PERJALANAN PARA INTELEKTUAL DAN PENCARIAN KEMBALI KEMANUSIAAN1
Manneke Budiman2
Ilmu-ilmu sosial-humaniora telah beberapa
waktu lamanya berada dalam krisis, meski tak
semua orang yang menekuni kedua bidang
ini menyadarinya. Eksplorasi teoretis yang
esktrem terhadap struktur dan bentuk, serta
perkembangan teori-teori kritis yang diilhami
oleh posmodernisme, telah menyebabkan
ilmu-ilmu sosial-humaniora tenggelam dalam keasyikan
mengutak-atik bentuk secara pedantik serta
kecanduan permainan imajinasi dan bahasa yang
tak berbatas.
Pangkal persoalannya sesungguhnya sangatlah klasik. Sebagai ilmu-ilmu yang berurusan dengan kehidupan dan perilaku manusia, baik sebagai individu maupun sosial, wajar bila ilmu-ilmu sosial-humaniora dituntut untuk memiliki komitmen sosial. Ilmu-ilmu ini diharapkan dapat membuka jalan bagi perubahan sosial dan berdampak nyata pada kehidupan sehari-hari manusia di lingkungan sosial masing-masing. Ini sebabnya mengapa para antropolog rela berbulan-bulan tinggal di tempat-tempat terpencil yang jauh dari peradaban dan para filolog rela menghabiskan banyak waktu untuk memahami, mentransliterasi dan menerjemahkan naskah-naskah kuno, atau para arkeolog dan sejarawan berepot-repot merekonstruksi masa lampau. Ada keyakinan kuat, seberapa pun bermasalahnya keyakinan ini (sebab kini keyakinan itu dianggap sebagai ilusi belaka), bahwa semua jerih payah itu terbayar
1 Makalah untuk menyambut peluncuran Jurnal Kebudayaan
Kalam online di Serambi Salihara, 16 Juli 2013, 16:00 WIB. Makalah ini telah disunting.
2 Manneke Budiman adalah pengajar Fakultas Pendidikan Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, Depok.
Ia meraih gelar Sarjana Sastra dari Jurusan Sastra Inggris UI. Se lanjutnya, ia me ngambil maste r Sastra Bandingan di Unive rsitas Wisconsin, Madison, Ame rika Se rikat, dan me rampungkan studi doktoral di bidang Studi Asia dari Unive rsitas British Columbia, Kanada.
MAKALAH
Perjalanan Para Intelektual dan
Pencarian Kembali Kemanusiaan
1
karena kiprah ilmiah mereka bagian tak terpisahkan dari proses-proses sosial yang terus berlangsung.
Lalu datang posmodernisme, yang dengan cepat dan agresif menjangkau nyaris semua cabang ilmu sosial dan humaniora. Yang menolak perkembangan mutakhir ini, atau terlalu ragu dan lamban meresponsnya, terancam dianggap ketinggalan zaman dan usang. Posmodernisme memang membawa revolusi dalam kedua bidang kajian kemanusiaan ini, serta membuka horizon pemikiran baru yang menyentak banyak pilar dan fondasi keilmuan yang selama itu dengan upaya keras hendak terus ditegakkan dan dikukuhkan oleh para ilmuwan sosial-humaniora. Kemampuannya mendayagunakan bahasa dan bermain-main dengan realitas seolah-olah memberi suntikan energi baru kepada imajinasi. Praktis, kita bisa berbicara apa saja tentang apa saja saat kita berpijak pada posmodernisme. Teori-teori kritis dan terminologi esoterik menjamur dan menjadi prasyarat bagi seorang ilmuwan untuk tetap eksis dan diakui oleh komunitas ilmiahnya.
Dalam dunia riset, bermunculan topik-topik dan tulisan-tulisan seksi, dramatis dan tak kekurangan kadar sensasi. Namun, dari segi isi, tulisan-tulisan itu tidak mengandung manfaat apa-apa kecuali untuk menopang upaya penulis mereka memperoleh nama besar dan meloloskan karya mereka ke dalam penerbitan-penerbitan bergengsi. Mereka berbicara dengan penuh semangat dan menggebu-gebu tentang berbagai persoalan sosial dan segudang problematika kehidupan yang dihadapi manusia tetapi sama sekali tidak punya minat atau kepedulian para realitas sosial yang nyata yang setiap hari terjadi di sekitar mereka. Yang malahan terjadi, berbagai isu sosial yang diangkat dalam riset dan tulisan itu bukannya menjadi kian gamblang kompleksitasnya melainkan menjadi kian tak terpahami oleh banyak pembaca karena terlalu banyaknya jargon dan konsepsi teoretis yang dijadikan sarana pengucapannya. Maka, kita pun menyaksikan lahir dan maraknya para pakar dan ilmuwan humaniora yang anti-humanis dan para periset sosial yang bersikap asosial. Tanpa ragu, saya menuding overdosis posmodernisme sebagai salah satu biang keladi munculnya gejala ini. Khususnya ketika para pelakunya menganggap tugas mereka sebagai ilmuwan hanya membongkar, sementara memikirkan alternatif yang lebih baik bukan bagian dari tanggung jawab mereka sebab mereka tak percaya pada adanya “solusi”. Karier mereka berkembang pesat dan popularitas mereka meroket menjadi selebritas-selebritas ilmu, tapi komitmen sosial mereka kering, kalau tak bisa disebut habis sama sekali.
hampir bisa dipastikan bahwa yang pertama akan memperoleh hibah berlimpah, sementara yang kedua masuk ke tempat sampah.
Kedua kekuatan dominan ini, walaupun satu dengan yang lain saling bertolak belakang, ironisnya dalam hal ini bekerja bahu-membahu meminggirkan ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Maka, agar sintas dan tak dicap mengidap “krisis relevansi”, para periset humaniora harus memutar otak dan memelintir judul proposalnya
sehingga kurang lebih bisa berbunyi, “Kearifan lokal dalam naskah Kakawin
Smaradahana serta potensi sumbangannya dalam membangun pekerti masyarakat di era otonomi daerah.” Yang penting produknya laku dijual, tanpa terlalu risau apakah bobotnya sudah pantas untuk dijadikan produk jualan. Di dalam atmosfer ilmiah seperti ini pula, riset-riset sosial-humaniora yang bersikeras untuk bertahan dengan gelimang posmonya pun terancam mati (meski para pelakunya kukuh menyangkali ancaman ini sebab, bagaimana pun juga, bagi mereka kematian hanyalah sebuah diskursus). Institusi riset mana dan lembaga donor mana yang rela mendanai riset-riset yang cuma asyik bersolek dan bergenit-genit tanpa hirau pada apa yang secara konkret bisa disumbangkannya untuk menginisiasi perubahan sosial?
Inilah krisis itu. Krisis ini secara keseluruhan mengarah pada hilangnya relevansi ilmu-ilmu sosial-humaniora di mata banyak orang, dan publik tidak lagi menengok ke ilmu-ilmu tersebut untuk mencari jawaban tatkala muncul persoalan sosial, budaya, politik dan ekonomi—atau kombinasi dua atau lebih dari aspek-aspek ini—di tengah-tengah masyarakat. Ini terbukti dengan makin sedikitnya sumber dana dan hibah yang diperuntukkan bagi pengembangan riset-riset sosial-humaniora, serta kecilnya jumlah jurnal ilmiah sebagai saluran publikasi karya-karya atau hasil-hasil riset di kedua bidang itu. Sebagai ilustrasi, data hasil kinerja dosen inti penelitian di Universitas Indonesia untuk periode 2011-2012 memperlihatkan bahwa total dana hibah yang diterima oleh bidang-bidang ilmu kesehatan mendekati Rp44 miliar, sains dan teknologi mencapai hampir Rp13 miliar, sementara untuk bidang-bidang sosial-humaniora jumlahnya tak lebih dari Rp6,5 miliar. Di bidang publikasi ilmiah, jumlah artikel ilmiah bidang-bidang kesehatan, sains dan teknologi yang terbit di jurnal-jurnal ilmiah baik nasional maupun internasional mencapai 135 judul (76 judul untuk ilmu-ilmu kesehatan dan 59 judul untuk bidang sains-teknologi), sementara di bidang sosial-humaniora tercatat 36 judul.3 Jumlah total dosen inti
penelitian bidang sosial humaniora (FE, FH, FIB, FISIP dan FPSI) pada periode tersebut di atas adalah 67 orang, sedangkan untuk bidang eksakta (FIK, FASILKOM, FK, FKG, FKM, FMIPA dan FT) adalah 101 orang.
Penerbitan ilmiah ini punya persoalannya sendiri. Komodifikasi ilmu pengetahuan secara masif juga melanda wilayah penerbitan. Tidak sedikit jurnal internasional yang memungut bayaran bagi setiap naskah yang dinilai layak terbit. Beberapa jurnal ilmiah nasional yang telah terakreditasi oleh Ditjen Dikti Kemendikbud pun melakukan hal yang sama. Besaran biaya yang harus disetor untuk penerbitan internasional mencapai US$500 sampai US$800 (bahkan kabarnya ada yang mematok tarif US$1.800 per naskah yang telah diterima), dan ini turut menjadi faktor penyebab menjamurnya jenis jurnal ilmiah “aspal” yang dikenal dengan istilah “predatory journal” (jurnal pemangsa). Beberapa di antara jurnal pemangsa ini bahkan ada yang berhasil terindeks dalam SCOPUS, sebuah basis data jurnal
3 Aska A.Y. & Citra W., “Hasil Kinerja Dosen Inti Penelitian Batch IV Tahun 2011/2012”.
yang bergengsi dan terbesar di dunia.4 Ada sebuah artikel ilmiah yang terbit pada
African Journal of Agricultural Research Vol. 7 (28), 4038-4044, 24 Juli 2012, berjudul “Mapping Indonesian Paddy Fields Using Multiple-temporal Satellite Imagery” dengan nama penulis Nono Lee, Agnes Monica dan Inul Daratista, yang naskahnya diterima dan lolos seleksi pada 22 Juni 2012! Para penulis tercatat sebagai periset pada Institute of Dangdut, beralamat di Jalan Tersesat no. 100, Jakarta 10000, Indonesia. Artikel yang sama diterima dan lolos terbit pada jurnal lain, Scholarly Journal of Agricultural Science Vol 2 (6),119-125, Juni 2012, dengan judul yang persis sama. Nama penulisnya berubah beberapa. Tertera dalam versi ini adalah Nono Lee dan Pejabat Palsu, dari Institute of Technology of Medan!
Pengalaman saya sendiri berbeda. Artikel saya pernah diterbitkan pada sebuah jurnal bergengsi di bidang cultural studies yang diterbitkan oleh penerbit internasional kondang, Taylor & Francis, yang adalah bagian dari Routledge. Memang saya tidak diharuskan merogoh kocek sama sekali untuk penerbitan tersebut alias gratis. Namun, anehnya, saya hanya boleh mengakses artikel tersebut secara daring untuk diri saya sendiri dan tidak diizinkan membagikannya kepada orang lain. Untuk mengaksesnya secara daring, seseorang harus membayar US$37 per artikel. Jadi, dengan kata lain, saya kehilangan hak cipta atas artikel tersebut sebagai imbalan bagi diterbitkannya artikel itu dalam jurnal bersangkutan. Semua keuntungan penjualan masuk ke dalam pundi-pundi penerbit. Akibatnya apa? Tidak banyak orang, khususnya di Indonesia, yang secara kontekstual sangat relevan dengan isi dan tema artikel, yang cukup gila untuk mau melepaskan uang sejumlah itu demi sebuah artikel, dan peluang mereka untuk merujuk pada artikel itu pun menjadi sangat terbatas, jika tidak tertutup sama sekali.
Maka, jika saya ditanya apakah saat ini di Indonesia masih diperlukan adanya jurnal lain di bidang kebudayaan, jawabannya sudah jelas. Tinggal soalnya, jurnal kebudayaan seperti apa? Sejauh saya tahu, jurnal-jurnal di bidang sosial-humaniora yang kini ada dan dinilai baik oleh Ditjen Dikti Kemendikbud sangat kesulitan untuk memenuhi jadwal penerbitan berkala yang tepat waktu sebab sangat tidak mudah mencari artikel berbobot yang pantas diterbitkan. Jurnal MAKARA Seri Sosial-Humaniora yang diterbitkan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat UI, misalnya, memiliki tingkat penolakan lebih dari 60%,5 sementara
Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya WACANA terbitan Fakultas Ilmu Budaya UI memiliki tingkat penolakan mencapai 40%-50%.6 Kedua jurnal ini adalah jurnal ilmiah
nasional terakreditasi. Jadi, tampaknya secara umum di Indonesia yang terjadi adalah tidak terdapat kelangkaan tulisan di bidang-bidang sosial-humaniora, tetapi yang bobotnya tinggi dan layak disebarluaskan lewat penerbitan jurnal jumlahnya sangat kecil. Atau, kemungkinan lain, tidak tersedia cukup banyak wadah berupa jurnal ilmiah untuk menampung sebanyak mungkin tulisan berbobot, sehingga akibatnya seleksi menjadi superketat dan banyak tulisan yang semestinya cukup penting dan menarik terpaksa terpental.
Untuk mengatasi persoalan ini, jurnal ilmiah-populer yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga non-akademik bisa menjadi alternatif. Memang, dalam paradigma Ditjen Dikti Kemendikbud, jurnal-jurnal ilmiah-populer ini kastanya dinilai lebih rendah daripada jurnal-jurnal ilmiah terbitan universitas atau organisasi profesi. Namun, hal ini janganlah sampai mengecilkan hati para pengelola maupun para
4 Agustino Z., “Jurnal Pemangsa: Kebuasan di Dunia Akademis”. DRPM Gazette, Vol. 6, No. 2, April
(Depok: Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia, 2013) 2-5.
5 Data diperoleh dari Citra Wardhani, M.Si., Editor Pelaksana Jurnal MAKARA Seri
Sosial-Humaniora.
pengirim artikelnya. Produksi dan diseminasi ilmu pengetahuan dewasa ini tak lagi bisa dimonopoli oleh lembaga pendidikan atau organisasi profesi resmi. Saya memandang bahwa justru secara strategis jurnal-jurnal ilmiah-populer ini punya peranan jauh lebih besar daripada jurnal-jurnal ilmiah terbitan universitas yang jumlahnya terbatas itu. Pada jurnal-jurnal inilah intelektual akademik bisa bertemu dan berdialog dengan para intelektual independen, selain juga membuka peluang bagi mereka untuk dapat meluaskan peranan menjadi intelektual publik. Bagi para intelektual independen, adanya jurnal-jurnal ilmiah-populer menyediakan forum alternatif bagi penerbitan tulisan-tulisan mereka di media massa, yang biasanya jauh lebih pendek dan serba tidak mendalam jangkauan analisisnya. Ada tantangan bagi mereka untuk menulis dengan lebih serius, lebih komprehensif, lebih analitis alih-alih sekadar membuat tulisan yang sarat dengan pernyataan-pernyataan belaka namun minus kedalaman, sebagaimana banyak dijumpai di kolom-kolom surat kabar. Sementara itu, bagi intelektual akademis, jurnal ilmiah-populer menantang mereka untuk mampu berkomunikasi secara lebih membumi dan lugas, sehingga pemikiran mereka dapat dijangkau oleh khalayak lebih luas.
Ketika di banyak universitas studi-studi kebudayaan kian dipersempit ruang gerak dan ruang hidupnya, bersemainya jurnal-jurnal kebudayaan di luar dinding-dinding universitas kain genting dibutuhkan, bukan untuk menampung pengetahuan tak laku yang oleh universitas-universitas hendak dikesampingkan, melainkan karena kita yakin bahwa kebudayaan kian menjadi kata kunci bagi pemahaman atas berbagai persoalan sosial yang berlangsung di depan mata kita, dalam hidup kita sehari-hari. Di samping itu, jelas masih terlihat adanya kegamangan di banyak kalangan tentang posisi dan signifikansi kebudayaan, sebagaimana terbukti dengan berpindahnya pengaturan kebudayaan dari satu kementerian ke kementerian lain dalam kurun waktu relatif singkat, serta dirumuskannya Rancangan Undang-Undang Kebudayaan pada saat ini oleh Kemendikbud. Ada ancaman nyata intervensi negara ke dalam wilayah kebudayaan, dan ada kekhawatiran bahwa kebudayaan sedang menghadapi politisasi yang sistematis dan formulaik. Di kalangan seniman dan pekerja budaya sendiri sudah cukup lama terdengar seruan bagi pentingnya upaya melahirkan wacana-wacana tentang strategi kebudayaan sebagai pedoman bagi bangsa yang kini sedang berada di simpang jalan. Dalam konteks inilah kehadiran jurnal-jurnal kebudayaan alternatif di luar universitas bisa dipahami kemendesakannya.
Dalam ruang yang disediakan oleh jurnal-jurnal kebudayaan alternatif inilah sebuah kontinuitas dialog ilmiah yang melibatkan sebanyak mungkin pemikir budaya dari berbagai latar belakang dapat dibangun. Stagnasi produksi pengetahuan di bidang kebudayaan yang kini ditengarai sedang terjadi, dengan demikian, dapat dihindari. Publik pun akan memiliki ruang tempat segala kelelahan pikiran yang disebabkan oleh hiruk-pikuk politik dan perkara-perkara banal yang mendominasi keseharian hidup kita di negeri ini dapat sejenak ditinggalkan, dan akal budi dapat disegarkan kembali dengan suntikan gagasan-gagasan segar yang mengizinkan kita untuk tetap bisa berpikir serta bercakap tentang manusia dan martabatnya.