DAMPAK EVOLUSIONISME DAN GLOBALISASI TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT INDONESIA
TUGAS INDIVIDU
Diajukan Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perubahan Sosial
Oleh:
BURHAN JAELANI H. (131510601071)
PROGRAM STUDI AGRIBSINIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memerlukan adanya kehadiran serta bantuan orang lain, perlunya individu lain dalam kehidupan manusia mutlak harus dipenuhi guna mencapai kepuasan hidup. Kehadiran orang lain menjadikan manusia melakukan banyak kegiatan bersama-sama seperti bekerjasama, gotong royong, bertentangan, berkomunikasi sebagai upaya untuk mencapai keharmonisan hidup. Ketergantungan antar manusia memberikan kesadaran untuk saling berkelompok dan bekerjasama untuk mencapai tujuannya masing-masing.
Kelompok manusia atau masyarakat sejatinya memiliki keterampilan dan kemajuan dalam bidang tertentu, keterampilan ini memiliki tingkatan yang berbeda-beda yang dapat dilihat dari sikap dan kondisi lingkungan masyarakat. Bagi masyarakat yang sudah maju terus menciptakan teknologi baru yang efisien dan berkelanjutan, namun bagi masyarakat yang sedang berkembang adalah mengembangkan energi dan teknologi yang sudah ada dengan menggunakan sumberdaya secara maksimal. Tingkatan yang berbeda ini mendorong masyarakat berkembang untuk terus melakukan evolusi diri guna mencapai pemanfaatan sumberdaya yang efisien.
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Evolusionisme
Dalam artian Epistimologi, Evolusi berarti perubahan secara perlahan namun pasti menuju kesuatu titik. Sedangkan Teori Evolusi Sosial yang dipopulerkan oleh Sir Herbert Spencer (1820-1903), yang menyatakan bahwa masyarakat berkembang dari bentuk yang sederhana, tidak teratur menjadi bentuk yang koheren dan teratur. Evolusi Sosial digambarkan sebagai serangkaian perubahan sosial pada masyarakat yang berlangsung lama dan berawal dari kelompok suku dan/atau masyarakat sederhana dan homogen kemudian secara bertahap menjadi masyarakat yang lebih maju dan akhirnya menjadi masyarakat modern yang heterogen, kompleks dan diferensiasi fungsi.
Evolusi bisa di definisikan sebagai suatu perubahan atau perkembangan, seperti perubahan sederhana menjadi kompleks. Perubahan itu biasanya dianggap bersifat lambat laun. Paradigma yang berkaitan dengan konsep evolusi tersebut adalah evolusianisme yang berarti cara pandang yang menekankan perubahan lambat laun menjadi lebih baik atau lebih maju dari sederhana menjadi kompleks. Sebagai kebalikan dari evolusi adalah revolusi yang berarti perubahan yang cepat. Tak berlebihan bila dikatakan bahwa evolusionisme adalah landasan awal bagi pembentukan berbagai paradigma dalam antropologi.
Menurut para ahli, meskipun sebagian paradigma pada masa kini menyatakan secara implisit atau eksplisit tidak sepakat, atau tidak memandang sentral, eksplanasi evolusionisme, khususnya bagi memahami masyarakat dan kebudayaan, secara sadar atau semua antropolog dan juga ahli ilmu sosial lainnya menggunakan ungkapan-ungkapan evolusionistik dalam menaggapi gejala sosial tertentu.
meminjam hal-hal baru dan prilaku dari kebudayaan lain. Sebagai contoh, cara bertanam jagung di suatu daerah dapat diterapkan juga di daerah-daerah lain. Mengenai syarat reproduksi diferensial, tidak menjadi persoalan unsur tertentu genetik atau dipelajari. Ketidakkonsistenan prilaku akan menjurus kepada kepunahan sama halnya seperti di proporsisi morfologi atau difesiensi pada suatu organ vital. Prilaku juga cenderung mengalami seleksi seperti halnya seleksi terhadap ukuran tubuh atau resitansi terhadap penyakit.
Selama spesies manusia terus eksis, tak ada alasan seleksi alam atas ciri biologi dan kebudayaan berhenti. Namun, evolusi tergantung pada aneka ragam perubahan yang kerap kali tidak bisa diprediksi dalam hal lingkungan fisisk dan sosial (jolly, 1989 : Ridley, 1991). Dalam antropologi, ada empat alur besar pemikiran evolusionis, yakni unilinear, universal, dan multilinear, ditambah neo Darwinisme. Tiga alur pertama adalah pendekatan gradualis dengan label pemikiran Yunani. Anaximander (611-546 SM) mengembangkan suatu pandangan lengkap tentang evolusi kosmos yang berasal dari apeiron yang juga menjadi tujuan kem¬bali segala hal, termasuk manusia. Herakleitos (533- – 475 SM) mengajarkan bahwa segala sesuatu mengalir dan tak satu hal pun bisa menghalangi proses itu. Walau ada logos rasional yang menjaga tertib segala se¬suatu, prinsip utama realitas adalah perubahan.
untuk muncul pada wujud lebih muda dan lebih baik. Menurut Aristoteles, hidup sendiri muncul melalui metamorfosis langsung dari zat anorganik. Dalam pergantian itu, yang pertama adalah tumbuhan, lalu hewan tetumbuhan, dan kemudian binatang yang dianugerahi penginderaan dan kekuatan berpikir sampai batas tertentu. Tingkat tertinggi adalah manusia yang dapat menggapai pemikiran abstrak. Aristoteles berpendapat bahwa proses alam adalah perjuangan menuju kesempurnaan sebagai ungkapan atau perwujudan dari prinsip me-nyempurnakan yang inheren dalam alam semesta. Ha¬silnya adalah evolusi dari yang rendah ke yang tinggi.
Dalam menjalani tahapan-tahapan perubahan tersebut setiap kelompok masyarakat mempunyai metode atau cara yang tidak sama karena menyesuaikan dengan unsur budaya lokal. Adalah pemikiran Auguste Comte sebelum Herbert Spencer, yang menitikberatkan bahwa masyarakat adalah pemimpin yang memiliki kedudukan dominan terhadap individu manusia pribadi. Darwinisme Sosial menggambarkan bahwa perubahan dalam masyarakat berlangsung secara evolusioner (lama) yang dipengaruhi oleh kekuatan yang tidak dapat diubah oleh perilaku manusia. Individu menjadi poros utama perubahan.
Meski masyarakat dapat dianalisis secara struktural, namun individu pribadi adalah dasar dari struktur sosial, karena Spencer memandang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan mengenai hakikat manusia secara inkorporatif. Struktur sosial dibangun untuk memenuhi keperluan anggotanya. Teori Spencer mengedepankan perjuangan hidup dan karenanya sangat cocok dengan perkembangan kapitalisme, liberalisme dan individualisme.
2.1.2 Perubahan Budaya Karena Evolusionisme
beberapa jenis teknik pertanian tradisional seperti teknik menumbuk padi dilesung diganti oleh teknik “Huller” di pabrik penggilingan padi. Peranan buruh tani sebagai penumbuk padi jadi kehilangan pekerjaan. Semua terjadi karena adanya salah satu atau beberapa unsur budaya yang tidak berfungsi lagi, sehingga menimbulkan gangguan keseimbangan didalam masyarakat. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian yaitu : kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi dan filsafat bahkan perubahan dalam bentuk juga aturan-aturan organisasi social. Perubahan kebudayaan akan berjalan terus-menerus tergantung dari dinamika masyarakatnya.
Ada faktor-faktor yang mendorong dan menghambat perubahan kebudayaan yaitu:
a. Mendorong perubahan kebudayaan
Adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki potensi mudah berubah, terutama unsur-unsur teknologi dan ekonomi ( kebudayaan material). Adanya individu-individu yang mudah menerima unsure-unsur perubahan kebudayaan, terutama generasi muda.Adanya faktor adaptasi dengan lingkungan alam yang mudah berubah.
b. Menghambat perubahan kebudayaan
Adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki potensi sukar berubah seperti : adat istiadat dan keyakinan agama ( kebudayaan non material), Adanya individu-individu yang sukar menerima unsure-unsur perubahan terutama generasi tu yang kolot.
Ada juga faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kebudayaan : 1. Faktor intern
a) Perubahan Demografis
b) Konflik sosial
Konflik social dapat mempengaruhi terjadinya perubahan kebudayaan dalam suatu masyarakat: konflik kepentingan antara kaum pendatang dengan penduduk setempat didaerah transmigrasi, untuk mengatasinya pemerintah mengikutsertakan penduduk setempat dalam program pembangunan bersama-sama para transmigran.
c) Perubahan lingkungan alam
Perubahan lingkungan ada beberapa faktor misalnya pendangkalan muara sungai yang membentuk delta, rusaknya hutan karena erosi atau perubahan iklim sehingga membentuk tegalan. Perubahan demikian dapat mengubah kebudayaan hal ini disebabkan karena kebudayaan mempunyai daya adaptasi dengan lingkungan setempat.
2. Faktor ekstern a) Perdagangan
Indonesia terletak pada jalur perdagangan Asia Timur denga India, Timur Tengah bahkan Eropa Barat. Itulah sebabnya Indonesia sebagai persinggahan pedagang-pedagang besar selain berdagang mereka juga memperkenalkan budaya mereka pada masyarakat setempat sehingga terjadilah perubahan budaya dengan percampuran budaya yang ada.
b)Penyebaran agama
Masuknya unsur-unsur agama Hindhu dari India atau budaya Arab bersamaan proses penyebaran agama Hindhu dan Islam ke Indonesia demikian pula masuknya unsur-unsur budaya barat melalui proses penyebaran agama Kristen dan kolonialisme.
c) Peperangan
2.2 Globalisasi
Menurut Edison A. Jamli Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bangsa-bangsa di seluruh dunia. b. Sartono Kartodirjo berpendapat bahwa proses globalisasi sebenarnya merupakan gejala sejarah yang telah ada sejak jaman prasejarah. Beberapa contoh antara lain bangsa-bangsa dari Asia ke Eropa, ke Amerika, dari Asia ke Nusantara, dan lain-lain. Berdasarkan tinjauan sejarah, Indonesia sebenarnya telah lama mengalami proses globalisasi. Konsep globalisasi dipahami sebagai kegiatan ekonomi, teknologi serta komunikasi. Revolusi informasi mengarahkan kita ke dalam milenium ketiga yang tidak hanya menawarkan berbagai peluang baru tetapi juga tantangan baru bagi umat manusia.
Globalisasi meliputi lebih luas daripada sekedar isu-isu perdagangan internasional dan produktivitas. Adanya penyebaran perusahaan-perusahaan secara internasional, pertumbuhan pasar dan modal secara internasional, dimana mata uang dapat dipertukarkan secara mudah walaupun menyeberang perbatasan antar negara, peningkatan perdagangan, hukum dan kebijakan internasional. Hal ini membentuk struktur industri dan meningkatkan persaingan. Hal yang sangat menonjol dalam era globalisasi adalah tingginya dinamika perubahan dan persaingan yang terjadi dalam semua sektor kehidupan.
Globalisasi berlangsung dengan cepat dan melanda semua bangsa dan semakin bertambah dalam kancah internasional baik dalam jangkauan maupun peran.
2.2.1 Dampak Globalisasi Di Beberapa Bidang Kehidupan 1. Bidang Ekonomi
Globalisasi ekonomi ini sesungguhnya didukung oleh sebuah kekuatan yang luar biasa hebatnya, yaitu apa yang disebut liberalisme ekonomi, yang sering juga disebut kapitalisme pasar bebas. Kapitalisme adalah suatu sistem ekonomi yang mengatur proses produksi dan pendistribusian barang dan jasa. Kapitalisme ini mempunyai tiga ciri pokok :
a. Sebagian besar sarana produksi dan distribusi dimiliki oleh individu b. Barang dan jasa diperdagangkan di pasar bebas yang bersifat kompetitif. c. Modal diinvestasikan ke dalam berbagai usaha untuk menghasilkan laba.
Dalam perkembangannya sistem kapitalisme ini berkembang tidak sehat, karena timbulnya persaingan tidak sehat dan mengabaikan unsur etika dan moral. Dimana yang modalnya kuat akan menguasai yang modalnya lemah, akhirnya Pemerintah harus ikut mengaturnya.
konsumtif yang dibutuhkan, membuka lapangan kerja bagi yang memiliki keterampilan, dapat mempermudah proses pembangunan industri, juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
2. Bidang Sosial Budaya Dalam bidang sosial dan budaya
Dampak globalisasi antara lain adalah meningkatnya individualisme, perubahan pada pola kerja, terjadinya pergeseran nilai kehidupan dalam masyarakat. Saat ini di kalangan generasi muda banyak yang seperti kehilangan jati dirinya. Mereka berlomba-lomba meniru gaya hidup ala Barat yang tidak cocok jika diterapkan di Indonesia, seperti berganti-ganti pasangan, Melestarikan budaya daerah merupakan konsumtif dan hedonisme. Namun di sisi lain globalisasi upaya dapat bagian dari juga mempertahankan jatidiri bangsa. mempercepat perubahan pola kehidupan bangsa. Misalnya melahirkan pranatapranata atau lembaga-lembaga sosial baru seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi profesi dan pasar modal. Perkembangan pakaian, seni dan ilmu pengetahuan turut meramaikan kehidupan bermasyarakat.
3. Bidang Politik Bidang politik-pun tidak luput dari pengaruh globalisasi.
Saat ini kita telah menyaksikan terciptanya suatu pemerintahan dunia (world government). Hampir semua aktivitas negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia tunduk pada aturanaturan yang diciptakan oleh lembaga-lembaga internasional yang mengatur tata hubungan antara negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia. Badan-badan internasional memegang peranan yang signifikan di era globalisasi. Negaranegara kuat di dunia seringkali dapat dengan mudah mencampuri urusan dalam negeri suatu negara. Amerika Serikat telah tampil sebagai kekuatan politik utama di dunia, karena negara itulah yang paling kuat ekonomi dan sistem persenjataannya. Setiap saat negara-negara di dunia dapat mengalami instabilitas akibat intervensi negara dan bangsa lain terhadap urusan dalam negeri suatu negara
2.2.2 Cara Menyikapi Globalisasi
mungkin, maka akan mengurangi dampak negative Globalisasi atau bahkan mungkin damapk negatifnya dapat kita hilangkan. Berkaitan dengan dampaknya dibidang social budaya, maka sebagai generasi muda penerus bangsa, kita harus mengambil sikap untuk menghadapi Globalisasi, diantaranya:
1. Meningkatkan Kualitas Nilai Keimanan Dan Moralitas Masyarakat
Meskipun Globalisasi datang dengan setumpuk pengaruh negative, namun dengan perisai keimanan dan moral yang tinggi, maka pengaruh Globalisasi khususnya yang menimbulkan sifat-sifat seperti matrealistis, hedonisme, permisif, dan lain-lain tidak akan bisa menguasai diri kita. Maka keimanan dan moral kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara perlu dibenahi dan ditingkatkan lagi.
2. Meningkatkan Jiwa Dan Semangat Persatuan, Kesatuan, Dan Nasionalisme Lunturnya sikap gotong-royong, tolong-menolong yang telah diajarkan oleh nenek moyang kita diakibatkan kurangnya rasa persatuan. Jiwa indivisualisme lebih kental pada setiap individu. Rasa kesatuan dan Nasionalisme pun ikut pudar karena lebih memilih hal-hal yang menguntungkan saja. Perlu adanya kesadaran diri untuk memupuk dan meningkatkan rasa persatuan, kesatuan dan Nasionalisme
3. Melestarikan Kebudayaan Dan Adat Istiadat Daerah
Jika bukan kita sendiri sebagai generasi muda yang turut melestasikan warisan budaya leluhur, lalu adakah orang lain? Kebiasaan yang ada dalam masyarakat pun mulai hilang ketika Globalisasi dating. Globalisasi perlahan-lahan dapat mengikir budaya asli. Ini sangat berbahaya. Sebagai generasi muda, kita harus melestarikan budaya dan adat istiadat daerah bersam-sama
Setelah nilai globalisasi menyatu dengan nilai dasar budaya bangsa maka kita sebagai bangsa yang berdaulat berkewajiban menumbuhkan rasa kebanggaan sebagai bangsa, yakni dengan cara mendidik anak bangsa agar menjadi manusia Indonesia yang dilandasi oleh nilainilai budaya bangsa dan memiliki kemampuan untuk ber kompetisi dalam dunia global. Sikap positif lain yang perlu dikembangkan untuk bisa berperan di era globalisasi adalah sebagai berikut:
b) Meningkatkan motif berprestasi c) Meningkatkan kualitas/mutu d) Selalu berorientasi ke masa depan.
Selalu berusaha untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai penyaring terhadap pengaruh globalisasi yang bersifat negatif. Terlebih lagi kita memiliki Pancasila yang merupakan penyaring terhadap pengaruh globalisasi. Kita sebagai warga negara Indonesia harus memiliki sikap dan usaha untuk menghadapi pengaruh dari proses globalisasi, di antaranya sebagai berikut. Selalu meningkatkan penghayatan dan pengamalan kita terhadap Pancasila untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
a) Selalu meningkatkan ilmu pengetahuan kita agar dapat menilai mana yang dianggap baik dan benar terhadap pengaruh globa lisasi.
b) Selalu meningkatkan pendidikan dan keterampilan kita agar dapat menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu bersaing dengan bangsa lain. c) Selalu meningkatkan penguasaan kita terhadap teknologi modern di segala
bidang sehingga tidak tertinggal dan bergantung pada bangsa lain.
d) Selalu mempertahankan dan melestarikan budaya lokal tradisional agar tidak digantikan oleh budaya bangsa asing.
e) Selalu meningkatkan kualitas produk hasil produksi dalam negeri sehingga dapat igunakan dan selalu dicintai oleh masyarakat dalam negeri. Selain itu, produk hasil produksi dapat bersaing dan dapat merebut pasar lokal serta internasional.