• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bank Syariah

Dalam dokumen FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS (Halaman 30-35)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

C. Bank Syariah

1. Pengertian Bank syariah

Ada beberapa pendapat tentang definisi bank syariah yang dikemukakan para ahli antara lain sebagai berikut.

Menurut Akhmad Mujahidin (2004:15) perbankan syariah atau perbankan islam adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan

Proyek Usaha

Pemilik Dana Akad Mudharabah Pengelola Dana

Porsi Rugi

Porsi Laba

Porsi Laba

Hasil Usaha:

Apabila untung akan dibagi nisbah Apabila rugi di tanggung pemilik dana

berdasarkan syariat (hukum) islam. Usaha dalam pembentukan ini didasarkan pada oleh larangan dalam agama islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram (misal : usaha yang berkaitan dengan produksi makanan/minuman haram, usaha media yang tidak islami dan lain-lain), dimana hal ini tidak dapat dijamin oleh sistem perbankan konvensional. Menurut Wika R, dkk (2018: 68) perbankan syariah merupakan suatu sistem yang dikembangkan berdasarkan prinsip syariah atau hukum syariah.

Dari beberapa pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa bank syariah adalah suatu sistem perbankan yang menjalankan kegiatan usahanya yang mengacu pada syariat islam dan dalam kegiatan usahanya tidak membebankan bunga maupun tidak membayar bunga pada nasabah.

2. Fungsi dan Tujuan Bank Syariah

Menurut Mardani (2015:26) fungsi dari bank syariah yaitu sebagai berikut:

a. Menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat.

b. Menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial yang berasal dari dana sosial dan menyalurkannya kepada organisasi pengelolaan zakat. Yang dimaksud dengan

“dana sosial lainnya” adalah penerimaan bank yang berasal dari pengenaan sanksi terhadap nasabah (ta’zir).

c. Menghimpun dana sosial yang berasal dari wakaf uang dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazir) sesuai dengan

kehendak pemberi wakaf (wakif).

Adapun tujuan dari bank syariah menurut Warkum Sumitro (2004:17) sebagai berikut:

a. Mengarahkan kegiatan ekonomi umat untuk bermuamalah secara islam khususnya muamalah yang berkaitan dengan perbankan, agar terhindar dari praktik-praktik riba atau jenis-jenis usaha/perdagangan lain yang mengandung unsur gharar, di mana jenis usaha tersebut selain dilarang dalam islam, juga telah menimbulkan dampak negatif terhadap kegiatan ekonomi umat.

b. Penghasilan yang sama melalui kegiatan investasi menciptakan pemerataan di sektor ekonomi, agar tidak terjadi kesenjangan yang amat besar antara pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan dana.

c. Untuk meningkatkan kualitas hidup, dengan membuka lebih banyak peluang usaha terutama bagi masyarakat miskin, yang diarahkan kepada kegiatan yang produktif, sehingga meningkatkan kualitas hidup dan menciptakan kemandirian usaha.

d. Untuk membantu menyelesaikan (mengentaskan) masalah kemiskinan yang biasanya merupakan program utama dari negara- negara yang sedang berkembang. Upaya bank islam untuk mengentaskan kemiskinan ini berupa pembinaan nasabah yang lebih menonjol sifat kebersamaan dari siklus usaha yang lengkap seperti rencana pengembangan wirausaha produsen, pengembangan intermediasi, renncana pengembangan konsumen, rencana pengembangan modal kerja, dan pengembangan usaha

bersama.

e. Untuk menjaga kestabilan ekonomi/moneter pemerintah. Dengan adanya kegiatan perbankan syariah diharapkan melalui penerapan sistem suku bunga dapat terhindar dari inflasi, terhindar dari persaingan yang tidak sehat antara lembaga keuangan (khususnya bank) dan mengatasi kemandirian lembaga keuangan (khususnya bank) dari pengaruh gejolak moneter baik dari dalam negri maupun di luar negri.

f. Untuk melindungi umat islam terhadap bank non-islam (konvensional).

3. Prinsip-Prinsip Bank Syariah

Bank syariah memiliki 5 prinsip menurut Muhammad (2008:85) yaitu:

a. Prinsip simpanan murni (al-wadi’ah)

Prinsip ini biasa juga disebut sebagai titipan, di mana bank hanya menggunakan prinsip ini hanya untuk simpanan (wadi’ah) hanya menerapkan bonus tidak memberikan keuntungan bagi hasil maupun margin.

b. Bagi Hasil (syirkah)

Konsep ini meliputi tata cara pembagian hasil usaha antara pemilik dana (shahibul mal) dengan pengelola dana (mudharib). Nisbah bagi hasil ini terjadi antara bank dan penyimpanan dana, maupun antara bank dengan nasabah penerima dana.

c. Prinsip jual beli (at-Tijarah)

Prinsip at-tijarah ialah prinsip dengan sistem yang memaparkan bagaimana penerapan konsep jual beli di mana bank membeli barang

yang di butuhkan terlebih dahulu atau menunjuk nasabah sebagai agen bank dalam melakukan pembelian barang atas nama bank, kemudian bank akan menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga beli ditambah dengan keuntungan yang diperoleh.

d. Prinsip sewa (al-ijarah)

Prinsip sewa terbagi menjadi dua jenis yaitu, pertama ijarah merupakan sewa murni seperti menyewa traktor dan alat-alat produk lainnya. Kedua, ijarah Almuntahiyah Bittamlik adalah penggabungan antara sewa dan beli, di mana si penyewa memegang kendali atas kepemilikan barang hingga berakhir masa sewa barang tersebut.

e. Prinsip jasa/fee (al-ajr walummulah)

Prinsip ini mencakup semua layanan non pembiayaan yang diberikan bank. Adapun jenis produk berdasarkan prinsip jasa yaitu antara lain bank garasi, kliring, inkaso, jasa, transfer, dan lain-lain.

4. Perbedaan bank syariah dan bank konvensional

Secara teknis, menabung dibank syariah dengan yang berlaku dibank konvensional hampir tidak ada perbedaan. Hal ini karena bank syariah maupun bank konvensional diharuskan mengikuti aturan teknis perbankan secara umum. Akan tetapi bila diamati lebih dalam terdapat perbedaan di antara keduanya.

Tabel 2.1

Perbedaan antara Bank Syariah dan Bank Konvensional

Bank Syariah Bank Konvensional

1. Investasi, hanya untuk proyek dan produk yang halal serta

menguntungkan

Investasi, tidak mempertimbangkan halal atau haram asalkan proyek yang dibiayai menguntungkan

2. Return yang dibayar dan atau diterima berasal dari bagi hasil atau pendapatan lainnya berdasarkan prinsip syariah.

3. Perjanjian yang dibuat dalam bentuk akad sesuai dengan syariah islam.

4. Orientasi pembiayaan, tidak hanya untuk keuntungan akan tetapi juga falah oriented, yaitu berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

5. Hubungan antara bank dan nasabah adalah mitra

6. Dewan pengawasan terdiri dari BI, Bapepam, komisaris, dan Dewan Pengawas Syariah (DPS).

7. Penyelesaian sengketa, diupayakan diselesaikan secara musyawarah antara bank dan nasabah,melalui peradilan agama

Return baik yang dibayar kepada nasabah penyimpanan dana dan return yang diterima dari nasabah penggunaan dana berupa bunga.

Perjanjian menggunakan hukum positif.

Orientasi pembiayaan, untuk memperoleh keuntungan atas dana yang dipinjamkan.

Hubungan antara bank dan nasabah adalah kreditur dan debitur.

Dewan pengawasan terdiri dari BI, Bapepam, dan Komisaris

Penyelesaian sengketa melalui pengadilan negri setempat.

Sumber : Ismail, 2011.

Dalam dokumen FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS (Halaman 30-35)

Dokumen terkait