BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Istilah perkembangan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Perkembangan individu pada tiap tahunnya akan selalu berbeda seiring dengan pertumbuhannya , proses ia menjadi sosok yang lebih dewasa di kemudian hari. Perkembangan dan pertumbuhan tak lepas dari otak (brain function) yang mempunyai andil besar dalam setiap perkembangan dan pertumbuhan manusia. Otak memiliki 4 cuping otak yang terdiri dari frontal (pemikiran), parietal ( sensasi tubuh) , occipital (visi, penglihatan ), dan temporal (pendengaran). Pada otak manusia terdapat hemisphere atau belahan otak yang memiliki spesialisasi fungsi dari satu belahan otak atau belahan lainnya (lateralisasi). Dalam individu yang utuh terdapat spesialisasi fungsi di beberapa area,yaitu :
1. Pemprosesan verbal bagian pemprosesan seperti bahasa. Kebanyakan individu,ucapan dan tata bahasa berada di belahan kiri otak. Namun tidak semua proses bahasa berada di bagian kiri.
2. Pemprosesan non-verbal lebih dominan kepada proses informasi non-verbal, seperti emosi,pengenalan visual ( seperti pengenalan wajah).
Dalam setiap perkembangan individu apabila mendapatkan didikan yang baik, maka akan menghasilkan progress yang baik dan akan berpengaruh kepada n, perkembangan jiwa dan juga agamanya dimasa dewasanya. Namun, belum tentu semua akan sesuai dengan didikan pada awal pertumbuhannya, karena yang berperan terhadap tumbuh kembang seseorang , tidak hanya keluarga namun juga teman sebaya,dan lingkungan tempat belajar. Sikap seorang anak dapat dibentuk mulai dari sejak dia usia 6 tahun, dimana pada masa ini anak sudah dapat menangkap dengan baik apa yang disampaikan oleh orang lain. Anak yang dibiasakan dari kecilnya untuk bersikap positive , maka sampai pada ia besar akan berpengaruh hal yg positive dan juga berpengaruh terhadap jiwanya yang sehat.
PEMBAHASAN
Perkembangan Kognitif A. Pengertian kognitif
Istilah ‘cognitive’ berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang berpikir.1 Dalam perkembangannya, kemudian istilah kognitif menjadi populer
sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, pengolahan informasi, pemecahan masalah dan lainnya. Dalam hal nya, perkembangan kognitif terdapat 2 teori yang menguatkan perkembangannya, yaitu Teori perkembangan kognitif piaget dan Teori perkembangan Vygotsky.
B. Teori – teori perkembangan kognitif 1. Teori perkembangan kognitif piaget
Teori piaget mengatakan bahwa perkembangan mendahului pembelajaran. Dalam memahami dunia mereka secara aktif, anak – anak menggunakan skema (kerangka kognitif atau kerangka referensi). Skema adalah sebuah konsep atau kerangka yang eksis didalam pikiran seseorang/ individu yang dipakai untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi. 2 Skema bisa
merentang mulai dari skema sederhana sampai skema kompleks. Umumnya, skema ini tumbuh dan berkembang sesuai dengan umur setiap anak dan tergantung kepada kemampuan anak tersebut. Salah satu ahli ilmu saraf terkemuka bahkan mengatakan bahwa meski otak anak-anak mendapatkan banyak informasi pada tahun-tahun awal , sebagian besar proses belajar terjadi setelah formasi synaptic menjadi stabil, yaitu setelah usia 10 tahun ( Goldman-Rakic, 1996). Alasan mengapa anak-anak yang masih balita susah memfokuskan perhatian dan mempertahankan perhatian dalam jangka waktu yang lama adalah karena myelination dalam area otak yang memfokuskan perhatian belum lengkap sampai akhir usia sekolah dasar ( Tanner, 1978).3 Aspek penting dari perkembangan otak di tingkat sel adalah peningkatan dramatis dalam
koneksi antara neuron (sel – sel saraf). Dalam suatu studi menyatakan bahwa otak anak – anak
1 Gagne dalam jamaris , 2006 . Posted by Oky Chandra , 2013.
2 Santrock, Jhon , psikologi pendidikan, hal. 46 (University of Texas )
tampak mengalami perubahan anatomis yang substansial antara usia 13 - 15 tahun. (Thomson dkk, 2000)
Piaget (1952) mengatakan bahwa ada dua proses yang bertanggung jawab atas cara anak menggunakan dan mengadaptasi skema mereka ;
1. Akomodasi : suatu proses mental yang terjadi ketika anak menyesuaikan diri dengan informasi baru. Akomodasi terjadi ketika anak menyesuaikan diri pada informasi baru. Yakni, anak menyesuaikan skema mereka dengan lingkungannya.
2. Asimilasi : suatu proses mental yang terjadi ketika seorang anak memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada. Asimilasi terjadi ketika seseorang anak memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang ada. Yakni, dalam asimilasi, anak mengasimilasikan kedalam suatu skema .
Dalam teori Piaget,terdapat 4 tahap perkembangan kognitif, yaitu :
1. Tahap Sensorimotor (Dari kelahiran sampai usia 2 tahun)
Tahap piagetian pertama , mulai dari kelahiran sampai sekitar usia 2 tahun, dimana bayi membangun pemahaman tentang dunia dengan mengoordinasikan pengalaman indra dengan gerakan motorik. Bayi membangun pemahaman dunia dengan mengoordinasikan pengalaman indrawi dan tindakan fisik. Bayi melangkah maju dari tindakan instingual dan refleksi saat baru saja lahir ke pemikiran simbolik, menuju akhir tahapan tersebut
2. Tahap praoperasional ( usia 2 tahun sampai 7 tahun).
Tahap ini lebih simbolis daripada tahap sensorimotor, tetapi tidak melibatkan pemikiran operasional.namun, tahap ini lebih bersifat egosentris dan intuitif daripada logis. Pemikiran pra-Operasional dibagi menjadi 2 sub tahapan :
A. Sub tahap fungsi simbolik ( antara usia 2 dan 4 tahun).
Dalam subtahap ini, anak melatih kemampuan untuk mewujudkan secara mental sebuah benda yang tidak ada. Hal tersebut akan memperluas dunia mental si anak menuju dimensi baru. Perkembangan bahasa yang cepat dan adanya permainan simbolik , merupakan contoh dari peningkatan dalam pemikiran rancangan yang kasar untuk menggambar rumah, mobil, awan dan banyak aspek lain di dunia. Meskipun anak mengalami kemajuan tersendiri dalam subtahap ini, pemikiran praoperasional mereka masih mempunyai 2 batasan penting, yaitu egosentrime dan animisme.
Animisme adalah karakteristik pemikiran praoperasional. Animisme merupakan keyakinan bahwa benda mati mempunyai sifat “ seperti makhluk hidup” dan mampu bertindak.
B. Subtahap pemikiran intuitif ( usia 4 sampai 7 tahun).
Pada subtahap ini, anak – anak mulai menggunakan pemikiran primitif dan ingin mengetahui jawaban untuk semua jenis pertanyaan. Mereka tampak sangat yakin dengan pengetahuan mereka dalam subtahap ini, tetapi tidak sadar akan begaimana mereka mengetahui apa yang mereka ketahui.
Pada tahap pra-operasional , terdapat karakteristik pemikiran yang disebut sentrasi (centration), yang melibatkan pemfokusan (pemusatan) perhatian pada satu karakteristik sehingga menghilangkan karakteristik yang lainnya. Kemudian adanya konservasi (conservation), ide bahwa beberapa sifat dari satu objek tetap sama meskipun tampilan objek tersebut mungkin berubah ; kemampuan kognitif yang berkembang pada tahap operasional konkret, menurut piaget.
3. Tahap operasional konkret ( usia 7 – 11tahun)
Pada tahap ini, anak berpikir secara operasional dan pemikiran yang logis menggantikan pemikiran intuitif tetapi hanya dalam situasi yang konkret ; keterampilan mengklarifikasikan ada , tetapi persoalan abstrak akan menimbulkan kesulitan. Operasi konkret adalah tindakan mental yang bisa bolak – balik dan berkaitan dengan objek yang nyata dan konkret. Operasi konkret memungkinkan anak untuk mengoordinasikan beberapa karakteristik daripada berfokus pada satu sifat benda. Pada tahapan ini, anak secara mental mampu melakukan apa yang sebelumnya hanya bisa dilakukan secara fisik, dan mereka bisa membalikkan operasi yang konkret.
4. Tahap operasional formal (usia 11 – 15 tahun)
3. Teori Vygotsky
Teori ini menyatakan bahwa pembelajaran mendahului perkembangan. Bagi Vygotsky , pembelajaran melibatkan pemerolehan tanda – tanda melalui pengajaran dan informasi dari orang lain.
Ada 3 klaim dalam inti pandangan Vygotsky, yaitu :
(1) keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisa dan diinterpretasikan secara developmental
(2) kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa , dan bentuk diskursus yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan mentransformasikan aktivitas mental.
(3) kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.
Menurut Vygotsky,untuk memahami fungsi kognitif kita harus memeriksa alat yang memperantarai dan membentuknya, dan alat yang paling penting adalah bahasa. Vygotsky berpendapat bahwa pada masa kanak – kanak awal (early chilhood),bahasa mulai digunakan sebagai alat yang membantu anak untuk merancang aktivitas dan memecahkan problem. Dalam teorinya ia juga mengungkapkan bahwa kemampuan kognitif berasal dari hubungan sosial dan kultur. Vygotsky mengatakan bahwa perkembangan anak tidak bisa dipisahkan dari kegiatan sosial dan kultural. Perkembangan memori, perhatian dan nalar melibatkan pembelajaran untuk menggunakan alat yang ada dalam masyarakat.
Sikap
A. Pengertian sikap
reaksi/respons terhadap sesuatu rangsangan/stimulus, yang disertai dengan pendirian dan perasaan orang itu. Tiap orang mempunyai sikap yang berbeda-beda terhadap suatu perangsang. Ini disebabkan oleh berbagai faktor yang ada pada individu masing-masing seperti adanya perbedaan dalam bakat, minat, pengalaman, pengetahuan, intensitas perasaan, dan juga situasi lingkungan.
B. Perkembangan Sikap
Menurut Ellis; faktor – faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan sikap anak-anak yang perlu diperhatikan di dalam pendidikan ialah : kematangan ( maturation ), keadaan fisik anak, pengaruh keluarga, lingkungan sosial, kehidupan sekolah, guru, kurikulum sekolah, dan cara guru mengajar.4 Pada awal masa kanak-kanaknya, biasanya
anak-anak akan mengidentifikasi diriya dengan ibu atau ayahnya atau orang lain yang dekat dengannya. Sedangkan masa selanjutnya sesuai dengan perkembangan pergaulan dan pandangan anak-anak mulai mengidentifikasi dirinya dengan tokoh-tokoh, pahlawan-pahlawan, pimpinan masyarakat atau orang-orang yang berprestasi dalam bidang olahraga dan sebagainya. Hal tersebut berpengaruh pada perkembangan sikap anak. Berikut beberapa proses pembentukan sikap anak, antara lain :
1. Imitasi (Imitation) : perniruan sikap, cara pandang serta tingkah laku orang lain yang dilakukan dengan sengaja oleh anak. Pada umumnya anak mulai mengadakan imitasi atau peniruan sejak usia 3 tahun, yaitu meniru perilaku orang lain yang ada disekitarnya. Seringkali anak tidak hanya meniru perilaku misalnya gerak tubuh, rasa senang atau tidak senang, sikap orang tua terhadap agama dan sebagainya. Tetapi ekspresi orang lain terhadap sesuatu, antara lain menirukan orang marah, menangis bergembira dan sebagainya. Pada umumnya anak suka menirukan segala sesuatu yang dilakukan oleh orang tuanya.
2. Internalisasi : suatu proses yang merasuk pada diri seseorang (anak) karena
tersebut faktor yang paling penting adalah adanya keyakinan dan kepercayaan pada diri individu atau anak tersebut terhadap pandangan atau nilai tertentu dari orang lain, orang tua, kakak atau kelompok lain dalam pergaulan sehari-hari.
3. Introvert dan Ekstrovert
Introvert adalah kecenderungan seseorang untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya, minat, sikap atau keputusan-keputusan yang diambil selalu berdasarkan pada perasaan, pemikiran dan pengalamannya sendiri. Orang yang berkecenderungan introvert biasanya bersifat pendiam dan kurang bergaul bahkan seakan-akan tidak memerlukan bantuan orang lain, karena kebutuhannya dapat dipenuhi sendiri.
Ekstrovert adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian keluar dirinya, sehingga minat, sikap dan keputusan-keputusan yang diambil lebih banyak ditentukan oleh orang lain atau berbagai peristiwa yang terjadi di luar dirinya.
Orang yang berkecenderungan ekstrovert biasanya mudah bergaul, ramah, aktif, banyak berinisiatif serta banyak teman.
4. Kemandirian : kemampuan seseorang untuk berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain baik dalam bentuk material maupun moral. Sedangkan pada anak kemandirian sering kali dikaitkan dengan kemampuan anak untuk melakukan segala sesuatu berdasarkan kekuatan sendiri tanpa bantuan orang dewasa. Misalnya mengikat tali sepatu dan lain-lain. Dasar kemandirian adalah adanya rasa percaya diri seseorang untuk menghadapi sesuatu dalam kehidupan sehari-hari.
5. Ketergantungan (Overdependency) , ditandai dengan perilaku anak yang
bersifat "kekanak-kanakan", perilakunya tidak sesuai dengan anak lain yang sebaya usianya. Dengan kata lain anak tersebut memiliki ketidak mandirian, yang mencakup fisik dan mental dan perilakunya berlainan dengan anak "normal”.
6. Bakat (Aptitude) : potensi dalam diri seseorang yang dengan adanya rangsangan tertentu meungkin orang tersebut dapat mencapai sesiatu tingkat kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus yang sering kali melebihi orang lain.Bakat tersebut juga terdapat semenjak masa kanak-kanak. Aktivitas anak sudah dapat mencerminkan bakat tertentu. Menurut ilmu pengetahuan ada dua jenis bakat yang dimiliki dan dapat dikembangkan, yaitu :
b. Bakat yang diperlukan untuk berhasil dalam tipe pendidikan tertentu atau pendidikan khusus, misalnya bakat melihat ruang (dimensi) yang diperlukan oleh orang arsitek, bakat semacam ini disebut juga scholastic aptitude.
Perkembangan Intelektual A. Pengertian intelektual
Menurut kamus Webster New World Dictionary of the American Language, istilah intellect berarti :
1. Kecakapan untuk berfikir, mengamati atau mengerti ; kecakapan untuk mengamati hubungan-hubungan, perbedaan-perbedaan, dan sebagainya. Dengan demikian kecakapan berbeda dari kemauan dan perasaan,
2. Kecakapan mental yang besar, sangat intelligence, dan 3. Pikiran atau intelligensi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa intelek adalah suatu kecakapan mental, yang menggambarkan kemampuan berpikir. Intelegensi merupakan kemampuan seseorang dalam berpikir dan bertindak.5
B. Perkembangan Intelektual
Pada usia sekolah dasar, anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menurut kemampuan kognitif ( seperti membaca, menulis, dan menghitung atau CALISTUNG ). Sebelum masa ini, yaitu masa prasekolah ( usia Taman Kanak-kanak atau Raudhatul Athfal ), daya pikir anak masih bersifat imajinatif, berangan-angan atau berhayal, sedangkan pada usia SD/MI daya pikirnya sudah berkembang kearah berpikir konkret dan rasional. Kemampuan intelektual pada masa ini sudah cukup untuk menjadi dasar diberikannya berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan pola pikir atau daya nalarnya. Kepada anak sudah dapat diberikan dasar-dasar keilmuan, seperti CALISTUNG. Disamping itu, kepada anak juga sudah dapat memberikan dasar-dasar pengetahuan yang terkait dengan kehidupan manusia, hewan, lingkungan alam, lingkungan sosial budaya, dan agama.
lain yang dapat dilakukan sekolah, dalam hal ini para guru dalam mengembangkan kreativitas anak, adalah dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan, seperti perlombaan men garang, menggambar, menyanyi, drama, berpidato ( bahasa ibu dan Indonesia ), dan cerdas-cermat ( terklait dengan pelajaran matematika, IPA, IPS, bahasa, dan agama ).6
Pengaruh sikap terhadap perkembangan jiwa agama
Sikap anak yang ekstrovert akan memberikan hasil yang positive kedalam lingkungan sehari – hari. Sikap orang tua yang lembut namun tegas dalam mendidik anak akan membangun semangat anak untuk terus belajar dan mau untuk terus belajar.
Anak yang selalu diajarkan hal-hal yang baik, seperti menolong orang lain, meolong orang tua di rumah dan juga saling menghormati satu sama lainnya, akan menumbuhkan sikap tanggung jawab dan juga rasa toleransi yang baik untuk masa yang akan datang. Apabila anak sejak kecilnya sudah diberikan rasa tanggung jawab, maka jiwanya merasa adanya sikap memiliki terhadap hal lainnya, tidak adanya rasa acuh tak acuh dalam dirinya. Contoh lainnya, anak laki-laki berusia 5 tahun, sudah diajarkan oleh ayahnya untuk shalat berjamaah di mesjid, sampai ia berusia 8 tahun dia masih mengikuti ayahnya. Pada saat usianya 10 tahun, dia akan tergerak dengan sendirinya untuk melangkahkan kakinya ke mesjid untuk shalat berjamaah meskipun ayahnya tidak ke mesjid. Dalam hal ini, jiwanya sudah merasa nyaman dengan hal itu, dan apabila dia tidak melakukannya ada rasa gundah padadirinya, dan itu berpengaruh terhadap perkembangan agamanya. Jelas dalam islam dinyatakan bahwa laki-laki baiknya melakukan shalat jamaah di mesjid, dan itu sudah tertanam pada dirinya sejak kecil dan menjadi kebiasaan pada saat dia dewasa.
Pengaruh kognitif terhadap perkembangan jiwa agama
Dalam tahapan kognitif, anak yang berusia dewasa dia akan terus menerus mencari pengetahuan yang dia butuhkan, bahkan hal sekecilpun jika ia tidak tahu, maka dia akan mencari tau. Apabila pada masa kecilnya hanya mengetahui bahwa kewajiban seorang muslim ialah mengerjakan shalat 5 waktu dan berpuasa pada bulan Ramadhan. Pada masa dewasanya ia akan mencari tau, manfaat dari berpuasa , manfaat daripada gerakan shalat. Hal ini berpengaruh terhadap dirinya, pengetahuan-pengetahuan tersebut selain menambah wawasannya juga menambah semangatnya untuk beribadah kepada Allah Swt.
Dalam hal lain, orang tua mengajarkan kepada anaknya untuk membaca doa sebelum tidur dengan menjelaskan bahwa doa sebelum tidur dibaca agar terhindar dari mimpi buruk. Dengan demikian, anak akan termotivasi diri dan terus menjadi kebiasaan karena mereka telah mengingat apa yang disampaikan. Kognitif seorang anak akan tumbuh berkembang sesuai
dengan pertumbuhannya . anak yang tidak mendapatkan didikan secara sempurna akan susah berkembang. Didikan orangtua sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak dalam hal jiwa dan jugaagamanya.
Pengaruh intelektual terhadap perkembangan jiwa agama
Individu yang memiliki intelektual yang baik, akan dapat memahami dan mencerna bagaimana proses dia mencari jati dirinya sehingga ia dapat menentukan arah tujuan hidup (future goals). Manusia lahir secara suci dan pada umumnya dia memiliki hak mutlak termasuk dengan hak memeluk agama,orang tuanya lah yang membawanya kedalam agama yang mana sesuai dengan apa yang dianut oleh orang tuanya. Pada tiap anak yang terus tumbuh dan berkembang, ia akan mencari tau atau bertanya mengenai berbagai hal yang menyangkut dengan agamanya. Kemampuan daya tangkapnya yang cepat dan aktif, memudahkannya untuk cepat mendapatkan jawaban sesuai dengan yang diharapkan. Intelektual seseorang akan sangat berpengaruh kepada perkembangan jiwa dan juga agamanya. Pada tiap individu, telah tertanam nilai – nilai yang baik, namun kembali kepada bagaimana individu tersebut menempatkannya. Kuat atau tidaknya iman seseorang tidak dapat diukur dari intelektualnya,namun sudah pasti orang yang memiliki intelektual yang tinggi , dia akan berkontribusi dan akan terus mendalami ilmu agamanya.
BAB III KESIMPULAN
menjadi sebagai sebuah patokan untuk dirinya, sejauh ia mampu mengembangkan potensi otaknya untuk terus berinovasi dan berkreasi sesuai dengan minat – bakatnya. pada tiap individu telah ditanamkan nilai., moral, sikap dan juga harapan kelak dia dewasa oleh tiap – tiap orang tuanya. Untuk mencapai keberhasilannya, maka dari itu perkembangan kognitif,sikap dan intelektual akan terus berkembang dan juga akan terus diasah sesuai dengan tahap pertumbuhannya hingga ia dewasa.
Daftar pustaka
Sahertian, P.A., 2000 . Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia . Jak
Purwanto,M.Ngalim.2013. psikologi pendidikan.Bandung : PT remaja rosdakarya Setiono,Kusdwiratri. psikologi perkembanga.Jakarta:Erlangga
H. Sunarto dan Ny. B. Agung Hartono.2002. perkembangan peserta didik.Jakarta : PT Rineka Cipt
Yusuf LN, Syamsu dan M.Sugandhi, Nani.2011.perkembangan peserta didik.Depok: PT Rajagrafindo persada.
Sudaryono, 2012. Dasar – dasar evaluasi pembelajaran. Yogyakarta : Graha Ilmu. Jhon, Santrock. 2012. Educational Psychology. University of Texas at Dallas .