MASTERPLAN
KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK)
LHOKSEUMAWE
KATA PENGANTAR KEPALA BAPPEDA ACEH
Kota Lhokseumawe merupakan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) di wilayah Aceh yang melayani arus orang, barang dan jasa dari luar ke dalam wilayah Kota Lhokseumawe ataupun sebaliknya dalam lingkup domestik maupun dalam lingkup internasional. PKN dipusatkan di Kota Lhokseumawe dan sebagian wilayah Kabupaten Aceh Utara yang berperan sebagai pusat pelayanan skala nasional, regional dan internasional yang didukung oleh Kawasan Industri Lhokseumawe, Pelabuhan Lhokseumawe, dan Bandar Udara Malikussaleh (berada di wilayah Kabupaten Aceh Utara yang merupakan wilayah pendukung PKN Lhokseumawe). Dukungan lain diberikan dengan adanya Perguruan Tinggi yaitu Universitas Malikussaleh dan Politeknik Lhokseumawe yang mencetak sumber daya manusia yang terampil dan siap untuk terlibat dalam pengembangan Lhokseumawe untuk menjadi suatu kawasan ekonomi khusus.
Dengan adanya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lhokseumawe diharapkan akan mentransformasikan struktur ekonomi Aceh terutama struktur ekonomi Lhokseumawe dan daerah-daerah penyangganya untuk memiliki nilai tambah yang lebih besar yang berbasis pada industri pengolahan, energi dan logistik. Disamping itu dengan adanya KEK Lhokseumawe akan mendorong laju pertumbuhan ekonomi yang lebih meningkat di masa mendatang. Ketiga komponen industri yang berbasis pada pengolahan, energi dan logistik ini adalah sangat layak untuk menjadi sumber mesin pertumbuhan ekonomi (economic growth driver) di kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya.
memberikan kontribusinya dalam struktur perekonomian. Disamping itu, struktur ekonomi Aceh akan bergeser secara mendasar dengan diberlakukannya kawasan ekonomi khusus. Dalam waktu 15 tahun kedepan sejak diberlakukannya KEK Lhokseumawe, struktur ekonomi Aceh akan lebih bertopang pada industri dan sektor tersier, dimana sekarang hanya memberikan kontribusi sebesar 14 persen dan diproyeksikan akan menjadi hampir sekitar 30 persen pada akhir tahun 2030.
Kami selaku penyusun dokumen Masterplan KEK Lhokseumawe mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang selama ini telah memberikan masukan dan data penunjang yang diperlukan. Kami berharap dokumen Masterplan KEK Lhokseumawe ini dapat menjadi salah satu basis dan acuan didalam kegiatan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Lhokseumawe selama periode tahun 2015-2030.
Terakhir, kami berharap semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk kepada kita semua dalam rangka mewujudkan dan mengembangkan KEK Lhokseumawe sehingga mampu mensejahterakan rakyat Aceh terutama yang berada dalam kawasan Lhokseumawe dan daerah penyangganya, amin ya rabbal alamin.
BANDAACEH, SEPTEMBER2015 KEPALABAPPEDAACEH
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... DAFTAR TABLE ... DAFTAR GAMBAR... BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Maksud Dan Tujuan ... 5
1.3 Ruang Lingkup Materi... 6
1.4 Metode Pendekatan ... 7
1.5 Sistematika Penyusunan ... 7
BAB II GAMBARAN UMUM KEK LHOKSEUMAWE 2.1 Gambaran Umum ... 2.1.1 Kota Lhokseumawe... 8
2.1.1.1 Aspek Geografis ... 8
2.1.1.2 Topografi ... 9
2.1.1.3 Geologi ... 10
2.1.1.4 Klimatologi ... 11
2.1.1.5 Potensi Pengembangan Wilayah... 12
2.1.1.6 Wilayah Rawan Bencana ... 14
2.1.2.1 Aspek Geografis ... 15
2.1.2.2 Topografi ... 16
2.1.2.3 Geologi ... 16
2.1.2.4 Klimatologi ... 17
2.1.2.5 Potensi Pengembangan Wilayah... 18
2.1.2.6 Wilayah Rawan Bencana ... 20
2.2 Kegiatan - kegiatan Industri dalam KEK Lhokseumawe... 21
2.3 Komponen Sosial dan Ekonomi... 24
2.3.1 Komponen Sosial... 24
2.3.1.1 Kota Lhokseumawe... 24
2.3.1.2 Kabupaten Aceh Utara ... 29
2.3.2 Struktur Ekonomi Kota Lhokseumawe... 34
2.3.2.1 Pertumbuhan Ekonomi Kota Lhokseumawe ... 41
2.3.3 Struktur Ekonomi Kabupaten Aceh Utara ... 43
BAB III ANALISA PENGEMBANGAN KAWASAN... 3.1 Analisis Kebijakan... 47
3.1.1 Analisa Peraturan Undang-Undang Terkait ... 47
3.1.2 Analisa Kebijakan Umum Pembangunan... 49
3.1.3 Analisis Kebijakan Tata Ruang... 50
3.1.4 Analisa Kebijakan Pembangunan Sektoral... 56
3.1.5 Analisis Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan... 58
3.2 Analisa Regional Kawasan ... 60
3.2.2 Analisis Kedudukan dan Keterkaitan Struktur Ekonomi
Kawasan Pada Wilayah Regional ... 61
3.2.3 Analisis Kedudukan dan Keterkaitan Sistem Jaringan Kawasan pada Wilayah Regional ... 65
3.2.4 Analisis Kedudukan dan Keterkaitan Pengelolaan Lingkungan Kawasan pada wilayah Regional ... 73
3.3 Analisa Internal Kawasan ... 74
3.3.1 Analisa Demografi dan Sosial Budaya ... 74
3.3.2 Analisa Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Ekonomi Kawasan... 75
3.3.3 Analisa Penggunaan Lahan ... 78
3.4 Analisa Pendanaan KEK... 79
3.4.1 Anggaran publik untuk infrastruktur dasar ... 79
3.4.2 Skema Kerjasama Pemerintah Swasta... 79
3.4.3 Dana Investasi Dalam Negeri ... 80
3.4.4 Dana Investasi Swasta Asing ... 80
BAB IV ANALISA PERKIRAAN DAMPAK MODAL 4.1 Pendahuluan... 81
4.2 Rencana Kegiatan Pembangunan KEK Lhokseumawe... 82
4.2.1 Kegiatan yang Sedang berlangsung ... 82
4.2.2 Tahapan Rencana Kegiatan dan Eksternalitasnya ... 84
4.2.2.1 Tahapan Rencana Kegiatan... 84
4.3 Dampak Potensial Kegiatan KEK Lhokseumawe ... 89
4.3.1 Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan ... 89
4.3.2 Identifikasi Dampak Potensial KEK Lhokseumawe ... 90
4.4 Prakiraan Dampak Penting ... 94
4.5 Evaluasi Dampak Penting ... 95
4.6 Prakiraan Masalah Dampak Sosial... 96
4.6.1 Tahap Pra Kontruksi dan Kontruksi ... 96
4.6.2 Tahap Operasional ... 98
BAB V RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN 5.1 Tujuan Pengembangan... 101
5.2 Kebijakan dan Strategi Pengembangan ... 103
5.3 Rencana Struktur Ruang Kawasan... 105
5.4 Rencana Delineasi dan Zonasi Peruntukan Kawasan ... 108
5.5 Rencana Pengembangan Infrastruktur Pendukung ... 108
5.6 Rencana Pengembangan Sumber Daya Manusia... 111
5.7 Review Kegiatan Industri Eksiting dan Rencana ... 111
Pengembangan ... 111
5.7.1 PT. Arun LNG –PT Arun Gas (PAG)... 113
5.7.2 PT. Pupuk Iskandar Muda ... 116
5.7.3 Potensi Industri di wilayah Hinterland KEK ... 119
5.7.4 Pabrik Pengolahan Kepala Sawit (CPO) ... 122
BAB VI PROYEKSI EKONOMI DAN KEUANGAN
KEK LHOKSEUMAWE... 127
6.1 Transformasi Struktur Ekonomi ... 127
6.1.1 Pertumbuhan Ekonomi... 128
6.2 Pengembangan Industri Kawasan Ekonomi Khusus ... 131
6.3 Ketenagakerjaan ... 132
BAB VII TAHAPAN INDIKASI PROGRAM DAN MEKANISME PEMBIAYAAN ... 156
7.1 Pentahapan Program Pembangunan ... 156
7.2 Indikasi Program Pembangunan ... 156
7.3 Mekanisme Sumber Pembiayaan Pembangunan... 158
BAB VIII PENGELOLAAN KEK LHOKSEUMAWE ... 161
8.1 Instansi Pengususl ... 161
8.2 Proses Pengusulan KEK Lhokseumawe ... 162
8.3 Bentuk Kelembagaan KEK Lhokseumawe ... 163
8.3.1 Dewan Nasional KEK ... 163
8.3.2 Dewan Nasional dan Kawasan KEK Lhokseumawe ... 164
8.3.3 Administrator Kawasan ... 165
8.4 Badan Usaha Pengelola KEK Lhokseumawe... 166
DAFTAR TABLE
TABLE
2.1 Luas Kecamatan di Kota Lhokseumawe Tahun 2013... 9 2.2 Jumlah dan Kepadatan Penduduk per kecamatan
Lhokseumawe Tahun 2013 ... 25 2.3 Jumlah penduduk menurut usia produktif Kota
Lhokseumawe tahun 2013 ... 25 2.4 Penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja
Berdasarkan sektor pekerjaan utama kota lhokseumawe
Tahun 2013 Penduduk Tahun 2013 ... 26 2.5 Perkembangan distribusi penduduk Kabupaten Aceh Utara
Menurut kecamatan Tahun 2010 - 2013 ... 30 2.6 Rasion penduduk Kabupaten Aceh Utara yang bekerja
Selama periode Tahun 2010 - 2013 ... 31 2.7 Perkembangan Angka melek huruf Kabupaten Aceh Utara
Tahun 2010 – 2015 ... 31 2.8 Angka pendidikan yang ditamatkan Kabupaten Aceh
Utara Tahun 2010 ... 32 2.9 Persentase balita gizi buruk ... 34 2.10 Peranan sektor ekonomi dalam PDRB Lhokseumawe atas
dasar harga berlaku menurut sektor, 2010 – 2013 dalam migas
dengan (persen)... 36 2. 11 Peranan sektor ekonomi dalam PDRB Lhokseumawe atas
dasar harga berlaku menurut sektor, 2010 – 2013 tanpa migas
Lhokseumawe atas dasar harga berlaku menurut sektor
2010 – 2013 dengan dan tanpa migas (persen) ... 42
3.1 Penetapan kawasan strategis di Kota Lhokseumawe ... 53
3.2 Distribusi PDRB kota lhokseumawe tahun 2009 – 2012 Menurut sektor ekonomi non migas atas dasar harga berlaku... 65
3.3 Pusat pelayanan di kota Lhokseumawe ... 69
3.4 Sistem Jaringan jalan dikota Lhokseumawe ... 71
4.1 Rencana pengembangan fasilitas eks kilang PT. Arun ... 86
4.2 Rencana pengembangan fasilitas eks kilang PT. PIM ... 87
4.3 Kompilasi dampak potensial pada tahapan pembangunan KEK Lhokseumawe ... 94
5.1 Distribusi PDRB Kota Lhokseumawe Tahun 2009 – 2012 Menurut Sektor Ekonomi dengan Migas Atas Dasar Harga Berlaku 112 5.2 Kewajiban Penyaluran Pupuk Subsidi PT PIM Tahun 2015 ... 117
5.3 Program Pengembangan PT. PIM Tahun 2016 – 2019... 118
6.1 Komposisi Struktur Ekonomi Lhokseumawe dan Aceh Utara 2015 – 2030... 127
6.2 Pertumbuhan Ekonomi Lhokseumawe 2011 – 2014 ... 129
6.3 Estimasi pertumbuhan ekonomi 2015 – 2030 (Lhokseumawe Dan Aceh Utara ... 130
6.4 Data pencari kerja di Kota Lhokseumawe yang telah Terdaftar dan yang belum/telah ditempatkan ... 133
6.5 Kapasitas produksi, jumlah produksi dan kapasitas Produksi yang terpkai pabrik pupuk urea di Indonesia... 141
6.6 Kapasitas produksi Jumlah produksi dan kapasitas produksi Yang terpkai pabrik pupuk amonia di Indonesia ... 142
6.8 proyeksi permintaan pupuk nutrisi utama dunia ... 144
6.9 proyeksi suply pupuk nutrisi utama dunia ... 144
6.10 proyeksi suply dan permintaan pupuk utama di Asia ... 145
6.11 proyeksi permintaan dan suply pupuk utama di Asia ... 145
6.12 Kebutuhan unsur hara ... 146
6.13 Rencana Pengembangan dan Estimasi Investasi Usaha PT. PIM . 147 6.14 Proyeksi Produksi PT. PIM... 152
6.15 Proyeksi jumlah komoditas yang dihasilkan di Aceh ... 153
6.16 Produksi komsumsi masyarakat Aceh ... 154
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR
1.1 Sebaran Lokasi Kek 2009-2014 Dan Rencana KEK 2014-2019 ... 3
1.2 Struktur Ekonomi Aceh 2014 ... 4
1.3 Transpormasi Struktur Ekonomi ... 4
1.4 Peta Rencana Pengembangan KEK Lhokseumawe ... 5
2.1 Peta Wilayah Administrasi Kota Lhokseumawe ... 9
2.2 Peta Kemiringan Lereng Lhokseumawe ... 10
2.3 Peta Geologi Kota Lhokseumawe... 11
2.4 Peta Curah Hujan Kota Lhokseumawe ... 12
2.5 Peta Rencana Tata Ruang Kota Lhokseumawe ... 13
2.6 Peta Rawan Bencana Kota Lhokseumawe ... 14
2.7 Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Aceh Utara ... 15
2.8 Peta Ketinggian Lahan Di Kabupaten Aceh Utara ... 16
2.9 Peta Geologi Kabupaten Aceh Utara ... 17
2.10 Peta Curah Hujan Kabupaten Aceh Utara ... 18
2.11 Peta Rencana Tata Ruang Kota Lhokseumawe ... 20
2.12 Peta Rencana KEK Lhokseumawe... 22
2.13 Kawasan Existing Industri Lhokseumawe ( PT. Arun, PT. PIM dan PT. AAF ) ... 24
2.14 Persentase Penduduk Menurut Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin di kota lhokseumawe Tahun 2013 ... 27
2.15 Angka Melek Huruf... 28
2.16 Angka Harapan Hidup di Kota Lhokseumawe Tahun 2009 – 2013 ... 29
2.18 Makroekonomi Outlook kota Lhokseumawe 2010 – 2013... 35
2.19 Perananan PDRB dengan Migas kota Lhokseumawe tahun 2013.. 38
2.20 Peranan PDRB tanpa migas kota Lhokseumawe tahun 2013... 41
2.21 Indikator Makroekonomi Kabupaten Aceh Utara 2010 – 2013 ... 43
2.22 PDRB ADHK 2000 tahun 2010 – 2013 ... 44
5.1 Rencana Pengembangan KEKLhokseumawe... 102
5.2 Peta Lokasi Industri Exiting di sekitar KEK Lhokseumawe ... 113
5.4 Lokasi PT Arun LNG di KEK Lhokseumawe... 116
5.5 Lokasi PT PIM di KEK Lhokseumawe... 117
5.6 Program Pengembangan PT. PIM Tahun 2016 – 2019... 119
5.7 Lokasi PT KKA di KEK Lhokseumawe ... 120
5.8 Konektifitas Potensi Sawit Koridor Utara Aceh KEK Lhokseumawe... 123
5.9 Konektifitas Potensi Kakao Koridor Utara Aceh KEK Lhokseumawe ... 124
5.10 Konektifitas Potensi Padi Koridor Utara Aceh KEK Lhokseumawe ... 125
5.11 Konektifitas Potensi Kopi Koridor Utara Aceh KEK Lhokseumawe ... 126
8.1 Mekanisme Pengusulan KEK Lhokseumawe... 163
8.2 Kelembagaan KEK Lhokseumawe ... 166
8.3 Skema Pembentukan Badan Usaha... 167
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan UU Nomor 39 Tahun 2009 yang menegaskan bahwa untuk mempercepat pengembangan ekonomi di wilayah tertentu yang bersifat
strategis bagi pengembangan ekonomi nasional dan untuk menjaga
keseimbangan kemajuan suatu daerah dalam kesatuan ekonomi nasional, perlu dikembangkan Kawasan Ekonomi Khusus. Kemudian untuk mendukung pelaksanaan Kebijakan pengembangan Kawasan Strategis Nasional (KSN)
tersebut maka RPJMN 2015-2019 bidang ekonomi disebutkan bahwa penetapan
kawasan strategis nasional mempunya iupaya untuk memacu pusat-pusat pertumbuhan dalam rangka meningkatkan nilai tambah produk komoditas
unggulan yang berasal dari desa-desa, wilayah-wilayah tertinggal, dan kawasan perbatasan serta melancarkan distribusi pemasaran baik nasional
maupun global melalui pembentukan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Pusat-pusat pertumbuhan tersebut yaitu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK),
Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, Kawasan Industri, dan
pusat-pusat pertumbuhan penggerak ekonomi daerah pinggiran lainnya. Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan tersebut diantaranya untuk
mendorong percepatan pembangunan ekonomi nasional berbasis maritim (kelautan) di kawasan pesisir dengan memanfaatkan sumber daya kelautan
dan jasa kemaritiman, yaitu peningkatan produksi perikanan; pengembangan energi dan mineral kelautan; pengembangan kawasan wisata bahari dan
kemampuan industri maritim dan perkapalan.
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), yang selanjutnya disebut KEK,
adalah kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. KEK dikembangkan melalui
dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri, ekspor, impor, dan
kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional. Jenis kegiatan yang ada di zona KEK tersebut adalah zona
pengolahan ekspor, logistik, industri, pengembangan teknologi, pariwisata, energi dan/atau zona ekonomi lain. Sedangkan kriteria lokasi KEK (pasal 4,
UU Nomor 39 Tahun 2009) adalah :
1. Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan tidak berpotensi
mengganggu kawasan lindung;
2. Mendapat dukungan pemerintah provinsi/kabupaten/kota yang
bersangkutan;
3. Terletak pada posisi yang dekat dengan jalur perdagangan internasional
atau dekat dengan jalur pelayaran internasional di Indonesia atau terletak pada wilayah potensi sumber daya unggulan; dan
4. Mempunyai batas yang jelas.
Salah satu kawasan yang memiliki potensi serta kedudukan strategis
yang mempunyai pengaruh besar serta dapat dijadikan pendorong bagi pembangunan Aceh adalah Kawasan Industri Lhokseumawe. Dalam kaitannya
dengan pengembangan kawasan ekonomi khusus, maka Pemerintah Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara bersama-sama dengan Pemerintah
Aceh dan Pemerintah Pusat sekarang ini sedang mempersiapkan kawasan ini agar dapat ditetapkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
Lhokseumawe. Kawasan Ekonomi Khusus Lhokseumawe ini diharapkan pada masa mendatang akan menjadi sumber pertumbuhan baru di Aceh. Sejalan
dengan berakhirnya produki gas di Lhokseumawe, pemerintah memiliki inisiasi untuk menggunakan fasilitas industri yang telah terbangun
sebelumnya. Hal ini merupakan langkah tepat dalam menumbuhkan mesin
pengolahan, energi dan logistik merupakan landasan utama dalam
pengembangan kawasan ekonomi khusus di Lhokseumawe. Selain itu Lhokseumawe merupakan salah satu dari indikasi KEK diluar Pulau Jawa yang
akan dibentuk berdasarkan RPJMN 2015-2019, seperti dapat dilihat pada
Gambar 1 dibawah ini.
Gambar 1. Sebaran Lokasi KEK 2009-2014 dan Rencana KEK 2014-2019 Melihat dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimiliki, maka
Kawasan Ekonomi Khusus Kota Lhokseumawe sudah sangat layak untuk dikembangkan karena beberapa hal berikut :
1. Letak geoekonomi yaitu mempunyai potensi sektor perhubungan laut dan energi;
2. Dari letak geostrategis yaitu berada pada jalur lintasan perdagangan internasional Asia. Letak geostrategis yang dimaksud yaitu sistem
logistik/transhipment bahwa Kota Lhokseumawe merupakan pintu
barat Indonesia menuju wilayah lainnya di Indonesia.
3. Letak geopolitik yaitu adanya keberpihakan Kebijakan pemerintah pusat terhadap pengembangan pembangungan wilayah barat Indonesia.
4. Memperhatikan keuntungan geoekonomi dan geostrategis tersebut maka KEK Lhokseumawe berfungsi untuk pengembangan kegiatan industry
pengolahan, energi, pusat logistik, dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan mempunyai daya saing internasional
sesuai pasal 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009.
Secara umum pengembangan KEK Lhokseumawe dibagi dalam tiga tahapan lima tahunan. Tahap awal; (2016-2020) akan tertuju pada revitalisasi
fasilitas yang ada, Tahap Pengembangan (2021-2025); pembangunan industri manufaktur dan Tahapan ekstensifikasi (2026-2030); pengembangan industri
hilir. Tiga tahapan ini akan berdampak pada perubahan struktur ekonomi, perdagangan dan ketenagakerjaan di Lhokseumawe serta beberapa kawasan
sekitar yang menjadi penyangga ekonomi.
Kontribusi sektor pertambangan dan industri semakin mengecil dalam
perekonomian di Aceh. Sementara sektor-sektor lainnya seperti pertanian, perdagangan dan jasa-jasa memiliki komposisi semakin besar dalam
perekonomian (Gambar 2 dan Gambar 3). Penetapan fondasi dan arah
Dengan diberlakukannya Kawasan Ekonomi Khusus Lhokseumawe
(lihat gambar 4), sektor industri akan memiliki porsi yang lebih besar. Struktur ekonomi Aceh akan bergeser secara mendasar dengan diberlakukannya
kawasan ekonomi khusus. Dalam waktu 15 tahun kedepan sejak diberlakukannya kawasan ekonomi khusus Lhokseumawe, di perkirakan
struktur ekonomi Aceh akan bertopang pada industri dan sektor tersier,
sekarang tercatat sebesar 14 persen dan akan menjadi sekitar 30 persen pada akhir tahun 2030.
Dengan adanya kawasan ekonomi khusus Lhokseumawe, laju pertumbuhan ekonomi di perkirakan akan meningkat cukup signifikan di masa
mendatang. Kawasan ekonomi khusus ini akan bertitik tolak pada tiga komponen utama, yaitu; sebagai kawasan yang memiliki industri pengolahan
migas dan energi, industri pengolahan pupuk dan produk pertanian, serta industri logistik. Ketiga komponen ini akan menjadi sumber mesin
pertumbuhan ekonomi di kawasan Aceh Utara dan Lhokseumawe.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari penyusunan Master Plan Kawasan Ekonomi Khusus
Lhokseumawe yaitu sebagai acuan/panduan untuk Pembangunan dan
Pengelolaan Kawasan Ekonomi Khusus Lhokseumawe sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi Aceh serta panduan untuk perencanaan yang lebih detail untuk Kawasan Ekonomi Khusus Lhokseumawe. Sedangkan
tujuannya yaitu terumuskannya rencana pengembangan Kawasan Ekonomi
Khusus Lhokseumawe dengan pencapain seperti dibawah ini :
(1) Memberikan arah pengembangan kawasan dan tahapan-tahapan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Lhokseumawe.
(2) Memberikan informasi awal peluang investasi pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Lhokseumawe.
(3) Terlaksananya kajian potensi sumberdaya terkait dengan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Lhokseumawe.
(4) Teridentifikasi kondisi eksisting infrastruktur pada KEK Lhokseumawe.
(5) Teridentifikasinya potensi market (growth opportunity) eksisting dan peluangnya di masa mendatang.
Lhokseumawe selama 15 tahun (2016-2030).
(7) Tersusunnya Buku Master Plan Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Lhokseumawe.
1.3 Ruang Lingkup Materi
Lingkup Materi Masterplan Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus
Lhokseumawe ini adalah sebagai berikut:
1. Kajian potensi pengembangan Kawasan Ekonomi Khususi Lhokseumawe
2. Kajian ketersedian sarana dan prasarana pendukung 3. Desain layout Kawasan Ekonomi Khusus Lhokseumawe
4. Analisa pra kelayakan finansial Pengembangan KEK Lhokseumawe 5. Peta Lokasi KEK Lhokseumawe
1.4 Metodologi Pendekatan
Dalam penyusunan master plan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Lhokseumawe ini metodologi yang digunakan adalah mengumpulkan
data berdasarkan kajian yang ada, kemudian mengidentifikasi dan
menyesuaikan/cros-cek dengan kondisi riil dilapangan, sebagai bahan analisa dan rencana. Adapun tahapan-tahapan perencanaan yang dilakukan adalah:
1. Tahapan persiapan;
2. Tahapan pengumpulan data;
3. Survey dan identifikasi kawasan perencanaan; 4. Kompilasi dan analisis data;
5. Identifikasi potensi dan permasalahan serta perkiraan kebutuhan;
6. Analisis Pengembangan Kawasan;
7. Formulasi strategi penanganan pembangunan kawasan; 8. Rencana Pengembangan Sektor dan Komoditas Unggulan;
9. Indikasi Program.
Master Plan ini terdiri dari 8 (delapan) Bab yaitu sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan Bab II Gambaran Umum
Bab III Analisis Pengembangan Kawasan
Bab IV Analisis Perkiraan Dampak Lingkungan
Bab V Rencana Pengembangan Kawasan
Bab VI Analisis Perkiraan Ekonomi dan Keuangan
Bab VII Indikasi Program dan Pembiayaan
BAB II
GAMBARAN UMUM KEK LHOKSEUMAWE
2.1 GAMBARAN UMUM
2.1.1. Kota Lhokseumawe
2.1.1.1 Aspek Geografis
Kota Lhokseumawe adalah sebuah kota di Provinsi Aceh yang
berada persis di tengah-tengah jalur timur Sumatera, di antara Banda Aceh dan
Medan, sehingga kota ini merupakan jalur distribusi dan perdagangan yang
sangat penting bagi Aceh. Lhokseumawe ditetapkan statusnya menjadi
pemerintah kota berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2001. Letak
Geografis Kota Lhokseumawe berada pada posisi 04° 54’ – 05° 18’ Lintang Utara
dan 96° 20’ – 97° 21’ Bujur Timur, yang diapit oleh Selat Malaka. Kota
Lhokseumawe memiliki batas-batas sebagai berikut :
Sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka;
Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Aceh Utara (Kecamatan
Kuta Makmur);
Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Aceh Utara (Kecamatan
Dewantara);
Sebelah timur berbatasan dengaan Kabupaten Aceh Utara (Kecamatan
Syamtalira Bayu).
Kota Lhokseumawe memiliki wilayah sekitar 181,06 Km2. Wilayah
administrasi Kota Lhokseumawe terdiri dari 4 (empat) wilayah kecamatan, yaitu
Kecamatan Banda Sakti, Muara Satu, Muara Dua, dan Blang Mangat. Selain itu
terdapat 9 (sembilan) Kemukiman, dan 68 (enam puluh dua) Gampong.
Kecamatan dengan luas wilayah terbesar yaitu Kecamatan Muara Dua (57,80
Km²). Untuk lebih jelasnya mengenai luasan kecamatan dan wilayah
administrasi di Kota Lhokseumawe, dapat dilihat pada Tabel 2.1 dan Gambar
2.1 dibawah ini.
Tabel 2.1.
Luas Kecamatan di Kota Lhokseumawe Tahun 2013
No. Kecamatan Luas (Km²)
1 Muara Dua 57.80
2 Banda Sakti 11.24
3 Blang Mangat 56.12
4 Muara Satu 55.90
Total 181.06
Sumber: BPS Kota Lhokseumawe, 2014
Gambar 2.1 Peta Wilayah Administrasi Kota Lhokseumawe
2.1.1.2 Topografi
Wilayah Kota Lhokseumawe yang berada di daerah pesisir dan daerah
sebelah timur merupakan daerah dataran dengan kemiringan antara 0 – 8
%. Sedangkan pada daerah yang menjauhi pesisir merupakan daerah yang
kemiringan lahan seperti ini masih memungkinkan untuk pengembangan
kegiatan perkotaan.
Kondisi ketinggian lahan menunjukan bahwa Kota Lhokseumawe
berada di antara ketinggian 0 – 100 m dpl. Daerah pesisir di sebelah utara
dan daerah di sebelah timur berada pada ketinggian antara 0 – 5 m dpl.
Sedangkan pada daerah di sebelah selatan memiliki kondisi yang relatif
berbukit-bukit dengan ketinggian antara 5 – 100 m dpl.
Gambar 2.2 Peta Kemiringan Lereng Kota Lhokseumawe
2.1.1.3. Geologi
Gambaran mengenai kondisi geologi menunjukan bahwa di Kota
Lhokseumawe terbentuk oleh batuan Alluvium Muda, Formasi Idi, Formasi
Julurayeu dan Formasi Seureula. Sebaran batuan Aluvium Muda berupa
endapan pesisir dan fluviatill berada pada daerah di sebelah utara dan selatan
Kota Lhokseumawe. Sebaran Formasi Idi berupa kerikil, pasir, gamping dan
Kecamatan Muara Satu dan Muara Dua dan sebelah timur yaitu sebagian
Kecamatan Muara Dua dan Blang Mangat.
Sebaran Formasi Julurayeu berupa endapan sungai batu pasir tufaan,
lempung berlignit, dan batu lumpur berada pada daerah sebelah barat hingga
tengah Kota Lhokseumawe yaitu sebagian wilayah Kecamatan Muara Satu
dan Muara Dua. Sedangkan sebaran Formasi Seureula berupa batu pasir
gunung api, dan batu lumpur gampingan berada pada daerah tengah Kota
Lhokseumawe yaitu sebagian wilayah Kecamatan Muara Satu dan Muara Dua.
Gambar 2.3 Peta Geologi Kota Lhokseumawe
2.1.1.4 Klimatologi
Berdasarkan data Meteorologi dan Geofisika (BMG) wilayah Kota
Lhokseumawe termasuk dalam type iklim tropis basah yang sangat
dipengaruhi oleh iklim laut. Musim kemarau terjadi antara bulan Maret hingga
Agustus, sedangkan musim penghujan antara bulan Agustus hingga Februari
dengan jumlah curah hujan berkisar antara 1400 - 2000 mm/tahun.
Berdasarkan data pada Tahun 2012, curah hujan tahunan berkisar
November sebesar 428,1 mm, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada
Bulan Februari sebesar 6,7 mm perbulan. Jumlah hari hujan berkisar antara 3 –
22 hari dimana jumlah hari hujan tertinggi terjadi pada Bulan November
sebanyak 22 hari, sedangkan jumlah hari hujan terendah terjadi pada Bulan
Januari sebanyak 3 hari. Seperti halnya kondisi kota-kota pesisir lain di
Indonesia, suhu udara di Kota Lhokseumawe cukup tinggi dengan kisaran
antara 26 - 320 C, dengan kelembaban udara berkisar antara 69% - 86%.
Kondisi curah hujan di Kota Lhokseumawe dapat dilhat pada Gambar 2.4
dibawah.
Gambar 2.4 Peta Curah Hujan Kota Lhokseumawe
2.1.1.5 Potensi Pengembangan Wilayah
Pengembangan Kawasan Kota Lhokseumawe didasarkan pada
dampak yang terjadi terhadap aspek pertumbuhan ekonomi, sosial, budaya dan
Lingkungan. Rencana Tata Ruang Kota Lhokseumawe Tahun 2011-2031
memberikan arah pengembangan wilayah Kota Lhokseumawe yang dibagi
1. Zona pesisir, merupakan daerah pinggiran pantai dan memiliki kondisi
wilayah relatif datar, zona pesisir mencakup:
• Zona Pesisir di Kecamatan Muara Satu dengan kegiatan
utamanya diperuntukkan bagi sektor industri besar, industri menengah
dan pariwisata;
• Zona Pesisir di Kecamatan Banda sakti dengan kegiatan utamanya
untuk pelayanan kota seperti: pendidikan, pemerintahan, kesehatan,
permukiman dan pariwisata, perdagangan dan Jasa;
• Zona pesisir di Kecamatan Blang Mangat dengan kegiatan
utamanya diperuntukkan bagi sektor perikanan laut, dan sektor
perikanan darat.
2. Zona Tengah merupakan daerah sekirat Jalan Banda Aceh – Medan, memiliki
kondisi wilayah relatif datar dan berbukit, wilayah ini mencakup Kecamatan
Muara Satu, Kecamatan Muara Dua dan Kecamatan Blang Mangat dengan
kegiatan utamanya diperuntukkan bagi perdagangan dan permukiman.
3. Zona Dalam merupakan daerah dataran tinggi disekitar Jalan Elak memiliki
kondisi wilayah berbukit, dengan kegiatan utama pada kawasan ini
diperuntukkan bagi kegiatan pertanian (lahan basah dan lahan kering),
Gambar 2.5 Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Lhokseumawe
2.1.1.6 Wilayah Rawan Bencana
Kawasan rawan bencana di Kota Lhokseumawe meliputi kawasan
rawan bencana gempa bumi, kawasan rawan bencana tsunami, kawasan rawan
bencana banjir, kawasan rawan abrasi dan gelombang pasang. Kawasan rawan
bencana ini berada pada kawasan lindung dan sebagian kawasan budidaya,
sehingga diperlukan pengelolaan intensif terutama yang berada pada kawasan
budidaya. Dengan adanya resiko kerawanan terhadap bencana pada kawasan
budidaya ini tidak berarti bahwa pada kawasan tersebut tidak dapat dibangun,
akan tetapi pemanfaatannya harus disertai dengan upaya untuk
mengantisipasi/ mengurangi kemungkinan terjadinya dampak bencana alam
(mitigasi).
Kawasan rawan bencana gempa bumi tersebar di seluruh wilayah
di Kota Lhokseumawe. Pemanfaatan kawasan budidaya yang berada pada
kawasan rawan bencana ini harus memperhatikan tingkat kekuatan gempa,
terutama terhadap ketangguhan struktur bangunan. Sebagai acuan dalam
ketangguhan struktur bangunan adalah dengan memperhatikan tingkat
Selain itu kawasan yang rawan akan bencana abrasi, gelombang
pasang, adalah Pantai Ujong Blang, Rancung, Meuraksa. Sedangkan kawasan
yang rawan akan bencana banjir terdapat di Kecamatan Banda Sakti, meliputi
Gampong Jawa, Gampong Jawa lama, Lancang Garam, dan Tumpok Teungoh.
Pemanfaatan kawasan budidaya yang berada pada kawasan rawan bencana
ini juga harus memperhatikan potensi abrasi dan gelombang pasang, serta
potensi dan besaran banjir yang terjadi.
Gambar 2.6 Peta Rawan Bencana Kota Lhokseumawe
2.1.2 Kabupaten Aceh Utara
2.1.2.1 Aspek Geografis
Kabupaten Aceh Utara merupakan bagian dari Provinsi Aceh yang
berada di sebelah utara. Berdasarkan Peta Bakosurtanal skala 1 : 50.000, maka
secara geografis Kabupaten Aceh Utara terletak pada posisi 960 47’ – 970 31’
Bujur Timur dan 04043’ – 050 16’ Lintang Utara. Batas wilayah Kabupaten Aceh
Utara dengan wilayah lainnya sebagaimana pada Gambar 2.3 adalah:
• Sebelah utara : Kota Lhokseumawe dan Selat Malaka.
• Sebelah timur : Kabupaten Aceh Timur.
• Sebelah selatan : Kabupaten Bener Meriah.
• Sebelah barat : Kabupaten Bireun
Sementara Luas wilayah Kabupaten Aceh Utara yang tercatat adalah
3.296,86 km2, atau 329.686 Ha. Dengan panjang garis pantai 51 km, dan
kewenangan kabupaten adalah sampai 4 mil laut, maka luas wilayah laut
kewenangan ini adalah 37.744 Ha atau 3.774,4 km2. Gambar 2.7 dibawah
Gambar 2.7 Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Aceh Utara
2.1.2.2 Topografi Wilayah Kabupaten Aceh Utara
Dengan batas di sebelah utara merupakan laut, yaitu Selat Malaka, dan
di sebelah selatan adalah kaki atau lereng pegunungan, maka secara umum
bentuk topografi Kabupaten Aceh Utara dari arah pantai ke arah pegunungan
adalah :
• Dataran pantai, yang terletak sepanjang tepi pantai.
• Dataran aluvial, yang terletak relatif memanjang di belakang dataran pantai.
• Zona lipatan, yang terletak relatif memanjang di belakang dataran aluvial.
• Zona volkanik, yang merupakan kaki/lereng sampai punggungan
pegunungan.
2.1.2.3 Geologi
Struktur geologi yang ada di wilayah Kabupaten Aceh Utara secara garis
besar terdiri atas batuan Quarter yang cenderung di bagian pesisir (bagian
utara), dan batuan Tersier yang cenderung di bagian pedalaman (bagian
selatan). Sebaran ini selaras dengan topografi yang menaik dari utara ke selatan,
dan selaras pula dengan pola hilir ke hulu dalam DAS. Jelasnya dapat dilihat
Gambar 2.9 Peta Geologi Kabupaten Aceh Utara
2.1.2.4 Klimatologi
Wilayah Kabupaten Aceh Utara sebagai bagian dari wilayah Provinsi
Aceh, termasuk tipe iklim muson dan termasuk iklim tipe C. Wilayah
Kabupaten Aceh Utara relatif lebih kering dibandingkan dengan dengan
wilayah lainnya di Provinsi Aceh, karena pengaruh Pegunungan Bukit Barisan,
di mana wilayah sebelah utara dan timur Pegunungan Bukit Barisan cenderung
lebih kering dibandingkan wilayah sebelah barat dan selatannya.
Curah hujan tahunan di wilayah Kabupaten Aceh Utara berkisar antara
1000 – 2500 mm, dengan hari hujan 92 hari. Musim hujan terjadi pada bulan
Agustus sampai Januari, dengan curah hujan maksimal terjadi di bulan
Oktober-November, yang mencapai di atas 350 mm per bulan dengan hari hujan lebih
dari 14 hari. Sementara musim dengan curah hujan lebih rendah (cenderung
kemarau) terjadi pada bulan Februari sampai Juli, dan yang cenderung terendah
adalah sekitar bulan Maret-April.
Rata-rata suhu udara adalah 300 C, dengan kisaran antara 260 C sampai
kemarau suhu rata-rata adalah 32,80 C. Kelembaban udara berkisar antara 84 –
89 %, dengan rata-rata 86,6 %. Lebih jelasnya sebagaimana tercantum pada
Gambar 2.10. dibawah ini.
Gambar 2.10 Peta curah hujan Kabupaten Aceh Utara
2.1.2.5. Potensi Pengembangan Wilayah
Pembangunan Kabupaten Aceh Utara diprioritaskan pada
pembangunan yang memperhatikan potensi wilayah yaitu melalui
pengembangan kawasan perkebunan, pertanian tanaman pangan, dan
perikanan yang merupakan mata pencaharian utama sehingga dapat
memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan
masyarakat.
Berdasarkan RTRW Kabupaten Aceh Utara 2012 – 2032 dan sesuai
karakteristik wilayah maka pengembangan kawasan budidaya dalam rencana
pola ruang Kabupaten Aceh Utara yaitu :
Kawasan hutan produksi ini relatif terletak antara kawasan hutan lindung
dan batas dengan Kabupaten Bener Meriah dengan kawasan perkebunan
dan kawasan budidaya lainnya. Selain pemantapan kawasan hutan
produksi yang telah ada sebelumnya, juga direncanakan pemanfaatan
belukar di bagian lebih hulu lagi dari yang direncanakan untuk kawasan
perkebunan. Total luas kawasan hutan produksi ini adalah 30.687 Ha.
2. Kawasan Peruntukan Pertanian
Kawasan sawah (pertanian lahan basah) merupakan pemantapan dari
kawasan sawah yang ada dewasa ini dan direkomendasikan penambahan/
perluasannya pada lahan-lahan yang potensial di sekitarnya dan berpeluang
untuk dapat dilayani oleh jaringan irigasi/pengairan. Kendati dengan luas
yang bervariasi, kawasan sawah terdapat di semua kecamatan. Total luas
kawasan sawah ini adalah 46.901 Ha.
3. Kawasan Peruntukan Perikanan
Kawasan tambak merupakan pemantapan dari kawasan tambak yang ada
dewasa ini, yang sebarannya adalah di bagian wilayah pesisir, dengan
kecenderungan sebaran yang lebih besar di bagian timur. Total luas
kawasan tambak adalah 16.712 Ha sedangkan Perikanan tangkap kurang
lebih seluas 37.744 Ha.
4. Kawasan Peruntukkan Pertambangan
Potensi tambang yang terdapat di Kabupaten Aceh Utara dapat dibedakan
atas pertambangan mineral logam, pertambangan mineral non logam,
pertambangan batuan, pertambangan batubara, dan bahan tambang dari
dalam perut bumi, yang dalam hal ini berupa gas alam, seperti yang telah
dieksploitasi oleh Perusahaan EMOI (Exxon Mobil Oil Indonesia) yang
dikenal dengan LNG Arun, instalasi tambang gas melewati beberapa
kecamatan di Kabupaten Aceh Tengah dengan luas area kurang lebih 498
(empat ratus sembilan puluh delapan) hektar.
Gambar 2.11
2.1.2.6 Wilayah Rawan Bencana
Wilayah rawan bencana di Kabupaten Aceh Utara dapat dibedakan
berdasarkan jenis bencana yang terjadi, yaitu :
1. Bencana longsor, dengan jalur dan ruang evakuasi di Gampong Gunci dan Gampong Riseh Teungoh (Kecamatan Sawang), Gampong Pase Sentosa
(Kecamatan Geureudong Pase), Meunasah Leubok Kliet (Kecamatan
Meurah Mulia), Gampong Meuria Matangkuli (Kecamatan Matangkuli),
Gampong Alue Semambu (Kecamatan Cot Girek);
2. Bencana gelombang pasang, dengan jalur dan ruang evakuasi di Gampong Krueng Mate (Kecamatan Syamtalira Bayu), Gampong Beuringen,
Gampong Matang Ulim, dan Gampong Keude Blang Mee (Kecamatan
Samudera), Gampong Matang Janeng (Kecamatan Tanah Pasir), Gampong
(Kecamatan Baktiya Barat), Gampong Cot Trueng dan Gampong Ulee Titi
(Kecamatan Seunuddon), dan Gampong Glumpang Umpung Uno
(Kecamatan Tanah Jambo Aye);
3. Bencana gempa bumi dan Bencana tsunami, dengan jalur dan ruang evakuasi di Gampong Pante Gurah dan Gampong Pulo Makmur dan
Gampong Pulo Makmur (Kecamatan Muara Batu), Gampong Uteun
Geulinggang, Gampong Kd. Krueng Geukeuh, Gampong Paloh Igeuh, dan
Gampong Tambon Baroh (Kecamatan Dewantara), Gampong Krueng Mate
(Kecamatan Syamtalira Bayu), Gampong Beuringen, Gampong Matang
Ulim, dan Gampong Keude Blang Mee (Kecamatan Samudera), Gampong
Matang Janeng (Kecamatan Tanah Pasir), Gampong Keude Lapang
(Kecamatan Lapang), Gampong Meunasah Hagu (Kecamatan Baktiya
Barat), Gampong Cot Trueng dan Gampong Ulee Titi (Kecamatan
Seunuddon), dan Gampong Glumpang Umpung Uno (Kecamatan Tanah
Jambo Aye).
2.2 Kegiatan-kegiatan Industri dalam KEK Lhokseumawe
Lokasi Kawasan Ekonomi Khusus secara administrasi melibatkan 2
kecamatan, yaitu Kecamatan Muara Satu di Kota Lhokseumawe dengan luas
areal 2128 Ha serta Kecamatan Dewantara di Kabupaten Aceh Utara dengan
luas areal 513 Ha. Luas wilayah KEK Lhokseumawe berdasarkan pada wilayah
PT. ARUN 1370 Ha, wilayah PT.PIM 277 Ha PT. AAF 236 Ha, dan PT. Pelindo
148 Ha, maka total luasnya adalah 2.031 Ha, seperti dapat pada Gambar 2.5
dibawah ini.
Kegiatan industri besar di Kota Lhokseumawe adalah industri
pengolahan migas (LNG Arun). Kawasan ini terletak di Blang Lancang,
Kecamatan Muara Satu. Kawasan ini merupakan bagian dari Kawasan Industri
Lhokseumawe (KIL) yang meliputi wilayah Kota Lhokseumawe dan sebagian
wilayah Kabupaten Aceh Utara. Kawasan industri besar lain yang menjadi
bagian dari Kawasan Industri Lhokseumawe (KIL) yang terletak di Kabupaten
Aceh Utara adalah industri Pupuk Iskandar Muda (PIM), Aceh Asean Fertilizer
(AAF), dan Kertas Kraft Aceh (KKA). Keberadaan KIL mendukung Kota
Lhokseumawe dan sebagian wilayah Kabupaten Aceh Utara sebagai PKN. Luas
lahan yang diperuntukkan untuk kawasan industri besar merupakan luasan
instalasi pabrik, tidak termasuk lahan permukiman industri besar dan fasilitas
lainnya.
Kawasan industri menengah diarahkan untuk pengembangan industri
pengolahan. Sektor pendukung industri pengolahan adalah hasil pertanian,
perkebunan, peternakan, dan lain-lain. Pengembangan sektor industri
menengah diharapkan dapat melengkap sektor industri untuk menggerakan
kawasan industri di Jeulikat, Kecamatan Blang Mangat dan kawasan industri di
Blang Naleung Mameh, Batuphat Barat, Batuphat Timur. Adapun Kawasan
Industri Kecil letaknya menyisip pada kawasan lainnya. Kegiatan industri yang
cukup berkembang adalah kegiatan pembuatan border khas Aceh dan
pembuatan tikar. Industri bordir industri khas Aceh terletak di Batuphat,
Kecamatan Muara Satu dan di Blang Cut, Kecamatan Blang Mangat. Sedangkan
industri tikar terdapat di Jambo Mesjid, Kecamatan Blang Mangat.
Dalam RTRW Kabupaten Aceh Utara, kawasan industri besar diarahkan
di Kecamatan Dewantara dan Sawang, yaitu terdiri atas industri PIM, AAF, dan
KKA dengan luas total 263 Ha. Luas lahan industri besar tersebut hanya
merupakan luasan instalasi pabrik, tidak termasuk lahan permukiman industri
besar dan fasilitas lainnya. Kawasan industri besar yang ditetapkan dalam
RTRW merupakan pemantapan dari kompleks industri besar yang telah ada
sebelumnya, yaitu PIM, AAF, dan KKA.
Beberapa kegiatan yang sudah ada di sekitar kawasan KEK
Lhokseumawe, diantaranya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) yang
dikelola PLN dengan kapasitas 200 MW, saat ini sedang dalam taraf pengerjaan
dan diperkirakan akan dapat beroperasi pada akhir tahun 2015. Di dalam
kawasan ini juga terdapat PLTG kepunyaan PT. LNG Arun dengan kapasitas 8 x
20 MW. Di sisi Barat terdapat PT. AAF yang kondisi saat ini sangat
memprihatinkan, karena dimungkinkan akan menjadi besi tua karena
keterbatasan bahan baku. PT. AAF sudah tidak beroperasi lagi semenjak
Desember tahun 2003.
Kawasan strategis yang berada di Kota Lhokseumawe terdiri dari
Kawasan Strategis Nasional yang ditetapkan dalam RTRWN, Kawasan Strategis
Provinsi yang ditetapkan dalam RTRW Aceh dan Kawasan Strategis Kota yang
ditetapkan dalam RTRW Kota Lhokseumawe. Untuk kawasan industri besar,
meliputi Kawasan Industri Lhokseumawe, yang terletak di Blang Lancang,
Kecamatan Muara Satu, seluas kurang lebih 915 Ha.kawasan ini ditetapkan
ekonomi. Kawasan peruntukan industri besar Kota Lhokseumawe ini adalah
industri pengolahan migas (LNG Arun) yang kedepan direncanakan menjadi
Terminal Regasifikasi seiring dengan berakhirnya eksplorasi gas Arun. Gambar
2.6 memberikan foto udara kawasan existing industri Lhokseumawe.
Gambar 2.13 Kawasan existing Industri Lhokseumawe ( PT. Arun, PT. PIM dan PT. AAF )
2.3. Komponen Sosial dan Ekonomi
2.3.1 Komponen Sosial
2.3.1.1 Kota Lhokseumawe
A. Demografi
Jumlah penduduk Kota Lhokseumawe pada tahun 2013 mencapai
181.976 jiwa dengan komposisi penduduk laki-laki sebanyak 90.691 jiwa dan
penduduk perempuan sebanyak 91.285 jiwa. Jika dibandingkan dengan luas
wilayah Kota Lhokseumawe yang seluas 181,06 Km2, maka kepadatan
Dari empat kecamatan yang ada di Kota Lhokseumawe, Kecamatan Banda Sakti
adalah kecamatan dengan penduduk terbanyak, mencapai 78.264 jiwa.
Kecamatan Blang Mangat merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk
paling sedikit yaitu 23.089 jiwa.
Tabel 2.2 Jumlah dan Kepadatan Penduduk per Kecamatan Lhokseumawe Tahun 2013
Sumber : Lhokseumawe Dalam Angka 2014
Komposisi penduduk Kota Lhokseumawe pada tahun 2013 untuk
kelompok usia 0-14 tahun sebesar 32,07 persen. Kelompok usia 15-64 tahun 65,32
persen dan kelompok usia 65 tahun ke atas 2,61 persen. Rasio beban tanggungan
(dependency ratio) sebesar 53,09 yang berarti sebanyak 53 penduduk usia non produktif (usia 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) di Kota Lhokseumawe di
tanggung oleh 100 penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun). Penduduk/
Population
Luas Wilayah/ Area (Km²)
Kepadatan/ Density (jiwa/Km²)
(2) (3) (4)
1 23 089 56,12 411
2 Muara Dua 47 297 57,80 818
3 Muara Satu 33 326 55,90 596
4 Banda Sakti 78 264 11,24 6 963
181 976 181,06 1 005
Kecamatan/ Sub District
(1)
Blang Mangat
Tabel 2.3 Jumlah Penduduk Menurut Usia Produktif Kota Lhokseumawe Tahun 2013
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Lhoseumawe 2014
B. Aspek Ketenagakerjaan
Jumlah penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja di Kota
Lhokseumawe tahun 2013 adalah sebesar 65.454 jiwa. Dari sejumlah itu
penduduk perkotaan yang bekerja mempunyai persentase sebesar 75,34 persen,
sisanya adalah penduduk pedesaan. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
di Kota Lhokseumawe pada tahun 2013 adalah 56,77. TPAK merupakan rasio
antara angkatan kerja dengan jumlah penduduk usia kerja. Angka ini juga dapat
menggambarkan jumlah penduduk yang masuk dalam dunia kerja. Angka
TPAK sebesar 56,77 dapat diartikan diantara 100 orang penduduk usia kerja
terdapat sekitar 56 orang yang bekerja atau mencari pekerjaan. TPAK
penduduk pedesaan di Kota Lhokseumawe lebih besar daripada penduduk
perkotaan. Hal ini menunjukkan keadaan bahwa penduduk pedesaan lebih
banyak yang bekerja dan aktif mencari pekerjaan dibanding penduduk
perkotaan.
Tabel 2.4
Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Berdasarkan Sektor Pekerjaan Utama di Kota Lhokseumawe Tahun 2013
Sektor Klasifikasi Daerah Jumlah
Angka TPT Kota Lhokseumawe untuk penduduk laki-laki adalah 6,79
sedangkan angka TPT untuk penduduk perempuan lebih tinggi yaitu sebesar
8,92. Penggangguran terbuka sebagian besar adalah pencari kerja, sehingga
dapat disimpulkan bahwa sebagian besar angkatan kerja perempuan masih
membutuhkan lapangan kerja untuk mereka.
C. Indikator Pendidikan
Penduduk Kota Lhokseumawe yang berumur 10 tahun ke atas pada
tahun 2013 yang berijazah (pendidikan tertinggi yang ditamatkan) SMA
sederajat sebesar 38,31 persen; berijazah SMP sederajat sebanyak 17,40 persen;
SD sederajat sebanyak 22,51 persen; dan perguruan tinggi sebanyak 10,27
persen. Sementara itu persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang
belum/tidak tamat SD adalah 11,51 persen.
Berdasarkan fakta bahwa sebagaian besar penduduk berpendidikan SMA
sederajat, maka pembangunan sumber daya manusia di bidang pendidikan di
Kota Lhokseumawe dapat dikatakan telah berlangsung dengan baik karena
sebagian besar penduduk telah melampaui Program Wajib Belajar 9 Tahun. Hal
ini berkaitan dengan daya saing dengan sumber daya manusia daerah lain
Gambar 2.14
Persentase Penduduk menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin di Kota Lhokseumawe Tahun 2013
Pada tahun 2013 angka melek huruf penduduk Kota Lhokseumawe
umur 15 tahun ke atas mencapai 99,69 persen. Dengan kata lain, sebesar 0,31
persen penduduk umur 15 tahun ke atas di kota ini belum atau tidak dapat
membaca dan menulis. Namun, dapat dimaklumi karena pada umumnya
penduduk yang belum atau tidak membaca dan menulis tersebut terkonsentrasi
pada penduduk kelompok umur tua.
Sumber BPS Kota Lhokseumawe 2014
D. Indikator Kesehatan
Sejalan dengan penurunan angka kematian bayi, maka angka harapan
hidup penduduk di Kota Lhokseumawe pun mengalami peningkatan. Secara
perlahan peluang hidup penduduk di Kota Lhokseumawe menunjukkan
perbaikan pada tahun 2013. Angka harapan hidup penduduk kota ini pada
tahun 2013 mencapai 72,03 tahun, sedikit lebih baik dibanding tahun
sebelumnya yang mencapai 71,47 tahun. Hal ini berarti pada tahun tersebut
penduduk Kota Lhokseumawe memiliki harapan hidup sekitar 71 tahun.
Sumber BPS Kota Lhokseumawe 2014
2.3.1.2 Kabupaten Aceh Utara
A. Demografi
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Utara Tahun
2014, jumlah penduduk Kabupaten Aceh Utara tercatat 556.566 jiwa dengan laju
pertumbuhan sebesar 1,69% per tahun. Luas wilayah 3.296,86 km2 maka
kepadatan penduduk mencapai 168 jiwa/km2 dengan sebaran di 27 kecamatan
selama periode tahun 2010 -2013 sebagaimana tercantum pada Tabel 2.2.
Ditinjau dari distribusi penduduk terbesar di Kecamatan Lhoksukon
mencapai 47.123 jiwa dan kepadatan penduduk terbesar di Kecamatan
Dewantara mencapai 1.137 jiwa/km2, sedangkan jumlah dan kepadatan
penduduk terkecil di Kecamatan Geureudong Pase mencapai 4.663 jiwa dan 17
jiwa/km2. Bila dilihat dari letaknya, maka dapat diindikasikan bahwa
kecamatan-kecamatan di sekitar sumbu wilayah atau di sekitar jalan nasional
cenderung mempunyai jumlah dan kepadatan penduduk lebih besar.
Tabel 2.4
No. Kecamatan 2010 2011 2012 2013
1 Sawang 33.748 34.521 34,999 35,457
2 Nisam 17.115 17.235 17,473 17,702
3 Nisam Antara 12.096 12.277 12,447 12,61
4 Banda Baro 7.377 7.415 7,518 7,617
5 Kuta Makmur 22.028 22.339 22,648 22,945
6 Simpang Kramat 8.710 8.824 8,946 9,063
7 Syamtalira Bayu 18.955 19.046 19,309 19,562
8 Geureudong Pase 4.448 4.550 4,613 4,674
9 Meurah Mulia 17.612 17.881 18,129 18,367
10 Matang Kuli 16.424 16.803 17,035 17,258
11 Paya Bakong 12.690 12.875 13,053 13,224
12 Pirak Timu 7.413 7.520 7,624 7,724
27 Dewantara 43.442 44.876 45,496 46,091
Jumlah 529.751 541.878 549,370 556,566
Sumber: Aceh Utara Dalam Angka Tahun 2014
B. Aspek Ketenagakerjaan
Permasalahan seperti tingkat pengangguran, lapangan pekerjaan,
produktivitas pekerja, usia kerja menjadi perhatian kebijakan pemerintah
karena terkait dengan pertumbuhan perekonomian dan kesejahteraan
masyarakat. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara masih menghadapi tantangan
di bidang ketenagakerjaan, berupa terbatasnya lapangan kerja dan kualitas
tenaga kerja yang relatif rendah.
Tabel 2.5
Rasio Penduduk Kabupaten Aceh Utara yang Bekerja Selama Periode Tahun 2010– 2013
Karakteristik 2010 2011 2012 2013
Angkatan kerja 103297 105345 310060 311231
Penduduk yang bekerja 245053 242332 231.818 234931
Rasio Penduduk yang Bekerja
2,37 2,30 0,75 0,75
Sumber : Dinsosnaker Kabupaten Aceh Utara 2014
C. Indikator Pendidikan
Salah satu aspek pendidikan yang mempengaruhi IPM adalah Angka
Melek Huruf (AMH). Angka Melek Huruf adalah proporsi penduduk berusia 15
tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis dalam huruf latin atau lainnya.
Pada periode 2010-2014, capaian angka melek huruf Kabupaten Aceh Utara
selalu mengalami peningkatan. Angka melek huruf di pada tahun 2012 sebesar
90,50%, meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang berada di tingkat
90,47%. Pencapaian angka melek huruf di Kabupaten Aceh Utara untuk tahun
2014 sudah mencapai 94,88%, hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.6 Perkembangan Angka Melek Huruf Kabupaten Aceh UtaraTahun 2010-2015
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014
Jumlah Penduduk Usia
diatas 15 Tahun yang bisa
Membaca dan menulis
428.946 433.092 437.274 441.506 432.911
Jumlah Penduduk Usia 15
Tahun Ke Atas
474.107 478.640 483.170 487.989 456.233
Persentase dapat baca tulis
Sumber : Disdikpora Kab. Aceh Utara 2015
Selain itu, aspek pendidikan yang menjadi salah satu indikator penting
adalah Angka Pendidikan Tamatan (APT). APT bermanfaat untuk menunjukkan
melakukan perencanaan penawaran tenaga kerja, terutama untuk melihat
kualifikasi pendidikan angkatan kerja di suatu wilayah. APT merupakan
persentase jumlah penduduk, baik yang masih sekolah ataupun tidak sekolah
lagi,menurut pendidikan tertinggi yang telah ditamatkan.
Trend angka siswa menamatkan sekolah di Kabupaten Aceh Utara
menunjukkan jumlah siswa yang menamatkan pendidikan pada setiap jenjang
sekolah sejak tahun 2010 hingga 2014 terus menalami peningkatan.
Meningkatnya angka siswa yang menamatkan sekolah pada setiap jenjang
pendidikan menunjukkan tingkat kesejahteraan dan kesadaran penduduk
terhadap pendidikan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table 2.7 berikut :
Tabel 2.7
Angka Pendidikan yang Ditamatkan Kabupaten Aceh Utara Tahun 2010-2014
Jenjang
Pendidikan 2010 2011 2012 2013 2014
SD 244,130 250,050 259,905 271,802 273,927
0,00
2010 2011 2012 2013 2014
46,08 46,15 47,31 48,84 48,59
25,30 25,98 26,28 26,48 25,09
16,75 16,36 16,13 16,93 15,01
APT SD (%)
APT SMP (%)
APT SD (%) 46.08 46.15 47.31 48.84 48.59
SMP 134,050 140,800 144,350 147,403 141,418
APT SMP (%) 25.30 25.98 26.28 26.48 25.09
SMA 88,710 88,650 88,601 94,209 84,595
APT SMA (%) 16.75 16.36 16.13 16.93 15.01
Jumlah
Penduduk
529,751 541,878 549,370 556,556 563,742
Sumber Dispora Aceh Utara 2015
Berdasarkan table diatas secara umum tingkat Angka Pendidikan yang
ditamatkan setiap jenjang pendidikan mengalami peningkatan kecuali pada
tahun 2014 mengalami penurunan untuk semua jenjang pendidikan. APT
kabupaten Aceh Utara yang paling banyak menamatkan adalah lulusan SD
yaitu rata-rata 47,39 %, kemudian SMP 25,83% dan yang paling sedikit adalah
SMA sebanyak 16,23%.
D. Indikator Kesehatan
Angka Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja
pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan
meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Angka Harapan Hidup yang
rendah di suatu daerah harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan,
dan program sosial lainnya termasuk kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan
kalori termasuk program pemberantasan kemiskinan. Perkembangan Angka
Usia Harapan Hidup (UHH) di Kabupaten Aceh Utara selama periode tahun
2010 – 2014 menunjukkan kecenderungan peningkatan, hal ini dipengaruhi oleh
keberhasilan program kesehatan dan pembangunan sosial ekonomi masyarakat
pada umumnya, sebagaimana pada gambar 2.17.
Gambar 2.17
Indikator kesehatan penting lainnya adalah jumlah balita gizi buruk
dalam kurun waktu 4 tahun di Kabupaten Aceh Utara tertinggi ada pada tahun
2012 dan pada Tahun 2013 persentase terhadap kasus ini 0,009 persen
sedangkan pada tahun 2014 kembali meningkat menjadi 0,014 persen
sebagaimana tertera pada tabel 2.8, sehingga hal ini harus menjadi perhatian
khusus oleh pemerintah daerah melalui respon positif terhadap
program/kegiatan dalam kasus ini.
Tabel 2.8
Persentase balita gizi buruk
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014
jumlah balita gizi
buruk
11 51 5 8
jumlah balita 59895 58212 51916 55268 54613
persentase 0 0,018 0,098 0,009 0,014
Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Aceh Utara
2.3.2. Struktur Ekonomi Kota Lhokseumawe
Indikator makroekonomi merupakan komponen yang sangat penting
yang menjadi acuan dalam pengambilan keputusan untuk menentukan arah
dan sasaran kebijakan pembangunan. Gambar 2.18 dibawah ini memberikan
beberapa indikator penting makroekonomi Kabupaten Aceh Utara 2010 – 2013.
Gambar 2.18 dibawah ini memberikan beberapa penting indikator makroekonomi Kabupaten Aceh Utara tahun 2010 – 2013.
No Indikator
ekonomi (tampa migas) 5,88 3,62 3,91 3,09
2 Tingkat Pengangguran 4,06 7,63 10,88 7,46
3 Tingkat Inflasi 7,19 3,55 2,44 8,27
4
Persentase Penduduk
Miskin 14,07 13,73 13,06 12,47
5
Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) 76,1 76,68 77,23 77,84
Sementara itu, pola kegiatan ekonomi Kota Lhokseumawe sejak tahun
2010 dapat dikatakan sama. Kontribusi terbesar selalu disumbangkan oleh
sektor sekunder. Walaupun mengalami penurunan di tiap tahunnya, kontribusi
sektor sekunder mencapai lebih dari 50 persen. Sektor yang mempunyai
peningkatan berarti tiap tahun adalah sektor tersier. Sektor primer mempunyai
kontribusi terkecil dalam perekonomian Kota Lhokseumawe.
0,00
Apabila dilihat dari sektor-sektor pembentuk sektor sekunder, selama
periode 2010 hingga 2013 sektor industri pengolahan mempunyai peranan
paling besar, bahkan sangat mendominasi dalam struktur ekonomi Kota
Lhokseumawe secara keseluruhan. Namun kontribusinya dalam kurun waktu
tersebut cenderung mengalami penurunan dengan rata-rata penurunan 5,8
persen tiap tahunnya. Kontribusi tahun 2010 mencapai 51,15 persen dan terus
menurun menjadi 42,27 persen pada tahun 2013.
Tabel 2.9
Peranan Sektor Ekonomi dalam PDRB Kota Lhokseumawe Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Sektor, 2010-2013 Dengan Migas (persen)
Sektor 2010 2011 2012*) 2013**)
(1) (2) (3) (4) (5)
Primer 4,88 5.23 5,4 5,53
1. Pertanian 4,88 5,05 5,21 5,33
2. Pertambangan & Penggalian 0,17 0,18 0,19 0,20
Sekunder 57,54 54,77 54,76 49,53
3. Industri Pengolahan 51,15 48,02 44,60 42,27
4. Listrik, Gas & Air Bersih 0,08 0,08 0,08 0,09
5. Bangunan/Konstruksi 6,32 6,67 7,08 7,17
Tersier 37,40 39,73 42,83 44,93
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 27,19 29,31 31,52 33,31
7. Pengangkutan & Komunikasi 5,68 5,96 6,33 6,50
8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan
1,37 1,47 1,57 1,64
9. Jasa-jasa 3,16 3,26 3,41 3,48
PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber : BPS Kota Lhokseumawe Ket: *) Angka Revisi
Industri pengolahan menjadi leading sector perekonomian wilayah Lhokseumawe meskipun mengalami penurunan peranan dalam perekonomian
dikarenakan produksi migas yang menurun, sektor industri pengolahan migas
masih menjadi primadona dalam perekonomian Kota Lhokseumawe. Sementara
itu sektor bangunan/konstruksi memberikan kontribusi sebesar 7,17 persen
pada tahun 2013. Sektor ini cenderung mengalami kenaikan sejak tahun 2010
sejalan dengan maraknya pembangunan properti seperti perumahan dan
pertokoan di wilayah kota ini.
Sektor sekunder mengalami penurunan sejalan dengan berkurangnya
peranan sektor industri pengolahan dalam perekonomian Kota Lhokseumawe.
Dua sektor lainnya yakni sektor konstruksi dan sektor listrik, air, dan gas,
masing-masing mengalami kenaikan selama empat tahun terakhir. Meskipun
demikian kenaikan tersebut tidak signifikan menaikkan share sektor sekunder karena dominasi sektor industri pengolahan yang cukup besar.
Secara keseluruhan, kontribusi terbesar kedua pada perekonomian
Lhokseumawe selama empat tahun terakhir diberikan oleh sektor tersier
terutama sektor perdagangan, hotel dan restoran. Sektor ini mengalami
kenaikan dari share sebesar 27,19 persen pada tahun 2010 menjadi 33,31 persen pada tahun 2013. Sektor yang mempunyai sumbangan terbesar kedua terhadap
sektor tersier adalah sektor perhubungan dan komunikasi. Sektor ini mengalami
kenaikan rata-rata satu persen selama empat tahun terakhir.
Sektor pendukung sektor tersier rata-rata semua mengalami kenaikan
share selama empat tahun terakhir. Hal ini menyebabkan sektor tersier juga terdukung kenaikannya. Sektor jasa-jasa mengalami kenaikan meskipun
cenderung stabil selama empat tahun, sedangkan sektor keuangan, persewaan,
dan jasa perusahaan mempunyai kontribusi sebesar 1,37– 1,64 persen.
Sektor pertanian mempunyai andil yang cenderung stabil dalam
perekonomian Kota Lhokseumawe dengan besaran 4,88 – 5,33 persen. Pada
tahun 2013 peranan sektor pertanian adalah sebesar 5,33 persen, terbesar kelima
terjadi sebagai konsekuensi dari wilayah yang berstatus kota memerlukan
perhatian lebih. Konversi lahan yang terjadi harus diusahakan ke sektor-sektor
produktif agar perekonomian tetap stabil, bahkan meningkat.
Berbeda dengan sektor pertanian, kontribusi sektor pertambangan dan
penggalian sebagai bagian dari sektor primer sangat kecil dan juga cenderung
stabil. Kontribusi yang diberikan terhadap perekonomian Kota Lhokseumawe
hanya sebesar 0,17 persen pada tahun 2010 dan empat tahun kemudian, yaitu
tahun 2013 menunjukkan besaran yang mengalami hanya sedikit kenaikan
menjadi 0,20 persen.
Berdasarkan struktur perekonomian yang terbentuk sepanjang periode
2010 hingga 2013, masih mengukuhkan Kota Lhokseumawe sebagai kota indutri
migas terbesar di Aceh, dengan kontribusi kelompok sektor sekunder mencapai
lebih dari 50 persen terhadap perekonomian Kota Lhokseumawe sendiri.
Kontribusi yang telah diberikan oleh masing-masing kelompok sektor tentunya
harus lebih dioptimalkan, meskipun nantinya optimalisasi kontribusi ini
tentunya akan sangat tergantung pada kinerja ekonomi masing-masing sektor di
tahun-tahun yang akan datang.
Gambar 2.18 Peranan PDRB Dengan Migas Kota Lhokseumawe Tahun 2013
Sementara itu jika sektor migas dikeluarkan dari peranannya
terhadap perekonomian Kota Lhokseumawe, akan terlihat bahwa PDRB tahun
2013 didominasi oleh kelompok tersier. Share sebesar 75,96 persen diberikan oleh sektor tersier. Besaran share sektor tersier terhadap perekonomian Kota Lhokseumawe tanpa migas, sangat mendominasi karena jauh diatas 50 persen.
Tabel 3.7
Peranan Sektor Ekonomi dalam PDRB Kota Lhokseumawe Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Sektor, 2010-2013 Tanpa Migas (persen)
Sektor 2010 2011 2012*) 2013**)
(1) (2) (3) (4) (5)
Primer 10,08 9,81 9,52 9,34
1. Pertanian 9,75 9,47 9,18 9,00
2. Pertambangan & Penggalian 0,34 0,34 0,34 0,34
Sekunder 15,28 15,14 15,03 15,03
3. Industri Pengolahan 2,52 2,48 2,42 2,42
4. Listrik, Gas & Air Bersih 0,15 0,15 0,15 0,15
5. Bangunan/Konstruksi 12,61 12,51 12,46 12,13
Tersier 74,64 75,85 75,44 75,96
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 54,26 54,99 55,52 56,31
7. Pengangkutan & Komunikasi 11,33 11,99 11,15 10,99
8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan
2,74 2,75 2,76 2,78
9. Jasa-jasa 6,31 6,12 6,01 5,88
PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber : BPS Kota Lhokseumawe Ket: *) Angka Revisi
Sektor perdagangan, hotel, dan restoran memberikan kontribusi
terbesar dari total PDRB tanpa migas dan merupakan leading sector dari sektor tersier. Sektor ini terus meningkat dari tahun ke tahun, walaupun kenaikannya
cenderung stabil. Sektor pengangkutan & komunikasi serta sektor keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan juga semakin meningkat dalam kurun waktu
2010-2013 dengan peningkatan yang relatif kecil. Sektor jasa-jasa mengalami
penurunanshare selama kurun waktu empat tahun, dari 6,31 persen pada 2010 menjadi 5,88 persen pada 2013.
Kelompok primer berada pada posisi kedua terbesar peranannya
dalam pembentukan PDRB Kota Lhokseumawe. Pada tahun 2013 kelompok
primer ini memberikan kontribusi sebesar 9,34 persen. Namun, kontribusi yang
diberikan cenderung menurun setiap tahunnya. Misalnya saja pada tahun 2010
kontribusi kelompok ini mencapai angka 10,08 persen dan menjadi 9,34 persen
pada tahun 2013. Sektor yang dominan pada kelompok primer adalah sektor
pertanian dimana pada tahun 2013 memberikan kontribusi sebesar 9.00 persen.
Sementara itu peranan sektor pertambangan dan penggalian menyumbang tidak
lebih dari setengah persen sejak periode 2010-2013.
Yang berada di posisi ketiga adalah kelompok sekunder yang terdiri
dari sektor industri pengolahan, sektor listrik dan air bersih serta sektor
konstruksi. Kelompok sekunder ini lebih didominasi oleh sektor konstruksi
yang memberikan kontribusi sebesar 12,13 persen pada tahun 2013. Sektor
konstruksi juga menunjukkan kecenderungan menurun peranannya setiap
tahun.
Sementara itu sektor industri pengolahan memberikan kontribusi
sebesar 2,42 persen pada tahun 2013. Sedangkan sektor listrik dan air bersih
kontribusinya masih sangat kecil baru mencapai 0,15 persen terhadap
pembentukan PDRB Kota Lhokseumawe non-migas tahun 2013. Sektor ini juga
Gambar 2.19
Peranan PDRB Tanpa Migas Kota Lhokseumawe Tahun 2013
Sumber: BPS Kota Lhokseumawe 2014
2.3.2.1 Pertumbuhan Ekonomi Kota Lhokseumawe
Pertumbuhan ekonomi suatu daerah merupakan salah satu ukuran
kinerja pembangunan daerah khususnya di bidang perekonomian.
Pertumbuhan ekonomi ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan PDRB atas harga
konstan, yaitu dengan menghilangkan faktor perubahan harga (inflasi) dan
menggunakan faktor pengali harga konstan (at constant price inflation factor) sehingga diperoleh gambaran peningkatan produksi secara makro.
Pertumbuhan ekonomi Kota Lhokseumawe sangat dipengaruhi oleh
pertumbuhan sektor industri, terutama industri minyak dan gas. Selama kurun
waktu 2008 hingga 2013, pertumbuhan ekonomi menunjukkan kecenderungan
yang menurun seiring dengan menurunnya pertumbuhan sektor industri
pengolahan di Kota Lhokseumawe yang didominasi industri gas alam cair oleh
PT Arun, NGL. Pada tahun 2013 pertumbuhan ekonomi Kota Lhokseumawe
Tanpa faktor minyak dan gas, sektor perdagangan, hotel, dan restoran
adalah sektor dengan pertumbuhan terbesar. Sektor-sektor yang lain cenderung
mengalami fluktuasi naik dan turun sejak tahun 2009 menuju tahun 2013,
sedangkan sektor industri pengolahan migas tetap tumbuh minus, hanya saja
semakin kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa
penurunan produksi gas alam pada tahun 2013 tidak begitu drastis dibanding
tahun-tahun sebelumnya.
Gambar 2.20
Laju Pertumbuhan Sektor Ekonomi Dalam PDRB Kota Lhokseumawe Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Sektor, 2010-2013 Dengan dan Tanpa Migas (persen)
Sektor 2010 2011 2012*) 2013**)
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 2,22 2,39 2,16 2,59
2. Pertambangan & Penggalian 5,26 4,48 4,50 4,91
3a. Industri Pengolahan (13,44) (11,72) (6,75) (6,90)
3b. Industri Pengolahan 2,29 4,22 3,22 3,32
4. Listrik, Gas & Air Bersih 5,89 5,91 5,23 4,01
5. Bangunan/Konstruksi 4,41 3,91 4,76 2,45
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 8,07 3,95 4,10 3,37
7. Pengangkutan & Komunikasi 5,02 3,67 4,11 2,97
8. Keuangan, Persewaan & Jasa
Perusahaan
6,67 4,43 4,61 4,23
9. Jasa-jasa 2,85 2,76 4,22 2,42
PDRB Dengan
Migas
PDRB Tanpa
Migas
5,88 3,62 3,91 3,09
Pertumbuhan ekonomi Kota Lhokseumawe tanpa memasukkan unsur
minyak dan gas tahun 2013 sebesar 3,09 persen yang ditunjukkan oleh
pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000. Secara sektoral di
tahun 2013 seluruh sektor ekonomi mengalami pertumbuhan positif dan
pertumbuhan tertinggi secara berturut-turut dialami oleh sektor pertambangan
dan penggalian sebesar 4,91 persen; sektor keuangan, persewaan, dan jasa
perusahaan sebesar 4,23 persen; sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 4,01
persen; sektor perdagangan, hotel dan restoran 3,37 persen; sektor industri
pengolahan non-migas sebesar 3,32 persen; sektor pengangkutan dan
komunikasi 2,97 persen; sektor pertanian 2,59 persen; sektor konstruksi 2,45
persen; serta sektor jasa-jasa yaitu sekitar 2,42 persen.
2.3.3 Struktur Ekonomi Kabupaten Aceh Utara
Indikator makroekonomi merupakan komponen yang sangat penting
yang menjadi acuan dalam pengambilan keputusan untuk menentukan arah
dan sasaran kebijakan pembangunan. Gambar 2.21 dibawah ini memberikan