BAB II
TINJAUAN UMUM HOTEL BISNIS
A. Tinjauan Terhadap Hotel 1. Pengertian hotel
a. Hotel marketing (suatu pengantar) : A. Joen, Oka, Hotel
marketing, suatu pengantar kata “Hotel” berasal dari bahasa
Yunani yaitu hotelis yang berarti memberi tempat perlindungan
kepada pengunjung, dengan imbalan upah atau hadiah bagi pemiliknya.
b. Professor K, Kraft : Lembaga Riset Pariwisata oleh : Prof. K. Kraft, Hotel adalah sebuah gedung atau bangunan yang menyediakan penginapan, makanan dan pelayanan bagi mereka yang menginap dan mengadakan perjalanan.
c. Peraturan usaha dan penggolongan hotel : Keputusan
Menparpostel RI, No. 37/PW/304/MPPT-89 tentang peraturan usaha penggolongan hotel.
Hotel adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makan dan minum serta jasa lainnya bagi umum yang dikelola secara komersial.
d. Webster Student Dictionary : Webster Student’s Dictionary, American Book Company.
Hotel adalah sebuah rumah yang menyediakan penginapan dan biasanya makanan bagi umum, terutama untuk orang-orang yang singgah sementara waktu.
Hotel sebagai suatu bangunan umum yang memberikan jasa kepada orang yang melakukan perjalanan atas dasar imbalan. Dua jenis pelayanan utama disini adalah akomodasi serta makanan dan minuman.
f. Talbot Hamlin F. A. I. A : Talbot Hamlin F. A. I. A. Form and Function of 20th Century Architecture
Hotel sebagai bangunan untuk penginapan dan jamuan bagi orang yang sedang melakukan perjalanan. Ia berpendapat bahwa hotel pada abad 20 ini masih melayani fungsi yang sama dengan hotel-hotel masa lampau yaitu sebagai tempat istirahat umum.
g. American Encyclopedia : American Encyclopedia
Hotel adalah suatu badan usaha yang menyediakan pelayanan penginapan serta menyediakan sarana lainnya bagi wisatawan.
h. Oxford Advanced, Leaner’s Dictionary : Oxford Advanced Leaner’s Dictionary
Hotel adalah bangunan atau gedung dimana ruangan-ruangan, makanan-makanan dan fasilitas yang ada bagi masyarakat umum yang memberikan imbalan balik berupa pembayaran .
Dari pengertian hotel di atas, maka dapat dijabarkan bahwa : (Pengantar Industri Akomodasi dan Perhotelan, Sudarto Mangkuwerdoyo, hal. 8, 1999) Hotel adalah suatu jenis usaha akomodasi yang bersifat konversial, yang menyediakan jasa pelayanan untuk umum yang menunjang kegiatan hotel tersebut. Pada dasarnya sebuah hotel harus menyediakan minimum 3 fasilitas utama yaitu : akomodasi, makanan dan minuman.
2. Klasifikasi hotel
a. Berdasarkan Knowledge on Hotel Operation oleh Balai Pendidikan
1) Klasifikasi hotel berdasarkan plan :
a) Europen plan hotel, pengunjung hanya membayar tarif
kamar saja.
b) Continental plan hotel, tarif kamar termasuk tarif makan pagi
c) Modifed American plan hotel, tarif kamar termasuk tarif 2
kali makan (jam dapat dipilih)
d) Full American plan hotels, tarif kamar termasuk 3 kali makan.
2) Klasifikasi hotel berdasarkan ukuran / jumlah kamar :
a) Small hotel, jumlah kamar antara kurang dari 25 buah.
b) Average hotels, jumlah kamar antara 25 – 100 buah.
c) Above average hotels, jumlah kamar antara 100 – 300
buah.
d) Large hotels, jumlah kamar lebih dari 300 buah.
3) Klasifikasi hotel berdasarkan jenis pengunjung
a) Family hotels, hotel untuk keluarga
b) Business hotels, hotel untuk pengusaha
c) Tourist hotels, hotel untuk turis
d) Transit hotels, hotel untuk tamu yang singgah dalam waktu
singkat.
e) Cure hotels, hotel untuk perawatan / peristirahatan.
4) Klasifikasi hotel berdasarkan lamanya menginap
a) Transient hotels, jangka waktu menginap satu malam.
b) Resident hotels, jangka waktu menginap lama
c) Semi resident hotels, jangka waktu menginap lebih dari
satu malam.
5) Klasifikasi hotel berdasarkan lokasi
a) Resort hotels, hotel yang berada di daerah rekreasi atau
b) Mountain hotels, hotel yang berada di pegunungan
c) Beach hotels, hotel yang berada di pantai
d) City hotels, hotel yang berada di tengah kota
e) Highway hotel, hotel yang berada di jalur highway
6) Klasifikasi hotel berdasarkan sistem operasional
a) Franchised operation system
b) Reveral operation system
c) Chain hotel operating system
7) Klasifikasi hotel berdasarkan peraturan pemerintah
a) Grade system, klasifikasi hotel menurut tarifnya :
(1). Hotel ekonomi, hotel dengan tarif ekonomi (2). Hotel medium, hotel dengan tarif menengah
(3).Hotel De-Luxe, hotel dengan tarif paling tinggi
b) Star system, klasifikasi hotel menurut kelas bintang
sebagai simbol kualitas : (1). Hotel bintang lima (2). Hotel bintang empat (3). Hotel bintang tiga (4). Hotel bintang dua (5). Hotel bintang satu
b. Berdasarkan Data Arsitek Jilid 1 oleh Ernest Neufert :
Klasifikasi hotel berdasarkan orientasi pemasarannya :
1) Hotel di pusat kota, biasanya termasuk hotel mewah, hotel
untuk komperensi / pertemuan-pertemuan besar dan hotel untuk para tamu kepariwisataan.
2) Hotel untuk pemakai berkendaraan bermotor, hotel jenis ini
3) Hotel di lapangan udara, perencanaannya mirip dengan hotel jenis untuk pengendara mobil, perbedaannya hanya pada pelayanan pengadaan makanan untuk penumpang pesawat udara, sehingga diperlukan penerima tamu yang berjaga semalam suntuk dan jika mungkin juga pelayanan makanan semalam suntuk. Hotel jenis ini kadang-kadang juga dilengkapi dengan gedung pertemuan untuk melayani pertemuan-pertemuan besar, swasta maupun nasional.
4) Hotel di daerah peristirahatan, terdapat baik di tepi pantai, di
daerah pegunungan atau di daerah sumber air panas. Biasanya direncanakan untuk melayani akomodasi pengunjung dalam rombongan paket wisata tertentu dengan penataan penerimaan tamu yang banyak pada masa liburan akhir pekan atau mereka yang berkunjung hanya semalam.
5) Motel, umumnya berada di jalan-jalan utama, biasanya di
dekat kota besar, tempat-tempat yang sering dikunjungi atau lokasi-lokasi berlibur yang masih mudah dicapai. Restoran, pompa bensin dan bengkel reparasi ringan sebaiknya terdapat di sekitar lokasi, namun tidak perlu berhubungan langsung dengan motel tersebut, lokasi / penempatan bangunan diatur agar tidak terganggu oleh lampu kendaraan di malam hari dan kebisingan lalu lintas.
6) Hotel khusus untuk konvensi, mempunyai ciri antara lain
fasilitas parkir yang sangat luas untuk menampung kegiatan konvensi. Sebuah hotel konvensi yang berkapasitas 400 kamar untuk suatu kegiatan konvensi dapat menampung lebih dari 800 orang pengunjung.
7) Kondominium (hunian berkelompok), jenis hotel ini
hunian biasa maupun mewah), baik yang dipergunakan sendiri atau disewakan ke orang lain, pengelolaan hotel ini dilakukan bersama-sama yang mencakup semua jenis pelayanan hotel.
c. Surat Keputusan Menparpostel No. KN. 37/PW/304/MPPT-86,
tanggal 7 Juni 1986.
Klasifikasi hotel berdasarkan lokasi :
1) City hotel, hotel yang terletak di kota. Termasuk dalam hal ini
adalah Residental Hotel, dan Transit Hotel atau Commersial Hotel.
2) Resort hotel, hotel yang terletak di daerah peristirahatan atau
tempat-tempat dengan alam atau pemandangan indah.
d. Berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Pariwisata No. 14/U/II/88
tentang pelaksanaan ketentuan usaha dan penggolongan hotel
1) Hotel bintang satu : minimal 15 kamar
2) Hotel bintang dua : minimal 20 kamar
3) Hotel bintang tiga : minimal 30 kamar
4) Hotel bintang empat : minimal 50 kamar
5) Hotel bintang lima : minimal 100 kamar
6) Hotel bintang lima + diamond : hotel dengan kualitas lebih baik
dari hotel bintang lima.
e. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perhubungan
Klasifikasi hotel berdasarkan fungsi dan susunan organisasinya :
1) Residental hotels, menyediakan akomodasi untuk para
pengunjung dalam jangka waktu yang agak lama, tetapi tidak bermaksud tinggal menetap.
2) Transit hotels atau commersial hotels, menyediakan
Umumnya terletak di kota-kota besar dan lokasinya berada di dekat stasiun atau transportasi terminal.
3) Resort hotels, menampung pengunjung yang sedang
mengadakan liburan. Umumnya terletak di daerah peristirahatan atau tempat yang mempunyai alam atau pemandangan yang indah.
f. Berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Pariwisata No : 14/U/II/88
Klasifikasi hotel berdasarkan luas bangunan, perlengkapan ruang dan mutu, dekorasi dan pelayanan, penggolongan hotel dibagi menjadi 5 kelas :
1) Kelas D
2) Kelas C
3) Kelas B
4) Kelas A
5) Kelas De-Lux
g. Berdasarkan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia
Klasifikasi hotel berdasarkan cara pengoperasiannya dibagi menjadi :
1) Hotel internasional, bertaraf internasional, berdasarkan
fasilitas, pelayanan dan perlengkapannya dengan standart internasional.
2) Hotel wisata, bertaraf nasional, fasilitas, perlengkapan dan
pelayanannya memenuhi persyaratan untuk menampung para wisatawan dengan tarif lebih rendah dari pada hotel internasional.
3) Hotel biasa dan losmen, fasilitas lebih sederhana dengan
3. Jenis pengunjung hotel
Wisatawan yang bepergian untuk keperluan rekreasi, liburan, kesehatan, studi keagamaan dan olah raga.
2) Wisatawan bisnis (Bussiness Tourist)
Wisatawan yang bepergian untuk keperluan hubungan dagang, kunjungan keluarga dan menjalankan tugas-tugas.
3) Bussiness pleasure tourist
Orang-orang yang bepergian untuk tujuan bisnis, termasuk di dalamnya menghadiri komperensi, pameran, dan lain-lain.
2) Specific tourists
Orang-orang yang berziarah, pelajar dan lain-lain, di mana motivasi bepergiannya untuk tujuan tertentu.
3) Leisure tourist
Orang-orang yang mengunjungi suatu tempat untuk bersenang-senang, berlibur atau keluar dari kehidupan sehari-hari.
c. Menurut maksud kunjungan dan lama tinggal maka pengunjung
hotel dapat dikelompokkan sebagai berikut : (Wylson, Anthony, Planning Building for Habitation, Commerce and Industry Hotel and Camps for the Motorist)
Membutuhkan fasilitas hunian yang5 cukup lengkap baik pada ruang-ruang umum maupun kamar tidur.
2) Pengunjung dengan maksud berlibur
Dapat merupakan kelompok wisatawan maupun keluarga. Fasilitas rekreasi untuk anak-anak dan dewasa sangat dibutuhkan dalam menikmati liburannya.
3) Pengunjung dengan maksud Konferensi
Umumnya para utusan sudah dipesankan tempat terlebih dahulu oleh pihak penyelenggara untuk jangka waktu tertentu, misalnya untuk konferensi akhir minggu atau konferensi selama satu minggu. Pengunjung jenis ini memerlukan ruang yang berbeda-beda dalam jangka waktu tertentu.
4) Pengunjung dengan maksud bisnis
Merupakan jumlah terbesar dari hotel-hotel di dalam kota dimana mereka memerlukan Single Room. Termasuk juga pengunjung yang singgah dari pelabuhan udara, stasiun dan terminal.
5) Pengunjung sehari-hari
Merupakan pengunjung lokal yang tidak menetap, di mana mereka menggunakan ruang-ruang publik. Pada daerah-daerah tertentu banyak pengunjung jenis ini, diharapkan tersedia berbagai jenis restoran, ballroom atau diskotik.
4. Aktivitas dalam bangunan hotel
Aktivitas dalam hotel dibedakan menjadi dua aktivitas :
a. Aktivitas pengunjung
Aktivitas pengunjung hotel dibedakan menjadi dua kelompok pengunjung yaitu :
1) Pengunjung menginap biasa
b). Mempergunakan fasilitas yang disediakan hotel seperti
Pengunjung umum tidak menggunakan fasilitas umum pada hotel tetapi mengunjungi hotel untuk keperluan tertentu.
Pengunjung umum dapat dibedakan menjadi :
a). Pengunjung hotel harian, mengunjungi hotel untuk mempergunakan fasilitas hotel seperti : restoran, bar, sarana olah raga dan sarana lainnya.
b). Mengunjungi kegiatan konvensi, mengunjungi kegiatan konvensi seperti exhibition hall / pameran yang biasanya dibuka untuk umum.
b. Aktivitas pengelola hotel
Pengelola hotel bertugas mengelola hotel sehari-hari dan memberikan pelayanan kepada semua pengunjung hotel.
c. Aktivitas utama
Dalam bidang perhotelan ada dua aktivitas yang utama yaitu :
1) Back of areas, yaitu kegiatan karyawan yang tidak langsung berhubungan dengan tamu, seperti karyawan keuangan, penyedia makanan dan minuman, laundry dan lain-lain.
2) Front of areas, yaitu kegiatan karyawan yang berhubungan langsung dengan tamu seperti, penerima tamu (front desk), kamar tamu (quest room), ruang fungsional (function room) dan lain-lain.
Hubungan kedua bagian ini pada sebuah hotel sangat erat tetapi
pelaku yang dilayani dan melayani bertemu dalam satu titik,
sedangkan back of the house merupakan kegiatan karyawan yang
tidak berhubungan langsung dengan publik / tamu.
B. Fungsi dan Peranan Hotel
Fungsi utama dari hotel adalah sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan tamu (wisatawan atau pelancong) sebagai tempat tinggal sementara selama jauh dari tempat asalnya. Pada umumnya kebutuhan utama para tamu dalam hotel adalah istirahat, tidur, mandi, makan, minum, hiburan dan lain-lain. Namun dengan perkembangan dan kemajuan hotel sekarang ini, fungsi hotel bukan saja sebagai tempat menginap atau istirahat bagi para tamu, namun fungsinya bertambah sebagai tujuan konferensi, seminar, lokakarya, musyawarah nasional dan kegiatan lainnya semacam itu yang tentunya menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap.
Dengan demikian fungsi hotel sebagai suatu sarana komersial berfungsi bukan hanya untuk menginap, beristirahat, makan dan minum tetapi juga sebagai tempat melangsungkan berbagai macam kegiatan sesuai dengan tujuan pasar hotel tersebut.
Dalam menunjang pembangunan negara, usaha perhotelan memiliki peran antara lain :
1. Meningkatkan industri rakyat
Hotel banyak memakai barang-barang yang diproduksi oleh industri rakyat, seperti meubel, bahan pakaian, makanan, minuman dan lain sebagainya.
2. Menciptakan lapangan kerja
3. Membantu usaha pendidikan dan latihan 4. Meningkatkan pendapatan daerah dan negara 5. Meningkatkan devisa negara
C. Tinjauan Terhadap Hotel Bisnis 1. Pengertian hotel bisnis
Menurut Hughes and Kapoor menyatakan : Bussiness is the
organized effort of individuals to produce and sell for a profit, the goods and services that satisfysocietys needs. The general term business refers to all such efforts within a society or within an industry. Maksudnya ialah suatu kegiatan usaha individu yang terorganisasi untuk menghasilkan dan menjual barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Menurut kamus umum : bisnis adalah secara dagang, secara
perdagangan, usaha dagang, bidang usaha. (Kamus Umum, Brata
Atmajaya,h . 1994)
Secara umum bisnis berarti komersial, perdagangan atau kegiatan keuangan yang mempergunakan waktu, perhatian tenaga
kerja, dan penanaman modal demi perbaikan/kemajuan. (Encyclopedia
America, 1982)
Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa : Hotel bisnis adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makan dan minum, sarana, fasilitas pelengkap lainnya serta jasa bagi umum yang dapat mendukung dan memperlancar
kegiatan bisnis para tamu (seperti meeting room, bussines centre,
exhibition room dan sebagainya), yang dikelola secara komersil serta memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.
2. Karakteristik hotel bisnis
Karakteristik hotel bisnis terdiri dari :
a. Lokasi
b. Tamu
Tamu yang datang pada hotel mayoritas adalah kalangan bisnis, pengusaha, karyawan dan profesional dengan kepentingan berbisnis, berdagang, tugas dinas, komperensi, seminar, lokakarya, musyawarah, simposium, dan sebagainya. Biasanya bepergian seorang diri atau rombongan. Lama menginap singkat dan pada umumnya pada hari-hari kerja.
c. Fasilitas
Fasilitas yang ada ditekankan pada fasilitas yang dapat menunjang kegiatan bisnis para tamu, seperti ruang pertemuan, fasilitas komputer PABX, Fax telepon dan sebagainya. Fasilitas pelayanan harus serba praktis, cepat dan ekonomis sesuai dengan karakteristik para tamu yang sangat memperhitungkan waktu dan uang.
3. Dasar penentu fasilitas hotel bisnis
Pada dasarnya fasilitas yang disediakan hotel memiliki kesamaan pelayanan pokok yang diberikan yaitu penginapan, makanan dan minuman. Namun sejalan dengan perkembangan bisnis hotel, fasilitas yang ditawarkan (baik fasilitas utama maupun fasilitas khusus) terus berkembang ke berbagai ragam jenis, yang mendorong munculnya jenis-jenis hotel. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor diantaranya : (Ruters. W. A. 1990)
a. Lokasi dan karakteristiknya
Lokasi hotel bisnis harus terletak di tengah-tengah pusat kegiatan
bisnis (Central Business Distrik) sesuai dengan karakteristik hotel
bisnis. Luas site menentukan jumlah dan besarannya.
b. Tuntutan dan kebutuhan pasar
menetapkan fasilitas khusus hotel sebagai daya tarik tambahan bagi para tamu. Jumlah juga disesuaikan prediksi kebutuhan kamar beberapa tahun ke depan.
c. Kompetisi dan persaingan antar hotel
Memperhatikan kelebihan dan kekurangan usaha-usaha hotel sejenis sebagai dasar menetapkan strategi dan kemampuan untuk memenangkan kompetisi dan persaingan. Menjadi dasar pertimbangan bagi kemungkinan pengembangan fisik bangunan dan penambahan fasilitas.
d. Tingkat kualitas (Quality Level)
Memperhatikan tingkat kualitas fasilitas-fasilitas hotel lain dan melakukan perbandingan untuk perbaikan dan peningkatan mutu fasilitas.
e. Rencana operasional
Menetapkan sistem kerja dan penekanan pada fasilitas publik agar dapat memberikan kepuasan para tamu dan menampilkan image yang diinginkan.
f. Konsep pelayanan makanan/restaurant
Memperlihatkan fasilitas yang banyak memberikan pemasukan seperti restaurant yang akan mempengaruhi fasilitas penunjangnya seperti kitchen, food storage dan locker area.
g. Jumlah staf
Jumlah staf disesuaikan dengan jumlah tamu yang ditargetkan berkunjung ke hotel.
h. Dana dan lain-lain
Untuk pengadaan hotel bisnis di Indonesia dalam menentukan
fasilitas (facilities programming) selain dengan memperhatikan
4. Pelaku kegiatan
a. Tamu hotel
Pengelompokkan tamu hotel bisnis berdasarkan profesi dan status sosial ekonomi secara umum :
1) Pengusaha
Umumnya memiliki pristise tinggi, status sosial ekonomi termasuk dalam golongan menengah ke atas.
2) Pedagang
Memiliki tingkat prestise yang tinggi dan umumnya berasal dari golongan ekonomi menengah ke atas.
b. Pengelompokan tamu berdasarkan lamanya tinggal
1) Wisatawan (Tourist)
Tamu yang berkunjung dan tinggal lebih dari 24 jam serta mengeluarkan uangnya untuk menikmati segala fasilitas yang disediakan hotel.
2) Pelancong (Excursionist)
Tamu yang berkunjung kurang dari 24 jam, mereka ada juga yang membelanjakan uangnya untuk menikmati fasilitas hotel atau yang hanya datang untuk mengunjungi famili, relasi dan kenalan.
c. Jenis kegiatan tamu
1) Kegiatan rutin/pokok sehari-hari seperti makan, minum,
2) Kegiatan utama dari maksud kunjungan seperti meeting, konvensi, lokakarya, resepsi/pesta/perjamuan, pameran, tugas dinas, bisnis dan berdagang.
3) Kegiatan mengisi waktu luang seperti olah raga, shopping,
makan di restaurant, rileks, rekreasi.
d. Pengelola hotel
1) Staf karyawan hotel
Yaitu staf administrasi manager yang mengelola segala kegiatan yang ada dalam hotel baik intern maupun ekstern yang termasuk dalam kategori :
a). Asisten manager
b). Staf departemen teknik dan transportasi c). Staf departemen keuangan
d). Staf departemen makanan dan minuman
e). Staf departemen kerumahtanggaan dan lain-lain
Yang dimaksud dengan karyawan dalam hal ini adalah para pekerja yang tidak langsung berhubungan dengan pengunjung :
a). Karyawan bagian dapur
b). Karyawan bagian laundry (binatu) c). Karyawan bagian kimia
2) Jenis kegiatan dan pelayanan karyawan
Di dalam susunan dalam struktur organisasi dari suatu hotel, berpedoman pada kegiatan pokoknya maka departemen/ bagian yang harus ada, adalah :
a) Kantor departemen hotel (Front Office)
(1). Pelayanan pemesanan kamar (Reservation service) mempunyai fungsi menerima pesanan-pesanan kamar yang dibuat oleh tamu.
(2). Pelayanan penanganan barang-barang tamu (Porter
atau Bel Captain, Desk Service).
(3). Pelayanan informasi (Information Service)
memberikan informasi yang dibutuhkan oleh tamu selama menginap di hotel.
(4). Pelayanan Check in dan Check Out tamu (Reception
atau Front Desk) mempunyai fungsi menangani
tamu-tamu yang check in dan check out.
(5). Kasir kantor depan hotel (Front Office Cashier)
mempunyai fungsi menangani pembayaran seluruh transaksi yang dibuat oleh tamu didalam hotel selama menginap.
Skema 2.1.
Struktur Organisasi Kantor Depan Hotel (Front Office)
(Endar Sugiarto. M. M. Hotel Front Office Operasional, Jakarta, 1992)
b) Tata graha hotel (House Keeping)
Front Office Manager
Asisten
Chief Concierge Chief Reception Chief Reservation
Bagian tata graha adalah salah satu bagian yang ada dalam organisasi hotel yang mempunyai peranan memberikan pelayanan kenyamanan dan kebersihan hotel. Tanggung jawab tata graha dapat dikatakan pengurusan beserta perlengkapannya. Melihat ruang lingkup tanggung jawab bagian tata graha atas ruangan hotel, maka ruangan hotel terdiri dari kamar-kamar tamu, ruang rapat, ruangan umum seperti lobby, corridor, restauran, yang kesemuanya
itu disebut front of the house.
Di samping itu juga bertanggung jawab akan kebersihan dapur, ruang makan karyawan, ruang ganti pakaian karyawan, ruang kantor dan sebagainya, yang semuanya
disebut back of the house.
Sesuai dengan struktur organisasi, maka bagian tata graha
dipimpin oleh seorang Exsekutif Housekeeper, yang
membawahi beberapa sub bagian seperti :
(1). Bagian Kamar Tamu (Room Supervisor) mempunyai
tanggung jawab untuk menjaga kebersihan, kerapihan dan kerapihan kamar-kamar tamu.
(2). Bagian Ruangan Umum (Public Area Supervisor),
mempunyai tanggung jawab menjaga dan memelihara kebersihan, kerapihan dan kelengkapan kebutuhan ruang umum.
(3). Bagian Linen (Linen Supervisor) mempunyai tanggung
kebersihan dan kerapihan seluruh jenis linen yang dibutuhkan untuk keperluan operasional hotel.
(4). Bagian Binatu (Laundry Supervisor) mempunyai
tanggung jawab untuk melaksanakan pemeliharaan seluruh jenis linen yang dipergunakan oleh operasional hotel.
Skema 2.2.
Struktur Organisasi Departemen Housekeeping
(Yayuk.S. Purwani. Housekeeping. Untuk akademi Make Up Room. Jakarta. 1992)
c) Makanan dan minuman (Food and Beverage Service)
Bagian makanan dan minuman mempunyai fungsi menyediakan pelayanan makanan dan minuman bagi tamu-tamu hotel. Untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan akan pelayanan makanan dan minuman maka bagian makanan dan minuman juga harus melakukan pengembangan produk, merancang kegiatan-kegiatan yang dapat menarik tamu untuk makan dan minum di restaurant hotel. Karena fungsinya tersebut, maka ruang gerak aktifitas bagian makanan dan minuman dapat dibagi menjadi dua fungsi ruang yaitu :
(1). Ruang atau area yang dapat menghasilkan keuntungan disebut the revemie producing areas, seperti restaurant, bar, lounge service, banguette.
(2). Ruang atau area yang memberikan dukungan atau support
dalam memberikan pelayanan disebut the support service
area, seperti dapur (kitchen), gudang minuman bawah
tanah (cellar) dan gudang umum (store), stillroom, tempat
mencuci peralatan makanan dan memasak (Dishwashing).
Terdapat beberapa klasifikasi metode pelayanan makanan,
yaitu metode melayani sendiri (Self Service) yang terdiri
dari buffet service, take away service dan cafetaria tradisional, sedangkan metode pelayanan pramusaji (Walter service) terdiri dari counter atau bar service, table service dan perjamuan (banquet).
Skema 2.3.
Struktur Organisasi Food & Beverage Service
(Sudiarto Mangkuwerdoyo, Pengantar Industri Akomodasi dan Restoran, Jakarta. 1999)
d) Tata boga (Food Production/Kitchen)
Salah satu bagian penting dalam suatu hotel adalah tata boga hotel yang bertugas memproduksi/menghasilkan
makanan baik untuk tamu maupun untuk karyawan hotel. Pada dasarnya fungsi utama dari tata boga adalah menyiapkan dan memproduksi makanan/hidangan.
Skema 2.4.
Hasil produksi (makanan) tata boga akan dijual dan
dihidangkan di ruang makanan karyawan (Employee Diving
Room). Untuk penyediaan atau pengadaan bahan-bahan
gudang penyimpanan (Store) sedangkan untuk pemeliharaan dan kebersihan peralatan masak dibantu oleh bagian stewarding.
5. Lingkup pelayanan hotel
Lingkup pelayanan hotel yang dapat diberikan oleh suatu hotel dibedakan atas :
a. Lingkup pelayanan akomodasi
Pelayanan utama yang diberikan oleh hotel bagi para tamu-tamu yang hendak menginap baik untuk istirahat, tidur, mandi dan lain-lain.
Pelayanan hotel bagi para tamu yang hendak melakukan aktivitas rekreasi misalnya : berbelanja, bersantai, mendengar musik, olah raga, makan, minum dan lain-lain.
6. Struktur organisasi hotel bisnis
melaksanakan tugasnya, karyawan dapat secara pasti kepada siapa mereka bertanggung jawab atas pekerajaannya, dan apa serta siapa yang harus dipertanggungjawabkannya.
Struktur organisasi dirancang dengan disesuaikan terhadap kebutuhan hotel, makin besar dan lengkap fasilitasnya, maka struktur orgnisasinya juga semakin kompleks.
Berdasarkan pada struktur organisasi, dapat ditentukan atau diperkirakan jumlah karyawan yang dibutuhkan secara keseluruhan sebagai gambaran tetang bentuk struktur organisasi dapat dilihat pada contoh berikut :
Skema 2.5
Bentuk Struktur Organisasi Hotel Bisnis
Karena pentingnya struktur organisasi maka bagi hotel baru, struktur organisasi sudah harus dipersiapkan sebelum hotel tersebut beroperasi. Karena melalui struktur organisasi di samping dapat diperkirakan jumlah karyawan di setiap jabatan yang diperlukan, juga
Pemilik /
melalui adanya struktur organisasi dapat dipersiapkan analisa jabatan yang terdiri dari :
a. Uraian tugas (Job Description).
b. Standar manual pekerjaan (Standart Operating Procedure).
c. Spesifikasi jabatan (Job Spesification).
Dengan menggunakan analisis jabatan (uraian tugas, standar manual pekerjaan dan spesifikasi jabatan) secara konsisten, maka diharapkan setiap jenis proses pekerjaan dari waktu ke waktu dapat menghasilkan produk (barang atau jasa) yang standart.
Sistem manajemen berdasarkan paham yang dianut terdiri dari :
a. Faham Anglo Saxon (Amerika)
Pimpinan tertinggi bertindak sebagai penguasa tunggal dalam organisasi hotel. Ia adalah General Manager yang membawahi langsung seorang Manager dan kepala-kepala bagian (Departement Head).
b. Faham Eropa Kontental
Pimpinan tertinggi adalah Presiden Direktur yang bekerja sama dengan para Direktur dalam Badan Direksi yang bertanggung jawab kepada Badan Komisaris (Faham ini dianut oleh hotel-hotel yang ada di Indonesia).
Manajemen hotel berdasarkan sistem operasionalnya dapat dibedakan atas :
1) Franchised operation system, merupakan sistem operasi gabungan.
3) Chain operation system, sistem operasi secara berantai dengan sistem pengelolaan yang sama dan menggunakan satu nama seperti Hyatt, Holliday Inn, Ibis dan sebagainya.
D. Faktor-Faktor Penentu Bagi Pemasaran
Berdasarkan studi kelayakan pasar, kesempatan pemasaran pasar yang ada harus dapat memanfaatkan semaksimal mungkin faktor-faktor penentu bagi pemasaran suatu hotel, seperti :
1. Lokasi
Memperhatikan tuntutan, kelebihan dan keterbatasan site. 2. Fasilitas
Ukuran, tipe dan jenis fasilitas yang akan disediakan. Tingkat penjualan dari tingkat hunian kamar dan jumlah pengunjung pada fasilitas layanan makanan atau restaurant.
3. Pelayanan
Mutu pelayanan yang disesuaikan tuntutan pelanggan atau tamu. 4. Image / kesan
Jenis image yang diinginkan dan dasar pertimbangan untuk mewujudkannya.
5. Tarif
Usulan tarif kamar berdasarkan tipe yang ditawarkan dan menaksir rata-rata pengeluaran orang untuk layanan makan.
E. Studi Banding
Sahid raya hotel terletak di Jalan Gajah Mada 82 Solo. Berdirinya hotel ini dilatarbelakangi untuk mengantisipasi perkembangan pariwisata, juga adanya pemerintah meningkatkan status Pelabuhan udara di Solo menjadi bandara internasional, karena melihat Streght point Solo merupakan pusat budaya Jawa yang kental.
Klasifikasi Hotel Sahid Raya Bintang Empat dengan sasaran pasarnya adalah bisnis, aktifitas pemerintah, traveler baik Internasional maupun domestik. Luas total lantai bangunan Hotel ini
adalah 21.578 m2, memiliki 140 kamar (163 Room By) dengan rincian :
Moderate 95 kamar, Superior 9 kamar, Junior Suite 11 kamar, Executive Suite 23 kamar, dan satu Presidential Suite. Fasilitas yang disediakan antara lain Coffee Shop, Ball Room, Lounge, Meeting Room, Restoran, Kolam Renang, dan sebagainya.
Pondasi yang digunakan adalah Bored Pile dengan diameter 80 cm dan berkapasitas 160 ton per tiang. Ke dalam tiang bored rata-rata 17,5 m karena muka air tanah berada pada posisi tinggi, dan lapis tanah di bagian atas kurang baik, ada unsur berpasir. Maka pada pelaksanaan Bored Pile diatasi dengan menggunakan casing.
Sistem struktur atas adalah rangka beton bertulang biasa. dan struktur Sear Wall, hanya digunakan pada daerah Core. Untuk pembesian di beberapa tempat digunakan Wire Mesh. Tebal Slab lantai berkisar antara 12 cm dan 12,5 cm.
Sumber daya utama pada Hotel Sahid Raya Solo ini, dipenuhi dari PLN berkapasitas 1.000 KVA, tegangan 20.00/380/220 Volt/50 Hz, dengan Switch Panel Induk 1500 Amp. Selain itu, di Back Up Genzet dua kali 500 KVA, switch dua kali 650 Amp, tegangan 380/220 Volt/50 Hz yang dioperasikan dengan sistem semi automatik.
dilayani dengan 2 unit lift penumpang dan 2 unit lift service, masing-masing dengan kecepatan 90 MPM, atau kapasitas 13 orang/900 kg. Saluran telepon memiliki kapasitas 35 sambungan langsung, 20 diantaranya digunakan sistem PABX (200 CXT/20 PTT). Selain itu dilengkapi pula dengan sistem tata suara, dan MATV.
Tampak Hotel Sahid Raya, Solo
2. Hotel Cempaka Jakarta
Hotel ini terletak di kawasan Cempaka Putih di Jalan Letjen Suprapto. Latar belakang di bangunnya hotel ini adalah : yang pertama menunjang Jakarta sebagai Survice City, kedua dengan melihat bantuan Daerah jalur ini justru banyak industrialisasi dari luar sehingga masih memerlukan adanya fasilitas untuk itu.
Hotel Cempaka Putih merupakan klasifikasi hotel berbintang
lima. Berdiri di atas area seluas kurang lebih 7.000 m2 dengan luas
total lantai bangunan kurang lebih 35.000 m2, terdiri dari 20 lantai
kapasitas 600 tempat duduk atau 1.000 – 1.200 Standing Party, Business Center, Shopping Arcade, Fitness Center dan Sauna, Laundry dan Dry Cleaning untuk kapasitas 600 kamar, parkir dengan daya tampung sekitar 300 mobil, dsb. Disamping itu juga memiliki fasilitas olah bugar, yakni Joging Track, Running Track, Kolam Renang ukuran olimpik.
Bentuk massa bangunan secara keseluruhan merupakan optimasi dari kondisi bentuk site yang ada, terdiri dari 3 Podium dan 16 level lower. Podium 3 lantai yang cukup luas tersebut sengaja diangkat satu lantai dengan alasan pada lantai dasar akan dimanfaatkan sebagai fasilitas perparkiran.
Zoning vertikal adalah podium 3 lantai diperuntukkan sebagai publik area dan Back of House (BOH). Kemudian 14 lantai diatasnya difungsikan untuk Guest Room, 2 lantai berikutnya dimanfaatkan untuk ruang ME serta mesin Lift. Sedangkan penzoningan secara horizontal, pada podium secara linear (mengikuti bentuk site) dibagi majadi 2 daerah yakni Daerah Publik dan Service. Pada kedua daerah tersebut dibelah oleh koridor service yang berfungsi sebagai “Buffer”. Juga di pakai untuk penempatan unit-unit FCU. Pada tower, perletakan kamar memperhitungkan arah barat dan
posisi view
Hotel Cempaka, Jakarta
3. Hotel Radisson Plaza Yogyakarta
Lokasi hotel berada di daerah Sleman tepatnya di sudut Jalan Gajayana dan Jalan Kasuari (Demangan Baru). Berdasarkan pertimbangan bahwa lokasi tersebut cocok untuk didirikan hotel sebagai fasilitas akomodasi dan ditinjau dari wilayah kota Yogyakarta merupakan sekon bertination setelah Bali.
Hotel Radisson Plaza merupakan klasifikasi hotel berbintang empat, dibangun diatas lahan seluas 1,4 Ha. Hotel dengan ketinggian 3 lantai ini memiliki 129 kamar yang terbagi menjadi 118 kamar standart, 2 kamar Junior Suite, 4 kamar Parlour Suite, 2 kamar Executive Suite, dan satu unit Presidential Suite. Sedang fasilitas
pendukung antara lain Coffee Shop (220 m2) Bar (135 m2), Pool Bar
(112 m2), Fungtion Room dan Prefungtion (540 m2), serta Business
lapangan tennis, Kolam renang cukup modern, Cardio Center Theatre. Disamping itu hotel ini juga memiliki fasilitas yang Lobby louge yang
megah dan luas 690 m2 dan ketinggian Ceiling 7,4 m.
Perencanaan dalam memperoleh desain yang kompak yaitu melalui pembagian zona publik, kamar tamu dan service yang jelas, juga desain sistem transportasi dan sirkulasi yang matang. “Satu di antara dua lift servis diletakkan di daerah dapur yang terdapat di lantai semi besmen. Dilantai dasar posisi lift tersebut berada di daerah Coffee Shop, sehingga sistem sirkulasinya tidak rumit”.
Sistem tata udara yang direncanakan di hotel ini sistem AC Central, yakni Water Chooled Chiller ini, satu unit bersifat Stand by karena menurut perhitungan hanya dibutuhkan 2 unit saja. Biasanya unit stand by hanya terdapat pada hotel berbintang lima namun hotel ini di buat setara dengan hotel berbintang lima, maka diadakan unit stand by. Digunakan Water Chooled Chillr mengingat kondisi air di Yogya cukup baik, selain dari segi perawatan sistem tersebut tidak banyak memiliki kendala.
Tampak Hotel Radisson Plaza, Yogyakarta 4. Hotel Imperial Arya Duta Makassar
serta lokasi berdirinya hotel Imperial Arya Duta yang berada tepat di depat pantai losari serta merupakan kawasan Central Bisnis District (CBD) dengan hanya dibatasi oleh Jalan Raya 4 jalur merupakan latar belakang dibangunnya hotel Imperial Arya Duta.
Hotel Imperial Arya Duta merupakan klasifikasi hotel bintang lima dengan jumlah lantai 10 dan 1 lantai basemen. Hotel Imperial
Arya Duta berdiri di atas area seluas 17.370 m2 dan luas terbangun
4.600 m2.
Fasilitas yang terdapat pada hotel ini memiliki 230 buah kamar sewa yang terdiri dari : Royal Imperial Suite, Imperial Club Suite, Imperial Pub Room, Standart Room. Food and Beverage Outlet meliputi : Banguet Hall, Lobby Louge, Club Lounge, Pub Coffee Shop, Fun Pub, Club Bar.
Disamping itu tersedia juga Business Center, Retail Shop, Pungtion Room, Fre Fungtion, area parkir untuk 45 mobil dan 2 Bus, Swimming Pool, Fitness Center, Laundry dan Dry Cleaning, Safe Deposit Box, Lift tamu dan 1 Lift barang.
Tampak Hotel Imperial Arya Duta, Makassar
Tropis atau “tropical” dapat diartikan arsitektur yang mengacu
pada iklim kehidupan/lingkungan (ecological0. Secara jelas arsitektur
adalah arsitektur yang responsif terhadap iklim di tempat tertentu dan peka terhadap penghematan energi dan aspek ekologi. (Bangunan di Luar Jangkauan Arsitektur.h.76)
2. Pengertian dan klasifikasi iklim
Iklim adalah perubahan akibat pergerakan bumi sesuai dengan letak atau wilayah geografis. Iklim dibedakan atas iklim makro dan iklim mikro. Iklim makro adalah keseluruhan kejadian meteorologis khusus di atmosfir yang juga dipengaruhi oleh kondisi topografis bumi dan perubahan-perubahan peradaban di permukaannya dan berhubungan dengan ruang yang besar seperti negara, benua dan lautan, sedang iklim mikro berhubungan dengan ruang terbatas seperti ruang dalam, jalan kota atau taman kecil.
(Bangunan tropis, Dr. Ing. George Lippsmeier. Hal. 7 – 8, 1984)
Pengaruh radiasi matahari dengan atmosfir dan gaya berat serta distribusi daratan dan lautan menghasilkan bermacam-macam iklim.
Pada daerah-daerah tertentu memiliki karakteristik iklim yang hampir sama sehingga batas daerah iklimnya tidak selalu dapat ditentukan secara tegas, seperti pada iklim tropis.
3. Iklim tropis di Indonesia (Tropis – Lembab)
Pengertian tropis berasal dari kata “tropicos” dalam bahasa Yunani Kuno berarti garis balik. Garis-garis balik ini adalah garis
lintang 23o27’ utara dan selatan. Sedang daerah “tropis” didefinisikan
sebagai daerah yang terletak antara garis isoterm 20o di sebelah bumi
utara dan selatan. (Ibid, Hal. 1) Daerah tropis dapat dibagi dalam dua
curah hujan yang tinggi, serta temperatur rata-rata tahunan di atas
18oC (biasanya sekitar 23oC dan dapat mencapai 38oC dalam musim
kemarau). Perbedaan antar musim hampir tidak ada, kecuali periode sedikit hujan dan banyak hujan yang disertai angin keras. Lebih
khusus lagi, Indonesia termasuk dalam daerah sekunder hutan hujan
tropis (tropis-lembab) dengan gambaran sebagai berikut : (Ibid, Hal. 12-17)
a. Lansekap : Daerah hutan hujan khatulistiwa dengan
dataran rendah
b. Permukaan tanah : Lansekap hijau, warna tanah biasanya
merah atau coklat.
c. Vegetasi : Lebat, speciesnya bermacam-macam, semak
belukar, pohon-pohon tinggi (rimba dan
Daerah tropis-tropis belahan bumi utara :
Bulan terdingin : Desember – Januari
Bulan terpanas : Mei – Agustus
Daerah tropis – lembab belahan bumi selatan :
Bulan terdingin : April – Juli
Bulan terpanas : Oktober – Pebruari
e. Kondisi awan : Berawan dan berkabut sepanjang tahun.
Terang, bila awan sedikit, (awan kumulus putih) dan matahari tidak tertutup; abu-abu suram bila awan tebal. Jenis awan selalu belukar, lapisan awan 60 – 90%.
dan panas : Radiasi matahari langsung dengan intensitas sedang sampai tinggi. Radiasi terdifusi melalui awan atau uap. Refleksi radiasi matahari langsung pada tanah-tanah sedikit. Tanah menyerap banyak panas.
g. Temperatur/suhu : Temperatur maksimum rata-rata tahunan
30,5oC, pengecualian di atas 32oC, sedang
pada daerah khatulistiwa selama musim
kering mencapai 33oC dan pada musim
hujan 30oC, bisa turun sampai 26oC.
Fluktuasi harian dan tahunan relatif kecil, sekitar 3 – 5,5oC.
h. Presipitasi : Curah hujan tahunan di atas 2000 mm,
maksimum 5000 mm, dalam musim hujan mencapai 500 mm setiap bulan sedang untuk daerah khatulistiwa, hujan turun biasanya setelah tengah hari dan pagi hari sering berkabut.
i. Kelembaban udara : - Kelembaban absolut (tekanan uap)
tinggi, 25 – 30 mm
- Kelembaban relatif 55 – 100%, biasanya di atas 75%.
j. Gerakan udara : Lambat, terutama di daerah hutan rimba,
bertambah cepat bila turun hujan, sampai kekuatan angin 6 atau lebih. Biasanya terdapat satu atau dua arah angin utama.
a. Faktor-faktor dan kondisi iklim yang mempengaruhi perencanaan bangunan
1) Faktor-faktor iklim (Ibid, H. 22)
a) Matahari
Radiasi matahari adalah penyebab semua ciri umum iklim dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Kekuatan efektifnya membentuk keseimbangan termal pada bumi yang ditentukan oleh energi radiasi (insolasi) matahari, pemantulan pada permukaan bumi, berkurangnya radiasi oleh penguapan, dan arus radiasi di atmosfir.
Dalam perencanaan bangunan, hal tersebut perlu diketahui untuk mengatur banyaknya sinar matahari yang masuk melalui bukaan sehingga dapat ditentukan orientasi massa bangunan yang terbaik karena untuk menentukan orientasi yang tepat hanya dapat dilakukan dengan meninjau sudut-sudut matahari pada berbagai jam setiap harinya.
b) Temperatur
Daerah yang paling panas pada umumnya adalah daerah yang paling banyak menerima radiasi matahari, yaitu daerah khatulistiwa.
lagi sebelum matahari terbit disebabkan oleh radiasi pada langit.
Di daerah tropis, fasade timur dan barat paling banyak terkena radiasi matahari, sedangkan penyinaran langsung pada dinding tergantung pada orientasinya terhadap matahari. Akan tetapi radiasi tidak langsung tidak berpengaruh pada arah fasade atau bagian bangunan lain yang disebabkan karena awan yang menutupi langit.
c) Angin
Angin atau gerakan udara disebabkan oleh pemanasan lapisan udara yang berbeda-beda. Skalanya berkisar mulai dari angin sepoi-sepoi sampai angin topan, yakni kekuatan angin 0 – 12 (skala Beaufort). (Ibid, H. 77)
Penelitian di kota-kota besar menunjukkan bahwa kecepatan angin di permukaan jalan rata-rata hanya sepertiga dari kecepatan pada lansekap terbuka.
Bangunan tinggi mempunyai peredaran angin yang lebih baik pada bagian sebelah atas karena intensitas gerakan udara lebih besar daripada di lantai (ground floor). Di belakang bangunan tinggi terbentuk angin putar dan arus udara yang berlawanan arah yang dapat menghasilkan pengudaraan bagi bangunan rendah yang ada di belakangnya.
yaitu pemanasan tubuh karena efek pendinginan yang tidak mencukupi.
d) Presipitasi
Presipitasi adalah peristiwa yang terbentuk oleh proses kondensasi atau sublimasi uap air. Presipitasi dapat jatuh berupa hujan, hujan gerimis, hujan salju atau hujan es, sedangkan di permukaan bumi terbentuk embun atau embun beku.
Pembentukan presipitasi terjadi karena beberapa sebab antara lain oleh pengumpulan partikel air pada :
(1). Tetesan-tetesan air atau kristal es, terutama pada awan yang bergerak vertikal.
(2). Kristal garam di lautan.
(3). Partikel lainnya di atas daerah industri.
Di daerah tropis presipitasi turun pada umumnya pada musim hujan, untuk daerah khatulistiwa terjadi dua kali dalam setahun.
d) Presipitasi
e) Arah gaya dan angin
f) Awan
(1). Kondisi iklim yang dapat mempengaruhi kenyamanan dan kemampuan mental dan fisik penghuni :
(a). Radiasi matahari
(b). Kesilauan (glare)
(3). Temperatur dan perubahan temperatur (4). Presipitasi (curah hujan)
(5). Kelembaban udara (6). Gerakan udara (7). Pencemaran udara (8). Warna
(2). Kondisi iklim yang dapat mempengaruhi keselamatan bangunan :
(a). Gempa bumi (b). Badai
(c). Hujan lebat dan banjir (d). Gelombang pasang (e). Bahan biologis
(3). Kondisi iklim yang dapat menyebabkan kerusakan bangunan dan pelapukan bahan bangunan lebih awal :
(a). Faktor-faktor pada butir b (b). Intensitas matahari yang kuat
(c). Kelembaban udara dan kondensasi yang tinggi (d). Badai debu dan pasir
(e). Kandungan garam dalam udara
1) Pemilihan tapak
Dalam memilih lokasi tapak bangunan, faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah :
a) Lokasi
Pengaruh iklim terhadap perilaku manusia harus benar-benar diperhatikan pada pemilihan lokasi. Sebaiknya dipilih lokasi yang memiliki topografi (juga bangunan disekitarnya jika ada) memungkinkan adanya pengudaran silang yang diperlukan untuk kenyamanan ruangan.
b) Kondisi tanah
Pada umumnya kondisi tanah dan batuan di daerah tropis sama dengan di daerah lainnya di belahan dunia, tetapi di daerah tropis kualitas tanah yang baik dapat berubah sebaliknya, misalnya erosi yang ditimbulkan oleh naiknya air permukaan akibat hujan lebat. Hal ini tergantung pada jenis tanah dan dapat diatasi dengan pemilihan pondasi yang tepat.
c) Pengembangan dan pelayanan
Untuk pengembangan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
(a). Pencapaian lokasi bangunan
(b). Pencapaian bangunan setelah digunakan
Sistem instalasi pelayanan juga harus diperhatikan, seperti penyediaan air minum, jaringan listrik dan pembuangan air limbah karena amat berpengaruh pada biaya pengembangan.
Vegetasi atau tanaman selain dapat memberi efek psikologis positif oleh pemandangan hidup, juga memberi perlindungan terhadap :
(a). Kesilauan (glare)
(b). Debu (c). Erosi (d). Panas (e). Angin
Persyaratan khusus untuk lokasi tapak bangunan terutama untuk menghindari bahaya angin badai dan gempa bumi, sebab di daerah tropis bahaya angin ribut sering bersamaan dengan bahaya gempa bumi.
Tindakan pencegahan terhadap angin badai lokasi tapak bangunan sebaiknya topografi atau bentuk permukaan
tanah yang tidak menimbulkan efek saluran, sehingga
menambah kecepatan angin dan site sebaiknya di daerah yang tinggi sehingga terhindar dari banjir jika angin disertai hujan badai serta bahaya kebakaran, terutama pada arah angin utama.
Sedangkan untuk pencegahan terhadap bahaya gempa bumi sebaiknya memilih lokasi dengan resiko gempa kecil berdasarkan daerah gempa (kemungkinannya kecil, karena lokasi bangunan pada umumnya telah ditentukan, tetapi pada prospek besar merupakan aspek ekonomis yang penting) dan hindari :
(a). Bahaya longsor pada tanah miring
(b). Bahaya rubuh terhadap bangunan di dekatnya dengan jarak yang cukup
(d). Bahaya runtuh pada daerah yang memungkinkan
b) Jenis pemakaian yang umum dari bahan yang dipilih untuk
komponen bangunan tertentu.
c) Persediaan material di lokasi bangunan; lokasi produksi
dan kemungkinan transportasi termasuk kemungkinan impor.
d) Kemungkinan penggantian material dengan bahan lain bila
diperlukan.
e) Pengerjaan di lapangan.
f) Ketahanan terhadap tumbuhan dan hewan perusak.
g) Warna, sifat dan density (kerapatan) bahan serta
penggunaannya dalam bangunan.
3) Sistem struktur
Konstruksi yang digunakan untuk daerah tropis-lembab mempunyai ciri khas, yaitu :
a) Ringan
Di daerah tropis lembab, penurunan suhu pada malam hari hanya sedikit sehingga pendinginan oleh emisi panas-dingin hampir tidak mungkin terjadi, oleh sebab itu diutamakan pemakaian bahan-bahan bangunan dan konstruksi yang ringan.
b) Terbuka
silang secara alamiah, artinya diperlukan bukaan yang besar. Bahkan pada bangunan skala besar harus mempunyai celah permainan setiap 25 m, bila mungkin sebagai pemisah bagian-bagian bangunan akibat besarnya gerakan panas dan kelembaban.
Ciri khas tersebut dapat dijelaskan pada tiap bagian struktur sebagai berikut :
(1). Dinding
Dinding biasanya hanya berfungsi sebagai pencegah hujan dan angin (selain fungsi-fungsi lain di luar iklim). Konstruksi rangka ringan, dengan dinding tipis dan dilengkapi dengan bukaan yang diperlukan pada dinding luar dan dalam yang dapat diberi pelindung seperti tritisan, daun jendela, jalusi dan lain-lain dan diberi isolasi panas untuk ruangan yang memakai penyejuk udara.
(2). Atap
Pada umumnya atap bangunan di daerah tropis-lembab menggunakan atap miring berbentuk pelana, limasan dengan sistim balok, kaso dan pengikat atau sistem rangka ruang mengingat curah hujan yang cukup tinggi yang dapat menyebabkan kerusakan
dinding (jamur dan lumut) dan silau atau glare pada
interior akibat radiasi matahari.
(3). Lantai
Pada dasarnya struktur lantai pada bangunan tinggi tropis sama dengan bangunan bertingkat umumnya, hanya saja untuk bentuk denah pada bangunan tropis mengikuti sirkulasi penghawaan alami yang memanfaatkan tenaga angin sehingga lantai-lantai tipikal membentuk atrium mengarah vertikal dalam bangunan (lihat pembahasan pada Bab II, bagian C).
(4). Bukaan
Di daaerah tropis, bukaan seperti jendela dan pintu memiliki fungsi yang lebih luas jika dibandingkan dengan daerah beriklim sedang karena sangat menunjang iklim-mikro di dalam bangunan.
Untuk daerah tropika-basah, bukaan pada dinding sebelah atas dan bawah angin sebisa mungkin berukuran besar.
Pengamanan yang cukup untuk bidang kaca yang besar, tebal, dan kualitas kaca yang cukup untuk menahan tekanan angin.
5. Penerapan arsitektur tropis pada bangunan tinggi
a. Prinsip-prinsip desain arsitektur tropis
Desain atau rancangan arsitektur tropis jelas mengacu pada faktor-faktor iklim, yaitu matahari : radiasinya yang menghasilkan tinggi rendahnya temperatur dan kelembaban, angin dan presipitasi.
Prinsip-prinsip rancangan tropis meliputi : (Skycrapers, Kenneth Yeang, 1984, h. 28)
Posisi core servis inti pada perancangan bangunan
tinggi. Core tidak hanya berfungsi struktural, tetapi juga
berpengaruh pada suhu, penampilan dan view bangunan, juga menentukan bagian dinding mana yang akan dibuka dan atau yang akan diekspos/ditonjolkan.
Posisi core dapat diklasifikasikan dalam 3 tipe/jenis :
a) Central Core (core pada pusat bangunan)
b) Double Core (core dibagi dua dan diletakkan masing-masing di dua sisi bangunan)
c) Single Sided Core (hanya satu core pada sisi bangunan)
Untuk iklim tropis, sebaiknya core diletakkan pada bagian panas yakni bagian timur dan barat. Karena itu double core akan sangat bermanfaat, diletakkan pada sisi timur dan barat sebagai zone penyaring sekaligus dapat meminimalkan penggunaan AC.
2) Orientasi bangunan
Sebaiknya orientasi bangunan tegak lurus terhadap geometri matahari, yaitu arah utara-selatan jika geometri tapak juga tegak lurus, hal ini dapat mengurangi radiasi matahari dan akibatnya.
3) Ruang transisi
Ruang transisi disini ditempatkan pada zone antara eksterior dan interior yang berfungsi sebagai ruang-ruang udara dan atrium. Bagian atas atrium dapat dilindungi dengan
atap bundar untuk memberi jalan angin masuk (louvered) ke
dalam area bangunan yang juga berfungsi sebagai alat untuk menimba angin dan mengontrol penghawaan alami pada bagian dalam bangunan (terdapat pada China Tower No
Khusus untuk dinding luar harus mempunyai bagian-bagian yang dapat dipindahkan untuk mengontrol kenyamanan dalam ruang dan menghasilkan sirkulasi penghawaan silang yang baik, juga memberi perlindungan terhadap sinar matahari, mengatur hembusan angin dan hujan di samping menyediakan penyaluran air hujan.
5) Lantai
Lantai dasar sebaiknya dibuka ke arah luar dengan penghawaan alami. Hubungan lantai dasar dengan jalan juga
penting. Pengenalan atrium dalam ruang/bangunan (indoor
sebagai daya tarik dan juga skala seperti pengadaan skycourt
dan teras-teras yang digunakan untuk ruang publik dan penghawaan.
7) Vegetasi
Berguna untuk kepentingan ekologi dan estetika sekaligus penyejuk bangunan. Tanaman sebaiknya dipasang sebagai ruang luar yang berbentuk vertikal, baik pada
permukaan bangunan maupun pada bagian dalam courts
(lapangan).
8) Sunshading
Sunshading atau pelindung matahari adalah penting bagi dinding yang langsung terkena sinar matahari, terutama
dinding kaca. Sunshading dapat berupa tins (sirip), spandrels,
9) Ventilasi silang
Penggunaan ventilasi silang dianjurkan meski pada ruangan ber-AC sehingga dapat diperoleh udara segar dan membuang hawa panas ruangan. Udara yang berasal dari ruang-ruang terbuka dan ruang transisi pada bagian atas bangunan dapat memberi hembusan angin ke ruang-ruang
dalam yang dapat dilengkapi dengan scoop/penampung angin.
10)Struktur
Struktur massa bangunan dapat digunakan untuk menghilangkan panas. Massa kehilangan panas pada malam hari dan menjaga agar ruang tetap dingin pada siang hari. Sistim penyemprotan air pada permukaan panas dapat mengurangi evaporasi dan untuk mendinginkan.
b. Efisiensi energi
Jika ditinjau dari segi dimensi bangunan, yakni bangunan berlantai tinggi komersial yang tentunya berdimensi vertikal, maka
yang paling menguntungkan adalah low rise building atau
bangunan yang memanfaatkan energi secara efisien (hemat energi).
Untuk bangunan bioklimatik tropis lembab, efisiensi energi meliputi beberapa hal yang paling menonjol antara lain pemanfaatan cahaya matahari, vegetasi, penghawaan dan bukaan.
1) Pemanfaatan cahaya matahari
Terlepas dari itu cahaya matahari dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan energi bangunan dengan menggunakan kolektor matahari sebagai alat yang mengolah energi matahari menjadi energi listrik. Berdasarkan prinsip bangunan tinggi dengan arsitektur bioklimatik bahwa bagian core lift, tangga dan toilet; pencahayaan menggunakan pencahayaan alami/matahari pada waktu siang hari (pada waktu cerah).
2) Vegetasi
Fungsi vegetasi pada bangunan seringkali diabaikan terutama pada bangunan bertingkat/tower. Untuk bangunan tropis vegetasi berfungsi sebagai penyejuk alami pada waktu
siang hari dengan menyerap gas CO2 hasil pembakaran dari
komunitas dalam bangunan kemudian menghasilkan O2 yang
tidak dapat diatasi hanya dengan exhaust.
Pada bangunan bioklimatik vegetasi juga merupakan ciri khas yang biasanya ditempatkan pada teras-teras atau
lansekap skycourt sebagai ruang-ruang terbuka.
3) Penghawaan
Penghawaan atau yang dikenal dengan istilah ventilasi adalah pergantian udara atau sirkulasi udara ke dalam bangunan kemudian disalurkan kembali keluar bangunan dan seterusnya untuk mencapai kenyamanan dalam ruang.
4) Bukaan pada bangunan
dari bagian atas bangunan melalui louver ke seluruh ruang sekitar atrium.
c. Kenyamanan suhu
Pada dasarnya arsitektur merupakan wadah kegiatan manusia agar kegiatan itu dapat terselenggara secara nyaman. Ada dua aspek kenyamanan yang perlu dipenuhi oleh suatu karya arsitektur, yakni kenyamanan psikis dan fisik. Kenyamanan psikis banyak kaitannya dengan kepercayaan, agama, aturan adat, dan sebagainya. Aspek ini bersifat personal, kualitatif dan tidak terukur secara kuantitatif. Sementara di lain pihak, kenyamanan fisik lebih bersifat universal dan dapat dikuantifisir. Kenyamanan fisik terdiri
– diantaranya adalah : kenyamanan ruang (spatial comfort),
kenyamanan penglihatan (visual comfort), kenyamanan
pendengaran (audical comfort) dan kenyamanan suhu (thermal
comfort). Dari keempat macam kenyamanan fisik tersebut, “kenyamanan suhu”-lah yang paling dominan berpengaruh pada penggunaan energi pada bangunan.
Teori kenyamanan suhu menyatakan bahwa rasa panas atau dingin yang dirasakan oleh tubuh manusia adalah merupakan wujud respon dari sensor perasa pada kulit terhadap stimulasi suhu yang ada disekitarnya.
Ilmu kenyamanan suhu hanya membatasi pada kondisi
udara tidak ekstrim (moderate thermal environment), dimana
manusia masih dapat mengantisipasi dirinya terhadap perubahan suhu udara disekitarnya. Dalam kondisi yang tidak ekstrim ini terdapat daerah suhu dimana manusia tidak memerlukan usaha apapun, seperti halnya menggigil atau mengeluarkan keringat, dalam rangka mempertahankan suhu tubuhnya agar tetap
berkisar pada 37oC. Daerah suhu inilah yang kemudian disebut
G. Suhu Nyaman Manusia Tropis
Disadari atau tidak aspek ‘kenyamanan suhu’ sesungguhnya telah mendominasi kehidupan manusia dalam rangka berinteraksi dengan lingkungan fisiknya. Hampir pada setiap kesempatan manusia selalu membicarakan masalah sensasi termisnya terhadap udara di sekitarnya, seperti misalnya ‘terlalu panas’ atau ‘terlalu dingin’, atau mungkin sekedar mengatakan bahwa pada saat tertentu mereka merasa ‘kepanasan’, ‘kedinginan’, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa aspek kenyamanan suhu sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia sehari-hari.
Dalam teori kenyamanan suhu dinyatakan bahwa rasa panas atau dingin yang dirasakan oleh tubuh manusia sesungguhnya merupakan wujud respon dari sensor perasa yang terdapat pada kulit terhadap stimulasi suhu yang ada disekitarnya. Sensor perasa berperan menyampaikan informasi rangsangan rasa kepada otak dimana otak akan memberikan perintah kepada bagian-bagian tubuh tertentu agar melakukan antisipasi guna mempertahankan suhu tubuh agar tetap
berada pada sekitar 37oC, dimana hal ini diperlukan agar organ dalam
tubuh dapat menjalankan fungsinya secara baik.
Salah satu hal yang menonjol dari teori Fanger adalah dihasilkannya suatu rumusan bahwa ‘kenyamanan suhu’ merupakan
fungsi dari 4 (empat) faktor iklim (climatic factors) yakni : suhu udara (oC),
suhu radiasi (oC), kelembaban udara (%) dan kecepatan angin (m/s),
serta fungsi dari 2 (dua) faktor individu : jenis aktifitas (dinyatakan
dengan laju metabolisme tubuh, met) serta jenis pakaian (dinyatakan
dalam unit i clo) yang dikenakan.
Sementara itu dalam buku Standar Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung yang diterbitkan oleh Yayasan LPMB – PU dinyatakan bahwa suhu nyaman untuk orang Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Suhu nyaman antara 20,5 – 22,8oC ET (suhu efektif)
2. Suhu nyaman optimal antara 22,8 – 25,8oC ET
3. Hangat nyaman antara 25,8 – 27,1oC ET
H. Tinjauan Iklim Tropis Di Makassar
Makassar sebagaimana daerah Indonesia lainnya beriklim tropis
lembab. Kota Makassar terletak antara 119o24’17’30’ Bujur Timur dan
5o8’6’19’ Lintang Selatan. Mengingat kedudukannya di daerah
khatulistiwa, maka arah angin dipengaruhi oleh muson yang terdiri atas dua musim, yaitu musim hujan pada bulan Nopember sampai April dan musim kemarau pada bulan Mei sampai Oktober.
Berdasarkan pencatatan Stasiun Meteorologi Maritim Paotere, kondisi iklim di Makassar secara rata-rata adalah :
1. Tingkat kelembaban udara berkisar antara 67% - 90% 2. Curah hujan 428 mm dengan hari hujan 16 hari
3. Temperatur udara sekitar 26,4oC – 28,3oC
4. Kecepatan angin rata-rata 81 knot.
Tabel 2.1
Pada Stasiun Maritim Paotere di Makassar Tahun 2001
Bulan
Suhu Udara
Rata-rata Maksimum Minimum MinimumAbsolut MaksimumAbsolut
Januari 26,4 30,4 24,6 24,2 32,0
Pebruari 27,0 30,1 24,8 26,8 32,4
Maret 26,9 30,7 24,5 26,0 32,6
April 27,8 31,9 25,0 25,9 33,4
Mei 28,3 32,9 25,0 26,0 33,8
Juni 27,3 31,7 24,3 25,8 33,4
Juli 27,1 31,9 30,9 24,6 33,2
Agustus 26,7 31,9 23,3 25,4 32,8
Septembe
r 28,1 32,6 24,4 25,8 33,9
Oktober 28,0 33,0 25,0 26,0 34,4
Nopember 27,2 31,2 24,9 26,2 32,8
Desember 26,2 29,5 24,4 25,2 32,4
Rata-rata 27,3 31,5 25,1 25,7 33,1
Sumber : Makassar dalam Angka 2001 (BPS).
Tabel 2.2
Jumlah Kelembaban Udara dan Penyinaran Matahari Dirinci Tiap Bulan Pada Stasiun Maritim Paotere Makassar Tahun 2001
Bulan Kelembaban Udara(%) Penyinaran(%)
Januari 90 41
Sumber : Makassar Dalam Angka 2001 (BPS).
Jumlah Curah Hujan dan Hari Hujan Menurut Bulan
Pada Stasiun Maritim Paotere Makassar
Bulan Curah Hujan(mm) Hari Hujan(hari)
Januari 893 3
Sumber : Makassar Dalam Angka Tahun 2001 (BPS).
Tabel 2.4
Kecepatan Angin Rata-rata dan Kecepatan Angin Maksimum
(dalam knot) Dirinci Tiap Bulan pada Stasiun Maritim Paotere
Bulan Kecepatan AnginRata-rata Kecepatan AnginMaksimum
Januari 5,1 31