Dampak Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Pada Peningkatan Nilai Investasi Kota Yogyakarta
Oleh, Arif Zainudin, SIP1
Abstrak
Analisis ini mencoba untuk melihat dampak yang ditimbulkan oleh pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) pada peningkatan nilai investasi daerah. Metode yang digunakan dalam analisis dampak yakni pendekatan fenomenologik dan kuantitatif, kedua metode ini membantu peneliti dalam memetakan data lapangan. Dalam temuan analisis terungkap bahwa nilai investasi daerah pada setelah terbentuknya PTSP Kota Yogyakarta meningkat dengan laju investasi 0,67% per-tahun. Namun model pelayanan PTSP Kota Yogyakarta terlebih dahulu untuk menciptakan ketertiban pelayanan. Berdasarkan analisis yang telah dilaksanakan terungkap indikator peningkatan pelayanan seperti (1) SDM, (2) Infrastruktur, (3) Kejelasan Mekanisme Prosedur Pelayanan, (4) Kepastian Biaya, (5) Kepastian Waktu Pelayanan, dan (6) Kepastian Regulasi /Hukum.
Kata Kunci : Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Investasi Daerah, Kota Yogyakarta
A. Pendahuluan
Pelayanan publik merupakan hak setiap individu yang harus dilindungi. Hukum internasional, menjamin terpenuhinya hak – hak individu tersebut melalui konvensi internasional untuk penegakkan hak asasi manusia. Bahkan sebelum PBB mendeklarasikan DUHAM (Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia) pada tanggal 10 Desember 1948, Indonesia dalam pembukaan UUD 1945. Dalam alinea keempat UUD 1945 disebutkan2 :
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara
Indonesia yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ...
1
Alumni FISIP UPS Tegal, Mahasiswa Pascasarjana MIP UMY. 2
Untuk mengacu perwujudan kedaulatan rakyat dalam alinea tersebut mempunyai tujuan – tujuan dasar yang harus dicapai oleh Indonesia. Tujuan tersebut antara lain :
Meningkatkan harkat dan martabat bangsa;
Mengamanatkan kewajiban pemerintah untuk memberikan kemakmuran sebesar – besarnya bagi rakyat;
Memajukan kesejahteraan umum;
Mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia;
Transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan;
Mewujudkan pemerintahan yang baik dan bertanggung jawab;
Merupakan perwujudan dari penyelenggaraan pelayanan publik yang baik;
Sejalan dengan amanat tersebut, pemerintah menyadari perlunya untuk selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, dan selalu berupaya untuk mewujudkan pelayanan publik yang prima, yaitu pemberian pelayanan yang sederhana, murah, transparan, bermanfaat bagi masyarakat dan hasilnya dapat dipertanggung jawabkan.
Indonesia menjamin hak konstituen warga negara, maka negara juga menjamin tentang kesejahteraan ekonomi hal ini senada dengan implementasi UUD 1945. Maka untuk mewujudkannya perlu didukung dengan opmtimalisasi publik seperti pelayanan. Dengan berlakunya Undang – Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik menjadikan dasar untuk mewujudkan pelayanan publik, amanat dalam UU tersebut adalah :
Terwujudnya batasan dan hubungan yang jelas tentang hak, tanggung jawab, kewajiban dan kewenangan seluruh pihak terkait dengan penyelenggaraan pelayanan publik;
Terwujudnya sistem penyelenggraan pelayanan publik yang layak sesuai dengan asas – asas umum pemerintahan dan korporasi yang baik;
Terwujudnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik.
Dengan adanya UU N0. 25 tahun 2009, maka daerah diberikan kewenangan untuk meningkatkan tugas pemerintah salah satunya ialah melayani masyarakat. Dengan diwujudkan optimalisasi pelayanan publik maka tidaklah sulit untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kenapa demikian? karena dapat kita lihat bahwa menurut kajian yang telah dilakukan oleh world bank dalam menetapkan indikator investasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai berikut3 :
Membentuk lembaga Promosi Investasi;
Menciptakan Strategi Promosi Investasi;
Membangun kemitraan yang efektif;
Memperkuat citra Daerah yang kondusif;
Melihat dan membangkitkan peluang investasi;
Aspek pelayanan publik kepada investor;
Monitoring dan evaluasi aktifitas investasi;
Pemanfaatan teknologi informasi.
Berdasarkan dari indikator yang ditemukan oleh world bank maka ada korelasi tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini terlihat dari indikator aspek pelayanan publik kepada investor. Otpimalisasi pelayanan publik ini sangat membantu dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena melihat bahwa kesejahteraan masyarakat ini mencerminkan bagaimana seharusnya Negara berbuat untuk kepentingan masyarakatnya. Welfare State, pada dasarnya mengacu pada peran negara yang aktif dalam mengelola dan mengorganisasi perekonomian yang didalamnya mencakup tanggung jawab negara untuk menjamin ketersediaan pelayanan kesejahteraan dasar dalam tingkat tertentu bagi warganya4.
Menurut Hardiyansyah Kebijakan pelayanan publik diarahkan untuk;
pertama, penyerdehanaan penyelenggaraan pelayanan publik, melalui
3
Disampaikan pada penyelenggaraan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) sebagai implementasi reformasi birokrasi di bidang pelayanan publik oleh Deputi Bidang Pelayanan Publik. 2012.
4
restrukturisasi kelembagaan; kedua, melakukan penyerderhanaan pelayanan perizinan yang berkaitan dengan persyaratan, prosedur, proses dan penyelesaian perizinan5.
Dewasa ini pemerintah daerah telah mengambil kebijakan penyerdehanaan penyelengaraan pelayanan perizinan dengan membentuk lembaga Unit Pelayanan Terpadu (UPT), kebijakan tersebut sesuai dengan apa yang diamanatkan melalui Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 17 tahun 2005 tentang Pembentukan, Organisasi dan Tata Kerja Dinas Perizinan. Selanjutnya secara teknis diatur berdasarkan Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 09 tahun 2007 Tentang Penyelenggaran Perizinan Pada Pemerintah Kota Yogyakarta yang menerangkan ada 35 urusan perizinan. Dengan pembentukan pelayanan perizinan satu pintu ini diharapkan secara umum dapat mengatasi permasalahan klasik pelayanan dan dapat membantu peningkatan Pendapatan Asli Daerah.
B. Pembatasan Permasalahan
Dalam penelitian ini ada beberapa permasalahan yang akan diungkap oleh peneliti. Antara lain adalah (1) Apa dampak PTSP pada Pendapatan Asli Daerah Kota Yogyakarta?, dan (2) Apa yang dijadikan faktor strategis dalam pengembangan PTSP Kota Yogyakarta.
C. Metode Penelitian
C. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian dengan pendekatan positivik (Kuantitatif) dikaitkan dengan pengamatan – pengamatan fenomenologik (kualitatif) terkait dengan eksistensi penyelenggaraan pelayanan publik.
C.2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi Kota Yogyakarta mengingat Kota Yogyakarta sudah mempunyai pelayanan perizinan satu pintu yang dikelola
dengan paradigma new public management dan sudah beberapa kali dijadikan contoh dari pemerintah daerah sekitarnya guna mengoptimalisasi pelayanan.
D. Kerangka Teori
Pelayanan
Secara etimologi, pelayanan dapat dipahami dari arti kata dasar/pokok
layan ditambah dengan imbuhan pe dan an (pe-layan-an).
Pengertian layan (melayani) adalah :
1. Menolong menyediakan segala sesuatu yang diperlukan orang lain (
masyarakat )
2. Membalas, menyambut atau mengindahkan ( tantangan atau ajakan
sesorang dan sebagainya ).
3. Memakai atau menggunakan suatu alat, seperti mesin, meriam dan
sebagainya.
Berkaitan dengan pelayanan, ada dua istilah yang perlu diketahui, yaitu
melayani dan pelayanan. Pengertian melayani adalah membantu menyiapkan (
mengurus ) apa yang diperlukan seseorang. Sedangkan pengertian pelayanan
adalah usaha melayani kebutuhan orang lain6.
Beberapa pengertian dasar mengenai pelayanan publik yang terkandung didalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63 Tahun 2003 adalah sebagai berikut :
Pelayanan Publik adalah segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan peraturan perundang – undangan.
Mengikuti definisi tersebut diatas, pelayanan publik atau pelayanan umum dapat didefinisikan sebagai segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang pada prinsipnya menjadi tanggungjawab dan dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah di Pusat, di Daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah, dalam
6
rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang – undangan
Dalam pemberian pelayanan publik, penyelenggara pelayanan ini harus memperhatikan asas – asas pelayanan dalam rangka meningkatkan kualitas produk pelayanan perizinan. Menurut Zeithmal dan Gasperz mengemukakan sebagai berikut ini :
a. Bukti langsung (tangibles), yakni pelayanan yang berkaitan dengan fasilitas fisik, peralatan, dan penampilan personil penyedia layanan.
b. Kehandalan (realibility), yakni ukuran pelayanan yang bebas dari kesalahan – kesalahan atau kemampuan penyedia layanan dalam memberikan secara
akurat apa yang dijanjiakn atau apa yang disepakati dengan pelanggan (citizen charter).
c. Daya tanggap (responsiveness), yakni suatu rasa tanggung jawab, komitmen memberikan pelayanan prima, dan dalam membantu menyelesaikan berbagai kesulitan yang mungkin timbul saat merasakan pelayanan yang diterima pelanggan.
d. Jaminan (assurance), yakni jaminan atau garansi yang dapat diberikan oleh penyedia layanan atau suatu pelayanan yang ditawarkan untuk membangkitkan keyakinan pelanggan atas kemampuan penyedia layanan (pengetahuan, keahlian, sikap) dalam memperoleh suatu layanan yang ditawarkan atau yang diterima oleh pelanggan.
e. Empati (empathy), yakni tingkat perhatian dan kepedulian penyedia layanan atas kepentingan, kebutuhan, dan keluhan pelanggan (penerima layanan)7.
Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu
Salah satu pelayanan publik yang langsung berkaitan dengan kebutuhan masyarakat dan mempunyai pengaruh lanjut adalah pelayanan di bidang perijinan. Perizinan ini dapat digunakan untuk kepentingan sendiri seperti ijin
7
Parasuraman, A. Zeithalm, V dan Berry L. 1985. A Conceptual Model of Service Quality and its
mendirikan bangunan untuk tempat tinggal, tetapi ada pula yang mempunyai pengaruh lingkungan maupun usaha seperti ijin gangguan, atau ijin usaha.
Dalam pengertiannya pelayanan perizinan terpadu satu pintu adalah segala bentuk tindakan yang dilaukan oleh pemerintah kepada masyarakat yang bersifat legalitas atau yang melegelkan kepemilikan, hak, keberadaan dan kegiatan individu atau organisasi8.
Pembentukan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu ini masih dalam
frame langkah strategis dalam upaya memperbaiki penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat. Dalam landasan itu, Presiden mengeluarkan intruksi Nomor 3 Tahun 2006 tentang paket kebijakan perbaikan iklim investasi. Inti dari intruksi Presiden tersebut mengamanatkan kepada beberapa instansi pemerintah untuk segera melakukan beberapa kebijakan, program, dan tindakan dalam meningkatkan iklim investasi / usaha. Salah satunya adalah dengan menyederhanakan proses perizinan.
Dengan dasar instruksi presiden tersebut, pemerintah memberikan arahan secara teknis melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 24 Tahun 2006 tentang pedoman penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) adalah kegiatan penyelenggaran suatu perizinan dan non prizinan yang mendapat pendelegasian atau pelimpahan wewenang dari lembaga atau instansi yang memiliki kewenangan perizinan dan non perizinan yang proses pengelolaannya dimulai dari tahap permohonan sampai dengan tahap terbitnya dokumen yang dilakukan dalam satu tempat9.
Menurut Ratminto dan Atik Septi, mengungkapkan bahwa dalam penyelenggaraan pelayanan pemerintahan dan perizinan mempunyai perinsip – prinsip dasar diantaranya yakni :
a. Prinsip dasar penghapusan. Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, maka harus dilakukan penghapusan terhadap izin – izin yang sifatnya tidak prinsip dan memang tidak perlu. Izin – izin yang tidak sangat perlu dan cenderung mebebani masyarakat sebaiknya dihapus, shingga izin
8
Ratminto. dan Atik. 2012. Manajemen Pelayanan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Hal. 243 9
yang berlaku dan harus diurus oleh masyarakat adalah izin – izin yang memang sangat diperlukan.
b. Prinsip dasar penggabungan. Apabila penghapusan izin belum dapat dilakukan, maka dapat dilakukan minimalisasi dan penggabungan izin. Izin – izin harus diupayakan seminimal mungkin, atau apabila memungkinkan
beberapa izin dapat digabung menjadi satu. Dengan demikian akan dapat diciptakan izin yang bersifat komposit (satu izin untuk berbagai keperluan atau urusan).
c. Prinsip dasar desentralisasi. Dalam prinsip ini, harus diupayakan agar sejauh mungkin wewenang pemberian izin diberikan kepada instansi pemerintah yang paling bawah10.
Dalam PP No 27 Tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman Modal telah diatur bahwasannya asas penyelenggaraan pelayanan terpadu satu pintu, asas – asas tersebut ialah :
a. Kepastian Hukum; b. Keterbukaan; c. Akuntabilitas;
d. Perlakuan yang sama dan tidak membedakan asal negara; dan e. Efisiensi berkeadilan11.
E. Pembahasan
Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Yogyakarta
Dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat, berdasarkan SE Mendagri No. 503/125/PUOD Tahun 1997 perihal Pembentukan Unit Pelayanan Terpadu Perijinan di Daerah Pemerintah Kota Yogyakarta membentuk Unit Pelayanan terpadu Satu Atap dengan Keputusan Walikota Yogyakarta No. 01 Tahun 2000 tentang Pembentukan Unit Pelayanan Terpadu Satu Atap (UPTSA) Kota Yogyakarta.
10
Ratminto, dan Atik Septi W. 2012. Manajemen Pelayanan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Hal. 244 11
Dalam perkembangannya lembaga UPTSA hanya merupakan front office
sedangkan untuk proses perizinannya tetap di instansi/SKPD. Pada waktu itu menurut Keputusan Walikota Yogyakarta No. 01 tahun 2000 jenis pelayanan yang ada di UPTSA : Akta Capil, HO, TDI, TDG, SIUP, IMB, SAL, SAK, In-gang, IPPT, IPL, Sewa alat berat. Namun melihat kurang efektifnya lembaga UPTSA ini, maka walikota mengeluarkan surat keputusan Peraturan Daerah Kota Yogyakarta No. 17 Tahun 2005 tentang pembentukan, organisasi dan tata kerja dinas perijinan. Organisasi tersebut dibentuk guna merancang sistem penyelenggaraan pelayanan terpadu satu pintu bidang perizinan dan non-perizinan. Adapun tata organisasi tersebut sebagai berikut :
Gambar 1
Struktur Organisasi Dinas Perizinan Kota Yogyakarta Tahun 2013
Pola Pelayanan
Pola pelayanan terpadu satu pintu diselenggarakan pada satu tempat yang meliputi berbagai jenis pelayanan yang memiliki keterkaitan proses dan dilayani melalui satu pintu. Pola ini hakekatnya hampir sama dengan pola penyelenggaraan pelayanan terpusat, penyelenggaraan dilakukan pada satu tempat atau lokasi tertentu, dilayani melalui satu pintu.
Jenis pelayanan yang diberikan dinas perizinan berdasarkan PERDA 33 Tahun 2008 sebagai berikut :
Gambar. 2
Jenis Pelayanan Perizinan Kota Yogyakarta
Dengan diterbitkannya PERDA No. 17 Tahun 2005 Tentang Pembentukan Organisasi Pelayanan Perizinan, maka pelimpahan kewenangan secara administrasi diserahkan kepada dinas perizinan. Konsep pelimpahan wewenang secara penuh kepada Dinas/Instansi atau Unit Pelayanan Terpadu, memberikan keuntungan tercapainya tujuan peningkatan kualitas layanan publik akan lebih baik dan bertanggung jawab. Dinas/Instansi teknis, berperan dalam tim teknis peninjau lapangan (yang bersifat teknis dan/atau memiliki dampak berskala lebih luas, seperti pencemaran lingkungan). Dinas/Instansi tersebut akan lebih berfungsi pada pengawasan pelaksanaan pemberian izin dan Monev.
Berikut ini bentuk mekanisme Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu : Gambar 3
Mekanisme Pelayanan Dinas Perizinan Kota Yogyakarta
diri provider dan customer. Untuk memberikan kepuasan masyarakat, Dinas Perizinan Kota Yogyakarta memberikan kepastian biaya dan kepastian waktu yang tercermin dalam motto DINZIN Kota Yogyakarta. Adapun kepastian waktu tersebut seperti dibawah ini :
Gambar 4 Waktu Pelayanan
Sumber : Dinas Perizinan Kota Yogyakarta 2012
Dengan menerapkan asas kepastian sesuai dengan PP 27 Tahun 2009 Tentang Penanaman Modal. Pemerintah telah memberikan kejelasan dan kepastian kepada customer di Kota Yogyakarta. Untuk mendukung iklim investasi adalah penyederhanaan prosedur perizinan seperti yang telah dijelaskan pada gambar 3, kepastian waktu penyelesaian perizinan. Diakui membantu kemudahan perizinan di Kota Yogyakarta tercermin dari Survei
usaha. Survei ini terlaksana atas kerjasama International Finance Corporation,
World Bank Group, The World Bank, Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) dan Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI. Berikut ini tabel yang termuat dalam laporan Doing Business di Indonesia 2012.
Tabel 1
Peringkat Kemudahan Perizinan
Terbukti bahwa berdasarkan survei oleh Doing Business kota Yogyakarta menempati peringkat pertama dalam kemudahan memberikan izin. Indikator dalam pengukuran tersebut ialah waktu pelayanan, prosedur yang jelas, dan kepastian biaya.
Gambar 5
Faktor Determinan PTSP
Sumber : Analysis POWERSIM
Perkembangan Investasi Daerah Kota Yogyakarta
Telah diuraikan sebelumnya tentang pola pelayanan PTSP Kota Yogyakarta ditemukan bahwa faktor determinan dalam proses teknis antara lain (1) kejelasan mekanisme pelayanan, (2) SDM, (3) Kepastian Biaya, (4) Kepastian Hukum, (5) Infrastruktur pelayanan, (6) Kepastian waktu. Selanjutnya dengan adanya peraturan merubah sistem pelayanan sentralistik ke arah desentralistik maka pemerintah daerah diberi hak untuk menetapkan kepentingan investasi daerahnya sendiri. Maka dengan pola pelayanan yang mendukung akan dijadikan bahan pertimbangan investor untuk memberikan modal terhadap pembangunan Kota Yogyakarta.
Grafik 1
Pada grafik 1 tersebut jelas terbaca nilai investasi pada tahun 2006 hingga 2011 mengalami perkembangan yang positif. Dari setelah pembentukkan 2006 sebesar Rp. 121.11 miliar sampai pada tahun 2011 nilai investasi sebesar Rp. 591.85 Milliar, maka nilai pertumbuhan investasi per-tahun sebesar 0.67%.
Kemudian dapat dilihat jenis usaha baru per-tahun mengalami peningkatan hingga tahun 2011 mencapai 966 unit usaha baru, hal ini dilihat berdasarkan indikator diterbitkannya SIUP hingga tahun 2011.
Adapun perkembangan berdasarkan jenis usaha baru terlihat seperti grafik berikut ini :
Seperti terlihat pada grafik 2, jenis golongan usaha baru terbagi menjadi 4 yakni (1) CV, (2) koperasi, (3) Firma, dan (4) PT. Peningkatan per-tahun yang paling signifikan terlihat pada jenis golongan Perorangan.
Dampak yang jelas dari ketepatan investasi akan mempengaruhi pertumbuhan perekonomian kota Yogyakarta. Pertumbuhan ekonomi daerah menunjukkan pertumbuhan dari indikator nilai produksi barang – barang dan jasa yang dihasilkan dari satu tahun ke tahun berikutnya, yang mengindikasikan kinerja perekonomian daerah dalam menciptakan output atau nilai tambah suatu barang dan jasa. Pertumbuhan ekonomi diukur dengan memperthitungkan pertumbuhan investasi daerah dengan mempertimbangkan pertumbuhan PDRB.
Grafik 3
F. Kesimpulan
Dalam otpimalisasi PTSP Kota Yogyakarta dapat mempertimbangkan dari beberapa indikator antara lain (1) Regulasi / Dasar Hukum, dan (2) Pola Pelayanan.
(1) Regulasi / Dasar Hukum
Berdasarkan SE Mendagri No. 503/125/PUOD Tahun 1997 Pembentukan Unit pelayanan terpadu Perijinan di Daerah Pemerintah Kota Yogyakarta , kemudian ditingkat daerah PERWAL No 01 Tahun 2000 Tentang Pembentukan Unit Pelayan terpadu satu atap. Kemudian melihat kurang efektifnya, maka Pemerintahan Kota Yogyakarta mengeluarkan perda No 17 Tahun 2005 pembentukan, organisasi dan tata kerja dinas perijinan. Dengan Perda ini maka pelimpahan kewenangan yang semula senralistik kini menjadi desentralistik. Hal ini sejalan dengan asas pelayanan yakni kepastian hukum penyelenggaraan pelayanan terpadu satu pintu.
(2) Pola Pelayanan
Untuk memberikan dampak positif pada perkembangan Pendapatan Daerah, maka provider memperhatikan beberapa faktor determinan seperti kepastian waktu, kepastian biaya, SDM, kejelasan mekanisme pelayanan, infrastruktur pelayanan, dan kepastian hukum.
DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Hardiyansyah. 2011. Kualitas Pelayanan Publik, Konsep, Dimensi, Indikator, Dan
Implementasinya, Gaya Media, Jogjakarta.
Puspitosari, Hesti. dkk. 2011. Filosofi Pelayanan Publik. Malang : Setara Press. Ratminto. dan Atik. 2012. Manajemen Pelayanan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Jurnal :
Parasuraman, A. Zeithalm, V dan Berry L. 1985. A Conceptual Model of Service Quality
and its Implication for Future Research. Journal of marketing, Vol 49, 41-50.
Mulatto, Dkk. 2011. Pengembangan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Oleh Perangkat Daerah Kab/Kota Di Jawa Tengah. Pemprov Jateng.
Sumber Internet
http://id.wikipedia.org/wiki/pelayanan_publik
http://perizinan.jogjakota.go.id/home.php?mode=content&id=173
http://investasi.jogjakota.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=193&Itemid=267
http://investasi.jogjakota.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=195&Itemid=269
Peraturan :
UU No 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal,
PP 27 Tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu Di Bidang Penanaman Modal.
SE Mendagri NO 503/125/PUOD tahun 1997 perihal Pembentukan Unit Pelayanan Terpadu Perijinan di Daerah Pemerintah Kota Yogyakarta
Keputusan Walikota Yogyakarta No 01 tahun 2000 tentang Pembentukan Unit Pelayanan Terpadu Satu Atap ( UPTSA ) Kota Yogyakarta