• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS "

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

i

SKRIPSI

Oleh

ISRADEWI HAMID 105731114716

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2021

(2)

ii

ANALISIS PENERAPAN PRINSIP REVENUE SHARING MUDHARABAH PADA PT. BANK SYARIAH

MANDIRI KC MAKASSAR

Oleh

ISRADEWI HAMID 105731114716

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Akuntansi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Muhammadiyah Makassar

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2021

(3)

iii Skripsi ini saya persembahkan kepada :

1. Kepada kedua orang tua terkasih dan tercinta Bapak Abdul Hamid dan Ibu Asniwati yang telah memberikan Motivasi, dorongan semangat, serta tanpa doa yang tak henti-hentinya di panjatkan sehingga saya bisa menyelesaikan skripsi ini.

2. Segenap dosen dan karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah makassar, yang telah memberikan ilmu dan memberikan pelayanan yang baik selama masa perkuliahan.

3. Teman-teman yang selalu memberikan motivasi semangat dan bantuan kepada penulis sehingga bisa menyelesaikan skripsi ini.

Motto

“Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

(Al-Qur’an Surah Al Insyirah : 5-6)

(4)

Jalan. Sultan Alauddin No.259 Telp. 0411-866972 HP. 085230309264 Fax. 0411-865588 Makassar 90221 Gedung Iqra Lantai 7 Kampus Talasalapang Makassar - Sulawesi Selatan

iv

(5)

Jalan. Sultan Alauddin No.259 Telp. 0411-866972 HP. 085230309264 Fax. 0411-865588 Makassar 90221 Gedung Iqra Lantai 7 Kampus Talasalapang Makassar - Sulawesi Selatan

v

(6)

Jalan. Sultan Alauddin No.259 Telp. 0411-866972 HP. 085230309264 Fax. 0411-865588 Makassar 90221 Gedung Iqra Lantai 7 Kampus Talasalapang Makassar - Sulawesi Selatan

vi

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Segala puji dan ucapan syukur alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT atas karunia-Nya, petunjuk, rahmat, dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyusun skripsi ini. Tak lupa juga shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarga beserta sahabat-sahabatnya.

Skripsi ini dibuat dan diajukan untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar. Teristimewa dan terutama penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tua penulis bapak Abdul Hamid dan ibu Asniwati yang senantiasa memberi harapan yang banyak, semangat hingga akhir studi ini. Dan seluruh keluarga besar atas segala pengorbanan, dukungan dan doa restu yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu. Semoga apa yang telah mereka kepada penulis menjadi ibadah dan cahaya penerang kehidupan didunia dan di akhirat.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dar berbagai pihak. Begitu pula penghargaan yang setinggi-tingginya dan terima kasih banyak disampaikan dengan hormat kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse., M.Ag selaku Rektor Universitas Muhammadiyah.

2. Bapak Ismail Rasulong, SE., MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak Dr. Ismail Badollahi, SE., M.Si., Ak. CA. CSP selaku Ketua Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah.

(8)

viii

4. Bapak Dr. Agus Salim HR, SE., M.Si selaku Pembimbing I yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga Skripsi selesai dengan baik.

5. Ibu Agusdiwana Suarni, SE., M.Acc selaku pembimbing II yang telah berkenan membantu selama dalam penyusunan skripsi.

6. Kepada seluruh Dosen/asisten Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan waktu dan ilmunya selama penulis mengikuti proses perkuliahan.

7. Kepada seluruh staf, karyawan dan tata usaha fakultas Ekonomi dan Bisnis universitas Muhammadiyah Makassar.

8. Kepada teman-teman jurusan akuntansi terkhusus teman kelas AkD.16 yang telah membantu dalam banyak hal dan bersama baik suka maupun duka serta selalu memberikan motivasi kepada penulis, bersama kalian menjadikan hidup penulis berwarna.

9. Terima kasih teruntuk semua kerabat yang tidak bisa saya tulis satu persatu, yang telah memberikan semangat, kesabaran, motivasi dan dukungannya sehingga penulis dapat merampungkan penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kepada semua pihak utamanya para pembaca, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritikannya demi mencapai kesempurnaan skripsi ini dan semoga memberikan manfaat bagi semua pihak.

Makassar, Januari 2021

Isradewi Hamid

(9)

ix

ABSTRAK

ISRADEWI HAMID, 2020, Analisis Penerapan Prinsip Revenue Sharing Mudharabah pada PT. Bank Syariah Mandiri KC Makassar. Skripsi. Pembimbing:

Agus Salim dan Agusdiwana Suarni.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan revenue sharing pada mudharabah PT. Bank Syariah Mandiri KC Makassar.Untuk menganalisis data dari proses penelitian yang telah dilakukan, metode pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif yang menggunakan data berupa hasil wawancara kepada salah satu karyawan PT Bank Mandiri Syariah yang menjabat sebagai costumer service. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bagi hasil mudharabah PT. Bank Syariah Mandiri adalah pembiayaan di mana seluruh modal kerja yang dibutuhkan nasabah ditanggung oleh bank. Keuntungan yang diperoleh dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati. Prinsip yang dipakai oleh PT. Bank Syariah Mandiri KC Makassar dalam bagi hasil, memakai prinsip revenue sharing, yaitu pembagian keuntungan yang belum dikurangi biaya operasional. Prinsip Revenue Sharing digunakan oleh PT. Bank Syariah Mandiri KC Makassar, karena investor atau Shahibul mal belum berani mengambil risiko dalam pembagian usahanya, yang di mana dalam Revenue sharing hanya keuntungan bersih yang dibagi tanpa membagi dengan beban, hal ini juga dianggap nasabah belum bisa amanah dalam perhitungan beban atau pengeluaran yang disepakati.

Kata Kunci: Revenue Sharing dan Mudharabah

(10)

x

ABSTRACT

ISRADEWI HAMID, 2020, Analysis Of The Implementation Of Mudharabah Revenue Sharing Principles At PT. Bank Syariah Mandiri KC Makassar. Thesis. Mentors: Agus Salim and Agusdiwana Suarni.

This research aims to find out how the application of revenue sharing in mudharabah Bank Syariah Mandiri KC Makassar.To analyze data from the research process that has been done, the data collection method used in the preparation of this thesis is a type of descriptive qualitative research that uses data in the form of interview results to one of the employees of PT Bank Mandiri Syariah who served as a costumer sevice. Based on the results of the study showed the share of mudharabah PT. Bank Syariah Mandiri is a financing where all working capital required by the customer is borne by the bank. The profits obtained are divided according to the agreed ratio. Principles used by PT. Bank Syariah Mandiri KC Makassar in profit sharing, using the principle of revenue sharing, namely profitsharing that has not been reduced operational costs.

Revenue Sharing principles are generally used in Indonesia, especially in PT.

Bank Syariah Mandiri KC Makassar, because investors or Shahibul maal has not dared to take risks in the division of its business, where in Revenue sharing only net profit is divided without dividing by expenses, it is also considered that the customer can not be trusted in calculating the agreed expenses or expenses.

Keywords: Revenue Sharing and Mudharabah

(11)

xi

DAFTAR ISI

SAMPUL ...i

HALAMAN JUDUL ...ii

PERSEMBAHAN ...iii

LEMBAR PERSETUJUAN ...iv

LEMBAR PENGESAHAN ...v

SURAT PERNYATAAN ...vi

KATA PENGANTAR ...vii

ABSTRAK ...ix

ABSTRACT ...x

DAFTAR ISI ...xi

DAFTAR TABEL ...xiii

DAFTAR GAMBAR ...xiv

BAB I. PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah ...4

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...4

D. Manfaat Penelitian...4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ...6

A. Revenue Sharing ...6

B. Mudharabah ...9

C. Bank Syariah ...16

D. Penelitian Terdahulu ...21

E. Kerangka Pikir ...24

BAB III. METODE PENELITIAN ...27

(12)

xii

A. Jenis Penelitian ...27

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ...27

C. Definisi Operasional Variabel ...28

D. Jenis dan Sumber Data ...28

E. Teknik Pengumpulan Data...29

F. Metode Analisis ...29

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...31

A. Gambaran Umum Objek Penelitian ...31

B. Deskripsi Informan ...40

C. Hasil Penelitian ...40

D. Pembahasan ...50

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ...53

A. Kesimpulan ...53

B. Saran ...54

DAFTAR PUSTAKA ...55

LAMPIRAN ...58

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah ...20 Tabel 4.1 Deskripsi Informan ...40

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Skema Mudharabah ...16 Gambar 4.1 Kerangka Pikir ...25

(15)

1 A. Latar Belakang

Perkembangan peran perbankan syariah di Indonesia tidak terlepas dari sistem perbankan di Indonesia secara umum. Di mana sistem perbankan syariah juga diatur dalam Undang-undang pasal 1 ayat (2) No. 10 tahun 1998 tentang perubahan UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan. Mengenai perbankan syariah didalam Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 belum spesifik sehingga perlu diatur secara khusus dalam suatu Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. (OJK, 2020).

Falsafah dasar perbankan syariah mengacu kepada ajaran agama Islam yang bersumber pada Al-qur’an, al-hadist dan al-ijtihad. Fungsi bank syariah antara lain menghimpun dan menyalurkan dana kepada masyarakat, dimana penyaluran dana ini terdiri dari berbagai bentuk produk bank syariah di antaranya adalah produk pendanaan, produk jasa perbankan, dan produk sosial. Dalam melaksankan kegiatan penghimpun dana, bank syariah menerima simpanan dari masyarakat. Sedangkan dalam kegiatan penyaluran dana, bank syariah memberikan jasa dalam bentuk pembiayaan dan investasi. (Astika & Suarni, 2018)

Munculnya Bank syariah di Indonesia yaitu pada tahun 1992. Bank syariah pertama kali muncul di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia.

(16)

Namun adanya krisis moneter yang melanda Indonsia pada 1997 dan 1998, kemudian dikonversi menjadi bank syariah mandiri, bank syariah kedua di Indonesia. Pada dasarnya sistem operasional yang dimiliki bank syariah berbeda dengan bank konvensional. Bank syariah menerapkan layanan bebas bunga kepada para nasabahnya (Suni, 2018)

Salah satu keunikan entitas keuangan syariah adalah prinsip bagi hasil, khususnya mudharabah. Mudharabah merupakan bentuk kerja sama antara 2 atau lebih pihak dimana pemilik modal (shahibul mal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola atau mudharib dengan suatu penjanjian diawal. Pembiayaan mudharabah dikembangkan dengan prinsip bagi hasil, di mana prinsip ini berbeda dengan prinsip bunga sebagai mana yang terdapat dalam bank konvensional (Rokhlinasari & Astuti, 2016).

Perjanjian mudharabah dapat dilakukan oleh pelaku usaha dan penyedia dana. Bila usaha yang dijalankan tersebut mengalami kerugian maka seluruh kerugian tersebut ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan dikarenakan kelalaian dari pengelola dana, tetapi jika ditemukannya suatu kesalahan dari pegelola dana, seperti adanya kesalahan dan kecurangan yang dilakukan oleh pengelola dana. Sedangkan jika usaha tersebut mendapatkan keuntungan, maka secara mudharabah keuntungan yang di dapatkan dari usaha tersebut dibagi sesuai kesepakatan yang telah disepakati diawal perjanjian.

Konsep bagi hasil merupakan suatu sistem di mana dilakukannya perjanjian atau ikatan bersama didalam melakukan kegiatan usaha. Besarnya penentuan porsi bagi hasil antara kedua belah pihak ditentukan sesuai dengan kesepakatan yang dilakukan di awal perjanjian, dan harus terjadi

(17)

dengan adanya kerelaan (An- Tarodhin) di masing-masing pihak tanpa adanya unsur paksaan. Dalam setiap pembagian hasil usaha terdapat beberapa metode, yaitu bagi untung (profit sharing) dan metode bagi hasil (revenue sharing). Pada dasarnya revenue sharing (Febriyandika, 2015) merupakan pembagian keuntungan yang belum dikurangi biaya operasional.

Adapun profit sharing merupakan pembagian keuntungan yang sudah dibagi dengan biaya operasional. Bank dapat menggunakan menggunakan sistem profit sharing maupun revenue sharing tergantung kepada kebijakan masing- masing bank untuk memilih salah satu dari sistem yang ada.

Kehadiran bank syariah sebagai lembaga keuangan yang relatif baru sangat menimbulkan suatu tantangan yang besar. Bahkan para pakar syariah islam dan akuntansi bekerja sama untuk mencari dasar bagi penerapan dan perkembangan standar akuntansi tersebut untuk menggapai suatu kunci sukses bank syariah dalam melayani masyarakat-masyarakat yang berada disekitarnya, Sehingga dapat melahirkan lazimnya seperti penyajian informasi yang lengkap, dapat dipercaya, dan relevan bagi para penggunanya, namun tetap berada dalam konsep syariah islam (Tabe, 2013:2).

Dalam melaksanakan kegiatannnya bank pada umumnya memerlukan suatu sistem informasi yang efektif dan efisien dalam proses pengambilan keputusan ekonomi oleh pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan bank syariah. Karena informasi ini sangat memiliki dampak yang baik dalam kepentingan masyarakat. Hal ini karena prinsip prinsip syariah islam telah memberikan keseimbangan antara kepentingan individu atau kepentingan masyarakat. Pengambilan keputusan dengan menggunakan sistem ini sangat penting bagi pihak pihak yang bersangkutan yang memilki hubungan dengan

(18)

bank syariah. Sistem ini juga mendorong agar masyarakat mendapatkan dampak positif terhadap distribusi terutama dalam bidang ekonomi.

Dapat disimpulkan bahwa penggunaan revenue sharing kepercayaan sangat berpengaruh terhadap berjalannya revenue sharing karena untuk menjalankan revenue sharing dibutuhkan kepercayaan dan transparansi antara dua belah pihak yaitu pemilik modal (shahibul mal) yang mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib). Di mana bank yang menggunakan sistem bagi hasil berdasarkan revenue sharing kemungkinan besar mengakibatkan akan terjadinya tingkat bagi hasil yang diterima oleh pemilik dana akan lebih besar dibandingkan dengan tingkat suku bunga pasar yang berlaku.

Sesuai Latar belakang yang telah diuraikan, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengambil “Penerapan Prinsip Revenue Sharing Mudharabah Pada PT. Bank Syariah Mandiri KC Makassar”.

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu “Bagaimana Penerapan Prinsip Revenue Sharing Mudharabah Pada PT. Bank Syariah Mandiri KC Makassar.

C. Tujuan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka tujuan yang ingin di capai adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan prinsip Revenue sharing Mudharabah Pada PT. Bank Syariah Mandiri KC Makassar.

D. Manfaat Penelitian

Adapun beberapa manfaat penelitian ini : 1. Secara Teoritis

(19)

Dapat dijadikan sebagai sarana untuk menambah wawasan keilmuan melalui penelitian dengan mengaplikasikan teori yang sudah didapat selama studi diperguruan tinggi.

2. Secara Praktis

Bertujuan untuk memberi masukan dan dapat berkontribusi kepada pihak perbankan syariah mengenai prinsip revenue sharing yang sesuai dengan pembahasan yang dikemukakan.

3. Bagi Pihak Akademik

Dapat dijadikan sebagai referensi selanjutnya dalam memberikan suatu informasi serta pengetahuan kepada pihak akademi.

(20)

6 A. Revenue Sharing

1. Pengertian Revenue Sharing

Revenue perbankan syariah adalah hasil yang diterima oleh bank dari penyaluran dana (investasi) ke dalam bentuk aktiva produktif, yaitu penempatan dana bank pada pihak lain. Perbankan Syariah memperkenalkan sistem pada masyarakat dengan istilah Revenue Sharing, yaitu sistem bagi hasil yang dihitung dari total pendapatan pengelolaan dana tanpa dikurangi dengan biaya pengelolaan dana. Sistem revenue sharing berlaku pada pendapatan bank yang akan dibagikan dihitung berdasarkan pendapatan kotor (gross sales), yang digunakan dalam menghitung bagi hasil untuk produk pendanaan bank.

Suatu bank yang menerapkan sistem bagi hasil berdasarkan pembagian pendapatan (revenue sharing) adalah bagi hasil yang akan dihitung dari total pendapatan bank sebelum biaya bank, maka kemungkinan yang akan terjadi adalah taraf bagi hasil yang diterima oleh pemilik dana akan lebih besar dibandingkan dengan taraf suku bunga pasar yang berlaku. Kondisi ini akan mempengaruhi para pemilik dana akan mengarahkan investasinya pada bank syariah yang nyatanya justru bisa memberikan hasil yang optimal, sehingga akan berdampak kepada peningkatan total dana kepada pihak ketiga dengan cepat harus mampu diimbangi dengan penyalurannya dalam berbagai bentuk aset yang menarik, layak dan mampu memberikan profitabilitas yang maksimal bagi

(21)

pemilik dana (Meta Tridiana 2017:19).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan prinsip bagi hasil revenue sharing menurut Zaenal Arifin, dkk (2017) yaitu:

a. Pendapatan operasi utama bank syariah adalah pendapatan dari penyaluran dana investasi yang dibenarkan syariah yaitu pendapatan penyaluran prinsip jual beli, bagi hasil dan prinsip ijarah. Besarnya pendapatan dibagikan dalam perhitungan distribusi hasil usaha dengan prinsip bagi hasil (revenue sharing) adalah pendapatan (revenue) dari pengelolaan dana (penyaluran) sebesar porsi dana mudharabah (investasi tidak terikat) yang dihimpun tanpa adanya pengurangan beban yang dikeluarkan oleh bank syariah.

b. Hak pihak ketiga atas bagi hasil investasi tidak dibatasi merupakan bagian dari bagi hasil (pendapatan) yang diserahkan oleh Bank Syariah kepada pemilik dana mudharabah mutlaqah (investasi tidak tetap) c. Pendapatan operasional lainnya adalah biaya lainnya adalah biaya

manajemen untuk mengalokasikan dana, jumlahnya dinegoisasikan antara bank dan debitur (mudharib). Pendapatan yang diterima bank syariah dari usaha lain merupakan pendapatan usaha bank syariah dalam memberikan jasa keuangan dan kegiatan lainnya berdasarkan kegiatan seperti biaya penagihan, biaya transfer, dan insentif berbasis insentif lainnya.

d. Pembagian hasil usaha dengan prinsip bagi hasil (revenue sharing) biaya yang di keluarkan oleh bank syariah sebagai mudharib, baik biaya untuk kepentingan bank syariah tersebut maupun untuk kepentingan pengelolaan dana mudharabah, seperti beban tenaga kerja, biaya

(22)

umum dan biaya administrasi, beban operasi lainnya ditanggung oleh bank syariah yang bersangkutan sebagai mudharib.

2. Ciri-Ciri dari Revenue sharing

Adapun sistem bagi hasil memiliki beberapa ciri menurut Machmud dan Rukmana (2010:10) yaitu:

a. Penentuan bagi hasil dibuat sewaktu perjanjian dengan berdasarkan kepada untung atau rugi.

b. Jumlah nisbah bagi hasil berdasarkan jumlah keuntungan yang telah dicapai.

c. Bagi hasil tergantung pada hasil proyek.

d. Jumlah pemberian hasil keuntungan meningkat sesuai dengan peningkatan keuntungan meningkat sesuai dengan peningkatan keuntungan yang didapat

e. Penerima atau pembagian keuntungan adalah halal.

3. Rukun Revenue sharing

Dalam bagi hasil juga mempunyai tiga rukun yaitu dua atau lebih pelaku, obyek akad dan pelafazan akad.

Pertama, dua pihak atau lebih yang melakukan akad, kedua belah pihak disini merupakan nasabah dan pengelola modal. Keduanya disyaratkan harus memiliki kompetensi beraktivitas, yakni orang yang tidak dalam kondisi bangkrut terlilit hutang. Orang bangkut terlilit hutang, orang yang masih kecil, orang gila, orang idiot semuanya tidak boleh melakukan transaksi ini dan bukan merupakan syarat bahwa salah satu pihak atau kedua belah pihak harus seorang muslim

Kedua, obyek akad, obyek akad dalam kerja sama bagi hasil ini tidak

(23)

lain ialah modal, jenis usaha dan keuntungan yaitu, modal, jenis usaha, hukum-hukum laba (keuntungan). Dalam modal ini disyaratkan harus merupakan alat tukar, seperti emas, perak, atau uang secara umum. Asal dari usaha dalam bisnis bagi hasil merupakan dibidang perniagaan atau bidang-bidang lainnya.dalam pembahasan keuntungan, keuntungan itu juga dibagikan dengan presentasi yang sifatnya merata, seperti setengah, sepertiga, atau seperempat dan sejenisnya. Ketiga, pelafadzan akad, setiap dalam melakukan transaksi harus melafadzkan akad (Al-Muslih dan Ash, 2001 : 170).

B. Mudharabah

1. Pengertian Mudharabah

Menurut Djoko Moljono (2015:67) Mudharabah adalah kerja sama antara dua atau lebih dari pihak pemilik modal (shahibul mal), yang mempercayakan sejumlah modal dengan kontribusi seratus persen modal kepada pengelola (mudharib).

Menurut Abdullah Amrin (2006:133) Mudharabah adalah perjanjian yang dilakukan paling sedikit dua pihak. Mudharabah dapat dilakukan atas nama perseorangan atau lembaga, atau sebaliknya, lembaga dan seseorang. Pihak yang memiliki modal disebut Shahib al-mal atau rabb al mal. Orang/lembaga yang yang menerimanya dan menjalankan aktivitas usaha disebut pengusaha atau Mudharib.

Sedangkan menurut Fatwa DSN 07/DSN-MUI/IV/2000, Mudharabah adalah pembiayaan yang disalurkan LKS kepada pihak lain untuk suatu yang produktif.

Dari beberapa pemaparan mengenai mudharabah di atas, dapat ditarik

(24)

suatu kesimpulan bahwa mudharabah adalah kerja sama atau kontrak usaha antara dua atau lebih pihak yaitu pemilik modal (shahibul mal) sebagai pihak pertama yang menyediakan seluruh dana dan pihak pengelola (mudharib) sebagai pihak kedua yang bertindak sebagai pengelola. Keuntungan yang diperoleh dari hasil usaha dibagi berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak sedangkan jika terjadi kerugian yang menanggung adalah pihak penyedia modal.

2. Landasan hukum Mudharabah

Secara umum landasan hukum mudharabah lebih mencerminkan anjuran untuk melakukan usaha. Hal ini tampak dalam ayat-ayat dan hadist berikut ini:

a. Al-Quran

Sebagai kitab suci umat muslim, Alquran merupakan dasar hukum pertama dalam setiap peraturan manusia agama islam. Semua sudah diatur dalam Alquran dengan detail dan lengkap termasuk mengenai mudharabah khususnya pada anjuran untuk melakukan usaha yaitu:

Al-Muzzammil: 20

لله ِلِ ْضَف نِم َنوُغَتْبَي ِض ْرَلأا ىِف َنوُب ِرْضَي َنوُرَخاَء َو

“...dan orang-orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Allah...”

Makna dari surat Al-Muzzammil: 20 adalah menjelaskan tentang perjalanan manusia dimuka bumi untuk mencari karunia Allah SWT yang diambil dari kata yadhribun. Kata dari yadhribun sama dengan akar kata mudharabah yang berati melakukan suatu perjalanan.

b. Hadist

Hadis merupakan dasar hukum kedua dari mudharabah. HR Thabrani

(25)

dari Ibnu Abbas menyebut “Abbas bin Abdul Muthalib jika menyerahkan harta sebagai mudharabah, ia mensyaratkan kepada pengelola dananya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu dilanggar, ia (pengelola dana) harus menanggung risikonya. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas didengar oleh Rasulullah SAW, beliau membenarkannya”.

3. Jenis-jenis Mudharabah

Menurut Akhmad Mujahidin (2016:70) Mudharabah dapat dibedakan menjadi dua jenis, sebagai berikut:

a. Mudharabah Muthlaq

Mudharabah Muthlaq merupakan bentuk kerja sama antara pemilik modal (shahibul mal) dan pengelola (mudharib) yang cakupnya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu dan tempat usaha. Dalam pembahasan fiqh sering dicontohkan dengan ungkapan if’al ma syi’ta (lakukanlah sesukamu) dari shahibul mal ke mudharib yang memberi kekuasaan sangat besar.

b. Mudharabah Muqayyadah

Mudharabah Muqayyadah adalah kebalikan dari mudharabah muthlaq di mana si mudharib ini dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, atau tempat usaha. Adanya pembatasan ini sering kali mencerminkan kecenderungan umum si shahibul mal dalam memasuki dunia usaha.

Dalam praktik perbankan syariah modern, akad mudharabah muqayyadah dibedakan menjadi dua, yaitu

1) Mudharabah Muqayyadah on balance sheet, dalam dalam

(26)

mudharabah ini ialah aliran dana di catat dalam neraca bank.

Karenanya, selain mempertemukan investor dan pengusaha, bank juga ikut serta dalam proyek bisnis. Oleh karena itu, bagi hasil melibatkan tiga aspek yaitu bank, investor dan pengusaha, dan pada dasarnya proporsi masing-masing pihak bergantung pada kesepakatan.

2) Mudharabah Muqayyadah of balance sheet, pada jenis ini bank hanya bertindak sebagai arranger, dan transaksinya tidak tercatat dalam neraca bank, tetapi hanya dicatat dalam rekening administrasi. Nisbah bagi hasilnya bergantung pada kesepakatan antara kedua belah pihak, dan bank hanya memperoleh komisi melalui upaya untuk mempertemukan keduanya.

4. Rukun mudharabah

Menurut Akhmad Mujahidin (2017:71) menyatakan bahwa rukun dan syarat mudharabah yaitu:

a. Ijab Qabul

Pernyetaan kehendak yang berupa ijab qabul antara kedua belah pihak memiliki syarat-syarat, yaitu:

1) Ijab dan qabul itu harus jelas menunjukkan maksud untuk melakukan kegiatan mudharabah.

2) Ijab dan qabul harus sesuai yang berarti shahibul mal melakukan penawaran dan hal tersebut diketahui oleh mudharib. Yaitu ijab yang telah diucapkan oleh shahibul mal harus diketahui oleh mudharib sebagai tanda bahwa mudharib bersedia untuk melakukan kerja sama dengan shahibul mal. Ketersediaan tersebut bisa diungkapkan

(27)

dengan isyarat tubuh maupun dengan kata-kata.

3) Ijab dan qabul harus sesuai yang artinya shahibul mal sesuai dengan keinginan dari mudharib (pihak kedua) di mana kedua belah pihak harus menyetujui kesepakatan tersebut sehingga dapat terjadi hukum.

b. Adanya dua pihak (pihak pemilik dana dan pengelola dana)

Adapun yang termasuk syarat-syarat dari kedua belah pihak ialah sebagai berikut:

1) Cakap harus bertindak hukum sesuai dengan syar’i. Di mana pihak pertama memiliki peran untuk menjadi pemodal dan pihak kedua berperan sebagai pengelola dana.

2) Memberikan wewenang kepada pihak kedua (mudharib) yang artinya memberikan kuasa dan menerima kuasa atas penyerahan modal yang dilakukan oleh pihak pertama kepada pihak kedua sebagai bentuk penyerahan kuasa untuk mengelola dana tersebut.

c. Adanya dana (modal)

Syarat-syarat dari modal yaitu:

1) Modal harus diketahui berapa jumlah dan jenisnya oleh kedua belah pihak pada saat terjadi akad mudharabah, sehingga tidak terjadi kecurigaan oleh pihak pertama dalam pembagian keuntungan karena ketidakjelasan berada jumlah laba perolehannya.

2) Harus berupa uang bukan barang hal ini disepakati oleh sebagian besar ulama.

3) Uang harus bersifat tunai bukan utang, sehingga dana tersebut dapat digunakan dalam menjalankan suatu usaha.

(28)

4) Modal harus diberikan sepenuhnya kepada pihak kedua.

d. Adanya usaha (al-a’mal)

Mengenai jenis usaha pengelolaan ini sebagai ulama, khususnya Syafi’i dan Maliki, mensyaratkan bahwa usaha itu hanya berupa usaha dagang.

e. Adanya Keuntungan

1) Keuntungan tidak boleh dihitung berdasarkan persentase dari jumlah modal yang yang diinvestasikan, melainkan hanya keuntungannya setelah dipotong besarnya modal.

2) Keuntungan untuk masing-masing pihak tidak ditentukan dalam jumlah nominal.

3) Nisbah pembagian ditentukan dengan persentase.

5. Manfaat dan resiko bagi hasil mudharabah

Menurut muhammad Akhmad Mujahidin (2017:76) manfaat dari bagi hasil mudharabah adalah:

a. Bank akan menikmati peningkatan bagi hasil pada saat keuntungan usaha nasabah tersebut meningkat.

b. Bank tidak berkewajiban membayar bagi hasil kepada nasabah pendanaan secara tetap, tetapi disesuaikan dengan pendapatan atau usaha pihak bank sehingga tidak akan pernah mengalami negative spread.

c. Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash flow (arus kas) usaha nasabah, sehingga tidak memberatkan nasabah.

d. Bank akan lebih selektif dan hati-hati (prudent) mencari usaha yang benar, halal, aman dan menguntungkan yang kongrit dan benar-benar terjadi itulah yang akan terjadi.

(29)

e. Prinsip bagi hasil dalam mudharabah berbeda dengan dengan prinsip bunga tetap, dimana bank akan menagih penerima pembiayaan (nasabah) sesuai yang disepakati berapapun keuntungan yang dihasilkan nasabah, sekalipun merugi dan terjadi krisis ekonomi.

Resiko bagi hasil mudharabah menurut Muhammad Syafi’i Antinio (2002:98) sebagai berikut:

a. Side streaming, nasabah menggunakan dana itu bukan seperti yang disebut dalam kontrak.

b. Lalai dan kesalahan tersebut dilakukan dengan sengaja.

c. Penyembunyian keuntungan oleh nasabah bila nasabah tersebut tidak jujur.

6. Bagi hasil dalam perhitungan Mudharabah

Bagi hasil dalam sistem perbankan syariah merupakan ciri khas yang diberikan kepada masyarakat dan suatu usaha harus terlebih dahulu ditentukan pada saat terjadinya kontrak sesuai dalam aturan syariah tentang bagi hasil. Menurut Wika R, dkk (2018:69) definisi dari bagi hasil adalah suatu cara pembagian hasil usaha antara penyedia dana dan pengelola dana.

Berdasarkan pernyataan tersebut sistem bagi hasil adalah suatu bentuk usaha yang dilakukan oleh dua atau lebih pihak di mana kegiatan pembagian hasilnya dibagi sesuai dengan perjanjian awal dan kesepakatan yang telah ditentukan oleh kedua belah pihak.

(30)

Gambar 2. 1 Skema Mudharabah Sumber : Bayyin, A. T (2017:26) Keterangan :

a. Pemilik dana dan pengelola dana menyepakati akad mudharabah b. Proyek usaha sesuai akad mudharabah dekelolah pengelola dana c. Proyek usaha menghasilkan laba atau rugi

d. Jika untung dibagi sesuai nisbah yang telah ditentukan e. Jika mengalami kerugian akan ditanggung pemilik dana

C. Bank syariah

1. Pengertian Bank syariah

Ada beberapa pendapat tentang definisi bank syariah yang dikemukakan para ahli antara lain sebagai berikut.

Menurut Akhmad Mujahidin (2004:15) perbankan syariah atau perbankan islam adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan

Proyek Usaha

Pemilik Dana Akad Mudharabah Pengelola Dana

Porsi Rugi

Porsi Laba

Porsi Laba

Hasil Usaha:

Apabila untung akan dibagi nisbah Apabila rugi di tanggung pemilik dana

(31)

berdasarkan syariat (hukum) islam. Usaha dalam pembentukan ini didasarkan pada oleh larangan dalam agama islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram (misal : usaha yang berkaitan dengan produksi makanan/minuman haram, usaha media yang tidak islami dan lain-lain), dimana hal ini tidak dapat dijamin oleh sistem perbankan konvensional. Menurut Wika R, dkk (2018: 68) perbankan syariah merupakan suatu sistem yang dikembangkan berdasarkan prinsip syariah atau hukum syariah.

Dari beberapa pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa bank syariah adalah suatu sistem perbankan yang menjalankan kegiatan usahanya yang mengacu pada syariat islam dan dalam kegiatan usahanya tidak membebankan bunga maupun tidak membayar bunga pada nasabah.

2. Fungsi dan Tujuan Bank Syariah

Menurut Mardani (2015:26) fungsi dari bank syariah yaitu sebagai berikut:

a. Menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat.

b. Menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial yang berasal dari dana sosial dan menyalurkannya kepada organisasi pengelolaan zakat. Yang dimaksud dengan

“dana sosial lainnya” adalah penerimaan bank yang berasal dari pengenaan sanksi terhadap nasabah (ta’zir).

c. Menghimpun dana sosial yang berasal dari wakaf uang dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazir) sesuai dengan

(32)

kehendak pemberi wakaf (wakif).

Adapun tujuan dari bank syariah menurut Warkum Sumitro (2004:17) sebagai berikut:

a. Mengarahkan kegiatan ekonomi umat untuk bermuamalah secara islam khususnya muamalah yang berkaitan dengan perbankan, agar terhindar dari praktik-praktik riba atau jenis-jenis usaha/perdagangan lain yang mengandung unsur gharar, di mana jenis usaha tersebut selain dilarang dalam islam, juga telah menimbulkan dampak negatif terhadap kegiatan ekonomi umat.

b. Penghasilan yang sama melalui kegiatan investasi menciptakan pemerataan di sektor ekonomi, agar tidak terjadi kesenjangan yang amat besar antara pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan dana.

c. Untuk meningkatkan kualitas hidup, dengan membuka lebih banyak peluang usaha terutama bagi masyarakat miskin, yang diarahkan kepada kegiatan yang produktif, sehingga meningkatkan kualitas hidup dan menciptakan kemandirian usaha.

d. Untuk membantu menyelesaikan (mengentaskan) masalah kemiskinan yang biasanya merupakan program utama dari negara- negara yang sedang berkembang. Upaya bank islam untuk mengentaskan kemiskinan ini berupa pembinaan nasabah yang lebih menonjol sifat kebersamaan dari siklus usaha yang lengkap seperti rencana pengembangan wirausaha produsen, pengembangan intermediasi, renncana pengembangan konsumen, rencana pengembangan modal kerja, dan pengembangan usaha

(33)

bersama.

e. Untuk menjaga kestabilan ekonomi/moneter pemerintah. Dengan adanya kegiatan perbankan syariah diharapkan melalui penerapan sistem suku bunga dapat terhindar dari inflasi, terhindar dari persaingan yang tidak sehat antara lembaga keuangan (khususnya bank) dan mengatasi kemandirian lembaga keuangan (khususnya bank) dari pengaruh gejolak moneter baik dari dalam negri maupun di luar negri.

f. Untuk melindungi umat islam terhadap bank non-islam (konvensional).

3. Prinsip-Prinsip Bank Syariah

Bank syariah memiliki 5 prinsip menurut Muhammad (2008:85) yaitu:

a. Prinsip simpanan murni (al-wadi’ah)

Prinsip ini biasa juga disebut sebagai titipan, di mana bank hanya menggunakan prinsip ini hanya untuk simpanan (wadi’ah) hanya menerapkan bonus tidak memberikan keuntungan bagi hasil maupun margin.

b. Bagi Hasil (syirkah)

Konsep ini meliputi tata cara pembagian hasil usaha antara pemilik dana (shahibul mal) dengan pengelola dana (mudharib). Nisbah bagi hasil ini terjadi antara bank dan penyimpanan dana, maupun antara bank dengan nasabah penerima dana.

c. Prinsip jual beli (at-Tijarah)

Prinsip at-tijarah ialah prinsip dengan sistem yang memaparkan bagaimana penerapan konsep jual beli di mana bank membeli barang

(34)

yang di butuhkan terlebih dahulu atau menunjuk nasabah sebagai agen bank dalam melakukan pembelian barang atas nama bank, kemudian bank akan menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga beli ditambah dengan keuntungan yang diperoleh.

d. Prinsip sewa (al-ijarah)

Prinsip sewa terbagi menjadi dua jenis yaitu, pertama ijarah merupakan sewa murni seperti menyewa traktor dan alat-alat produk lainnya. Kedua, ijarah Almuntahiyah Bittamlik adalah penggabungan antara sewa dan beli, di mana si penyewa memegang kendali atas kepemilikan barang hingga berakhir masa sewa barang tersebut.

e. Prinsip jasa/fee (al-ajr walummulah)

Prinsip ini mencakup semua layanan non pembiayaan yang diberikan bank. Adapun jenis produk berdasarkan prinsip jasa yaitu antara lain bank garasi, kliring, inkaso, jasa, transfer, dan lain-lain.

4. Perbedaan bank syariah dan bank konvensional

Secara teknis, menabung dibank syariah dengan yang berlaku dibank konvensional hampir tidak ada perbedaan. Hal ini karena bank syariah maupun bank konvensional diharuskan mengikuti aturan teknis perbankan secara umum. Akan tetapi bila diamati lebih dalam terdapat perbedaan di antara keduanya.

Tabel 2.1

Perbedaan antara Bank Syariah dan Bank Konvensional

Bank Syariah Bank Konvensional

1. Investasi, hanya untuk proyek dan produk yang halal serta

menguntungkan

Investasi, tidak mempertimbangkan halal atau haram asalkan proyek yang dibiayai menguntungkan

(35)

2. Return yang dibayar dan atau diterima berasal dari bagi hasil atau pendapatan lainnya berdasarkan prinsip syariah.

3. Perjanjian yang dibuat dalam bentuk akad sesuai dengan syariah islam.

4. Orientasi pembiayaan, tidak hanya untuk keuntungan akan tetapi juga falah oriented, yaitu berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

5. Hubungan antara bank dan nasabah adalah mitra

6. Dewan pengawasan terdiri dari BI, Bapepam, komisaris, dan Dewan Pengawas Syariah (DPS).

7. Penyelesaian sengketa, diupayakan diselesaikan secara musyawarah antara bank dan nasabah,melalui peradilan agama

Return baik yang dibayar kepada nasabah penyimpanan dana dan return yang diterima dari nasabah penggunaan dana berupa bunga.

Perjanjian menggunakan hukum positif.

Orientasi pembiayaan, untuk memperoleh keuntungan atas dana yang dipinjamkan.

Hubungan antara bank dan nasabah adalah kreditur dan debitur.

Dewan pengawasan terdiri dari BI, Bapepam, dan Komisaris

Penyelesaian sengketa melalui pengadilan negri setempat.

Sumber : Ismail, 2011.

D. Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan oleh Rokhlinasari & Astuti (2016) mengenai penerapan pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) No.105 pada pembiayaan mudharabah pada PT. Bank BNI syariah cabang Cirebon.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa “pembagian usaha mudharabah dapat dilakukan berdasarkan prinsip bagi hasil atau bagi laba..

Bank BNI Syariah Cabang Cirebon yang masih menerapkan sistem metode revenue sharing.

Penelitian yang dilakukan oleh Muhadjir Suni (2018) mengenai analisis perhitungan bagi hasil mudharabah tabungan pada (studi kasus) PT. Bank

(36)

Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Harta Insan Karimah (HIK) Makassar.

Hasil dari penelitian ini adalah jika usaha yang dijalankan pihak bank mengalami kerugian maka kerugian tersebut ditanggung oleh kedua belah pihak yaitu nasabah dan BPRS HIK Makassar.

Peneliti lain yang dilakukan oleh Navadila Frurizk Susanto, Jenny Morasa, dan Heince R.N Wokas (2017) mengenai analisis penerapan sistem bagi hasil pembiayaan musyarakah menurut PSAK No. 106 di PT. Bank Syariah Mandiri kantor cabang Manado. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT Bank Syariah Mandiri KC Manado telah menerapkan sistem bagi hasil musyarakah melalui musyarakah pembiayaan dana berputar dan telah menerapkan pengakuan dan pengukuran berdasarkan PSAK 106.

Penelitian yang dilakukan oleh Andi Rio Makkulau Wahyu dan M Wahyu Abdullah (2016) mengenai penerapan prinsip syariah dalam akad pembiayaan murabahah pada bank Muamalat. Berdasarkan dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan yaitu pertama bentuk akad dan standar operasional produk pembiayaan murabahah pada Bank Muamalat kota parepare dengan mengacu kepada ketentuan Undang-undang Perbankan Syariah, BI (Bank Indonesia), OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan Fatwa DSN-MUI. Kedua, Penerapan prinsip syariah dalam akad pembiayaan murabahah pada bank Muamalat kota parepare telah sesuai dengan undang-undang perbankan syariah dan Fatwa DSN-MUI.

Penelitian yang dilakukan oleh Hendri Saladin (2015) mengenai penerapan sistem informasi akuntansi terhadap bagi hasil tabungan mudharabah pada PT. Bank BNI Syariah cabang Palembang. Berdasarkan dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem transaksi tabungan

(37)

mudharabah di Bank BNI Syariah cabang Palembang menggunakan akad mudharabah mulaqah dan sistem bagi hasil yang diterapkan mengacu pada prinsip Revenue Sharing.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Anan Dwi Saputro dan Moch.

Dzulkirom A.R (2015) mengenai sistem perhitungan bagi hasil pembiayaan mudharabah pada PT. Bank Syariah Mandiri cabang Malang. dapat diketahui bahwa sistem bagi hasil lebih menguntungkan kedua belah pihak dan risiko lebih kecil dari pada sistem bunga yang diterapkan bank konvensional pada umumnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Febriyandika (2015) mengenai. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa semua akad mudharabah di BMT Amanah Ummah menggunakan sistem bagi hasil revenue sharing, baik dalam hal pembiayaan maupun penghimpunan dana.

Penelitian yang dilakukan oleh Zaenal Arifin, Patricia Dhiana dan Hartono (2017) mengenai Komparasi Revenue dan Profit sharing pada sistem mudharabah pada PT. BPRS Mitra Harmoni Semarang. Penelitian ini menemukan bahwa PT BPRS Mitra Harmoni Semarang lebih sering menggunakan metode profit sharing dari pada metode revenue sharing.

Penelitian yang dilakukan oleh Yanu Aldo Asdana (2012) mengenai penggunaan prinsip bagi hasil dengan konsep Net Revenue Sharing dalam praktek transaksi mudharabah (Studi kasus pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk. Kantor cabang Malang. Dari hasil penelitian bahwa bank muamalat menggunakan prinsip Net Revenue Sharing dikarenakan adanya moral hazard nasabah, tingkat kepemilikan nasabah, batasan peran investor.

(38)

Penelitian terakhir yang dilakukan oleh Wika Ramdhani, jamaluddin Majid, dan Muh. Sapril Sardi Juardi (2018) mengenai penerapan dari prinsip profit sharing dan revenue sharing program tabungan dan mudharabah dan deposito mudharabah (studi pada PT. Bank Muamalat Kantor Cabang Makassar). Dalam penelitian ini memakai metode penelitian yang sumber datanya diperoleh dengan mendatangi perusahaan secara langsung sebagai objek penelitian.

Penelitian ini dengan beberapa penelitian terdahulu sama-sama menerapkan akuntansi syariah yang meliputi murabahah, mudharabah, musyarakah. Adapun beberapa penelitian yang berbeda tetapi sama-sama menggunakan metode revenue sharing dan penelitian ini juga hanya menjelaskan tentang peranan sistem informasi akuntansi pada bank syariah mandiri, dan terdapat juga penelitian mempunyai perbedaan dalam metode yang dipakai yaitu sistem profit sharing tetapi sama-sama menerapkan perhitungan mudharabah.

E. Kerangka pikir

PT. Bank Syariah Mandiri KC Makassar merupakan salah satu lembaga keuangan syariah di mana didalamnya menawarkan berbagai macam produk. Mengenai produk yang ditawarkan dalam perbankan syariah penelitian ini mencoba mengangkat salah satu dari produk tersebut yaitu produk mudharabah, produk ini sangatlah perlu dikembangkan dalam bank mandiri syariah karena berkaitan dengan bentuk kerja sama antara dua atau lebih pihak di mana pemilik modal (shahibul mal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian diawal. Agar bank syariah dapat mendapatkan kepercayaan dari publik dalam penawaran

(39)

produknya maka diperlukannya sistem informasi akuntansi yang tepat, sehingga dalam mempromosikan prinsip revenue sharing yang diterapkan PT. Bank Syariah Mandiri KC Makassar tersebut dapat diterima dan mendapatkan hasil yang begitu baik oleh publik.

Dari prinsip revenue sharing dengan metode mudharabah dapat diketahui bagaimana penerapan dalam PT. Bank Syariah Mandiri KC Makassar. Kerangka penelitian ini dapat disajikan dalam gambar 2.2

Gambar 2.2 kerangka pikir

Mudharabah adalah kerja sama atau kontrak usaha antara dua atau lebih pihak dimana pemilik dana (shahibul mal) sebagai pihak pertama mempercayakan sejumlah modal kepada pihak pengelola (mudharib) sebagai pihak kedua dengan suatu perjanjian diawal. Mudharabah ini dalam

MUDHARABAH

BANK SYARIAH MANDIRI

NASABAH

PRINSIP REVENUE SHARING

ANALISIS PENERAPAN

SESUAI TIDAK SESUAI

(40)

juga diatur dalam Al-qur’an khususnya pada anjuran melakukan usaha dalam surah Al-muzzammil ayat 20 “dan orang-orang yang berjalan dimuka bumi mecari sebagian karunia Allah”. Makna dari surah ini menjelaskan tentang yang berarti melakukan suatu perjalanan. Perjalanan manusia dimuka bumi untuk mencari karunia Allah SWT yang diambil dari kata yadhribun. Kata dari yadhribun sama dengan akar kata mudharabah yang berarti melakukan suatu perjalanan.

.

(41)

27 A. JENIS PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Menurut Bodgan dan Taylor (Lexy J. Moeloeng, 2011:4) penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Sementara itu, penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang diajukan untuk mendeskripsikan/menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamia maupun rekayasa manusia.

B. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN 1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan suatu tempat atau wilayah di mana penelitian tersebut dilakukan. Adapun penelitian yang dilakukan oleh penulis mengambil lokasi pada PT. Bank Syariah Mandiri KC Makassar yang berlokasi di Jl. DR Ratulangi No. 79 Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

2. Waktu penelitian

Waktu yang digunakan peneliti untuk penelitian ini dilaksanakan sejak tanggal dikeluarkannya izin penelitian dalam kurun waktu kurang lebih 2 bulan yaitu September dan Oktober 2020.

(42)

C. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL

Berkenaan dengan topik yang dipilih penulis dalam tugas akhir ini maka penulis menjabarkan definisi variabel yang akan diteliti yaitu bagi hasil mudharabah dan Revenue sharing.

Mudharabah adalah kerja sama atau kontrak usaha antara dua atau lebih pihak yaitu pemilik modal (shahibul mal) sebagai pihak pertama yang menyediakan seluruh modal, dan pihak pengelola (mudharib) sebagai pihak kedua yang bertindak sebagai pengelola

Revenue Sharing adalah suatu sistem bagi hasil di mana total seluruh pendapatan yang diterima sebelum dikurangi dengan biaya-biaya operasional yang telah dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut.

D. JENIS DAN SUMBER DATA 1. Jenis Data

Jenis data merupakan data-data yang dibutuhkan dalam penelitian berupa data kualitatif dan data kuantitatif (Darmawan & Hamid, 2015:73).

Dalam melaksanakan penelitian ini jenis data yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif, berupa data yang diperoleh dari PT. Bank Syariah Mandiri KC Makassar mengenai Revenue sharing (bagi hasil) Mudharabah data tersebut diperoleh dari hasil wawancara yang berhubungan dengan penelitian ini.

2. Sumber Data

Sumber data merupakan data yang bersumber dari mana data itu diperoleh (Darmawan & Hamid, 2015:73). Sumber data dalam penelitian ini yaitudata primer dan data sekunder berupa data yang diperoleh dari lembaga dan referensi berbagai macam sumber yang berhubungan

(43)

dengan objek penelitian mengenai data tentang prinsip revenue sharing (bagi hasil) mudharabah yang telah diolah dan didapatkan lewat dokumen- dokumen.

E. METODE PENGUMPULAN DATA

Metode pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis dalam memperoleh data penelitian, yaitu:

1. Penelitian kepustakaan

Metode ini merupakan suatu bentuk penelitian yang dilakukan penulis dengan cara memperoleh data dari pihak perusahaan dengan langsung ke pihak perusahaan atau berbagai literature, surat kabar, dan buku-buku dapat digunakan sebagai landasan teoritis.

2. Wawancara

Suatu bentuk penelitian yang dilakukan dengan cara mengunjungi langsung perusahaan tersebut, untuk mendapatkan data dan informasi lengkap sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

3. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan pengumpulan data yang digunakan untuk menelusuri data historis. Teknik dokumentasi dilakukan dengan carapengumpulan data melalui peninggalan arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil-dalil, atau hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan penelitian ini.

F. METODE ANALISIS

Metode yang digunakan oleh penulis dalam menganalisis data-data yang telah diperoleh, dihimpun dan diolah dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Metode analisis deskriptif kualitatif merupakan metode

(44)

analisis dengan membandingkan keadaan dan data-data perusahaan yang ada baik itu berupa data primer yaitu data yang berasal dari wawancara dan pengamatan langsung ke lapangan atau perusahaan dan data sekunder yaitu data-data yang berupa sejarah perusahaan, struktur organisasi, laporan keuangan dan data pendukung lainnya.

(45)

31 A. GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

1. Sejarah PT. Bank Syariah Mandiri

Nilai-nilai perusahaan yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan integritas telah tertanam kuat pada segenap insan Bank Syariah Mandiri (BSM) sejak aawal pendiriannya.

Kehadiran BSM sejak tahun 1999, sesungguhnya merupakan hikmah sekaligus berkah pasca krisis ekonomi dan moneter 1997-1998.

Sebagaimana diketahui, krisis ekonomi dan moneter sejak Juli 1997, yang disusul dengan krisis multi-dimensi termasuk di panggung politik nasional, telah menimbulkan beragam dampak negatif yang sangat hebat terhadap seluruh sendi kehidupan masyarakat, tidak terkecuali dunia usaha. Dalam kondisi tersebut, industri perbankan nasional yang di domoinasi oleh bank-bank konvensional mengalami krisis luar biasa.

Pemerintah akhirnya mengambil tindakan merestrukturisasi dan merekapitalisme sebagian bank-bank di Indonesia.

Pada saat bersamaan, pemerintah melakukan penggabungan (merger) empat bank (Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim, Dan Bapindo) menjadi satu bank baru bernama PT. Bank Mandiri (Persero) pada tanggal 31 Juli 1999. Kebijakan penggabungan tersebut juga menempatkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Sebagai pemilik mayoritas baru BSB.

Sebagai tindak lanjut dari keputusan merger, Bank Mandiri melakukan konsolidasi serta membentuk Tim pengembangan Perbankan Syariah.

(46)

Pembentukan tim ini bertujuan untuk mengembangkan layanan perbankan syariah dikelompok perusahaan Bank Mandiri, sebagai respons atas diberlakukannya UU No. 10 tahun 1998, yang memberi peluang bank umum untuk melayani transaksi syariah (dual banking system).

Tim pengembangan Perbankan Syariah memandang bahwa pemberlakuan UU tersebut merupakan momentum yang tepat untuk melakukan konversi PT Bank Susila Bakti dari bank konvensional menjadi bank syariah. Oleh karenanya, Tim pengembangan Perbankan Syariah segera mempersiapkan sistem dan infrastrukturnya, sehingga kegiatan usaha BSB berubah dari bank konvensional menjadi bank yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah dengan nama PT Bank Syariah Mandiri sebagaimana tercantum dalam Akta Notaris : Sutjipto,SH, No. 23 tanggal 8 September 1999. Perubahan kegiatan usaha BSB menjadi bank umum syariah dikukuhkan oleh Gubernur Bank Indonesia Melalui SK Gubernur BI No. 1/24/KEP.BI/1999, 25 Oktober 1999. Selanjutnya, melalui Surat Keputusan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia No.

1/1/KEP.DSG/1999, BI menyetujui perubahan nama menjadi PT Bank Syariah Mandiri. Menyusul pengukuhan dan pengakuan legal tersebut, PT Bank Syariah Mandiri secara resmi mulai beroperasi sejak Senin tanggal 25 Rajab 1420 H atau tanggal 1 November 1999.

PT Bank Syariah Mandiri hadir, tampil dan tumbuh sebagai bank yang mampu memadukan idealisme usaha dengan niai-nilai rohani, inilah yang melandasi kegiatan operasionalnya,. Harmoni ini antara idealisme usaha dan nilai-nilai rohani inilah yang menjadi salah satu keunggulan Bank

(47)

Syariah Mandiri dalam kiprahnya diperbankan Indonesia. BSM hadir untuk bersama membangun Indonesia yang lebih baik.

2. Visi dan Misi PT. Bank Syariah Mandiri a. Visi

1) Untuk Nasabah

BSM merupakan bank pilihan yang memberikan manfaat, menenteramkan dan memakmurkan.

2) Untuk Pegawai

BSM merupakan bank yang menyediakan kesempatan untuk beramanah sekaligus berkarir profesional.

3) Untuk Investor

Institusi keuangan syariah Indonesia yang terpecaya yang terus memberikan value berkesenimbungan.

b. Misi

1) Mewujudkan pertumbuhan dan keuntungan di atas rata-rata industri yang berkesenimbungan.

2) Meningkatkan kualitas produk dan layanan berbasis teknologi yang melampaui harapan nasabah.

3) Mengutamakan penghimpunan dana murah dan penyaluran pembiayaan pada segmen ritel.

4) Mengembangkan bisnis atas dasar nilai-nilai syariah universal.

5) Mengembangkan manajemen talenta dan lingkungan kerja yang sehat.

6) Meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.

(48)

3. Produk PT. Bank Mandiri Syariah

Setiap perusahaan yang bergerak dibidang keuangan atau pembiayaan pasti memiliki produk-produk atau jenis layanan yang bisa ditawarkan ke nasabahnya. Dalam hal ini bank mandiri syariah sebagai perbankan yang berlandaskan syariah memiliki produk-produk yang notabenenya sesuai dengan asas-asas dan hukum syariah. Berikut ini merupakan produk-produk yang ditawarkan bank mandiri syariah yang ditawarkan kepada nasabah berdasarkan yang diperoleh dari proses wawancara kepada informan yakni ibu berinisial M :

a. Produk Pembiayaan

Sistem pembiayaan BSM menempatkan nasabah sebagai mitra BSM dalam berwirausaha, sehingga posisi bank sebagai pemilik dana dan nasabah sebagai peminjam adalah sejajar. BSM menyediakan beberapa produk-produk pembiayaan yang digunakan dalam bank syariah mandiri yaitu:

 BSM Pembiayaan Mudharabah

Pembiayaan dimana seluruh modal kerja yang dibutuhkan nasabah ditanggung oleh pihak bank. Keuntungan yang diperoleh dibagi sesuai dengan nisbah yang telah disepakati.

 BSM Pembiayaan Musyarakah

Pembiayaan khusus untuk modal kerja, di mana dana dari bank merupakan bagian dari modal usaha nasabah dan keuntungan dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati.

 BSM Pembiayaan Murabahah

Pembiayaan berdasarkan akad jual beli antara antara bank dan

(49)

nasabah. Bank memiliki barang dibutuhkan dan menjualnya kepada nasabah sebesar harga pokok ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati. Dapat dipergunakan untuk keperluan usaha (investasi, modal kerja) dan pembiayaan konsumer.

 BSM Pembiayaan Istishna

Pembiayaan pengadaan barang dengan skema istishna adalah pembiayaan jangka pendek, menengah, dan panjang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengadaan barang (obyek istishna), dimana masa angsuran melebihi periode pengadaan barang (goods in process fi) dan bank mengakui pendapatan yang menjadi haknya pada periode ansuran, baik pada saat pengadaan berdasarkan persentase penyerahan barang, maupun setelah barang selesai dikerjakan.

b. Produk Jasa

Dalam bank syariah mandiri terdapat beberapa produk-produk jasa yang disediakan untuk melayani dan memenuhi kebutuhan transaksi jasa perbankan yang dibutuhkan dan dapat mempermudah masyarakat dalam melakukan transaksi. Berikut produk-produk yang ditawarkan oleh bank syariah mandiri:

1) BSM Net Banking

BSM Net Banking adalah Layanan transaksi perbankan (Non Tunai) melalui internet dengan menggunakan perangkat lunak browser pada komputer atau perangkat lainnya yang memungkinkan untuk mengakses internet. Nasabah dapat

(50)

melakukan transaksi seperti cek saldo, cek mutasi transaksi BSM Net, transfer antar rekening BSM, transfer antar Bank secara online dan real time, transfer tunai (PT Pos), pembayaran tagihan dan pembelian isi ulang pulsa handphone dan pembelian token serta transaksi lainnya.

2) BSM Mobile Banking

BSM Mobile Banking merupakan produk layanan perbankan melalu saluran distribusi elektronik Bank untuk mengakses rekening yang dimiliki nasabah di bank melalui jaringan komunikasi dengan sarana telpon seluler (ponsel) yang memberikan kemudahan untuk melakukan berbagai transaksi perbankan dimana saja dan kapan saja. Dalam Mobile Banking nasabah dapat melakukan transaksi seperti Informasi rekening, transaksi transfer, transaksi pembayaran, transaksi pembelian, Ziswaf, buka rekening, tarik tunai dan transaksi lainnya.

3) BSM Card

BSM Card merupakan untuk melakukan transaksi penarikan, pembayaran, dan pemindah bukuan dana pada ATM BSM, ATM Mandiri ATM bersama, maupun ATM Bank Card. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai kartu debit yang dapat digunakan untuk transaksi belanja dan merchant-merchant yang berlogokan “gunakan BSM Card Anda Disini”

c. Produk Pendanaan 1) Tabungan BSM

Tabungan dalam mata uang rupiah yang penarikan setorannya

(51)

dapat dilakukan setiap saat jam kas dibuka pada counter atau melalui ATM.

2) BSM Tabungan Simpatik

Tabungan menggunakan akad wadiah yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat berdasarkan syarat-syarat yag telah disepakati keduanya.

3) BSM Tabungan Berencana

Tabungan berjangka yang memberikan bagi hasil berjenjang serta kepastian pencapaian target dana yang telah ditetapkan.

4) BSM Tabunganku

Tabungan perorangan dengan syarat mudah dan ringan yang diterbitkan secara bersama oleh bank-bank di Indonesia yang bertujuan untuk menghidupkan budaya gemar menabung demi mensejahterakan masyarakat.

5) BSM Deposito

Investasi berjangka waktu tertentu dalam mata uang rupiah yang dikelola berdasarkan prinsip Mudharabah Muthlaqah.

6) BSM Giro

Sarana pemyimpanan dana dalam mata uang rupiah untuk untuk kemudahan transaksi dengan pengelolaan berdasarkan prinsip wadiah yad-dhamanah.

4. Tata nilai PT. Bank Syariah Mandiri

Dalam rangka mewujudkan visi dan misi BSM, insan-insa BSM perlu menerapkan nilai-nilai yang relatif seragam. Insan-insan BSM telah menemukan dan menyepakati nilai-nilai dimaksud, yang kemudian

(52)

disebut BSM Shared values. Nilai bersama BSM tersebut adalah AKHLAK (Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif) a. Amanah

Memegang teguh kepercayaan yang diberikan.

b. Kompeten

Cakap, terus belajar dang mengembangkan kapabilitas.

c. Harmonis

Keserasian, saling peduli dan menghargai perbedaan.

d. Loyal

Berdedikasi setia dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara.

e. Adaptif

Terus berinovasi dan antusias dalam menggerakkan maupun menghadapi perubahan.

f. Kolaboratif

Membangun kerja sama yang sinergis

(53)

5. Struktur organisasi

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Marketing

Pembiayaan Funding Pawning

RBRM(Retail Banking Relationship

Manager

FTS (Funding and

Transaction Staf

Pawning Officer

Pawning Administrasion Staf

Operation

BOSM (Branch Office Service

Manager

CSO(Customer Service Officer Head Teller

RBR (Retail Banking Representation

CSR (Customer Service Representative)

Teller Branch Manager

(54)

B. DESKRIPSI INFORMAN

Tabel 4.1

DESKRIPSI INFORMAN

No Nama Usia Jabatan Lama

Bekerja

Peran

1 Mentari 28 Customer

Service

3 Tahun Informan

Sumber: Data Diolah Penulis

C. HASIL PENELITIAN

1. Penerapan Prosedur Pembiayaan Mudharabah

Akad mudharabah merupakan salah satu produk bagi hasil yang terdapat perbankan syariah. Menurut Djoko Moljono (2015:67) Mudharabah adalah kerja sama antara dua atau lebih dari pihak pemilik modal (shahibul mal), yang mempercayakan sejumlah modal dengan kontribusi seratus persen modal kepada pengelola (mudharib). Sedangkan menurut informan pada saat wawancara mengatakan bahwa Mudharabah itu kerja sama antara dua orang atau lebih dimana pemilik modal ini mempercayakan modalnya untuk dikelolah oleh bank kemudian dana tersebut disalurkan kepada pemohon dana yang biasanya ada seorang pengusaha yang baru merintis usahanya mereka memohon dana untuk menjalankan usaha yang baru dirintis tersebut.

Akad mudharabah biasanya dipakai baik dalam pengumpulan dana (funding) maupun penyaluran dana (financing). Dari segi funding, akad mudharabah ini dapat berbentuk produk giro, tabungan, atau deposito.

Segi funding inilah yang akan muncul pada sisi liabilities neraca bank

(55)

dalam bentuk dana pihak ketiga. Sedangkan di sisi financing, bank syariah menyalurkan dana yang telah terkumpul dari dana pihak ketiga tersebut ke berbagai sektor usaha dalam berbagai bentuk produk pembiayaan (salah satunya adalah pembiayaan mudharabah). Segi financing inilah yang akan muncul pada sisi asset neraca bank dalam bentuk earning asset. Earning inilah yang menjadi sumber pendapatan bank, yang pada gilirannya akan dibagi hasil kan oleh bank kepada nasabah pihak ketiga (pemilik rekening giro, deposito, atau tabungan).

Dilansir dari laporan tahunan bank syariah mandiri 2019 apabila pembiayaan mudharabah mengalami penurunan nilai akibat hilang, rusak, atau faktor lain sebelum dimulainya usaha karena adanya kerusakan atau sebab lainnya tanpa adanya kelalaian atau kesalahan pihak pengelola dana, maka rugi tersebut mengurangi saldo pembiayaan mudharabah dan diakui sebagai kerugian bank. Apabila pembiayaan mudharabah mengalami penurunan nilai akibat hilang, rusak, atau faktor lain setelah dimulainya usaha tanpa adanya kelalaian atau kesalahan pengelola dana maka kerugian penurunan nilai tersebut diperhitungkan pada saat bagi hasil. Kerugian pembiayaan mudharabah akibat kelalaian atau kesalahan pengelola dana dibebankan pada pengelola dana dan tidak mengurangi pembiayaan mudharabah.

Berdasarkan hasil wawancara (tanggal 4 oktober) oleh informan yang berinisial M yang menjabat sebagai Customer Service mengatakan bahwa pembiayaan mudharabah dimulai ketika seorang nasabah yang bertindak sebagai pihak mudharib atau pemilik dana menyimpan dana di bank syariah mandiri lalu bank syariah mandiri sebagai shahibul mal atau

(56)

pengelola dana memutuskan untuk mengelola dana yang disimpan oleh nasabah tersebut, setelah itu ada nasabah yang bertindak sebagai pihak ketiga yang membutuhkan dana. Pihak ketiga disini biasanya adalah seorang pengusaha yang sedang merintis usahanya dan memerlukan dana untuk mengembangkan usahanya agar lebih maju. Setelah pihak ketiga mengajukan permohonan dana kepada bank syariah sebagai pihak kedua atau perantara, kemudian terjadilah akad atau perjanjian antara bank syariah mandiri sebagai pemberi dana dan pihak ketiga sebagai pemohon dana.

Setelah terjadi akad antara bank syariah sebagai pemberi dana dan pihak ketiga sebagai pemohon dana, dana kemudian dicairkan kepada pihak ketiga yang kemudian akan digunakan untuk membangun usahanya, tapi di sisi lain pihak bank mandiri syariah harus memastikan bahwa dana tersebut betul-betul digunakan untuk kepentingan usaha bukan untuk kepentingan lain, seperti contoh jika pengusaha atau pihak ketiga ingin membeli kendaraan demi menunjang kelancaran usahanya maka bank syariah akan memastikan bahwa dana yang dicairkan tersebut betul-betul digunakan untuk membeli kendaraan dan bank syariah sendiri yang akan membelikan secara langsung kendaraan tersebut dan pihak ketiga akan membayar secara bertahap atau angsuran sesuai dengan perjanjian dengan pihak bank syariah.

2. Penerapan Revenue Sharing Mudharabah Pada PT Bank Syariah Mandiri KC Makassar

Suatu bank yang menggunakan sistem bagi hasil berdasarkan revenue sharing ialah bagi hasil yang akan didistribusikan dihitung dari

Gambar

Tabel 2.1 Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah  .........................20  Tabel 4.1 Deskripsi Informan ...........................................................................40
Gambar 2.1 Skema Mudharabah .....................................................................16  Gambar 4.1 Kerangka Pikir ..............................................................................25
Gambar 2. 1  Skema Mudharabah  Sumber : Bayyin, A. T (2017:26)  Keterangan :
Gambar 2.2 kerangka pikir
+3

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa kelas II SD Bawakaraeng pada mata pelajaran matematika, salah satunya dalam pembelajaran soal