• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dwi Joko Y, S.Farm, Apt_Farmakologi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Dwi Joko Y, S.Farm, Apt_Farmakologi"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

GASTRITIS

Gastritis adalah infamasi dari mukosa

lambung. Bila mukosa lambung seringkali

atau dalam waktu cukup lama bersentuhan

dengan aliran balik getah duodenum yang

bersifat alkalis, peradangan sangat mungkin

terjadi dan akhirnya malah berybah menjadi

tukak lambung.

(3)

Gastritis dibagi menjadi

2, yaitu :

1.

Gastritis Akut

Merupakan kelainan klinis akut yang jelas penyebabnya

dengan tanda dan gejala yang khas. Biasanya ditemukan

sel infamasi akut dan neutrofl.

Penyebab penyakit ini, antara lain :

- Obat-obatan ; aspirisn, obat anti infamasi non steroid

(NSAID’S)

- Alkohol

- Gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung : trauma,

luka bakar, sepsis.

2.

Gastritis Kronik

(4)

TUKAK PEPTIK

Batasan :

Kerusakan atau hilangnya jaringan dari mukosa,

sub-mukosa, sampai ke muskularis mukosa di daerah saluran

cerna bagian atas, berbatas tegas dan ada hubungannya

dengan cairan asam lambung serta pepsin.

Patofsiologi

Tukak peptik timbul akibat gangguan keseimbangan antara

asam lambung, pepsin dan daya mukosa.

Faktor yang mempengaruhi terjadinya tukak lambung

adalah adanya riwayat keluarga yang mengindap tukak

peptik, atau pasien dengan paru kronik, sirosis hati,

penyakit ginjal kronik, rokok, alkohol dan obat-obatan.

Faktor resiko lain tukak duodenum adalah golongan darah

O.

(5)

Tukak Peptik

Tukak Duodenum

Umumnya terdapat hipersekresi asam

pepsin karena jumlah sel parietal lebih

banyak.

Tukak Lambung

Biasanya sekresi asam normal. Faktor

(6)

Gejala Klinis

Nyeri perut di daerah epigastrum yang

sifatnya khas, berlangsung kronik, periodik

dengan masa remisi dan eksaserbasi silih

berganti, ritmik, kualitas seperti ditusuk dan

rasa panas.

Nyeri berkurang dengan pemberian antasida

Dapat disertai anoreksia, mual, muntah

(7)

Diagnosa Banding

Dispepsia fungsional

Kanker lambung

Gastritis

Pankreatitis akut

Kolesistitis

(8)

Tujuan Terapi

Meredakan keluhan

Menyembuhkan tukak yang aktif

Mencegah kekambuhan dan komplikasi perlukaan dan

perdarahan mukosa lambung

Meminimalkan dampak sosioekonomi akibat sakit

Prinsip Pengobatan

Diagnosa akurat

Ejukasi pasien

Terapi individu

Pengaturan diet

Penggobatan supportive

(9)

Penatalaksanaan

A. Merubah Pola Hidup:

berhenti merokok

Berhenti minum alkohol

Berhenti minum obat yang mengganggu

(10)

B. Terapi Dengan Obat

1. Pengobatan Awal

Upayakan pH lambung sekitar 5

Antasida

Merupakan zat pengikat asam yaitu basa-basa lemah yang

digunakan untuk mengikat secara kimiawi dan menetralkan

asam lambung. Efeknya adalah peningkatan pH, yang

mengakibatkan berkurangnya kerja proteolitis dari pepsin.

Antagonis reseptor H2 (cimetidin, ranitidin, famotidin)

Obat-obat ini menempati reseptor histamin H2 secara

selektif di permukaan sel-sel parietal, sehingga sekrasi

asam lambung dan pepsin sangat dikurangi

Inhibitor K-H-ATPase (omeprazol)

Obat-obat ini mengurangi sekresi asam (yang normal dan

yang dibuat) dengan jalan menghambat K-H-ATPase secara

selektif dalam sel-sel parietal

(11)

Memperbaiki ketahanan mukosa (sukralfat)

Merupakan zat-zat pelindung ulkus yang

menutup tukak dengan suatu lapisan

pelindung terhadap serangan asam pepsin.

Sedativ dan anti depresi

Derivat prostaglandin

- Misoprostol (gastrul)

Analog Prostaglandin E1. prostaglandin

sintesis pertama yang efektif secara oral.

Obat penguat motilitas (metoklopramid,

(12)

Lama Pengobatan:

Tukak lambung 12 minggu

Tukak duodenum 8 minggu

2. Pengobatan Pemeliharaan

Dosisnya setengah dosis awal selama 6

sampai 12 bulan.

(13)

Kebiasaan Penggunaan Obat Yang Tidak

Dianjurkan

Penggunaan obat secara serampangan (obat

penenang dan spasmolitik)

Penggunaan multivitamin

Informasi Untuk Pasien

Hindari ma/mi atau obat-obatan yang

menyebabkan atau memperberat ulkus

peptik

Mengatur jadwal makan untuk menghindari

(14)

DISPEPSIA

Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/

gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/

sakit di perut bagian atas yang menetap atau

mengalami kekambuhan.

(15)

Klasifkasi klinis praktis, didasarkan atas

keluhan/gejala yang dominan, membagi dispepsia

menjadi tiga tipe:

Dispepsia dengan keluhan seperti ulkus, dengan gejala :

Nyeri epigastrum terlokalisasi

Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antasidaNyeri saat lapar

Nyeri episodik

Dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas, dengan

gejala:

Mudah kenyang

Perut cepat terasa penuh saat makanMual

Muntah

Rasa tak nyaman bertambah saat makan

Dispepsia nonspesifk (tidak ada gejala seperti kedua

(16)

Pengobatan

Antasida

Antikolinergik

Antagonis resetor H2

Sitoprotektif (misoprostol)

Golongan prokinetik (domperidon,

metoklopramid)

(17)

DIARE

Defnisi

Diare adalah terjadinya BAB 3 kali atau lebih sering sehari

dengan konsistensi lembek atau cair yang tidak seperti

biasa.

Bayi yang mendapat ASI saja, dapat BAB 4-5 kali sehari, ini

bukan diare.

Patofsiologi

Terganggunya absorpsi air dan elektrolit karena kerusakan

sel-sel mukosa usus oleh invasi bakteri.

Keluarnya cairan dan elektrolit dari dinding usus oleh

karena rangsangan biokimia toksin yang dikeluarkan

bakteri serta invasi bakteri ke dalam mukosa usus

Masalah yang dihadapi

Dehidrasi

(18)

Kebutuhan Antimikroba

Antimikroba diperlukan hanya pada

kasus-kasus diare spesifk

kolera

Shigelosis

Amubiasis

Giardiasis

(19)

OBAT GASTROINTESTINAL

OBAT GASTROINTESTINAL

SYSTEM

SYSTEM

ANTITUKAK

ANTISPASMODIK

ANTIDIARE

PENCAHAR

ANTIHEMOROID

(20)

ANTITUKAK

ANTACIDA

ANTAGONIS RESEPTOR H

2

PENGHAMBAT POMPA PROTON

ANTIMUSKARINIK

KHELAT & SENYAWA KOMPLEK

ANALOG PROSTAGLANDIN

(21)

Senyawa kimiawi yang dihasilkan lambung

adalah :

1. Asam HCl ,Mengaktifkan pepsinogen

menjadi pepsin. Sebagai disinfektan, serta

merangsang pengeluaran hormon sekretin

dan kolesistokinin pada usus halus

2. Lipase , Memecah lemak menjadi asam

lemak dan gliserol. Namun lipase yang

dihasilkan sangat sedikit

3. Renin , Mengendapkan protein pada susu

(kasein) dari air susu (ASI). Hanya dimiliki

oleh bayi.

4. Mukus , Melindungi dinding lambung dari

kerusakan akibat asam HCl.

Fungsi HCI Lambung :

1. Merangsang keluamya sekretin

2. Mengaktifkan Pepsinogen menjadi Pepsin untuk

memecah protein.

3. Desinfektan

(22)

ANTACIDA

FARMAKOLOGI

Antacida adalah kelompok obat yang mempunyai kemampuan untuk menetralkan asam lambung (HCl) atau mengikat.

Prinsip kerjanya adalah tidak mengurangi vulome HCl yang dikeluarkan oleh lambung, tetapi peninggian pH akan menurunkan aktivitas pepsin.

Umumnya antacida merupakan basa lemah dan terbagi dua golongan yaitu : 1. antacida sistemik dan 2. antacida nonsistemik

absorpsi dalam usus halus absorpsi tdk dalam usus

dpt menimbulkan alkalosis metabolik tdk menimbulkan alkalosis metabolik Natrium bikarbonat aluminium, magnesium, bismut,

kalsium

(23)

INDIKASI

 Antacida masih bermanfaat dlm terapi penyakit saluran cerna dan sering kali digunakan dlm self medication untuk berbagai keluhan lambung.

 Akibat iklan yang berlebihan maka terjadi penggunaan antacida yang berlebihan, sehingga pengobatan tidak tepat, benar dan rasional.

 Antacida seringkali dapat meringankan gejala yang muncul pada penyakit dispepsia tukak maupun bukan tukak, serta pada penyakit gastroesofagitis.

KONTRAINDIKASI

 Penderita gagal ginjal (hipermagnesemia), jantung atau kehamilan.

EFEK SAMPING

 Sindroma susu alkali.

 Batu ginjal, osteomalasia dan osteoporosis.  Neurotoksisitas (pada penderita gagal ginjal).

(24)

Dwi Joko 24

DOSIS

 Pemberian antacida paling baik manakala gejala muncul atau diperkirakan akan muncul.

 Lazim diberikan di antara waktu makan dan sebelum tidur, 4 x sehari atau lebih. Dosis tambahan jika diperlukan yaitu sampai interval setiap jam.

 Pemilihan sediaan antacida tergantung pada kapasitas penetralan, kandungan ion natrium, efek samping, palatibilitas, dan kemudahan penggunaannya.

INTERAKSI

 Mengurangi absorpsi berbagai obat misalnya INH, penisilin, tetrasiklin, nitrofurantoin, asam nalidiksat, sulfonamid, fenilbutazon, digoksin dan klorpromazin.

(25)

I. ANTACID SISTEMIK

NATRIUM BIKARBONAT. Dengan cepat menetralkan asam lambung karena daya larutnya tinggi, dengan reaksi kimia sbb:

NaHCO3 + HCl NaCl + H2O + CO2

CO2 menimbulkan efek carminative yang menyebabkan sendawa, distensi lambung sampai perforasi, alkalosis metabolik sehingga dapat menyebabkan retensi natrium dan udem. Obat ini sudah jarang digunakan sebagai antacida, hanya untuk asidosis metabolik, alkalisasi urin lokal pruritus.

Tersedia dalam bentuk tablet 500 – 1000 mg/tablet. Dosis yang dianjurkan yaitu 1 – 4 gram.

Pemberian dosis besar NaHCO3 atau CaCO3 bersama-sama susu atau krim pada pengobatan tukak peptik dapat menimbulkan sindrom alkali susu (milk alkali syndrome).

II. ANTACID NON SISTEMIK

1. ALUMINIUM HIDROKSIDA (Al (OH)3. Reaksinya sbb:

Al (OH)3 + 3 HCl AlCl3 + 3 H2O

(26)

Dwi Joko 26

ALUMINIUM dan/atau MAGNESIUM

FARMAKOLOGI

* Senyawa ini relatif tidak larut dalam air seperti Magnesium Karbonat, hidroksida, dan trisilikat serta aluminium glisinat dan hidroksida, bekerja lama dalam lambung, sehingga tujuan pemberian antasida tercapai.

• Senyawa ini menetralkan asam lambung, secara adsorptif.

• Senyawa ini juga akan bereaksi dengan fosfat membentuk Aluminium fosfat yang sukar diabsorpsi di usus kecil, sehingga ekskresi fosfat melalui urin berkurang sedangkan melalui tinja akan bertambah.

• Pada pasien dengan fungsi ginjal yang normal, penggunaan senyawa ini jangka panjang akan mengakibatkan osteomalasia (karena berkurangnya fosfat dan menyebabkan hiperparatireodismus).

• Sediaan yang mengandung Magnesium dapat menyebabkan diare, sedangkan yang mengandung Aluminium mungkin dapat menyebabkan konstipasi.

(27)

ALUMINIUM HIDROKSIDA

Indikasi

Dispepsia, hiperfosfatemia

Kontraindikasi

Hipofosfatemia

Peringatan

Pemberian antasida bersama-sama dengan obat harus dihindari

karena kemungkinan dapat mengganggu absorpsi obat lain.

Nama dan bentuk sediaan

Antasida Aluminium tersedia dalam bentuk suspensi Al(OH)

3

gel

yang mengandung 3,6 – 4,4 % Al

2

O

3

. Dosis yang dianjurkan 8 ml.

Juga tersedia dalam bentuk tablet Al(OH)

3

yang mengandung

50% Al

2

O

3

.

Satu gram Al(OH)

3

dapat menetralkan 25 mEq. Asam. Dosis

(28)

Dwi Joko 28

• Alukol (PIM) tablet 500 mg (B)

• Antasida DOEN* (OGB) tablet kombinasi Al(OH)3 dan MgOH.

• Maagtab* (Erela) tablet (B) Suspensi : Tab. Kunyah.

• Kombinasi Al(OH)3 , MgOH, Simetikon : Aluminium Hidroksida dan Magnesium Trisilikat* (OGB) tablet (B).

• Alumy* (Coronet) Suspensi; tablet (B).

• Aludona D* (Armoxindo) tablet (B).

• Decamaag* (Harsen) Suspensi; tablet (B).

• Decamaag Forte* suspensi; tablet (B).

• Dexanta* (Dexa Medica) suspensi;tablet (B).

• Gelusil II*, Gelusil MPS* (warner Lambert PD Ind.) Suspensi; tablet (B).

• Gestabil* (Combiphar) Suspensi; tablet (B).

• Maalox* Maalox Plus* (Rhone Poulene Rorer Ind.) Suspensi; tablet (B).

• Mylanta* (Warner-Lambert PD Ind.) Suspensi; tablet (B).

• Neo Gastrolet* (Phapros) tablet (B).

• Promag* (Kalbe Farma) tablet (B).

• Waisan* (Bintang Toedjoeh) Serbuk; Suspensi (B).

(29)

MAGNESIUM KARBONAT

Indikasi

Dispepsia.

Kontraindikasi

Hipofosfatemia.

Efek samping

Diare, bersendawa karena terlepasnya CO2

Peringatan

Pemberian antasida bersama-sama dengan obat harus dihindari karena kemungkinan dapat mengganggu absorpsi obat lain.

Nama dan bentuk sediaan

Aludonna* (Armoxindo) Suspensi; tablet (B). Noglumin* (Hexpharm) tablet (B).

(30)

MAGNESIUM TRISILIKAT

Pemberian antasida bersama-sama dengan obat harus dihindari karena kemungkinan dapat mengganggu absorpsi obat lain.

Nama dan bentuk sediaan

 Gastralex* (Pharmac Apec) Suspensi; tablet (T).

 Gelusil* (Warner-Lambert Ind.) suspensi; tablet (B).  Promag* (Kalbe Farma) Suspensi; tablet (T).

 Sanmag* (Sanbe) Suspensi; tablet (Ps).  Stomagel* (Darya Varia) Gel; (B).

 Waisan* Waisan Forte* (Bintang Toedjoe) Serbuk (B).

(31)

ALUMINIUM MAGNESIUM KOMPLEKS

Indikasi

Dispepsia.

Kontraindikasi

Hipofosfatemia.

Efek samping

Diare ataupun konstipasi

Peringatan

Pada penderita gangguan ginjal dan pemberian bersama-sama obat lain.

Nama dan bentuk sediaan

(32)

SEDIAAN YANG MENGANDUNG SENYAWA LAIN :

• Senyawa lain ini sering kali ditemukan dalam sediaan tunggal maupun kombinasi.

• Simetikon (bentuk aktif dimetikon, yang dapat diberikan sendiri atau ditambahkan kedalam antasida sebagai antibuih untuk meringankan kembung (Flatulen). Sedangkan senyawa alginat ditambahkan mungkin bermanfaat melindungi mukosa esofagus dari refluks gastroesofageal.

Nama dan bentuk sediaan

• Aeropax* (Rama) Emulsi 50 mg / 5 ml (B).

• Aeroson* (Soho) tablet 40 mg (B).

Emka Gasmag* (Mudita Karuna) tablet kunyah 80 mg. (B).

(33)

NATRIUM BIKARBONAT

Indikasi

Meringankan dispepsia dengan cepat, alkalinisasi urin.

PERHATIAN KHUSUS

Pemberian antacida yang mengandung natrium dengan kadar tinggi, seperti magnesium trisilikat, harus dihindari pada pasien yang sedang diet garam(pada gagal jantung, gangguan hati dan ginjal).

Efek Samping

Bersendawa, alkalosis pada penggunaan jangka panjang.

DOSIS

Dewasa 1 – 2 tablet; Anak ½ - 1 tablet.

NAMA DAN BENTUK SEDIAAN

(34)

ANTACIDA DENGAN BISMUT DAN KALSIUM

FARMAKOLOGI

• Antacida yang mengandung Bismut ini bersifat neurotoksik, menyebabkan ensefalopati, dan cenderung menyebabkan konstipasi. Oleh karena itu antacida golongan ini sebaiknya dihindari dalam terapi (kecuali khelat).

• Antacida yang mengandung kalsium akan meningkatkan sekresi asam lambung; penggunaan dosis besar jangka panjang akan mengakibatkan hiperkalsemia dan alkalosis, serta memicu sindrom susu-alkalis.

NAMA DAN BENTUK SEDIAAN

New Sybarin (Kaliroto) tablet 125 mg (T). Neo Adiar* (Erela) Kaplet Ss. 125 mg (T). Diaryn* (Konimex) tablet (T).

(35)

ANTAGONIS RESEPTOR H

2

FARMAKOLOGI

Semua antagonis reseptor H

2

menyembuhkan tukak

lambung dan duodenum dengan cara mengurangi sekresi

asam lambung sebagai akibat hambatan reseptor H

2

.

Dengan demikian akan mengakibatkan perubahan

pepsinogen menjadi pepsin juga menurun.

Simetidin dan Ranitidin menghambat reseptor H

2

secara

selektif dan reversibel. Oleh karena itu pemberian kedua

macam obat tersebut akan menghambat sekresi cairan

lambung (asam lambung)

FARMAKOKINETIK

Bioavailabilitas oral simetidin sekitar 70% sama dengan

setelah pemberian iv atau im. Ikatan protein plasma 20%.

(36)

Simetidin masuk ke dalam SSP dengan kadarnya dalam cairan spinal

10 – 20% dari kadar serum.

Sekitar 50 – 80% dari dosis iv dan 40% dari dosis oral simetidin

diekskresi dalam bentuk asal dalam urin. Masa paruh eliminasinya

sekitar 2 jam.

Bioavailabilitas ranitidin yang pemberiannya secara oral sekitar 50%

dan akan meningkat pada pasien penyakit hati.

Masa paruhnya sekitar 1,7 – 3 jam pada orang dewasa, dan

memanjang pada orang tua dan pada pasien gagal ginjal.

Kadar puncak plasma dicapai dalam 1 – 3 jam setelah penggunaan

150 mg ranitidin secara oral, dan terikat protein plasma hanya 15%.

Sekitar 70% dari ranitidin secara iv dan 30% secara oral diekskresi

lewat urin dalam bentuk asal.

Efek samping

* Insiden ESO kedua obat tersebut rendah dan umumnya berhubungan

dengan penghambatan terhadap reseptor H

2

. ESO antara lain :

(37)

nyeri kepala, pusing, malaise, mialgia, mual, diare, konstipasi, ruam

kulit, pruritus, kehilangan libido dan impoten.

Simetidin mengikat reseptor androgen yang berakibat disfungsi

seksual dan ginekomastia. Ranitidin tidak berefek antiandrogenik

sehingga penggantian terapi dengan ranitidin mungkin akan

menghilangkan impotensi dan ginomastia akibat simetidin.

Simetidin iv akan merangsang sekresi prolaktin, tetapi ranitidin

pengaruhnya kecil terhadap sekresi prolaktin.

INTERAKSI

Antacid dan metoklopramid mengurangi bioavailabilitas oral

simetidin sebanyak 20 – 30%. Diatasi dengan penggunaannya

dengan selang waktu 1 jam antara penggunaan antacid atau

metoklorpramid dan simetidin oral.

(38)

Simetidin terikat sitokrom P-450 sehingga menurunkan

aktivitas enzim mikrosom hati, jadi obat lain akan terakumulasi

bila diberikan bersama simetidin. Obat yang metabolismenya

dipengaruhi simetidin adalah warfarin, fenitoin, kafein, teofilin,

fenobarbital, karbamazepin, diazepam, propanolol, metoprolol

dan imipramin.

Ranitidin lebih jarang berinteraksi dengan obat lain dibanding

dengan simetidin. Akan tetapi jika dengan Nifedifin, warfarin,

teofilin dan metoprolol dapat berinteraksi dengan ranitidin.

Selain itu ranitidin juga dapat menghambat absorpsi diazepam,

sehingga kadar plasmanya turun kira-kira 25%, dimana jika

diberikan bersama-sama, maka obat-obat ini diberikan dengan

selang waktu minimal 1 jam.

Penggunaan ranitidin bersama antacid atau antikolinergik

sebaiknya diberikan dengan selang waktu 1 jam.

Simetidin dan ranitidin cenderung menurunkan aliran darah

hati, sehingga akan memperlambat bersihan obat lain.

(39)

DOSIS

Simetidin tersedia dalam bentuk tablet 200, 300 dan 400 mg /

tablet. Dalam bentuk sirup 300 mg / 5 ml, larutan suntik 300 mg /

2 ml.

Dosis untuk pasien tukak duodeni dewasa 4 kali 300 mg dc dan

hs; atau 200 mg dc dan 400 mg hs.

Ranitidin tersedia dalam bentuk tablet 150 mg / tablet dan larutan

suntik 25 mg / ml, dengan dosis 50 mg im atau iv tiap 6 – 8 jam.

Ranitidin 4 – 10 kali lebih kuat dari pada simetidin, sehingga

cukup diberikan setengah dosis simetidin;

Lama kerja ranitidin 8 – 12 jam. Dan dosis yang dianjurkan 2 kali

150 mg / hari.

Infus intravena : 400 mg dalam 100 ml natrium klorida 0,9% infus

intravena diberikan selama 0,5 – 1 jam (dapat diulang setiap 4 – 6

jam) atau dengan cara infus yang berkesinambungan pada laju

rata-rata 50 – 100 mg / jam selama 24 jam, maksimal 2,4 g

sehari.

(40)

I. SIMETIDIN

INDIKASI

Tukak lambung dan tukak duodenum, tukak stomal, refluks

esofagitis, sindrom Zollinger-Ellison, kondisi lain dimana

pengurangan asam lambung akan bermanfaat.

PERINGATAN

* Gangguan ginjal dan hati (di atasi dengan kurangi dosis).

* Kehamilan dan menyusui injeksi iv lebih baik dihindari (infus lebih

baik), terutama pada dosis tinggi kadang-kadang menyebabkan

aritmia.

* Pada gangguan kardiovaskuler.

EFEK SAMPING

* Kebiasaan buang air besar berubah, pusing, ruam kulit, letih;

* Keadaan bingung yang reversibel, kerusakan hati yang reversibel,

sakit kepala.

* Impotensi reversibel, bradikardi,

block AV.

(41)

DOSIS

* Oral 400 mg 2 kali sehari setelah makan pagi dan sebelum

tidur malam atau 800 mg hs. Selama 4 minggu.

* Bila perlu dosis dapat ditingkatkan sampai 400 mg 4 kali

sehari atau kadang-kadang sampai maksimal 2,4 g sehari

dalam dosis terbagi;

* Anak lebih dari 1 tahun, 25 – 30 mg / kg / hari dalam dosis

terbagi.

* Dosis pemeliharaan 400 mg hs. atau 400 mg setelah makan

pagi dan sebelum tidur malam (hs).

* Refluks esofagitis : 400 mg 4 kali sehari selama 4 – 8 minggu

dan Sindrom Zollinger Ellison : 400 mg 4 kali sehari atau

kadang-kadang lebih.

(42)

NAMA DAN BENTUK SEDIAAN

I. SIMETIDIN

Simetidin (OGB) tablet 200 mg (K).

Blokacid (Prafa) Cairan inj. 100 mg / ml; tablet 200 mg (K).

Cimet (Phapros) tablet 200 mg (K).

Decamet (Harsen) tablet 400 mg (K).

Ramet (Rama) tablet 200 mg, 400 mg (K).

Reducid (Pratapa Nirmala) tablet 200 mg (K).

Sanmetidin (Sanbe) kaptab Ss. 200 mg, 400 mg (K).

Tagamet (SmithKlineBeecham Ind.) Cairan inj.100 mg / ml; kaptab Ss.

400 mg, 800 mg; Tablet Ss. 20 mg (K).

Ulcumet (Soho) Cairan inj. 100 mg / ml; tablet 200 mg (K).

Ulcusan (Pyridam) kapsul 200 mg, 400 mg (K).

Ulsikur (Kalbe Farma) Cairan ihj. 200 mg / ml; tablet 200 mg, 400 mg

(K).

Vargumeth (Varia Sekata) tablet 200 mg, 400 mg (K).

(43)

II. RANITIDIN

INDIKASI

Tukak lambung dan tukak duodenum, refluks esofagitis, dispepsia episodik kronis, tukak akibat AINS, tukak duodenum karena H. pylori, sindrom Zollinger-Ellison, kondisi lain dimana pengurangan asam lambung akan bermanfaat.

Peringatan

Sama pada simetidin; tidak menghambat metabolisme obat mikrosom hati secara nyata, hindarkan pada porfiria.

Efek samping

Sama dengan simetidin.

Dosis

(44)

* Pada tukak akibat AINS sampai 8 minggu; pada tukak duodenum

300 mg dapat diberikan 2 kali sehari selama 4 minggu.

* Anak-anak (tukak lambung) 2 – 4 mg / kg 2 kali sehari, maksimal

300 mg sehari.

* Dosis pemeliharaan 150 mg hs.

* Profilaksis tukak duodenum karena AINS : 150 mg 2 kali sehari.

* Refluks esofagitis : 150 mg 2 kali sehari atau 300 mg hs selama ad.

8 minggu.

* Sindrom Zollinger-Ellison : 150 mg 3 kali sehari.

* Injeksi im : 50 mg setiap 6 – 8 jam.

* Injeksi iv : 25 mg / jam selama 2 jam. Dapat diulang setiap 6 – 8

jam.

(45)

NAMA DAN BENTUK SEDIAAN

* Ranitidin (OGB) tablet Ss. 150 mg, 300 mg. (K). * Gastridin (Interbat) Cairan injeksi 25 mg / ml (K). * Graseric (Graha Farma) tablet Ss. 150 mg (K).

* Radin (Dexa Medica) Gran-Eff. 150 mg; Inj. 50 mg / 2 ml; Tablet Ss. 150 mg (K).

* Rantin (Kalbe Farma) Cairan inj. 50 mg / ml; tablet Ss. 150 mg, 300 mg (K) * Renatac (Pratapa Nirmala) Cairan inj. 25 mg / ml; Tablet Ss. 150 mg (K). * Tricker (Mepofarm) Tablet Ss. 15o mg, 300 mg (K).

* Ulceranin (Otto) Cairan inj. 25 mg / ml; Kaptab. Ss. 300 mg; Tablet Ss. 150 mg (K).

* Zantac (Glaxo Wellcome Ind.) Cairan inj. 0,25 mg / ml; sirup 75 mg / 5 ml; tablet Ss. 75 mg, 150 mg, 300 mg (K).

(46)

FAMOTIDIN

INDIKASI

Tukak lambung dan tukak duodenum, refluks esofagitis, sindrom Zollinger-Ellison.

PERINGATAN

Lihat pada simetidin; tidak menghambat metabolisme obat mikrosoma hati.

EFEK SAMPING

Lihat pad simetidin.

DOSIS

Pengobatan 40 mg hs selama 4 – 8 minggu; pemeliharaan: 20 mg hs. Anak-anak tidak dianjurkan.

Refluks esofagitis, 20 – 40 mg 2 kali sehari selama 6 – 12 minggu; pemeliharaan 20 mg 2 kali sehari. Sindrom Zollinger-Ellison 20 mg setiap 6 jam.

(47)

NAMA DAN BENTUK SEDIAAN

Famotidin (OGB) tablet Ss. 20 mg; 40 mg (K). Corocyd (Coronet) tablet Ss. 40 mg (K).

Facid (Kalbe Farma) tablet 20 mg; 40 mg (K). Famocid (Sanbe) tablet Ss. 20 mg; 40 mg (K).

Gaster (Novartis Ind.) tablet Ss. 20 mg; 40 mg (K). Interfam (Interbat) tablet 20 mg; 40 mg (K).

Mecofam (Mecosin) tablet Ss. 20 mg; 40 mg (K). Pepcid (Konimex) tablet Ss. 20 mg; 40 mg (K). Pratifar (Ifars) tablet Ss. 20 mg; 40 mg (K).

Regastin (Combiphar) tablet 20 mg; 40 mg (K). Ulcerid (Lapi) tablet Ss. 20 mg; 40 mg (K).

(48)

PENGHAMBAT POMPA PROTON

FARMAKOLOGI

Penghambat pompa proton yaitu omeprazol, lansoprazol, dan

pantoprazol, berfungsi sebagai penghambat asam lambung

dengan cara menghambat sistem enzim adenosin trifosfat

hidrogen-kalium (pompa proton) dari sel parietal lambung.

Penghambat pompa proton merupakan pengobatan jangka

pendek yang efektif untuk tukak lambung dan duodenum.

Selain itu dapat juga digunakan dalam kombinasi dengan

antibiotika untuk eradikasi

H.pylori.

Dalam hal ini hanya

omeprazol yang efektif untuk pengobatan sindrom

Zollinger-Ellison (termasuk kasus resisten terhadap pengobatan lainnya).

PERINGATAN

Penghambat pompa proton ini harus digunakan secara hati-hati

pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan dan menyusui.

Pada pasien dengan kanker lambung, pengobatannya harus

terlebih dahulu mengeluarkan kanker tersebut.

(49)

OMEPRAZOL

FARMAKOLOGI

Omeprazol merupakan basa lemah yang terkumpul di

kanalikuli sekretoar dan mengalami aktivasi ditempat yang

sama. Omeprazol menurunkan sekresi asam lambung basal

dan akibat stimulasi, lepas dari jenis perangsangannya

histamin, asetilkolin atau gastrin. Oleh karena itu obat ini

bekerja di proses terakhir produksi asam lambung, lebih distal

dari AMP dan dapat menghambat sekresi asam lambung lebih

kuat dari AH

2

. Penghambatan maksimal bertahan selama 4 jam

(50)

FARMAKOKINETIK

Omeprazol sebaiknya diformulasi sebagai bentuk sediaan

tablet salut enterik, karena sediaan ini tidak mengalami

aktivasi di lambung, sehingga bioavailabilitasnya akan lebih

baik. Tablet yang pecah dilambung akan mengalami aktivasi,

kemudian terikat pada berbagai gugus sulfhidril mukus dan

makanan. Omeprazol mengalami metabolisme lengkap.

INDIKASI

Sama dengan AH

2

yaitu pada penyakit peptik. Obat dalam

menekan produksi asam lambung lebih baik dari AH

2

pada

dosis yang efek sampingnya tidak terlalu mengganggu.

EFEK SAMPING

Sakit kepala, diare, ruam, gatal-gatal, pusing, urtikaria, mual,

dan muntah, konstipasi, kembung, nyeri abdomen, lesu,

paraestesia, nyeri otot dan sendi, pendangan kabur, edema

perifer, perubahan hematologik, perubahan enzim hati dan

gangguan fungsi hati, depresi dan mulut kering.

(51)

DOSIS

20 mg sehari selama 4 minggu pada tukak duodenum atau 8

minggu pada tukak lambung.

Pada kasus yang berat atau kambuh ditingkatkan menjadi 40

mg sehari.

Tukak lambung karena AINS dan erosi gastroduodenum, 20

mg sehari selama 4 minggu.

NAMA DAN BENTUK SEDIAAN

Omeprazol (OGB) kapsul 20 mg (K).

Lambuzol (Bintang Toedjoe) kapsul 20 mg (K).

Losec (Merck Astra Ind.) kapsul 10 mg, 20 mg; serbuk inj. 40

mg / vial (K).

OMZ (Dexa Medica) kapsul 20 mg (K).

Protop (Interbat) kapsul 20 mg (K).

(52)

Referensi

Dokumen terkait