• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi IPAL Sesuai Sebagai Syarat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Identifikasi IPAL Sesuai Sebagai Syarat"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang penulisan ini,

tujuan penelitian, metodologi penelitian, serta keluaran yang di harapkan.

1.1.Latar Belakang

Industri tekstil merupakan salah satu sektor industri yang

diproritaskan di provinsi Jawa Barat dan selama ini telah mendukung

kebutuhan tekstil di Indonesia. Namun pada tahun 2015 yang lalu,

berdasarkan data Kementrian Perindustrian Republik Indonesia, Provinsi

Jawa Tengah telah menggantikan kedudukan Provinsi Jawa Barat

sebagai provinsi utama tujuan industri tekstil dengan nilai investasi 4,6

triliun Rupiah. Saat ini investasi industri tekstil Provinsi Jawa Barat

hanya bernilai 2,8 triliun Rupiah.

Menurut data statistik Jawa Barat dalam Angka 2016, industri

tekstil Provinsi Jawa Barat mengalami penurunan, dibuktikan dengan

laju pertumbuhan PDRB sektor industri tekstil yang menurun dari 15,41%

di tahun 2014 menjadi 12,63% di tahun 2015. Walaupun mengalami

kenaikan nilai PDRB sebesar 6,42% di tahun 2014 menjadi 6,57% di tahun

2015, namun kenaikan nilai PDRB ini tidak bersifat signifikan dan

cenderung menurun tiap tahunnya. Hal ini menandakan bahwa perlu

diadakan pembenahan agar sektor industri tekstil yang selama ini

berpusat di Provinsi Jawa Barat dapat berkembang kembali.

Mundurnya industri sektor tekstil ini dapat disebabkan oleh

menurunnya daya dukung lingkungan sentral industri tekstil di Bandung

Raya. Hal ini didukung langsung oleh Kementrian Perindustrian Republik

Indonesia bahwa saat ini, kualitas dan kuantitas sumber daya air yang

semakin menurun memberikan dampak negatif terhadap sektor industri.

Selain itu, kawasan Bandung Raya dinilai telah terlalu padat sehingga

(2)

2 Oleh sebab itu, sejak tahun 2012 telah terdapat rencana

pengembangan kawasan sentral industri tekstil baru yang mandiri di

Kabupaten Majalengka. Rencana ini didukung dengan adanya rencana

pengembangan kawasan Metropolitan Cirebon Raya yang berimbas

langsung terhadap pengembangan jaringan infrastruktur dan jalan di

Kabupaten Majalengka. Selain itu, sumber daya air tanah yang ada

dinilai berpotensi baik untuk mendukung industri tekstil. Saat ini, telah

terdapat 22 pabrik tekstil baru yang telah menyerap lebih dari 8000

tenaga kerja di Kabupaten Majalengka.

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik

Indonesi No. 5 Tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air Limbah, sektor

industri tekstil merupakan salah satu sektor industri yang harus memiliki

unit pengelolaan limbah. Namun selama ini terdapat banyak industri

tekstil berskala kecil-mikro, serta rumah tangga yang tidak memiliki

instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Hal ini disebabkan tingginya

biaya pembangunan dan pemeliharaan sistem instalasi tersebut. Dengan

kondisi ini, industri tekstil dan garment dinilai tidak ramah lingkungan sebab dapat mencemari sumber daya air yang ada.

Untuk mengatasi kemungkinan permasalahan lingkungan ini,

direncanakanlah pengembangan unit instalasi pengolahan air limbah

(IPAL) komunal yang terintegrasi, sehingga dapat digunakan oleh banyak

satuan industri kecil maupun rumah tangga yang ada. Rencana ini dinilai

sangat efektif sebab dalam proses pengawasannya dapat dilaksanakan

dengan mudah dan dapat menciptakan aglomerasi satuan sentra industri

tekstil baru, terdiri dari sejumlah pabrik industri kecil yang semakin

terpusat.

Rencana ini dinilai penting, sebab sebelum sektor industri tekstil

di Kabupaten Majalengka tumbuh dengan pesat, pemerintah dan

masyarakat harus peka terhadap keamanan dan kesehatan lingungan,

disertai dengan identifikasi mendalam mengenai lokasi yang sesuai

berdasarkan peraturan dan standar yang berlaku agar sentra industri di

Kabupaten Majalengka ini dapat benar-benar berlangsung secara

(3)

3 1.2.Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi

yang sesuai untuk pengembangan instalasi pengolahan air limbah (IPAL)

peruntukan industri tekstil sebagai syarat pengelolaan lingkungan

aglomerasi sejumlah satuan industri tekstil di Kabupaten Majalengka,

Provinsi Jawa Barat.

1.3.Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian yang digunakan pada penulisan ini adalah

metode analisis sistem informasi geografis dengan menggunakan

software ArcGIS. Beberapa cara analisis yang digunakan adalah sebagai

berikut:

1.3.1. Attribute Query

Attribute query merupakan fitur yang digunakan untuk menyeleksi fitur-fitur tertentu dalam layer berdasarkan atribut yang dipilih.

Attribute query dapat dilakukan dengan mengklik Select by Attribute pada pilihan menu bar Selection. Kemudian, lakukan operasi ekspresi query yang diinginkan.

GAMBAR 1.3.1. Tampilan jendela select by attribute

(4)

4 1.3.2. Merge

Fitur Merge merupakan fitur yang dapat digunakan untuk menyatukan beberapa kumpulan data sejenis menjadi satu dataset

saja. Fitur ini tidak memotong bentuk geometris dari data yang ada

sehingga kumpulan data akan tetap saling terkait, bahkan overlap antar satu sama lain. Fitur ini dapat digunakan dalam menu bar

Geoprocessing dengan memilih fitur Merge.

GAMBAR 1.3.2 Gambaran Penggunaan Fitur Merge

Sumber : http://pro.arcgis.com/ (diakses 31 Oktober 2016 pukul 1:17)

Ketentuan untuk merge yaitu :

1) Input berupa titik, kumpulan datanya harus berupa titik

pula.

2) Input berupa garis, kumpulan datanya harus berupa garis

pula.

(5)

5 1.3.3. Intersect

Fitur ini digunakan untuk menggabungkan dua data spasial. Berikut

merupakan gambaran penggunaan fitur intersect. Fitur ini dapat dilakukan dengan menglik menu bar geoprocessing > intersect.

GAMBAR 1.3.3 Gambaran Penggunaan Fitur Intersect

Sumber : http://pro.arcgis.com/ (diakses 31 Oktober 2016 pukul 1:23)

1.3.4. Buffer

Fitur ini digunakan untuk membuat suatu luasan dari input titik,

garis atau polygon dengan acuan delineasi jarak tertentu. Misalnya

digunakan dalam mencari luasan sempadan sungai atau aliran

daerah sungai. Fitur ini dapat digunakan dengan mengklik menu bar

geoprocessing > buffer.

GAMBAR 1.3.4 Gambaran Penggunaan Fitur Buffer

(6)

6 1.3.5. Erase

Fitur ini digunakan untuk membuat suatu layer baru dengan cara

menimpa input yang dapat berupa titik, garis, maupun poligon

dengan suatu erase feature tertentu menghasilkan layer output feature baru. Fitur ini dapat dilakukan dengan cara mengklik Arctoolbox > Analysis tools > Overlay > Erase.

GAMBAR 1.3.5 Gambaran Penggunaan Fitur Erase

Sumber : http://pro.arcgis.com/ (diakses 31 Oktober 2016 pukul 1:34)

1.3.6. Dissolve

Fitur ini digunakan untuk menyatukan suatu elemen tertentu yang

memiliki atribut terpilih yang sama. Fitur ini dapat dilakukan

dengan cara mengklik Geoprocessing menu bar, kemudian pilih Dissolve.

GAMBAR 1.3.6 Gambaran Penggunaan Fitur Dissolve

(7)

7 1.4.Keluaran

Keluaran dari laporan PDS ini adalah peta lokasi-lokasi yang

sesuai guna pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah peruntukan

industri tekstil di Kabupaten Majalengka. Dari peta ini diharapkan dapat

diketahui lokasi mana saja yang sesuai untuk dilakukannya

pembangunan IPAL yang aman dari segi lingkungan.

1.5.Sistematika Penulisan

Sistematika dari penulisan ini adalah sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan

Bagian pendahuluan memuat tentang latar belakang dari penulisan

laporan ini serta tujuan, metodologi, keluaran, dan sistematika

penulisan laporan.

BAB II Gambaran Wilayah

Bagian gambaran wilayah memaparkan mengenai peta administrasi dan

gambaran umum dari daerah yang di pilih.

BAB III Analisis

Bagian analisis memuat tentang elemen peta yang digunakan, langkah –

langkah pengerjaan, hasil akhir analisis berupa peta yang dibuat

menggunakan ArcGIS.

BAB IV Kesimpulan

Bagian kesimpulan memaparkan kesimpulan yang didapatkan dari

(8)

8

BAB II

GAMBARAN WILAYAH

2.1Gambaran Umum Geografi

GAMBAR 2.1.1 Peta Administratif Kabupaten Majalengka

(Sumber : Hasil Analisis Arcmap, 2016)

Kabupaten Majalengka terletak di bagian timur Provinsi Jawa Barat, membujur antara 108 12’ BT hingga 108 25’ BT dan melintang antara 6 43’ LS hingga 7 03’ LS. Luas Kabupaten Majalengka adalah 1.204,24 km2 dengan persentase hanya 2,71% dari keseluruhan luas

Provinsi Jawa Barat. Jarak dari ibukota Provinsi Jawa Barat, Kota

Bandung menuju Kabupaten Majalengka adalah sekitar 110 km,

sedangkan jarak dari ibukota nasional menuju Kabupaten Majalengka

adalah sekitar 300 km. Berikut merupakan batas-batas administrasi

(9)

9 1. Sebelah Utara, berbatasan dengan Kabupaten Indramayu.

2. Sebelah Timur, berbatasan dengan Kabupaten Cirebon dan

Kabupaten Kuningan.

3. Sebelah Selatan, berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan

Kabupaten Tasikmalaya.

4. Sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Sumedang.

Berdasarkan Kabupaten Majalengka dalam Angka 2016,

Kabupaten Majalengka terdiri atas 26 kecamatan dengan total 13

kelurahan dan 330 desa dengan rincian sebagai berikut.

TABEL 2.1.1 Luas Administratif Kecamatan di Kabupaten Majalengka

No Kecamatan Jumlah Desa Jumlah Kelurahan Luas (km2)

(10)

10

2.2 Struktur Ruang Kabupaten Majalengka

GAMBAR 2.2.1 Peta Struktur Ruang Kabupaten Majalengka

(Sumber : Hasil Analisis Arcmap, 2016)

Gambar 2.2.1 diatas menunjukkan gambaran struktur ruang

Kabupaten Majalengka yang tertuang dalam RTRW Kabupaten

Majalengka tahun 2011 hingga 2031. Kabupaten Majalengka memiliki 1

Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), 6 Pusat Kegiatan Lokal (PKL), 13 Pusat

Pelayanan Kawasan, dan 2 Pusat Pelayanan Lokal. Peta diatas

menunjukkan pula titik rencana bandara dan terminal terpadu, serta

rencana jaringan lokal diantaranya jalan tol, rel kereta api, jalan lingkar

luar, dan jalan konektor primer. Dengan dibentuknya aturan terkait

struktur ruang, kegiatan perindustrian dapat semakin berkembang

seiring dengan dikembangkannya rencana pembangunan jaringan

(11)

11

2.3 Pola Ruang Kabupaten Majalengka

GAMBAR 2.3.1 Peta Pola Ruang Kabupaten Majalengka

(Sumber : Hasil Analisis, 2016)

Gambar 2.3.1 diatas menunjukkan gambaran pola pemanfaatan

ruang Kabupaten Majalengka yang tertuang dalam RTRW Kabupaten

Majalengka tahun 2011 hingga 2031. Kabupaten Majalengka telah

menetapkan 39,19% dari luas keseluruhan guna kawasan lindung yang

berupa hutan dan kawasan lindung luar hutan. Pemanfaatan ruang untuk

industri telah ditetapkan untuk dikembangkan dalam luasan kurang lebih

1324 hektar. Untuk industri skala kecil dan mikro, telah ditetapkan akan

diselenggarakan secara terpadu di Kecamatan Kertajati.

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Kabupaten Majalengka tahun

2011 hingga 2031, diperbolehkan untuk menyelenggarakan kegiatan

industri skala rumah tangga di kawasan permukiman. Kawasan

permukiman sendiri telah ditetapkan untuk dikembangkan seluas 9.480

hektar di daerah perkotaan dan 3.975 hektar di daerah pedesaan.

(12)

12 disyaratkan untuk memiliki sistem pengolahan limbah jika tergolong

dalam industri penghasil limbah buangan (seperti industri tekstil ;

batik), sebelum dibuang kembali dalam keadaan ramah lingkungan.

2.4Gambaran Umum Industri Tekstil Kabupaten Majalengka

Berdasarkan Kementrian Perindustrian Republik Indonesia,

Kabupaten Majalengka akan dijadikan pusat perindustrian tekstil baru di

Indonesia. Dibangunnya infrastruktur berupa bandara baru merupakan

penyokong kuat dikembangkannya pusat industri tekstil ini sebab dapat

memudahkan akses ke kawasan perindustrian tersebut. Saat ini, telah

disediakan lahan peruntukkan industri terpadu seluas 3.500 hektar di

Kabupaten Majalengka yang dapat membuka peluang bagi pabrik-pabrik

industri baru terutama tekstil untuk berinvestasi di dalamnya.

Pada tahun 2013, telah ada 22 pabrik tekstil baru yang berdiri di

Kabupaten Majalengka. Seiring dengan bertambahnya jumlah pabrik

baru, pemerintah pun berencana untuk membangun pusat pelatihan bagi

pekerja industri tekstil agar semakin terampil dalam bekerja.

Diperkirakan, dengan semakin berkembangnya pusat perindustrian

tekstil ini, jumlah pekerja yang dapat diserap dapat mencapai hingga

16.000 jiwa pekerja. Hal ini tentu merupakan hal yang positif bagi

masyarakat Kabupaten Majalengka.

Namun, berdasarkan Rencana Tata Ruang Kabupaten Majalengka,

saat ini hanya terdapat 2 pabrik tekstil yang memiliki instalasi

pengolahan air limbah (IPAL). Padahal menurut peraturan pemerintah,

setiap satuan industri yang menghasilkan buangan limbah harus memiliki

sistem pengolahan limbah agar tidak berdampak negatif terhadap

lingkungan. Pengembangan pusat industri tekstil baru seiring dengan

dikembangkannya Kawasan Metropolitan Cirebon Raya harus

benar-benar memperhatikan aspek lingkungan dan sudah seharusnya

pemerintah meninjau dengan teliti setiap satuan industri yang ada agar

(13)

13

BAB III

ANALISIS

3.1Elemen Peta

Elemen peta yang digunakan dalam penentuan lokasi Instalasi

Pengolahan Air Limbah (IPAL) peruntukkan industri tekstil di Kabupaten

Majalengka adalah Peta Guna Lahan, Peta Kawasan Lindung, Peta

Jaringan Jalan, Peta Kebijakan Air Tanah, dan Peta Rawan Bencana.

3.1.1 Peta Guna Lahan

GAMBAR 3.1.1 Peta Guna Lahan Kabupaten Majalengka

(Sumber : Hasil Analisis Arcmap, 2016)

Peta Guna Lahan memuat informasi mengenai peruntukkan

kawasan-kawasan di Kabupaten Majalengka, diantaranya kawasan

peruntukan industri, perdagangan dan jasa, serta peruntukan

(14)

14 dibangun di kawasan perindustrian, sedangkan industri tekstil berskala

kecil dan mikro, serta rumah tangga dapat dibangun di kawasan

peruntukan permukiman dengan syarat telah memiliki satuan alat atau

sistem pengolahan limbah.

Peta guna lahan ini bersumber dari peta rupa bumi Indonesia

yakni shapefile pola ruang MCR yang kemudian diintersect dengan shapefile Majalengka. Setelah itu dilakukan prosedur dissolve. Terakhir, dilakukan prosedur select by attribute untuk memilih ruang peruntukan industri, perdagangan dan jasa, serta permukiman. Beri nama “GUNA_LAHAN.shp” saat meng-export menjadi data layer shp baru. Lahan tersebut merupakan lahan yang berpotensi menjadi lokasi IPAL.

3.1.2 Peta Kawasan Lindung

GAMBAR 3.1.2 Peta Kawasan Lindung Kabupaten Majalengka

(Sumber : Hasil Analisis Arcmap, 2016)

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1999 tentang

(15)

15 pengelolaan limbah harus berada diluar kawasan lindung. Kawasan

lindung yang dimaksud antara lain kawasan hutan lindung, kawasan

lindung geologi, kawasan lindung lainnya, kawasan suaka dan cagar

alam, kawasan perlindungan dibawah, dan kawasan bencana. Kawasan

lindung yang dimaksud ini merupakan kawasan yang tidak boleh

dibangun berdasarkan Rencana Tata Ruang Kabupaten Majalengka dari

tahun 2011 hingga 2031. Hal ini disebabkan adanya potensi dampak

buruk seperti pencemaran ataupun perubahan kualitas lingkungan

apabila kawasan tersebut dijadikan daerah terbangun.

Peta kawasan lindung ini bersumber dari peta rupa bumi

Indonesia yakni shapefile pola ruang MCR yang kemudian diintersect dengan shapefile Majalengka. Setelah itu dilakukan prosedur dissolve. Terakhir, dilakukan prosedur select by attribute untuk memilih kawasan lindung yang dimaksud. Simpan menjadi shp baru dengan meng-export data, dan beri nama “Kawasan_Lindung.shp”. Kawasan tersebut merupakan kawasan yang tidak diperbolehkan untuk dilakukan

pembangunan IPAL terpadu.

3.1.3 Peta Jaringan Jalan

GAMBAR 3.1.3 Peta Jaringan Jalan Kabupaten Majalengka

(16)

16 Berdasarkan Peraturan dari Badan Pengendalian Dampak

Lingkungan Nasional Nomor : Kep – 03/BAPEDAL/09/1995, ditetapkan

mengenai Pengelolaan Limbah B3, termasuk didalamnya limbah tekstil,

bahwa lokasi pengolahan limbah harus setidaknya berjarak 150 meter

dari jalan arteri dan setidaknya berjarak 50 meter dari jalan lainnya.

Persyaratan ini dimaksudkan agar pengolahan limbah tidak mengganggu

aktivitas transportasi yang merupakan aktivitas esensial bagi

masyarakat.

Peta jaringan jalan ini bersumber dari beberapa shapefile peta rupa bumi Indonessia yakni shapefile jalan RBI dan jalan infrastruktur. Namun, dilakukan digitasi untuk menambahkan rencana jalan lingkar

luar, rencana jalan arteri primer, dan rencana jalur kereta api.

Penambahan ini sesuai dengan Rencana Tata Ruang Kabupaten

Majalengka dari tahun 2011 hingga 2031. Setelah itu, dari shapefile rencana jalan 2025, dilakukan prosedur intersect dengan shapefile polygon Kabupaten Majalengka untuk menampilkan rencana jalan pada Kabupaten Majalengka saja. Kemudian dilakukan prosedur dissolve

untuk menyatukan data dengan keterangan atribut yang sama.

3.1.4 Peta Kebijakan Air Tanah

GAMBAR 3.1.4 Peta Kebijakan Air Tanah Kabupaten Majalengka

(17)

17 Menurut pasal 35 Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1999

tentang Pengelolaan Limbah B3, seluruh industri termasuk industri

tekstil harus memiliki sistem pengolahan limbah yang letaknya harus

diluar kawasan resapan air. Hal ini disebabkan limbah berfasa air dapat

menginfiltrasi tanah dan akhirnya mencemari luasan air tanah yang

seharusnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara aman dan sehat

untuk berkegiatan. Limbah industri tekstil kebanyakan berfasa cair dan

berbahaya apabila terinfiltrasi masuk kedalam tanah dan bercampur

dengan air tanah.

Peta kebijakan air tanah ini mengatur kawasan mana saja yang

boleh dimanfaatkan air tanahnya. Kawasan tersebut merupakan daerah

yang tergolong daerah aman. Namun, daerah lainnya yaitu daerah zona

rawan dan daerah resapan merupakan daerah yang harus dilindungi dan

harus jauh dari lokasi pengolahan limbah sebab daerah tersebut

merupakan daerah lindung yang kondisi air tanahnya harus benar-benar

terjaga dan tidak boleh dimanfaatkan secara bebas oleh masyarakat.

Peta ini dibuat dengan menggunakan peta rupa bumi Indonesia

yaitu shapefile Kebijakan Air Tanah yang sebelumnya telah diintersect dengan shapefile polygon Kabupaten Majalengka untuk menampilkan kebijakan air tanah hanya untuk delineasi Kabupaten Majalengka.

Setelah itu, dilakukan prosedur dissolve untuk menyatukan data yang atributnya sama sehingga data menjadi lebih sederhana. Terakhir,

dilakukan prosedur select by attribute untuk menyeleksi data yang diperlukan saja, yakni daerah bukan cekungan, daerah aman, zona

rawan, dan daerah resapan. Simpan data menjadi shapefile baru dengan cara mengexport data dan memberi nama dengan judul “Kondisi_Dissolve.shp”.

Untuk membuat peta kawasan yang tidak boleh dibangun IPAL

terpadu, lakukan prosedur select by attribute untuk menyeleksi data daerah aman, zona rawan, dan daerah resapan. Simpan data menjadi

(18)

18 3.1.5 Peta Daerah Rawan Bencana

GAMBAR 3.1.5 Peta Daerah Rawan Bencana Kabupaten Majalengka

(Sumber : Hasil Analisis Arcmap, 2016)

Persyaratan utama untuk penentuan lokasi sesuai untuk IPAL

(Instalasi Pengolahan Air Limbah) terutama untuk industri tekstil yang

berupa limbah B3, mensyaratkan bahwa lokasi harus bukan di daerah

rawan bencana. Persyaratan ini tertuang dalam Rencana Tata Ruang

Kabupaten Majalengka tahun 2011 hingga 2031 bahwa lokasi pengolahan

air limbah haruslah aman dari bencana. Didukung pula oleh Peraturan

Pemerintah No. 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah B3 yang juga

mensyaratkan bahwa lokasi pengolahan limbah B3 haruslah bebas dari

kerawanan bencana, baik banjir, gempa, longsor, maupun aktivitas

vulkanik.

Peta Daerah Rawan Bencana ini bersumber dari beberapa

(19)

19 shapefile dilakukan prosedur intersect dengan shapefile polygon Majalengka untuk menampilkan setiap jenis bencana di Kabupaten Majalengka. Kemudian, dilakukan prosedur dissolve untuk menyatukan data atribut yang sama sehingga data menjadi lebih sederhana.

Kemudian, pada setiap shapefile yang telah di-intersect dan dissolve, dilakuka prosedur select by attribute untuk memilih data polygon daerah rawan setiap jenis bencana. Terakhir, dilakukan prosedur merge untuk menyatukan setiap jenis bencana dan menjadikannya dalam satu

peta. Simpan data menjadi shapefile baru dengan cara mengexport data dan memberi nama dengan judul “Rawan Bencana Merge.shp”.

3.2 Aturan dan Pertimbangan Analisis

Berdasarkan Ayat 6 Pasal 76 Rencana Tata Ruang Wilayah

Kabupaten Majalengka tahun 2011 hingga 2031, Setiap industri yang

menghasilkan limbah beracun harus memiliki prasarana pengolahan

limbah tersendiri. Pada Pasal 90 dijelaskan bahwa diperbolehkan

menggunakan prasarana pengolahan limbah terpadu dengan lokasi

pabrik yang berdekatan. Dalam kasus ini, akan dilakukan analisis untuk

menentukan lokasi yang berpotensi sesuai untuk menjadi lokasi

pengolahan limbah terpadu, yakni berupa Instalasi Pengolahan Air

Limbah bagi industri tekstil skala kecil, mikro, dan RT agar kemudian

dapat membentuk kawasan aglomerasi terpadu.

Berikut merupakan peraturan yang dicantumkan dalam RTRW

Kabupaten Majalengka terkait pengolahan limbah cair dan menurut

Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah

B3.

1. Lokasi pengelolaan dan pengolahan tidak berada dalam

kawasan rawan bencana dan berada diluar kawasan lindung.

2. Merupakan kawasan yang ditetapkan oleh RTRW sebagai

kawasan industri dan kawasan permukiman (bagi skala RT).

3. Tidak merupakan daerah resapan air tanah. Berjarak 100

(20)

20 4. Berjarak 150 meter dari jalan tol atau jalan arteri. Dan

berjarak 50 meter dari jalan lainnya.

Berdasarkan peraturan diatas, dilakukanlah beberapa prosedur

dalam aplikasi ArcMap untuk mengidentifikasi lokasi yang sesuai guna

pembangunan instalasi pengolahan air limbah terpadu di Kabupaten

Majalengka.

3.3Diagram Alur

Berdasarkan aturan dan pertimbangan analisis diatas, akan

dilakukan identifikasi sederhana kondisi rawan bencana, kebijakan air

tanah, sempadan sungai, sempadan jalan, guna lahan, dan kawasan

lindung. Menggunakan shapefile sungai utama, akan dilakukan prosedur buffer untuk membentuk area sempadan sungai. Begitu pula dengan shapefile kumpulan jalan utama (terdiri dari tol dan jalan arteri) serta jalan sekunder (terdiri dari jalur rel kereta api, jalan

koletor primer, dan jalan lingkar luar), akan dilakukan prosedur

buffer untuk menentukan area sempadan jalan.

Setelah itu akan dilakukan prosedur merge membentuk

kawasan yang tidak boleh dibangun IPAL terpadu dengan shapefile rawan bencana, kebijakan air tanah, dan kawasan lindung. Setelah

itu, akan dilakukan prosedur erase dengan input feature batasan delienasi Majalengka dan erase feature kawasan tidak boleh dibangun yang telah dibuat sebelumnya untuk menentukan kawasan yang boleh

dibangun. Terakhir, dilakukan prosedur intersect dengan shapefile guna ruang agar IPAL terpadu yang diidentifikasi sesuai dengan pola

(21)

21

(22)

22

3.4Tahapan Pengerjaan

Tahapan pengerjaan dilakukan dengan memanfaat peta yang telah

ada sebelumnya, yakni peta guna lahan, peta kawasan lindung, peta

jaringan jalan, peta kebijakan air tanah, dan peta daerah rawan

bencana dengan rincian sebagai berikut.

1) Buka aplikasi ArcMap.

2) Memasukkan data yang dibutuhkan, antara lain elemen peta

jaringan jalan, peta rawan bencana, peta kebijakan air tanah,

peta kawasan lindung, dan peta guna lahan yang telah dibuat

sebelumnya.

3) Menentukan Coordinate System, dengan cara mengklik menu bar View kemudian Data Frame Properties. Setelah muncul jendela baru, pilih bar Coordinate System, Projected Coordinate System, dan di dalamnya pilih WGS 1984 UTM Zone 48S.

4) Membuat peta dasar Kabupaten Majalengka, dengan cara

menggunakan data Batas_Kab_Kota_5_Wilayah.shp kawasan

MCR, kemudian melakukan prosedur Select by Attribute dengan rumus : "KABKOTA" = 'KAB. MAJALENGKA'. Kemudian

meng-export agar menjadi layer baru bernama “MAJALENGKA.shp”.

5) Membuat layer sungai utama yang ada di Kabupaten

Majalengka dengan cara menggunakan metode geoprocessing intersect antara shapefile Majalengka dan shapefile Sungai Utama.shp.

6) Membuat area sempadan sungai, yakni dengan lebar 100 meter di kiri dan kanan sungai dengan menggunakan prosedur

(23)

23 GAMBAR 3.4.1 Hasil Sempadan Sungai Kabupaten Majalengka

(Sumber : Hasil Analisis ArcMap, 2016)

7) Untuk membuat area sempadan jalan dengan data peta

jaringan jalan yang telah dibuat sebelumnya, pertama-tama

dilakukan prosedur Merge untuk mengelompokkan jalan utama

dan jalan sekunder. Untuk jalan utama, data yang dimerge

adalah jalan arteri dan jalan tol, sedangkan jalan sekunder

yakni jalan kolektor, rel kereta api, rencana jalan lingkar

luar, rencana jalan kolektor primer, dan rencana rel kereta

api.

8) Melakukan prosedur buffer. Untuk jalan utama, delineasi lebar yang digunakan adalah 150 meter sepanjang kiri dan

kanan, sedangkan untuk jalan sekunder adalah 50 meter

sepanjang kiri dan kanan.

9) Untuk memudahkan proses selanjutnya, gunakan proses Merge

(24)

24 GAMBAR 3.4.2 Hasil Sempadan Jalan Kabupaten Majalengka

(Sumber : Hasil Analisis ArcMap, 2016)

10)Satukan shapefile kawasan rawan bencana, kawasan yang air

tanahnya tidak boleh dimanfaatkan, kawasan lindung,

sempadan sungai, dan sempadan jalan untuk membuat

kawasan yang tidak boleh dibangun IPAL terpadu dengan

(25)

25 GAMBAR 3.4.3 Hasil Merge Kawasan yang Tidak Boleh Dibangun IPAL

Terpadu di Kabupaten Majalengka

(Sumber : Hasil Analisis ArcMap, 2016)

11) Selanjutnya, lakukan prosedur erase untuk membuat daerah

(26)

26 GAMBAR 3.4.4 Daerah Berpotensi Lokasi IPAL Terpadu

(Sumber : Hasil Analisis ArcMap, 2016)

(27)

27 GAMBAR 3.4.5 Daerah yang Boleh Dibangun Menjadi Lokasi IPAL Terpadu

(28)

28 3.5Hasil Akhir

Hasil akhir yang diperoleh dari identifikasi karya ilmiah ini

adalah sebuah peta yang menggambarkan lokasi yang berpotensi

dijadikan lokasi Instalasi Pembuangan Air Limbah bagi industri tekstil

skala kecil dan mikro, serta rumah tangga sebagai syarat RTRW

Kabupaten Majalengka tahun 2011 hingga 2031 bahwa setiap unit

industri termasuk tekstil harus memiliki unit pengolahan limbah.

GAMBAR 3.5.1 Hasil Identifikasi Lokasi IPAL Terpadu

(29)

29

BAB IV

KESIMPULAN

Berdasarkan RTRW Kabupaten Majalengka tahun 2011 hingga

2031 terkait pengolahan limbah cair dan menurut Peraturan Pemerintah

No. 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah B3, syarat-syarat lokasi

Instalasi Pengolahan Air Limbah yang aman dari segi lingkungan dan

kesehatan adalah sebagai berikut.

1.)Lokasi pengelolaan dan pengolahan tidak berada dalam

kawasan rawan bencana dan berada diluar kawasan lindung.

2.) Merupakan kawasan yang ditetapkan oleh RTRW sebagai

kawasan industri dan kawasan permukiman (bagi skala RT).

3.)Tidak merupakan daerah resapan air tanah. Berjarak 100

meter dari sungai utama.

4.)Berjarak 150 meter dari jalan tol atau jalan arteri. Dan

berjarak 50 meter dari jalan lainnya.

Setelah melalui proses analisis dengan menggunakan aplikasi

ArcMap GIS, didapatkan beberapa luasan lokasi yang sesuai untuk

dikembangkan menjadi lokasi IPAL industri tekstil skala kecil dan mikro

serta rumah tangga yang sesuai. Lokasi ini tersebar di 8 kecamatan,

yakni Kecamatan Kertajati, Kecamatan Ligung, Kecamatan Sumberjaya,

Kecamatan Sindangwangi, Kecamatan Kadipaten, Kecamatan

Kasokandel, Kecamatan Jatitujuh, dan Kecamatan Cigasong dengan luas

secara berurutan sebesar 110,658 hektar; 91,4693 hektar; 796,899

hektar; 181,915 hektar; 49,4717 hektar; 181,493 hektar, 1,1754 hektar;

dan 16,0136 hektar.

Dengan potensi luas yang telah disebutkan diatas, diharapkan

industri tekstil skala kecil dan mikro, serta rumah tangga dapat semakin

berkembang dengan tetap mematuhi peraturan lingkungan. Solusi bagi

biaya pembuatan dan pengelolaan IPAL mandiri yang mahal dapat diatasi

dengan penggunaan IPAL terpadu ini, sehingga industri tekstil skala kecil

dan mikro, serta rumah tangga dapat beraglomerasi untuk menggunakan

(30)

30

DAFTAR PUSTAKA

1) Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat, 2016, Provinsi Jawa Barat

Dalam Angka 2016, Bandung : BPS Jawa Barat.

2) Badan Pusat Statistik Kabupaten Majalengka, 2016, Kabupaten

Majalengka Dalam Angka 2016, Majalengka : BPS Majalengka.

3) Kabupaten Majalengka, 2011, Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka

Nomor 11 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten

Majalengka Tahun 2011-2031, Majalengka : Bupati Majalengka.

4) Pemerintah RI, 1999, Peraturan Pemerintah RI Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, Jakarta :

Presiden RI.

5) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, 1995, Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun, Jakarta : Kepala Bapenal.

6)

http://endwahidin.blogspot.co.id/2013/03/letak-geografis-kabupaten-majalengka.html (diakses Minggu, 13/11/2016 pukul 10:09)

7) http://www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/kabupaten/id/32/

name/jawa-barat/detail/3210/majalengka (diakses Minggu, 13/11/2016

pukul 10:10)

8)

http://bisnis.tempo.co/read/news/2013/07/23/089499085/majalengka-akan-jadi-kawasan-industri-tekstil (diakses Minggu, 13/11/2016 pukul

11:10)

9)

http://jabar.metrotvnews.com/read/2015/02/21/361186/majalengka-berpotensi-jadi-kawasan-industri-tekstil-baru (diakses Minggu,

13/11/2016 pukul 12:14)

10)

Gambar

GAMBAR 1.3.1. Tampilan jendela select by attribute
GAMBAR 1.3.2 Gambaran Penggunaan Fitur Merge
GAMBAR 1.3.3 Gambaran Penggunaan Fitur Intersect
GAMBAR 1.3.5 Gambaran Penggunaan Fitur Erase
+7

Referensi

Dokumen terkait

Ho : Pelatihan ,motivasi dan kompensasi tidak mempunyai pengaruh yang positif terhadap kinerja karyawan. Ha : Pelatihan ,motivasi dan kompensasi mempunyai pengaruh yang

Berdasarkan penilaian terhadap hasil belajar siswa pada tabel 1 dengan jumlah siswa 21 orang, terlihat pada aspek menentukan unsur-unsur kalimat terdapat 10 orang siswa atau

Berdasarkan % penurunan kadar kolesterol HDL tersebut, maka ditarik kesimpulan bahwa komposisi diet tinggi lemak yang diberikan sudah mampu menurunkan kadar

Aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang

Komunikasi KDQ\D EHUODQJVXQJ VDWX DUDK ³ guru mengajar dan siswa belajar ´ , dalam pola belajar ini intruksi belajar dari guru masih kurang, karena guru cenderung

Berdasarkan angka laju pertumbuhan rata-rata pajak daerah dan retribusi daerah terhadap laju pertumbuhan rata-rata PAD pada Kabupaten Aceh Utara yang sangat tidak

Berdasarkan hal tersebut, kami Organisasi Masyarakat Sipil yang terdiri dari: JATAM, HuMa, ICEL, WALHI, PILNET dan ELSAM secara tegas menolak penambangan dan pembangunan pabrik

Analisis regresi adalah studi mengenai hubungan antara variabel terikat (variabel dependent, Respon, Y) pada satu atau lebih variabel bebas (variabel independent, pediktor,