Kejahatan dari Perspektif Sosiologis
KRIMINOLOGI
Teori- teori Dalam Kriminologi
Perspektif Biologi & Sosiologis
Perspektif Sosiologis
Teori sosiologis mencari alasan-alasan
perbedaan deism iriel angka kejahatan di
deism lingkungan social, dimana Teori-teori
sosiologis mencari alasan-alasan perbedaan
dalam hal angka kejahatan di dalam
lingkungan social dan teori-teori ini dapat
dikelompokkan menjadi tiga kategori umum,
yaitu:
strain
,
cultural
deviance
(penyimpangan budaya),
dan
sosial control
(kontrol sosial).
Teori Strain memusatkan
pada kekuatan-Kekuatan
Sosial (
Social
Forces) yang
menyebabkan orang
melakukan aktifitas kriminal.
Tokoh Teori Strain:
Durkheim,
Robert K. Merton
Teori ini memandang kejahatan sebagai seperangkat
nilai-nilai yang khas pada
lower class
(kelas bawah). Tiga teori
utama dari
cultural deviance theories
adalah sebagai berikut
1.
Theory Sosial Disorganization,
kelemahan dari teori ini
adalah:
Terlalu bargantung pada data resi yang sangat mungkin
mencerminkan ketidksukaan poisi pada lingkungan yang kumuh.
Terlalu berfokus pada bagaimana pola-pola kejahatan
ditransmisikan bukan pada bagaimana isi dimulai pertama kali.
Tidak dapaat menjelaskan mengapa delinquency berhenti dan tidak
menjadi kejahatan begitu mereka beranjak besar
Mengapa banyaak orang di area yang “Theory Sosial Disorganization" tidak melakukan perbuatan jahat.
Tidak menerangkan delinquency di kalangan kelas menengah.
2. Theory Differential Association
Teori ini berpendapat bahwa orang belajar
melakukan kejahatan sebagai akibat hubungan
dengan nilai-nilai dan sikap-sikap anti sosial,
serta pola-pola tingkah laku kriminal.
3.
Theory Culture Conflict
Teori ini menegaskan bahwa kelompok-kelompok
yang berlainan belajar
conduct norms
(aturan-aturan yang mengatur tingklah laku) yang
Penyimpangan merupakan hasil dari kekosongan kontrol
atau pengendalian sosial. Teori ini dibangun atas dasar
pandangan bahwa setiap manusia cenderung untuk tidak
patuh pada hukum. Oleh karena itu, para ahli teori ini
menilai perilaku menyimpang adalah konsekuensi logis dari
kegagalan seseorang untuk mentaati hukum.
Teori Kontrol Sosial juga mempunyai pendekatan berbeda,
Teori Ini berdasarkan satu asumsi bahwa motivasi
melakukan kejahatan merupakan bagian dari umat
manusia. Sebagai konsekuensinya, Teori Kontrol Sosial
mencoba menemukan jawaban mengapa orang tidak
melakukan kejahatan. Teori-Teori Kontrol Sosial mengkaji
kemampuan kelompok-kelompok dan Lembaga-Lembaga
Sosial membuat aturan-aturannya dengan Efektif.
Dengan mendasarkan pada uraian di atas bahwasanya teori
kejahatan dari perspektif sosiologis ialah berusaha mencari alasan-alasan perbedaan dalam hal angka kejahatan di dalam lingkungan sosial. Dari sudut pandang sosiologi maka dapatlah dikatakan
bahwa kejahatan adalah salah satu persoalan yang paling serius dalam hal timbulnya Sosial Disorganization, culture conflick, differential association, dikarenakan penjahat-penjahat itu
sebenarnya melakukan perbuatan-perbuatan yang mengancam dasar-dasar dari pemerintahan, hukum, ketertiban dan
kesejahteraan umum. Maka dari itu diperlukan sarana kontrol sosial untuk mengantisipasi atau mencegah dilakukanya tindakan kejahatan oleh seseorang dalam masyarakat karena apabila control social ini lemah berpotensi meningkatkan angka kejahatan dalam masyarakat, sehingga ditekankan kepada masyarakat agar lebih memiliki control sosial agar kenyamanan dan ketentraman
masyarakat masih dapat di jaga.