Perkapalan Dalam Ekonomi Hindia Belada
Tahun 1860-1940
Oleh Jaka Samudri
Pendahuluan
Pada perempat terakhir abad ke-l9 terjadi perubahan dalam perekonomian Indonesia. Perubahan itu terjadi bersamaan dengan diterapkannya kebijakan sistem ekonomi liberal oleh pemerintah Hindia Belanda. Kebijakan ini diterapkan dalam semua sektor ekonomi terutama sektor agraris, perdagangan, dan pelayaran. Sedangkan untuk sektor pelayaran liberalisasi dimulai sejak pertengahan abad ke-19.
Pembukaan beberapa pelabuhan di Hindia Belanda oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk kepentingan perdagangan terus dibuka dan ditetapkan sesuai komoditas dan sumber ekonomi daerah. Di sini membuktikan bahwa pelabuhan itu dibuka sesuai dengan sumber ekonomi yang terdapat di daerah itu dan ditetapkan sebagai pelabuhan ekspor impor. Pembukaan pelabuhan di luar Jawa ini paling tidak sejalan dengan ekspansi kebijakan ekonomi kolonial pada saat itu. Hal demikian membuat munculnya berbagai pertanyaan, seperti mengapa dan bagaimana sektor perkapalan berkembang di akhir abad 19 dan awal abad 20 mempengaruhi perekonomian? Serta sejauh apa pengaruh perkapalan dalam perdagangan?
Tulisan ini akan membahas bagaimana perkembangan perkapalan dan lebih fokusnya pada perkapalan milik pemerintah yaitu Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). Namun untuk mengawali awal kelahiran perkapalan KPM maka akan dimasukan pula kondisi perkapalan sebelum adanya KPM. Hal demikian itu karena KPM merupakan perusahaan dagang yang menjadi perantara yang menghubungkan perdagangan dari Hindia Belanda dan negara pusat yaitu Belanda. Sehingga KPM sangat berperan dalam perekonomian Hindia Belanda.
1800-2010” serta data-data statistik yang didapat dari bukunya Gerrit J. Knaap “ Changging Economy in Indoensia, vol 9. Transportasi 1819-1940”. Buku diatas memberikan banyak memberikan data yang bisa dianalaisa seperti data-data statistik untuk melihat bagaimana perkembangan pelayaran/ perdagangan yang bisa mempengaruhi perekonomian.
Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM).
Hindia Belanda adalah suatu negara yang sangat tergantung pada hubungan melalui laut. Suatu hubungan lalu-lintas yang teratur dan baik untuk menghubungkan negeri kolonial dengan para koloninya serta dengan bagian lain dunia diluar Hindia Belanda sampai dengan Asia Timur. Hal itu menjadikan begitu pentingnya adanya sarana perkapalan yang menghubungkan antar pulau dengan menghubungkan negara kepulauaan dalam perkembangan ekonomi.
Dibuatnya perusahaan pelayaran adalah sebagai cara untuk megembangkan kepentingan ekonomi kolonial. Ketika di tahun 1866 dibangunnya Nederlandsch-Indische Stoomsvaart Maatschappij (NISM) beroperasi sampai tahun l890, dan diteruskan dengan beroperasinya kapal uap yang dikenal dengan Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). Itu semua adalah gambaran paling jelas dalam ekspansi ekonomi kolonial dalam suatu jaringan ekonomi luas yang diterapkan di Indonesia.
Koninklijke Paketvaart-Maatschappij (KPM)1 sendiri adalah perusahaan
pelayaran Belanda yang memegang hak monopoli atas pelayaran antar-pulau di Indonesia sejak 1890. KPM didirikan oleh Stoomvaart Maatschappij Nederland (SMN) dan Rotterdamsche Lloyd (RL) pada tahun 1888. SMN dan RL telah beroperasi dengan kapal uap reguler antara Belanda dan Jawa selama hampir dua puluh tahun sejak tahun 1860-an. Sebelum adanya KPM layanan pelayaran antar pulau dioperasikan oleh Nederlandsch Indische Stoomboot-Maatschappij (NISM), anak perusahaan dari British India Steam Navigation Company. Pada 1 Januari 1891 KPM mulai beroperasi dengan 29 kapal uap kecil - 13 kapal uap baru dan 16 dari pendahulunya, NISM. Tujuan utamanya yaitu mengoperasikan jalur pelayaran regional di kepulauan Nusantara. Dan disamping itu KPM juga bermaksud untuk memotong jalur perdagangan Inggris dan
Cina. Kondisi demikian telah menunjukan adanya ekpansi teknologi navigasi untuk kepentingan ekonomi dalam bidang perdagangan dan pelayaran di Hindia Belanda.
Menurut A campo2, dibuatnya KPM sebagai alat transportasi dan untuk
mempertahankan hubungan laut antara pulau-pulau Hindia Belanda, memudahkan Belanda untuk menyebarkan imperialismenya di seluruh Hindia Belanda. KMP menjadi kemajuan mutahir dari adanya mesin uap sebagai motor penggerak dan memudahkan transportasi dari negara Pusat. Kapal-kapal yang digunakan KPM adalah sama seperti kapal yang digunakan NISM yaitu kapal uap, teknologi yang mutahir saat itu. Jika dilihat di buku changing economy vol 93 kapal yang pertama kali digunakan adalah 28,
berbeda dengan H.W. Dick4 yang mengatakan bahwa kapal yang digunakan adalah 29
kapal. Dari data yang bisa dilihat bahwa dari sepanjang tahun sampai tahun 1900 kapal yang digunakan KPM semakin meningkat, yang tadinya 28 di tahun 1891 menjadi 36 di tahun 19005.
Semakin dikembangkannya perkapalan, muncullah hal yang menjadi berbeda ketika adanya pemutahiran kapal, yaitu menggunakan mesin bermotor di tahun 1911. Di tahun tersebut KPM telah memiliki 73 kapal dan 2 diantaranya adalah kapal dengan mesin bermotor(berbahan bakar minyak). Namun, diawal bergantinya tenaga uap menjadi motor tidak memberi banyak dampak perubahan akan pelayaran KPM. Hanya sebatas bertambahnya kapal maka bertambah pula daya tampungnya.
Semakin meningkatnya kapasitas kapal KPM maka semakin menyebarnya pula rute pelayarannya, yang tidak hanya sebatas Hindia Belanda-singapura namun mencapai Australia Timur dan Cina. Meningkatnya Rute perjalanan KPM menimbulkan adanya transisi terhadap fungsi kapal terutama ketika masuknya tahun 1930an. Yang tadinya
2 Campo, J.N.E.M. “koninklijke Paketvaart Maatschappij 1914” via Jan Luiten van Zanden, Daan Marks. Ekonomi Indonesia 1800-2010: Antara Drama dan Keajaiban Pertumbuhan. Jakarta: Kompas, 2012. Hlm 187
3 Gerrit J Knaap. Changing Economy in Indonesia, Vol 9 Transportasi 1819-1940. Amsterdam: Royal Topical Institute, 1989.
4 Howard Dick. “Perkembangan antar pulau, pengintegrasian ekonomi dan timbulnya suatu perekonomian Nasional”. Dalam Anne Booth. Sejarah Ekonomi Indonesia. LP3ES. Hlm 409-411
dijadikan sebagai pengangkut barang dagangan atau militer, KPM menjadi alat transpirtasi wisata bagi pada pejabat Belanda atau asing. Dengan adanya Kapal bermotor membuat fasilitas kapal seakin nyaman.
Disamping meninkatnya KPM, disisi yang sama kondisi kapal-kapal Pribumi dan Eropa yang menggunakan layar.
Sumber: Diolah dari Gerrit J. Knaap (ed) Changing Economy in Indonesia, Vol.9, Transport 1819-1940. Amsterdam : Royal Tropical Institute .
1989 hal.39-46
perkapalan adalah misi kedua yaitu transmigrasi. Memindahkan manusia dari pulau ke pulau lainnya di Hindia Belanda.
Jika dilihat perkembangan aktivitas perahu pribumi dari tahun ketahun, itu sangat menunjukan kecenderung yang lebih fluktuatif bila dibandingkan dengan kapal-kapal uap atau bermotor, khususnya di pelabuhan-pelabuhan yang ada di Pulau Jawa. Hal itu diakibatkan karena kapal-kapal uap atau bermotor hampir mendominasi pengangkutan barang-barang dalam bentuk kargo, di mana para pedagang lebih senang dengan pertimbangan fator efisiensi waktu. Sebaliknya kapal perahu pribumi atau eropa yang menggunakan layar lebih tidak menjamin ketidakpastian waktu karena banyak tergantung pada sistem angin.
Penutup
Sebagai negara kepulauan, Hindia Belanda memang sangat diperlukan adanya sarana perkapalan yang bagus. Selain untuk melakukan perekonomian perkapalan juga menjadikan antar pulau menjadi sebuah jaringan. Sistem jaringan perdagangan antar pulau tersebut sangat penting. Jaringan perdagangan didasarkan pada keterkaitan antara pelabuhan suatu pulau dan perkapalan (KPM), sedangkan sebuah pelabuhan yang ada di pulau-pulau baik kecil maupun besar hanya bisa mengangtung harapanya pada wilayah produksi yang mau tak mau mengharapkan suatu industri yang maju.
Peningkatan jumlah kapal bisa menunjukan peningkatan ekonomi. Sebagai contoh jika satu kapal saja bisa memuat 1000 ton maka 100 kapal KPM bisa memuat 100.000 ton muatan. Berbeda dengan kapal-kapal layar milik pribumi yang hanya memuat yang lebih kecil, biasanya menjadi pembantu ketika suatu barang produksi berada di daerah atau sungai kecil dan harus menggunakan kapal kecil, sedangkan kapal KPM hanya bisa di luar laut lepas dan tidak bisa memepet pantai kecuali ada pelabuhan yang memadai. Sehingga keduanya saling keterkaitan.
Daftar Pustaka
Booth, Anne. William J. O’Malley. Anna Weidemann. Sejarah Ekonomi Indonesia. Jakarta: LP3ES, 1986.
Cribb, Robert. Audrey Kahin. Kamus Sejarah Indonesia. Jakarta: Komunitas Bambu, 2012
Knaap, Gerrit J. Changing Economy in Indonesia, Vol 9 Transportasi 1819-1940. Amsterdam: Royal Topical Institute, 1989.
LAMPIRAN
Koninklijke Paketvaart-Maatschappij (KPM) 1891-1940
Tahun Kapal bermotor Kapal uap Tahun Kapal Bermotor Kapal Uap
1891 0 28 1916 7 86
1892 0 30 1917 7 86
1893 0 31 1918 7 85
1894 0 31 1919 7 88
1895 0 32 1920 7 91
1896 0 31 1921 7 98
1897 0 34 1922 7 100
1898 0 34 1923 6 100
1899 0 33 1924 6 100
1900 0 36 1925 6 100
1901 0 38 1926 8 107
1902 0 45 1927 8 115
1903 0 46 1928 10 125
1904 0 45 1929 17 120
1905 0 46 1930 32 113
1906 0 47 1931 32 112
1907 0 52 1932 34 110
1908 0 60 1933 33 105
1909 0 66 1934 33 98
1910 0 68 1935 35 94
1911 2 71 1936 35 93
1912 2 78 1937 38 93
1913 2 85 1938 42 89
1914 4 86 1939 49 85
1915 7 88 1940 53 85