sebuah karyanya dalam kitab Fathul Mughits fi Syarhi Alfiyati Al-Hadits yang merupakan syarah paling lengkap atas kitab Alfiyah Al-Iraqi. Dan kitab Fathul Baqi ala Alfiyati Al-Iraqi karya Hafizh Zainuddin As-Syaikh Zakaria bin Muhammad bin Ahmad bin Zakaria Al-Anshari (925 H).

3. Masa Modern (Abad 14 H samapai Sekarang)

Perkembangan ilmu hadits abad demi abad terus mengalami perkembangan dan

(24)

Asy-(1332 H) dengan kitabnya QawaidutTahdits fi Fununil Hadits, suatu kitab yang banyak faedahnya dan sangat tertib susunannya.

Ulama kontemporer yang masih bergelut membahas dan mendalami ilmu hadits adalah Dr. Mahmud At-Thahhan dalam karyanya yang berjudul Taisir Musthalah Al-Hadits.

Demikianlah perkembangan ilmu hadits yang mengalami kemajuan dari waktu kewaktu untuk menjadi sebuah ilmu yang sempurna.

KESIMPULAN

(25)

berarti metode, kebiasaan, perjalanan hidup, atau perilaku, baik terpuji maupun tercela. Adapun menurut istilah As-Sunnah ialah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam bentuk qaul (ucapan), fi’il (perbuatan), taqrir (penetapan), sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai tasyri’ (pensyariatan) bagi ummat Islam.

Fungsi-fungsi As-Sunnah antara lain :

1. As-Sunnah sebagai Penguat Hukum di dalam Al-Qur’an. 2. As-Sunnah sebagai Penafsir atau Pemerinci Ayat Al-Qur’an 3. As-Sunnah sebagai Pembentuk Hukum

Macam-macam As-Sunnah :

 Ditinjau dari bentuknya : 1. Sunnah qauliyah 2. Sunnah fi’liyah 3. Sunnah taqririyah 4. Sunnah hammiyah

 Ditinjau dari segi jumlah orang-orang yang menyampaikannya : 1. Mutawir

2. Masyhur 3. Ahad.

 Ditinjau dari kualitasnya 1. Shahih

2. Hasan 3. Dhaif 4. Maudhu’

(26)

2. Mardud

DAFTAR PUSTAKA

http://muslimah.or.id/manhaj/memahami-kata-sunnah.html

http://muslimah.or.id/manhaj/definisi-sunnah.html

http://ilmucahayakehidupan.com/2012/03/13/pengertian-as-sunnah-secara-bahasa/

http://muslim.or.id/manhaj/makna-as-sunnah.html

http://almanhaj.or.id/content/1857/slash/0/hubungan-as-sunnah-dengan-al-quran/

http://quran-sunnah.net/2013/10/fungsi-fungsi-as-sunnah-hadits-dalam-kaitannya-dengan-al-quran/#sthash.1fQA4QEk.dpbs

http://segalanya90.blogspot.com/2012/10/al-quran-dan-as-sunnah-sebagai-sumber_7.html

http://robirusman.wordpress.com/artikel/modifikasi-hadist-sejarah-dan-perkembangannya/

Referensi

Dokumen terkait

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman

Yang dimaksud dengan Sunnah Qauliyah adalah segala yang disandarkan kepada Nabi SAW., yang berupa perkataan atau ucapan yang memuat berbagai maksud

Beliaulah yang mampu menggabungkan Fiqh Ulama Hijaz (sekarang wilayah Mekkah dan Madinah) dan Fiqh Ulama Iraq, dan ia termasuk orang yang paling mengerti tentang Kitab Allah

Beliaulah yang mampu menggabungkan Fiqh Ulama Hijaz (sekarang wilayah Mekkah dan Madinah) dan Fiqh Ulama Iraq, dan ia termasuk orang yang paling mengerti tentang Kitab

Beberapa dari literatur memaparkan pendapat-pendapat ulama, seperti dalam kitab yang ditulis Wahbah Az-Zuhaili dan literatur yang ditulis Nasrun Haroen, menyebutkan

Yaitu menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat Al-Qur’an, seperti pernyataan Nabi : “Allah tidak mewajibkan zakat melainkan supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah dizakati”,

Hampir semua ulama hadis sepakat bahwa kitab hadis yang memuat hadis-hadis yang paling autentik adalah dua kitab hadis yang ditulis oleh Imam al-Bukhari dan Imam

Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa.. Allah telah menyempurnakan islam sebagai agama