HAK atas KEKAYAAN
HAK atas KEKAYAAN
INTELEKTUAL
INTELEKTUAL
(HaKI)
(HaKI)
YUSNEDI, SH, M.Hum YUSNEDI, SH, M.Hum
Pengertian
Pengertian
Hak atas kekayaan yang timbul atau
Hak atas kekayaan yang timbul atau
lahir karena kemampuan intelektual
lahir karena kemampuan intelektual
Mengapa kemampuan intelektual
Mengapa kemampuan intelektual
manusia ?
manusia ?
Karya-karya di bidang ilmu pengetahuan, seni, Karya-karya di bidang ilmu pengetahuan, seni,
sastera, ataupun teknologi memang dilahirkan sastera, ataupun teknologi memang dilahirkan
oleh manusia melalui kemampuan oleh manusia melalui kemampuan
intelektualnya, melalui daya intelektualnya, melalui daya
rasa, cipta maupun karsa, dengan pengorbanan rasa, cipta maupun karsa, dengan pengorbanan
HaKI dan Sistem Hukum Indonesia
HaKI dan Sistem Hukum Indonesia
Hak Kebendaan
Hak Kebendaan Buku II BW Buku II BW
Menurut Pasal 499 BW : Menurut Pasal 499 BW :
Benda adalah tiap-tiap barang dan tiap-tiap hak Benda adalah tiap-tiap barang dan tiap-tiap hak
Bidang-bidang HaKI
Bidang-bidang HaKI
1.
1.
Hak Cipta Hak Cipta (copyrights)(copyrights)2.
2.
Hak atas Kekayaan Industri Hak atas Kekayaan Industri (industrial (industrial property)Hak atas Kekayaan Industri
Hak atas Kekayaan Industri
(industrial property)
(industrial property)
1.
1. Paten Paten (Patent)(Patent)
2.
2. Merek Merek (Trade Mark)(Trade Mark)
3.
3. Rahasia Dagang Rahasia Dagang (Trade Secret)(Trade Secret)
4.
4. Desain Industri Desain Industri (Industrial Design)(Industrial Design)
5.
5. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
Obyek Pengaturan HaKI
Obyek Pengaturan HaKI
1.
1. Hak Cipta Hak Cipta Ilmu pengetahuan, seni dan sastera; Ilmu pengetahuan, seni dan sastera;
2.
2. Paten Paten Penemuan di bidang TEKNOLOGI; Penemuan di bidang TEKNOLOGI;
3.
3. Merek Merek Karya-karya berupa tanda (tulisan huruf atau kata, Karya-karya berupa tanda (tulisan huruf atau kata, atau gambar, atau warna, atau kombinasi di antaranya) untuk
atau gambar, atau warna, atau kombinasi di antaranya) untuk
membedakan dengan produk (barang atau jasa) yang sejenis;
membedakan dengan produk (barang atau jasa) yang sejenis;
4.
4. Rahasia Dagang Rahasia Dagang Informasi yang tidak diketahui oleh Informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang Teknologi dan/atau bisnis;
umum di bidang Teknologi dan/atau bisnis;
5.
5. Desain Industri Desain Industri Karya-karya berupa produk yang dapat Karya-karya berupa produk yang dapat berulang kali digunakan untuk memproduksi barang;
berulang kali digunakan untuk memproduksi barang;
6.
6. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu Produk dalam bentuk Produk dalam bentuk jadi atau setengah jadi serta dibentuk secara terpadu di dalam
jadi atau setengah jadi serta dibentuk secara terpadu di dalam
sebuah semi konduktor untuk menghasilkan fungsi elektronik
Sumber Hukum HaKI di Indonesia
Sumber Hukum HaKI di Indonesia
1.
1. Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
Cipta
2.
2. Undang-undang No. 14 Tahun 2001 tentang PatenUndang-undang No. 14 Tahun 2001 tentang Paten
3.
3. Undang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang MerekUndang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek
4.
4. Undang-undang No. 30 Tahun 2000 tentang Undang-undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang
Rahasia Dagang
5.
5. Undang-undang No. 31 Tahun 2000 Desain IndustriUndang-undang No. 31 Tahun 2000 Desain Industri
6.
6. Undang-undang No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Undang-undang No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
Pengaturan HaKI di tingkat Internasional Pengaturan HaKI di tingkat Internasional
Konvensi di bidang Hak Cipta Konvensi di bidang Hak Cipta
1.
1. Konvensi Bern 1886 Konvensi Bern 1886 (International Convention for the (International Convention for the Protection of Literary and Artistic Work)
Protection of Literary and Artistic Work) Konvensi Induk Konvensi Induk 2.
2. Konvensi Roma 1961 Konvensi Roma 1961 (International Convention Protection for (International Convention Protection for Performers, Producers of Phonograms and Broadcasting
Performers, Producers of Phonograms and Broadcasting
Organizations)
Organizations)
3.
3. Konvensi Roma 1961 Konvensi Roma 1961 (Convention for the Protection of (Convention for the Protection of Phonograms Against Unauthorized Duplication of Their
Phonograms Against Unauthorized Duplication of Their
Phonograms)
Phonograms)
4.
4. Konvensi Multilateral bagi Konvensi Multilateral bagi Penghindaran Pajak Berganda atas Penghindaran Pajak Berganda atas Royalti Hak Cipta
Royalti Hak Cipta tahun 1979 tahun 1979 5.
5. Traktat Jenewa mengenai Traktat Jenewa mengenai “International Recording of Scientific “International Recording of Scientific Discoveries”
Konvensi di Bidang Hak atas
Konvensi di Bidang Hak atas
Kekayaan Industri
Kekayaan Industri
Konvensi Induk (Konvensi Paris 1883) Konvensi Induk (Konvensi Paris 1883)
The Paris Convention for the
The Paris Convention for the
Protection of
Protection of
Konvensi di bidang Hak Paten
Konvensi di bidang Hak Paten
1.
1. European Convention Relating to the Formalities Required European Convention Relating to the Formalities Required to Patent Application (1953);
to Patent Application (1953);
2.
2. European Convention for International Classification of European Convention for International Classification of Patent (1954);
Patent (1954);
3.
3. Strasbourg Agreement Concerning the International Patent Strasbourg Agreement Concerning the International Patent Classification;
Classification;
4.
4. Perjanjian Kerjasama Paten di Washington 1970 Perjanjian Kerjasama Paten di Washington 1970 (Patent (Patent Cooperation Treaty)
Cooperation Treaty);;
5.
5. European Patent Convention (EPC) tahun 1973;European Patent Convention (EPC) tahun 1973;
6.
Konvensi di bidang Merek
Konvensi di bidang Merek
1.
1. Perjanjian Madrid 1891 Perjanjian Madrid 1891 (Madrid Agreement (Madrid Agreement
Concerning the Repression of False Indications of Concerning the Repression of False Indications of
Origin) Origin);;
2.
2. Madrid Agreement Concerning the International Madrid Agreement Concerning the International
Registration of Trademarks; Registration of Trademarks;
3.
3. The Hague Agreement Concerning the International The Hague Agreement Concerning the International
Deposit of Industrial Design 1925; Deposit of Industrial Design 1925;
4.
4. Lisbon Agreement for the Protection of Appelations Lisbon Agreement for the Protection of Appelations
of Origin and their International Registration 1958; of Origin and their International Registration 1958;
5.
5. Nice Agreement Concerning the International Nice Agreement Concerning the International
Classification of Good and Services for the Purpose Classification of Good and Services for the Purpose
Sejarah Hak Cipta
Sejarah Hak Cipta
Peraturan perundang2-an yang pernah berlaku : Peraturan perundang2-an yang pernah berlaku :
1.
1.
Auteurswet (Hak Pengarang) Auteurswet (Hak Pengarang) Stb. 1912 Stb. 1912 No. 600;No. 600;
2.
2.
Undang-undang No. 6 Tahun 1982;Undang-undang No. 6 Tahun 1982;3.
3.
Undang-undang No. 7 Tahun 1987;Undang-undang No. 7 Tahun 1987;4.
Pengertian-pengertian
Pengertian-pengertian
1.
1. Hak CiptaHak Cipta Periksa Pasal 1 angka 1 Periksa Pasal 1 angka 1
Undang-undang No. 19 Tahun 2002; Undang-undang No. 19 Tahun 2002;
2.
2. PenciptaPencipta Periksa Pasal 1 angka 2 Periksa Pasal 1 angka 2
Undang-undang No. 19 Tahun 2002; Undang-undang No. 19 Tahun 2002;
3.
3. CiptaanCiptaan Periksa Pasal 1 angka 3 Undang- Periksa Pasal 1 angka 3
Undang-undang No. 19 Tahun 2002; undang No. 19 Tahun 2002;
4.
4. Pemegang Hak CiptaPemegang Hak Cipta Periksa Pasal 1 Periksa Pasal 1
Ruang Lingkup Hak Cipta
Ruang Lingkup Hak Cipta
Ide dasar sistem Hak Cipta adalah untuk Ide dasar sistem Hak Cipta adalah untuk
melindungi wujud hasil karya yang lahir melindungi wujud hasil karya yang lahir karena kemampuan intelektual manusia yang karena kemampuan intelektual manusia yang
merupakan endapan perasaannya
merupakan endapan perasaannya
Ciri-ciri Hak Cipta
Ciri-ciri Hak Cipta
Hak Cipta bersifat ABSOLUT/MUTLAK, Hak Cipta bersifat ABSOLUT/MUTLAK, dilindungi haknya selama Pencipta hidup dilindungi haknya selama Pencipta hidup
bahkan sampai beberapa tahun bahkan sampai beberapa tahun setelah Pencipta meninggal dunia setelah Pencipta meninggal dunia
Moral Rights dan Economics Rights
Moral Rights dan Economics Rights
Termasuk pelanggaran Hak Moral, antara lain :
Termasuk pelanggaran Hak Moral, antara lain :
1.
1.
Meniadakan atau tidak menyebutkan nama pencipta Meniadakan atau tidak menyebutkan nama pencipta lagu ketika lagu dipublikasikan;lagu ketika lagu dipublikasikan;
2.
2.
Mencantumkan namanya sebagai pencipta lagu Mencantumkan namanya sebagai pencipta lagu padahal dia bukan pencipta lagu tersebut;padahal dia bukan pencipta lagu tersebut;
3.
3.
Mengganti atau merubah judul lagu, dan/atauMengganti atau merubah judul lagu, dan/atau4.
4.
Mengubah isi lagu (satu atau lebih dari unsur lagu Mengubah isi lagu (satu atau lebih dari unsur lagu yang terdiri dari melodi, lirik, aransemen danyang terdiri dari melodi, lirik, aransemen dan
notasi).
Termasuk Pelanggaran Hak Ekonomi
Termasuk Pelanggaran Hak Ekonomi
Pencipta lagu, antara lain :
Pencipta lagu, antara lain :
1.
1. Perbuatan tanpa izin Perbuatan tanpa izin mengumumkanmengumumkan Ciptaan Ciptaan
lagu : lagu :
a. menyanyikan dan mempertunjukkan lagu a. menyanyikan dan mempertunjukkan lagu di depan umum;
di depan umum;
b. memperdengarkan lagu kepada umum;b. memperdengarkan lagu kepada umum;
c. menyiarkan lagu kepada umum;c. menyiarkan lagu kepada umum;
d. mengedarkan lagu kepada umum;d. mengedarkan lagu kepada umum;
2. Perbuatan tanpa izin
2. Perbuatan tanpa izin memperbanyakmemperbanyak Ciptaan Ciptaan lagu :
lagu :
a. merekam lagu (dengan maksud diproduksi);a. merekam lagu (dengan maksud diproduksi);
b. menggandakan atau memproduksi lagu b. menggandakan atau memproduksi lagu secara mekanik atau secara tertulis/cetak; secara mekanik atau secara tertulis/cetak;
c. mengadaptasi atau mengalihwujudkan lagu;c. mengadaptasi atau mengalihwujudkan lagu;
d. mengaransemen lagu, dand. mengaransemen lagu, dan
Sejarah Paten
Sejarah Paten
Peraturan perundang-undangan Peraturan perundang-undangan
yang pernah berlaku : yang pernah berlaku :
1.
1. Octrooiwet 1910 Octrooiwet 1910 Stb. 1910 No. 33, mulai berlaku 1 juli Stb. 1910 No. 33, mulai berlaku 1 juli
1912; 1912;
2.
2. Pengumuman Menteri Kehakiman RI tanggal 12 Agustus Pengumuman Menteri Kehakiman RI tanggal 12 Agustus
1953 No. J.S. 5/41/4 B.N. 55, upaya yang bersifat 1953 No. J.S. 5/41/4 B.N. 55, upaya yang bersifat sementara;
sementara;
3.
3. Pengumuman Menteri Kehakiman RI tanggal 29 Desember Pengumuman Menteri Kehakiman RI tanggal 29 Desember
1953 No. J.G. 1/2/17.B.N.53-91, untuk menampung 1953 No. J.G. 1/2/17.B.N.53-91, untuk menampung permintaan Paten dari luar negeri;
permintaan Paten dari luar negeri;
4.
4. Undang-undang No. 6 Tahun 1989;Undang-undang No. 6 Tahun 1989;
5.
Prinsip-prinsip dalam
Prinsip-prinsip dalam
Undang-undang Paten
undang Paten
1.
1.
Paten diberikan Negara atas dasar Permintaan;Paten diberikan Negara atas dasar Permintaan;2.
2.
Paten diberikan untuk satu penemuan;Paten diberikan untuk satu penemuan;3.
3.
Penemuan Penemuan harusharus Baru, Mengandung Langkah Baru, Mengandung Langkah Inventif, Dapat Diterapkan dalam Industri;Inventif, Dapat Diterapkan dalam Industri;
4.
4.
Lingkup penemuan yang dapat diberi Paten;Lingkup penemuan yang dapat diberi Paten;5.
5.
Jangka waktu Paten;Jangka waktu Paten;6.
6.
Keseimbangan Hak dan Kewajiban.Keseimbangan Hak dan Kewajiban.7.
7.
Keseimbangan antara Hak dan Kepentingan Keseimbangan antara Hak dan Kepentingan Negara;Prosedur Pendaftaran Paten
Prosedur Pendaftaran Paten
1.
1. Surat permintaan untuk mendapatkan paten;Surat permintaan untuk mendapatkan paten;
2.
2. Deskripsi tentang penemuan,yaitu penjelasan tertulis Deskripsi tentang penemuan,yaitu penjelasan tertulis mengenai cara melaksanakan suatu penemuan
mengenai cara melaksanakan suatu penemuan
sehingga dapat dimengerti oleh seseorang yang ahli di
sehingga dapat dimengerti oleh seseorang yang ahli di
bidang penemuan tersebut;
bidang penemuan tersebut;
3.
3. Satu atau lebih klaim yang terkandung dalam Satu atau lebih klaim yang terkandung dalam
penemuan. Klaim adalah uraian tertulis mengenai inti
penemuan. Klaim adalah uraian tertulis mengenai inti
penemuan atau bagian tertentu dari suatu penemuan
penemuan atau bagian tertentu dari suatu penemuan
yang dimintakan perlindungan hukum dalam bentuk
yang dimintakan perlindungan hukum dalam bentuk
paten;
paten;
4.
4. Satu atau lebih gambar yang disebut deskripsi yang Satu atau lebih gambar yang disebut deskripsi yang diperlukan untuk memperjelas;
diperlukan untuk memperjelas;
5.
5. Abstraksi tentang penemuan, yaitu uraian singkat Abstraksi tentang penemuan, yaitu uraian singkat
mengenai suatu penemuan yang merupakan ringkasan
Konsultan Paten
Konsultan Paten
Dalam hal permintaan Paten dari luar
Dalam hal permintaan Paten dari luar
negeri, penggunaan Konsultan Paten
negeri, penggunaan Konsultan Paten
sifatnya wajib, sedangkan permintaan
sifatnya wajib, sedangkan permintaan
Paten dari dalam negeri penggunaan
Paten dari dalam negeri penggunaan
Konsultan Paten bersifat
Konsultan Paten bersifat “fakultatif”“fakultatif”. .
Undang-undang Paten hanya menentukan
Undang-undang Paten hanya menentukan
bahwa permintaan Paten
bahwa permintaan Paten “dapat”“dapat”
diajukan melalui Konsultan Paten
Pengalihan Paten
Pengalihan Paten
Dasar Hukum
Dasar Hukum Pasal 66 Pasal 66
Undang-undang Paten
Undang-undang Paten
Pengalihan tersebut baik untuk seluruhnya
Pengalihan tersebut baik untuk seluruhnya
atau sebagian dapat berlangsung karena
atau sebagian dapat berlangsung karena
pewarisan, hibah, wasiat, perjanjian,
pewarisan, hibah, wasiat, perjanjian,
ataupun karena sebab-sebab lain yang
ataupun karena sebab-sebab lain yang
dibenarkan oleh Undang-undang
Sejarah Merek
Sejarah Merek
Peraturan perundang-undangan
Peraturan perundang-undangan
yang pernah berlaku :
yang pernah berlaku :
1.
1.
Undang-undang Nomor 21 Tahun 1961Undang-undang Nomor 21 Tahun 19612.
2.
Undang-undang Nomor 19 Tahun 1992Undang-undang Nomor 19 Tahun 19923.
Syarat-syarat Merek
Syarat-syarat Merek
Dasar Hukum
Dasar Hukum Pasal 5 Pasal 5 Undang-undang Merek
Undang-undang Merek
Merek tidak dapat didaftar apabila :
Merek tidak dapat didaftar apabila :
1.
1. Bertentangan dengan peraturan perundang-undangan Bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, moralitas agama, kesusilaan atau
yang berlaku, moralitas agama, kesusilaan atau
ketertiban umum;
ketertiban umum;
2.
2. Tidak memiliki daya pembeda;Tidak memiliki daya pembeda;
3.
3. Telah menjadi milik umum;Telah menjadi milik umum;
4.
4. Merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang Merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya.
Penolakan Pendaftaran Merek
Penolakan Pendaftaran Merek
1.
1.
Mempunyai persamaan pada pokoknya atau Mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan Merek milik pihak lainkeseluruhannya dengan Merek milik pihak lain
yang
yang sudah terdaftarsudah terdaftar lebih dahulu untuk lebih dahulu untuk barang dan/atau jasa yang sejenis;
barang dan/atau jasa yang sejenis;
2.
2.
Mempunyai persamaan pada pokoknya atau Mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan Merek yangkeseluruhannya dengan Merek yang sudah sudah terkenal
terkenal milik pihak lain untuk barang milik pihak lain untuk barang
dan/atau jasa sejenis;
dan/atau jasa sejenis;
3.
3.
Mempunyai persamaan pada pokoknya atau Mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan indikasi-geografiskeseluruhannya dengan indikasi-geografis
yang sudah terkenal.
Jenis Merek
Jenis Merek
Dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :
Dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :
1.
1.
Merek Dagang;
Merek Dagang;
2.
Jangka waktu perlindungan Merek
Jangka waktu perlindungan Merek
Menurut ketentuan Pasal 28
Menurut ketentuan Pasal 28
Undang-undang Merek
Undang-undang Merek
10 (sepuluh)
10 (sepuluh)
Penyelesaian Sengketa
Penyelesaian Sengketa
Pemilik Merek terdaftar dapat mengajukan
Pemilik Merek terdaftar dapat mengajukan
gugatan ke Pengadilan Niaga, berupa :
gugatan ke Pengadilan Niaga, berupa :
1.
1. Ganti rugi dan/atauGanti rugi dan/atau
2.
2. Penghentian semua perbuatan yang Penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan Merek
berkaitan dengan penggunaan Merek
tersebut
RAHASIA DAGANG
RAHASIA DAGANG
Menurut ketentuan Pasal 1 angka 1
Menurut ketentuan Pasal 1 angka 1
Undang-undang Nomor 30 Tahun 2000
undang Nomor 30 Tahun 2000
“
“Rahasia dagang adalah informasi yang tidak Rahasia dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang teknologi
diketahui oleh umum di bidang teknologi
dan/atau bisnis, mempunyai nilai ekonomis
dan/atau bisnis, mempunyai nilai ekonomis
karena berguna dalam kegiatan usaha
karena berguna dalam kegiatan usaha
dan dijaga kerahasiaannya oleh
dan dijaga kerahasiaannya oleh
pemilik rahasa dagang”
Ruang Lingkup Rahasia Dagang
Ruang Lingkup Rahasia Dagang
1.
1. Metode produksi;Metode produksi;
2.
2. Metode pengolahan;Metode pengolahan;
3.
3. Metode penjualan;Metode penjualan;
4.
4. Informasi lain di bidang teknologi Informasi lain di bidang teknologi dan/atau bisnis yang memiliki nilai
dan/atau bisnis yang memiliki nilai
ekonomis dan tidak diketahui oleh
ekonomis dan tidak diketahui oleh
masyarakat umum.
Hak & Kewajiban
Hak & Kewajiban
Pemilik Rahasia Dagang
Pemilik Rahasia Dagang
Menurut ketentuan Pasal 4 Undang-undang Nomor 30
Menurut ketentuan Pasal 4 Undang-undang Nomor 30
Tahun 2000, Kewenangan atau Hak yang dimiliki oleh
Tahun 2000, Kewenangan atau Hak yang dimiliki oleh
pemilik Rahasia Dagang terhadap rahasia dagangnya
pemilik Rahasia Dagang terhadap rahasia dagangnya
untuk :
untuk :
1.
1. Menggunakan sendiri rahasia dagang yang dimilikinya;Menggunakan sendiri rahasia dagang yang dimilikinya; 2.
2. Memberikan lisensi kepada atau melarang pihak lain Memberikan lisensi kepada atau melarang pihak lain untuk menggunakan rahasia dagang untuk
untuk menggunakan rahasia dagang untuk
mengungkapkan rahasia dagang itu kepada pihak
mengungkapkan rahasia dagang itu kepada pihak
ketiga untuk kepentingan yang bersifat komersial.
Pengalihan Hak & Lisensi
Pengalihan Hak & Lisensi
Rahasia Dagang
Rahasia Dagang
Rahasia Dagang dapat beralih karena :
Rahasia Dagang dapat beralih karena :
a.
a. pewarisan;pewarisan;
b.
b. hibah;hibah;
c.
c. Wasiat;Wasiat;
d.
d. Perjanjian tertulis;Perjanjian tertulis;
e.
e. Sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh Sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh
undang-undang.
INDONESIA MENJADI ANGGOTA
INDONESIA MENJADI ANGGOTA
WTO
WTO
HARUS MELAKSANAKAN KEWAJIBAN HARUS MELAKSANAKAN KEWAJIBAN
MENGAPLIKASIKAN KETENTUAN
MENGAPLIKASIKAN KETENTUAN
WTO DALAM PERATURAN
WTO DALAM PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN
PERUNDANG-UNDANGAN
NASIONALNYA
INDONESIA MENJADI ANGGOTA
INDONESIA MENJADI ANGGOTA
WTO
WTO
• BERKAITAN DENGAN TRIPs
• (AGREEMENT ON TRADE RELATED
ASPECTS of INTELLECTUAL
PROPERTY RIGHTS) SALAH
INTELLECTUAL PROPERTY RIGHTS :
INTELLECTUAL PROPERTY RIGHTS :
A. Hak cipta & Hak Terkait dgn Hak A. Hak cipta & Hak Terkait dgn Hak
Cipta (
Cipta (COPYRIGHTS and RELATED COPYRIGHTS and RELATED
RIGHTs to COPYRIGHTS
RIGHTs to COPYRIGHTS))
Terhadap ciptaan baik ilmu Terhadap ciptaan baik ilmu
pengetahuan, seni, sastra (termasuk
pengetahuan, seni, sastra (termasuk
program computer (pasal 12)