• Tidak ada hasil yang ditemukan

Elipsis dalam Bahasa al Quran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Elipsis dalam Bahasa al Quran"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

USLUB AL-

AŻF (ELIPSIS) DALAM AL-QUR’AN

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Semantik

Dosen Pengampu: Dr. H. Mardjoko Idris, MA

Disusun oleh: Rifqi Aulia Rahman

1320411182

KONSENTRASI PENDIDIKAN BAHASA ARAB PRODI PENDIDIKAN ISLAM

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

(2)

I. Pendahuluan

Sebagai kitab suci yang autentik dan sempurna, wajar jika al-Qur’an dianggap sakral dan harus diterima sebagai doktrin yang didekati secara dogmatis-ideologis. Namun, tentulah akan lebih memuaskan akal dan melegakan hati, jika al-Qur’an didekati melalui metodologi ilmiah-rasional. Untuk itu, ayat-ayat al-Qur’an, terutama yang menimbulkan pemahaman ambigu (mutasyabihat) harus mendapat sentuhan makna esoteris (takwil). Perangkat takwil ini melahirkan beragam interpretasi tentang implementasi kajian bahasa, dan di antara fokus kajian pemikir belakangan adalah kajian makna dalam gaya bahasa Hadzf (elipsis). Di sinilah pentingnya penalaran terhadap ayat-ayat al-Qur’an.

Tentu saja, dalam upaya tersebut harus ada syarat dan kaidah-kaidah yang dapat dipertanggungjawabkan secara etik-akademis, demi meminimalisasi penafsiran al-Qur’an dari bias-bias penafsir yang tak terhindarkan. As-Suyuti misalnya, mengajukan sekian syarat kualifikasi yang harus dipenuhi oleh penafsir, di antaranya adalah penguasaan terhadap ilmu Balaghah, sebagai lanjutan dari penguasaan terhadap bahasa Arab. Di antara isu yang didiskusikan oleh Suyuti dalam makalah ini adalah persoalan hadzf (elipsis), yang secara khusus dikaji di bawah spektrum ijaz dan ithnab.1

Jika uslub hadzf dijadikan sebagai alat tertentu untuk pengayaan bahasa, setiap pemahaman terhadap hadzf dan aplikasinya tidak mungkin terpisahkan dari deskripsi apa pun tentang karakteristik bahasa dan maknanya. Deskripsi tentang karakteristik bahasa akan menjadi sempurna dalam kerangka pertumbuhan akal dalam perspektif pengembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, lebih khusus makalah ini akan menguraikan beberapa hal yang berkaitan dengan pembahasan, di antaranya jenis-jenis uslub hadzf dalam al-Qur’an dan bagaimana implikasi makna yang digali dari gaya bahasa tersebut.

(3)

II. Pembahasan

A. Definisi Hadzf (Elipsis) dan Awal Kemunculannya

Merujuk kepada kamus lisan al-arab, makna leksikal yang ditunjukkan oleh kata hadzf berkisar kepada tiga makna:2

o

Secara bahasa, Hadzf yaitu kondisi terputus, terbuang, dan gugur. Melihat definisi lingustik yang disampaikan, at-Tahanawi dan as-Syamari lebih memilih kata

طاقققققققس لا (eliminasi) untuk mendefinisikan uslub hadzf.3 Hal ini pada gilirannya mengasumsikan, dalam kasus klausa tentunya, bahwa sebelum diberlakukannya hadzf, terdapat huruf, kata, atau kalimat tertentu yang kemudian dieliminasi. Sebab, tidak logis, ada sesuatu yang dibuang namun dikatakan bahwa ia tidak eksis sebelumnya. Sedangkan menurut istilah hadzf adalah

افضورعم هنوكو هب ملعرلل وأ ،هيلع لطردر ليلدل ؛هنع ءانغتسلا وأ ملكلا نم ءءزج حرططو طاقسإ

Yang artinya menggugurkan sebagian dari ungkapan atau tidak dibutuhkannya sebagian ungkapan tersebut, karena ada bukti yang menunjukkan terbuangnya sesuatu itu, atau karena sudah difahaminya hal tersebut, atau juga karena sangat familiarnya hal tersebut.

Sementara itu Zarkasyi juga menambahkan definisi operasional elipsis, yaitu menanggalkan sebagian atau keseluruhan lafadz karena suatu pertimbangan atau argumen tertentu. Frase “pertimbangan tertentu” dalam definisi tersebut, mempertegas asumsi yang telah disinggung di muka, bahwa sebelumnya betul-betul ada lafadz dari rangkaian klausa, yang kemudian dieliminasi karena argumentasi tertentu.4

Oleh karenanya, penulis mempertemukan beberapa asumsi definitif di atas bahwa elipsis adalah ungkapan tertentu yang menghilangkan sebagian kata-kata atau kalimatnya dengan alasan yang tertentu pula.

Menurut Nur Kholis Setiawan, terkait mekanisme pelahiran makna, interaksi para ahli dan sarjana muslim (sejak paruh pertama abad kedua) terhadap al-Qur’an, yang lebih menekankan aspek kebahasaan dan susastra, menginformasikan kepada kita adanya ide dan gagasan tentang elipsis.

Karya-2 Ibnu Mandzur, Lisan al-arab, juz II (Kairo: Dar Al Ma’arif), hlm.810

3Azam Bachtiar, Al-Hadzf atau Al-Ijaz...hlm. 80

(4)

karya yang bertitel Ma’ani al-Qur’an, yang menelaah aspek mikrostruktur al-Qur’an dan kemungkinan perubahan makna akibat perubahan struktur kalimat, memuat ide tersebut. Menurutnya, sarjana paling awal dalam isu ini adalah Hamzah al-Kisa’i (w. 189/805).5

Penelitian Nur Kholis dalam batas-batas tertentu, hanya menunjukkan elipsis sebagai sebuah medium untuk memahami dan memecahkan problem klausa dan mengungkap rahasia-rahasianya dari perspektif struktur maupun makna. Demikian juga penelitian as-Syamari, hanya membedah dari perspektif tersebut. Sampai di sini, kita belum mengetahui motif-motif lain yang mungkin turut mendasari dan membentuk ide tentang elipsis.

Namun jika beralih menuju abad keempat, kita dapati Abu Bakar Baqilani (w.403 H) berusaha mempertahankan dan meneguhkan kemukjizatan al-Qur’an dalam konteks perdebatan dengan kaum atheis lewat tiga aspek, memasukkan elipsis di bawah naungan Ijaz. Dimana ijaz merupakan turunan dari aspek ketiga mukjizat al-Qur’an, yaitu keindahan susunan dan tingkat sastrawinya.

Pada akhir abad keempat, seorang pakar sastra dan teolog Asy’arian terkemuka, Abdul Qohir al-Jurjani (w.474 H) menyuguhkan karya yang bertitel Dalail al-I’jaz yang menelaah elipsis, bahkan secara hiperbolis, Jurjani mengantarkan kajian elipsis dengan statmen seperti di bawah ini :

Hadzf merupakan metode yang sangat tajam, sebuah cara penanganan yang halus, sebuah hal yang luar biasa dan mirip magis. Di dalamnya Anda melihat bahwa tidak menyebutkan sesuatu merupakan hal yang dianggap lebih fasih ketimbang menyebutkannya, menahan untuk mengungkapkan dianggap lebih informatif ketimbang mengungkapnya, dan Anda menemukan diri Anda lebih fasih tentang sesuatu jika Anda tidak membicarakannya, dan Anda menemukan penjelasan yang lebih lengkap jika Anda tidak menjelaskannya.”6

Barangkali, formulasi kaidah-kaidah elipsis secara matang dimapankan oleh Jamaluddin Abdullah bin Yusuf bin Ahmad bin Abdullah bin Hisyam al-Anshari, yang lebih dikenal sebagai Ibn Hisyam (708-761 H), dalam karyanya yang kelak menjadi pegangan bagi generasi sesudahnya, yaitu Mughni al-Labib. Karya ini

5 Nur Kholis Setiawan, Al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar, cet II (Yogyakarta:eLSAQ Press, 2006), hlm. 147-150

(5)

ditulis murni untuk kepentingan akademis, sistematisasi dan koreksi atas kesalahan-kesalahan gramatik kasus I'rab yang menggejala kala itu.7

B. Klasifikasi Hadzf

Adapun secara ijmaly, tipologi hadzf dalam terminologi bahasa arab dibagi menjadi dua, yaitu:8

- Konteks dimana mahdzuf bisa diperlihatkan atau diperjelas dengan bantuan I’rob, seperti ungkapan ahlan wa sahlan, akan ketahuan bahwa ada yang me nashab kan ketika dii’rob. Hasil penerawangan i’rob nya adalah

تئج لها اناكم تلزنو لهس

- Konteks dimana mahdzuf tidak bisa diperjelas walaupun dengan bantuan I’rob (gramatika). Namun bisa diketahui posisinya dengan jelas jika ditelusuri lewat semantika tuturannya, seperti ungkapan

ءاشي ام عنميو ءاشي ام يطعي هلصأ ، عنميو يطعي

Klasifikasi yang berbeda dipaparkan oleh Suyuti. Dia mencatat ada beberapa bentuk elipsis, yakni:

1. Iqtita’, yaitu menghilangkan sebagian partikel huruf dalam satu kata, seperti dalam potongan ayat surat al-Maidah : 6, (مكسؤرب اوحسماو), menurutnya huruf

ب bermula dari kata ضعب . faedah tidak dituliskannya kata ضعب secara utuh bertujuan untuk memberikan porsi ijtihad bagi fuqaha’ dalam memutuskan suatu hukum, dalam kasus ini adalah mengusap rambut kepala. Oleh karenanya, membasuh kepala dalam konteks wudlu terdapat beberapa mazhab, ada yang mengharuskan diusap semua helai rambut tersebut, selanjutnya ada juga yang mencukupkan mengusap hanya pada sebagian rambut saja.

2. Ikhtifa’, yaitu penuturan salah satu dari dua materi atau lebih, yang memiliki relasi konjungsional yang kuat, karena dianggap cukup mewakili, seperti dalam potongan ayat surat an-Nahl : 81, (رحلا مكيقت ليبارس). Menurutnya tidak disebutkan perbandingan dari kata رحلا yaitu دربلا dikarenakan yang menjadi sasaran pembicaraan itu bangsa Arab, yang hidup di daerah panas dan tandus, dan tentu saja perlindungan dari “panas” lebih mereka butuhkan ketimbang “dingin”. Alasan selanjutnya, dikarenakan perlindungan dari “dingin” telah dijelaskan dalam ayat sebelumnya, an-Nahl ayat 80 dan 5.

7 Azam Bachtiar, Al-Hadzf atau Al-Ijaz...hlm. 83-84

(6)

3. Ihtibak, yakni terkumpulnya dua hal yang berlawanan dalam satu ungkapan, lalu dieliminir salah satunya sebagai petanda atau penunjuk pada yang lain. Seperti yang dicontohkan dalam kisah nabi Musa pada surat an-Naml : 12,

ءاضيب جرخت كبيج ىف كدي لخدأو

Menurutnya ada kata (ءاضيب ريغ), sebab warna tangan Musa belum putih (bersinar) sebelum dimasukkan ke kantong.

4. Ikhtizal, menghilangkan satu kata atau lebih, baik nomina, verba, atau konjungsi.9 Contoh yang diajukan Suyuti seperti penanggalan konjungsi (نأ) dalam potongan ayat surat ar-Rum ayat 24 (قربلا مكيري هتايآ نمو...), kalau melihat secara gramatika, semestinya ada ‘an mashdariyyah’ yang mendahului kata yurikum. Argumentasinya ialah memang benar ‘an mashdariyyah’ dibuang dan itu menjadikan fi’ilnya dirafa’. Hal itu didukung oleh kata sebelumnya yaitu huruf min yang berfaidah tab’idh (parsial).10

C. Faktor Penyebab Hadzf

Hukum asal menyatakan bahwa ketika suatu makna dibutuhkan oleh sami’(pendengar), maka sejatinya lafadz yang menjelaskan makna tersebut harus diungkapkan dalam suatu pernyataan. Sebaliknya, ketika makna sudah diketahui dengan jelas olehnya, maka lafadz yang menjelaskan makna tersebut ditiadakan (Hadzf). Sementara itu, jika terjadi suatu keadaan di luar frame hukum asal, maka hal tersebut tidak lantas mengubah konteks hukum asal, kecuali karena beberapa alasan.11

Alasan dan faktor yang menyebabkan tidak dituturkannya lafadz di antaranya:

- Menyamarkan suatu hal kepada selain mukhotob (orang kedua), misalnya “لبقأ” dengan maksud “Ali”

- Kondisi yang sempit, adakalanya ketika sedang sakit, seperti syair di bawah ini

# :

ليوط نزحو مئاد رهس ليلع تلق ؟ تنأ فيك يل لاق

Dan juga ketika kawatir hilangnya kesempatan, seperti ucapan pemburu ketika melihat hewan buruannya, “لازغ!!!”

- Menggeneralisasi objek secara umum, seperti dalam QS. Yunus:10

9 Azam Bachtiar, Al-Hadzf atau Al-Ijaz...hlm. 85

10At-Tafsir at-Thobari juz 20 hlm. 87, maktabah as-Syamilah

(7)

           

Allah menyeru (manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang Lurus (Islam)

Objek seruan di atas tidak disebutkan. Oleh karenanya objek dalam ayat ini menjadi lebih umum yaitu semua hamba Allah

- Menempatkan kata kerja transitif ke intransitif, karena tidak adanya kaitan maksud kata kerja tersebut dengan objek, seperti dalam ayat

              

Katakanlah: "Adakah sama orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang-orang yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran.

Statmen ini sependapat dengan apa yang dikatakan Zamakhsyari12, ketika beliau menganalisis ayat 23 dari surat al-Qoshos :

       

     

         



Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men-jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?" kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya".

Beliau menyatakan, bahwa objek dalam yasquun, tadzudaan, dan nasqi tidak disebutkan, padahal ketiga kata kerja tersebut transitif. Alasan yang diutarakannya sama dengan pernyataan di awal, bahwa kata kerja tersebut tidak ada keterkaitan makna dengan objek, atau dalam pernyataan Zamakhsyari, yang menjadi main aims bukan objeknya, tapi kata kerjanya itu sendiri.

(8)

- Bersandarnya kata kerja dengan naib al fail karena alasan menyamarkan pelaku utama, atau karena telah diketahuinya pelaku utama dengan jelas, atau justru tidak diketahuinya dengan benar, seperti:

افيعض ناسنلا قلخ

Dalam potongan ayat tersebut, pelaku (fa’il) nya tidak disebutkan (majhul), karena sudah sangat jelas bahwa pencipta manusia adalah Allah SWT.

D. Hadzf dan Ijaz

Terminologi hadzf juga masuk dalam sub pembahasan ijaz13,dalam

definisinya ijaz hadzf adalah ijaz dengan cara membuang sebagian dari pernyataan dengan tetap tidak mengurangi makna yang dimaksudkan, dan dengan syarat terdapat qarinah (tanda) yang menunjukkan adanya perkataan yang dibuang. Apabila tidak ada qarinah dalam pernyataan tersebut, maka hal itu tidak bisa dibenarkan.

Ungkapan yang dibuang dalam kalimat ijaz bisa bermacam-macam, antara lain:14

1. Huruf, dalam pembahasan ini terdapat beberapa huruf yang sering dibuang dalam al-Qur’an, seperti alif, wawu, ya’, nun, ta’, dan lam. Seperti dalam potongan firman Allah surat Maryam : 20,

..

ايغب كأ مل و

...

Pada ungkapan ayat di atas tepatnya pada kata كأ ada huruf yang dibuang yaitu ن , yang aslinya نكأ ملو

Begitu juga dengan contoh huruf lain, seperti kalimat yang sering dilafalkan oleh orang Islam pada umumnya ميحرلا نمحرلا هللا مسب. Alif dalam kata ismun dibuang karena alasan meringkas dan oleh karena seringnya diucapkan.15

2. Kata isim yang berfungsi sebagai mudhof, seperti firman Allah SWT:

13 Istilah untuk ungkapan yang singkat, padat, dan tak terbantahkan

14 Ahmad al-hasyimi. Jawahir... hlm. 199-200

(9)

هداهج قح هللا يف اودهاج و

Artinya : “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.”(QS.Al-Hajj:78)

Pada ayat di atas terdapat kata yang dibuang, yaitu kata ليبس yang terdapat pada ungkapan هللا ليبس يف . Kata yang dibuang pada ayat tersebut berfungsi sebagai mudhof. Penjelasan semantisnya demikian, kata sabil tidak dituliskan dalam ayat itu agar jihad dapat dimaknai secara holistik, asal tertuju dan diniati untuk Allah SWT semata. Di samping jihad secara fisik, memerangi orang kafir, munafiq, dan murtad, juga ada jihad memerangi hawa nafsu, jihad qolb dengan mensucikannya dari kuduniawian, dan jihad ruh dengan mengosongkan wujud makhluk yang fana dan menyatukannya dengan Zat yang qadim.16

3. Kata isim berfungsi sebagai mudhof ‘ilaih, seperti firman Allah SWT :

رشعب اهانممتا و ةليل نيثلث ىسوم اندعاو و

Artinya : “Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam,dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi).”(QS.Al-A’raf:142)

Pada ayat di atas terdapat kata yang dibuang yaitu pada ungkapan لايل رشعب. Pada ungkapan tersebut kata yang dibuang adalah لايل . Kata tersebut berfungsi sebagai mudhof ‘ilaih. Alasan terbuangnya kata tersebut adalah sudah diketahuinya maksud dari pembicaraan, karena sudah dijelaskan pula dalam ayat sebelumnya, yaitu dalam surat al-Baqoroh:5117

            

4. Kata isim yang berfungsi sebagai maushuf, seperti terdapat dalam firman Allah SWT :

16 At-Tafsir at-Alusi juz 13 hlm. 155, maktabah as-Syamilah

(10)

احلاص لمع و بات نم لإ

Artinya : “Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal dengan amal yang salih.”(QS.Maryam:60)

Kata yang dibuang terdapat pada ungkapan احلص لمعو . Kata yang dibuang adalah لمع sehingga kalimat lengkap pada ayat tersebut adalah لمع

احلاص

لمعو . Kata لمع pada ayat di atas berfungsi sebagai maushuf.

5. Kata isim yang berfungsi sebagai sifat, seperti firman Allah SWT :

مهسجر يلإ اسجر مهتدازف

Artinya : “Maka dengan surah itu bertambah kekafiran mereka di samping kekafirannya (yang telah ada).” (QS.At-Taubah:125).

Kata yang dibuang pada ayat di atas adalahافاضم , sehingga lengkapnya adalah مهسجر يلإ افاضم . Ada keterkaitan antara rijsan yang pertama dan kedua. Kata yang pertama dimaksud akhlak biadab orang kafir yang berusaha mendustakan surat yang telah turun. Adapun kata yang kedua diartikan sikap dengki, permusuhan, berbagai tipu daya orang kafir. Dan sikap yang tercela dari orang kafir itu menjadi berlipat-lipat ketika turunnya ayat-ayat yang baru.18

6. Perangkat syarat, seperti firman Allah :

هللا مكببحي ينوعبتإ

Artinya : ”Ikutilah Aku, (bila kamu mengikuti aku), niscaya Allah mengasihi kamu.”(QS.Ali Imran:31)

Pada ayat di atas kata yang dibuang adalah ينوعبتت نإف, sehingga lengkapnya adalah ينوعبتت نإف ينوعبتإ...

7. Frase syarat-jawab, seperti firman Allah SWT :

(11)

رانلا ىلع اوفقو ذإ يرت ولو

Artinya : “Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan.”(QS.Al-An’am:27)

Pada ayat di atas ungkapan yang dibuang adalah اعيظف رما تيأرل yang berfungsi sebagai jawab syarat dengan alasan menghindarkan pemaknaan dan penjustifikasian subjektif pendengar, padahal maksud dari pembuangan itu agar ada semacam upaya tahwil (takwil yang bisa didramatisir jawabannya).19

8. Kata sebagai musnad, seperti firman Allah SWT :

هللا نلوقيل ضرلاو تاومسلا قلخ نم مهتلأس نئل و

Artinya : “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka :”siapakah yang menciptakan langit dan bumi ?” tentu mereka akan menjawab: (yang menciptakannya) Allah.”

Pada ayat di atas lafal yang dibuang adalah هللا نهقلخ . Ungkapan

نهقلخ merupakan musnad dan lafadz هللا menjadi musnad ‘ilaih.

9. Berupa lafadz yang bersandar, seperti firman Allah :

نولئسي مهو لعفي امع لأسي ل

Artinya : “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan mereka lah akan ditanyai (tentang apa yang mereka perbuat).”(QS.Al-Anbiya’:23)

Lafadz yang dibuang pada ayat di atas adalah نولعفي امع

10.Lafadz yang dibuang berupa jumlah, seperti firman Allah SWT :

نييبنلا هللا ثعبف ةدحاو ةمأ سانلا ناك

Artinya : “Manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi.”(QS.Al-Baqarah:213)

(12)

Lafadz yang dibuang diperkirakan ثعبف اوفلتخاف. Jumlah tersebut tidak disebut karena telah ada ayat sebelumnya yang mempunyai redaksi dan konteks yang sama20, yaitu ayat

....اوفلتخاف ةدحاو ةمأ لإ سانلا ناك امو

11.Lafadz yang dibuang berupa beberapa jumlah, Seperti firman Allah :

قيدصلا اهيأ فسوي نولسرأف

Artinya : ”Maka utuslah aku (kepadanya). setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf, dia berseru :Yusuf, wahai orang yang amat terpercaya.”(QS.Yusuf:45)

Pada ayat di atas terdapat beberapa jumlah yang dibuang yaitu

فسوي اي هل لاق و هاتأف هولسرأف ايؤرلا هربعتسل فسوي يلا ينولسرأف

Menurut Roja’ ‘Ied, terbuangnya Jumlah (kalimat) dalam gaya bahasa Ijaz Hadzf diklasifikasikan menjadi dua bagian21, yaitu :

a. Jumlah yang menjadi akibat dari sebab yang telah ditutur, contoh dalam QS. Al Anfal : 8,

     

 

Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.

Ayat ini menunjukkan akibat dari ayat sebelumnya yang juga hampir mirip redaksinya,

...        

Kedua ayat di atas terkesan hanya mengulangi. Namun ternyata kandungannya berbeda. Ayat pertama mengandung sebab yang telah dijanjikan Allah dalam kejadian tersebut, yaitu kemenangan dalam perang Badr. Adapun ayat kedua merupakan akibat dari ayat pertama. Karena

20 Tantowi, At-tafsir Al-Wasith, Maktabah Syamilah vol.II

(13)

kemenangan atas musuh-musuh dalam perang Badr telah tercapai, sampailah pada kejayaan al-Qur’an dan agama Islam.22

b. Jumlah yang menjadi sebab dari akibat yang telah ditutur, contoh dalam QS. Al Baqoroh:60,

                               

Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukul lah batu itu dengan tongkatmu". lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.

Dalam ayat tersebut, terkandung makna larangan untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Sementara kaum bani Isra’il tetap melakukan perusakan-perusakan tersebut. Maka di ayat sebelumnya telah ada akibat dari sebab/perbuatan mereka ini,23

نروقعسعفطير اونعاكر امربر ءرامرسطرلا نرمر ازضجطرر اومعلرظر نريذرلطرا ىلرعر انرلطزرنطأرفر

Oleh karena makalah ini mengacu sepenuhnya kepada pendekatan semantik, makna dan tujuan retorika ijaz harus juga dibahas. Selain tujuan dan makna gaya bahasa hadzf yang sudah disebut sebelumnya, uslub ijaz hadzf juga mempunyai tujuan lain, yaitu untuk meringkas, untuk memudahkan hafalan, memudahkan pemahaman, menghilangkan perasaan bosan jenuh, dan memperoleh makna yang banyak dengan ungkapan yang singkat.

Suatu ungkapan akan dinilai baik jika memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti benar secara struktural, tepat dalam diksi kata, dan ungkapan tersebut dituturkan dalam kondisi yang tepat pula. Kalam ijaz dianggap tepat jika dituturkan dalam kondisi berikut:24

22 Tantowi, At-tafsir...

23 Muhammad Mutawalli as-Sya’rawi, At-Tafsir As-Sya’rawi, Maktabah Syamilah vol.II

(14)

1) Mohon belas kasihan

Dalam istilah jawa seorang pengemis yang berkeliling dari satu kampung ke kampung lain sering menggunakan password dalam meminta : “kawelasanipun, den/neng”. Ungkapan yang singkat tapi padat makna. Jika dijabarkan dengan lebih terperinci, mungkin akan menjadi seperti ini : “pak, anda kan orang yang baik hati. Harta anda lebih melimpah dari pada kepunyaan kami. Maka kasihanilah kami”, dan sebagainya.

2) Mengadukan keadaan

Sudah menjadi respon natural manusia, ketika seseorang terserang sakit secara spontan akan mengungkapkan kata “aduh” sebagai ganti rasa pengaduan yang bertele-tele

3) Permohonan ampun

Begitu juga ketika kesalahan dibuat oleh manusia, kata-kata yang selalu menghiasi setelahnya – apabila menyadari kesalahan – adalah “ma’af”. 4) Bela sungkawa

Setting kultural yang identik dengan kepiluan, keheningan, sekaligus kesedihan. Implikasi linguistisnya adalah bahasa-bahasa nasehat yang ringan dan singkat, motivasi yang tidak panjang lebar sekaligus tidak membingungkan, dan pelipur musibah yang menentramkan seperti “sabar”. 5) Mencerca dan mencela sesuatu

Dalam percakapan antara penjual dan pembeli di Arab, ketika pembeli menawar dengan harga yang tidak pantas dan tidak sesuai dengan tarif penjual, si penjual langsung menjawab, “bakhil anta...”

6) Janji dan ancaman

Ungkapan yang sangat familiar dari orang Jawa ketika dihadapkan dengan peristiwa yang menuntut komitmen dan implikasinya yaitu “tenan lo!!” dan “awas nek suloyo!!!”.

7) Surat menyurat formal instansi

Format yang jelas, singkat dan to the point harus digarisbawahi jikalau sudah berurusan dengan regulasi resmi surat menyurat instansi. Ungkapan yang muluk-muluk, alur yang kesana kemari, yang lebay susunannya sangat tidak diperkenankan dalam wilayah ini. Maka dalam instansi resmi, dikenal istilah memo yang menunjukkan pesan singkat namun resmi, seperti : “Diharap semua pegawai mengikuti rapat dadakan siang nanti jam 13.30 WIB di ruang pertemuan. terimakasih”

(15)

Regulasi resmi dengan segala otoritasnya harus jami’ dan mani’. Kalau dalam bahasa penelitian, harus ditempuh melalui metode verifikasi (pengumpulan bukti-bukti yang mendukung statmen) dan falsifikasi (pengumpulan bukti yang bertentangan dengan statmen), artinya statmen regulasi resmi itu harus holistik dan tidak terbantahkan, seperti dasar falsafah negara kita, Pancasila. Singkat dan padat makna, yang kalau dijabarkan mendetail tidak akan ada ujungnya, karena akan muncul banyak perspektif , dan bahkan tendensi, yang bermacam-macam.

9) Mensyukuri nikmat

Terutama orang Islam, yang mempunyai slogan khas ketika menerima anugerah yang tak terhingga atau ketika terhindar dari malapetaka yang menimpa, yaitu ungkapan “Alhamdulillah...”

Selanjutnya, penulis juga merasa perlu menambahkan penjelasan terkait dengan uslub hadzf jika dilihat dari segi kuantitas atau banyaknya sesuatu yang dibuang. Dalam penjelasan ini, penulis merumuskan ushlub hadzf terbagi menjadi 5 bagian:

1. Hadzf al-harf (huruf), seperti contoh dalam firman Allah QS. Al A’raf:113

           

Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun mengatakan: "(Apakah) Sesungguhnya Kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?"

Di dalam ayat tersebut, ada huruf yang dibuang, yaitu hamzah istifham (أ) sebelum huruf نإ. Argumentasi terbuangnya huruf tersebut adalah para tukang sihir itu telah yakin bahwa mereka akan menang, oleh karenanya mereka seakan-akan sudah berhak atas hadiah yang disiapkan oleh Fir’aun.

2. Hadzf al-kalimah (kata), seperti dalam QS. Yunus:10

           

(16)

Kata yang terbuang dalam ayat tersebut berposisi sebagai objek (maf’ul), dengan maksud menjadi objek dalam ayat ini lebih umum yaitu semua hamba Allah

3. Hadzf al-ibarah (frase), seperti firman Allah QS. Al Baqoroh:60,

.... ... 

artinya ....lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu"....

Kalimat asli dari struktur tersebut menurut al-Farra, “pukullah dengan tongkatmu, ‘kemudian Musa memukul tongkatnya’...”. Jadi ada yang dibuang setelah kata (رجحلا), yaitu (برضف). Sehingga yang dimaksud adalah keluarnya mata air tersebut setelah Musa memukulkan tongkatnya, bukan setelah perintah Tuhan kepada Musa.25

4. Hadzf al-Syarti ( klausa), seperti firman Allah :

هللا مكببحي يناوعبتإ

Artinya : ”Ikutilah Aku, (bila kamu mengikuti aku), niscaya Allah mengasihi kamu.”(QS.Ali Imran:31)

Pada ayat di atas, kata yang dibuang adalah ينوعبتت نإف, sehingga lengkapnya adalah ينوعبتت نإف ينوعبتإ...

5. Hadzf al-jumlah (kalimat), seperti firman Allah SWT :

نييبنلا هللا ثعبف ةدحاو ةمأ سانلا ناك

Artinya : “Manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi.”(QS.Al-Baqarah:213)

Lafadz yang dibuang diperkirakan ثعبف اوفلتخاف. Jumlah tersebut tidak disebut karena telah ada ayat sebelumnya yang mempunyai redaksi dan konteks yang sama26, yaitu ayat اوفلتخاف ةدحاو ةمأ لإ سانلا ناك امو .... .

25 Nur Kholis Setiawan, Al-Qur’an Kitab Sastra...hlm. 153-154

(17)

III. Penutup

Uraian sederhana di atas mengantarkan kita pada konklusi betapa konsep elipsis ini menempati posisi krusial dalam diskursus retorika (Balaghah), tafsir, ataupun yang lain. Pendek kata, dalam lingkup kesarjanaan Islam, konsep elipsis yang selalu diletakkan di bawah spektrum Ijaz, dalam perjalanannya kemudian, digunakan untuk berbagai kepentingan.

Ada beberapa tipe elipsis yang diperkenalkan oleh sejumlah ilmuwan dengan referensinya. Dari pembahasan di atas, dapat kita lihat bahwa elipsis biasanya terjadi dalam susunan-susunan kalimat yang susunan aslinya bisa dipahami dengan beberapa indikasi ekstra-tekstual, baik dalam frase sebelumnya atau frase sesudahnya. Tujuan umum elipsis adalah untuk memperpendek atau memperindah frase. Lebih jauh lagi, di dalam pembahasan tersebut, kita juga menemukan bahwa syarat-syarat elipsis adalah bahwa pendengar harus sudah mengetahui.

(18)

IV. Daftar Pustaka:

Al-Jarim Ali dan Musthofa Amin, Al Balaghotul Wadhihah, Beirut : Dar Al-Maarif, 1999

Al-Hasyimi Ahmad, Jawahir al-Balaghoh, Beirut : maktabah ashriyah, 1999

Abdul Qohir Al Jurjani, Dalailul I’jaz, maktabah syamilah vol. II

Azam Bachtiar, Al-Hadzf atau Al-Ijaz:Telaah Krisis atas Konsep Ellipsis dalam Kesarjanaan Islam, Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an dan Hadis vol.13 no.1, Januari 2012

Hifni nasif dkk, Syarah durus al Balaghoh, Kairo: Dar ibn al juzy, 2008

Mandzur Ibnu, Lisan Al-arab, Juz II, Kairo : Dar Al-Maarif

Setiawan Nur Kholis, Al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar, cet II Yogyakarta:eLSAQ Press, 2006

Rojak ‘Ied, Falsafatul Balaghoh baina at-taqniyah wa at-tathowur, cet. II Syiria:Mansyaat almaarif, tt

Syamlul Muhammad, I’jazu rosmi Al-Qur’an, Kairo : Dar Assalam, 2008

At-tafsir Al-Wasith, Maktabah Syamilah vol.II

At-Tafsir al-Fakhrurrazi, Maktabah as-Syamilah vol.II

At-Tafsir at-Alusi, Maktabah as-Syamilah vol.II

Referensi

Dokumen terkait

Ta’ala berfirman dalam Al -Quran dengan tutur bahasa yang sangat indah dan sarat akan makna sehingga membuat pembacanya terpesona akan keindahan makna- makna

Penulisan yang baik harus memiliki tujuan yang jelas arah yang tepat. Adapun tujuan dalam penelitian ini sebagai berikut. Mendeskripsikan gaya bahasa pada terjemahan Al Quran

Ada beberapa macam bentuk perubahan uslub atau gaya bahasa yang terjadi dalam struktur kalimat al-Qu‟an. Bentuk-bentuk perubahan ini selain berada pada tataran

Rumusannya, setelah melihat pelbagai pandangan bagi setiap definisi kedua-dua perkataan iaitu uslub dan al-Tanbih maka pengkaji mendefinisikan uslub al-Tanbih di dalam

Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan gaya bahasa retoris dan kiasan, 2) makna yang terkandung dalam gaya bahasa dan 3) mendeskripsikan gaya bahasa yang dominan

Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan gaya bahasa retoris dan kiasan, 2) makna yang terkandung dalam gaya bahasa dan 3) mendeskripsikan gaya bahasa yang dominan

sehingga memudahkan dalam mengingat ayat-ayat Al-Quran. Selain itu juga bermanfaat untuk membentuk keluwesan lidah dalam membaca kalimat Allah sehingga

Gaya pemaparan tafsir semacam ini merupakan temuan yang cukup unik, karena mufassir Indonesia sebelumnya lebih tertarik untuk menerangkan ayat-ayat al-Qur’an secara