JURUSAN POLITIK DAN PEMERINTAHAN
FISIPOL UGM
L E M B A R C O V E R T U G A S 2 0 1 3
Nama
Alan Griha Yunanto (11/317917/SP/24800) Adriansyah Dhani Darmawan(11/317979/SP/24860) Permadi Tunggul S.W. (11/311843/SP/24442)
Bachrudin Hidayatulloh (11/312565/SP/24575)
Tissa Karaniya Prametta V. (11/317880/SP/24765)
Indah Ayu Lestari (11/317795/SP/24685) M. Gufron (08/267564/SP/22971) Sholeh Tri Harjoko (09/283809/SP/23679) No. Mahasiswa
Nama Matakuliah
Masyarakat Ekonomi
Dosen
M. Adhi Iksanto
Judul Tugas Borjuasi Ekonomi Indonesia Era Reformasi: Warisan Orde Baru Akibat Pengaruh Ekonomi Dunia yang Terlampau Kuat
CHECKLIST
Saya telah:
Mengikuti gaya referensi tertentu secara konsisten...
Memberikan soft copy tugas...
Deklarasi
Pertama, saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa:
Karya ini merupakan hasil karya saya pribadi.
Karya ini sebagian besar mengekspresikan ide dan pemikiran saya yang disusun menggunakan kata dan gaya bahasa saya sendiri.
Apabila terdapat karya atau pemikiran orang lain atau sekelompok orang, karya, ide dan pemikiran tersebut dikutip dengan benar, mencantumkan sumbernya serta disusun sesuai dengan kaidah yang berlaku.
Tidak ada bagian dari tugas ini yang pernah dikirimkan untuk dinilai, dipublikasikan dan/atau digunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah lain sebelumnya.
Kedua, saya menyatakan bahwa apabila satu atau lebih ketentuan di atas tidak ditepati, saya sadar akan menerima sanksi minimal berupa kehilangan hak untuk menerima nilai untuk mata kuliah ini.
________________________________________ _____________________________________________
Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai pembentukan borjuasi pada era pasca pemerintahan Soeharto. Alur dalam menjelaskan pembentukan borjuasi tersebut, akan penulis mulai dari nostalgia era kepemimpinan Soeharto. Dalam bagian ini kita dapat melihat pembentukan borjuasi yang sebenarnya menurut penulis sebagai fondasi dasar pembentukan borjuasi setelah kepemimpinan Soeharto, dengan kata lain penulis ingin mengatakan bahwa pembentukan borjuasi Indonesia pasca Soeharto itu sebenarnya sangat dipengaruhi atau mewarisi apa yang telah Soeharto lakukan dalam bidang perekonomian. Karakter yang ditimbulkan hampir mirip-mirip, karena hanyalah sebatas mewarisi.
Ekonomi Indonesia Masa Orde Baru
Mendengar terminologi “Orde Baru” ingatan kita seakan dilempar pada suatu rezim yang identik dengan program pembangunannya. Indonesia di bawah rezim tersebut memang tak ubahnya sebagai suatu bangsa yang memposisikan pembangunan sebagai panglima utama dalam pemerintahan. Awal pemerintahan rezim Orde Baru dilakukan dengan melakukan penyelamatan ekonomi nasional yang carut marut tinggalan rezim sebelumnya, Orde Lama. Penyelamatan difokuskan pada pengendalian tingkat inflasi, penyelamatan keuangan negara serta melakukan proteksi kebutuhan-kebutuhan pokok rakyat Indonesia.
Masa transisi dari orde lama menuju orde baru merupakan masa di mana perekonomian Indonesia sedang berada dalam titik paling ekstrem dan mengkhawatirkan. Dokumen mencatat tingkat inflasi pada masa awal pemerintahan Soeharto waktu itu mencapai 650% setahun. Maka dari itu, dibutuhkan kebijakan yang mampu menekan tingkat inflasi seminimal mungkin. Langkah yang diambil Soeharto ialah memberikan tawaran kepada beragam kreditor dan investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Cara tersebut bukanlah merupakan cara yang mudah, mengingat pendahulunya, Soekarno sangat anti bantuan asing. Hal tersebut jelas saja berdampak pada aspek psikologis pihak asing yang menimbulkan resistensi untuk memberikan bantuan kepada Indonesia, kendatipun pemimpinnya telah berganti. Untuk itu, Soeharto harus memenuhi syarat-syarat yang diajukan oleh pihak asing dalam pemberian bantuan tersebut.
harus disepakati oleh kedua belah pihak. Salah satu kesepakatannya yaitu dihapusnya kontrol terhadap investasi swasta oleh negara.
Lebih dari itu, pada Desember 1996 ketika dilakukan konferensi Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI) di Paris menghasilkan beberapa butir yang harus dipenuhi bila ingin mendapatkan bantuan asing. Syarat-syarat tersebut yaitu, pertama, kekuatan pasar akan memainkan peran pokok dalam rehabilitasi. Kedua, perusahaan-perusahaan negara akan melakukan kompetisi bebas dengan perusahaan swasta, mengakhiri akses preferensi ke kredit dan alokasi valuta asing. Monopoli negara di bidang impor diakhiri. Sedangkan di pihak lain, perusahaan negara dibebaskan dari kewajiban menjual dengan harga rendah yang semu. Mereka dapat melakukan penjualan berdasarkan harga pasar, bekerja secara ekonomis, maka dengan demikian subsidi tidak diperlukan lagi.
Ketiga, sektor swasta harus dirangsang dengan menghapuskan pembatasan lisensi
impor bahan baku dan peralatan. Keempat, investasi swasta asing akan digalakkan dengan dikeluarkannya undang-undang investasi baru yang akan menjamin insentif perpajakan dan lainnya (Robison 2012: 107). Negosiasi tersebut merupakan gerbang masuk dominasi asing terhadap perekonomian Indonesia. Hasilnya, investor asing mulai marak menancapkan modalnya dan memberikan bantuan-bantuan finansial untuk menunjang perekonomian Indonesia.
Kapitalisme tumbuh subur dalam permainan ekonomi Indonesia. Praktik kapitalisme yang dilakukan oleh negara tersebut melahirkan borjuasi-borjuasi yang memiliki domain di lingkaran kuasa Soeharto, seperti militer ataupun pengusaha Cina. Keikutsertaan militer dalam pemerintahan nyatanya tidak sebatas dalam konteks politik melainkan juga ekonomi. Pada masa itu, militer memiliki kelompok bisnis sebagai bentuk kekuasaan sosial ekonomi di Indonesia. Salah satu bentuk bisnisnya terlihat dalam sebuah perusahaan bernama PT Tri Usaha Bhakti (TUB). Perusahaan ini didirikan pada tahun 1969 oleh Hankam yang bergerak dalam bidang perdagangan kecil, pergudangan, pengankutan truk serta di sektor manufaktur. Sedangkan untuk pengusaha Cina, dapat dilihat dari adanya Grup Astra milik William Soerjadjaja (Tjia Kian Liong) dan Grup milik Liem Sioe Liong.
Indonesia. Selain itu, stabilitas politik yang ada mendorong dan melancarkan proses pembangunan yang digalakkan oleh Soeharto waktu itu.
Tiga Pemerintahan dengan Corak Borjuasi yang Sama
Baharudin Jusuf Habibie merupakan wakil presiden yang sedang menjabat sampai turunnya 32 tahun kepemimpinan soeharto. Habibie menjabat sebagai presiden RI ke-tiga setelah berbagai rangkaian krisis ekonimi politik melanda Indonesia. Naiknya Habibie dianggap sebagai sebuah kemenangan pahit manis bagi gerakan pro-demokrasi karena anggapan bahwa habibie merupakan tangan kanan dari rezim sebelumnya1. Pada masa rezim
orde baru habibie tidaklah terlalu vokal menyuarakan visi politiknya kecuali dukungannya kepada kekuasaaan orde baru.
Seperti yang dijelaskan oleh Jan Luiten dalam bukunya Ekonomi Indonesia 1800-2010. Pada saat mulai menjabat presiden habibie dihadapkan kepada perekonomian Indonesia yang terus terjun bebas, dengan GDP yang turun hingga 20 persen per tahun. Nilai tukar rupiah terhadap dolar naik hingga dua kali lipat dibulan Mei dari Rp. 8.000,- menjadi Rp. 16.000,- pada pertengahan Juni dan inflasi yang hampir mendekati 100 persen. Hal ini menyebabkan segala kebutuhan pokok tidak terjangkau bagi kalangan menengah hingga menyebabkan angka kemiskinan melambung menjadi 27 persen (Horfman et. Al 2004:54)2.
Habibie sebagai presiden baru dia berhasil menyelanggarakan pemilihan umum parlementer pada pertengahan 1999. Habibie juga menyadari dengan memulihkan kondisi perekonomian negara membuka penawaran lebih besar bagi dirinya untuk terpilih kembali (boediono 2002:387)3. Langkah awal yang dia lakukan untuk perbaikan ekonomi adalah dengan meilih
Ginanjar Kartasasmita sebagai mentri ekonomi senior dan Widjojo Nitisastro dan Ali Wardhana, dua orang teknokrat sebagai penasihat ekonomi. Ketiga orang itu memiliki hubungan yang baik dengan komunitas pendonor internasional (Schwarz 2000:373)4.
Pada bulan Oktober rupiah berhasil menguat menjadi sekitar Rp. 8.000,- terhadap Dolar AS dan inflasi menurun drastis. Selain itu juga beberapa ekspor kunci nonmigas mulai menunjukkan tanda-tanda kepulihan5. Dari sini bisa dilihat habibie sedikit berhasil
memperbaiki kekacauan ekonomi yang ditinggalkan oleh rezim orde baru menjadi lebih baik.
1 Jan Luiten van Zanden Daan Marks (2012), Ekonomi Indonesia 1800-2010 Antara Drama dan Keajaiban Pertumbuhan, PT. Kompas Media Nusantara, Jakarta.
2 Hofman, Bert, Ella Rodrick-Jones and Thee Kian Wie (2004), Indonesia: Rapid Growth, Weak Institusions,
Jakarta: World Bank.
3 Boediono. (2002). “The Internasional Monetary Fund Support Program in Indonesia: Comparing
Implementation under Three Presidents”, Bulletin of Indonesian Econimic Studies, Vol. 38, No 2, pp. 385-391. 4 Schwarz, Adam (2000), A Nation in Waiting: Indonesia’s Search for Stability, Boulder; Colorado: Westview Press
Meskipun situasi politik masih tidak menentu dan kondusif yang mengakibatkan para investor enggan menanam modalnya karena masih belum jelas siapa yang akan menjamin dan memegang kewenangan kebijakan ekonomi. situasi politik dan masalah sosial yang masih krusial sangat menyulitkan pemulihan ekonomi karena pengaruhnya terhadap kepercayaan investor (Fane 1999:18)6. Namun dengan terbongkarnya berbagai skandal
korupsi dan kekerasan di Timor-Timur semakin menghambat pemulihan ekonomi.
Dari sini menunjukkan bahwa selama B. J Habibie menjabat sebagai Presiden dengan waktu satu tahun tujuh bulan hanya dapat membawa sedikit perbaikan dibidang ekonomi yang sempat porak poranda. Kondisi perpolitikan yang tidak mendukung perekonomian sulit adanya muncul borjuasi yang baru. Kemungkinan adanya borjuasi hadir dari warisan yang ditinggalkan oleh pemerintahan orde baru. Hal ini menjelaskan bahwa dalam era pemerintahan Habibie keunculan borjuasi baru terhambat oleh masih carut marutnya perpolitikan Indonesia pada saat itu dan hanya menyisahkan beberapa borjuasi yang masih bisa bertahan.
Melanjutkan estafet kepemimpinan, Gus Dur atau yang bernama asli Abdul Rahman Wahid merupakan presiden keempat negara Indonesia. Beliau terpilih pada bulan Oktober tahun 1999 setelah berakhirnya masa kepemimpinan presiden sebelumnya yaitu BJ Habibie. Pada awal kepemimpinannya, keadaan Indonesia sejak diselenggarakannya pemilu yang demokratis tersebut menjadi lebih stabil. Kondisi sosial politik yang ada pun juga cenderung mengalami kestabilan. Akan tetapi untuk aspek ekonomi, pada masa ini hal tersebut yang masih menjadi pergunjingan. Sebab pemulihan perekonomian masih saja belum dapat berjalan dengan selaras. Hal itu terjadi karena pemulihan perekonomian masih menjadi tawanan politik (Mc Leod, 2000:5 dalam (Jan Luiten, 2012:419)).
Pada awal kepemimpinan Gus Dur, disini masih mengalami ketidakstabilan dalam kabinetnya. Disana Gus Dur dianggap gagal mengelola cabinet dan juga perekonomian, dimana kedua hal tersebut merupakan indicator dari keberhasilan kepemimpinan suatu pemimpinan sebagai hasil dari adanya kompromi politik. Hal tersebut dapat dilihat dari seringnya pergantian menteri yang ada pada masa pemerintahan Gus Dur. Dengan terjadinya hal tersebut juga menimbulkan ketidakstabilan kondisi perekonomian pada masa itu.
Selain itu, pada saat itu juga banyak terjadi pergolakan-pergolakan di daerah dan juga banyaknya tuduhan adanya keterlibatan skandal korupsi. Sehingga legitimasi Gus Dur sebagai pimpinan mulai memudar. Hal itu juga berpengaruh terhadap stabilitas perekonomian
pada saat itu. Akan tetapi walaupun kondisi saat itu tidak stabil, Gus Dur pun tetap menolak untuk melakukan kompromi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Apalagi jika Gus Dur dituntut untuk turun dari jabatannya, beliau tidak mau melakukan hal tersebut. Akan tetapi setelah pergolakan-pergolakan yang terjadi di tubuh pemerintahan, hal itu berakhir pada tanggal 23 Juli tahun 2000 dengan turunnya Gus Dur sebagai presiden dan digantikan dengan Megawati Soekarno Putri yang sebelumnya menjabat sebagai wakilnya.
Megawati hadir sebagai presiden republik Indonesia menggantikan Abdurrahman Wahid. Pada tahun 2001, MPR mengadakan sidang istimewa MPR sebagai langkah lanjutan atas pembekuan MPR/DPR dan Golkar yang dilakukan oleh Abdurrahman Wahid. Kemudian secara resmi ia memimpin Indonesia pada tanggal 21 Juli 2001.
Nama Megawati sebenarnya sudah lama berkecimpung di panggung politik nasional. Ia pernah menjabat sebagai anggota DPR, Ketua Umum PDI-Perjuangan, dan bahkan sebelumnya ia pernah menjadi aktivis mahasiswa di GmnI.
Ketika menjabat sebagai seorang presiden RI, Megawati melakukan beberapa langkah konkrit dalam konteks membangun kembali perekonomian Indonesia yang sempat runtuh akibat gerusan krisis ekonomi yang melanda sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara. Beberapa kebijakan ekonominya antara lain otonomi daerah, pengurangan subsidi, pertumbuhan pendapatan per kapita, penundaan utang, dan sebagainya.
Langkah pertama yang ia lakukan sesaat setelah menjabat sebagai presiden adalah menyelamatkan anggaran yang porak-poranda pasca krisis. Seperti layaknya paradigma yang berkembang di pemerintahan saat itu, langkah-langkah untuk melakukan penyelamatan defisit anggaran adalah dengan memotong subsidi yang dilakukannya sebagai pilihan tercepat akibat pemasukan negara yang belum maksimal. Selain itu, Megawati juga melakukan lobi penundaan pembayaran utang luar negeri sebesar US$ 5,8 milyar. Beberapa kebijakan itu diharapkan secara cepat dapat menstabilkan keadaan ekonomi Indonesia yang sedang mengalami proses pembangunan kembali.
Logika yang digunakan pemerintah saat itu (bahkan saat ini) dalam konteks ekonomi dinilai sangat absurd. Dikatakan begitu karena secara sederhana, hal tersebut akan menutup lubang dengan menggali lubang yang lebih besar. Impact-nya secara sistemik akan justru menimbulkan permasalahan yang lebih riil dan mendasar di level daya beli masyarakat, serta mempengaruhi psikologi masyarakat yang sedang menunggu kehadiran pemimpin yang benar-benar mengejawantahkan mandat yang mereka berikan kepada negara. Namun, di dalam konteks politik maka hal tersebut bukanlah sebuah upaya penyelamatan ekonomi. Sebagian masyarakat sadar bahwa kegiatan tersebut tidak memberikan dampak apapun selain bentuk kegagalan negara dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Lebih jauh lagi, beberapa diskusi politik mengatakan bahwa ini adalah bentuk keputusan yang mengada-ada. Sebab, dihitung dari segi ekonomi apapun, kenaikan tarif tersebut adalah keputusan yang fatal bagi perekonomian jangka panjang, terlebih lagi bagi ekonomi berskala rumah tangga.
Kecurigaan yang muncul dari masyarakat kemudian adalah bahwa hal ini merupakan proses tawar-menawar politik. Kecurigaan tersebut dilandasi dengan analisis sebelumnya yang mengatakan bahwa kenaikan tarif justru menggerus perekonomian mikro. Tawar-menawar politik dapat dikaitkan dengan keberadaan elit-elit politik yang berkecimpung di ranah politik nasional. Elit ini dapat kita sebut sebagai borjuasi politik. Mereka melakukan tawar-menawar politik menjelang Pemilu yang akan diselenggarakan beberapa tahun setelah kebijakan tersebut digelontorkan pemerintah. Borjuasi politik yang ada kemudian mempengaruhi proses politik di lingkaran istana untuk membuat kebijakan yang menguntungkan pihak mereka. Hal ini merupakan sesuatu yang menjadi habit buruk pemerintahan Indonesia. Sebabnya tak lain adalah aktor-aktor ini merupakan warisan orde sebelumnya. Elit-elit tersebut masih ada dan berpengaruh di lingkungan birokrasi dari level yang paling rendah sekalipun.
Keputusan presiden kala itu memang tak bisa dibaca dalam waktu singkat. Maksudnya adalah pengaruh-pengaruh dari borjuasi politik dan ekonomi tidak dapat dikesampingkan. Borjuasi politik terbentuk akibat rezim yang memusatkan kekuasaannya di dalam istana. Sementara borjuasi ekonomi hadir atas dasar ikatan kekuasaan dengan para pengusaha dalam membangun kekuatan politik yang membutuhkan cost politics yang besar. Borjuasi ekonomi merasuk ke dalam lingkaran kekuasaan dan mempengaruhi setiap proses kebijakan sehingga kebijakan tersebut tidak menggangu atau bahkan mendukung kegiatan ekonomi mereka.
mirip, dan korban yang senantiasa sama. Sebagai contoh lain adalah kebijakan tentang privatisasi BUMN. Secara faktual, pemerintahan Megawati menjalankan kebijakan privatisasi berdasarkan desakan dari luar, khsusunya IMF dan bank dunia. Bedanya adalah Megawati hanya melanjutkan kesepakatan yang dibuat pemerintahan sebelumnya melalui stuctrual
adjustment program (SAP).
Selain itu, pertimbangan melakukan privatisasi oleh Megawati adalah untuk mencari pendanaan untuk menutupi defisit APBN. Seperti diketahui, Megawati mewarisi sebuah kondisi ekonomi yang compang camping akibat krisis ekonomi 1997. Dalam periode 1991-2001, pemerintah Indonesia telah 14 kali melakukan privatisasi terhadap BUMN. Dari sekian jumlah tersebut, yang berhasil terprivatisasi sebanyak 12 BUMN. Eksepsi yang dilontarkan Megawati adalah program itu dilangsungkan agar keuangan negara tidak mengalami kebocoran dan merupakan program yang diteruskan dari rezim sebelumnya7.
Tekanan dari luar untuk melepas Indosat datang dari IMF, dalam Letter of Intent (LoI) dengan IMF, ada kewajiban bagi Indosat untuk melepaskan anak perusahaannya yang seluruhnya berjumlah sekitar 30-an. Dalam hal ini, negara sebagai gerbang terakhir intervensi asing gagal melaksanakan kedaulatan-nya secara politik. Situasi politik kala itu memanas ketika dedengkot BUMN dihadap-hadapkan dengan Ketua MPR. Kecaman keras datang dari berbagai elemen, khususnya oleh Amien Rais dan Fraksi PKB yang menentang keputusan penjualan aset-aset milik negara tersebut.
Pada dasarnya analisis terhadap konteks politik saat itu tak ubahnya hanya mengulang kembali peta politik di rezim Orde Baru. Namun yang membedakan adalah pada era Megawati semuanya serba terlihat sebagai akibat dari dengung demokrasi yang masih barudi telinga masyarakat. Sehingga, prinsip demokrasi tentang akuntabilitas dan transparansi sedang hangat-hangatnya digencarkan di berbagai lini pemerintahan.
Pembahasan-pembahasan sebelumnya yang berkaitan dengan bidang ekonomi menjadi dasar dalam melihat pola borjuasi ekonomi. Sebelumnya telah secara singkat dijelaskan motif kedekatan borjuasi ekonomi dengan borjuasi politik. Pola kedekatan kedua borjuasi tersebut hampir mirip dengan apa yang terjadi di era Orde Baru. Selingkuh kaum politisi dengan pebisnis menjadi rahasia umum di lingkaran kekuasaan. Terlebih lagi, pos-pos yang ada di pemerintahan kemudian “dibagi-bagikan” kepada borjuasi-borjuasi tersebut sebagai timbal balik atas keberhasilan mereka melakukan konsolidasi politik.
Kurang lebih, keadaan borjuasi yang ada di Indonesia masih sama dengan periode-periode kepemimpinan sebelumnya. Keadaan tersebut didukung oleh sistem yang masih
korup di berbagai lini pemerintahan. Meskipun pada periode Megawati telah dibentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hal itu tidak banyak membantu ketika lagi-lagi wahana anti-korupsi tersebut diambil alih atau justru dibentuk oleh “mereka” sebagai bentuk afirmasi terhadap gerakan pemberangusan korupsi yang marak terjadi di negara-negara transisi menuju demokrasi.
Karakteristik Borjuasi Ekonomi di Masa Pemerintahan SBY
Meskipun dikepung oleh wacana globalisasi yang cenderung mengarah ke proses neolibealisme ekonomi, nyatanya Pemerintah Indonesia tidak serta merta menelan mentah-mentah gagasan tersebut untuk kemudian diterapkan ke dalam berbagai kebijakan ekonomi dalam negeri. Mahzab Freiburg merupakan salah satu ordo dari neoliberalisme yang dikembangkan oleh para ekonom Jerman. Berbeda dengan aliran neoliberalsme yang dikembangkan oleh tokoh liberal The Mont Pelerin Society (MPS), Mahzab Freiburg merupakan pemikiran yang berusaha menawarkan gagasan neoliberal namun dengan mengakomodasi kritik-kritik yag dilancarkan oleh pengikut Marxisme.
Mahzab ini menitikberatkan akan pentingnya ekonomi pasar sosialis atau sistem ekonomi bebas namun dijaga dengan berbagai kerangka regulasi pemerintah agar terhindar dari konsentrasi kekuasaan ekonomi sekaligus untuk menjaga keadilan dan efisiensi. [Deliarnov,2005). Tujuan Politik dari kebijakan neoliberal yang “sosialis” tersebut tidak lain adalah untuk menghindari kesenjangan [ekonomi maupun politik). Langkah pemerintah biasanya berusaha memberikan jaminan kemanan sosial bagi seluruh rakyat, mengembangkan kewirausahaan, dan tidak menghapus kebijakan subidi. Sebagai sebuah sistem ekonomi, mahzab ini berusaha memerangi kekuasaan sektor publik maupun privat atas pasar sekaligus memerangi pasar bebas tanpa aturan [Friedlich,1955).
Indonesia banyak disetir oleh kepentingan-kepentingan IMF yang pada akhirnya merugikan Indonesia sendiri.
Kini, meskipun kebijakan ekonomi pasar bebas telah diadopsi oleh Indonesia, campur tangan pemerintah sama sekali tidak surut. Dalam bidang ketenagakerjaan misalnya, kini format hubungan industrial yang bercorak outsourching atau kerja kontrak telah diatur dan dibatasi dalam kerangka regulasi yang ketat. Selain itu, kebijakan subsidi energi [listrik dan BBM) sampai sekarang masih tetap dipertahankan meskipun hal tersebut berdampak negatif pada postur APBN. Kebijakan “sosialis” yang lain misalnya upaya pemerintah untuk menyediakan fasilitas perlindungan jaminan sosial bagi rakyat melalui pengesahan UU BPJS beberapa waktu yang lalu.
Beberapa kebijakan tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia tidak sepenuhnya menganut ideologi neoliberal. Yang terjadi adalah, seperti yang penulis katakan di awal, Indonesia di masa pasca reformasi banyak menerapkan logika mahzab Freiburg sebagai cara untuk meredam semangat neoliberalisme dalam setiap pengambilan keputusan kebijakan di sektor ekonomi. Yang kemudian menjadi catatan penting dan bisa dijadikan kesimpulan adalah, Indonesia tidak menganut ideologi ekonomi yang jelas. Di satu sisi tidak bisa mengelak dari pengaruh neoliberalisme, di sisi yang lain juga menerapkan liberalisme mahzab Freiburg sebagai jalan tengah.
Masa pemerintahan SBY telah berjalan hampir selama dua periode atau selama 10 tahun. Ada yang menyuarakan pendapat optimis, namun tidak sedikit pula yang merasakan pesimis dan sinis melihat kondisi Indonesia di bawah pemerintahan SBY. Dihasilkan dari kompetisi politik yang diklaim paling demokratis, tidak serta merta jalannya pemerintahan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh publik. Liberalisme ekonomi pasca reformasi ternyata berjalan beriringan dengan liberalisasi politik. Pengalaman Orde Baru telah menghadirkan semacam alergi terhadap segala bentuk otoritarianisme. Oleh karenanya bisa dipahamai ketika tuntutan untuk menghasilkan pemerintahan yang lebih demokratis menguat, semua orang seolah latah untuk ikut menyuarakan demokratisasi di bidang politik. Masyarakat sipil tidak lagi bisa dikebiri, militer tidak lagi represif, kebebasan pers dibuka seluas-luasnya, dan masih banyak indikator lain yang bisa dijadikan acuan masifnya demokratisasi.
hanya dikuasai oleh sebagian kecil golongan orang-orang kaya. Angka pengangguran masih tergolong tinggi, data per September 2012 BPS mencatat bahwa pengangguran berada di level 11,70 % [Okezone.com,2012).
Sektor ekonomi nasional yang masih bertumpu pada segmen padat karya seperti pemerintah ternyata tidak menjadi prioritas pembangunan. Padahal, sebagian besar penduduk Indonesia masih bergantung pada sektor tradeable seperti dibidang pertanian misalnya. Sekitar 42,72 % penduduk Indonesia bekerja di bidang pertanian dan tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan jika ditotal, sektor pertanian berpotensi menyerap 52 % angakatan kerja dengan pertumbuhan setiap tahun sekitar 0,30 % (Aviliani,2010). Meskipun dilihat dari sisi angka inflasi, PDB dan penduduk miskin mengalami perbaikan, hal tersebut tidak dapat dijadikan sebagai indikator perbaikan kondisi ekonomi secara fundamental. Dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik, PDB Indonesia pada tahun 1997 berada di kisaran Rp 627,70 triliun naik menjadi Rp 8.241,86 triliun pada tahun 2012. Inflasi yang tadinya berada di angka 10,27 % turun menjadi 5,68 %, kemudian angka kemiskinan juga mengalami penurunan dari 34,01 juta menjadi 28,60 juta jiwa pada akhir tahun 2012 yang lalu (Kompas,21 Mei 2013).
Demokratisasi dan reformasi yang seharusnya diarahkan untuk mensejahterakan rakyat secara merata nyatanya hanya digunakan oleh elit ekonomi dan politik. Akibat liberalisasi ekonomi, sumber daya alam yang menjadi penopang utama ekonomi diprivatisasikan ke korporasi transnasional. Tidak ada arah kebijakan dari politik energi yang jelassehingga Negara belum mampu memenuhi kebutuhan BBM dan listrik yang murah. Di sisi lain, hingga saat ini pemerintahan SBY belum mampu mengajukan renegosiasi kontrak karya Freeport dan TNC besar lain yang menguasai eksplorasi sumber daya alam kita. Padahal amanat konstitusi menyatakan bahwa bumi, air, udara dan kekayaan yang terkandung di dalamnya harus dikuasai oleh Negara untuk dikelola sepenuhnya bagi kesejahteraan rakyat. Akibat liberalisasi ekonomi, struktur ekonomi Negara kita didominasi oleh kekuatan ekonomi asing. Hampir 87 % investasi yang masuk ke Indonesia merupakan dana-dana penanaman modal asing atau PMA. Gejala tersebut tidak lain sebagai implikasi dari dianutnya liberalisasi ekonomi. Maka tidak heran jika sebagian besar aset di Indonesia dikuasai oleh segelintir elit. Bahkan sekitar 75 % APBN dikuasai hanya oleh 300 orang kelompok borjuasi ekonomi, tentu saja sebagian besar dari mereka adalah ekspatriat asing.
koefisien Gini memamaparkan adanya peningkatan kesenjangan tersebut. Pada Tahun 1997 angka koefisien berada di angka 0,35, sedangkan pada tahun 2012 mencapai 0,41. Data tersebut mengkonfirmasi terpusatnya kepemilikan aset ekonomi di Indonesia. Dari laporan majalah Forbes bisa diambil kesimpulan bahwa sekitar 40 orang terkaya Indonesia menguasai aset setara separuh APBN (Erani,2013). Mungkin fundamental ekonomi Indonesia relatif baik, hal tersebut dibuktikan dengan kinerja pertumbuhan ekonomi yang baik meskipun berada di tengah-tengah resesi ekonomi global. Pasca resesi ekonomi global pada 2008, pertumbuhan ekonomi cukup konsisten, padahal Negara-negara maju seperti AS, Jerman, China, Jepang dan lainnya justru sibuk mengatasi resesi ekonomi.
Borjuasi Ekonomi Warisan Orde Baru Akibat Besarnya Kekuatan Ekonomi Dunia
Setelah melihat beberapa pemaparan diatas, tentunya hal yang mungkin pertama kali terlintas dibenak kita adalah suatu kebingungan, lantas bagaimana borjuasi ekonomi Indonesia itu tumbuh? Bagian ini akan membahas kondisi borjuasi ekonomi secara analitik melalui beberapa kondisi diatas. Tidak bisa dipungkiri bahwa pembentukan borjuasi ekonomi di Indonesia memang kurang jelas keberadaanya, terlebih pada masa pasca pemerintahan Soeharto atau masa reformasi. Rezim yang cepat berganti dengan karakter yang sama disetiap rezimnya tak ubahnya hanya melempar sebuah estafet kepemimpinan tanpa perubahan.
Kita dapat menganalisa dari pemaparan kondisi pemerintahan Orde Baru yang menancapkan tonggak borjuasi ekonomi dengan didorongnya penanaman modal asing ini sangat kuat pengaruhnya terhadap rezim pemerintahan yang selanjutnya. Orde Baru berhasil tampil dengan output yang menggembirakan, pembangunan nasional, dan swasembada. Itulah hasil nyata pemerintah dibidang ekonomi Indonesia kala itu. Borjuasi yang muncul karena penanaman modal asing di Indonesia disetir oleh IMF, dengan berbagai macam syarat yang ditawarkan IMF agar Indonesia dapat menerima suntikan dana. Sehingga pada waktu itu terbentuklah borjuasi-borjuasi ekonomi yang dapat dikatakan, ini akibat kebaikan dari Negara, dan memang Negara mau tidak mau harus mengambil langkah ini untuk menyelamatkan perekonomian Negara.
pemerintahan maka Soeharto harus mempunyai prioritas pembangunan. Ini yang memberikan perimbangan kepada kekuatan cengkraman, trickle down effect. Yang penting masyarakat kecil waras wareg dan lain. Dibangunlah pasar, SD Inpres, masjid dan lain-lain. GBHN itulah merupakan arah tujuan nasional.
Begitulah gambaran singkat yang mungkin akan memeberikan penjelasan mengapa borjuasi ekonomi pada saat pemerintahan Orde Baru yang keluar banyak dipegang oleh aktor-aktor asing. Indonesia tidak berdaya dengan kekuatan ekonomi dunia, Kapitalisme dunia sebenarnya sudah dirasakan semenjak Orde Baru itu dimulai, sesuai dengan perkataan Fukuyama bahwa kita tidak bias melawan Kapitalisme, mereka ada dimana-mana.
Kondisi ini tentunya tidak berhenti sampai disini saja, setelah Orde Baru berakhir, lantas apakah kekuatan ekonomi dunia juga berakhir? Tidaklah semudah itu untuk melepaskan dari cengkraman dunia, melalui IMF ini Indonesia dan termasuk Negara-negera lain yang mendapatkan kucuran dana dibuat tidak berdaya. Rezim selanjutnya hanyalah sebagai pelengkap penderitaan saja, warisan hutang Orde Baru itu memang benar adanya dan pada waktu Habibie, Gus Dur, dan Megawati menjabat, hutang itu masih tetap ada, dan terakumulasi. Bahkan kita dapat mengetahui, pada era pemerintaha Megawati ditanda tanganinya perpanjangan kontrak Freeport di Indonesia untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia di Papua. Rakyat yang memang tidak tahu menahu, pasti akan berteriak, dan membodoh-bodohkan pemerintahan pada saat itu, karena tidak bisa mengurus sumberdayanya sendiri. Tidak bisa mandiri, atau apalah yang biasanya diteriakkan oleh pendemo.
Padahal yang terjadi didalamnya jikalau kita dapat menganalisa secara mendalam, cengkraman kekuatan ekonomi dunia itu masih kuat adanya. Bahkan pada era SBY sekalipun yang dinilai lebih baik. Indonesia masih sulit untuk melepaskan cengkraman itu. Sehingga sampai saat ini, Indonesia masih disetir oleh kekuatan yang tidak kasat oleh mata itu, ini yang tidak banyak diungkapkan oleh berbagai media. Sehingga kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan sering ada sindiran, bayi lahir di Indonesia, menanggungg beban hutang sebesar 8 juta per kepala. Ini benar-benar terjadi, kalkulasi yang mungkin banyak orang hanya tertawa menyangsikan kebenarannya, namun ini benar-benar terjadi.
Kesimpulan
ekonomi yang terbentuk hanyalah ekspatriat asing yang masih tetap berjaya akibat kebaikan pemerintahan Orde Baru, dan ketidak berdayaan pemimpin-pemimpin setelah Soeharto untuk menanggulanginya. Karena pekerjaan rumah yang berat menurut hemat penulis untuk memutus hubungan antara ekonomi Indonesia dengan ekonomi dunia yang sangat kapitalistik. Kita hanya dapat bertahan untuk memperpanjang kekuatan ekonomi dunia supaya tidak menjajah secara lebih besar ekonomi Indonesia.
Faktor yang membuat Indonesia mampu bertahan adalah karena sektor riil yang menjadi penggerak ekonomi juga ditopang oleh sektor UMKM atau usaha berskala mikro. Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar memiliki daya beli dan konsumsi yang besar. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang cukup konsisten di kisaran 6-7 % telah mendorong lahirnya kelas menengah baru yang lebih banyak. Mengutip peryataan Wakil Menteri Keuangan, Mahendra Siregar, kelas menengah Indonesia dalam survey World Bank berjumlah sekitar 55 %. Setiap harinya, kelas menengah tersebut menghabiskan US$ 2 – US$ 20 per hari. Data tersebut menjadi fenomena menarik bagi Indonesia. petumbuhan kelas menengah baru hampir sekitar 7% setiap tahun. Potensi tersebut bisa sangat berdampak bagi perekonomian Indonesia ke depannya. Namun yang harus menjadi catatan adalah, tetap saja kesenjangan ekonomi semakin membesar. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah.
Referensi:
Aviliani. 2010. Prospek Ekonomi Indonesia 2010:Peluang dan Tantangan Kabinet Indonesia
Bersatu Jilid II. Makalah disampaikan pada acara Dies Natalis XXIV Universitas Mercu
Buana.
Badan Pusat Statistik. 2012. Laporan Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial
Ekonomi Indonesia. Mei 2012.
Boediono (2002), “The Internasional Monetary Fund Support Program in Indonesia: Comparing Implementation under Three Presidents”, Bulletin of Indonesian Econimic
Studies, Vol. 38, No 2, pp. 385-391.
Deliarnov. 2006. Ekonomi Politik. Jakarta : Erlangga.
George Fane (1999), “Survey of Recent Developments”, Bulletin of Indonesian Economic
Studies, Vol. 36, No. 1, PP. 13-45
Hofman, Bert, Ella Rodrick-Jones and Thee Kian Wie (2004), Indonesia: Rapid Growth,
Weak Institusions, Jakarta: World Bank.
Robison, Richard, 2012, Soeharto dan Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, Jakarta: Komunitas Bambu.
Schwarz, Adam (2000), A Nation in Waiting: Indonesia’s Search for Stability, Boulder; Colorado: Westview Press.
Zanden, Jan Luiten Van dan Daan Marks. 2012. Ekonomi Indonesia 1800-2010: Antara
Drama dan Keajaiban Pertumbuhan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas & KITLV-Jakarta.
Website
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/05/21/07403940/twitter.com
http://economy.okezone.com/read/2013/01/10/20/744079/angka-kemiskinan-2013-ditargetkan-turun-0-3
http://www.kopindo.co.id/index.php?