• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pluralisme Hukum dan Reformasi Peradilan (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pluralisme Hukum dan Reformasi Peradilan (1)"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Pluralisme Hukum dan Reformasi Peradilan di era

Pembangunan Ekonomi Negara

Oleh :

Mirza Satria Buana, S.H, M.H

Law no doubt is a stabilizing or conserving force. It is also simultaneously a crucial instrument of social change (Wallace Mandelson)

Pendahuluan

(2)

Berkaca dari masa lalu kolonialisme tersebut, Indonesia harusnya dapat memanfaatkan kelebihan dari potensi sumber daya alam tersebut, sehingga dapat membantu Indonesia untuk mengembangkan pertumbuhan ekonomi makro negara yang pada akhirnya akan mensejahterakan rakyat banyak (welfare state) sesuai dengan amanah Undang-Undang Dasar 19451 . Dengan bermodalkan sumber daya alam tersebut sesungguhnya Indonesia memiliki bargaining position yang sangat dominan terhadap para investor-investor asing (PMA) yang ingin menginvestasikan modal mereka di Indonesia.

Tercatat dari tahun awal kemerdekaan Indonesia, sudah begitu banyak perusahaan-perusahaan asing yang ingin berinvestasi dan sudah berinvestasi di Indonesia, sebutlah nama-nama perusahaan asing (Multi National Corporation) seperti Shell (Belanda dan Inggris), Unicol (AS) dan Japex (Jepang) yang menguasai cadangan minyak bumi di perairan Ambalat di Kalimantan Timur2, Freeport (AS) di Irian Jaya/Papua, dan perusahaan raja minyak Chevron (AS) yang beroperasi di kepulauan Riau. Selain perusahaan-perusahaan diatas, di Indonesia juga banyak sekali terjadi sharing capital antara perusahaan pemerintah daerah dengan investor asing, seperti dalam contoh PT. Galuh Cempaka di Kalimantan Selatan yang bergerak dibidang penambangan intan, 60% sahamnya dimiliki GIM (Afrika Selatan)3, sampai kepada bidang produksi kelapa sawit di wilayah Kalimantan dan Sumatera hampir semuanya dimiliki oleh pengusaha negara tetangga Malaysia.

Fenomena diatas apabila dipandang dari sisi positif mungkin dapat disebut sebagai sebuah prestasi yang membanggakan, karena Indonesia sanggup menarik

1 Pasal 33 UUD 1945 Ayat (3),dan (4) Perubahan Ke-empat

2 http://tempointeraktif.com/hg/narasi/2005/03/08/nrs.20050308.id.html, diakses tgl 27 Oktober 2008

(3)

banyak investor-investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia, efek positif yang paling dapat dirasakan adalah pada bertambahnya angka pekerja (employee numbers) yang secara signifikan mengurangi jumlah penganguran (unemployee numbers), logisnya bila angka penganguran menurun maka secara otomatis tingkat kesejaheraan rakyat pun akan meningkat.

Tetapi fenomena pasar bebas (free liberalism) tersebut juga dapat membawa dampak negatif yang tidak kalah hebat, seperti: semakin dalamnya jurang antara pengusaha (the have) dengan pekerja (the have not), terabaikannya konsep penguasan hak adat atas tanah komunal (hak ulayat)4 , matinya usaha kecil dan menengah, tidak efektifnya proses alih teknologi negara maju terhadap negara berkembang, rusaknya lingkungan hidup akibat eksploitasi tambang yang berlebihan dan tidak adilnya pembagian keuntungan (profit sharing) sehingga pasar hanya dimonopoli oleh kekuasaan kapitalis global sedangkan negara hanya berperan sebagai penonton belaka.

Indonesia sebagai bagian dari komunitas internasional, jelas tidak bisa menafikan perlunya iklim investasi yang kondusif sebagai pra syarat wajib untuk dapat menjadi negara yang terus berkembang perekonomiannya di era globalisasi sekarang ini. Indonesia sebagai sebuah negara haruslah memiliki sifat yang dinamis dalam perkembangannya, karena eksistensi sebuah negara sangat tergantung dari kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan dan perkembangan yang terjadi pada lingkup global5. Kondisi dan fenomena globalisasi seperti ini semakin membuat batas-batas fisik antar negara seolah-olah tidak ada

4 Hasil Penelitian Tanah Adat di Kabupaten Kotabaru, Pulau Laut, Kalimantan Selatan, 2006, UNLAM Press, hlm.107

(4)

lagi (non-boundaries world), dan negara bisa dengan mudah berinteraksi dengan negara-negara lain tanpa ada halangan dan batasan untuk melakukannya. Tetapi dalam ranah aplikatif, kendala utama yang sering dihadapi oleh pemerintah untuk menarik minat investor untuk menanamkan modal asingnya adalah budaya formalitas birokrasi yang tidak praktis, cenderung kolusif dan praktik korupsi birokrasi di bidang perizinan dan pembagian royalty perusahaan pertambangan yang tidak fair dan kolusif.

Dalam praktiknya, tidak jarang terjadi economic corruption yang merupakan hasil selingkuh penguasa dengan pengusaha kolusif6. Sehingga investor merasa “ditikam dari belakang” oleh aparat-aparat di institusi negara dan pemerintah pun dirugikan ber-milyar-milyar rupiah karena efek economic corruption tersebut. Patut diingat bahwa, budaya kerja yang kolusif dari para aparatur administrasi dan penegak hukum di Indonesia secara terang benderang telah mencoreng asas kepastian hukum (legal predictablelity) dalam hukum investasi.

Berdasarkan deskripsi singkat diatas, tulisan ini akan menganalisa dan memberikan solusi atas berbagai permasalahan kontemporer yang dihadapi oleh Negara Pancasila Indonesia, seperti peranan hukum dengan ekonomi makro, penerapan konsep state legal pluralism yang akan membantu stabilitas hukum dan perekonomian negara dan urgensi perbaikan peradilan yang terpercaya (reliable court) yang akan membantu reformasi di bidang ekonomi dan hukum.

Mencari Korelasi Positif Hukum dan Ekonomi

Tidak sedikit literatur-literatur dan diskursus antara ahli hukum dan ahli ekonomi, yang membahas tentang korelasi antara hukum dan ekonomi pada masa

(5)

sekarang. Memang dalam suatu negara, kuatnya supremasi hukum dan stabilnya perekonomian merupakan indikator wajib dari suatu negara maju (developed country)7. Ambilah contoh negara-negara maju semisal Jepang dan Singapura, yang membangun kekuatan pasarnya dengan memberlakukan regulasi perekonomian (UU ekonomi) dengan sangat baik dan terarah, karena mampir semua UU yang bernafaskan ekonomi dibuat berdasarkan kebutuhan pasar (baik nasional maupun internasional) dan berorientasi pada kepentingan nasional, dalam artian hukum menjadi variable yang responsif terhadap kebutuhan ekonomi pasar dan kesejahteraan rakyat pada umumnya. Pada contoh diatas, hukum dan ekonomi menikmati relasi yang saling mempengaruhi (inter-dependent relation) dan menguntungkan satu sama lain (beneficial relation), tetapi dalam konteks Indonesia yang baru saja bangkit dari kubangan rezim otoriter Orde Baru yang mengekang hukum dalam penjara politik, hal tersebut menjadi sulit untuk dilakukan. Pola relasi hukum dan ekonomi di Indonesia pada saat ini, jauh dari hubungan saling sokong, saling bantu malah cenderung konfrontatif8.

Lawyers of developing countries have not employed their talents in developmental activities, and the role of law in economic development has been sadly neglected9

Dalam rezim otoriter Orde Baru, dibawah komando seorang Soeharto (the Smiling General) yang berjalan selama lebih dari 23 tahun, hukum dipandang sebelah mata oleh penguasa, hukum hanya dipandang sebagai kosmetik pelengkap semata, dan sebuah produk politik kekuasaan. Sedangkan ekonomi dipandang

(6)

sebagai kompas menuju negara kesejahteraan, kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintahan menjadi kewajiban dan kepatuhan bagi semua pihak yang berkecimpung didalamnya tanpa terkecuali. Bahkan tidak jarang kebijakan-kebijakan ekonomi pada rezim Orde Baru tersebut menabrak dinding pembatas yuridis10. Hal tersebut dapat terjadi karena citra penegak hukum dan ahli hukum (Lawyers) pada masa Orde Baru sangat korup dan pragmatis, karena terkontaminasi oleh politik kekuasaan negara, sehingga yang terjadi hukum bukannya mendukung pembangunan, tetapi malah mendukung kekuasaan semata.

Lawyers in developing countries do not enjoy a favorable public image, Too often they are associated in the popular mind with personal ambition and self-interest….it make the field of development law is virtually unknown11.

Rezim Orde Baru pada waktu itu berpendapat bahwa ukuran kemapanan suatu negara adalah dalam hal peningkatkan kemampuan ekonomi, dapat diketahui dari indikator Gross National Product (GNP). Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Karl.W.Deutsch pada tahun 1999 menunjukkan bahwa Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Inggris adalah negara-negara yang sangat mapan secara ekonomi di seluruh dunia 12.

The Domain of National Power in Term of Gross National Product

(1999)

RANK

GNP IN BILLIONS ($) PERCENTAGE (%)

CHANGE OF (%)

10 Ambilah contoh, Proyek Mobil Nasional (PT.Timor) yang dipegang oleh anak emas Soeharto (Tommy), proyek perkebunan Jeruk, Proyek Lahan Gambut Se-juta hektar di Kalimantan Tengah, Pembalakan hutan oleh Probosujetjo yang semuanya merugikan negara secara materii dengan melanggar batas-batas yuridis.

11 L.Micheal Hager, Ibid,Hal 256

(7)

United

Menurut hasil penelitian ini

,

hegemoni kapitalisme seolah-olah menjadi

jaminan atas keberhasilan empat (4) negara Kapitalis diatas untuk

menguasai perekonomian Internasional. Asumsi inilah yang dipakai rezim

Orde baru untuk memaksimalkan potensi ekonomi dengan cara

melaksanakan kebijakan-kebijakan ekonomi kapitalis dalam setiap denyut

nafas negara.

Pertumbuhan ekonomi pada masa rezim Orde Baru, secara kuantitas memang menunjukkan peningkatan yang signifikan bila dibandingkan dengan masa rezim Orde Lama. Tetapi yang patut disayangkan adalah, kekuatan ekonomi hanya dimonopoli oleh segelintir elit yang dekat dengan penguasa (Soeharto), perniagaan dengan cara yang kolusif inilah yang mengakibatkan Indonesia pada tahun 1998 masuk dalam jurang krisis moneter. Tanpa bermaksud membesar-besarkan, keadaan Indonesia pada masa rezim Orde Baru dapat dianalogikan dengan keadaan “Kandang-Kandang Sapi Raja Augeas”13 yang kotor dan bau.

(8)

Pengalaman pahit dari rezim Orde Baru tersebut, memberikan

pelajaran yang berharga akan pentingnya peranan hukum dalam

menjalankan perekonomian negara, dalam artian hukum haruslah bisa

menjadi

a guardian of economic development

14

dalam kegiatan

perekonomian negara yang kompetitif.

Nations must do so with the discipline of competition, and the knowledge

that some choices impede the

competetivenness

of the nation

15

Untuk menciptakan relasi harmonis antara hukum dengan

pembangunan ekonomi, diperlukan sebuah paradigma baru yang lebih

demokratis dan responsif. Idealnya, hukum harus dibersihkan dari pengaruh

penguasa (status quo), hukum haruslah dibentuk berdasarkan nilai-nilai lokal

masyarakat (

local values

) agar hukum dapat lebih tanggap terhadap aspirasi

masyarakat lokal, selain itu hukum juga harus dapat mengakomodir

nilai-nilai international (

international values

) yang dibawa oleh para

investor-investor asing, selama nilai-nilai tersebut tidak bertentangan dengan jati diri

bangsa dan negara. Relasi harmonis antara hukum dengan pembangunan

ekonomi, dapat dipahami dalam ilustrasi berikut ini:

14 Seperti yang pernah disampaikan Nandang, LLM,PhD, dalam suatu kesempatan diskusi. 15 Richard C.Breeden, The Globalization of Law and Bussiness in the 1980’s dalam Erman Rajagukguk, Hukum dan Pembangunan,Universitas Indonesia, 2007.

Local Values Internationa

l Values

Supremacy of Law

(9)

Sehingga pada akhirnya hukum dapat berperan secara objektif dan

responsif terhadap pembangunan nasional, bukan saatnya lagi hukum

menjadi variable inferior dibawah ekonomi ataupun dibawah

kepentingan-kepentingan lain.

If the law does not stay within these bounds, it may run so far ahead of its

people as to

lose its meaning

16

Konsep

state legal pluralism

dalam mendorong pembangunan

Indonesia

Sub judul ini bertolak dari sebuah asumsi bahwa Indonesia yang

merupakan negara pluralisme hukum, dimana Indonesia mengakui dan

menghargai bermacam-macam hukum (non-negara) yang ada di masyarakat

selain hukum nasional sendiri

17

. Konsep

state legal pluralism

tersebut

menjadi

urgent

untuk diterapkan guna untuk menciptakan stabilitas hukum

(

legal stability

) dalam negara, guna mempercepat dan mendukung proses

pembangunan negara. Dalam bagian ini akan dipaparkan sejarah singkat

state legal pluralism

di Indonesia, dari fase awal (hukum adat), fase tengah

(hukum islam), sampai dengan fase terakhir yaitu fase hukum sipil eropa.

Fase Awal (Hukum Adat)

Indonesia, sungguh negara yang dikarunia Tuhan dengan begitu banyak kelebihan, tidak hanya dalam hal kekayaan alam (SDA), tetapi juga dalam hal

16 Leonard J.Theberge, Law and Development, dalam Erman Rajagukguk, Hukum dan Pembangunan,Universitas Indonesia, 2007.

(10)

kekayaan budaya dan adat istiadat masyarakat yang sangat heterogen. Jauh sebelum kedatangan bangsa Barat ke Nusantara, masyarakat adat telah lama hidup dalam ikatan hukum adat yang berasal dari harmonisasi alam dan lingkungannya18. Masyarakat tersebut merupakan masyarakat pra-modernisasi, dimana kehidupan mereka sangat tergantung pada alam, masih memiliki pemikiran yang irrasional, dan anti terhadap nilai-nilai baru. Ketertundukan masyarakat adat terhadap hukum adat mereka bertujuan untuk menjaga keseimbangan kehidupan individu dan masyarakat19.

Fase Tengah (Hukum Islam)

Setelah memasuki awal abad ke-11, Nusantara memasuki suatu fase baru kehidupan, dimana pada masa itu pengaruh hukum Islam datang dan tersebar dihampir disemua wilayah Nusantara. Hukum Islam merupakan hukum yang sakral, dalam artian hukum tersebut dijiwai oleh unsur-unsur ilahiyah yang wajib dipatuhi dan diamalkan oleh semua penganutnya20. Dalam masa awal perkembangannya, hukum Islam menghadapi cobaan yang berat ketika harus berhadapan dengan hukum adat masyarakat yang telah lebih dulu ada dan berkembang di Nusantara. Pada masa itu, pendekatan yang dilakukan oleh para pendakwah Islam bisa dibilang sangatlah cerdas, mereka tidak cenderung konfrontatif dengan tradisi hukum adat, malah mereka merangkul masyarakat adat dengan cara yang persuasif dengan tetap menghargai dan mengakui hukum adat mereka masing-masing. Dalil yang digunakan oleh para pendakwah ini adalah ulf, yaitu sumber hukum yang

18 Dr.Abdurrahman,S.H,M.H, Kedudukan Hukum Adat dalam Perundang-undangan Agraria Indonesia, Akademika Pressindo,Jakarta, 1984, Hlm 34

(11)

mendasarkan diri pada adat dan kebiasaan masyarakat setempat21. Prinsip dasarnya adalah hukum adat tetap diakui sebagai hukum selama adat tersebut tidak bertentangan dengan sumber dasar hukum Islam (Al-Qur’an dan Hadist), sehingga Hukum islam dianggap sebagai penyempurna Hukum Adat di Nusantara22. Dengan pendekatan seperti inilah maka hukum adat dan hukum islam bisa berjalan dengan harmonis sampai saat ini.

Fase Akhir (Hukum Sipil Eropa)

Tetapi cobaan pluralisme hukum di Nusantara, tidak berhenti sampai disitu, pada akhir abad ke-17 Bangsa Belanda datang ke Nusantara dengan membawa tradisi hukum baru yang bernama hukum Sipil yang berasal dari Eropa Kontinental. Pada fase ini, gesekan antara hukum adat, hukum islam dan hukum sipil eropa tidak bisa dihindari. Golongan islam idealis beranggapan bahwa hukum sipil merupakan sistem hukum sekuler23, golongan pembela hukum adat beranggapan bahwa hukum sipil merupakan hukum yang tidak humanis dan cenderung eksploitatif ,hal ini dapat dibuktikan dengan bukti sejarah pada masa pemerintahan Raffles (1811-1816) yang memberlakukan sistem pajak tanah (landrent), dan masa pemerintahan Van den Bosch (1830) yang memberlakukan sistem tanam paksa (cultuurstelsel)24. Sedangkan kalangan bangsa eropa berpendapat bahwa hukum yang sudah lebih dulu di Nusantara merupakan produk mistik semata dan jauh dari rasionalitas.

Sekuat apapun tradisi hukum islam dan hukum adat mencoba melawan tradisi hukum barat tetap saja laju roda positivisme hukum yang menjadi slogan

21 Abd al-Wahhab Khallaf,ilm Ushul al-Fiqh,dalam Ratno Lukito, Hukum Sakral dan Hukum Sekuler,Pustaka Alvabet,2008,hlm.85

22 Ratno Lukito,Ibid ,hlm 65 23 Ratno Lukito,Ibid,hlm.78

(12)

hukum sipil tidak dapat terbendung oleh kedua tradisi hukum lain, hal ini terbukti dengan banyaknya produk-produk hukum sipil eropa yang dipatuhi oleh masyarakat pribumi asli maupun timur jauh, seperti BW, WvS,dan lain-lain. Hal tersebut disinggung oleh L. Michael heger, yang menyatakan:

The fact that these legal system have been externally imposed or imported, rather than created from within25

Hal ini menjadi masalah ketika Indonesia merdeka, banyak aspirasi yang menginginkan pembentukan hukum nasional yang terbebas dari ikatan hukum sipil eropa, dari perdebatan yang panjang antara berbagai macam kelompok tersebut lahirlah sebuah konsep state legal pluralism (pluralisme hukum negara) yang mana diciptakan untuk mengakomodir keinginan-keinginan dalam masyarakat yang saling bersaing26.

Konsep tersebut diyakini sebagai konsep terbaik untuk Indonesia yang memiliki lebih dari satu tradisi hukum, multi suku dan agama, esensi dari konsep ini lebih sebagai stabilisator atau harmonisator yang mencoba untuk mengharmoniskan /mendamaikan tradisi hukum islam dengan hukum adat vis-à-vis hukum sipil eropa. Dengan menciptakan kestabilan hukum maka akan tercipta suatu konfigurasi hukum yang responsif terhadap pembangunan.

Dalam konteks hukum pertanahan, tidak hanya kepastian hukum yang akan didapat oleh investor, tetapi juga akan mencipatakan rasa keadilan sosial dan kemanfaatan bagi komunitas masyarakat adat karena (idealnya) para investor yang ingin berinvestasi di Indonesia tidak hanya tunduk kepada aturan normatif hukum negara saja (UU PMA, UU PA, UU Pertanahan dan UU Kehutanan), tetapi haruslah 25 L.Micheal Hager dalam Erman Rajagukguk, Op.cit,Hal 256

(13)

menghormati segala bentuk hukum-hukum tidak tertulis dan kearifan lokal (local genius) masyarakat lokal tersebut27. Sehingga terciptalah suatu relasi ideal, yang akan diilustrasikan sebagai beri

Perbaikan peradilan yang terpercaya

(reliable court)

dan

penyelesaian sengketa di luar pengadilan (

non-litigation

)

Sub judul ketiga pada makalah ini, bertolak pada suatu asumsi dasar bahwa suatu negara menjalankan jurisdiksi dalam setiap ruang lingkup publik dengan menggunakan hukum negara (pengadilan) sebagai penegak dan pencari keadilan di masyarakat28. Namun sebaliknya, walaupun ada negara, tetapi bila negara tidak berhasil hadir secara konkrit dan efektif dalam hal penegakan hukum dan pencari keadialan, maka otoritas di luar jalur pengadilan negara menjadi pilihan bagi warga masyarakat yang alergi dengan prosedural hukum negara yang kolusif29. Dalam artian, maraknya penggunaan metode penyelesaian sengketa di luar pengadilan

27 Hasil Penelitian Tanah Adat di Kabupaten Kotabaru, Pulau Laut, Kalimantan Selatan, 2006, UNLAM Press

28 Eddi Wibowo,Hukum dan Kebijakan Publik, Penerbit YPAPI,2004,hlm.13

29 Tamrin Amal Tomagalo, Masyarakat dan Negara Hukum, Law, Society and Development, Vol 1,2007,hlm.7

State Legal Pluralism

Investor Needs Tribal Community Rights

(14)

(non-litigation) merupakan residu dari rasa ketidak percayaan masyarakat terhadap peradilan negara, yang pada akhirnya akan menghalangi gerak maju pembangunan negara.

Reformasi peradilan negara

Salah satu agenda mendesak Indonesia saat ini adalah membersihkan peradilan negara dari praktek kotor judicial corruption yang sudah berakar kuat dalam kehidupan praktisi hukum di Indonesia. Sudah merupakan rahasia umum di dunia peradilan Indonesia, asas equality before law tidak diterapkan dengan baik dan cenderung kolusif, tidak ada yang sama di depan hakim-hakim di Indonesia, semua hanya dinilai dari segi tebal /tidak kantong seseorang atau berkedudukan/tidak seseorang. Judicial corruption telah dengan terang benderang mencederai perasaan keadilan masyarakat, menabrak asas kepastian hukum dan membuat hukum dari bermanfaat menjadi hudarat30.

Dalam konteks hukum investasi dan perdagangan internasional, iklim peradilan negara yang bersih dari korupsi merupakan syarat wajib dari terciptanya iklim investasi dan perdagangan internasional yang kondusif pula31. Investor dan perusahaan asing sebagai pihak yang ingin menanamkan modal kapitalnya pada bidang tertentu, pastilah menginginkan kepastian hukum (legal certainly) dalam berniaga. Sebaliknya, apabila iklim peradilan negara sangat kental dengan nuansa kolusif maka investor pun akan dengan berat hati meninggalkan negara tersebut. Di Indonesia, ada sebuah adagium yang mengatakan : berinvestasi di Indonesia lebih banyak “sunnah” dari “wajib”. Hal ini sungguh sangat memalukan dan memberikan

30 Denny Indrayana, Op.cit, hlm.199

(15)

citra buruk bagi Indonesia sebagai sebuah negara yang ingin berpartisipasi dalam ajang perdagangan internasional.

Peradilan sebagai gerbang terakhir pencari keadilan bagi para investor asing dan masyrakat lokal, tentu sangat perlu untuk di reform, yang menjadi titik tekan adalah dalam tubuh Mahkamah Agung (Supreme Court) sendiri, yang kinerjanya sering tidak efektif karena terlalu banyak perkara yang diperiksa oleh badan peradilan tertinggi ini. Idealnya, tidak semua perkara bisa sampai tingkat Kasasi, misalnya: perkara perdata yang menyangkut gugatan sampai jumlah tertentu cukup sampai tingkat pengadilan tinggi saja, sebagai pengadilan tinggi terakhir32. Dengan begitu maka peradilan akan semakin cepat, efisien , efektif dan tentunya lebih murah.

Selain dengan cara-cara yang konvensional diatas, peradilan juga bisa diperbaiki dengan cara yang revolusioner.Yaitu dengan, rekruitmen calon hakim harus dibersihkan dari praktik nepotisme dan main mata antar para aparat, kedepan akan lebih baik bila rekruitment tersebut dilakukan oleh suatu komisi yang bersifat independent dan impartial33, memberikan reward kepada hakim atau penegak hukum lain yang bersih dari korupsi dan memberikan punishment yang berat kepada hakim atau penegak hukum lain yang terbukti terlibat judicial corruption34.

Dengan direformasinya peradilan Indonesia, diharapkan akan menumbuhkan rasa kepercayaan internasional terhadap iklim pembangunan nasional di Indonesia dan sebagai ajang pembuktian diri oleh para praktisi hukum Indonesia bahwa 32 Erman Rajagukguk,S.H,LLM, Mahkamah Agung : Unifikasi, Reformasi dan Pengawasan, dalam Hukum dan Masyarakat, Bina Aksara, Jakarta,hlm.97

33 Wacana rekruitment para hakim Agung yang digagas oleh Komisi Yudisial, mendapatkan cobaan ketika kewenangan tersebut diamputasi oleh Mahkamah Konstitusi (MK).

(16)

hukum merupakan elemen penting dalam pertumbuhan. Law as a guardian of economic development.

Penyelesaian Sengketa di luar pengadilan (

Non-litigation

mechanism

)

Ketika suatu negara berkeinginan untuk terjun ke dalam sistem

perdagangan internasional, maka konsekuasi logisnya, negara tersebut

haruslah memiliki institusi penyelesaian sengketa perdagangan yang

terpercaya, efisien, dan efektif. Dalam suatu hubungan perniagaan, yang

diperlukan tidak hanya asas kepastian hukum semata tetapi juga banyak

pertimbangan psikologis dan budaya yang juga harus diperhatikan.

Dalam pertimbangan psikologis, Hubungan perdagangan dimaknai

sebagai hubungan kepercayaan, membawa perkara ke pengadilan negara

berarti menghadapi resiko putusnya hubungan dagang, yang berarti

kerugian secara ekonomis

35

. Cara-cara negosiasi dan mediasi lebih disukai

untuk diterapkan dalam lingkup perdagangan, seperti yang terjadi di Chili,

dimana para pekerja-pekerja di pabrik lebih memilih cara mediasi melalui

institusi yang disebut

the inpectorat

36

, padahal mereka memiliki

labour court

.

Hubungan kontrak antara perusahaan di negara-negara sosialis Polandia

ditangani secara arbitrasi oleh badan yang disebut

Arbitracs

37

. Sementara

cara-cara negosiasi lebih disukai dalam transaksi perusahaan-perusahaan

35 Sulistyowati Irianto, Sengketa dalam perspektif hukum dan budaya, dalam Law,Society and Development,Vol.1,2007,hlm.4

36 Ieswaart, dalam Sulistyowati Irianto,Ibid,hlm.3

(17)

besar di Amerika

38

. Dalam penyelesaian sengketa di luar pengadilan,

nilai-nilai adat masyarakat setempat, nilai-nilai agama, hukum nasional, hukum

internasional dan nilai-nilai universal menjadi acuan dasar untuk mencapai

keadilan dan kemanfaatan bersama tanpa ada perasaan sakit hati oleh salah

satu pihak (

win-win solutions

).

Selain pertimbangan psikologis diatas, para pelaku usaha perdagangan

juga tunduk kepada suatu nilai kepatutan dalam budaya mereka. Dalam

budaya Barat yang mengedepankan asas

equality before the law

,

melahirkan prinsip

win or lose

dalam penyelesaian sengketa mereka,

sedangkan pada masyarakat Timur, prinsip

win or lose

diakhir sengketa tidak

diinginkan, karena adanya budaya malu yang kuat didalam masyarakat

mereka. Sengketa antara pemilik pabrik kimia dan masyarakat yang hidup di

Teluk Minamata (1940-an). Pencemaran air yang begitu hebat dan

berdampak pada kesehatan (

Minamata Desease

) tidak menyebabkan

masyarakat membawa masalah tersebut ke pengadilan. Orang Jepang pada

umumnya lebih senang menyelesaikan sengketa dengan cara negosiasi dan

arbitrasi.

When stated, law is often portayed as something that Japanese do not use or

do not need; to never use the la, or be involved with the law, is the normal

hope of honorable people. To take someone to court to guarantee the

(18)

protection of one’s own interest, or to be mentioned in court, even in civil

matter, is a shameful thing. In word Japanese do not like law

39

.

Dalam konteks Indonesia, penggunaan penyelesaian sengketa di luar

pengadilan juga sering dilakukan dalam bidang perdagangan, terutama oleh

para pedagang-pedagang Cina yang menetap di Pulau Jawa dan Sumatera.

Mereka lebih mengedepankan nilai-nilai kekeluargaan, kekerabatan dan

menjaga hubungan baik kepada rekanan bisnis mereka. Cara ini dianggap

lebih efisien dan bermanfaat, ketimbang membawa perkara ke pengadilan

negara yang birokrasinya

bertele-tele

, kolusif dan terlalu lama.

Penggunaan penyelesaian sengketa diluar pengadilan, merupakan cara

alternatif yang dapat dipakai oleh pelaku-pelaku usaha perdagangan di

Indonesia, cara ini dapat menutupi kekurangan dari lemahnya sistem

peradilan di Indonesia. Dengan mempergunakan cara alternatif tersebut

maka iklim perdagangan akan semakin meningkat, investor akan tidak ragu

lagi untuk mengucurkan kapital pada industri besar maupun kecil di

Indonesia, sehingga roda pembangunan ekonomi Indonesia pun akan

berjalan dengan baik dan terarah berkat kawalan supremasi hukum dan

praktisi hukum yang pro terhadap pembangunan negara.

(19)

Kesimpulan

 Hukum dan ekonomi haruslah berada dalam gerbong lokomotif yang sama, berorientasi pada pembangunan negara, kemaslahatan masyarakat, keadilan sosial masyarakat dan memberikan kepastian hukum kepada para pelaku perdagangan baik nasional maupun internasional.

 Peranan hukum yang stabil dalam negara, merupakan syarat wajib dari terselenggaranya iklim investasi dan perdagangan yang baik. Indonesia sebagai penganut teori state legal pluralism, harus dapat mengaplikasikannya dalam setiap prilaku hukum di masyarakat. Sehingga akan tercipta hubungan yang harmonisasi antara hukum negara dan hukum non-negara (hukum islam dan adat), yang menciptakan rasa aman dan kepastian hukum bagi para pelaku perdagangan baik nasional maupun internasional.

 Peranan peradilan yang terpercaya merupakan syarat wajib dari penyelenggaraan pembangunan ekonomi suatu negara. Peradilan (perdata) sebagai pintu keadilan terakhir dari penyelesain sengketa perdagangan haruslah bersih dari unsur-unsur kolusif dan korupsi, reformasi di tingkat law enforcer wajib dilakukan segera, perbaikan birokrasi peradilan yang bertele-tela dan lamban merespon keinginan masyarakat juga wajib untuk diperbaiki sesegera mungkin.Transparansi dalam proses penyidikan perkara, penuntutan sampai pada putusan hakim wajib diberikan kepada masyarakat luas. Peradilan yang terpercaya mutlak diperlukan guna mendukung roda pembangunan ekonomi negara.

(20)

sosiologis, budaya dan nilai-nilai yang hidup dimasyarakat (living law) dapat dipakai untuk mencapai keadilan kolektif bagi semua pihak yang berperkara.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Kedudukan Hukum Adat dalam Perundang-undangan Agraria

Indonesia, Akademika Pressindo, Jakarta, 1984.

Adofl, Huala, Aspek-Aspek Negara dalam Hukum Internasional,PT.Raja

Grafindo, Jakarta,2002.

Deutsch,

Karl.

W,

Nationalism

and

Social

Communication

,rev.ed.Cambridbe,MA;MIT Press

Source from

International Monetary Fund 1999 and World Bank Atlas,Washington

DC

1999.

Indrayana, Denny, Negara Para Mafioso, PT.Kompas, Jakarta,2008.

Irianto, Sulistyowati, Sengketa dalam perspektif hukum dan budaya, dalam

Law, Society and Development,Vol.1, 2007.

Lelono, Guntur Purwanto Joko, Peranan Pengadilan Tinggi dalam mengatasi

kemacetan penyelenggaraan rapat umum pemegang saham, Penerbit

Guntur,2004.

Lukito, Ratno, Hukum Sakral dan Hukum Sekuler,Pustaka Alvabet, 2008.

Rajagukguk, Erman, Bahan Ajar : Hukum dan Pembangunan, Universitas

Indonesia, 2007.

(21)

Tomagalo, Tamrin Amal, Masyarakat dan Negara Hukum, Law, Society and

Development, Vol 1, 2007.

Tim Peneliti FH UNLAM, Hasil Penelitian Tanah Adat di Kabupaten Kotabaru,

Pulau Laut, Kalimantan Selatan, UNLAM Press, 2006.

Referensi

Dokumen terkait

Lima hambatan dalam sebuah analis keuangan mengenai pertanyaan untuk melengkapi pemahaman aktivitas perusahaan antara lain: istilah dan format yang tidak konsisten, volume

Dalam control rights yang kepemilikannya langsung, suatu persentase kepemilikan yang ada harus diklarifikasi apakah ada penyimpangan dari one-share-one-vote

a. Dengan beban lalu lintas dan daya dukung tanah dasar yang sama, maka ketebalan konstruksi perkerasan kaku lebih tipis dibandingkan perkerasan lentur.

Padatnya pemukiman penduduk di wilayah kelurahan Meteseh Kecamatam Tembalang, Kota Semarang tentunya juga mengakibatkan tingginya buangan limbah rumah tangga, buangan limbah

Kemudian, pada dasarnya penelitian ini masih memiliki beberapa kelemahan, untuk itu ada beberapa hal yang dapat peneliti rekomendasikan agar penelitian selanjutnya

H3: Nilai signifikan variabel citra merek yaitu 0,000 < 0,05 yang berarti citra merek secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian

Pembacaan standard output (dan standard error) secara realtime bisa dilakukan dengan menghubungkan SIGNAL readyRead() dan SLOT method readAll() pada objek QProcess.. Untuk