• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT. docx"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

MAKALAH

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH Pendidikan Pancasila

Yang di bina oleh bapak Dr. Hipolitus K. Kewuel, M.Hum

Oleh Kelompok 4

UNIVERSITAS NEGERI BRAWIJAYA Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL

2015

(2)

Nama Anggota Kelompok 4

 Kenilla A.Yiyalvian ()

 Lies Aisyah Fardini (155120407111069)

 M. Rizqi Iman Aviv (155120400111051)

(3)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pancasila adalah dasar filsafat negara Republik Indonesia yang resmi disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam pembukaan UUD 1945, di undangkan dalam Berita Republik Indonesia tahun II No.7 bersama-sama dengan batang tubuh UUD 1945. Dalam perjalanannya sejarah eksistensi Pancasila sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia mengalami berbagai macam interpretasi dan manipulasi politik sesuai kepentingan penguasa demu kokoh dan tegaknya kekuasaan yang berlindung di balik legitimasi ideologi negara Pancasila. Dengan lain perkataan dalam kedudukan yang seperti ini Pancasila tidak lagi di letakkan sebagai dasar filsafat serta pandangan hidup bangsa dan negara Indonesia.

Maka dari itu sebagai orang yang berintelektual, kita harus bisa mengembalikan Pancasila sebagai dasar negara yang murni sesuai dengan hakikat Pancasila itu sendiri yang tidak di manipulasi dan di interpretasikan oleh pihak penguasa untuk suatu kepentingan tertentu. Dunia pendidikan tinggi memilik tugas untuk mengkaji dan memberikan pengetahuan kepada semua mahasiswa untuk benar-benar mampu memahami Pancasila secara ilmiah dan objektif.

(4)

1.2 Topik Pembahasan

Masalah yang nantinya akan di bahas di dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1.2.1 Pengertian dari Filsafat Pancasila

1.2.2 Hakikat Sila-Sila Pancasila

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:

1.3.1 Untuk menjelaskan filsafat Pancasila dan hakikat sila-sila pancasila berdasarkan problem yang relevan dan konstektual

1.3.2 Untuk menjadikan pemahaman filsafat pancasila sebagai cara pandang dalam merespon fenomena global

1.3.3 Bagi dosen, sebagai tolak ukur/penilaian terhadap mahasiswa dalam memahami pancasila sebagai sistem filsafat

(5)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Filsafat Pancasila

Pancasila sebagai filsafat mengandung pandangan, nilai dan pemikiran yang dapat menjadi satu substansi dan isi pembentukan ideologi Pancasila. Filsafat Pancasila dapat di definisikan sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertiannya yang mendasar dan menyeluruh. Pancasila dikatakan sebagai filsafat, karena Pancasila merupakan hasil permenungan jiwa yang mendalam yang dilakukan oleh the faounding father kita, yang dituangkan dalam suatu sistem (Ruslan Abdul Gani). Filsafat Pancasila memberi pengetahuan dan pengertian ilmiah yaitu tentang hakikat dari Pancasila (Notonagoro).

2.2 Pancasila sebagai Sistem Filsafat

2.2.1 Pengertian Sistem

Sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan , saling bekerja sama untuk suatu tujuan tertentu dan secara keseluruhan, sistem memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1) Suatu kesatuan bagian-bagian

2) Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri 3) Saling berhubungan dan saling ketergantungan

4) Keseluruhannya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu 5) Terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks

2.2.2 Pancasila sebagai suatu ‘’SISTEM’’

 Pancasila pada hakikatnya merupakan kesatuan dan keutuhan yang mutlak

 Tiap pancasila mempunyai fungsi sendiri-sendiri namun saling berhubungan

(6)

 Diantara lima sila ada hubungan yang mengikat antara satu sila dengan sila yang lain sehingga pancasila merupakan satu kesatuan, keseluruhan yang bulat.

 Susunan kesatuan sila-sila pancasila yang bersifat organis yaitu pada hakikatnya secara filosofis bersumber pada hakikat dasar ontologis manusia sebagai pendukung dari inti, isi dari sila-sila pancasila yaitu hakikat manusia ‘monopluralis’ yang memiliki unsur-unsur ‘susunan kodrat’ jasmani –rohani, ‘sifat kodrat’ individu –makhluk sosial, dan kedudukan kodrat sebagai pribadi berdiri sendiri-makhluk Tuhan yang Maha Esa.

 Secara ontologis (hakikat) sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem bersifat hierarkhis dan berbentuk piramidal. Pengertian matematika piramidal digunakan untuk menggambarkan hubungan hierarkhi sila-sila dari Pancasila dalam urutan luas (kwantitas) dan juga dalam hal sifat-sifatnya (kwalitas). Kalau di lihat dari intinya, urutan-urutan lima sila menunjukkan suatu rangkaian tingkat dalam luasnya dan isi sifatnya , merupakan pengkhususan dari sila-sila yang di kemukakan. Jika urutan lima sila di anggap mempunyai maksud demikian, maka diantara lima sila ada hubungan yang mengikat yang satu kepada yang lain sehingga Pancasila merupakan suatu kesatuan keseluruhan yang bulat.

 Hubungan sila-sila Pancasila yang saling mengisi dan saling mengkualifikasi yaitu sama seperti rangka dari hierarkhis piramidal bahwa tiap-tiap sila seperti telah di sebutkan di atas mengandung empat sila lainnya, di kualifikasikan oleh empat sila lainnya.

2.3 Hakikat Pancasila

Pancasila sebagai suatu kesatuan sistem filsafat tidak hanya kesatuan yang menyangkut sila-silanya saja melainkan juga meliputi hakikat dasar dari sila-sila Pancasila atau secara filosofis meliputi dasar ontologis (hakikat) sila sila Pancasila. Berikut merupakan hakikat dari sila-sila pancasila:

(7)

hakikat bahwa pendukung pokok negara adalah manusia, karena negara sebagai lembaga hidup bersama sebagai lembaga kemanusiaan dan manusia adalah sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa sebagai kausa prima. Tuhan adalah sebagai asal mula segala sesuatu, Tuhan adalah mutlak, sempurna dan kuasi, tidak berubah , tidak terbatas pula sebagai pengatur tata tertib ( Notonegoro, 1975:78) Berdasarkan pengertian tersebut maka sila pertama mendasari , meliputi dan menjiwai keempat sila lainnya.

Sila Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab didasari dan dijiwai oleh sila keTuhanan yang Maha Esa serta mendasari dan menjiwai sila persatuan Indonesia, sila kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan serta sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini dapat di jelaskan sebagai berikut: negara adalah lembaga kemanusiaan, yang diadakan oleh manusia (Notonegoro,1975:55) Maka manusia adalah sebagai subjek pendukung pokok negara. Negara adalah dari, oleh dan untuk manusia oleh karena itu terdapat hubungan sebab dan akibat yang langsung antara negara dengan manusia. Adapun manusia adalah makhluk Tuhan yang Maha Esa sehingga sila kedua didasari dan dijiwai oleh sila pertama, sila ketiga, sila ke empat dan sila kelima. Dengan demikian pada hakikatnya yang bersatu membentuk suatu negara adalah manusia. Sila Ketiga, Persatuan Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila keTuhanan yang Maha Esa , sila kemanusiaan yang adil dan beradab serta mendasari dan menjiwai sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hakikat sila ketiga tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut hakikat persatuan didasari dan dijiwai oleh sila keTuhanan yang Maha Esa yang pertama harus di realisasikan adalah mewujudkan suatu persatuan dalam suatu persekutuan hidup yang di sebut negara. Oleh karena itu persatuan adalah sebagai akibat adanya manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa , adapun hasil persatuan di antara individu-individu, pribadi-pribadi dalam suatu wilayah tertentu di sebut sebagai rakyat sehungga rakyat adalah merupakan unsur pokok negara.

(8)

sila pertama, sila kedua, sila ketiga dan sila kelima. Dalam hakikatnya dengan kesatuan yang bertingkat maka hakikat sila keempat itu adalah sebagai berikut, hakikat rakyat adalah penjumlahan manusia-manusia, semua orang, semua warga dalam suatu wilayah tertentu. Maka secara ontologis adanya rakyat adalah sebagai akibat bersatunya manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa yang menyatukan diri dalam satu wilayah negara tertentu. Hal ini mengandung arti bahwa negara adalah demi kesejahteraan rakyatnya. Maka tujuan dari negara adalah terwujudnya masyarakat yang berkeadilan, terwujudnya keadilan dalam hidup bersama (keadilan sosial).

(9)

BAB III

Penutup 2.4 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa Pancasila sebagai sistem filsafat adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan, saling bekerjasama antara sila yang satu dengan sila yang lain untuk tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh yang mempunyai beberapa inti sila, nilai dan landasan yang mendasar.

2.5 Saran

Dalam makalah ini penulis berkeinginan memberikan saran kepada pembaca agar ikut peduli dalam mengetahui sejauh mana kita mempelajari tentang filsafat, filsafat pancasila, dan pancasila sebagai sistem filsafat. Semoga dengan makalah ini para pembaca dapat menambah cakrawala ilmu pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA

 Kaelan. 2002. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.

(10)

Referensi

Dokumen terkait

Setelah mendapat penjelasan dari penelitian tentang “ Pengetahuan dan Sikap ibu Hamil Trimester III terhadap Pencegahan Anemia Defisinesi Zat Besi di Klinik Cahaya Kecamatan

RESIKO AUDIT.. Unsur Resiko Audit Resiko Bawaa n Resiko Bawaa n Resiko Detek si Resiko Detek si Resiko Pengendali an Resiko Pengendali an.. Jika auditor mempertahankan

al, paradigm pendidikan Islam upaya mengefektifkan pendidikan agama Islam di sekolah , (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), hlm.75-80.. Pembelajaran merupakan suatu kombinasi

[r]

Secara umum, tujuan dilakukannya pleurodesis adalah untuk mencegah berulangnya efusi berulang (terutama bila terjadi dengan cepat), menghindari torakosintesis berikutnya dan

Based on the results and discussion that has been obtained, it can be concluded that: The process of application of learning models of children learning in

[r]

40 Di samping itu, keyakinan self-efficacy juga mempengaruhi cara atas pilihan tindakan seseorang, seberapa banyak upaya yang mereka lakukan, seberapa lama mereka akan