• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh PTK Mata Pelajaran Bahasa Inggris

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Contoh PTK Mata Pelajaran Bahasa Inggris"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN KOMPETENSI LISTENING MATERI

COMMAND AND PROHIBITION MELALUI

TEKNIK HOPOSOGA DENGAN MEDIA TALKING CARD

PADA SISWA SMP NEGERI 1 SLAWI SEMESTER GASAL

TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Oleh : Bunyamin ( 2010 )

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa teknik Hoposoga dengan media Talking Card dalam pembelajaran bahasa Inggris dapat meningkatkan kompetensi listening materi Command and Prohibition dan aktivitas siswa kelas VII-7 SMP Negeri 1 Slawi.

Indikator – indikator kinerja PTK ini adalah: 1) Kompetensi listening menjadi lebih baik karena siswa terbiasa dengan ungkapan-ungkapan kalimat perintah dan larangan dalam pembelajaran listening dengan teknik Hoposoga dan media Talking Card. 2) Aktivitas siswa selama proses pembelajaran meningkat. 3) Proses pembelajaran listening menjadi lebih aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

Permasalahan yang dihadapi siswa saat pembelajaran listening adalah kurangnya motivasi dan kemampuan siswa dalam merespon kalimat perintah dan larangan karena belum terbiasa mendengar ungkapan-ungkapan tersebut. Di samping itu, siswa merasa tidak berani, kurang percaya diri dan malu untuk mengungkapkan dan merespon kalimat perintah dan larangan. Untuk mengatasi hal tersebut penulis menggunakan teknik Hoposoga dengan Media Talking Card.

Hasil penelitian membuktikan bahwa pada siklus I kompetensi siswa meningkat. Ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam merespon kalimat perintah karena keterbatasan kosa kata. Di samping itu, keterbatasan ruang kelas, media realia dan gambar yang dibutuhkan untuk merespon perintah dan larangan juga menjadi kendala. Pada siklus II diadakan perbaikan rencana pembelajaran yaitu dengan mengambil tempat yang lebih luas, digunakannya media realia dan gambar serta pembagian game menjadi dua babak.

Rata – rata nilai tes kompetensi listening pada siklus I dan II berturut – turut adalah 69,72 dan 78,40. Persentase respon positif siswa juga meningkat secara signifikan dari 42,40 % menjadi 68 % pada siklus I dan 76,80 % pada siklus II. Persentase aktivitas siswa dalam pembelajaran listening juga meningkat dari 76% menjadi 96 %.

(2)

A. Pendahuluan

1. Latar Belakang Masalah

Sebagai guru yang baru dimutasi ke RSBI, penulis benar-benar dikejutkan dengan kemampuan siswa di kelas yang masih asing dengan ungkapan-ungkapan bahasa Inggris, padahal penulis seringkali berasumsi bahwa anak-anak RSBI merupakan anak-anak pilihan yang mempunyai kecerdasan intelegensi (IQ) cukup tinggi dibandingkan siswa di sekolah-sekolah reguler lain. Setelah penulis meminta pendapat dari rekan sejawat, mereka juga mengalami hal yang sama. Rekan guru bahasa Inggris yang mengajar di kelas VII-1 dan 2, yaitu Ibu Amalia, S.Pd. dan kelas 3, 4,5 dan VII-6, Ibu Tut Wuri Handayani, S.Pd mempunyai pendapat yang sama dengan penulis. Penulis mengalami banyak kendala dalam menerapkan scaffolding talk (bahasa Inggris untuk tujuan pembelajaran di kelas) untuk siswa kelas VII khususnya. Padahal seminggu sebelum siswa sekolah reguler masuk sekolah, yaitu di saat liburan panjang para siswa kelas VII RSBI SMP Negeri 1 Slawi sudah diberi matrikulasi khusus bahasa Inggris tujuan pembelajaran di kelas.

Bahasa guru yang sering didengar anak selama kegiatan berlangsung diharapkan dapat menjadi model bahasa interaksi yang diperlukan dalam kelas maupun di luar kelas. Tanpa adanya teacher talk atau scaffolding talk yang memperlihatkan bagaimana bahasa Inggris digunakan dalam konteks sehari-hari sulit diharapkan siswa akan memiliki kompetensi komunikatif yang memadai (Depdiknas,2004:109).

Kondisi di lapangan mengatakan bahwa ketika penulis mulai menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa untuk mengelola kelas sebagian besar siswa belum bisa merespon perintah dan larangan guru dengan baik. Contohnya, pada saat guru ingin menyuruh siswa untuk membuka buku halaman X, sebagian siswa masih belum bisa merespon bahasa lisan yang diungkapkan guru padahal bahasa yang digunakan oleh guru termasuk bahasa yang mudah. Sebagian besar siswa tampak bingung dan belum terbiasa dengan ungkapan-ungkapan tersebut. Hal ini juga berdampak pada rendahnya kompetensi listening siswa yang dibuktikan dengan dokumentasi data nilai ulangan harian dengan rata-rata 66. Nilai rata-rata tersebut tergolong rendah karena KKM untuk mata pelajaran bahasa Inggris di kelas VII-7 adalah 75.

(3)

bahasa Inggris, guru non bahasa Inggris maupun teman-teman sekelasnya. Di samping itu, sebagian besar siswa masih merasa malu, tidak berani untuk mengungkapkan pendapat, perintah, dan larangan dalam bahasa Inggris meskipun dengan temannya sendiri.

Atas dasar refleksi di atas, penulis mengambil tindakan-tindakan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut dalam merespon ungkapan-ungkapan yang dituturkan oleh guru, khususnya ungkapan perintah dan larangan dan meluas ke beberapa kosa kata yang berkaitan dengan materi kelas VII, khususnya.

Metode atau cara konvensional tidak lagi relevan dengan kondisi siswa kelas VII, karena terbukti satu minggu diajar dengan metode dan teknik konvensional proses pembelajaran berjalan monoton, pasif, dan membosankan sehingga berdampak pada rendahnya kompetensi listening dan aktivitas siswa kelas VII. Dalam kasus ini dibutuhkan kreativitas dan inovasi guru untuk menemukan media dan teknik yang sesuai dengan perkembangan peserta didik. Gabungan antara teknik dan media yang dapat membiasakan siswa berbicara sekaligus merespon dengan suasana di kelas yang menyenangkan, serta tidak mematikan kreativitas peserta didik sangat dibutuhkan.

Untuk mengatasi masalah dan kendala-kendala tersebut penulis memilih media Talking Card, yaitu media yang dibuat dari kertas-kertas bekas bungkus susu Lactogen, Prenagen, Dancow, Chocolatos, obat nyamuk dan lain-lain yang berisi pesan-pesan singkat dan ditulis oleh siswa sendiri. Selain itu, untuk menciptakan suasana yang hidup dan menyenangkan media tersebut digunakan untuk permainan siswa yang digabung dengan lagu Hokey Pokey

(selanjutnya disebut teknik Hoposoga). (Jill, 2002:122).

Penulis berasumsi bahwa dengan media Talking Card dan teknik Hoposoga , yang merupakan kepanjangan dari teknik Hokey Pokey Song and Game para siswa baik sadar maupun tidak terlibat langsung dalam kehidupan nyata untuk memberi perintah dan larangan sekaligus meresponnya dengan baik.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

a. Apakah teknik Hoposoga dengan media Talking Card dapat meningkatkan kompetensi listening materi command and prohibition siswa kelas VII-7 SMP N 1 Slawi semester gasal tahun pelajaran 2010-2011?

(4)

3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui apakah teknik Hoposoga dengan media Talking Card dapat meningkatkan kompetensi listening materi command and prohibition siswa kelas VII-7 SMP N 1 Slawi semester gasal tahun pelajaran 2010-2011.

b. Untuk mengetahui apakah teknik Hoposoga dengan media Talking Card dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas VII-7 SMP N 1 Slawi semester gasal tahun pelajaran 2010-2011.

4. Manfaat Penelitian

a. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran umum mengenai sebuah teori yang menyatakan bahwa peningkatan kemampuan listening dapat dilakukan teknik Hoposoga dengan media Talking Card.

b. Manfaat praktis

1) Bagi Siswa

Untuk meningkatkan kompetensi listening siswa

2) Bagi Guru

Memperbaiki proses pembelajaran di kelas

3) Bagi Sekolah

Meningkatkan pelayanan prima pada peserta didik

B. Landasan Teoretis dan Hipotesis Tindakan

1. Landasan Teoretis

(5)

Selanjutnya, Ana Maria Schwartz dalam bukunya “Listening in a foreign language” in Modules for the professional preparation of teaching assistants in foreign languages (melalui

http://bahasainggris.peperonity.com) menambahkan tentang berbagai macam kegiatan listening. Di antara kegiatan yang paling mudah untuk kegiatan listening bagi pembelajar bahasa tingkat pemula adalah suatu kegiatan yang tidak menuntut para pembelajar untuk merespon dengan menggunakan bahasa tersebut. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan cara meminta siswa untuk merespon perintah atau larangan (seperti Open the door, Close your eyes, please dll), memilih gambar yang sesuai, melingkari huruf yang benar di lembar kerja siswa, menggambar rute di peta atau mengisi diagram sebagaimana yang mereka dengarkan.

Teori tentang teknik bernyanyi dan bermain juga dikemukakan oleh para pakar pendidikan. Berikut adalah fungsi dari teknik bernyanyi seperti yang dijelaskan oleh Montolalu et al (2008:3.23) :1) Meningkatkan kreatifitas dan daya imajinasi. 2) Meningkatkan kecerdasan 3) Meningkatkan daya ingat.

Sementara itu, teori tentang manfaat teknik bermain juga menjelaskan bahwa bermain mempunyai arti yang sangat penting. Dapat dikatakan bahwa setiap anak yang sehat selalu mempunyai dorongan untuk bermain sehingga dapat dipastikan bahwa anak yang tidak bermain-main pada umumnya dalam keadaan sakit, jasmaniah ataupun rohaniah.

Para pakar mengatakan bahwa bermain mempunyai banyak manfaat bagi anak. Di antara manfaat tersebut seperti yang dikemukan oleh (Montolalu, 2008: 1.20-1.24) adalah sebagai berikut: 1) bermain memicu kreativitas anak. 2) bermain bermanfaat mencerdaskan otak. 3) bermain bermanfaat menanggulangi konflik 4) bermain bermanfaat untuk melatih empati 5) bermain bermanfaat mengasah panca indera 6) bermain itu melakukan penemuan.

Menurut Jean Piaget (melalui Montolalu et.al 2008:2.19) anak-anak sesuai dengan usianya mempunyai jenis-jenis permainan tertentu, yaitu sensory motor play (untuk usia 1 ½-2 tahun) , Symbolic play (2-7 tahun), Social play games with rules (8-11 tahun) dan games dengan aturan dan olahraga (11 tahun ke atas).

(6)

Dari beberapa teori tentang teknik bernyanyi dan bermain maka dapat dikatakan bahwa keduanya merupakan teknik yang diterapkan dalam pembelajaran untuk menciptakan proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Salah satu di antara teknik tersebut adalah teknik Hoposoga.

Teknik Hoposoga (kepanjangan dari Hokey Pokey Song and Game) merupakan gabungan dari teknik bernyanyi dan bermain. Dalam teknik ini penulis memilih lagu Hokey Pokey yang diambil dari super simple song untuk game babak I. Di samping itu, untuk menumbuhkan kreativitas siswa guru juga memilih lagu yang dianggap mudah dan lebih sederhana tetapi menarik yaitu lagu Sedang Apa-Sedang Apa, sebuah lagu pramuka yang diubah syairnya dengan beberapa kalimat perintah sederhana untuk game babak II (lirik lagu bisa dilihat pada lampiran)

Dengan lagu para siswa diajak untuk melafalkan kalimat-kalimat perintah dalam bahasa Inggris. Sambil bernyanyi para siswa diminta untuk bergerak sesuai dengan lirik lagu. Dalam pelaksanaannya para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok terdiri dari 5 anggota. Setiap kelompok diberi kesempatan 5 menit untuk bermain di tengah-tengah kelas yang dikelilingi oleh kelompok lain dalam sebuah lingkaran besar dengan media Talking card. Setiap anggota kelompok mempunyai kesempatan untuk membaca dan merespon isi perintah yang ada dalam Talking card ketika lagu untuk babak II berhenti. (untuk penjelasan lebih lanjut tentang aturan permainan bisa dilihat pada lampiran).

Dari gambaran di atas, maka dapat dikatakan bahwa teknik

Hoposoga merupakan sebuah model pembelajaran yang dirancang oleh penulis dengan memperhatikan karakteristik, komponen dan langkah-langkah pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual. Teknik tersebut sangat memperhatikan kondisi siswa. Maksud dilaksanakannya pembelajaran dengan teknik Hoposoga

adalah untuk menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Teknik ini sangat tepat digunakan untuk anak-anak seperti peserta didik yang masih duduk di bangku SD dan siswa SMP.

(7)

siswa. Proses pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. (Depdiknas, 2002).

2. Hipotesis Tindakan

Teknik Hoposoga dengan Media Talking Card dapat meningkatkan kompetensi listening materi Command and Prohibition dan aktivitas siswa kelas VII-7 SMP N 1 Slawi Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2010-2011.

C. Metode Penelitian

1. Metode

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Dengan penelitian tindakan kelas peneliti dapat mencermati suatu objek dengan menggunakan pendekatan atau model pembelajaran tertentu untuk meningkatkan kompetensi listening siswa, khususnya materi command and Prohibition.

2. Setting dan Karakteristik Subjek

Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VII-7 SMP Negeri 1 Slawi yang berjumlah 25 orang. Alasan dipilihnya kelas ini adalah karena peneliti mendapatkan tugas mengajar di kelas VII-7 yang merupakan kelas untuk siswa yang baru duduk di bangku SMP, sehingga memerlukan kreativitas dan inovasi guru yang cukup tinggi untuk memotivasi para siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris Berdasarkan hasil observasi dan dokumentasi diperoleh

data kondisi awal siswa sebagai berikut: 1) Jumlah siswa sebanyak 25 orang yang terdiri dari 7 laki-laki dan 18 perempuan. 2) Tingkat kehadiran siswa selama observasi berlangsung 100%. 3) Hasil ulangan formatif kompetensi dasar listening materi Command and Prohibition diperoleh rata-rata 64.32. 4) Aktivitas siswa belum maksimal ditandai dengan sikap pasif peserta didik. 5) Belum muncul sikap kompetitif karena tidak ada pemecahan masalah dalam kelompok. 6) Rata-rata hasil kuesioner respon positif siswa terhadap pembelajaran adalah 42.40 %.

3. Prosedur penelitian

Penelitian dibagi menjadi dua siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi dan evaluasi serta refleksi.

a. Siklus I

(8)

Perbaikan pembelajaran pada siklus I sudah menggunakan strategi pembelajaran melalui teknik Hoposoga

dengan media Talking Card dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:

Guru menyuruh siswa untuk berdo’a kemudian mengecek kehadiran siswa. Guru memberikan apersepsi dengan berbagai pertanyaan sesuai dengan materi minggu lalu dan menghubungkannya dengan materi pembelajaran yang akan dibahas. Guru memotivasi siswa tentang pentingnya kemampuan listening materi Command and Prohibition.

Sebagai kegiatan inti guru membagi siswa secara heterogen ke dalam lima kelompok. Guru membagi kertas berisi naskah lagu Hokey Pokey dengan missing lyrics. Guru menyanyikan lagu Hokey Pokey dengan dua lirik lagu yang berbeda dan siswa melakukan kegiatan listening mengisi

missing lyrics. Siswa tampak aktif bekerja sama dalam kelompok dalam waktu sekitar tujuh menit. Pada kegiatan

missing lyrics kompetisi antar kelompok mulai muncul karena guru memotivasi siswa dengan pemberian skor setiap kelompok. Dari lembar kerja siswa diperoleh skor tertinggi 80 dan skor terendah 50. Setelah itu, guru menjelaskan aturan game dengan lagu dan beberapa kartu. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk berlatih game sekitar 10 menit dengan lagu Hokey Pokey dalam kelompok. Kemudian guru memanggil salah satu kelompok dan dua ketua kelompok lain sebagai time keeper dan pencatat skor untuk dijadikan simulasi game dengan lagu. Setelah itu, guru memberi kesempatan kepada setiap kelompok untuk bermain sesuai dengan gilirannya selama 5 menit setiap kelompok. Saat permainan berlangsung siswa aktif dan terlibat dalam permainan baik sebagai kelompok pemain maupun sebagai kelompok partisipan. Namun demikian, guru menemukan beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam merespon pesan kartu karena keterbatasan tempat bermain, media realia dan gambar yang digunakan siswa dalam merespon perintah dan larangan. Di samping itu, guru juga menemukan beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam penguasaan konsep. Setelah semua kelompok mendapatkan giliran untuk bermain guru mengumumkan pemenang game yaitu kelompok DO-RE-MI dengan skor tertinggi 1300 dan memberi masukan-masukan tentang game dan menyimpulkan materi pembelajaran.

(9)

b. Siklus II

Siklus II dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan (2 x 40 Menit) yaitu pada tanggal 4 dan 9 Agustus 2010.

Sebagai kegiatan awal guru menyuruh siswa untuk berdo’a dan mengecek kehadiran siswa. Setelah itu, guru memberikan apersepsi. Guru menyuruh siswa untuk duduk sesuai dengan kelompoknya masing-masing di atas lantai dengan membentuk lingkaran kecil.

Guru membagi kertas berisi naskah lagu Hokey Pokey

dengan missing lyrics. Guru memutar lagu Hokey Pokey dengan menggunakan laptop untuk kegiatan listening mengisi missing lyrics. Pada kegiatan missing lyrics diperoleh skor tertinggi 91.60 oleh kelompok AKATSUKI dan skor terendah 66 oleh kelompok STINKY. Setelah itu, Guru menjelaskan aturan game di bagi menjadi dua babak. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk berlatih game dengan lagu Hokey Pokey dalam kelompok. Siswa tampak lebih antusias berlatih bernyanyi sambil bergerak memperagakan isi kalimat perintah dan kalimat larangan yang ada pada teks lagu Hokey Pokey yang baru. Kerja sama antar siswa dalam kelompok juga semakin tinggi. Setelah itu guru memanggil salah satu kelompok dan dua ketua kelompok lain sebagai time keeper dan pencatat skor untuk dijadikan simulasi game babak I dengan lagu.

Setelah itu, guru memberi kesempatan kepada setiap kelompok untuk bermain sesuai dengan gilirannya selama 3 menit setiap kelompok. Kompetisi antar kelompok semakin tinggi karena hanya ada dua kelompok yang berhak masuk ke babak II. Guru mengamati jalannya permainan babak I. Seluruh siswa tampak aktif dan antusias untuk mengikuti jalannya game babak I. Setelah babak I berakhir, guru mengumumkan pemenang game dengan skor tertinggi 900 yaitu kelompok DO-RE-MI dan kelompok STINKY dengan skor 800. Kemudian guru melanjutkan Hoposoga babak II. Di saat Hoposoga berlangsung guru masih mendapatkan dua siswa yang tampak bingung dalam merespon kalimat perintah dan larangan. Namun demikian, jumlah siswa yang mengalami kendala jauh lebih sedikit dibanding dengan siklus I.

(10)

D. Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Hasil Tes Penelitian

Instrumen tes yang digunakan adalah tes kompetensi listening materi command and prohibition yang terdiri dari 10 butir soal lisan untuk direspon oleh siswa secara tertulis.

a. Pra Siklus

Berikut adalah rentang nilai hasil ulangan harian siswa sebelum dilakukan tindakan.

Tabel 1

No Rentang Nilai Jumlah Persentase Keterangan

1. < 75 14 56 % Belum Tuntas

2. 75-85 11 44 % Tuntas

3. > 86 0 0 %

-Jumlah 25 100 Ketuntasan Klasikal 44 %

40-74 75-85 >86

0 20 40 60

%

Gambar 1. Diagram batang nilai ulangan harian pra siklus.I

b. Siklus I

Berikut adalah tabel nilai kompetensi listening materi

command and prohibition setelah diajar melalui teknik Hoposoga

dengan media Talking Card.

Tabel 2.

No R. Nilai Jumlah Persentase Keterangan

1. < 75 9 36 % Tidak Tuntas

2. 75-85 12 48 % Tuntas

3. > 86 4 16 % Tuntas

(11)

40-74 75-85 >86 0

10 20 30 40 50

%

Gambar 2. Diagram batang nilai ulangan harian siklus I

c. Siklus II

Berikut adalah tabel nilai kompetensi listening materi command

and prohibition setelah diajar melalui teknik Hoposoga dengan media Talking Card.

Tabel 3.

No Rentang Nilai Jumlah Persentase Keterangan

1. < 75 7 28 % Belum Tuntas

2. 75-85 8 32 % Tuntas

3. > 86 10 40 % Tuntas

Jumlah 25 100 Ketuntasan Klasikal 72 %

40-74 75-85 >86

0 10 20 30 40

%

Gambar 3. Diagram batang nilai ulangan harian siklus II

Dari ketiga diagram tersebut di atas dapat dilihat adanya peningkatan nilai rata-rata tes kompetensi listening materi

command and prohibition dari pra siklus, siklus I dan siklus II.

(12)

Pra Siklus Siklus I Siklus II 0

20 40 60 80

%

Gambar 4. Grafik Peningkatan Nilai Rata-rata Kompetensi Listening

2. Hasil Non Tes

Data non tes siklus I dan II ini diperoleh dari hasil observasi, buku catatan harian dan dokumentasi. Berikut merupakan hasil penelitian nontes pada siklus I.

Hasil Observasi

Hasil observasi diperoleh melalui pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam penelitian ini aktivitas siswa mengalami peningkatan dari pra siklus, siklus I dan siklus II berturut-turut adalah dari 50 %, 76 % dan 96 %.

Hasil Kuesioner Respon Positif Siswa

Jika dilihat dari persentase respon positif dari hasil kuesioner maka dapat dilihat adanya kenaikan respon positif siswa dari 42 % pada pra siklus, 68% pada siklus I,dan meningkat menjadi 76.8 % pada siklus II.

Hasil Catatan Harian

Catatan harian yang digunakan dalam tindakan siklus I adalah catatan harian guru. Dari catatan harian guru diperoleh data tentang kendala-kendala siswa dalam pembelajaran listening melalui teknik Hoposoga dengan media Talking Card. Di antara kendala-kendala siswa adalah : 1) Sempitnya ruang kelas untuk

Hoposoga, sehingga menyulitkan siswa dalam merespon kalimat perintah 2) Tidak adanya media realia yang bisa membantu siswa untuk merespon kalimat perintah dan larangan 3) Adanya siswa yang belum terbiasa dengan cara pengucapan kosa kata, sehingga mempersulit siswa yang harus merespon kalimat perintah atau larangan.

Hasil Dokumentasi

(13)

E. Penutup 1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut :

a. Teknik Hoposoga dengan media Talking Card dalam pembelajaran bahasa Inggris dapat meningkatkan kompetensi listening materi command and prohibition siswa kelas VII-7 SMP N 1 Slawi tahun pelajaran 2010-2011 semester gasal. b. Teknik Hoposoga dan media Talking Card dalam pembelajaran

bahasa Inggris dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas VII-7 SMP N 1 Slawi tahun pelajaran 2010-2011 semester gasal. c. Teknik Hoposoga dengan media Talking Card dalam

pembelajaran bahasa Inggris dapat meningkatkan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan.

2. Rekomendasi/Implikasi

Implikasi dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Penelitian tindakan kelas sangat penting dalam rangka memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi siswa dan pada akhirnya dapat meninngkatkan efektifitas dan hasil pembelajaran. Oleh karena itu, guru hendaknya mengadakan kegiatan forum ilmiah untuk memecahkan masalah pembelajaran khususnya, dan mutu pendidikan nasional pada umumnya.

b. Teknik Hoposoga dengan media Talking Card mempunyai pengaruh positif terhadap proses pembelajaran yang bermutu. Oleh karena itu, sekolah hendaknya ikut memfasilitasi para guru untuk melaksanakan pembelajaran melalui pendekatan kontekstual dengan berbagai macam model seperti teknik

Hoposoga dan lain-lain, sehingga pembelajaran akan menjadi aktif, kreatif dan menyenangkan.

3. Saran

Saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Guru perlu merancang pembelajaran yang baik, meliputi perencanaan penggunaan teknik dan media pembelajaran yang diperlukan agar pembelajaran lebih efektif.

b. Guru perlu menggunakan metode, teknik dan media yang bervariasi selama pembelajaran berlangsung.

(14)

Daftar Pustaka

Al-Falasany, Judi.1984. Kunci Sukses Belajar Bahasa Inggris bagi Mahasiswa dan Guru.Solo: Ramadhani.

Al-Faridi, Abdulrahman. 2006. “Teaching Listening to SMP Students” Makalah disampaikan pada Bintek Bidang Studi Bahasa Inggris Guru SMP/MTs Se Jawa Tengah. Pemerintah Propinsi Jawa Tengah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Arikunto, Suharsimi, 1993. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Renneke Cipta.

Basirun, Chabib. 2002. Teaching Aids. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia.

Carol. A.Kreidler, 1960. Visual Aids For Teaching English to Speakers of Other Language. Washington DC : English Teaching Division Information center Service U.S. Information Agency.

Duuf.A 1990. Literature Oxford : Oxford: Oxford University Press.

Depdiknas 2002. Pendekatan Kontekstual ; Contextual Teaching and Learning. Jakarta: Direktorat PLP

Depdiknas. 2005. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah. Pedoman Khusus Mata Pelajaran :Jakarta. Dharma Bhakti.

Depdiknas. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas

Hadfield Jill, 2002. Intermediate Communication Games. China. Longman. Hamalik Oemar, 1986. Psikologi Belajar dan Mengajar, Bandung: PT.

Sinar Baru Algensindo.

Moleong Lexy J, 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Montolalu.B.E.F. Cet. Ke-8. Bermain dan Permainan Anak. Jakarta. Universitas Terbuka.2008.

Saefulloh. 2010. Teaching Listening Through songs.

http://haarrr.wordpress.com/2010/03/16/song-a-media-in-teaching listening. Diakses 14 Juli 2010.

Soeparno, 1988. Media Pengajaran Bahasa, Klaten: Intan Pariwara. Slameto, 2003. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta:

P.T. Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 2003. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinas Baru Algesindo.

Suwandi, Sarwiji, 2010. Assesmen dalam Pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka.

(15)

DAFTAR RIWAYAT PENELITI

Nama : BUNYAMIN, S.Pd.,M.Hum.

NIP : 19780109 200501 1005

Pangkat / Gol. Ruang : Penata / IIIc

Jabatan : Guru

Unit Kerja : UPTD SMP N 1 Slawi Kab. Tegal

Kontak Person : 081542180902

Slawi, 21 November 2010 Peserta,

BUNYAMIN, S.Pd.,M.Hum.

Gambar

NoTabel 1Rentang NilaiJumlah
Gambar 2. Diagram batang nilai ulangan harian siklus I
Gambar 4. Grafik Peningkatan Nilai Rata-rata Kompetensi Listening

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Sampling Ikan Selar Kuning pada bulan April 2017.. Sampling Ikan Selar Kuning pada bulan

Hasil penelitian ini merupakan “evidence based practice” yang dapat memberikan masukan bagi pelayanan kesehatan/keperawatan, khususnya pelayanan kesehatan/keperawatan di

Untuk menanamkan keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik, maka proses pembelajaran pada pendidikan kejuruan dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa

konversi penggunaan Lahan prima di Kawasan Lindung sebagaimana dimaksud dalam pasal 1g ayat (1) yang mengakibatkan bencana dipidana dengan pidana penjara paling lama

But with the increasing number of people having poor credit, lenders started seeing a huge potential of market in there and came up with financing plans especially for adverse

Musyawaran Perencanaan Pembangunan Desa yang selanjutnya disebut dengan Musrenbang Desa adalah forum musyawarah tahunan desa untuk menyepakali rencana kegiatan tahun

While transferring your balance from a high interest credit card to one with a low interest rate is easy, there are certain things that should be taken into consideration.. The