Peran dan Politisasi Lembaga Adat di Kabupaten Sigi (Studi kasus Lembaga Adat di Kulawi)
Oleh Ferry Rangi I. Pendahuluan
Istilah adat dalam Bahasa Indonesia memiliki arti kebiasaan atau tradisi , serta mengandung konotasi tata tertib yang tertram serta konsensus. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, istilah ini serta-merta menjadi memiliki arti yang diasosiasikan dengan aktivisme, protes, dan konflik disertai kekerasan. Sejak turunnya Presiden Soeharto pada tahun 1998 atas nama adat di beberapa daerah di Indonesia secara terang-terangan, lantang, dan kadang-kadang dengan kekerasan, menuntut haknya melaksanakan unsur-unsur adat atau hukum adatnya dalam wilayah kampung halaman mereka. Juga mengatasnamakan adat, para aktivis di daerah ataupun Jakarta menjalin kekuatan bersama untuk membentuk Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), sebuah organisasi masyarakat adat tingkat nasional yang pertama di Indonesiasebagai upaya mempengaruhi kebijakan. kalau negara tidak mengakui kami, kamipun tidak akan mengakui negara merupakan semboyan provokatif AMAN yang didengungkan dalam kongres Masyarakat Adat Nusantara pertama pada tahun 1999 (Li,2010:367).
Adat tidak akan dapat berfungsi tanpa adanya orang-orang sebagai pendukung legitimasi serta penganutnya, oleh sebab itu, dibutuhkan lembaga adat. Lembaga adat hadir di tengah masyarakat selaku hakim bagi pelanggar adat. Adat disini dipahami sebagai aturan-aturan yang dianut oleh suatu kelompok secara turun temurun, tidak tertulis, dan mengandalkan daya ingat sang pemangku adat. Sayangnya saat ini, setelah terbentuknya negara, sejarah migrasi dan masuknya agama, adat yang digunakan saat ini tentunya tidak semurni saat dahulu, telah terjadi penyesuaian dan perubahan mengikuti jaman.
justru dimanfaatkan oleh segelintir orang melalui legitimasi Lembaga Adat, terutama di wilayah Kecamatan Kulawi. Memahami kondisi tersebut, melahirkan pertanyaan seperti apa adat bagi masyarakat Kulawi?, dan sejauh mana peran elit pemangku adat dalam pengambilan keputusan pada setiap libu (musyawarah) dalam hidup ber adat bagi masyarakat kulawi?, serta bagaimana PEMILUKADA menciptakan posisi Lembaga dalam pusaran pragmatisme politik praktis?
II. Pembahasan
Ada dua hal penting yang menjadi faktor perubahan terhadap struktur dan tatanan adat pada masyarakat Kulawi. Pertama, masuknya agama melalui misionaris kewilayah Sulawesi Tengah, terutama oleh gereja Bala Keselamatan (The Salvation Army)pada tanggal 15 Septembar 1913 (Brouwer,1977: 4). Kedua terbentuknya negara Indonesia serta sistem pemerintahan negara yang mempengaruhi sistem pemerintahan wilayah kulawi. Masuknya agama di Kulawi telah merubah hampir seluruh ritual agama suku yang dianut oleh masyarakat Kulawi sebelumnya. Pengaruh Sistem Negara Indonesia telah mampu merubah sistem pemerintahan dan berimbas pada struktur masyarakat. Wilayah Kulawi mulai terpetakan oleh kecamatan, desa, RT dan RW. Hal ini mengakibatkan wilayah kekuasaan Kulawi semakin menyempit. Sistem politik demokrasi yang dianut oleh negara, juga berdampak terhadap sistem politik lokal yang dahulunyamemiliki karakter tersendiri dan bersifat lokal menjadi lebih demokratis yang bersifat seragam di seluruh pelosok wilayah Indonesia, terutama saat PEMILUKADA berlangsung. Demokrasi yang digembor-gemborkan menjadi jalan keluar dari sistem otoritarian gaya Orde Baru, justru tanpa diprediksi sebelumnya, melahirkan elit-elit baru yang bersifat lokalan .
sekalipun masih mengunakan bahasa Kolonial, yaitu Belanda. Saya bergantung pada pengalaman saya, pada beberapa kesempatan saat saya ke Kulawi dan menyempatkan diri untuk melakukan wawancara terhadap beberapa Pemangku Adat serta pengamatan langsung selama proses PEMILUKADA di Kabupaten Sigi, dan saat itu saya berada di Kecamatan Kulawi yang merupakan bagian dari Kabupaten Sigi hal ini saya maksudkan untuk menunjukan politisasi pemangku adat sebagai elit lokal.
A. Lobosebagai manisfestasi Peran Lembaga adat masyarakat Kulawi
untuk memperluas wilayah ekspansinya pada ke empat wilayah sub etnik uma,ompadan tado(http://infosulawesitengah.wordpress.com/2010/08/kulawi).
Sumber Peta: Perkumpulan KARSA Sulawesi Tengah
Saya menyempatkan diri berdiskusi dengan majelis adat tersebut, sebut saja namanya Tama Dei1(nama disamarkan). Tama Dei banyak menceritakan perihal bagaimana
sejarah dan kejayaan Lembaga Adat Kulawi. Dan data-data tulisan saya pada artikel ini banyak berasal dari informasi Tama Dei dan Pendeta Mohyanto yang telah mengalami perubahan dan penyesuaian kata tanpa merubah maknanya. Berbicara lembaga adat Kulawi, tidak lepas dari peran Lobo yang merupakan bangunan dengan beberapa fungsi,
1Saat saya bertemu dengan beliau, menjabat sebagai Majelis Adat Kecamatan Kulawi
untuk memperluas wilayah ekspansinya pada ke empat wilayah sub etnik uma,ompadan tado(http://infosulawesitengah.wordpress.com/2010/08/kulawi).
Sumber Peta: Perkumpulan KARSA Sulawesi Tengah
Saya menyempatkan diri berdiskusi dengan majelis adat tersebut, sebut saja namanya Tama Dei1(nama disamarkan). Tama Dei banyak menceritakan perihal bagaimana
sejarah dan kejayaan Lembaga Adat Kulawi. Dan data-data tulisan saya pada artikel ini banyak berasal dari informasi Tama Dei dan Pendeta Mohyanto yang telah mengalami perubahan dan penyesuaian kata tanpa merubah maknanya. Berbicara lembaga adat Kulawi, tidak lepas dari peran Lobo yang merupakan bangunan dengan beberapa fungsi,
1Saat saya bertemu dengan beliau, menjabat sebagai Majelis Adat Kecamatan Kulawi
untuk memperluas wilayah ekspansinya pada ke empat wilayah sub etnik uma,ompadan tado(http://infosulawesitengah.wordpress.com/2010/08/kulawi).
Sumber Peta: Perkumpulan KARSA Sulawesi Tengah
Saya menyempatkan diri berdiskusi dengan majelis adat tersebut, sebut saja namanya Tama Dei1(nama disamarkan). Tama Dei banyak menceritakan perihal bagaimana
sejarah dan kejayaan Lembaga Adat Kulawi. Dan data-data tulisan saya pada artikel ini banyak berasal dari informasi Tama Dei dan Pendeta Mohyanto yang telah mengalami perubahan dan penyesuaian kata tanpa merubah maknanya. Berbicara lembaga adat Kulawi, tidak lepas dari peran Lobo yang merupakan bangunan dengan beberapa fungsi,
yaitu; (1)Tempat peradilan Adat, (2) Tempat melakukan ritual adat dan, (3) Tempat Tempat penginapan (digunakan bagi tamu yang sedang melakukan perjalanan dan membutuhkan tempat istirahat di wilayah Kulawi serta tidak memiliki sanak saudara jadi mereka dapat tidur di tempat tersebut sebelum melanjutkan perjalanan), (4) tempat musyawarah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dingata2. Kecamatan Kulawi mayoritas dihuni
oleh sub etnis moma dan sebagian lagi Uma serta beberapa suku-suku pendatang baik dari Bugis, Toraja, Pamona, Batak dan Jawa. Dalam penelitian saya di Kecamatan Kulawi mengenai Lobo dan Lembaga Adat, dengan mengambil desa Mataue dan Sungku. Saya membatasi penjelasan fungsi lobo, (1) dan (2), dengan pertimbanagn telah cukup menjelaskan apa yang saya maksudkan dalam penulisan ini.
1. Tempat Melakukan Peradilan Adat
Lobo di sini sebagai sarana dalam melakukanlibu3. Bagi orang Kulawi mengenal 3
jenis tingkatanLibu, yaitu:
1). Libu Bohe: Pertemuan yang bertujuan memilih raja dan diikuti oleh seluruh elemen masyarakat, yang terdiri dari ;Maradika (keluarga kerajaan), Totua ngata(kaum bangsawan serta tokoh-tokoh adat) danTodea(Rakyat jelata).
2). Libu ngkokotio : pertemuan yang bersifat pribadi dan tertutup yang hanya dihadiri oleh kelurga yang dianggap bersalah bersama dengan tokoh-tokoh adat. Pertemuan ini dilakukan secara tertutup dengan maksud agar menjaga
2Dapat diartikan Desa.
harga diri pelaku dan keluarganya serta berusaha mencari solusi terbaik sebelum di bawa kelibu todea.Libuini tidak dilakukan di lobo melainkan di rumah yang dianggap bersalah.
3). Libu todea: yaitu pertemuan yang dilakukan diLobosetelahLibu ngkokotio. Dengan maksud melakukan peradilan adat yang disksikan oleh ;Maradika (Magau/Rajadan kerabatnya),Totuangata(Tokoh adat),Todea(Masyarakat jelata) sertaBatua(Pembatu atau budak).
Setiap libuyang dilakukan, selalu dipimpin oleh Pampou Poromu,4 dan keputusan
diambil oleh pampou poromu setelah mendengar pertimbangan dari totua ngata5 dan
maradika.Setiap libu, kaum todea dan batua tidak diberikan hak untuk mengemukakan pendapat dan mereka tidak boleh masuk dalamLobosaatlibusedang berlangsung, mereka hanya boleh menyaksikan dari luarlobo.6
Apabila dalam libu, tidak terdapat penyelesaian masalah dan tampaknya akan terjadi kekacauan, maka seorang wanita ( yang disebut Ova/Tina Ngata7=
pendingin/pengambil keputusan)dan ditokohkan oleh masyarakat, wajib mengambil keputusan akhir dan semua peserta libu wajib menghargai dan menerima keputusan tersebut. Wanita sebagai pengambil keputusan akhir karena orang meyakini bahwa wanita
4Orang tua yang dianggap paling berpengaruh diantaratotua ngata.
5Sama dengan pemangku adat. Terdiri dari beberapa orang yang ditokohkan, semuanya berjenis
kelamin laki-laki.
sebagai Tua Tambi/tina ngatayang artinya penyimpan semua kekayaan atau sebagai ahli waris.
Dalamlibuorang Kulawi, memiliki filosofis keputusan yang diistilahkan Bohe-bohe, kodi-kodi yang artinya, besar-besar, kecil-kecil maksudnya, setiap perkara yang diselesaikan ke lobo dan diselesaikan oleh lembaga adat , masalah yang sanksinya kecil dapat menerima sangksi yang berat atau sebaliknya. Hal ini tergantung dari pengakuan orang yang diadili, apabila ia mengakui kesalahan maka sanksi yang di jatuhkan akan diperingan demikian pula sebaliknya, apabila orang tersebut tidak mengakui kesalahannya maka sanksi yang dijatuhkan sangat berat walaupun pelanggaran yang dilakukan ringan. Sanksi adat dalam masyarakat Kulawi dikenal dalam bahasa lokal yaituwaya(denda).
2. Tempat Melakukan Ritual Adat
Dalam hal ini, lobo difungsikan sebagai tempat untuk melakukan upacara adat seperti Vunca, yaitu upacara ritual pendirian Lobo.Lobo memiliki simbol tanduk kerbau di depan dan terletak di bumbungan atas, yang maksudya persatuan yang kuat, hal ini di ilhami dari pola perilaku kerbau yang hidup bergerombol dan selalu bersama-sama dihubungkan dengan orang kulawi yang memiliki persatuan yang kuat. Semangat persatuan ini dimaknai berlakunya sistem gotong-royong (mosiala pale) dalam sistem pengolahan tanah dan hasil pertanian hal ini menjadi bentuk penerapan filososfis dalam kepemimpinan orang kulawi
yang hidup berdasarkan tiga falsafah hidup, yaitu;
Bahkan, saat konflik sara melanda wilayah Sulawesi Tengah, terutama yang terjadi di Kabupaten Poso sedang bergejolak, pada tahun 2000 silam, masyarakat Kulawi dikhawatirakan untuk terpicu juga. Namun pemuka adat dan pemuka agama kala itu, langsung mengantisipasinya. Mereka bersama-sama membuat kesepakatan yang pouler dikalangan masyarakat, yakni Momepanimpu , yang artinya hidup damai dalam situasi saling menghargai satu sama lain, untuk menjalin persatuan dan kesatuan. Hingga saat ini slogan itulah yang menjadi lambang corak umat beragama yang ada di Kulawi (http://rilparigi.blogspot.com/2009/09/ada-damai-di-kulawi.html).Ada beberapa jenis eksekusi hukuman yang dilakukan di Lobo; Nehaha, sanksi ini dijatuhkan apabila pelanggaran yang dilakukan sangat berat. Prosesnya, pelanggar adat diberikan makanan hingga ia kenyang, kemudian diikat di tiang tengah lobo, kemudian para penari regodan koloa8 menari mengelilinginya. Lalu kemuadian, sang pengeksekusi masuk ke dalam lobo
sambil membawa guma9lalu kemudian mengiris-iris pelanggar adat, kemudian pelanggar
adat tersebut dipenggal kepalanya. Biasanya, orang yang menerima sanksi ini Karena melanggarBualohi10danTorokoni11.
B. Politisasi Lembaga Adat Kulawi
Menurut Tama Dei, perubahan adat yang diterapkan saat ini oleh orang Kulawi bergantung pada 3 hal, yaitu; (1) Adat yang sesuai dengan aturan agama dan aturan pemerintah, dipertahankan. (2) adat yang tidak sesuai dengan aturan agama dan aturan
8Tarian kemenangan perang.
pemerintah, ditinggalkan. (3) adat yang tidak bertentangan dengan aturan pemerintah dan aturan pemerintah akan tetapi tidak mampu lagi diterapkan, menyesuaikan.
besar dalam membentuk paradigma masyarakat adatnya, sekaligus juga pilihan-pilihan politisnya. Bahkan tidak jarang Calon Bupati atau Calon Gubernur bertemu langsung dengan tokoh adat guna mendapatkan restu.
Menjaga eksistensi adat, juga tidak lepas dari upaya masyarakat lokal untuk mengintimidasi masyarakat pendatang (William, 2002). konflik yang pernah terjadi di Sulawesi tengah, telah menghadirkan prasangka-prasangka etnik. Stigmasisasi saya orang asli dan kamu pendatang menjadi isu yang tetap laku untuk dijual dalam rangka PEMILUKADA. Apalagi jika dalam proses PEMILUKADA terdapat calon kandidat yang beretnis pendatang. salah satu cara untuk menarik simpati masyarakat dengan melakukan pendekatan pada pemangku adat.
memohon doa restu. Memahami fenomena ini, elit-elit lokal yang dahulunya di berangus keistimewaannya oleh Masa Orde Baru, menancapkan kembali tombak kekuasaannya melalui legitimasi adat (Erb,2010:271).
Peran dan politisasi di sini dipahami sebagai tindakan sosial, seperti apa yang telah disampaikan oleh Weber, dunia seperti apa yang kita saksikan terwujud karena tindakan sosial. Manusia melakukan sesuatu karena mereka memutuskan untuk melakukan itu untuk mencapai apa yang mereka kehendaki. Setelah memilih sasaran, mereka memperhitungkan keadaan, kemudian memilih tindakan. Struktur sosial adalah produk (hasil) dari tindakan itu (Jones, 2009:114); lembaga adat kulawi melakukan perannya serta masuk dalam pusara politisasi bukan tanpa rasional. Selain peran mereka selaku lembaga adat yang menempatkan mereka pada struktur elit di tengah masyarakat, juga momen pemilukada sebagai sasaran yang empuk selain untuk menunjukkan eksistensi mereka, hal ini juga sebagai bentuk respon pragmatis terhadap sistem politik daerah yang memanfaatkan serta diharapkan memberi manfaat bagi para elit (Bailey, 1970; Aragon, 2009:54).
III. Penutup
DAFTAR PUSTAKA
Aragon, Lorraine V., Persaingan Elit di Sulawesi Tengah di dalam Henk Schulte Nordholt, dkk (eds), Politik Lokal di Indonesia (Jakarta:YOI dan KITLV, 2009) hlm. 49-86
Bailey, F.G.,Stratagems and Spoils: A Social Anthropology of Politics. (Oxford: Basil Blackwell, 1970).
Brouwer, Melattie M, 60 Tahun Bala Keselamatan di Sulawesi Tengah (Bandung: Bala Keselamatan Kantor Pusat di Indonesia, 1977)
Erb, Maribeth., Kebangkitan Adat di Flores Barat , di dalam Jamie Davidson, dkk (Eds.), Adat Dalam Politik Indonesia (Jakarta: YOI dan KITLV, 2010) hlm. 269-300
Jones,Pip.,Pengantar Teori-Teori Sosial(Jakarta: YOI, 2010)
Li, Tania M., Adat di Sulawesi Tengah: Penerapan Kontemporer , di dalam Jamie Davidson, dkk (Eds.), Adat Dalam Politik Indonesia (Jakarta: YOI dan KITLV, 2010) hlm. 367-405 Matulada H.A., (t.t)Sejarah Kebudayaan to kaili (Orang Kaili),(Palu: Universitas Tadulako) McWilliam, Andrew. 2002.Paths of Origin Gates of Life: A Study of Place and Precedence in
Southwest Timor. Leiden: KITLV.
Sangaji, Arianto., Kritik Terhadap Gerakan Masyarakat Adat di Indonesia , di dalam Jamie Davidson, dkk (Eds.), Adat Dalam Politik Indonesia (Jakarta: YOI dan KITLV, 2010) hlm. 347-366
Sumber lain:
Kompas, Senin 17 Mei 2010