• Tidak ada hasil yang ditemukan

21 FAKTOR RESIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN LOW BACK PAIN PADA PETUGAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "21 FAKTOR RESIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN LOW BACK PAIN PADA PETUGAS"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

21

FAKTOR RESIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN LOW BACK PAIN PADA PETUGAS CLEANING SERVICE UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO

Michael Wijaya Candra*, Diana Vanda Doda*, John S. Kekenusa*

*Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi

ABSTRAK

Prevalensi terjadinya musculoskeletal disorders (MSD) di tempat kerja masih tinggi, hal tersebut yang menjadi acuan masih perlunya dilakukan penelitian untuk menghasikan suatu metode pencegahan terjadinya MSD di tempat kerja. Salah satu gangguan MSD yaitu low back pain (LBP) atau nyeri punggung bawah yaitu gangguan yang disebabkan berbagai penyakit muskuloskeletal, gangguan psikologis, dan mobilisasi yang salah. MSD berdampak besar terhadap produktifitas para pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis antara work posture,umur, kebiasaan olaraga dan lama kerja dengan low back pain pada Cleaning service Universitas Sam Ratulangi Manado. Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional study yang dilaksanakan pada bulan November 2016 – Juli 2017 di Universitas Sam Ratulangi Manado, data penelitian berasal dari 80 responden. Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian menunjukan prevalensi low back pain (21,2%) dan hasil bivariat menunjukan ada hubungan signifikan antara low back pain dan work posture (p = 0.000) dan lama kerja (p=, 0,042).. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik nilai Wald Work posture (11,427) sehingga work posture paling berhubungan terhadap low back pain. Kesimpulan terdapat hubungan antara work posture dan Lama kerja dengan Low Back Pain dan Work posture paling berhubungan terhadap Low back pain pada petugas cleaning service universitas Sam Ratulangi Manado. Berdasarkan hasil penelitian ini, petugas cleaning service disarankan untuk dapat memperhatikan Work posture pada saat melakukan pekerjaannya.

Kata kunci : Gangguan musculoskeletal, Low Back Pain, cleaning service.

ABSTRACT

The prevalence of musculoskeletal disorders (MSD) in the workplace is still high, this is a reference still needs to do research to produce a method of prevention of MSD in the workplace. One of the disorders of MSD is low back pain (LBP) or lower back pain disorder that causes various musculoskeletal diseases, psychological disorders, and wrong mobilization. MSD has a major impact on the productivity of workers. This study aims to analyze the work posture, age, sport habits and working time with low back pain on cleaning service Sam Ratulangi University Manado. This research is an analytical research with cross sectional study approach conducted in November 2016 - July 2017 at Sam Ratulangi University of Manado, the research data is from 80 respondents. Data analysis used univariate, bivariate, and multivariate analysis. The results showed that the prevalence of lower back pain (21.2%) and bivariate results showed no significant relationship between low back pain and work posture (p = 0.000) and duration of work (p = .042) .. Based on the results of logistic regression analysis from Wald Posture (11,427) so that work posture is most associated with lower back pain. Conclusion There is a relation between work posture and Lama of work with Low Back Pain and Work posture most related to Low back pain at cleaning service officer of Sam Ratulangi University of Manado. Based on the results of this study, cleaning service officers are advised to be able to pay attention to work posture while doing the work.

(2)

22 PENDAHULUAN

Gangguan muskuloskeletal (MSD) adalah penyakit yang menimbulkan rasa nyeri berkepanjangan. Seseorang yang menderita gangguan muskuloskeletal merasakan keluhan mulai dari yang ringan sampai berat jika otot menerima beban statis secara berulang dan dalam kurun waktu yang lama. Timbulnya gangguan muskuloskeletal ini terkait dengan kondisi lingkungan kerja dan cara kerja yang tidak mendukung sehingga dengan kondisi seperti ini dapat menyebabkan kerusakan pada otot, syaraf, tendon, persendian, kartilago, dan diskus vertebralis. World Health Organization (WHO) mendefinisikan gangguan muskuloskeletal merupakan gangguan pada

otot, tendon, sendi, ruas tulang belakang, saraf perifer, dan sistem vaskuler yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan akut maupun secara perlahan dan kronis. Gangguan ini disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya adalah faktor pekerjaan seperti distorsi postur, postur statis yang terlampau lama, dan gerakan repetitive. MSD akibat kerja, banyak dilaporkan dan ditemukan terutama pada tenaga kerja yang melakukan kerja fisik seperti mengangkat, menurunkan, mendorong, menarik, menahan beban, gerak janggal yang melewati lingkup gerak sendi, gerak otot statis, dan masa istirahat yang tidak cukup. MSDs akan muncul apabila terjadi peningkatan beban kerja, baik secara fisik maupun nonfisik.

Di negara maju seperti di Amerika Serikat prevalensinya dalam satu tahun berkisar antara 15%-20%, sedangkan berdasarkan kunjungan

pasien ke dokter adalah 14,3% (Meliawan, 2009). Dalam satu tahun terdapat lebih dari 500.000 kasus nyeri punggung bagian bawah dan dalam 5 tahun angka insiden naik sebanyak 59%. Prevalensi pertahun mencapai 15 - 45% penyebab tersering penyakit kronis pada usia kurang dari 65 tahun dan peringkat kedua setelah penyakit vaskuler pada usia 65 tahun keatas (Kim, 2005). LBP merupakan salah satu masalah sosial utama ekonomi utama di Inggris karena 13% alasan seseorang tidak masuk bekerja disebabkan karena LBP. Insidensi setiap tahun pada orang dewasa mencapai 45% dan paling banyak menyerang usia 35-55 tahun (Amroisa, 2006).

(3)

23 pekerjaan adalah petani (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2013). Data dari survei work-related disease menunjukkan bahwa dari 43.000 pekerja di sektor pertanian, 27.000 pekerja mengalami keluhan LBP (Gusetoiu R, 2011). Belum ditemukan data prevalensi muskuloskeletal (musculoskeletal disorders/ MSD) di daerah Sulawesi Utara khusunya Manado

Secara umum definisi cleaning service adalah memberikan pelayanan, kerapihan, dan kebersihan dari sebuah gedung atau bangunan baik indoor ataupun outdoor sehingga tercipta suasana yang nyaman dalam menunjang aktivitas sehari-hari, juga untuk menjaga keutuhan dan bertanggung jawab atas semua benda yang termasuk dalam lingkungan kerja cleaning service tersebut. Cleaning service

dalam menjalankan profesinya akan menghabiskan waktu yang lama dengan posisi statis, karena berhubungan dengan pekerjaannya yang dimana di dalam melakukan pekerjaannya membersihkan suatu ruangan mempunyai posisi tangan dan bahu yang tetap stabil dalam waktu yang cukup lama, sehingga dapat berakibat cedera antara lain pada leher, bahu atau pada tulang punggung. Departemen Kesehatan Republik Indonesia menanyatakan bahwa 40,5% pekerja memiliki keluhan gangguan kesehatan yang berhubungan dengan pekerjaannya seperti, gangguan muskuloskeletal sebanyak 16,0%, gangguan kardiovaskular sebanyak 8,0%, gangguan saraf sebanyak 6,0%, gangguan kulit sebanyak 1,3%, dan gangguan telinga hidung tenggorokan sebanyak 1,0%. Gangguan

muskuloskeletal yang kerap terjadi, akibat posisi

tubuh sewaktu bekerja kurang ergonomis dan terjadi dalam waktu yang lama serta berulang-ulang. Salah satu pekerjaan yang rentan menghadapi adanya ancaman gangguan muskuloskeletal ialah cleaning service.

Pekerjaan cleaning service seperti mengangkat, membungkuk, gerakan memutar pada saat memindahkan barang dari sisi ke sisi lainnya dan menunduk saat bekerja dapat menimbulkann keluhan MSD. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kusrini (2005) pada petugas cleaning service di salah satu rumah sakit kota Semarang diperoleh gangguan muskuloskeletal yang paling tinggi dirasakan

yaitu di bagian pergelangan tangan dan telapak tangan (27%). Sifat MSD yang cenderung muncul secara perlahan sering -kali tidak dirasakan oleh para cleaning service. Studi terdahulu menjelaskan bahwa MSD bisa memperpendek waktu kerja para cleaning service. Tentu saja, risiko ini merupakan sesuatu

yang serius sehingga diperlukan penanganan preventif serta edukasi kepada cleaning service di Universitas Samratulangi.

(4)

24 terhadap beberapa cleaning service di unirversitas Sam Ratulangi di dapati bahwa ada beberapa orng yang mengelukan gaangguan low back pain disaat melakukan pekerjaan.

METODE

Penelitian ini merupakan jenis survei analitik dengan pendekatan cross sectional study.. Penelitian ini dilaksanakan pada seluruh cleaning service Universitas Sam Ratulangi

Manado pada bulan November – April 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh

Cleaning service yang bekerja di Universitas

Samratulangi Manado berjumlah 80 orang. Penentuan sampel dilakukan dengan metode total sampling.

Variabel bebas dari penelitian ini adalah work posture, umur, kebiasaan olaraga dan masa

durasi kerja dan variabel terikat dalam penelitian ini gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam Ratulangi Manado.

Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariate, dan multivariate.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hubungan Antara Posisi Tubuh Dengan Gangguan Low Back Pain Pada Cleaning Service Universitas Sam Ratulangi Manado

Hubungan antara posisi tubuh dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam Ratulangi Manado dapat dilihat pada Tabel 1.

Work posture

Low Back Pain Nilai p

Mengalami Tidak Mengalami Total

n % n % n %

Beresiko 4 8,2 45 91,8 49 100,0

Tidak Beresiko 13 41,9 18 58,1 31 100,0 0,000

Hubungan antara posisi tubuh dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas

Sam Ratulangi Manado menunjukkan bahwa antara posisi tubuh dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam

Ratulangi Manado yang beresiko dalam posisi tubuh ada 49 responden (61,2%) dengan yang mengalami low back pain sebanyak 4 responden (5,0%) dan yang tidak mengalami sebanyak 45 responden (56,2%), sedangkan yang tidak beresiko dalam posisi tubuh ada 31 responden (38,8%) dengan yang mengalami low back pain sebanyak 13 responden (16,2%) dan yang tidak

mengalami sebanyak 18 responden (22,2%). Berdasarkan hasil analisis uji chi-square didapatkan hasil dengan nilai p=0,000<α=0,05 yang menunjukkan terdapat hubungan antara posisi tubuh dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam Ratulangi Manado.

(5)

2.29-25 15.79, OR = 6.01). Dari OR yang didapat orang yang mempunyai posisi tubuh duduk berisiko mempunyai kemungkinan 6.01 kali untuk timbulnya nyeri punggung bawah. Penelitian menyebutkan bahwa posisi tubuh statis berhubungan dengan timbulnya nyeri punggung bawah. Salah satu posisi tubuh statis adalah posisi tubuh duduk. Menurut Chang (2006), 60 % orang dewasa mengalami nyeri punggung bawah karena melakukan aktifitas kerja lebih banyak dengan posisi tubuh duduk.

Istighfaniar dan Mulyono (2016) dalam penelitiannya mengenai Evaluasi Postur Kerja Dan Keluhan Muskoloskeletal Pada Pekerja Instalasi Farmasi menunjukkan penilaian postur kerja berdasarkan metode REBA dan RULA mayoritas memiliki level risiko yang tinggi. Keluhan muskoloskeletal yang sering terjadi pada pekerja terdapat pada bagian pinggang, pinggul, leher bagian bawah dan bagian atas. Instansi direkomendasikan untuk memberikan

pelatihan tentang ergonomi kerja sehingga dalam kesehariannya pekerja dapat menghindari kesalahan postur kerja, pekerja dianjurkan olah raga secara teratur terutama olah raga aerobic.

Hasil penelitian Wijayanti (2017) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lama duduk dan posisi duduk responden terhadap kejadian LBP pada penjahit konveksi di Kelurahan Way Halim Kota Bandar Lampung. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan putri, dkk (2016) mengenail Hubungan Masa Kerja dan Posisi Kerja dengan Kejadian Low Back Pain (LBP) pada Pekerja Pembersih Kulit Bawang di Unit Dagang (UD) Bawang Lanang Kelurahan Iringmulyo Kota Metro menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara posisi kerja dengan kejadian LBP (p-value 0,308) pada pekerja pembersih kulit bawang di UD Bawang Lanang Kelurahan Iringmulyo Kota Metro.

Hubungan Antara Umur Dengan Gangguan Low Back Pain Pada Cleaning Service Universitas Sam Ratulangi Manado.

Umur

Low Back Pain Nilai p

Mengalami Tidak Mengalami Total

N % n % n %

<42 Tahun 6 15,8 32 84,2 38 100,0

>42 Tahun 11 26,2 31 73,8 42 100,0 0,256

Hubungan antara umur dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas

Sam Ratulangi Manado menunjukkan bahwa antara umur dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam Ratulangi Manado yang berumur <42 tahun sebanyak 38 responden (47,5%) dengan yang mengalami low back pain sebanyak 6 responden

(6)

26 menunjukkan tidak terdapat hubungan antara umur dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam Ratulangi

Manado.

Data menunjukkan tidak ada perbedaan siginifikan antara kedua kelompok umur. Hasil ini berbeda dengan penelitian Syavina dkk (2013) yang menemukan petugas cleaning service di RSUD Kota Semarang sebagaian besar berjenis kelamin perempuan sebanyak 24 orang (72,7%) dan petugas cleaning service berjenis kelamin laki-laki sebanyak 9 orang (27,3%). Selanjutnya Syavina dkk menemukan bahwa petugas cleaning service yang berumur antara 20-46 tahun di RSUD Kota Semarang, mereka mengalami gejala-gejala kelelahan antara lain merasa lelah seluruh badan, sering menguap, mengantuk, sakit kepala dan merasa pusing selama menjalankan pekerjaan.Secara teorits, semakin bertambah umur maka kecepatan rangsang terhadap cahaya semakin menurun yang menunjukkan tingkat kosentrasi menurun sebagai tanda kelelahan subjektif. Perlambatan waktu reaksi dipengaruhi oleh faktor usia yang dapat dikarenaan adanya

perlambatan pada faal syaraf dan otot, seperti yang ditunjukkan hasil penelitian bahwa pekerja dengan umur > 40 tahun memiliki waktu reaksi yang lebih lama dibandingan pekerja dengan umur < 40 tahun. Hal ini membuktikan bahwa umur mempengaruhi fungsi faal karena adanya degenerasi organ. (Guyton, 2014) Pekerjaan rutin cleaning service tidak hanya membersihkan meja dan kursi, membuang sampah, membersihkan kaca indoor atau outdoor, membersihkan sarang laba-laba, membersihkan kamar mandi, membersihkan alat pemadam kebakaran, membersihkan tempat puntung rokok, membersihkan halaman, menyapu lantai atau lobby, dan mengepel lantai. Mereka bekerja bukan secara tim, namun secara individu pada area yang ditugaskan. Karyawan outsourcing harus hafal tidak hanya tata letak gedung, namun jadwal untuk kegiatan tiap kelas dari berbagai bagian di rumah sakit, terutama jika ada kegiatan-kegiatan tambahan sehingga tenaga kerja cleaning service tidak salah masuk ruangan ketika membersihkan atau bahkan mengunci pintu ruangan yang akan digunakan.

Hubungan Antara Olahraga Dengan Gangguan Low Back Pain Pada Cleaning Service Universitas Sam Ratulangi Manado

Kebiasaan Olahraga

Low Back Pain Nilai p

Mengalami Tidak Mengalami Total

N % n % n %

Teratur 7 19,4 29 80,6 36 100,0

Tidak Teratur 10 22,7 34 77,3 44 100,0 0,721

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa antara olahraga dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam Ratulangi

(7)

27 yang tidak mengalami sebanyak 36 responden (36,2%), sedangkan yang tidak tidak teratur olahraga sebanyak 44 responden (55,0%) dengan yang mengalami low back pain sebanyak 10 responden (12,5%) dan yang tidak mengalami sebanyak 34 responden (42,5%). Berdasarkan hasil analisis uji chi-square didapatkan hasil dengan nilai p=0,721>α=0,05 yang menunjukkan tidak terdapat hubungan antara olahraga dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam Ratulangi Manado.

Pekerjaan rutin cleaning servise tidak hanya membersihkan meja dan kursi, membuang sampah, membersihkan kaca indoor atau outdoor, membersihkan sarang laba-laba, membersihkan kamar mandi, membersihkan alat pemadam kebakaran, membersihkan tempat puntung rokok, membersihkan halaman, menyapu lantai atau lobby, dan mengepel lantai. Mereka bekerja bukan secara tim, namun secara

individu pada area yang ditugaskan. Karyawan outsourcing harus hafal tidak hanya tata letak gedung, namun jadwal untuk kegiatan tiap kelas dari berbagai bagian di rumah sakit, terutama jika ada kegiatan-kegiatan tambahan sehingga tenaga kerja cleaning service tidak salah masuk ruangan ketika membersihkan atau bahkan mengunci pintu ruangan yang akan digunakan. (Guyton, 2014)

Fathoni, dkk (2012) menyatakan untuk mengurangi keluhan low back pain pada perawat dapat dilakukan tindakan seperti proteksi kerja dengan alat pelindung diri/APD, olahraga khusus untuk memelihara kelenturan dan kekuatan otot pinggang untuk mengurangi keluhan low back pain. Oleh karena itu, Rumah sakit hendaknya melakukan standarisasi alat penunjang pelayanan keperawatan. Hal ini juga diharapkan akan diterapkan pada Cleaning Service Universitas Sam Ratulangi Manado

Hubungan Antara Lama Kerja Dengan Gangguan Low Back Pain Pada Cleaning Service Universitas Sam Ratulangi Manado

Lama Kerja

Low Back Pain Nilai p

Mengalami Tidak Mengalami Total

n % n % n %

≤ 2 Tahun 3 9,1 30 90,9 33 100,0

>> >2 Tahun 14 29,7 33 70,2 47 100,0 0,042

Hubungan antara lama kerja dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam Ratulangi Manado menunjukkan bahwa antara lama kerja dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam Ratulangi Manado yang

bekerja selama ≤2 tahun sebanyak 33

responden,dengan yang mengalami low back pain sebanyak 3 responden (9,1%) dan yang

(8)

28 responden (32,5%), kemudian yang bekerja selama 6-10 tahun sebanyak 12 responden (15,0%) dengan yang mengalami low back pain sebanyak 5 responden (6,2%) dan yang tidak mengalami sebanyak 7 responden (8,8%). Berdasarkan hasil analisis uji chi-square didapatkan hasil dengan nilai p=0,042<α=0,05 yang menunjukkan terdapat hubungan antara lama kerja dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam Ratulangi

Manado.

Penelitian yang dilakukan Fathoni, dkk (2012) mengenai low back pain pada perawat RSUD Purbalingga menunjukkan hasil uji korelasi didapatkan p=0,021<α= 0,05 terdapat hubungan antara masa kerja dengan low back pain pada perawat RSUD Purbalingga. Hal ini sejalan dengan penelitian Putri, dkk (2016) Hasil ini dianalisis dengan uji chi-square dan uji alternative Kolmogorov Smirnov menunjukkan terdapat hubungan antara masa kerja dengan kejadian LBP (p-value 0,001).

Secara teorits, semakin bertambah umur maka kecepatan rangsang terhadap cahaya semakin menurun yang menunjukkan tingkat kosentrasi menurun sebagai tanda kelelahan subjektif. Perlambatan waktu reaksi dipengaruhi oleh faktor usia yang dapat dikarenaan adanya perlambatan pada faal syaraf dan otot,seperti yang ditunjukkan hasil penelitian bahwa pekerja dengan umur > 40 tahun memiliki waktu reaksi yang lebih lama dibandingan pekerja dengan umur < 40 tahun. Hal ini membuktikan bahwa

umur mempengaruhi fungsi faal karena adanya degenerasi organ. (Guyton, 2014)

Pekerjaan rutin cleaning servise tidak hanya membersihkan meja dan kursi, membuang sampah, membersihkan kaca indoor atau outdoor, membersihkan sarang laba-laba, membersihkan kamar mandi, membersihkan alat pemadam kebakaran, membersihkan tempat puntung rokok, membersihkan halaman, menyapu lantai atau lobby, dan mengepel lantai. Mereka bekerja bukan secara tim, namun secara individu pada area yang ditugaskan. Karyawan outsourcing harus hafal tidak hanya tata letak gedung, namun jadwal untuk kegiatan tiap kelas dari berbagai bagian di rumah sakit, terutama jika ada kegiatan-kegiatan tambahan sehingga tenaga kerja cleaning service tidak salah masuk ruangan ketika membersihkan atau bahkan mengunci pintu ruangan yang akan digunakan.

Analisis Multivariat

(9)

29

Variabel B Wald Sig.

Posisi tubuh -2.408 11.427 0.001

Lama bekerja -1.285 6.741 0.009

Keterbatasan peneliti ini yaitu tidak melakukan kontrol terhadap faktor umur pada waktu melakukan analisa multivariate, sedangkan penelitian sebelumnya menemukan adanya pengaruh factor umur terhadap low back

pain (Riningrum 2016). Peneliti tidak

melakukan kontrol di karenakan penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional study.

Hasil uji bivariat menghasilkan nilai p dari variabel antara posisi tubuh, umur, olahraga dan lama kerja dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam Ratulangi

Manado di bawah 0,25. Selanjutnya dilakukan analisis multivariate terhadap semua variabel. Uji dilakukan dengan analisis regresi logistik untuk mengetahui variabel yang paling berhubungan dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam Ratulangi Manado menunjukkan bahwa posisi tubuh merupakan variable yang paling dominan dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam Ratulangi Manado yang

dinilai dari nilai wald sebesar 11,427

KESIMPULAN

1. Terdapat hubungan antara posisi tubuh dengan gangguan low back pain pada Cleaning Service Universitas Sam Ratulangi

Manado.

2. Tidak terdapat hubungan antara umur dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam Ratulangi Manado.

3. Tidak terdapat hubungan antara olahraga dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam Ratulangi

Manado.

4. Terdapat hubungan antara lama kerja dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas Sam Ratulangi Manado.

5. Variable posisi tubuh merupakan variable yang paling dominan dengan gangguan low back pain pada cleaning service Universitas

Sam Ratulangi Manado.

SARAN

1. Bagi institusi

a. Memanfaatkan sarana dan prasarana kesehatan yang ada untuk memantau status kesehatan cleaning service secara berkala. b. Meningkatkan kegiatan-kegiatan olahraga

yang memberikan peluang bagi cleaning service untuk bergerak aktif.

(10)

30 2. Bagi masyarakat

Membiasakan pola hidup aktif secara fisik misalnya memilih berjalan kaki dibandingkan naik kendaraan, menaiki tangga dibandingkan tangga berjalan atau lift, rutin berolahraga, serta mengurangi

pergerakan yang dapat mencederai. 3. Bagi pembuat kebijakan

a. Pemerintah pusat maupun daerah khususnya Kota Manado diharapkan menyediakan sarana dan prasarana umum yang kondusif untuk mengembangkan pola hidup aktif secara fisik, serta mempertimbangkan pengembangan kebijakan yang berkaitan dengan kesehatan cleaning service.

b. Dinas kesehatan dan ketenagakerjaan daerah diharapkan dapat bekerjasama dengan institusi yang menggunakan jasa cleaning service untuk mengadakan pemeriksaan status kesehatan secara berkala, memberikan penyuluhan kesehatan, serta mengembangkan program-program yang menunjang.

DAFTAR PUSTAKA

Anghel M, Ricard C, and Marck L. 2007.

Musculoskeletal disorders (MSDs)–

consequences of prolonged static

postures. J Exp Med Surg Res XIV.;4:167-

72.

Akobundu, Uzoamaka. 2008. Hubungan

Gangguan Bekerja dengan

Muskuloskeletal Penyebab dan

Pencegahan.Konsultasi

fisioterapi,Hopeville Fisioterapi Klinik,

40 Julius Nyerere Crescent, Asokoro,

Abuja.

Andini F. 2015. Risk Factors Of Low back Pain

In Workers. JMajority. 4(1): 12- 19.

Brukner P and Khan K. 2013. Thoracic and

Chest Pain, in Clinical Sports Medicine 2

nd edition, Australia: McGraw-Hill;

321-329.

Direktorat Bina Kesehatan Kerja, Direktorat

Bina Kesehatan Masyarakat, Departemen

Kesehatan RI, Strategi Nasional

Kesehatan Kerja di Indonesia, Katalog

613.63 Ind, Jakarta: Departemen

Kesehatan; 2007. Indonesian.

Ghazali MV, Sastromihardjo S, Rochani SS,

Soelaryo T, dan Pramulyo H. 2012.

Pemilihan Subyek Penelitian. dalam:

Sastroasmoro, S., Ismael, S., ed.

Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis.

Jakarta: CV. Sagung Seto.

Hayes MJ, Parker L, Windy S, and Andrew D.

2012; A systematic review of

musculoskeletal disorders among Dental Professionals. Int J Dent Hyg. 7:159–65. H. Riningrum, E. Widowati. 2016. Pengaruh

Sikap Kerja, Usia, Dan Masa Kerja

Terhadap Keluhan Low Back Pain. Jurnal

Pena Medika, Issn : 2086-843x

Ilyas M, and Dharmaji TP. 2012. Low Back

Pain In Dentists Of Indonesia. Community

Dentistry. 32(3):464-467.

Ma'ruf MT. 2015. Sikap Kerja Duduk

Ergonomis Selama Perawatan Gigi

Menurunkan Keluhan Muskuloskeletal

(11)

31 Mahadewa TG, dan Maliawan S. 2014.

Diagnosis & Tatalaksana Kegawat

Daruratan Tulang Belakang.

Jakarta:CV.Sagung Seto. hal156-157.

Maijunidah, Emi. 2014. Faktor yang

Mempengaruhi Keluhan Musculoskeletal

Disorders (MSDs) Pada Pekerja

Assembling PT X Bogor. Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta.

Notoatmodjo S. 2012. Ilmu Kesehatan

Masyarakat. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka

Cipta. 45

Notoatmodjo S. 2012 . Metodologi Penelitian

Kesehatan . Jakarta: Rineka Cipta. hal

41-42, 115, 124, 164-168.

Nurhikmah. 2014. Faktor - Faktor yang

Berhubungan dengan Musculoskeletal

Disorders (MSDs) Pada Pekerja

Furniture di Kecamatan Benda Kota

Tangerang. Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah Jakarta

Nurmianto E. 2013. Ergonomi Konsep Dasar

dan Aplikasinya. Jakarta:Guna Widya.

Putranto TH, Djajakusli R, dan Wahyuni A.

2014. Hubungan Postur Tubuh Menjahit

Dengan Keluhan Low back Pain (LBP)

Pada Penjahit di Pasar Sentral Kota

Makasar . 1-11.

Sarkar, P. A. and Shigli, A. L.2011.Ergonomics in General Practice. People’s Journal of Scientific Research.5(1):56-60.

Sidharta, Priguna. 2012. Neurologi Klinis

Dalam Praktek Umum.Cetakan ke-8.

Referensi

Dokumen terkait

5.2 Hubungan Faktor Individu (Usia, Masa Kerja, Jenis Kelamin, Kebiasaan Merokok dan Indeks Massa Tubuh) dengan Keluhan Low Back Pain pada Petani Jeruk di Desa Dokan Kecamatan

HUBUNGAN ANTARA LAMA DUDUK TANPA SANDARAN DENGAN RESIKO TERJADINYA LOW BACK PAIN PADA PEKERJA MEBEL.

lama duduk tanpa sandaran dengan resiko terjadinya low back pain pada. pekerja mebel

yang terjadi pada ligament ini atau struktur di dalam kanalis dapat memicu low. back

Latar Belakang : Low back pain merupakan gangguan pada tulang belakang yang dapat menyebabkan timbulnya nyeri sehingga menyebabkan gangguan fungsional yang

5.2 Hubungan Faktor Individu (Usia, Masa Kerja, Jenis Kelamin, Kebiasaan Merokok dan Indeks Massa Tubuh) dengan Keluhan Low Back Pain pada Petani Jeruk di Desa Dokan Kecamatan

5.2 Hubungan Faktor Individu (Usia, Masa Kerja, Jenis Kelamin, Kebiasaan Merokok dan Indeks Massa Tubuh) dengan Keluhan Low Back Pain pada Petani Jeruk di Desa Dokan Kecamatan

Medical management of low back pain Recommendations for the use of pain medications are generally consistent in treatment guidelines for low back pain.5 If pain medication is needed,