• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH HUKUM MEREK DAN KASUS MEREK BMW

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH HUKUM MEREK DAN KASUS MEREK BMW"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

HUKUM MEREK DAN KASUS MEREK BMW

Disusun Oleh:

Asmara Dewo (172216782)

Arsad Arifin (121215062)

Muhammad Zulfan (151215944)

Ahmad Yani (121612579)

Randa Ne Piliang (172216795)

M. Natsir (172216920)

Fransiskus Tibakoto (121612536)

Fakultas Hukum

Universitas Widya Mataram Yogyakarta

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kasus hukum merek yang terjadi di Indonesia, karena masih minimnya

pengetahuan hukum merek itu sendiri. Masyarakat luas juga tidak begitu peduli

dengan hukum merek. Terlebih lagi yang bergelut di dunia bisnis (memproduksi

barang atau jasa). Sehingga yang terjadi di kemudian hari timbul sengketa merek.

Selain itu ada pula pemilik BMW asal Jakarta yang diduga beriktikad tidak

baik saat mendaftarkan mereknya ke Jenderal Merek. Karena mereknya itu pula,

perusahaan BMW asal Jerman menggugatnya ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Merek merupakan salah satu kunci keberhasilan bagi perusahaan. Dengan

merek maka setiap produk barang atau jasa yang dihasilkan, konsumen akan

langsung mengenal perusahaan tersebut. Sehingga jika ada kasus merek, maka

pihak-pihak terkait akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenangkan

kasusnya di pengadilan.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana bisa terjadi kasus hukum merek antara BMW mobil asal jerman

(3)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Merek

Di Undang-undang Nomor 20 Tahun 2015 Tentang Merek dijelaskan

merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo,

nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (dua) dimensi

dan/atau 3 (tiga) dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 (dua) atau

lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi

oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau

jasa.

Merek dagang adalah merek yang digunakan pada barang yang

diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama

atau badan hukum untuk membedakan dengan barang-barang jenis lainnya.

Merek jasa adalah merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan

oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum

untuk membedakan dengan jenis-jenis jasa lainnya.

Hak atas merek adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara

kepada pemilik merek yang terdaftar dalam Daftar Umum Merek untuk

jangka waktu tertentu dengan menggunakan sendiri merek tersebut atau

memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakannya.

Selain merek biasa (tunggal) dikenal pula dengan merek kolektif,

yakni merek yang digunakan pada barang dan/atau jasa dengan karakteristik

yang sama yang diperdagangkan oleh beberapa orang atau badan hukum

secara bersama-sama untuk membedakan dengan barang dan/atau jasa sejenis

lainnya. Merek juga bisa dialihkan dengan cara: 1. Pewarisan, 2. Wasiat, 3.

Hibah, 4. Perjanjian, 5. Sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan

perundang-undangan.

Merek yang terdaftar mendapat perlindungan hukum selama 10 tahun

dan berlaku surut sejak tanggal penerimaan pendaftaran. Merek dapat dimiliki

oleh satu orang atau lebih atau badan hukum. Hak merek dinyatakan eksklusif

(4)

untuk menggunakan sendiri atau memberikan izin kepada orang lain untuk

menggunakannya sebagaimana ia sendiri menggunakannya.

Pemberian izin ini biasanya disebut pemberian lisensi kepada orang

lain dalam jangka waktu tertentu dengan biaya yang sudah disepakati, dan

didaftarkan pula kepada Direktorat Merek untuk dicatat dalam Daftar Umum

Merek. Definis lisensi adalah izin yang diberikan pemilik merek terdaftar

kepada seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan

hukum untuk menggunakan merek tersebut, baik untuk seluruh atau sebagian

jenis barang atau jasa yang didaftarkan.

Adrian Sutedi S.H., M.H dalam buku Hak Atas Kekayaan Intelektual

menerangkan pencatataan itu dimaksudkan agar akibat hukum dari

pengalihan Hak Atas Merek terdaftar tersebut berlaku terhadap pihak-pihak

yang bersangkutan dan terhadap pihak yang ketiga. Pihak-pihak yang

dimaksud adalah pemilik merek dan penerima pengalihan atas merek.

Sedangkan pihak ketiga adalah yang menerima lisensi. Tujuan pendafataran

itu juga untuk mempermudah pengawasan dan mewujudkan kepastian

hukum.

B. Indikasi-geografis dan Indikasi-asal

1. Indikasi-geografis

Indikasi-geografis Indikasi-geografis dilindingi sebagai suatu tanda

yang menunjukkan daerah asal suatu barang, yang karena faktor

lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau

kombinasi dari kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas

tertentu pada suatu barang yang dihasilkan. Dr. Ahmadi Miru dalam

bukunya Hukum Merek, Cara Mudah Mempelajari Undang-undang Merek

menerangkan bahwa indikasi-geografis adalah suatu indikasi atau identitas

dari suatu barang yang berasal dari suatu tempat, daerah atau wilayah

tertentu yang menunjukkan adanya kualitas, reputasi, dan karakeristik

termasuk faktor alam dan manusia yang dijadikan atribut pada barang

tersebut.

Tanda yang digunakan sebagai indikasi-geografis dapat berupa

(5)

tanda tersebut dapat berupa nama tempat, daerah, atau wilayah, kata,

gambar, huruf, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut.

Agar mendapat perlindungan hak merek indikasi-geografis ini bisa

diajukan oleh:

1. Lembaga yang mewakili masyarakat di daerah yang memproduksi barang

yang bersangkutan

2. Lembaga yang diberi kewenangan atas barang tersebut

3. Pedagang yang menjual barang tersebut

2.Indikasi-asal

Indikasi-asal dilindungi sebagai suatu tanda yang:

a. Menunjukkan daerah asal suatu barang, yang karena faktor lingkungan

geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari

kedua faktor tersebut pada barang yang dihasilkan, tetapi tidak

didaftarkan; atau

b. Semata-mata menunjukkan asal suatu barang atau jasa

C. Merek yang Tidak Dapat Didaftarkan

Menurut Undang-undang Merek Indonesia hal-hal yang tidak boleh

didaftarkan sebagai merek adalah:

1. Merek yang permohonannya diajukan atas dasar iktikad tidak baik

2. Merek yang bertentangan dengan moral, perundang-undangan, dan

ketertiban umum

3. Merek yang tidak memiliki daya pembeda

4. Tanda-tanda yang telah menjadi milik umum. Contohnya terngkorak dan

tulang bersilang sebagai tanda bahaya

Permohonan merek juga ditolak jika:

1. Mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhan dengan merek

yang sudah terdaftar milik orang lain, atau sudah didaftarkan terlebih

(6)

2. Mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhan dengan merek

terkenal milik pihak lain untuk barang atau jasa sejenis.

3. Mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhan dengan indikikasi

geografis yang sudah dikenal

4. Nama atau singkatan nama dan foto dari orang terkenal, atau badan

hukum, tanpa izin darinya.

5. Lambang-lambang negara, bendera tanpa izin dari pemerintah.

6. Tanda atau cap atau stempel resmi dari tanpa persetujuan tertulis dari

pihak yang berwenang

D. Proses Pendaftaran Hak Merek

1. Pemeriksaan Subtantif

Direktorat Jendral selain memeriksa kelengkapan administratif

terhadap permohonan pendaftaran hak merek, juga melakukan

pemeriksaan subtantif yang diselesaikan dalam waktu paling lama 9 bulan.

Pemeriksaan subtantif itu mengacu pada ketentuan Pasal 4, Pasal 5, dan

Pasal 6, Undang-undang No.15 Tahun 2001 Tentang Hak Merek. Apakah

merek yang terdaftar tersebut diajukan oleh pemohon yang beriktikad baik

atau merek tersebut memenuhi unsur yang mengharuskan merek ditolak

pendaftarannya atau merek tersebut memang tidak dapat didaftarkan,

2. Pengumuman Permohonan

Selanjutnya Direktorat Jenderal menyetujui permohonan merek

tersebut untuk didafatkan dan mengumumkan permohonan tersebut dalam

Berita Resmi Merek. Pengumuman tersebut berlangsung selama 3 bulan

dilakukan dengan:

a. Menempatkannya dalam Berita Resmi Merek yang diterbitkan secara

berkala oleh Direktorat Jenderal; dan/atau

b. Menempatkannya pada sarana khusus yang dengan mudah serta jelas

dapat dilihat oleh masyarakat yang disediakan oleh Direktorat Jenderal.

(7)

a. nama dan alamat lengkap pemohon, termasuk kuasa apabila

dalam hal permohonan diajukan dengan menggunakan hak prioritas; dan

e. contoh merek. Termasuk keterangan mengenai warna, dan apabila

etiket merek menggunakan bahasa asing dan/atau angka yang tidak lazim

digunakan dalam bahasa Indonesia, harus menyertakan terjemahan dalam

bahasa Indonesia, huruf latin atau angka yang lazim digunakan dalam

bahasa Indonesia, serta pengucapannya dalam ejaan latin.

3. Keberatan dan Sanggahan

Selama jangka waktu pengumuman, setiap pihak dapat

mengajukan keberatan secara tertulis kepada Direktorat Jenderal atas

permohonan yang bersangkutan dengan dikenai biaya. Keberatan tersebut

dapat diajukan apabila terdapat alasan yang cukup disertai bukti bahwa

merek yang berdasarkan Undang-undang Merek tidak dapat didaftarkan

atau harus ditolak.

Dalam hal keberatan pihak tertentu, Direktorat Jenderal dalam

waktu paling lama 14 hari terhitung sejak tanggal penerimaan keberatan

mengirimkan Salinan surat yang berisikan keberatan tersebut kepada

pemohon atau kuasanya.

Pemberian kesempatan kepada setiap pihak untuk mengajukan

keberatan atas permohonan pendaftaran merek, menunjukkan bahwa

bbukan hanya pemilik merek terdaftar yang dapat mengajukan keberatan

atas suatu permohonan pendaftaran merek, tetapi siapa saja yang

berpendapat bahwa merek yang dimohonkan pendaftaran tersebut

harusnya ditolak atau tidak dapat sebagai merek.

(8)

Pemeriksaan kembali oleh Direktorat Jenderal dilakukan jika ada

pihak-pihak yang keberatan, atau si pemohon menyanggah penolakan

pendaftaran merek. Hal ini dilakukan sebagai bahan pertimbangan bagi

Direktorat Jenderal untuk menerima atau menolak pendaftaran hak merek.

Sertifikat merek dapat diberikan tanpa pemeriksaan kembali jika:

a. Tidak ada keberatan pada saat pengumuman; atau

b. Keberatan tidak diterima

Sertifikat Merek sebagaimana dimaksud di atas memuat:

c. Nama dan alamat lengkap pemilik merek yang didaftar;

d. Nama dan alamat lengkap kuasa, dalam hal permohonan diajukan oleh

pemohon yang bertempat tinggal di luar negeri dan yang menggunakan

hak prioritas;

e. Tanggal pengajuan dan tanggal penerimaan

f. Nama negara dan tanggal permohonan yang pertama kali apabila

permohonan tersebut diajukan dengan hak prioritas.

g. Etiket merek yang didaftarkan, termasuk keterangan mengenai macam

warna apabila merek tersebut menggunakan unsur warna dan apabila

merek meggunakan bahasa asing dan/atau huruf selain huruf Latin

dan/atau angka yang tidak lazim digunakan dalam bahasa Indonesia, harus

menyertakan terjemahannya dalam bahasa Indonesoa, huruf Latin, dan

angka yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia serta cara ucapannya

dalam ejaan Latin

h. Nomor dan tanggal pendaftaran

i. Kelas dan jenis barang dan/atau jasa yang mereknya didaftar; dan

j. Jangka waktu berlakunya pendaftaran merek.

5. Permohonan Banding

Permohonan banding dapat diajukan terhadap penolakan permohonan

yang berkaitan dengan alasan dan dasar pertimbangan mengenai hal-hal

subtantif. Banding tidak dapat diminta karena alasan lain, misalnya karena

(9)

secara tertulis oleh pemohon atau kuasanya kepada Komisi Banding Merek

dengan tembusan yang disampaikan kepada Direktorat Jenderal dengan

dikenai biaya.

Permohonan banding yang diajukan tersebut menguraikan secara

lengkap keberatan serta alasan terhadap penolakan permohonan sebagai hasil

pemeriksaan subtantif.

E. Penyelesaian Kasus Merek dan Sangsinya

Pemilik merek terdaftar dapat mengajukan gugatan terhadap pihak lain

yang secara tanpa hak menggunakan merek yang mempunyai persamaan pada

pokoknya atau keseluruhan, untuk barang atau jasa yang sejenis, yaitu:

a. Gugatan ganti rugi, dan/atau;

b. Penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan menggunakan merek

tersebut.

Yang dimaksud dengan ‘persamaan pada pokoknya’ adalah kemiripan

yang disebabkan oleh adanya unsur-unsur yang menonjol antara merek yang

satu dan merek yang lain, yang dapat menimbulkan kesan adanya persamaan

baik menggunakan bentuk, cara penempatan, cara penulisan, kombinasi antara

unsur-unsur, ataupun persamaan bunyi ucapan yang terdapat dalam merek

tersebut.

Syarat mengajukan permohonan gugatan ke Pengadilan Niaga:

a. Pemohon melampirkan bukti kepemilikan merek; yang berupa Sertifikat

Merek, tetapi dalam hal pemohon penetapan sementara adalah penerima

lisensi, bukti tersebut dapat berupa surat pencatatan perjanjian lisensi

b. Pemohon melampirkan bukti adanya petunjuk awal yang kuat atas

terjadinya pelanggaran merek

c. Keterangan yang jelas mengenai barang dan/atau dokumen yang diminta,

dicari, dikumpulkan, dan diamankan untuk keperluan pembuktian, yaitu

keterangan yang berupa uraian jenis barang atau jenis jasa yang diduga

sebagai produk hasil pelanggaran merek.

d. Adanya kekhawatiran bahwa pihak yang diduga melakukan pelanggaran

(10)

e. Pemohon membayar jaminan berupa uang tunai atau jaminan bank.

Besarnya jaminan ini sebanding dengan nilai barang atau nilai jasa yang

dikenai penetapan sementar.

Dalam hal ini pemegang lisensi merek juga bisa mengajukan gugatan,

baik secara sendiri, maupun secara bersama-sama.

Selama masih dalam pemeriksaan dan untuk mencegah kerugian yang

lebih besar, atas permohonan penggugat, hakim dapat memerintahkan tergugat

untuk menghentikan produksi, peredaran, dan/atau jasa yang menggunakan

tanpa hak merek tersebut. Si tergugat juga diminta oleh pengadilan untuk

menyerahkan barang atau nilai sampai adanya putusan pengadilan yang tetap.

Berdasarkan bukti yang cukup, pihak yang haknya dirugikan dapat

meminta hakim Pengadilan Niaga untuk menerbitkan surat penetapan

sementara, yakni: a. pencegahan barang yang berkaitan dengan hak merek, b.

menyimpan alat bukti yang berkaitan dengan merek tertentu. Selain

penyelesaian sengketa di pengadilan, para pihak bisa menyelesaikan sengketa

yang telah diatur dalam Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang

Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, yaitu: a. arbitrase, b.

konsultasi, c. mediasi, d. konsiliasi; atau, f. penilaian ahli.

F. Penyidikan Kasus Merek

Selain penyidik dari kepolisian, Pejabat Pegawai Negeri Sipil

tertentu di Direktorat Jenderal juga diberi wewenang khusus sebagai

penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun

1981 Tentang Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak

pidana di bidang merek.

Penyidik Pegawai Negeri Sipil mempunyai wewenang sebagai

berikut:

a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran aduan berkenaan dengan tindak

pidana di bidang merek

b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga

melakukan tindak pidana di bidang merek berdasarkan aduan tersebut pada

(11)

c. Meminta keterangan dan barang bukti dari orang atau badan hukum

sehubungan denga tindak pidana di bidang merek.

d. Melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan, dan dokumen

lainnya yang berkenaan dengan tindak pidana di bidang merek;

e. Melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat barang

bukti, pembukuan, catatan, dan dokumen lain serta melakukan penyitaan

terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti

dalam perkara tindak pidana di bidang merek;

f. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak

pidana di bidang merek.

Hasil penyidikan tersebut dilaporkan kepada penyidik polisi, dan

kepada Penuntut Umum melalui penyidik polisi, sebagaimana telah diatur

dalam Pasal 107 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum

Acara Pidana, sebagai berikut:

a. Untuk kepentingan penyidikan, penyidik dari kepolisian memberikan

petunjuk kepada penyidik pegawai negeri sipil dan memberikan bantuan

penyidikan yang diperlukan

b. Dalam hal suatu peristiwa patut diduga merupakan tindak pidana

sedang dalam penyidikan oleh penyidik pegawai negeri sipil dan kemudian

ditemukan bukti yang kuat untuk diajukan kepada penuntut umum,

penyidik pegawai negeri sipil melaporkan hal itu kepada penyidik dari

kepolisian.

c. Dalam hal tindak pidana telah selesai disidik oleh penyidik pegawai

negeri sipil, ia segera menyerahkan hasil penyidikannya kepada penuntut

umum melalui penyidik dari kepolisian.

G. Tindak Pidana Merek

Tindak pidana merek diatur dalam Pasal 100 Undang-undang

Nomor 20 Tahun 2015 Tentang Merek, sebagai berikut: Ayat 1: Setiap

Orang yang dengan tanpa hak menggunakan Merek yang sama pada

keseluruhannya dengan merek terdaftar milik pihak lain untuk barang

(12)

dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda

paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

Ayat 2: Setiap Orang yang dengan tanpa hak menggunakan Merek

yang mempunyai persamaan pada pokoknya dengan Merek terdaftar milik

pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi dan/atau

diperdagangkan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat)

tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar

rupiah).

Pada Pasal 100 ayat 1 penegertian dari “sama pada keseluruhan”

adalah merek yang digunakan oleh orang yang yang tidak berhak tersebut,

memang persis sama dengan merek yang sudah terdaftar. Sedangkan pada

Pasal 100 ayat 2 pengertian dari “sama pada pokoknya” adalah merek

yang digunakan oleh pihak yang tidak berhak tersebut ialah tidak persis

sama dengan merek yang telah terdaftar, tetapi tetap dapat menyesatkan

konsumen.

Undang-undang merek juga mengatur tindak pidana terhadap

pelanggaran atas indikasi-geografis. Sebagaimana diatur dalam Pasal 101:

Ayat 1: Setiap Orang yang dengan tanpa hak menggunakan tanda yang

mempunyai persamaan pada keseluruhan dengan Indikasi Geografis milik

pihak lain untuk barang dan/atau produk yang sama atau sejenis dengan

barang dan/atau produk yang terdaftar, dipidana dengan pidana penjara

paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak

Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

Ayat 2: Setiap Orang yang dengan tanpa hak menggunakan tanda

yang mempunyai persamaan pada pokoknya dengan Indikasi Geografis

milik pihak lain untuk barang dan/atau produk yang sama atau sejenis

denga barang dan/atau produk yang terdaftar, dipidana dengan pidana

penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak

(13)

Tindak pidana yang dimaksud di atas merupakan delik aduan, yang mana tindak

pidana tersebut bisa diproses bilamana ada pihak yang melaporkan karena

kerugian atau menjadi korban tindak pidana tersebut.

BAB III PEMBAHASAN

A. Kasus Hukum Merek BMW

(14)

Mobil BMW atau singkatan dari Bayerische Motoren Werke, dan

versi inggrisnya Bavarian Motor Works, bermula pada tahun 1913. Karl

Fredrick Rapp mendirikan Rapp Motoren Week, sebuah perusahaan yang

berfokus pada pembuatan motor di Munich, Jerman.

Saat itu Rapp memulai dengan usaha mesin pesawat terbang, dan

sempat mengalami sakit. Perusahaan Rapp tersebut dikembangkan lagi

oleh putranya yang bernama Gustav Otto. Otto lebih berfokus dalam

pengembangan usaha bidang pembangunan lapangan pesawat terbang

kecil. Dia membawa kesuksesan “Gustaf Flugmanschinefabrik” pada

usahanya.

Pada tahun 1916, Karl Fredrick Rapp mengundurkan diri dari

perusahaan Rapp- Motoren Werk karena soal keuangan. Sebelumnya,

perusahaan itu bekerjasama dengan Austro Daimler asal Amerika untuk

memenuhi permintaan pembuatan mesin Aero V12 karena tidak

mendapatkan izin penerbitan (under lisensi) yang menimbulkan

permasalahan.

Lalu perusahaan Rapp Motoren Werk diambil alih oleh

warganegara Austria, Franz Joseff Popp dan Max Fritz. Perusahaan Otto,

Gustav Flugmaschinefabrik, menggabungkan diri ke Rapp Motoren Werk,

dan penggabungan kedua perusahaan tersebut menjadi BWM AG di tahun

1918. Ag dalam bahasa Jermannya adalah aktiengesellchaft, yang artinya

saham perusahaannya diperjualbelikan di pasar saham.

Dan pada tahun 1928 sampai 1930-an BMW AG mulai melahirkan

BMW seri 303 bermesin 6 silinder dengan kapasitas 1200cc. Pada era

awal tahun1950 sampai 1963, BMW memproduksi seri 502 dengan

menggunakan mesin 8 slinder dengan kapasitas 2600cc.

Perusahaan mobil itu terus memproduksinya sampai sekarang

dengan tekhnologi yang semakin canggih sesuai pada zamannya. Di tahun

2018, setidaknya BMW memamerkan produk terbarunya di Indonesia

International Motor Show (IIMS). Di antaranya seperti BMW X3, yang

baru diluncurkan bulan April lalu, dan juga ada BMW 320i Luxury, BMW

(15)

Selanjutnya BMW 520i Luxury, BMW 740Li, BMW M4 Coupé, BMW

X1 sDrive18i xLine, BMW X5 xDrive35i xLine, dan BMW X6 xDrive35i

M Sport Edition.

BMW juga sudah didaftarkan di Jerman sejak tahun 1929, dan

terus diperpanjang sampai 28 Februari 2019 untuk barang di kelas 1, 2, 3,

4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14,15, 16, 17, 18, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26,

27, 28, 29, 30, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41 dan 42 termasuk, dan

tidak terkecuali di Jerman, Jepang, Hong Kong, India, Filipina, Thailand,

Turki, Komunitas Eropa (OHIM), dan negara-negara lainnya.

Pendaftaran pertama merek BMW di Jerman terdaftar di bawah

Pendaftaran Nomor 410579 pada 15 November 1929 dan berlaku hingga

28 Februari 2019 untuk barangbarang di Kelas 07 dan 12. Pendaftaran

pertama untuk BMW LOGO di Jerman setidaknya sejak tahun 1917,

(Keterangan dari keputusan Mahkamah Agung).

Logo BMW (Bayerische Motoren Werke) | Foto dari Wikipedia.org.

Logo BMW dipercaya berkaitan erat dengan produksi mesin-mesin

pesawat. Logo tersebut terdiri dari empat bagian seperempat lingkaran

(16)

representasi bergaya/artistik dari suatu baling-baling pesawat yang berputar

pada langit biru yang cerah. Warna putih dan biru juga merupakan warna

tradisional dari Bavaria, yang secara geografis merupakan negara bagian

terbesar Jerman, (keterangan dari Mahkamah Agung).

2. Profil Pakaian BMW (Body Man Wear) Asal Indonesia

Sedangkan BMW (Body Man Wear) yang dimiliki Henrywo Yuwijono

asal Indonesia adalah sebuah merk yang memproduksi pakaian, seperti

kemeja, kaos, celana jins, sampai celana dalam. Perusahaan yang dimiliki oleh

warga Muara Karang, Penjaringan, Jakarta Utara tersebut telah pengajuan

pendaftaran mereknya sejak tanggal 3 Mei 2002, dengan nomor pendaftaran

IDM000016513.

Dan tanggal pendaftaran mereknya 17 September 2004 di kelas 25:

yaitu pakaian pria/wanita, anak-anak dan bayi, pakaian pengantin, gaun pesta,

pakaian olah raga,pakaian muslim, baju koko, tunik, gamis, baju/celana

renang, pakaian dalam pria/wanita, anak-anak dan bayi, celana dalam

pria/wanita, anak-anak dan bayi, celana panjang/pendek, celana/baju senam,

baju-baju kaos, kaos singlet, kaos oblong, T-shirt, bretel, syal, kerudung,

mukena, kimono tidur, kimono mandi, jas, rompi, jacket, sweater, jas hujan,

rok dalam, underok, kutang wanita (BH), cadar, korset, sarung-sarung tangan,

sarung tangan bayi, popok bayi dari bahan tekstil, gurita-gurita, gurita bayi,

dasi, topi, ikat pinggang, kaos kaki, kaos kaki bayi, ikat kepala, ikat

pergelangan tangan, pelindung lutut, sepatu, sepatu olahraga, sepatu bayi,

(17)

Hangtag dan logo BMW (Body Man Wear) pada salah satu produknya | Foto dari

http://grosir-jeans.blogspot.co.id/p/boss-bmw.html

3. BMW Mobil Menggugat BMW Pakaian

Tanggal 10 Desember 2013, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat

mengabulkan gugatan Bayerishce Motoren Werke (BMW) asal Jerman

terhadap merek pakaian Bayerishce Motoren Werke (BMW) Indonesia.

“Mengabulkan gugatan penggugat seluruhnya,” ujar ketua majelis hakim

Gosen Butar Butar, Selasa, 10/12/2013, (Kontan.co.id).

Majelis hakim memutuskan amarnya berdasarkan pertimbangan bahwa

BMW milik penggugat terbukti sebagai merek terkenal di dunia. Sedangkan

BMW asal Indonesia, Henrywo Yuwijono (tergugat), mendaftarkan merek

Body Man Wear (BMW) dengan iktikad tidak baik. Mendompleng nama

BMW yang sudah terkenal di berbagai negara di dunia tersebut.

Dikutip dari Mahkamahagung.go.id, Merek mobil BMW dikenal

masyarakat dunia bisa diukur dari peringkat perusahaan 100-besar dari daftar

FORTUNE GLOBAL 500. Merek BMW tersebut berada di peringkat 12

(18)

Untuk memenuhi syarat berada dalam peringkat ini, berikut adalah

kriteria miminum yang harus dipenuhi: untuk memenuhi syarat, suatu merek

harus berada pada setidaknya di tiga benua utama, dan harus memiliki lingkup

geografis yang luas dalam pasar-pasar berkembang dan baru.

Tiga puluh persen dari pendapatan harus berasal dari luar negeri, dan

tidak lebih dari lima puluh persen dari pendapatan harus berasal dari salah satu

benua manapun. Dengan demikian, posisi yang dimiliki BMW di peringkat

Merek Global Terbaik/Global Best Brand memastikan keterkenalannya di

seluruh dunia. Hal ini berarti bahwa huruf BMW dapat langsung dikenali oleh

hampir semua orang berkaitan dengan usaha yang dimiliki penggugat.

Walaupun di lain kelas, Body Man Wear (BMW) di kelas 25,

sedangkan Bayerishce Motoren Werke (BMW) di kelas 07 dan 12, hakim

menilai merek Body Man Wear memiliki persamaan pada pokok BMW asal

Jerman tersebut.

1. Cara penyebutan dari huruf BMW, yang merupakan unsur dominan pada

merek milik Tergugat adalah identik dengan merek-merek BMW dan

LOGO BMW milik Penggugat;

2. Tampilan secara visual dari merek-merek milik Tergugat adalah sama

pada pokoknya dengan tampilan secara visual dari BMW dan LOGO

BMW milik Penggugat;

3. Kesan keseluruhan dari merek-merek Tergugat adalah sangat mirip dengan

Merek-merek BMW dan LOGO BMW milik penggugat.

Ketetapan itu berdasarkan Undang-undang No.15 Pasal 6 Ayat 1

Tahun 2001 Tentang Hak Merek, yang berbunyi: Permohonan harus ditolak

oleh Direktoral Jenderal apabila merek tersebut: a. mempunyai persamaan

pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek pihak lain yang sudah

terdaftar terlebih dahulu untuk barang dan/atau jasa yang sejenis; b.

mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek

yang sudah terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenisnya, c.

mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan

indikasi-geografis yang sudah dikenal.

(19)

Tak terima dengan keputusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat,

pihak tergugat (BMW: Body Man Wear) bersama kuasa hukumnya Ruly

Johari melakukan eksepsi (pembelaan). Dalam eksepsinya tersebut

gugatan dari penggugat sudah kadaluarsa:

1. Merek BMW Body Man Wear Daftar Nomor IDM000016513 dan

Merek Logo Daftar Nomor IDM000181631 milik Tergugat

masing-masing terdaftar sejak tanggal 3 Mei 2002 dan tanggal 5 Juli 2005 untuk

melindungi jenis-jenis barang yang termasuk dalam kelas 25;

2. Sementara itu gugatan pembatalan pendaftaran merek-merek milik

Tergugat seperti tersebut di atas baru diajukan oleh Penggugat ke

Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada tanggal 1 Agustus 2013;

3. Dengan demikian gugatan pembatalan pendaftaran Merek BMW Body

Man Wear Daftar Nomor IDM000016513 dan Merek Logo Daftar Nomor

IDM000181631 milik Tergugat diajukan setelah 5 tahun sejak tanggal

mulai berlakunya perlindungan Merek BMW Body Man Wear dan merek

Logo milik Tergugat tersebut, sehingga gugatan pembatalan merek ini

telah kadaluwarsa, sesuai dengan ketentuan Pasal 69 ayat (1)

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, yang menyebutkan:

“Gugatan pembatalan pendaftaran merek hanya dapat diajukan dalam

jangka waktu 5 (lima) tahun sejak tanggal pendaftaran Merek”;

5. Jika Penggugat mendalilkan dapat mengajukan gugatan pembatalan

pendaftaran merek ini tanpa batas waktu (sesuai ketentuan Pasal 69 ayat

(2) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek), dengan alasan

Tergugat telah beritikad tidak baik dalam mengajukan permintaan

pendaftaran Merek BMW Body Man Wear dan merek Logo tersebut, hal

tersebut tidak berdasar hukum dan mengada-ada;

6. Adapun argumen dan dalil-dalil hukum yang menunjukkan tidak adanya

itikad buruk dari Tergugat dalam mengajukan pendaftaran Merek BMW

dan merek Logo akan Tergugat uraikan dalam jawaban bagian pokok

(20)

7. Berdasarkan hal-hal tersebut, maka sudah selayaknya Majelis Hakim

yang memeriksa perkara ini menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat

diterima, karena telah kadaluwarsa, sesuai dengan ketentuan Pasal 69 ayat

(1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek;

“Lagi pula pengajuan pembatalan merek itu sudah melebihi batas

waktu menurut undang-undang, yaitu dalam jangka waktu 5 tahun," ujar

Ruly, dikutip dari Beritagar.id.

5. Keputusan Mahkamah Agung

Mahkamah Agung membacakan amar keputusannya nomor 79 K/

Pdt.Sus-HKI/2014 tanggal 27 Oktober 2014 sebagai berikut:

1. Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi HENDRYWO

YUWIJOYO (Henrywo Yuwijoyo Wong) tersebut;

2. Membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta

Pusat Nomor 50/Pdt.Sus/Merek/2013/PN Niaga Jkt. Pst., tanggal 10

Desember 2013;

Mengadili Sendiri:

1. Menolak gugatan Penggugat;

2. Menghukum Termohon Kasasi untuk membayar biaya perkara dalam

semua tingkat peradilan, yang dalam tingkat kasasi ditetapkan sebesar

Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah).

6. BMW (Bayerishce Motoren Werke ) Mengajukan Peninjauan

Kembali Tapi Ditolak

Permohonan Peninjauan Kembali (PK) oleh BMW dengan alasan:

Kekhilafan Judex Juris dan atau kekeliruan yang nyata dalam

mengabaikan secara total itikad tidak baik Termohon Peninjauan

Kembali/semula Tergugat dan tidak memberikan pertimbangan apapun

atas dasar hukum pengajuan gugatan berdasarkan ketentuan Pasal 4

Undang-Undang Merek yang mana hal ini merupakan pelanggaran atas

(21)

Upaya melakukan Peninjauan Kembali oleh BMW itu teryanya

tidak diterima oleh Majelis Hakim pada Mahkamah Agung pada tanggal

11 Mei 2016, berikut keputusannya:

1. Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima;

2. Menghukum Termohon Peninjauan Kembali untuk membayar biaya

perkara dalam semua tingkat peradilan dan pemeriksaan peninjauan

kembali, yang dalam pemeriksaan peninjauan kembali sebesar

Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).

Majelis beralibi gugatan pembatalan merek itu tidak diterima

karena barang yang disengketakan tidak sejenis. Mahkamah berargumen

bahwa hingga hari ini belum ada Peraturan Pemerintah (PP) sebagai tindak

lanjut dari Pasal 6 ayat 2 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang

Merek, (beritagar.id).

Dan BMW (Body Man Wear) yang dimiliki oleh Henrywo

Yuwijono kini sudah bisa bernapas lega, juga melanjutkan produksinya

karena ia sudah memenangkan kasus merek dengan BMW (Bayerische

Motoren Werke)asal Jerman.

BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kemenangan kasus hukum merek BMW (Body Man WearI pakaian

asal Jakarta dari penggugatnya BMW (Bayerische Motoren Werke) mobil asal

jerman itu dikarenakan hakim menolak Peninjauan Kembali yang diajukan

penggugat. Dan untuk pembatalan hak merek yang dipegang oleh BMW

pakaian itu sudah kadaluarsa, yakni lebih dari 5 tahun. Hal ini pula yang

menjadi pertimbangan majelis hakim. Selain itu juga soal pendaftaran kelas

(22)

kelas pakaian dan lain-lain, sedangkan BMW (Bayerische Motoren Werker) di

kelas yang berbeda.

Hal yang paling penting juga soal asas hukum merek, yakni first to file,

not first to use, maksudnya adalah mengutamakan siapa yang pertama kali mendaftar, bukan siapa yang pertama memakai. Jika dilihat kapan

pendaftarannya, maka BMW (Body Man Wear) sudah mengajukan hak

mereknya pada tanggal 3 Mei2002.

BMW (Bayerische Motoren Werker) pendaftaran merk di kelas 25

(pakaian, alas kaki, dan penutup kepala) pada 1 Agustus 2003 dengan nomor

permohonan D002003020151.

B. SARAN

Penyusun menyadari masih banyaknya kekurangan dari makalah hukum

merek ini. Mulai dari materi merek, data-data, dan informasi-informasi terkait

kasus hukum merek antara BMW (Body Man Wear) dengan BMW

((Bayerische Motoren Werker). Untuk itu pula penyusun membuka pintu

selebar-lebarnya atas saran dan kritikan yang membangun demi kesempurnaan

tugas-tugas makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Dr. Ahmadi, S.H., M.S, Hukum Merek, Cara Mudah Mempelajari

Undang-undang Merek, Rajagrafindo Persada, 2005

2. Leden Marpaun, S.H., Tindak Pidana Terhadap Hak Atas Kekayaan

Intelektual, Sinar Grafika, 1996

3. Adrian Sutedji, S.H., M.H., Hak Atas Kekayaan Intelektual, Sinar Grafika,

2013

4. Taryana Soenandar, S.H., Hak Perlindungan HAKI (Hak Milik

Intelektual) di Negara-negara Asean, Sinar Graffika, 2017

5. Undang-undang No 20 Tahun 2016 Tentang Merek

6. https://pdki-indonesia.dgip.go.id

7. Mahkamahagung.go.id (Diakses tanggal 7 Mei 2018)

8. beritagar.id/artikel/mahkamah

(23)

9.

Referensi

Dokumen terkait

Pada material yang lebih lebar, ditemukan Echinothambema yang merupakan pemakan deposit (deposit feeder). Beberapa fungsi padang lamun, yaitu: 1) sebagai

Uraian materi teknik refrigerasi seharusnya meliputi materi yang diajarkan di SMK dan mendukung materi yang diujikan pada uji kompetensi SMK yang dikeluarkan oleh

Dalam prespektif teoritik, pendidikan seringkali diartikan dan dimaknai orang secara beragam, bergantung pada sudut pandang masing-masing dan teori yang

48 hutan produksi terbatas yaitu jenis sengon, namun apabila pada masa yang akan datang terjadi perubahan kondisi hutan produksi terbatas baik dikarenakan

Seorang laki-laki berusia 34 tahun pada saat dilakukan wawancara di dapat data “ Mengatakan dirinya adalah presiden dan saya akan mengadakan rapat dengan pejabat, saya orang hebat

Berdasarkan pada tujuan desain pembelajaran fisika adalah untuk menghasilkan salah satu model pembelajaran, yang mendukung pelaksanaan KBK yaitu pembelajaran yang

Mengingat salah satu tujuan wakaf adalah sebagai sumber dana yang terus menerus untuk kepentingan pembiayaan fisik maupun non fisik maka harta wakaf harus merupakan

Hasil Penelitian: Hasil uji t tidak berpasangan pada variabel kebiasaan sarapan dan status gizi menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik pada z-score