Evaluasi Karakteristik Beberapa Varietas Kedelai (Glycine max L.) Hasil Mutasi Kolkisin M2 pada Kondisi Naungan

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Menurut Adisarwanto (2002) tanaman kedelai diklasifikasikan sebagai

berikut:

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Subdivisio : Angiospermae

Class : Dicotyledoneae

Ordo : Rosales

Family : Leguminosae

Genus : Glycine

Species : Glycine max (L.) Merrill.

Pertumbuhan akar cepat, daerah kedalaman kira-kira 90cm, akar lateral

yang baik sebagian besar mencapai kedalaman sampai 20 cm (Tindall, 1983).

Pada tanaman kedelai dikenal dua tipe pertumbuhan batang, yaitu

determinit dan indeterminit. Jumlah buku pada batang akan bertambah sesuai

pertambahan umur tanaman, tetapi pada kondisi normal jumlah buku berkisar

antara 15 – 20 buku dengan jarak antar buku berkisar antara 2 - 9 cm. Batang pada

tanaman kedelai ada yang bercabang dan ada pula yang tidak bercabang,

tergantung dari karakter varietas kedelai, tetapi umumnya cabang pada tanaman

(2)

Daun kedelai hampir seluruhnya trifoliate (menjari tiga) dan jarang sekali

mempunyai empat atau lima jari daun. Bentuk daun tanaman kedelai bervariasi,

yakni antara oval dan lanceolate, tetapi untuk praktisnya, diistilahkan dengan

berdaun lebar dan berdaun sempit (Adisarwanto, 2002).

Tangkai bunga umumnya tumbuh dari ketiak tangkai daun yang diberi

nama rasim. Jumlah bunga pada setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara

2 – 25 bunga, tergantung kondisi lingkungan tumbuh dan varietas kedelai. Bunga

pertama yang terbentuk umumnya pada buku kelima, keenam, atau pada buku

yang lebih tinggi (Adisarwanto, 2002).

Polong kedelai muncul pertama kali sekitar 10 – 14 hari masa

pertumbuhan, yakni setelah bunga pertama muncul. Warna polong yang baru

tumbuh berwarna hijau dan selanjutnya akan berubah berwarna kuning/ cokelat

pada saat dipanen. Pembentukan dan pembesaran polong akan meningkat sejalan

dengan bertambahnya umur dan jumlah bunga yang terbentuk. Jumlah polong

yang beragam yakni 2 – 10 polong pada setiap kelompok bunga di ketiak daunnya

(Adisarwanto, 2002).

Biji kedelai berkeping dua yang terbungkus oleh kulit biji. Bentuk biji

kedelai pada umumnya bulat lonjong, ada yang bundar, atau bulat agak pipih.

Besar biji bervariasi, tergantung varietas (Suprapto, 1989).

Fase tumbuh tanaman kedelai stadia vegetative (V) dan generatif (R)

pada pertumbuhan kedelai. Keterangan stadia vegetatif dan generatif dapat dilihat

(3)

Stadium Tingkatan Stadium Uraian

V1 Stadium buku pertama Daun terurai penuh pada buku foliolat.

V2 Stadium buku kedua Daun bertiga yang terurai penuh pada buku diatas buku unifoliolat.

V3 Stadium buku ketiga Tiga buah buku pada batang utama dengan daun terurai penuh terhitung mulai buku unifoliolat. V4 Stadium buku keempat Empat buah buku pada batang utama dengan daun

terurai penuh terhitung mulai buku unifoliolat. V5 Stadium buku kelima Lima buah buku pada batang utama dengan daun

terurai penuh terhitung mulai buku unifoliolat. V6 Stadium buku keenam Enam buah buku pada batang utama dengan daun

terurai penuh terhitung mulai buku unifoliolat. pada batang utama dengan daun terbuka penuh. R3 Mulai berpolong Polong sepanjang 5 mm pada salah satu diantara 4

buku teratas pada batang utama dengan daun diantara 4 buku teratas pada batang utama dengan daun terbuka penuh.

R6 Berbiji penuh Polong berisikan 1 biji hijau yang mengisi rongga polong pada salah satu diantara 4 buku teratas pada batang utama dengan daun terbuka penuh. R7 Mulai matang Satu polong pada batang utama telah mencapai

warna polong matang.

R8 Matang penuh Polong telah mencapai warna polong matang lebih kurang 95%.

(4)

Syarat Tumbuh Iklim

Suhu tanah yang optimal dalam proses perkecambahan yaitu 300 C. Bila

suhu lingkungan sekitar 400 C pada masa tanaman berbunga, bunga tersebut akan

rontok sehingga jumlah polong dan biji kedelai menjadi berkurang. Suhu yang

terlalu rendah (100 C), seperti pada daerah subtropik, dapat menghambat proses

pembungaan dan pembentukan polong kedelai. Suhu optimal untuk pembentukan

bunga yaitu 24 – 250 C (Tindall, 1983).

Kebutuhan cahaya bagi tanaman kedelai untuk mencapai fotosintesis

maksimal adalah berkisar antara 0.3 – 0.8 kal/cm2/menit atau setara dengan

432 – 1152 kal/cm2/hari (Salisbury dan Ross, 1992).

Jumlah air yang digunakan oleh tanaman kedelai tergantung kondisi iklim,

namun demikian pada umumnya kebutuhan air pada tanaman kedelai berkisar

350 – 450 mm selama masa pertumbuhan kedelai (Adisarwanto, 2002).

Tanah

Toleransi keasaman tanah (pH tanah) bagi kedelai adalah 5.8 – 7.0.

Namun, pada pH 4.5 kedelai dapat tumbuh. Pada pH kurang dari 5.5,

pertumbuhannya sangat terlambat karena keracunan aluminium. Selain itu,

pertumbuhan bakteri bintil dan proses nitrifikasi (proses oksidasi amoniak

menjadi nitrit atau proses pembusukan) akan berjalan kurang baik

(5)

Dengan drainase dan aerase yang cukup, kedelai akan tumbuh baik pada

tanah – tanah Alluvial, Regosol, Grumusol, Latosol, dan Andosol. Untuk dapat

tumbuh baik kedelai menghendaki tanah yang subur, gembur, dan kaya akan

humus atau bahan organik (Suprapto, 1989).

Mutasi Kolkisin

Mutasi adalah perubahan yang terjadi secara struktural pada material

genetik yang merupakan bagian dari fenomena dasar kehidupan. Bila mutasi tidak

pernah terjadi, maka material kehidupan tidak akan mengalami perkembangan dan

beradaptasi terhadap berbagai kondisi ekologis yang ada. Berdasarkan sejarah,

mutasi telah terjadi secara spontan, yang disebabkan oleh sejumlah fenomena

alamiah seperti radiasi kosmik atau sinar ultraviolet (Nasir, 2002).

Mutasi dapat terjadi pada setiap bagian tanaman dan fase pertumbuhan

tanaman, namun lebih banyak terjadi pada bagian yang sedang aktif mengadakan

pembelahan sel seperti tunas, biji dan sebagainya. Secara molekuler, dapat

dikatakan bahwa mutasi terjadi karena adanya perubahan urutan (sequence)

nukleotida DNA kromosom, yang mengakibatkan terjadinya perubahan pada

protein yang dihasilkan (Oeliem, dkk, 2008).

Pemuliaan mutasi adalah mutasi buatan untuk mendapatkan varietas

tanaman yang unggul. Istilah pemuliaan mutasi kadang-kadang digunakan untuk

menunjukkan pemakaian mutagen oleh pemulia tanaman dalam usahanya untuk

menciptakan keragaman dari mutasi buatan. Ini berlawanan dengan pemuliaan

(6)

keuntungannya diperoleh dari rekombinasi gen, kadang-kadang dibantu dengan

hibridisasi (Crowder, 1997).

Kolkisin (C22H25O6N) merupakan suatu alkoloid yang berasal dari umbi

dan biji Autumn crocus (Colchicum autumnale Linn) yang termasuk dalam famili

Liliaceae. Nama Colchicum diambil dari nama Colchis, ialah seorang raja yang

menguasai daerah di tepi Laut Hitam, karena di daerah itulah ditemukan banyak

sekali tanaman tersebut. Tanaman yang berbunga dalam musim gugur ini banyak

diperlihatkan bunga-bunganya saja diatas permukaan tanah. Dalam musim semi

tanaman ini memiliki daun, buah dan biji (Suryo, 1995).

Kepekaan terhadap perlakuan kolkisin amat berbeda diantara species tanaman. Oleh karena itu baik konsentrasi maupun waktu perlakuan akan berbeda

pula, bahkan untuk bagian tanaman yang berbeda akan lain pula dosis dan

waktunya. Untuk biji yang cepat berkecambah, biji direndam dalam larutan

selama 1 – 5 hari sebelum tanam. Perendaman jangan terlalu dalam agar

dimungkinkan adanya aerasi (Poespodarsono, 1988).

Larutan kolkisin efektif pada konsentrasi 0,001-1,00 ppm dengan lama

perlakuan 3-24 jam, tetapi pada benih yang berkulit keras seperti benih

kacang-kacangan, jagung, dan sebagainya konsentrasi 0,2 ppm lebih dianjurkan.

Konsentrasi 0,2 ppm yang lebih umum dipakai untuk semua tanaman dengan lama

perlakuan antara 24-96 jam (Haryanti dkk,2009).

Apabila kolkisin digunakan pada konsentrasi yang tepat maka jumlah

kromosom akan meningkat, sehingga tanaman bersifat poliploid. Tanaman yang

(7)

dibandingkan tanaman diploid. Umumnya kolkisin akan bekerja efektif pada

konsentrasi 0.01-1 ppm untuk jangka waktu 6-72 jam, namun setiap jenis tanaman

memiliki respon yang berbeda-beda (Suryo, 1995).

Kolkisin berfungsi sebagai mutagen untuk individu poliploid. Adapun cara

kerja kolkisin yaitu kolkisin akan masuk kedalam biji (2n), lalu menyebabkan

terhambatnya kerja mikrotubulus. Karena kerja mikrotubulus terhambat, berarti

menghambat terbentuknya benang spindle dan kromosom yang siap membelah

akan mengalami gagal berpisah sehingga sel tidak akan mengalami pembelahan.

Hal ini menyebabkan biji mempunyai genom 4n (Sadida dkk, 2010).

Sifat umum tanaman poliploid adalah memiliki ukuran bagian-bagian

tanaman lebih besar, meliputi akar, batang, daun, bunga, atau buah. Tanaman

poliploid juga memiliki ukuran sel yang lebih besar, intisel besar, buluh-buluh

pengangkutan berdiameter lebih besar, dan ukuran stomata yang lebih

besar. Bertambahnya diameter buluh-buluh pengangkutan, sebagai akibat

pemberian kolkisin, menyebabkan diameter batang tanaman yang lebih besar pula

(Suryo, 1995).

Secara umum pengaruh poliploid bagi tanaman adalah sebagai berikut :

1. Inti dan isi sel lebih besar (stomata dan tepung sari)

2. Daun dan bunga bertambah besar. Pertambahan ukuran ini ada batasnya,

sehingga bila terjadi penambahan terus pada jumlah kromosom tidak

menyebabkan penambahan secara berlanjut.

3. Dapat terjadi perubahan senyawa kimia, termasuk peningkatan atau perubahan

(8)

4. Laju pertumbuhan menjadi lebih lambat dibanding dengan tanaman diploid dan

berbunganya juga terlambat.

5. Meiosis sering tidak teratur, sehingga terjadi kromosom yang tidak

berpasangan.

6. Menurunnya fertilitas pada poliploid merupakan hal penting untuk diperhatikan

pada pemuliaannya. Penurunan ini dapat terjadi pada daya hidup butir

tepung sari dan jumlah biji. Derajat penurunan tergantung dari spesies

(Poespodarsono, 1988).

Varietas

Varietas adalah sekelompok tanaman dari suatu jenis atau spesies yang

ditandai oleh bentuk dan pertumbuhan tanaman, daun, bunga, buah, biji, dan

ekspresi karakteristik genotipe atau spesies yang sama oleh sekurang-krangnya

satu sifat yang menentukan,apabila diperbanyak tidak mengalami perubahan

(http://shvoong.com, 2012).

Varietas mempunyai peranan penting dalam perkembangan tanaman

kedelai karena untuk mencapai produktivitas yang tinggi sangat ditentukan oleh

potensi daya hasil dari varietas unggul yang ditanam. Potensi hasil biji di

lapangan masih dipengaruhi oleh interaksi antara faktor genetik varietas dengan

pengelolaaan kondisi lingkungan tumbuh (Adisarwanto, 2008).

Tingkat hasil suatu tanaman ditentukan oleh interaksi faktor genetis

varietas unggul dengan lingkungan tumbuhnya seperti kesuburan tanah,

ketersediaan air, dan pengelolaan tanaman. Tingkat hasil varietas unggul yang

(9)

terendah dan tertinggi pada beberapa lokasi dan musim. Potensi hasil varietas

unggul dapat saja lebih tinggi atau lebih rendah pada lokasi tertentu dengan

penggunaan masukan dan pengelolaan tertentu pula. Biasanya untuk mendapatkan

hasil yang lebih tinggi dari penggunaan varietas unggul diperlukan pengelolaan

yang lebih intensif dan perhatian serius serta kondisi lahan yang optimal. Agar

memperoleh hasil yang optimal di atas rata-rata dalam deskripsi maka perolehan

varietas unggul harus sesuai 6 tepat (tepat varietas, jumlah, mutu, waktu, lokasi,

dan tepat harga) (Gani, 2000).

Varietas atau klon introduksi perlu diuji adaptabilitasnya pada suatu

lingkungan untuk mendapatkan genotif unggul pada lingkungan tersebut. Pada

umumnya suatu daerah memiliki kondisi lingkungan yang berbeda terhadap

genotif. Respon genotif terhadap faktor lingkungan ini biasanya terlihat dalam

penampilan fenotipe dari tanaman bersangkutan (Darliah dkk, 2001).

Naungan

Intensitas cahaya ialah jumlah cahaya yang diterima tanaman yang

berfungsi untuk pertumbuhan dan pembentukan organ-organ tanaman. Intensitas

cahaya makin tinggi saat matahari siang dan mengakibatkan kenaikan kegiatan

photosintesa, hingga pada suatu kenaikan tertentu photosintesa akan terhenti.

Peristiwa ini disebut Light Saturation Point, kelebihan Intensitas cahaya tidak

dimanfaatkan untuk photosintesa ( luxurius light intensity ). Light Saturation

didaerah beriklim tropis mencapai 40-50% intensitas cahaya. Umumnya

transpirasi melebihi Karbon assimilasi dalam kebutuhan air, akibatnya turgor

(10)

fotosintesa terhenti dan dapat juga timbul kelayuan daun, dimana daun yang layu

akan menutup daun dibawahnya, sehingga fotosintesa terhambat bagi daun yang

belum mencapai titik light saturation (http://heabron.blog.friendster.com, 2009).

Dampak langsung yang dapat dijejaki dari peningkatan CO2 adalah

peningkatan tingkat fotosintesa daun dan kanopi. Peningkatan fotosintesis akan

meningkat sampai kadar CO2 mendekati 1000 ppm. Hasil paling pasti adalah

tanaman tumbuh cepat dan lebih besar. Ada perbedaan antara spesies. Spesies C3

lebih peka terhadap peningkatan kadar CO2 dibanding C4. Terjadi juga

pertambahan luas dan tebal daun, berat per luas, tinggi tunas, percabangan, bibit

dan jumlah dan berat buah. Ukuran tubuh meningkat seiring rasio akar-batang.

Rasio C:N bertambah. Lebih dari itu semua hasil panen meningkat. Terutama

pada kentang, ubi jalar, kedelai. Dengan meningkatnya kadar CO2 menjadi dua

kali sekarang secara global, hasil pertanian diperkirakan akan meningkat sampai

32% dari sekarang. Perkiraan sementara saat ini sekitar 5%-10% dari kenaikan

produksi pertanian adalah akibat kenaikan kadar CO2. Manfaat pengayaan CO2

terhadap pertumbuhan dan produktifitas tanaman saat ini telah dikenal luas

(Munawar, 2008).

Pemberian naungan akan mempengaruhi morfologi tanaman. Morfologi

tanaman kedelai yang dinaungi adalah batang tidak kokoh karena garis tengah

batang lebih kecil, akibatnya tanaman mudah rebah. Diduga tanaman yang toleran

naungan lebih efisisen dalam pemanfaatan cahaya, pada batas naungan tertentu

proses fisiologis didalam tanaman tidak terlalu dipengaruhi, sehingga tanaman

tumbuh normal, tidak terjadi etiolasi dan kerebahan yang tentunya tidak

(11)

a. peningkatan luas daun dan penurunan penggunaan metabolit

b. penurunan jumlah transmisi dan refleksi cahaya.

Daun tanaman yang ternaungi akan lebih tipis tetapi permukaan daunnya lebih

luas. Penurunan intensitas cahaya akibat naungan akan menurunkan rasio klorofil

a/b, akibat meningkatnya jumlah relatif klorofil (Sihar, 1997).

Wrigley (1982) menyatakan bahwa ada keuntungan dan kerugian pada

tanaman yang tumbuh dengan kondisi ternaungi, yaitu:

1. Keuntungan

- Tanaman yang menaungi berperan sebagai pemecah angin, dimana angin

dengan hembusan udara panas dapat meningkatkan transpirasi dan berbahaya bagi

tanaman.

- Kisaran suhu daun dan tanah rendah dibawah naungan.

- Kelembaban relatif tinggi.

- Kelembaban permukaan tanah rendah dan sangat pentig bagi tanaman pada

saat musim kering.

- Penaung mengurangi dampak buruk dari air hujan.

2. Kerugian

- Naungan akan mengurangi intensitas sinar matahari, sehingga mengganggu

pertumbuhan tanaman yang memerlukan intensitas penuh.

- Penaung menyebabkan intensitas cahaya yang diterima kanopi daun menjadi

lebih kecil.

Akibatnya berpengaruh terhadap proses metabolisme tanaman seperti

(12)

Klorofil a dan b berperan dalam proses fitosintesis tanaman. Klorofil b berfungsi

sebagai antena fotosintetik yang mengumpulkan cahaya kemudian ditransfer ke

pusat reaksi. Pusat reaksi tersusun dari klorofil a. Energi cahaya akan diubah

menjadi energi kimia dipusat reaksi yang kemudian dapat digunakan untuk proses

reduksi dalam fotosintesis (Nintya dan Yulita, 2008).

Sel penutup memiliki klorofil di dalam selnya sehingga cahaya matahari

akan sangat berpengaruh buruk pada klorofil. Larutan klorofil yang dihadapkan

pada sinar kuat akan tampak berkurang hijaunya. Daun-daun yang terkena

langsung umumnya akan tampak kekuning-kuningan, salah satu cara untuk dapat

menentukan kadar klorofil adalah dengan metoda spektofotometri

(Dwijiseputro, 1981).

Kandungan klorofil pada tanaman sangat dipengaruhi oleh intensitas

cahaya. Tanaman yang ternaungi mempunyai klorofil lebih banyak dibandingkan

tanaman yang tidak ternaungi. Hasil penelitian pada kedelai menunjukkan bahwa

tanaman yang toleran terhadap intensitas cahaya rendah memiliki jumlah klorofil

lebih banyak dibandingkan dengan tanaman yang peka (Wirnas, 2005).

Intensitas dan kualitas radiasi matahari yang diterima oleh kanopi kedelai

selama masa reproduksi merupakan faktor lingkungan penting dan dapat

menentukan hasil produksi kedelai. Peningkatan hasil biji kedelai melalui jarak

tanam, dapat dikaitkan dengan peningkatan intersepsi cahaya selama periode

reproduktif. Pengurangan cahaya dimulai pada tahap awal produktif berbunga ,

jumlah polong menghasilkan peningkatan 144-252% pada produksi biji.

Sebaliknya, mengurangi sumber cahaya melalui naungan selama benih mengisi

(13)

Tingkat intensitas cahaya 60 – 80 % dihasilkan bobot 100 biji kedelai yang

semakin meningkat. Hal ini disebabkan pengurangan tingkat intensitas cahaya

matahari dibawah 60% dapat mendukung pertumbuhan vegetatif kedelai, tetapi

pengurangan intensitas cahaya tersebut akan menyebabkan berkurangnya serapan

unsur hara N, P, dan K. Berkurangnya serapan unsur hara tersebut akan

mengurangi tingkat alokasi bahan kering, dimana tingkat alokasi bahan kering

selama pertumbuhan sangat menentukan besarnya tingkat produksi yang

dihasilkan (Sihar, 1997).

Berdasarkan penelitian Soeverda, dkk (2009) menyatakan bahwa

pemberian naungan 50% pada tanaman memberikan pengaruh pada parameter

tinggi tanaman, umur berbunga, dan produksi tanaman. Dapat dilihat pada varietas

Cikurai bahwa pemberian perlakuan naungan 50% memberikan peningkatan pada

tinggi tanaman (47%) dan penurunan jumlah polong per sampel (30-59%). Pada

varietas Tidar terjadi peningkatan tinggi tanaman (118%) dan penurunan jumlah

polong (30-59%). Pada varietas Tanggamus terjadi peningkatan tinggi tanaman

(75%) dan penurunan produksi (30-59%). Pada varietas Anjasmoro terjadi

peningkatan tinggi tanaman (67%) dan penurunan produksi (30-59%).

Keragaman Genotip dan Fenotip

Genotipe adalah istilah yang dipakai untuk menyatakan keadaan genetik

dari suatu individu atau sekumpulan individu populasi. Genotipe dapat merujuk

pada keadaan genetik suatu lokus maupun keseluruhan bahan genetik yang

dibawa oleh kromosom (genom). Genotipe dapat berupa homozigot atau

(14)

Fenotipe adalah suatu karakteristik (baik struktural, biokimiawi, fisiologis,

dan perilaku) yang dapat diamati dari suatu organisme yang diatur oleh genotipe

dan lingkungan serta interaksi keduanya. Fenotipe ditentukan sebagian oleh

genotipe individu, sebagian oleh lingkungan tempat individu itu hidup, waktu,

dan, pada sejumlah sifat, interaksi antara genotipe dan lingkungan. Pengamatan

fenotipe dapat sederhana (misalnya warna bunga) atau sangat rumit hingga

memerlukan alat dan metode khusus (http://id.wikipedia.org, 2010).

Keragaman merupakan hal penting dalam pemuliaan karena dapat

ditemukan berbagai sumber gen untuk perbaikan suatu sifat tanaman. Gen-gen

tersebut dapat ditransfer ke tanaman dengan cara konvensional maupun rekayasa

genetik. Salah satu teknik pemuliaan untuk perbaikan sifat adalah perakitan

poliploidi. Poliploidi adalah keadaan sel dengan penambahan satu atau lebih

genom dari genom normal 2n=2x (Hetharie, 2003).

Heritabilitas

Heritabilitas merupakan salah satu tongkat pengukur yang banyak dipakai

dalam pemuliaan tanaman. Secara sederhana, heritabilitas dari sesuatu

karakter dapat didefinisikan sebagai suatu perbandingan antara besaran ragam

genotipe terhadap besaran total ragam fenotip dari suatu karakter

(http://pttipb.wordpress.com, 2010).

Heritabiltas yang sedang tidak sesuai dengan yang umum terjasi pada

karakter kuantitatif dengan nilai heritabilitas rendah. Hal ini dapat terjadi karena

nilai hertabilitas bukanlah suatu konstanta sehingga untuk karakter yang sama

(15)

heritabilitas suatu karakter tidak selalu persis sama. Pihak lain, walaupun

pendugaan berbeda, mungkin saja diperoleh heritabilitas yang sama untuk

karakter tertentu (Namkoong, 1979).

Variasi genetik akan membantu dalam mengefisienkan kegiatan seleksi.

Apabila variasi genetik dalam suatu populasi besar, ini menunjukkan individu

dalam populasi beragam sehingga peluang untuk memperoleh genotip yang

diharapkan akan besar. Sedangkan pendugaan nilai heritabilitas tinggi

menunjukkan bahwa faktor pengaruh genetik lebih besar terhadap penampilan

fenotip bila dibandingkan dengan lingkungan. Untuk itu informasi sifat tersebut

lebih diperankan oleh faktor genetik atau faktor lingkungan, sehingga dapat

diketahui sejauh mana sifat tersebut dapat diturunkan pada generasi berikutnya

(Mardjono dan Sudarmo, 2007).

Variasi keseluruhan dalam suatu populasi merupakan hasil kombinasi

genotipe dan pengaruh lingkungan. Proporsi variasi merupakan sumber yang

penting dalam program pemuliaan karena dari jumlah variasi genetik ini

diharapkan terjadi kombinasi genetik yang baru. Proporsi dari seluruh variasi yang

disebabkan oleh perubahan genetik disebut heritabilitas. Heritabilitas dalam arti

yang luas adalah semua aksi gen termasuk sifat dominan, aditif, dan epistasis.

Nilai heritabilitas secara teoritis berkisar dari 0 sampai 1. Nilai 0 ialah bila seluruh

variasi yang terjadi disebabkan oleh faktor lingkungan, sedangkan nilai 1 bila

seluruh variasi disebabkan oleh faktor genetik. Dengan demikian nilai heritabilitas

akan terletak antara kedua nilai ekstrim tersebut (Welsh, 2005).

Beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya pengukuran heritabilitas

(16)

perhitungan, seberapa luasnya evaluasi genotip, adanya ketidakseimbangan pautan

yang terjadi, dan tingkat ketelitian selama penelitian. Nilai duga heritabilitas

dibutuhkan untuk mengetahui proporsi penampilan yang diakibatkan oleh

pengaruh genetik yang diwariskan kepada keturunannya. Nilai duga heritabilitas

berkisar antara 0,0 – 1,0, nilai duga heritabilitas sebesar 1,0 menunjukkan bahwa

semua variasi penampilan tanaman yang ditimbulkan disebabkan oleh faktor

genetik sedangkan nilai duga heritabilitas 0,0 menunjukkan bahwa tidak satupun

dari variasi tanaman yang muncul dalam populasi tersebut disebabkan oleh faktor

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...