BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada saat ini pariwisata merupakan salah satu industri yang banyak dikembangkan di berbagai negara sebagai salah satu sumber pendapatan negara/daerah, sekaligus untuk penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kualitas hidup masyarakat setempat. Di berbagai daerah, tujuan wisata dibangun dengan berbagai macam pendekatan dengan tujuan agar dapat menjadi obyek wisata yang mampu menarik para wisatawan domestik dan mancanegara sebanyak mungkin. Maka tidaklah salah bahwa sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang dapat meraup devisa yang cukup banyak.
Obyek wisata Danau Sipin merupakan salah satu potensi wisata yang dimiliki Kota Jambi. Kawasan Danau Sipin terdapat di Kecamatan Telanaipura tepatnya di Kelurahan Legok. Kawasan Danau Sipin memiliki panjang sekitar 4.500 meter dan lebar rata-rata sekitar 300 meter lebih dengan kedalaman danau 2-6 meter.Danau Sipin mempunyai lokasi yang strategis di tengah Kota Jambi, prasarana pendukung (jalan) yang memadai, mempunyai ketersediaan lahan memadai untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata alam dan buatan serta memiliki keunikan melayu Jambi di sekitar kawasan Danau Sipin (Jambi Seberang Kota). Selain itu potensi yang dimiliki Danau Sipin berupa panorama alam yang indah alami dengan kondisi air cukup tenang dan bentuk danau yang panjang dan melingkari Pulau Sipin. Alam di sepanjang danau ini masih terlihat alami yang ditumbuhi semak belukar dengan pohon-pohon yang rimbun.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah dalam penelitian ini adalah pengembangan objek wisata Danau Sipin.
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah :
1. Untuk meningkatkan objek wisata di Kota Jambi, agar menambah pendapatan asli daerah dari segi parawisata.
2. Untuk meminimalisir pengangguran yang ada di kota Jambi.
3. Untuk meningkatkan ketertarikan dari segi pariwisata sebagai salah satu upaya untuk menghadapi MEA.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori dan Konsep Mengenai Pariwisata
Pariwisata secara etimologis berasal dari bahasa sansakerta “PAR” berarti banyak, berkali-kali, berputar-putar, lengkap. Sedangkan “WISATA” berarti perjalanan, bepergian yang dalam hal ini sinonim dengan kata “TRAVEL” dalam bahasa inggris (Oka A. Yoeti, 1991). Pariwisata adalah keseluruhan daripada gejala-gejala yang ditimbulkan oleh perjalanan dan pendiaman orang-orang asing serta menyediakan tempat tinggal sementara, asalkan pendiaman itu tidak menetap dan tidak memperoleh penghasilan dari aktivitas yang bersifat sementara itu (Hunzieker dan Krapt dalam Oka A. Yoeti).
Faktor pembentuk daya tarik wisata (Holloway, 1983) adalah :
1. Atraksi (attraction), baik yang sifatnya alamiah maupun buatan manusia, meliputi : alam, budaya dan unsur sejarah lainnya;
2. Fasilitas (facilities) meliputi kemudahan akomodasi dan kemudahan rekreasi/hiburan;
3. Aksesibilitas, berupa prasarana transportasi.
Suatu kawasan wisata yang baik dan berhasil bila secara optimal didasarkan kepada empat aspek yaitu:
Mempertahankan kelestarian lingkungannya.
Meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut. Menjamin kepuasan pengunjung.
Meningkatkan keterpaduan dan unity pembangunan masyarakat disekitar kawasan dan zone pengembangannya.
2.2 Pengertian Danau
Danau secara harfiah adalah kumpulan air yang besar yang dikelilingi darat (Poerwardamita). Secara geologi, danau merupakan komponen geologi yang mengalami proses perusakan dari waktu ke waktu. Apabila air yang mengalir ke dalam danau berisi endapan-endapan lumpur , maka cawan danau akan terisi penuh. Ini yang disebut dengan proses pendangkalan. Di samping itu danau juga dapat rusak akibat proses erosi.
2.3 Lingkungan Sekitar Danau
Lingkungan sekitar danau, dapat dikelompokan atas sistem-sistem lingkungan yaitu :
b. Produksi (daerah pertanian) dan lingkungan perlindungan (daerah konservasi).
Keadaan demikian memberikan arti bahwa setiap aktivitas harus direncanakan dalam hubungannya dengan unsur-unsur ekosistem karena aktivitas tersebut saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Oleh karena itu pengaturan tata guna tanah dan tata guna air perlu diarahkan agar tidak merusak pemanfaatan air di tempat lain.
2.4 Jenis - Jenis Pariwista
Walaupun banyak jenis wisata ditentukan menurut motif tujuan perjalanan, dapat pula dibedakan adanya beberapa jenis pariwisata khusus sebagai berikut :
a. Pariwisata untuk Menikmati Perjalanan (Pleasure Tourism)
Bentuk pariwisata ini dilakukan oleh orang-orang yang meninggalkan tempat tinggalnya untuk berlibur, untuk mencari udara segar yang baru, untuk memenuhi keingintahuannya, untuk mengendorkan ketegangan syarafnya, untuk melihat sesuatu yang baru, untuk menikmati keindahan alam, untuk mengetahui hikayat rakyat setempat, untuk mendapatkan ketenangan dan kedamaian di daerah luar kota, atau bahkan sebaliknya untuk menikmati hiburan di kota-kota besar ataupun untuk ikut serta dalam keramaian pusat-pusat wisatawan. Sementara orang mengadakan perjalanan semata-mata untuk menikmati tempat-tempat atau alam lingkungan yang jelas berbeda antara satu dengan yang lainnya.
b. Pariwisata untuk Rekreasi (Recreation Tourism)
Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang-orang yang menghendaki pemanfaatan hari-hari liburnya untuk beristirahat, untuk memulihkan kembali kesegaran jasmani dan rohaninya, yang ingin menyegarkan keletihan dan kelelahannya. Biasanya, mereka tinggal selama mungkin di tempat-tempat yang dianggap benar-benar menjamin tujuan-tujuan rekreasi tersebut (misalnya, di tepipantai, di pegunungan, di pusat-pusat peristirahatan atau pusat-pusat kesehatan) dengan tujuan menemukan kenikmatan yang diperlukan.
Jenis ini ditandai oleh adanya rangkaian motivasi, seperti keinginan untuk belajar di pusat-pusat pengajaran dan riset, untuk mempelajari adat istiadat, kelembagaan, dan cara hidup rakyat negara lain, untuk mengunjungi monumen bersejarah, peninggalan peradaban masa lalu dan sebaliknya penemuan-penemuan besar masa kini, pusat-pusat kesenian, pusat-pusat keagamaan, atau juga ikut serta dalam festival-festival seni musik, teater, tarian rakyat dan lain-lain.
d. Pariwisata untuk Olah Raga (Sport Tourism) Jenis ini dapat dibagi dalan dua kategori :
Big Sports Events, yaitu peristiwa-peristiwa olahraga besar seperti olimpiade, kejuaraan ski dunia, kejuaraan tinju dunia, dan lain-lain yang menarik perhatian tidak hanya pada olahragawannya sendiri, tetapi juga ribuan penonton atau penggemarnya.
Sporting Tourism of the Practitioners, yaitu pariwisata olahraga bagi mereka yang ingin berlatih dan mempraktekkan sendiri, seperti pendakian gunung, berkuda, berburu, memancing, dan lain-lain. Negara yang memiliki banyak fasilitas atau tempat-tempat olahraga seperti ini tentu dapat menarik sejumlah besar penggemar wisata seperti ini.
e. Pariwisata untuk Urusan Usaha Dagang (Business Tourism)
Jenis pariwisata ini telah memberi banyak persoalan. Banyak ahli teori, ahli sosiologi maupun ekonomi beranggapan bahwa perjalanan untuk keperluan usaha tidak dapat dianggap sebagai perjalanan wisata karena unsur voluntaryatau sukarela tidak terlibat. Menurut para ahli teori, perjalanan usaha ini dapat berbentuk profesional travelatau perjalanan karena ada kaitannya dengan pekerjaan atau jabatan yang tidak memberikan kepada pelakunya baik pilihan daerah tujuan maupun waktu perjalanan.
f. Pariwisata untuk Berkonvensi (Convention Tourism)
internasional. Konvensi dan pertemuan bentuk ini sering dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan peserta yang biasanya tinggal beberapa hari di kota atau negara penyelenggara.
2.5 Bentuk Pariwisata
a) Pariwisata Individu dan Kolektif
Pariwisata individu meliputi seseorang atau kelompok orang (teman-teman atau keluarga) yang melakukan perjalanan wisata dengan melakukan sendiri pilihan daerah tujuan wisata maupun pembuatan programnya, sehingga bebas pula melakukan perubahan-perubahan setiap waktu dikehendaki. Seseorang maupun kelompok orang tersebut melakukan sendiri semua persiapan dalam rangka mendapatkan perlengkapan serta jasa-jasa yang diperlukan.
b) Pariwisata Jangka Panjang, Pariwisata Jangka Pendek, dan
Pariwisata Ekskursi Pembagian menurut lamanya perjalanan dibedakan atas pariwisata jangka panjang dimaksudkan sebagai suatu perjalanan yang berlangsung beberapa minggu atau beberapa bulan bagi wisatawan sendiri. Ini mempunyai arti penting bagi tempat-tempat yang dikunjungi, lebih-lebih bila terjadi pada jenis recreation atau cultural tourism.
c) Pariwisata dengan Alat Angkutan
Ada berbagai bentuk pariwisata dengan alat angkutan yang dipakai, misalnya kereta api, kapal laut, kapal terbang, bus dan kendaraan umum lainnya. Wisatawan yang berjalan kaki atau pedestrian tourism (hikers) sampai sekarang masih banyak penggemarnya. Bentuk ini patut diperhatikan terutama untuk kebijaksanaan investasi.
d) Pariwisata Aktif dan Pasif
2.6 Komponen Pariwisata
Kegiatan pariwisata pada dasarnya mencakup dua utama yaitu penawaran (supply) dan permintaan (demand). Komponen sediaan (supply) merupakan produk wisata yang dapat ditawarkan, meliputi obyek wisata, sarana pariwisata, jasa pariwisata, serta prasarana dan sarana lingkungan. Sementara komponen permintaan (demand) mencakup keinginan serta aspirasi wisatawan dan masyarakat di sekitar kawasan pariwisata.
1. Penawaran (Supply) Pariwisata
Penawaran pariwisata mencakup segala sesuatu yang ditawarkan kepada wisatawan baik wisatawan yang aktual maupun wisatawan yang potensial. Penawaran dalam pariwisata menunjukkan atrakti wisata alamiah dan buatan, jasa-jasa maupun barang-barang yang diperkirakan akan menarik perhatian orang-orang untuk mengunjungi suatu obyek wisata tertentu dalam suatu negara (Salah Wahab, 1975).
2. Sarana Pariwisata
Sarana pariwisata yang memiliki hubungan cukup penting dengan studi ini meliputi :
Tempat makan; pertimbangan yang perlu dilakukan dalam penyediaan fasilitas makanan dan minuman antara lain adalah jenis dan variasi makanan yang ditawarkan, tingkat kualitas makanan dan minuman, pelayanan yang diberikan, tingkat harga, tingkat higenis, hal-hal lain yang dapat menambah selera makan seseorang, serta lokasi tempat makan, biasanya dikaitkan dengan lokasi akomodasi dan rute perjalanan wisata (Inskeep 1991 dalam Indriasari 2002).
Tempat parkir; tempat parkir dapat berupa parkir terbuka atau parkir tertutup, dan berdasarkan letaknya, tempat parkir dapat berupa parkir pinggir jalan dan parkir di luar jalan. Parkir di luar jalan dapat dibuat bertingkat pada gedung parkir khusus, atau tidak bertingkat (sebidang) pada lahan yang merupakan bagian dari lahan bangunan fasilitas tertentu.
berbelanja. Karenanya fasilitas terhadap aktivitas belanja perlu dipertimbangkan dalam perencanaan dan pengembangan pariwisata, bukan hanya sebagai pelayan.
Sarana pergerakan; keterhubungan antara suatu lokasi dengan lokasi lain merupakan komponen penting dalam sistem kepariwisataan (Gunn 1988 dalam Indriasari, 2002). Karenanya untuk menciptakan saling keterhubungan antar berbagai tempat dalam satu kawasan wisata dan untuk memberi kemudahan dalam pergerakan dari satu tempat ke tempat yang lain, perlu adanya prasarana dan sarana pergerakan tersebut harus disesuaikan dengan keberdaannya di suatu lokasi wisata.
Fasilitas umum; selain sarana yang telah disebutkan di atas, juga diperlukan fasilitas umum sebagai sarana pelengkap (Indriasari, 2002). Dalam studi ini fasilitas umum yang dikaji meliputi fasilitas-fasilitas umum yang biasa tersedia di tempat-tempat rekreasi di Indonesia, yaitu : WC umum dan tempat ibadah.
2.7 Jasa Pariwisata
Jasa pariwisata, sebagaimana jasa lainnya memiliki sifat khas, yaitu tidak biasa ditimbun dan akan dikonsumsi pada saat jasa tersebut dihasilkan (Yoeti, 1996). Dari sifat ini dapat pula dikatakan bahwa jasa pariwisata adalah pelayanan wisata yang diberikan kepada wisatawan. Analisis terhadap pelayanan wisata merupakan hal penting karena pengeluaran yang dihabiskan oleh wisatawan untuk membayar pelayanan memberikan input utama dalam analisis ekonomi kepariwisataan (Gunn, 1988 dalam Indriasari, 2002). Jasa pariwisata meliputi jasa perencanaan, jasa pelayanan dan jasa penyelenggaraan pariwisata (UU No. 9 Tahun 1990). Komponen pelayanan jasa wisata yang dikaji dalam studi ini meliputi :
Memberikan nilai promosi yang menggambarkan daya tarik obyek wisata.
2. Pemandu wisata; untuk bentuk-bentuk tertentu dalam sistem kepariwisataan mungkin memerlukan jenis-jenis fasilitas dan pelayanan wisata khusus (Indriasari, 2004).
2.8 Konsep Teoritis Pariwisata
2.8.1 Konsep Pariwisata Berkelanjutan
Menurut Butler (1996) : pariwisata bekelanjutan adalah pariwisata yang dikembangkan dan dipelihara dengan cara dan skala tertentu pada suatu area dan dapat bertahan dalam jangka waktu yang tak tentu serta tidak menimbulkan degradasi terhadap lingkungan baik itu lingkungan fisik maupun non fisik dimana jika pengembangannya harus dihentikan. Dalam konsep pariwisata berkelanjutan ada beberapa tujuan yang ingin dicapai jika konsep tersebut diaplikasikan di lapangan. Menurut Burger-Arndt (2000) tujuan utama dari pariwisata berkelanjutan adalah :
a. Kesesuaian terhadap lingkungan dengan cara mengendalikan dampak terhadap sumberdaya alam, membatasi perubahan penggunaan lahan (dalam Konteks pembangunan fasilitas dan infrastruktur), meminimalkan perubahan terhadap pemandangan alam, memelihara budaya tradisional.
b. Pertanggung jawaban sosial dapat berupa keputusan masyarakat lokal untuk mengurus diri sendiri, memelihara evolusi sosial dan identitas budaya, meningkatkan kualitas hidup, membatasi kerugian sosial dan psikologi.
c. Memberikan kepuasan dan rekreasi yang optimum kepada pengunjung dengan cara menawarkan aktivitas dan informasi tentang landscape alami dan sosial, menawarkan kontak sosial dengan masyarakat lokal, mencegah eksploitasi melalui perbaikan kualitas pelayanan yang rendah, menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan alami.
tujuan yang ingin dicapai, terkandung pula beberapa prinsip yang perlu diperhatikan jika akan merencanakan suatu kawasan wisata diantaranya :
1. Menggunakan sumber daya dengan memperhatikan asas keberlanjutan.
2. Mereduksi over konsumsi serta sampah. 3. Memelihara keragaman wisata yang ada.
4. Mengintegrasi perencanaan pariwisata ke dalam rencana masyarakat umum untuk menghindari konflik kepentingan. 8. Pelatihan bagi staf lokal.
9. Pemasaran pariwisata.
10. Adanya penelitian untuk memonitor pelaksanaan pembangunan.
2.8.2 Konsep Wisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism) Prinsip dasar kepariwisataan berbasis masyarakat adalah menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama melalui pemberdayaan masyarakat dalam berbagai kegiatan kepariwisatan. Jika masyarakat dilibatkan, pasti timbul hubungan yang sinergi antara masyarakat dan pariwisata sehingga kemanfaatan kepariwisataan sebesar-besarnya diperuntukkan bagi masyarakat. Pemberdayaan masyarakat sebagai unsur penting yaitu sebagai stakeholder utama dalam pengembangan, disamping pemerintah dan swasta. Karena keberhasilan jangka panjang industri pariwisata sangat tergantung pada tingkat penerimaan dan dukungan dari masyarakat atau komunitas lokal
.
2.8.3 Konsep Pengembangan Ekowisata
pengembangan ekowisata berkembang seiring dengan adanya tuntutan-tuntutan sebagai berikut:
a) Semakin baiknya pemahaman dan penghargaan para wisatawan (wisatawan muda) terhadap perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam;
b) Menurunnya kualitas lingkungan di beberapa tempat baik diperkotaan maupun di pedesaan, sehingga keberadaan lingkungan alam yang asli dan asri menjadi sesuatu hal yang dicari;
c) Telah berkembangnya cabang-cabang olahraga dan kegiatan out door yang mempergunakan faktor alam sebagai dasar kegiatan tersebut; d) Adanya issue global berkaitan dengan aspek pelestarian alam
terutama di kawasan-kawasan tropis.
2.8.4 Konsep Agrowisata
Agrowisata adalah cara baru dalam memberikan pelayanan wisata alam dengan produk yang dijual adalah lingkungan pedesaan yang dipadu dengan aktivitas pertanian, perkebunan, perternakan dan perikanan.
Oleh karena konsep utamanya adalah mengedepankan sisi-sisi alamiah, maka dalam prakteknya konsep agrowisata sering dipadukan dengan wisata petualangan (baik individu maupun kelompok). Secara sederhana konsep wisatawan/pengunjung dapat turut aktif langsung dalam proses produksi setempat. Sebagian prasyarat dalam pengembangan konsep agrowisata, atau lokasi wisata haruslah memiliki persyaratan sebagai berikut :
a. Lokasi, bertipe pedesaan atau kawasan homogen produktif seperti kawasan kebun teh, kebun apel, sayur mayur, bunga, perikanan dan lain sebagainya.
b. Memungkinkan terjadi interaksi yang menonjol antara lokasi obyek dengan wisatawan, seperti tidak adanya kendaraan untuk mencapai satu titik dengan titik lainnya.
2.8.5 Konsep Wisata Inti
Wisata inti adalah jenis wisata tunggal dimana atraksi wisata yang diperlihatkan/dijual berupa satu atraksi saja dan biasanya bertipe wisata alam. Beberapa contoh wisata inti adalah air terjun, kolam renang, kebun binatang, dimana hanya materi wisata utamanya saja yang dikedepankan dan dipromosikan. Komponen dan elemen lainnya hanya sebagai pelengkap kegiatan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Latar Belakang Pemilihan Daerah
Untuk merencanakan pengembangan objek wisata danau sipin dibutuhkan pengetahuan tentang kondisi riil dilapangan. Data mengenai kondisi ril daerah perencanaan diperoleh dari studi literatur. Pada bagian ini akan dibahas secara umum kondisi daerah perancangan.
3.1.1 Aspek Fisik
Kelurahan Legok adalah salah satu Kelurahan dari kecamatan Telanaipura Kota Jambi. Kelurahan tersebut memiliki luas wilayah 89,29 Ha atau 3,4 Km² (Sumber: kecamatan Telanaipura dalam angka, 2013).
Letak geografis merupakan salah satu kelurahan dari Kecamatan Telanaipura yang ada di kota jambi.berbatasan dengan wilayah :
Sebelah utara : berbatasan dengan Suangai Batanghari. Sebelah selatan : berbatasan dengan Kecamatan Kota Baru. Sebelah timur : berbatasan dengan Kecamatan Pasar Jambi. Sebelah barat : berbatasan dengan Kecamatan Jambi Luar Kota.
Adapun jumlah penduduk di Kelurahan Legok (Danau Sipin) mengalami peningkatan tiap tahunnya. Pada tahun 2016 sebanyak 12.295 jiwa dengan laju pertambahan penduduk sebesar 1,4% - 1,8% tiap tahunnya (kelurahan Legok 2006).
3.1.3 Aspek Lingkungan
Jika ditinjau dari keadaan penyaluran air buangan yang telah ada, dan serta bila dikaitkan dengan laju pertambahan penduduk, maka sangatlah perlu melakukan perencanaan pengembangan objek wisata danau sipin. Berdasarkan hasil analisis mengenai dampak negatip yang ditimbulkan oleh air buangan terhadap kesehatan masyarakat serta lingkungan, maka perlu sekali perencanaan bangunan pengolahan air buangan yang baik.
3.2 Waktu dan Lokasi Perencanaan 3.2.1 Waktu
Waktu perencanaan ditetapkan untuk pemakaian sampai 25 tahun kemudian dengan Pengambilan data Primer dan sekunder seperti peta administrasi kecamatan dan kelurahan.
3.2.2 Peta Lokasi Perencanaan
Gambar 3.1. Lokasi wisata Danau Sipin (Sumber, BPS 2016).
BAB IV PEMBAHASAN
4.1Analisa Potensi Objek Wisata
Adapun objek wisata ysng ada di Danau Sipin, berpotensi untuk dikembangkan sesuai dengan objek wisata yang ada di Danau Sipin, bahwa objek wisata yang mungkin di kembangkan adalah meliputi : wisata khusus dan akomudasi, serta wisata rekreasi umum kota (wisata alam, wisata alam, dan wisata air ). Dari kondisi eksistingnya tetap terpelihara dari pengaruh-pengaruh yang dapat merusak nilainya. Sedangkan objek wisata air dan olahraga air lebih tepat bila di kembangkan pada daerah Danua Sipin serta Sungai Batanghari.
4.2Bentang Alam Danau Sipin
Tepian pantainya berbentuk melengkung dengan topografi yang diatur pada sepanjang permukaan Pulau Sipin. Pada kawasan seberang danau tepiannya diselingi oleh kawasan berbukit. Dengan bentuk danau yang melengkung memberikan kesan adanya permukian yang tersendiri pada kawasan Danau Sipin. Kelompok pemukiman masyarakat di Pulau Sipin mempunyai suatu potensi untuk dikembangkan / ditata secara baik. Hal ini mengingat apabila kawasan ini di kembangkan sebagai objek wisata perlu adanya kemufakatan bersama masyarakat perihal terjadinya relokasi permukiman mereka.
Komponen hayati yang beraneka ragam pada dasarnya merupakan modal bagi terselenggara kegiatan atau perkembangan suatu masyarakat dan akan menjadi sumber daya bagi manusia apabila manfaat dan daya gunanya benar-benar di pahami.
Ada beberapa hal penting / mendasar yang patut di garis bawahi sehubungan dengan pendayagunaan keanekaragaman hayati di suatu kawasan yaitu :
Keberadaan dan keterkaitannya dengan kondisi lingkungan. Kelayakan ekonomi.
Ketersedian teknologi.
Pengamatan terhadap kawasan ini diantaranya adalah berupaya untuk mengisi status keanekaragaman hayati di kawasan sekitar Danau Sipin penjabaran tujuannya sebagai berikut:
1. Mengungkapkan berbagai bentuk ekosistem yang berkaitan dengan keberadaan masyarakat jambi kota seberang:
2. Menjabarkan sumber daya hayati yang potensial untuk dikembangkan.
4.4Program Fasilitas Wisata Danau Sipin
Kawasan Danau Sipin akan dikembangkan menjadi 3 bentuk pengembangan , yaitu :
Kelompok kegiatan pengembangan rekreasi wisata (Pusat Akomodasi dan Pusat Rekreasi Terbatas)
Kelompok kegiatan pengembangan rekreasi wisata (Pusat Rekreasi Umum Kota)
Kelompok kegiatan rekreasi pelengkap kawasan wisata. Wisata malam hari ( Angsa Night)
Berdasarkan ketiga pengelompokan pengembangan kegiatan wisata yang telah disebutkan diatas , maka dapat disusun programfasilitas wisata kawasan Danau Sipin. Site Plan kawasan wisata danau sipin dapat di lihat pada gambar 4.1.
4.4.1 Program Fasilitas Untuk Kelompok Kegiatan Pengembangan Rekreasi Wisata (Pusat Rekreasi Umum Kota).
a. Gerbang Utama
Merupakan bangunan dengan ruang terbuka yang dilengkapi pintu gerbang utama menunju seluruh kegiatan di Pulau Pandan/Sipin (Danau Sipin).
Merupakan suatu taman yang sifatnya meningkatkan dunia fantasi anak-anak dan meningkatkan kecintaan anak-anak-anak-anak untuk mencintai alam lingkungannya. Fasilitas yang diadakan disini meliputi: Taman bermain anak-anak.
c. Fasilitas Penunjang
Selain restoran, maka akan disediakan fasilitas pelengkap di darat yang alokasi banguananya lebih tersebar. Adapun fasilitas yang akan diarahkan
Suatu sarana angkutan khusus dengan bak samping terbuka, sehingga para pengunjung dapat melihat/menikmatai pemandangan disekitar kawasan wisata.
4.4.2 Program Fasilitas Kawasan Danau Sipin Untuk Kelompok Kegiatan Pengembangan Rekreasi Wisata (Pusat Akomodasi dan Pusat Rekreasi Terbatas).
a. Teater Terbuka
Berfungsi untuk mengadakan acara pertunjukan seperti tarian tradisional, pertunjukan musik atau acara lain yang bersifatnya sebagai wadah untuk menembangkan budaya seni.
b. Gedung Kesenian
Tempat ini merupakan gedung untuk pertunjukan kesenian yang sifatnya tertutup.
c. Gedung Serba Guna
Merupakan fasilitas ruang untuk kegiatan pertemuan baik formal maupun non formal sebagai penunjang dan fasilitas yang ada di kawasan wisata.
d. Pondok-pondok Penginapan
Merupakan fasilitas penginapan untuk wisatawan yang berkunjung ke Danau Sipin yang berupa banguan terpisah dan berdiri sendiri dan berfungsi untuk menikmati pemandangan alam maupun berekreasi dengan pertimbangan bahwa perkiraan “lenght of stay” pengunjung lebih dari satu hari.
Merupakan fasilitas rekreasi air yang mengguakan sejenis motor ski air yang ditawarkan di objek wisata Danau Sipin. Aktivitas ini memerlukan keterampilan yang penuh dengan tantangan yang bersifat rekreatif. Kegiatan rekreasi air ini harus ditunjang oleh sarana dan pelengkapan khusus yang di tampung di dalam area dermaga jetski, karena aktivitas ini memerlukan persyaratan khusus yang sangat berbeda dengan rekreasi air lainnya.
f. Ruang Pertemuan (GSC).
Merupakan fasilitas ruang untuk kegiatan pertemuan baik formal maupun informal sebagai penunjang dan fasilitas bangunan penginapan (cottages).
4.4.3 Program Fasilitas Untuk Kelompak Kegiatan Pelengkap Kawasan Wisata
a. Restoran
Restroan-retoran disini khususnya melayani kegiatan pengembangan wisata. Sifat dan restoran disini lebih eksklusif dibanding dengan restoran lain yang akan direncanakan di Danau Sipin.
b. Restoran Terapung
Merupakan bangunan restoran yang terletak di atas Danau Sipin, merupakan prasarana penyediaan makanan dan minimum sambil menikmati pemandangan alam. Retoran ini bersifat umum dan terbuka yang memungkinkan seluruh lapisan masyarakat pengunjung untuk datang dan menikmatinya.
c. Pasar Ikan
Merupakan penjualan ikan segar, dapat dibeli dan dimasak langsung di tempat sesuai dengan selera pembeli dimana pasar ini bersifat tradisional. d. Kolam Pemancingan
Tempat ini disesuaikan bagi yang hobi mancing, pemilihan lokasi pemancingan berada di sebelah utara Danau Sipin, daerah yang tenang sehingga suasana yang tanag dan alami dapat dirasakan pemancing di lokasi ini.
e. Bangunan Administrasi
Merupakan pusat pengendalian teknis administrasi kegiatan wisata sehari-hari dilengkapi dengan:
Merupakan bangunan pusat pelayanan kawasan wisata Danau Sipin yang
Dengan klasifikasi dapat dilalui kendaraan bermotor pengangkut barang-barang pengunjung maupun pelayanan pondok-pondok penginapan. Sarana jalan bagi pengunjung berupa mobil atau kendaraan penumpang, terbuka bagi yang menginginkan namun lebih diprioritaskan bagi pejalan kaki.
i. Rekreasi Aktif
Merupakan kegiatan olah raga air yang sifatnya kolektif dan memasyarakat dengan fasilitas olah raga antara lain yaitu berperahu sampan, berperahu motor, sepeda air dan lain-lain.
j. Rekreasi Pasif (Taman / Penghijauan dan jalan setapak)
Merupakan fasilitas berupa taman dan pendestrian yang diolah sedemikian rupa sehingga menimbulkan suasana tenang dan wisatawan dapat menikmati pemandangan alam yang ada di kawasan wisat ini.
k. Pusat Penerangan/Informasi
Merupakan suatu sarana dimana wisatawan dapat dengan mudah mengetahui wisata yang hendak dituju.
l. Ruang Istirahat Pengunjung
Suatu sarana ruang terbuka atau pun tertutup untuk beristirahat bagi wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Danau Sipin.
m. Toko Souvenir dan Kenang-Kenangan
Merupakan tempat penjualan cinderamata untuk para wisatawan.
4.4.4 Wisata Malam (Angsa Night)
Gambar 4.2. Angsa Night
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Danau sipin mempunyai satu pontensi wisata yang dimilki oleh kota jambi, namun saat ini kawasan Danau Sipin belum di manfaatkan secara maksimal. Perencanaan pengembangan objek wisata Danau Sipin diarahkan pada konsep wisata berkelanjutan dan konsep wisata berbasis masyarakat (community based tousim).
5.2 Saran
Dampak negatif dari pendaya gunaan potensi wisata yang tekandung dalam kawasan Danau Sipin maka diperlukan campur tangan pemerintah baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Selain itu juga diharapkan masyarakat setempat diikutsertakan dalam peroses pengelolaan objek wisata tersebut sesuai dengan arahan konsep yaitu wisata berbasis masyarakat.
Oka a. Yoeti, 1991. Pengaruh Profesionalisme Pariwisata Dalam Memandu Wisatawan Di Obyek Wisata Candi Prambanan. Jogjakarta
Holloway, 1963 United Nations Conference on Intarnational Travel and Tourism.
Indriasari, 2002. Peranan Lokawisata Baturaden Di Kab. Dati II Banyumas Prop. Jateng. Jawa Tengah
Miandy, Febrian. 2013 “Rencana Pengembangan Dan Pengelolaan Lanskap Kawasan Objek Wisata Danau Kerinci”. Kerinci
Dinas Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, 1997. Penyusunan Rencana Tapak Kawasan Wisata Danau Kerinci Propinsi Jambi, Laporan Ringkas, Tidak dipublikasikan. Jambi.
Mulyani, T.H. 2006. Arsitektur Ekologis. Yogyakarta: Kanisius