• Tidak ada hasil yang ditemukan

MACAM MACAM CARA TRANSAKSI DALAM MODEL U

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MACAM MACAM CARA TRANSAKSI DALAM MODEL U"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

MACAM-MACAM CARA TRANSAKSI DALAM

MODEL UNCERTAINTY CONTRACT

MAKALAH

Diajukan Guna Memenuhi Tugas Kelompok dalam Mata Kuliah Ekonomi Syari’ah

Kelas Ilmu Hukum A

Dosen Pengampu :

M. Yazid Affandi

Disusun oleh Kelompok III:

1. M. Zahman

2.

Ibnu Rohadi

3. Amimah Nabila 13340007 4. Maman Setiawan 13340012 5. M. Toha Yahya 13340026

6. Nur Anwar 13340029

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT, Penulis panjatkan atas limpahan rahmat dan karunia-Nya yang telah diberikan hingga kini sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul:

Macam – Macam Transaksi dalam Model Uncertainty Contract

Meskipun dengan usaha maksimal penulis merasa makalah ini masih jauh dari pada sempurna, oleh karena keterbatasan waktu dan tenaga, serta literatur bacaan. Namun dengan ketekunan, tekad serta rasa keingintahuan akan ilmu pengetahuan, akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari makalah ini tidak dapat terselesaikan dengan baik tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik dosen pembimbing maupun teman-teman sejawat. Segala bantuan, budi baik dan uluran tangan berbagai pihak yang telah penulis terima tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa makalah yang penulis susun ini masih jauh dari sempurna dan masih memerlukan penyempurnaan dan karenanya penulis harapkan agar materi makalah ini dapat disempurnakan.

Dalam kesempatan ini penulis memohon maaf sebesar-besarnya pada semua pihak apabila dalam proses penyusunan makalah ini ada kesalahan yang telah penulis lakukan baik yang sengaja maupun tidak sengaja.

Yogyakarta, November 2015

(3)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak diberlakukannya Undang - Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang memosisikan bank Syariah sebagai bank umum dan bank perkreditan rakyat telah memberikan angin segar kepada sebagian umat muslim yang anti-riba. Meskipun UU No. 10 Tahun 1998 tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan pendirian bank syariah atau bank bagi hasil dalam pasal-pasalnya, kebebasan yang diberikan oleh pemerintah melalui deregulasi tersebut telah memberikan pilihan bebas kepada masyarakat untuk merefleksikan pemahaman mereka atas maksud dan kandungan peraturan tersebut. Undang-Undang sebelumnya yaitu UU No. 7 Tahun 1992 tidak mencantumkan baik secara implisit maupun eksplisit mengenai konsep syariah dalam kegiatan perbankan di Indonesia.

Pasal 1 angka 13 tentang Ketentuan Umum dalam Undang - Undang No.10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan memberikan definisi mengenai Prinsip Syariah yang mulanya tidak diatur dalam UU No. 7 Tahun 1992. Meskipun dalam UU No. 10 Tahun 1998 hanya sebatas mengatur Prinsip Syari’ah saja, tetapi dalam penjelasan umum UU No. 10 Tahun 1998 memberikan penjelasan bahwa dengan dimuatnya peranan bank yang menyelenggarakan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah perlu ditingkatkan untuk menampung aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, Undang-undang ini memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendirikan bank yang menyelenggarakan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah, termasuk pemberian kesempatan kepada Bank Umum untuk membuka kantor cabangnya yang khusus melakukan kegiatan berdasarkan Prinsip Syariah.

(4)

peraturan bank Indonesia No. 6/24/PBI/2004 tentang bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.

Selain dengan keputusan Bank Indonesia Dewan Fatwa MUI pada tahun 2000 juga telah mengeluarkan Fatwa berkaitan dengan Prinsip Syariah. MUI sebagai salah satu lembaga yang dipercaya oleh Undang-Undang maupun Peraturan Pemerintah untuk mengeluarkan acuan berupa fatwa, telah mengeluarkan kurang lebih 43 fatwa terkait dengan perbankan syariah. Salah satunya adalah fatwa yang dirumuskan oleh Komisi Fatwa Dewan Syariah Nasional yaitu Fatwa No. 73/DSN-MUI/XI/2008 tentang

Musyarakah Mutanaqishah yang masih ada kaitannya juga dengan akas dasarnya terkait

Musyarakah yaitu Fatwa No. 08/DSN-MUI/IV/2000.

Tahun 2003 dikeluarkan UU No. 23 Tahun 2003 yang menggantikan UU No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia telah menugaskan kepada BI untuk mempersiapkan perangkat aturan dan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya yang mendukung kelancaran operasional bank berbasis Syariah serta penerapan dual bank sistem.

Undang-undang yang secara spesifik mengatur tentang perbankan syariah adalah Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Undang-undang ini muncul setelah perkembangan perbankan syariah di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Pada bab I Pasal 1 yang berisi tentang Ketentuan Umum undang-undang ini telah membedakan secara jelas antara bank kovensional beserta jenis-jenisnya dengan bank syariah beserta jenis-jenisnya pula. Perbedaan penyebutan pun telah dibedakan sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 6 yang menyebut “Bank Perkreditan Rakyat” sedangkan Pasal 1 angka 9 menyebutkan dengan “Bank Pembiayaan Rakyat”.

Islam melarang praktik muamalah yang mengandung dan dapat menimbulkan unsur-unsur riba, maisir, gharar, haram, dan zalim yang tidak sesuai dengan prinsip dasar ajaran Islam. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa bunga bank itu adalah riba, dan karena itu hukumnya haram. Oleh karena itu, untuk melayani umat Islam yang begitu besar jumlahnya, diusahakan adanya sistem perbankan yang beroperasi tidak mengenakan bunga kepada nasabahnya atau lazim disebut perbankan berdasarkan prinsip syariah.

(5)

Akad jual beli, dapat dilakukan pembiayaan dengan pengadaan atau pembelian suatu barang yang dibutuhkan. Barang yang dibeli dari lembaga keuangan oleh nasabah kemudian digunakan sebagai modal usaha atau keperluan lainnya yang memberikan manfaat. Dalam rangka menentukan macam dan jenis akad, dapat dilakukan melalui berbagai sudut pandang. Tetapi berdasarkan tingkat kepastian dari hasil yang diperolehnya, kontrak/akad dapat dibagi kedalam dua kelompok, yaitu Natural certainty contracts dan Natural Uncertainty contracts.

Natural Certainty Contracts adalah kontrak/akad dalam bisnis yang memberikan kepastian pembayaran, baik dari segi jumlah (amount) maupun waktu (timing)-nya. Di lain pihak, Natural Uncertainty Contracts adalah kontrak/akad dalam bisnis yang tidak memberikan kepastian pendapatan (return), baik dari segi jumlah (amount) maupun waktu (timing)-nya. Tingkat return-nya bisa positif, negatif, atau nol. Yang termasuk dalam kontrak ini adalah kontrak-kontrak investasi. Kontrak-kontrak investasi ini secara “sunnatullah” (by their nature) tidak menawarkan return yang tetap dan pasti. Jadi sifatnya tidak fixed and predetermined.1

Natural uncertainty contracts adalah kontrak/akad dalam bisnis yang tidak memberikan kepastiaan pendapatan (return), baik dari segi jumlah (amount) maupun waktu (timing)-nya. Tingkat return-nya bisa positif, negative atau nol. Natural uncertainly contracts ini dapat diterangkan dalam sebuah teori umum yang diberi nama teori percampuran.

Sistem yang dipakai untuk membiayai aktivitas bisnis didasarkan pada konsep bagi hasil (profit and loss sharing) melalui model pembiayaan mudharabah (kemitraan pasif), dan musyarakah (kemitraan aktif). Jual-beli tangguh dan pinjaman tanpa bunga (Qardh al Hasan) juga dipakai untuk pembiayaan konsumtif dan transaksi bisnis.

Makalah ini akan berfokus pada Natural uncertainty contracts yang secara umum dapat dilakukan dengan empat akad utama yaitu musyarakah, mudharabah, muzhara’ah, musaqah. Namun prinsip yang paling banyak dipakai adalah musyarakah dan mudharabah, sedangkan muzara’ah dan musaqah dipergunakan khusus untuk plantation financing atau pembiayaan pertanian oleh beberapa bank islam.

Banyak masyarakat umum yang tidak memahami definisi dari Natural uncertainty contracts dan macam – macam transaksi yang masuk dalam model uncertainty contracts,

banyak juga masyrakat yang menganggap sama antara musyarakah dan mudharabah.

1 Adiwarman Azwar Karim, Bank Islam : analisis fiqih dan keuangan, (Jakarta: PT RajaGrafindo

(6)

Inilah salah satu alasan yang melatar belakangi kami menyajikan makalah ini yaitu untuk mengetahui secara jelas definisi dari Natural uncertainty contracts, macam – macam transaksi yang masuk dalam model uncertainty contracts serta syarat-syarat dan rukun-rukun serta ketentuan berlaku. Sehingga pembaca dapat mengetahui lebih jelas tentang Natural uncertainty contracts yang melatar belakangi makalah ini, juga sebagai bahan tambahan untuk fiqih muamalah.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka penulis merumuskan beberapa rumusan masalah sebagaimana tersebut di bawah ini :

1. Apakah definisi dari Natural uncertainty contracts?

2. Apa saja jenis – jenis atau macam – macam dari Prinsip Natural uncertainty contracts?

3. Apa saja yang menjadi syarat dan rukun serta ketentuan yang berlaku pada prinsip Natural uncertainty contracts?

C. Tujuan Penulisan

Sesuai dengan Permasalahan sebagaimana yang diungkapkan tersebut di atas, maka tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui definisi dari Natural uncertainty contracts.

2. Mengetahui jenis – jenis atau macam – macam dari Prinsip Natural uncertainty contracts.

(7)

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Natural uncertainty contracts

Natural Uncertainty Contracts (NUC) adalah pihak-pihak yang bertransaksi saling mencampurkan asetnya (baik real assets maupun finansial assets) menjadi satu kesatuan, dan kemudian menanggung risiko bersama-sama untuk mendapatkan keuntungan. Disini, keuntungan dan kerugian ditangguang bersama. Karena itu, kontrak ini tidak memberiakn kepastian pendapatan (return), baik dari segi jumlah (amount) maupun waktu (timing)-nya. Yang termasuk dalam kontrak ini adalh kontrak-kontrak investasi. Kontrak investasi ini secara “Sunatullah” (by their nature) tidak menawarkan return yang tetap dan pasti. Jadi sifatnya tidak fixed and predetermined.

Kontrak-kontrak perbankan konvensional dengan nasabahnya menyatakan besaran nilai suku bunga tertentu untuk jangka waktu tertentu. Nilai suku bunga tersebut dapat diubah dalam periode masa kontrak yang berlaku oleh pihak bank, berdasarkan pada pertimbangan atas kondisi tingkat suku bunga di pasar dan hal-hal lainnya yang relevan tanpa mempertimbangkan kondisi aset riil yang dibiayai oleh dana pinjaman dari bank tersebut.

Di sisi lain, dalam perbankan syariah terdapat dua jenis kontrak bila dibedakan dari sifat alami pengembalian atas kontrak-kontrak tersebut. Disinilah muncul istilah NCC dan NUC yaitu Natural Certainty Contracts dan Natural Uncertainty Contracts. Dalam NCC, terdapat kesamaan dengan sistem bunga dalam hal tingkat pengembaliannya yang dapat dipastikan oleh pihak bank, yang dalam hal ini dengan cara menentukan margin keuntungan yang akan diperoleh bank. Oleh karena itu ciri khas perbankan syariah yang membedakannya dari sistem perbankan konvensional adalah dalam NUC yaitu yang tingkat pengembaliannya tidak dapat dipastikan oleh bank karena tergantung pada perkembangan aset di sektor riil yang dibiayai olehnya. NUC yang menjadi ciri khas perbankan syariah ini juga merupakan jenis kontrak yang sesuai dengan filosofi yang mendasari sistem ekonomi Islam yaitu memajukan perekonomian ummat melalui pemberdayaan di sektor riil. Sehingga penulis merasa bahwa tema ini perlu diangkat dalam sebuah penelitian, melalui pengkhususan salah satu unsur saja dalam NUC di perbankan syariah ini, yaitu NUC dalam sisi pembiayaan.

(8)

tidak boleh dicampuradukan. Bila Natural Certainty Contract di ubah menjadi Uncertain. Terjadilah gharar (ketidakpastian, unknown to both parties). Dengan kata lain, kita mengubah hal-hal yang sudah pasti menjadi tidak pasti. Hal ini melanggar “Sunatullah”. Karena itu dilarang.

Konsep bisnis Natural Uncertainty Contracts, di mana cash flow, timing-nya, dan tingkat return investasinya tidak dapat dipastikan karena sangat bergantung pada hasil investasi. Konsep bisnis ini menggunakan Teori Percampuran, yang bila ditinjau dari segi objek percampurannya, dapat didentifikasi atas 3 jenis, yaitu :

1. Percampuran real asset (ayn) dengan real asset (ayn) = ayn + ayn

2. Percampuran real asset (ayn) dengan financial asset (dayn) = ayn + dayn 3. Percampuran financial asset (dayn) dengan financial asset (dayn) = dayn+dayn

a. Percampuran ayn dengan ayn :

Percampuran ayn dengan ayn misalnya terjadi pada syirkah ‘abdan, yaitu seorang tukang batu bekerjasama dengan tukang kayu dalam membangun sebuah proyek perumahan, keduanya sama-sama menggabungkan tenaga dan keahliannya. Keuntungan dan kerugian ditnggung bersama berdasarkan nisbah yang telah ditentukan di awal kerjasama.

b. Percampuran Ayn dengan Dayn.

Percampuran ayn (real asset) dengan dayn (financial asset) dapat berbentuk syirkah mudharabah dan syirkah wujuh.

Syirkah Al-Mudharabah artinya dua orang yang berserikat mencampurkan modal mereka. Seorang yang memiliki modal harta (dayn) disebut sahibul maal dengan seorang yang memiliki modal jasa keahlian atau keterampilan (ayn) yang disebut mudharib, dirumuskan ( Rp x + A). Keuntungan yang diperoleh dari usaha kerjasama ini dibagi berdasarkan nisbah, Sedangkan kerugian usaha hanya dibebankan kepada sahibul maal. Mudharib hanya menderita kerugian jasa (tenaga dan keahlian tidak mendapat imbalan).

(9)

c. Percampuran dayn dengan dyan.

Percampuran financial asset (dayn) dengan financial asset (dayn) dapat berbentuk syirkah mufawadah, syirkah ‘inan.

Syirkah Mufawadah artinya dua pihak atau lebih yang berserikat mencampurkan modal yang sama jumlahnya, masing-masing memperoleh keuntungan atau bagi hasil yang sama besarnya dan kerugian juga sama besarnya, dirumuskan ( Rp x + Rp x).

Syirkah inan pihak yang berserikat mencampurkan modal yang tidak sama jumlahnya, dirumuskan (Rp x + Rp Y), keuntungan bagi hasil tidak sama besarnya berdasarkn nisbah dan kerugian juga secara proporsional dengan jumlah modal yang disetorkan

Syirkah dayn dengan dayn lainnya adalah financial asset non uang (surat berharga) yang digabungkan, misalnya saham PT x dengan saham PT Y.2

B. macam – macam transaksi Natural uncertainty contracts

Natural uncertainty contracts yang secara umum dapat dilakukan dengan empat akad utama yaitu musyarakah, mudharabah, muzhara’ah, musaqah. Namun prinsip yang paling banyak dipakai adalah musyarakah dan mudharabah, sedangkan muzara’ah dan musaqah dipergunakan khusus untuk plantation financing atau pembiayaan pertanian oleh beberapa bank islam.

1. Musyarakah a. Pengertian

Musyarakah secara bahasa diambil dari bahasa arab yang berarti mencampur. Dalam hal ini mencampur satu modal dengan modal yang lain sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kata syirkah dalam bahasa arab berasal dari kata syarika (fi’il madhi), yashruku (fi’il mudhari’) syarikan/syirkatan/syarikatan (masdar/kata dasar); artinya menjadi sekutu atau syarikat (kamus al Munawar) Menurut arti asli bahasa arab, syirkah berarti mencampurkan dua bahagian atau lebih sehingga tidak boleh dibedakan lagi satu bagian dengan bagian lainnya.3

Musyarakah atau shirakah dapat didefinisikan sebagai bentuk kemitraan di mana dua atau lebih orang menggabungkan modal atau usaha mereka, untuk berbagi rugi laba, dan di mana mereka memiliki hak dan tanggung jawab yang

2 Adiwarman Azwar Karim, Bank Islam …, hlm. 70.

(10)

sama.4 Menurut Zuhaily, musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau

lebih untuk usaha tertentu yang masing masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesempatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.5

Sedangkan Pasal 19 huruf c UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah memberikan definisi tentang “Akad musyarakah” adalah Akad kerja sama di antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu yang masing-masing pihak memberikan porsi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan akan dibagi sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung sesuai dengan porsi dana masing-masing.6 Sementara itu Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No:

08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah meberikan definisi pembiayaan musyarakah sebagai pembiayaan yang berdasarkan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan konstribusi dana dengan ketetuan bahwa keuntungan dan resiko ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

Secara spesifik bentuk kontribusi dari pihak yang bekerjasama dapat berupa dana, barang perdagangan (trading assets), kewiraswastaan (entrepreneurship), kepandaian (skill), kepemilikan (property), peralatan (equipment), atau intangible assets seperti hak paten atau goodwill, kepercayaan / reputasi (creditworthiness) dan barang-barang lainnya yang dapat dinilai dengan uang. Dengan merangkum seluruh kombinasi dari bentuk kontribusi masing-masing pihak dengan atau tanpa batasan waktu menjadikan produk ini sangat fleksibel.

b. Landasan Hukum

1) Firman Allah QS. Shad [38]: 24:

         

“…dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan Amat sedikitlah mereka ini.."

2) Firman Allah QS. al-Ma’idah [5]: 1:



...

4 Zamir Iqbal dan Abbas Mirakhor, Pengantar Keuangan Islam : Teori dan Praktik, cet. ke-1, (Jakarta:

Kencana, 2008), hlm. 118.

5 Ismail Nawawi, Fikih Muamalah Klasik dan Kontemporer Hukum Perjanjian, Ekonomi, Bisnis, dan Sosial, Cet. 1, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2012), hlm. 151

6 Penjelasan Pasal 19 ayat (1) huruf c Undang – Undang Republik Indonesia No. 21 Tahun 2008

(11)

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu…”

3) Hadis riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

“Allah swt. Berfirman: ‘Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satu pihak tidak mengkhianati pihak yang lain. Jika salah satu pihak telah berkhianat, Aku keluar dari mereka.” (HR. Abu Daud, yang dishahihkan oleh al-Hakim, dari Abu Hurairah)

4) Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf:

“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamain yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dak kaum muslilin terikat dngan syarat-syarat mereka kecuali syarat yag mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”7

5) Kaidah Fiqh:

“Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dialakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya”

6) Pasal 19 huruf c Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah

7)

Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No: 08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah

c. Jenis – Jenis Musyarakah

Secara garis besar, Zuhaily menyatakan musyarakah dibagi menjadi dua jenis, yakni musyarakah kepemilikan dan musyarakah akad. Syirkah kepemilikan tercipta karena warisan, wasiat atau kondisi lain yang mengakibatkan pemilikan satu asset oleh dua orang atau lebih. Dalam musyarakah ini, kepemilikan dua orang atau lebih terbagi dalam dua aset nyata dan berbagi dari keuntungan yang dihasilkan asset tersebut. Musyarakah akad tercipta karena kesepakatan dua orang atau lebih yang menyetujui bahwa tiap tiap orang dari mereka memberikan kontribusi dari modal musyarakah, merekapun sepakat berbagi keuntungan dan

(12)

kerugian. Musyarakah akad terbagi menjadi syirkah al inaan, al mufadhah, al amail, dan syirkah al wujud.8

Pembagian syirkah yang disampaikan oleh Zuhaily tersebut senada dengan syirkah yang disampaikan oleh Firdaus bahwa para ulama membagi syirkah ke dalam bentuk berntuk di jelaskan di bawah ini:9

1) Perserikatan dalam pemilikan (syirkah al-amlak), yaitu dua orang atau lebih yang memiliki harta bersama tanpa melalui atau didahului oleh akad syirkah. Musyarakah dalam kategori ini ada dua bagian, yaitu:

a) Syirkah ihktiar adalah perserikatan yang muncul akibat tindakan hukum orang yang berserikat, seperti dua orang yang bersepakat membeli suatu barang atau mereka menerima hibah, wasiat atau wakaf dari orang lain. Mereka menerima pemberian hibah, wakaf ataupun wasiat tersebut dan menjadi milik mereka secara berserikat.

b) Syirkah jahar (Ijbariyah) adalah sesuatu yang ditetapkan menjadi milik dua orang atau lebih tanpa kehendak. Artinya, perserikatan itu terjadi secara paksa, bukan atas keinginan orang yang berserikat. Contoh, menerima warisan dari orang yang meninggal. 2) Syirkah al-uqud adalah akad yang disepakati dua orang atau lebih untuk

mengikatkan diri dalam perserikatan modal dan keuntungan. Akad tersebut tercipta karena kesepakatan dua orang atau lebih yang setuju bahwa tiap orang diri mereka memberikan modal musyarakah. Merekapun sepakah berbagi keuntungan dan kerugian.

Kerjasama dalam kategori ini terbagi menjadi: al-inan, mufawadhah,

a’mal, dan wujud. Para ulama berbeda pendapat tentang mudharabah, apakah ia termasuk musyarakah atau bukan. Beberapa ulama menganggap

mudharabah termasuk kategori musyarakah, karena memenuhi rukun dan syarat sebuah akad (kontrak) musyarakah. Ulama lain menganggap bahwa

mudharabah tidak termasuk sebagai musyarakah. Syirkah akad dibedakan dengan penjelasan di bawah ini.

a) Kontrak antara dua orang atau lebih (syirkah al-‘inan) adalah kontrak setiap pihak memberikan suatu posisi dari keseluruhan dana dan

(13)

berpartisipasi dalam kerja. Kedua pihak berbagi dalam keuntungan dan kerugian sebagaimana yang disepakati di antara mereka.Namun porsi masing masing pihak, baik dalam dana maupun kerja atau bagi hasil, berbeda sesuai dengan kesepakatan mereka. Semua ulama membolehkan jenis musyarakah ini.

Mazhab Hanafi dan Hambali mengizinkan salah satu dari alternatif berikut. Pertama, keuntungan dari kedua pihak dibagi menurut porsi dana mereka. Kedua, keuntungan bias dibagi secara sama tapi kontribusi dana masing masing pihak mungkin berbada.

Ketiga, keuntungan bisa dibagai secara tidak sama tapi dana yang diberikan sama. Ibnu Qudamah mengatakan, “Pilihan dalam keuntungan dibolehkan dengan adanya kerja, karena seorang dari mereka mungkin lebih ahli dalam bisnis dari yang lain dan ia mungkin lebig kuat ketimbang yang lainnya dalam melaksanakan pekerjaan. Karenannya, ia diizinkan untuk menuntut lebih dari bagian keuntungan.nya”. Mazhab Maliki dan Syafi’i menerima jenis musyarakah ini dengan syarat keuntungan dan kerugian dibagi secara proporsional sesuai dana yang ditanamkan. Dalam pandangan mereka, keuntungan jenis musyarakah ini dianggap keuntungan modal.

(14)

c) Syirkah a’mal (Abdan) adalah kontrak kerja sama dua orang seprofesi untuk menerima pekerjaan secara bersama dan berbagi kentungan dari pekerjaan. Mazhab Hanafi, Maliki, dan Hambali membolehkan musyarakah ini, baik kedua orang tersebut satu profesi maupun tidak. Mereka merujuk kapada bukti bukti termasuk persetujuan terbuka dari Nabi. Lagipula hal ini didasarkan kepada perwakilan yang juga dibolehkan. Dalam musyarakah, musyarakah jenis ini telah lama dipraktekkan.

d) Syirkah wujuh adalah kontrak antara dua orang atau lebih yang tidak memiliki modal sama sekali, tetapi mempunyai keahlian dalam bisnis. Mereka membeli barang secara kredit dari suatu perusahaan, dan menjual barang tersebut secara tunai. Mereka berbagi dalam keuntungan dan kerugian berdasarkan jaminan kepada penyuplai yang disediakan oleh tim mitra. Jenis musyarakah ini tidak memerlukan modal karena pembelian secara kredit berdasarkan jaminan tersebut. Maka, kontrak ini pun lazim disebut sebagai musyarakah piutang.

Para ulama memperselisihkan perserikatan seperti ini, ulama Hanafiyah, Hanabilah, dan Zaidiyah menyatakan hukumnya boleh, karena masing masing pihak bertindak sebagai walidari pihak lain, sehingga pihak lain tersebut terikat pada transaksi yang telah dilakukan oleh mitra serikatnya. Akan tetapi, menurut ulama Malikiyah, Syafi’iah, Zahidiyah, dan Syi’ah Imamiyah, perserikatan ini tidak sah dan tidak diperbolehkan. Alasannya, objek dalam perserikatan ini adalah modal dan kerja, sedangkan dalam syirkah al-wujud, baik modal maupun kerja yang diadakan tidak jelas.

(15)

memasukkan transaksi mudharabahsebagai salah satu bentuk perserikatan, karena akad ini merupakan akad yang tersendiri.10

2. Mudharabah a. Pengertian

Pada umumnya kata mudharabah berasal dari kata dharb, yang berarti memukul atau berjalan. Pengertian dari memukul atau berjalan diatas yang maksudnya adalah proses seseorang memukulkan kakinya dalam menjalankan usahanya11.

Menurut istilah syarak, mudharabah berarti akad antara dua pihak untuk bekerja sama dalam usaha perdagangan di mana salah satu pihak memberikan dana kepada pihak lain sebagai modal usaha dan keuntungan dari usaha itu akan dibagi di antara mereka berdua sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.12

Pasal 19 Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah memberikan dua makna tentang Mudharabah yaitu pada huruf b dan huruf c. Pasal 19 huruf b memberikan definisi tentang “Akad mudharabah” dalam menghimpun dana sebagai Akad kerja sama antara pihak pertama (malik, shahibul mal, atau Nasabah) sebagai pemilik dana dan pihak kedua (‘amil, mudharib, atau Bank Syariah) yang bertindak sebagai pengelola dana dengan membagi keuntungan usaha sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan dalam Akad. Sedangkan Pasal 19 huruf c memberikan definisi “Akad mudharabah” dalam Pembiayaan sebagai Akad kerja sama suatu usaha antara pihak pertama (malik, shahibul mal, atau Bank Syariah) yang menyediakan seluruh modal dan pihak kedua (‘amil,

mudharib, atau Nasabah) yang bertindak selaku pengelola dana dengan membagi keuntungan usaha sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan dalam Akad, sedangkan kerugian ditanggung sepenuhnya oleh Bank Syariah kecuali jika pihak kedua melakukan kesalahan yang disengaja, lalai atau menyalahi perjanjian.13

Sementara itu Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor: 07/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh) mendefinisikan pembiayaan mudharabah sebagai akad kerjasama suatu usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (malik, shahibul mal, atau Lembaga Keuangan Syari’ah)

10Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah …, hlm. 92-93

11 Muhammad, Manajemen Pembiayaan Bank Syari’ah, (Yogyakarta: akademi manajemen perusahaan

YKPN. 2005.), hlm 102.

12 Helmi Karim, Fiqh Muamalah, cet.ke-3, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002), hlm. 11.

13 Penjelasan Pasal 19 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan

(16)

menyediakan seluruh modal, sedang pihak kedua (‘amil, mudharib, atau Nasabah) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan usaha dibagi diantara mereka sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. dalam manajemen proyek. Sebagai orang kepercayaan, mudharib harus bertindak hati-hati dan bertanggungjawab untuk setiap kerugian yang terjadi akibat kelalaian. Sedangkan sebagai wakil shahibul maal dia diharapkan untuk mengelola modal dengan cara tertentu untuk menciptakan laba optimal. Perbedaan yang esensial dari musyarakah dan mudharabah terletak pada besarnya kontribusi atas manajemen dan keuangan atau salah satu di antara itu. Dalam mudharabah, modal hanya berasal dari satu pihak, sedangkan dalam musyarakah modal berasal dari dua pihak atau lebih.

Mudharabah adalah salah satu akad kerja sama kemitraan berdasarkan prinsip berbagi untung dan rugi (profit and loss sharing principle), dilakukan sekurang-kurangnyaoleh dua pihak, dimana yang pertama memiliki dan menyediakan modal, disebut shohibul maal, sedang ke dua memiliki keahlian dan bertanggung jawab atas pengelolaan dana / menejemen usaha halal tertentu, disebut mudhorib14.

b. Landasan Hukum

1) Firman Allah QS. al-Baqarah [2]: 283:

…        

“… Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya …”

2) Firman Allah QS. al-Nisa [4]: 29:

       

14 Makhalul ilmi SM, Teori Dan Praktik Lembaga Mikro Keuangan Syari’ah, (Yogyakarta: UII press

(17)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu…”

3) Hadis Nabi riwayat Thabrani:

“Abbas bin Abdul Muthalib jika menyerahkan harta sebagai mudharabah, ia mensyaratkan kepada mudharibnya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu dilanggar, ia (mudharib) harus menanggung resikonya. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas didengar Rasulullah, beliau membenarkannya.” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas)

4) Hadis Nabi Riwayat Ibnu Majah dari Shuhaib:

“Nabi bersabda, ‘ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidah secara tunai, muqaradhah (Mudharabah), dan mecampur gandum dengan jemawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual” (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib).

5) Undang – Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah

6) Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor, 10/16/PBI/2008 Tentang Prinsip Syari’ah Dalam Kegiatan Penghimpunan Dana Dan Penyaluran Dana Serta Pelayanan Jasa Bank Syari’ah

c. Jenis-jenis Mudharabah

1) Mudharabah Muthlaqah, merupakan akad perjanjian antara dua pihak yaitu

shahibul maal (pemilik modal) dan mudharib (pengelola), yang mana

shahibul maal menyerahkan sepenuhnya atas dana yang diinvestasikan kepada

(18)

2) Mudharabah Muqayyadah, merupakan akad kerja sama usaha antara dua pihak yang mana pihak pertama sebagai pemilik dana (shahibul maal) dan pihak kedua sebagai pengelola dana (mudharib). Shahibul maal menginvestasikan dananya kepada mudharib, dan memberikan batasan atas penggunaan dana yang diinvestasikannya. Batasannya antara lain tentang :

a) Tempat dan cara berinvestasi b) Jenis investasi

c) Objek investasi d) Jangka waktu

Mudharabah Muqayyadah terbagi menjadi dua macam, yaitu: a) Mudharabah Muqayyadah on Balance Sheet

Merupakan akad mudharabah muqayyadah yang mana mudharib

ikut menanggung resiko atas kerugian dana yang diinvestasikan oleh shahibul maal.

b) Mudharabah Muqayyadah off Balance Sheet

Merupakan akad mudharabah muqayyadah yang mana pihak

shahibul maal memberikan batasan yang jelas, baik batasan tentang proyek yang diperbolehkan, jangka waktu, serta pihak pelaksana pekerjaan.15

3. Muzara’ah

Definisi Muzara’ah adalah menyerahkan tanah kepada seseorang yang menanaminya, atau menyerahkan tanah dan bibit kepada orang yang menanam dan merawatnya di tanah tersebut, dengan memberikan kepadanya sebagian hasil yang diperoleh sedangkan sisanya adalah untuk pemiliknya. Terkadang bagian yang disepakati adalah untuk pemilik tanah, sedangkan sisanya adalah untuk si pekerja.16

4. Musaqah

Definisi musaqah menurut para ahli fiqih adalah menyerahkan pohon yang telah atau belum ditanam dengan sebidang tanah, kepada seseorang yang menanam dan merawatnya di tanah tersebut (seperti menyiram dan sebagainya hingga berbuah). Lalu pekerja mendapatkan bagian yang disepakati dari buah yang dihasilkan, sedangkan sisanya untuk pemiliknya.17

C. Syarat, rukun, dan ketentuan yang berlaku pada prinsip Natural uncertainty contracts

15 Ismail, Perbankan Syariah, cet.ke-1, (Jakarta : Kencana, 2011), hlm. 86-88.

(19)

1. Musyarakah a. Rukun18

1) Ucapan (Sighah) penawaran dan penerimaan (ijab dan qabul). 2) Dua atau lebih pihak yang berakad (‘aqidani).

3) objek aqad yang disebut juga ma’qud alaihi, yang mencakup modal atau pekerjaan.

b. Syarat dan Ketentuan

1) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengadakan kontrak (akad) antara lain yaitu, penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan kehendak atau tujuan kontrak (akad); penerimaan penawaran dilakukan pada saat kontrak; dan akad dapat dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi, atau dengan menggunakan cara-cara korespondensi modern. 2) Kecakapan para pihak yang berkontrak dengan memperhatikan beberapa hal

seperti, orang yang memberikan dan diberikan perwakilan Kompeten dalam bidangnya dan memiliki kewenangan untuk itu; perlu diperhtikan pula bahwa detiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan, dan setiap mitra melaksanakan kerja sebagai wakil.

3) Objek akad (modal, kerja, keuntugan dan kerugian)19

a) Modal, beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan modal dalam akada musyarakah antara lain; modal yang diberikan darus uang tunai, emas, perak atau yang nilainya sama. Modal ini dapat terdiri dari aset perdagangan yang harus dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra. Pada prinsipnya, dalam pembiayaan musyarakah tidak ada jaminan, namun untuk menghindari terjadinya penyimpangan, Lembaga Keuangan Syariah danpat meminta jaminan.

b) Kerja, Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar pelaksanaan musyarakah; akan tetapi, kesamaan porsi kerja bukanlah merupakan syarat. Seorang mitra boleh melaksanakan kerja lebih banyak dari yang lainnya, dan dalam hal ini ia boleh menuntut bagian keuntungan tambahan bagi dirinya. Namun dalam melaksanakan kerja dalam musyarakah setiap mitra atas nama pribadi dan wakil dari mitranya

18 Ismail Nawawi, Fikih Muamalah…, hlm. 155

(20)

sehingga kedudukan masing-masing dalam organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak.

c) Keuntungan, dalam akad musyarakah keuntungan harus dikuantifikasi dengan jelas untuk menghindarkan perbedaan dan sengketa pada waktu alokasi keuntungan atau penghentian musyarakah; Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan di awal yang ditetapkan bagi seorang mitra. Namun, jika terjadi keuntungan melebihi jumlah tertentu, seorang mitra dapat menguulkan kelebihan itu dinerikan kepadanya dan sitem pempagian keuntungan ini harus dituangkan dengan jelas dalam akad.

d) Kerugian dalam akad musyarakah harus dibagi di antara para mitra secara proporsional menurut saham masing-masing dalam modal.

2. Mudharabah

a. Rukun dan Syarat

Mudharabah seperti usaha pengelolaan usaha lainnya yang memiliki tiga rukun: 1) Dua Pihak yang melakukan Akad20

Kedua pihak ini adalah investor dan pengelola modal. Keduanya disyaratkan memiliki kompetensi beraktivitas.Yaitu orang yang tidak dalam keadaan bangkrut terlilit utang.Orang yang gila, orang yang bangkrut terlilit utang, orang idiot, semuanya tidak boleh melakukan transaksi ini. Tidak ada larangan melakukan akad atau kerja sama dengan orang yang non muslim.

Dengan syarat orang non muslim tersebut dapat dipercaya dan keduanya menghindari yang namanya riba.

2) Objek Akad

Objek akad dalam kerja sama bagi hasil ini tidak lain adalah modal, jenis usaha, dan keuntungan.

a) Modal

Dalam modal harus disyaratkan harus merupakan alat tukar misalnya, uang, emas, perak.Penanaman modal dalam hal ini tidak boleh dilakukan menggunakan barang, kecuali bila disepakati untuk

20 Abdullah Al-Mushih dan Shalah Ash-Shawi, Fiqh Ekonomi Keuangan Islam, (Jakarta : Darul Haq,

(21)

menetapkan nilai harganya dengan uang.Sehingga itulah yang menjadi modal yang digunakan untuk memulai usaha.

b) Jenis Usaha

Asal dari usaha dalam bisnis bagi hasil (penanaman modal) adalah di bidang perniagaan atau bidang terait lainnya. Jenis usaha dalam islam tidak boleh menjual barang-barang haram berdasarkan kesepakatan ulama, seperti jual beli bangkai, darah, daging babi, dan minuman keras21.

c) Hukum-hukum Laba (Keuntungan)

Keuntungan dalam sistem penanaman modal (bagi hasil) adalah hendaknya diketahui secara jelas.Hendaknya dalam transaksi ditegaskan prosentase tertentu bagi investor dan pengelola modal22.

Beberapa kode etik sehubungan dengan keuntungan: 1) Berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak;

2) Keuntungan usaha juga sebagai cadangan modal usaha; 3) Pengelola hanya dapat mengambil keuntungan melalui

pembagian;

4) Boleh dilakukan pembagian keuntungan awal, namun nantinya dihitung pada perhitungan akhir23.

3) Pelafalan perjanjian (ijab dan qobul) atau offer and acceptence. Shighat akad (transaksi), yaitu adanya ijab dan qobul.Pelafalan ini dapat dilakukan dengan segala cara yang dapat mengindikasikan ke arah terlaksananya perjanjian, baik berupa ucapan tindakan24.

3. Muzaraah a. Rukun

Rukun muzara’ah adalah : 1) Pemilik tanah

2) Petani penggarap

3) Obyek muzara’ah, yaitu antara manfaat tanah dengan hasil kerja petani 4) Ijab qabul

b. Syarat

(22)

Adapaun syarat-syarat muzara’ah, menurut jumhur ulama, ada yang menyangkut orang yang berakad (telah baliq dan berakal serta bukan orang yang murtad), benih yang akan ditanam (harus jelas, sehingga sesuai dengan kebiasaan tanah itu, benih yang akan ditanam itu jelas dan akan menghasilkan), tanah yang dikerjakan (boleh digarap dan menghasilkan, batas-batasnya jelas, dan diserahkan sepenuhnya kepada petani untuk digarap), hasil yang akan dipanen (pembagian hasil harus jelas, benar-benar milik bersama, ditentukan setengah, sepertiga, atau seperempat sejak awal dan tidak boleh berdasarkan jumlah tertentu secara mutlak), dan yang menyangkut jangka waktu berlakunya akad (harus jelas, penentuan jangka waktu ini biasanya disesuaikan dengan adat kebiasaan setempat).25

4. Musaqah a. Rukun

1) Dua orang/pihak yang melakukan transaksi 2) Tanah yang dijadikan obyek musaqah

3) Jenis usaha yang akan dilakuka petani penggarap 4) Ketentuan mengenai pembagian hasil musaqah

5) Shigat (ungkapan) ijab dan qabul

b. Syarat

1) Kedua belah pihak yang bertransaksi telah akil balig dan berakal. 2) Obyek harus terdiri atas pepohonan yang mempunyai buah.

3) Tanah itu diserahkan sepenuhnya kepada petani penggarap setelah akad berlangsung untuk digarapi, tanpa campur tangan pemilik tanah.

4) Hasil (buah) yang dihasilkan dari kebun itu merupakan hak mereka bersama, sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat.

5) Lamanya perjanjian itu harus jelas, karena transaksi ini hampir sama dengan transaksi sewa-menyewa, agar terhindar dari ketidakpastian.26

(23)

BAB IV Kesimpulan

Natural Uncertainty Contracts (NUC) adalah pihak-pihak yang bertransaksi saling mencampurkan asetnya (baik real assets maupun finansial assets) menjadi satu kesatuan, dan kemudian menanggung risiko bersama-sama untuk mendapatkan keuntungan. Disini, keuntungan dan kerugian ditangguang bersama. Karena itu, kontrak ini tidak memberiakn kepastian pendapatan (return), baik dari segi jumlah (amount) maupun waktu (timing)-nya. Yang termasuk dalam kontrak ini adalh kontrak-kontrak investasi. Kontrak investasi ini secara “Sunatullah” (by their nature)tidak menawarkan return yang tetap dan pasti. Jadi sifatnya tidak fixed and predetermined.

(24)

Daftar Pustaka A. Buku

Al-Fauzan, Saleh, Fiqih Sehari-hari, cet.ke-1, Jakarta: Gema Insani Press, 2005

Al-Mushih, Abdullah, dan Shalah Ash-Shawi, Fiqh Ekonomi Keuangan Islam, Jakarta : Darul Haq, 2004.

Azwar Karim, Adiwarman, Bank Islam: Analisis Fiqih Dan Keuangan, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008.

Haroen, Nasrun, Fiqh Muamalah, cet.ke-2, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007.

Ilmi SM, Makhalul, Teori Dan Praktik Lembaga Mikro Keuangan Syari’ah, Yogyakarta: UII press Yogyakarta, 2002.

Iqbal, Zamir, dan Abbas Mirakhor, Pengantar Keuangan Islam: Teori dan Praktik, cet. ke-1, Jakarta: Kencana, 2008.

Ismail, Perbankan Syariah, cet.ke-1, (Jakarta : Kencana, 2011), hlm. 86-88. Karim, Helmi, Fiqh Muamalah, cet.ke-3, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002.

Muhammad, Manajemen Pembiayaan Bank Syari’ah, Yogyakarta: Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 2005.

Nawawi, Ismail, Fikih Muamalah Klasik dan Kontemporer Hukum Perjanjian, Ekonomi, Bisnis, dan Sosial, Cet. 1, Bogor: Ghalia Indonesia, 2012.

Sudarsono, Heri, Bank dan Lembaga Keuanangan Syariah, Yogyakarta: Ekonosia, 2003. Syafi’i Antonio, Muhammad, Bank Syariah Dari Teori ke praktek, Jakarta: Gema Insani

perss, 2001.

B. Peraturan Perundang-undangan

Undang – Undang Republik Indonesia No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No: 08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan

Musyarakah

Referensi

Dokumen terkait

Yang dimaksud dengan “akad musyarakah” adalah akad kerja sama di antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu yang masing-masing pihak memberikan porsi

Sebagian ulama menganggap koperasi (Syirkah Ta’awuniyah) sebagai akad mudharabah, yakni suatu perjanjian kerja sama antara dua orang atau lebih, di satu pihak

Yang dimaksud dengan syirkah uqud adalah dua orang atau lebih melakukan akad untuk bekerja sama (berserikat) dalam modal dan keuntungan. Artinya, kerja sama ini

setiap orang yang dengan tanpa hak menggunakan tanda yang mempunyai persamaan pada keseluruhan dengan IG milik pihak lain untuk barang yang sama atau sejenis dengan barang

a) Jika terjadi pembatalan kerja sama oleh pihak sponsor setelah kontrak ditandatangani oleh kedua belah pihak, maka sponsor dikenakan biaya ganti rugi kepada panitia sebesar

Akad musyarakah adalah akad kerja sama anatara dua belah pihak yang mana kedua belah pihak tersebut sama-sama memberikan kontribusi dana untuk usaha, keuntungan

Mudharabah adalah kerja sama atau kontrak usaha antara dua atau lebih pihak yaitu pemilik modal shahibul mal sebagai pihak pertama yang menyediakan seluruh modal, dan pihak pengelola

Musyarakah merupakan akad kerjasama yang dilakukan lebih dari dua belah pihak dimana salah satu pihak dipercaya untuk mengelolah dana yang ada, musyarakah berasal dari kata syirkah,