• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Perempuan Minangkabau Dalam Pembuatan Kebijakan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Perempuan Minangkabau Dalam Pembuatan Kebijakan"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

SEJARAH DAN PROFIL NAGARI PAUAH DAN GAMBARAN BUDAYA MATRILINEAL

A. Sejarah Dan Profil Nagari Pauah A.1. Sejarah Nagari Pauah

Menurut cerita turun-menurun dari orang tua, nama Pauah berasal dari nama jenis tanaman pohon kayu yang berbuah asam yang sangat digemari, yang konon dulunya banyak tumbuh pohon yang berbuah asam ini tumbuh subur dan besar-besar batang kayu nya, atas kebiasaan-kebiasaan inilah nenek moyang kita dulu memakai nama dan bertutur bahasa Pauah. Nenek moyang Nagari Pauah cantik dan molek yang bernama Puti Sangkar Bulan, yang sampai sekarang masih mempunyai kampung tua yang bernama Balai Durian.63

• Kampung Pauah.

Nagari Pauah yang dikelilingi oleh Bukik Gadang (Bukit Barisan) dan Bukik Kaciak (Bukit Kecil). Masa itu perpindahan penduduk di alam Minangkabau dalam perluasan daerah dan mencari tempat tinggal yang baru, konon kabarnya pendatang pertama Nagari Pauah adalah dari suku mande nan hilang atau mandailing, yang datang dari utara-Rao Nagari Lasuang Batu tempat

ini dinamakan Pauah karena ada batang pauah. Maka bernamalah kampuang Pauah, Pauah pada zaman dahulu bernama Pauah Ujung Tanjuang.

Nagari Pauah dahulu ada 6 kampung yaitu sebagai berikut:

63

(2)

• Kampung Tanjung Alai. • Kampung Taluak Ambun. • Kampung Kubu Rarak. • Kampung Paraweh. • Kampung Ateh.

Sekarang menjadi 3 Jorong/Dusun yaitu sebagai berikut: • Jorong Pauah.

• Jorong Tanjung Alai. • Jorong Taluak Ambun.

Nagari Pauh memiliki Induak Nan Salapan yaitu: a) Urang Tuo Batigo.

- Datuak Majoindo.

- Datuak Bandaro (Kemenakan dari Datuak Majoindo)

- Datuak Rajo Batembang (Anak menurut adat yang bersuku piliang)

b) Mamak Sara’

- Imam Khatib Rajo. - Imam Marajo. - Khatib Bagindo Ali. c) Mamak Adat

- Tuo Bainduak Kato.

(3)

- Tuo Bainduak Rajo Manyusun. - Tuo Bainduak Taluak Ambun. - Tuo Bainduak Khatib Rajo. - Tuo Bainduak Sutan Kumolo. - Tuo Bainduak Piliang.

- Tuo Bainduak Kampuang Ateh.

Pucuk Bulek Nagari Pauh adalah Datuk Majoindo, dengan penghulu kampung yang mempunyai suku Mandailiang dan Piliang.

A.2. Profil Nagari Pauah

A.2.1. Keadaan Geografis Nagari Pauah

Nagari Pauah adalah salah satu Nagari dari enam Nagari yang ada di wilayah Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.Dengan luas wialayah 600 Ha yang terdiri dari 3 Jorong/Dusun.64

No.

Tabel 2.1 Luas Nagari Pauah Menurut Pembagian Wilayah Jorong

Jorong Luas Wilayah

1. Pauah 200 Ha

2. Taluak Ambun 150 Ha

3. Tanjung Alai 250 Ha

Jumlah 600 Ha

Sumber: Nagari Pauah Dalam Angka Tahun 2014.

Nagari Pauah berada pada ketinggian 400 m diatas permukaan laut, dengan luas pertanian 60 Ha dan lebihnya pemukiman dan hutan lindung.

(4)

Gambar 2.1 Peta Wilayah Nagari Pauah Kecamtan Lubuk Sikaping Kabupaten Pasaman

Daerah Nagari Pauh memiliki batas daerah yaitu sebagai berikut:65 • Sebelah Utara berbatasan dengan Nagari Aia Manggih.

• Sebelah Selatan berbatasan dengan Nagari Durian Tinggi. • Sebelah Barat berbatasan dengan Bukik Kaciak.

• Sebelah Timur berbatasan dengan Bukik Barisan.

Nagari Pauah terdiri dar 3 Jorong yaitu sebagai berikut: • Jorong Pauah.

• Jorong Tanjung Alai. • Jorong Taluak Ambun.

65

(5)

A.2.2. Keadaan Demografi Nagari Pauah A.2.2.1. Jumlah Penduduk

Kenagarian Pauh memiliki jumlah penduduk sebanyak 9.796 Jiwa, yang terbagi dalam berberapa jorong berdasarkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), yaitu.

1) Jorong Pauh

Laki-laki : 1.423 Jiwa. Perempuan : 1.553 Jiwa. 2) Jorong Tanjung Alai

Laki-laki : 1.529 Jiwa. Perempuan : 1.335 Jiwa. 3) Jorong Taluak Ambun

Laki-laki : 813 Jiwa. Perempuan : 873 Jiwa

Dengan jumlah keseluruhan penduduk laki-laki yaitu 4.888 Orang dan perempuan 4.908 Orang dengan 1854 Kartu Keluarga (KK).66

Usia

A.2.2.2. Jumlah Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin

Jumlah penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.2 Jumlah Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin

Laki-Laki Perempuan Usia Laki Laki Perempuan 0-12 Bulan 42 0rang 34 Orang 39 Tahun 64Orang 76 Orang

1 Tahun 59 Orang 84 Orang 40 Tahun 49 Orang 75 Orang 2 Tahun 60 Orang 87 Orang 41 Tahun 60 Orang 84 Orang

(6)

3 Tahun 49 Orang 82Orang 42 Tahun 52 Orang 82 Orang 29 Tahun 58 Orang 68 Orang 68 Tahun 31 Orang 33 Orang 30 Tahun 67 Orang 85 Orang 69 Tahun 31 Orang 38 Orang 31 Tahun 64 Orang 74 Orang 70 Tahun 32 Orang 26 Orang 32 Tahun 50 Orang 72 Orang 71 Tahun 27 Orang 33 Orang 33 Tahun 69 Orang 63 Orang 72 Tahun 28 Orang 28 Orang 34 Tahun 70 Orang 64 Orang 73 Tahun 28 Orang 23 Orang 35 Tahun 61 Orang 64 Orang 74 Tahun 25 Orang 32 Orang 36 Tahun 53 Orang 68 Orang 75 Tahun 23 Orang 86 Orang 37 Tahun 73 Orang 71 Orang Lebih Dari

75 Tahun

58 Orang 42 Orang 38 Tahun 60 Orang 69 Orang Lebih Dari

75 Tahun

58 Orang 42 Orang

JUMLAH 4.888 4.908

Sumber: Data Kependudukan dari Kantor Wali Nagari Pauah Tahan 2014

(7)

A.2.2.3. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Tenaga Kerja

Jumlah penduduk Nagari Pauah menurut kelompok tenaga kerja dapat dilihat dalam tabel berikut ini:67

No.

Tabel 2.3 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Tenaga Kerja

Umur Jumlah

Sumber: Nagari Pauah Dalam Angka Tahun 2014.

A.2.2.4. Tingkat Pendidikan Masyarakat

a. Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan

Jumlah penduduk Nagari Pauah menurut tingkat pendidikan dapat dilihat dalam tabel berikut ini:68

No.

Tabel 2.4 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Keterangan Jumlah (Orang)

1. Lulusan Pendidikan Umum 1. Taman Kanak-Kanak 2. Lulusan Pendidikan Khusus

1. Pendidikan Pesantren -

67

Nagari Pauah Dalam Angka Tahun 2014. hal 6.

68

(8)

2. Madrasah

Sumber: Nagari Pauah Dalam Angka Tahun 2014.

b. Jumlah penduduk wajib belajar 9 Tahun

Tabel 2.5 Jumlah Penduduk Wajib Belajar 9 Tahun

No. Keterangan Jumlah

1. Usia 7-15 Tahun yang masih sekolah 1.238 2. Usia 7-15 Tahun yang tidak sekolah 31

Jumlah 1.269

Sumber: Nagari Pauah Dalam Angka Tahun 2014.

c. Jumlah kelembagaan pendidikan masyarakat Tabel 2.6 Jumlah Kelembagaan Pendidikan Masyarakat69

No. Keterangan Jumlah

1. Perpustakaan Desa/Kelurahan 1 Unit 2. Lembaga Kursus Keterampilan 1 Unit 3. Peserta Kursus Keterampilan 15 Orang

Jumlah 2 Unit/15 Orang

Sumber Nagari Pauah Dalam Angka Tahun 2014.

A.2.2.5. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Jumlah penduduk Nagari Pauah menurut mata pencaharian dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 2.7 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

No. Keterangan Jumlah

(9)

3. Polisi

8. Pengangguran/Pekerja tidak tetap 100 Orang

9. Pemilik sawah 217 Orang

22. Pengrajin Industri Rumah Tangga Lainnya

213 Orang 23. Pedagang Hasil Bumi 5 Orang

Jumlah 4.500 Orang

Sumber: Nagari Pauah Dalam Angka Tahun 2014.

A.2.2.6. Jumlah Penduduk Menurut Agama

Jumlah penduduk Nagari Pauah menurut agama dapat dilihat dalam tabel berikut ini:70

(10)

Tabel 2.8 Jumlah Penduduk Menurut Agama No. Keterangan Jumlah (Orang)

1. Islam 7.451

2. Kristen 50

3. Khatolik 25

4. Budha -

5. Hindu -

Jumlah 7.526 Orang

Sumber: Nagari Pauah Dalam Angka Tahun 2014.

A.2.2.7. Jumlah Penduduk Berdasarkan Suku atau Marga

Jumlah penduduk Nagari Pauah menurut suku atau marga berdasarkan penjelasan hasil wawancara dengan Wali Nagari Pauah Bapak Raymon Andesta adalah 80% merupakan suku minang asli dan 20% merupakan suku jawa dan batak.71

• Fase Pemerintahan Belanda B. Pemerintahan Nagari

B.1. Sejarah Pemerintahan Nagari

Sejarah pemerintahan Nagari Pauah sejalan dengan perjalanan pemerintahan Belanda di Indonesia. Dalam sejarah pemerintahan Nagari Pauh dibuat menjadi 2 Fase, yaitu:

Pemimpin Nagari pada zaman Belanda disebut Kepala Lareh (Kepala Kelarasan) pada zaman itu terdapat beberapa orang kepala laras.

71

(11)

• Fase Pemerintahan Kemerdekaan

Pada zaman kemerdekaan Wali Nagari dikenal pada mulanya sebagai

Angku Palo atau Kepala Nagari. Dengan Kepala Nagari sebagai berikut:72

No.

Tabel 2.9 Kepala Nagari Pada Fase Pemerintahan Kemerdekaan Kepala Nagari/Wali

Nagari

Periode

1. Bone 1940

2. Djamaran 1940

3. Hasan Basri Nan Bagadiang 1960-1970

4. Zainal Bahri 1970-1980

Sumber: Profil Nagari Pauah Tahun 2014.

Kemudian dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 5 Tahun 1979,73

a) Kelurahan Pauah.

maka pemerintahan diseluruh Indonesia adalah Desa dan Kelurahan dan Nagari Pauah waktu itu terpecah menjadi 3 kelurahan :

b) Kelurahan Tanjung Alai. c) Kelurahan Taluak Ambun.

Dan masing-masing Desa dan Kelurahan dipimpin oleh Kepala Desa dan Lurah.Pada tahun 2001 Nagari Pauah resmi kembali ke sistem Pemerintahan Nagari sebagai perwujudan Peraturan Daerah Kabupaten Pasaman No. 16 Tahun 2001 Tentang Pemerintahan Nagari.74

72

Profil Nagari Pauah Tahun 2014 .hal 4.

73

Undang-Undang No. 5 Tahun 1979.

74

(12)

Sampai sekarang ini telah ada 3 Wali Nagari yang menjabat semenjak kembalinya kepada Pemerintahan Nagari yaitu:75

No.

Tabel 2.10 Wali Nagari dalam Pemerintahan Nagari Pauah

Nama Periode

1. Muksinin 2001-2006

2. Erizal, SH. 2006-2008 3. Raymond Andesta 2008-2014 4. Raymon Andesta 2014-2020 Sumber: Profil Nagari Pauah Tahun 2014.

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa Nagari Pauah telah dipimpin oleh beberapa Wali Nagari sebagai berikut:

No. Kapalo Lareh/Kapalo Nagari/Wali Nagari

Periode

1. Bone 1940

2. Djamaran 1940

3. Hasan Basri Nan Bagadiang 1960

4. Zainal Bahri 1970-1980

5. Muksinin 2001-2006

6. Erizal, SH. 2006-2008

7. Raymon Andesta 2008-2014 8. Raymon Andesta 2014-2020 Sumber: Profil Nagari Pauah Tahun 2014.

B.2. Struktur Organisasi Pemerintahan Nagari

Dalam menjalankan organisasi pemerintahan Nagari dikepalai oleh seorang Wali Nagari yang dibantu oleh Perangkat Nagari yang terdiri seorang

75

(13)

Sekretaris dan beberapa orang Kaur dan Staf. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:76

No.

Tabel 2.11 Struktur Organisasi Pemerintahan Nagari

Nama Jabatan Umur Pendidikan

1. Raymon 8. Etriana Asmita Operator Komputer 26 Tahun SMK

9. Septian Staf 38 Tahun D3

Sumber: Profil Nagari Pauah Tahun 2014.

Kemudian dibantu oleh 2 orang petugas teknis lapangan yaitu sebagai berikut:

No. Nama Keterangan Umur Pendidikan

1. Leny Karmila

Dan dalam membantu tugas Wali Nagari di wilayah kejorongan dibantu oleh 3 Orang Kepala Jorong. Bisa dilihat dalam tabel berikut ini:

(14)

Tabel 2.12 Kepala Jorong di Nagari Pauah

No. Nama Jorong Umur Pendidikan

1. Syafril Kepala Jorong Pauah

54 Tahun SLTA 2. Rafdinal Kepala Jorong

Tanjung Alai

52 Tahun SLTA 3. Efrizal Kepala Jorong

Taluak Ambun

38 Tahun SLTA Sumber: Profil Nagari Pauah Tahun 2014.

Kemudian dalam menjalankan Pemerintahan Nagari, Wali Nagari dibantu oleh Lembaga-Lembaga Nagari yaitu sebagai berikut:77

No.

Tabel 2.13 Lembaga Nagari di Nagari Pauah

Lembaga Nagari Nama Ketua

1. BAMUS (Badan Musyawarah) Hendri V. Khatib Rajo 2. KAN (Kerapatan Adat Nagari) R. DT. Rajo Batimbang 3. LPMN (Lembaga Pemberdayaan

Masyarakat Nagari)

Fahmi Athar 4. PKK (Pembinaan Kesejahteraan

Keluarga)

Neni Nurwijayanti 5. BKMT (Badan Kerapatan Majelis

Taqlim)

- 6. FKPM (Forum Kemitraan Polisi

Masyarakat)

M. Mardinal, S.Ag. 7. LPTQ (Lembaga Pengembangan

Tilawatil Quran)

Jufrial, A.Md.

8. BUNDO KANDUANG Fartini

Djawanis

Yuniwati Thahar Kartini

Sumber: Profil Nagari Pauah Tahun 2014.

(15)

B.2.1. Tugas, Wewenang, dan Kewajiban Wali Nagari

(16)

mewakilinya sesuai peraturan perundang-undangan, melaksanakan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Kemudian dalam pasal 6 dijelaskan dalam alinea pertama dalam melaksanakan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 Wali Nagari mempunyai kewajiban yaitu memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat, melaksanakan kehidupan demokrasi, melaksanakan prinsip tata pemerintahan Nagari yang bersih dan bebas dari Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme, menjalin hubungan kerja dengan seluruh mitra kerja pemerintahan Nagari, mentaati dan menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan, menyelenggarakan administrasi pemerintahan Nagari yang baik, melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan Pemerintahan Nagari, melaksanakan urusan yang menjadi kewenangan Nagari, mendamaikan perselisihan masyarakat di Nagari, mengembangkan pendapatan masyarakat dan Nagari, membina, mengayomi, dan melestarikan nilai-nilai sosial budaya dan adat istiadat, memberdayakan masyarakat dan kelembagaan di Nagari, mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan hidup.

(17)
(18)

B.2.2. Kedudukan, Fungsi, Wewenang, Hak dan Kewajiban Bamus Nagari

Kedudukan, fungsi, wewenang, hak dan kewajban bamus terdapat dalam Peraturan Daerah Kabupaten Pasaman Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pemerintahan Nagari yang tertuang dalam beberapa pasal, yaitu sebagai berikut:78

Kemudian dalam Pasal 71 dijelaskan terkait dengan tugas dan wewenang BAMUS Nagari, adapun tugas dan wewenang BAMUS Nagari yaitu membahas rancangan peraturan nagari bersama wali nagari, melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan nagari dan peraturan wali nagari, mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian wali nagari, membentuk panitia pemilihan wali Di dalam pasal 69 Bamus Nagari Berkedudukan sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan nagari. Kemudian dalam Pasal 70 Bamus Nagari berfungsi menetapkan Peraturan Nagari bersama Wali Nagari, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat, Anggota BAMUS Nagari adalah wakil dari penduduk nagari yang bersangkutan berdasarkan musyawarah mufakat, anggota BAMUS Nagari ditetapkan dengan jumlah ganjil sebanyak 7 orang, Anggota BAMUS Nagari terdiri dari unsure Niniak Mamak 1 (satu) orang, Alim Ulama 1 (satu orang), Cadiak Pandai 2 (dua) orang, Bundo Kanduang 1 (orang), dan pemuda 2 (dua) orang atau sebutan lainnya dan masa jabatan anggota BAMUS Nagari adalah 6 (enam) tahun dan dapat diangkat/diusulkan kembali untuk (satu) kali masa jabatan berikutnya.

78

(19)

nagari, menetapkan calon Wali Nagari yang berhak dipilih atas usul yang ditetapkan oleh panitia pemilihan, menetapkan calon wali nagari terpilih dan mengusulkan kepada bupati melalui camat. Menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan aspirasi penduduk nagari dan menyusun tata tertib Bamus Nagari.

(20)

membentuk panitia panitia pemilihan, menetapkan calon Wali Nagari yang berhak dipilih, menetapkan calon Wali Nagari terpilih dan mengusulkan calon Wali Nagari terpilih kepada bupati melalui Camat.

B.2.3. Landasan Hukum Pemerintahan Nagari

Landasan hukum berdirinya Pemerintahan Nagari Pauah:

• Peraturan Daerah Kabupaten Pasaman Nomor 16 Tahun 2001 Tentang

Pemerintahan Nagari.

• Peraturan Daerah Kabupaten Pasaman Nomor 8 Tahun 2007 Tentang

Pemerintahan Nagari.

• Peraturan Daerah Kabupaten Pasaman Nomor 9 Tahun 2007 Tentang

Badan Permusyawaratan Nagari.

• Peraturan Daerah Kabupaten Pasaman Nomor 10 Tahun 2007 Tentang

Tata Cara Pemilihan, Pengangkatan dan Pemberhentian Wali Nagari. • Peraturan Daerah Kabupaten Pasaman Nomor 12 Tahun 2011 Tentang

Pemerintahan Nagari.

B.2.4. Kebijakan Pemerintahan Nagari Pauah

(21)

mengeluarkan beberapa kebijakan peraturan nagari, peraturan wali nagari di Tahun 2015, sebagai berikut:79

• Peraturan Nagari Nomor 01 Tahun 2015 Tentang Rencana Pembangunan

Jangka Menengah Perubahan (RPJM-P) Nagari Pauah 2014-2020.

• Peraturan Nagari Nomor 02 Tahun 2015 Tentang Anggaran Pendapatan

dan Belanja Nagari Tahun Anggaran 2015.

• Peraturan Nagari Nomor 03 Tahun 2015 Tentang Besaran Biaya

Administrasi/Jasa Pelayanan Di Kantor Wali Nagari Tahun 2015.

• Peraturan Nagari Nomor 04 Tahun 2015 Tentang Besaran Presentase

Penggunaan Pendapatan Asli Nagari Pauah Tahun Anggaran 2015.

• Peraturan Nagari Nomor 05 Tahun 2015 Tentang Perubahan Anggaran

Pendapatan dan Belanja Nagari Tahun Anggaran 2015.

• Peraturan Nagari Nomor 06 Tahun 2015 Tentang Bantuan Pinjam/Kredit

Khusus Ibu Rumah Tangga.

• Peraturan Nagari Nomor 07 Tahun 2015 Tentang Gerakan Masyarakat

Maghrib Mengaji di Nagari.

• Peraturan Nagari Nomor 08 Tahun 2015 Tentang Badan Usaha Milik

Nagari (BUMNag).

• Peraturan Wali Nagari Nomor 01 Tahun 2015 Tentang Standar

Operasional Pelayanan (SOP) Dikantor Wali Nagari Pauah Tahun 2015.

79

(22)

• Peraturan Wali Nagari Nomor 02 Tahun 2015 Tentang Pergeseran

Anggaran Mendahului Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Nagari Pauah Tahun Anggaran 2014.

• Peraturan Wali Nagari Nomor 03 Tahun 2015 Tentang Penetapan Besaran

Biaya Perjalanan Dinas Nagari Pauah Tahun Anggaran 2015

C. Gambaran Umum Budaya Matrilineal C.1. Sejarah Budaya Matrilineal

Sejarah matrilineal secara turun-menurun berdasarkan cerita para tokoh di minangkabau berawal pada masa kepemimpinan Datuk Katumangungan dan Datuk Parpatiah Nan Sabatang di minangkabau yang kemudian diserang oleh panglima perang kerajaan Majapahit Adityawarman. Majapahit berniat menyerang daerah minangkabau karena daerah minangkabau terkenal sebagai daerah yang cinta akan perdamaian sehingga tidak memiliki angkatan perang maupun kepolisian.

(23)

keramah tamahan dan akan dipinang untuk dijodohkan dengan adik kandungnya yang bernama Putri Jamilah.80

Akhirnya sampailah panglima perang majapahit Adityawarman di ranah minangkabau.Adityawarman yang datang dari daerah jawa merasa kaget dengan penyambutan yang dilakukan oleh tentara minangkabau.Dirinya merasa heran karena Datuk Katumanggungan justru menyambutnya dengan penuh keramahan dan rasa persaudaraan, dan bukannya menyambut dengan bala tentara perang. Utusan dari istana Pagaruyung datang menemuinya dan mengatakan niatnya untuk meminang panglima Adityawarman untuk dinikahkan dengan sang putri dari kerajaan yaitu Putri Jamilah yang merupakan adik kandung dari Datuk Katumanggungan. Dan tidak hanya itu demi menghindari perang yang dampaknya akan menyesengsarakan rakyat, maka panglima Adityawarman akan diangkat menjadi raja di minangkabau jika bersedia menikah dengan Putri Jamilah. Tentu saja hal itu membuat panglima Adityawarman terkejut dan langsung menerima tawaran itu.81

Melihat gelagat bahwa panglima Adityawarman akan menerima tawaran itu, maka sang Datuk berusaha mencari cara agar keturunan Jamilah nantinya tetap menjadi orang minangkabau dan agar semua orang tahu bahwa keturunan Putri Jamilah mendapatkan warisan dari kerajaan minangkabau dan bukannya mendapatkan warisan dari kekuasaan dari Adityawarman. Maka akhirnya

80Ir. Edison M. S. SH. M.Kn. 2010.Tambo Minangkabau: Budaya dan Hukum Adat di

Minangkabau. Bukittinggi: Penerbit Kristal Multimedia. hal 5.

(24)

ditetapkanlah adat batali bacambua yang langsung merubah struktur masyarakat minangkabau:

“Nan dikatokan adat nan batali cambua, iyolah hubungan mamak dengan

bapak, dalam susunan rumah tango, sarato dalam Korong kampuang. Dek

Datuak Parpatiah Nan Sabatang, didirikan duo kekuasaan, balaku di ateh rumah

tango, iyolah tungganai jo rajonyo, nan Korong kampuang barajo mamak, rumag

tango barajo kali, di rumah gadang batungganai. Dicambua tali malakek”

Yang artinya: “ Adat batali bacambua mengatur hubungan antara bapak dan mamak. Intinya, di dalam rumah tangga terdapat dua kekuasaan, pertama kekuasaan bapak, kedua kekuasaan mamak, yaitu saudara laki-laki dari pihak ibu.Pemikiran itu dibawa Datuk Parpatiah Nan Sabatang pada musyawarah dengan cerdik pandai di balairung sari.Menyadari penting perubahan mufakat didapatkan”.82

Sejak saat itu susunan aturan masyarakat berubah, dahulu bapak mewariskan kepada anak sekarang harus kepada kemenakan.Dahulu suku di dapat dari bapak, sekarang dari ibu.Ini tidak lebih dari kecerdikan Datuk Parpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan. Dengan datangnya Adityawarman, ia tetap menginginkan agar kekuasaan tetap berasal dari Datuk Katumanggungan. Dengan waris turun dari mamak, bukan dari bapak ini, nantinya akan memposisikan Adityawarman tidak lebih dari raja transisi bukan raja sebenarnya dari alam minangkabau. Sebab Datuak Katumanggungan yang menyerahkan kekuasaan

(25)

padanya, dengan sistem adat yang baru, terkesan hanya menitip kekuasaan.Hingga datang masanya nanti kemenakannya lahir dari perkawaninan Putri Jamilah adiknya dengan Adityawarman.

Cerita tersebut yang secara turun menurun dipercaya oleh masyarakat minangkabau sebagai cikal bakal dari gerakan matrilineal yang masih dijalani oleh masyarakat minangkabau hingga sekarang dimana garis keturunan dan warisan ditetapkan berdasarkan garis keturunan ibu, dan hak perwalian secara adat dari seorang anak bukan terdapat pada ayah kandungnya atau ayah biologisnya, melainkan ada pada paman atau saudara laki-laki ibu yang dalam bahasa minangkabaunya disebut dengan mamak.83

Sistem Matrilineal adalah suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu.Seorang anak laki-laki atau perempuan merupakan klen dari perkauman ibu. Ayah tidak dapat memasukan anaknya ke dalam klen-nya sebagaimana yang berlaku dalam sistem patrilineal. Oleh karena itu waris dan pusaka diturunkan menurut garis ibu.

C.2. Fungsi Sistem Matrilineal

84

Sistem kekerabatan ini tetap di pertahankan masyarakat Minangkabau sampai sekarang.Bahkan selalu di sempurnakan sejalan dengan usaha menyempurnakan sistem adatnya.Terutama dalam mekanisme penerapannya di

83Ibid. hal 8. 84

(26)

dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu peranan seorang penghulu ataupun ninik mamak dalam kaitan bermamak berkemenakan sangatlah penting.

Bahkan peranan penghulu dan ninik mamak itu boleh dikatakan sebagai faktor penentu dan juga sebagai indikator, apakah mekanisme sistem matrilineal itu berjalan dengan semestinya atau tidak.Jadi keberadaan sistem ini tidak hanya terletak pada kedudukan dan peranan kaum perempuan saja, tetapi punya hubungan yang sangat kuat dengan institusi ninik mamaknya di dalam sebuah kaum, suku atau klennya. Sebagai sebuah sistem, Matrilineal dijalankan berdasarkan kemampuan dan berbagai penafsiran oleh pelakunya; ninik mamak, kaum perempuan dan anak kemenakan. Akan tetapi sebuah uraian atau perincian yang jelas dari pelaksanaan dari sistem ini, misalnya ketentuan-ketentuan yang pasti dan jelas tentang peranan seorang perempuan dan sanksi hukumnya kalau terjadi pelanggaran, ternyata sampai sekarang belum ada.Artinya tidak dijelaskan secara tegas tegas tentang hukuman jika seorang minang tidak menjalankan sistem matrilineal tersebut.85

Sistem itu hanya diajarkan secara turun-menurun kemudian disepakati dan dipatuhi, tidak ada buku rujukan atau kitab undang-undangnya, pada hakekatnya tetap dan tidak beranjak dari fungsi dan peranan perempuan itu sendiri.Hal seperti ini dapat dianggap sebagai sebuah kekuatan sistem tersebut yang tetap terjaga sampai sekarang.Pada dasarnya sistem matrilineal bukanlah untuk mengangkat atau memperkuat peranan perempuan, tetapi sistem itu dikukuhkan untuk

85

(27)

menjaga, melindungi harta pusaka satu kaum dari kepunahan, baik rumah gadang, tanah pusaka, dan sawah ladang.86

Dalam sistem matrilineal perempuan di posisikan sebagai pengikat, pemelihara, dan penyimpan, sebagaimana diungkapkan pepatah adatnya amban puruak atau tempat penyimpanan.Itulah sebabnya dalam penentuan peraturan dan

perundang-undangan adat, perempuan tidak di ikut sertakan.Perempuan menerima bersih tentang hak dan kewajiban dalam adat yang telah di putuskan sebelumnya oleh pihak ninik mamak.Perempuan menerima hak dan kewajiban tanpa harus melalui sebuah prosedur apalagi bertahan.Hal ini disebabkan hak dan kewajiban perempuan itu, begitu dapat menjamin keselamatan hidup mereka dalam kondisi bagaimana pun juga.Semua harta pusaka menjadi milik perempuan, sedangkan laki-laki diberi hak untuk mengatur dan mempertahakannya.

Bahkan dengan adanya hukum faraidh dalam pembagian harta menurut Islam, harta pusaka kaum tetap dilindungi dengan istilah “pusako tinggi”, sedangkan harta yang boleh dibagi dimasukan sebagai “pusako randah”.

87

Perempuan tidak perlu berperan aktif seperti ninik mamak. Perempuan Minangkabau yang memahami konstelasi seperti ini tidak memerlukan lagi atau menuntut lagi prosedur lain atas hak-haknya. Mereka tidak memerlukan emansipasi lagi, mereka tidak perlu dengan perjuangan gender, karena sistem matrilineal telah menyediakan apa yang sesungguhnya diperlukan perempuan.

86

Prof. Mr. M. Nasroen. 1965. Dasar Falsafah Alam Minangkabau. Jakarta: Percetakan Negara. hal 47.

(28)

Para ninik mamak telah membuatkan suatu “aturan permainan” antara laki-laki dan perempuan dengan hak dan kewajiban yang berimbang antar sesamanya.

Oleh karena itulah institusi ninik-mamak menjadi penting dan bahkan sakral bagi kemenakan dan sangat penting dalam menjaga hak dan kewajiban perempuan.Keadaan seperti ini sudah berlangsung lama, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dengan segala plus minusnya. Keunggulan dari sistem ini adalah, dia tetap bertahan walau sistem patrilineal juga diperkenalkan oleh islam sebagai sebuah sistem kekerabatan yang lain pula. Sistem matrilineal tidak hanya menjadi sebuah “aturan” saja, tetapi telah menjadi semakin kuat menjadi suatu budaya, way of live, kecenderungan yang paling dalam diri dari setiap orang Minangkabau.88

88Ibid. Hal 51.

(29)

Untuk dapat menjalankan sistem tersebut dengan baik, maka mereka yang akan menjalankan sistem itu haruslah orang minangkabau itu sendiri. Untuk dapat menentukan seseorang itu orang minangkabau atau tidak ada beberapa ketentuannya, atau syarat-syarat seseorang dapat dikatakan sebagai orang Minangkabau.Aspek penting yang diatur dalam sistem matrilineal yaitu pengaturan harta pusaka.

Harta pusaka yang dalam terminologi orang minangkabau disebut harato jo pusako. Harato adalah sesuatu milik kaum yang tampak dan ujud secara

material seperti sawah, ladang, rumah gadang, ternak, dan sebagainya.Pusako adalah sesuatu milik kaum yang diwarisi turun menurun baik yang tampak maupun yang tidak tampak.Oleh karena itu di Minangkabau dikenal pula dua kata kembar yang artinnya sangat jauh berbeda; sako dan pusako.89

1. Sako

Sako adalah milik kaum secara turun menurun menurut sistem matrilineal yang tidak berbentuk material, seperti gelar penghulu, kebesaran kaum, tuah dan penghormatan yang diberikan masyarakat kepadanya.Sako merupakan hak bagi laki-laki di dalam kaumnya.Gelar demikian tidak dapat diberikan kepada perempuan walau dalam keadaan apapun juga.Pengaturan pewarisan gelar itu tertakluk kepada sistem kelarasan yang dianut suku atau kaum itu.

Jika menganut sistem kelarasan Koto Piliang, maka sistem pewarisan sakonya berdasarkan; patah tumbuah. Artinya, gelar berikutnya harus diberikan

89

(30)

kepada kemenakan langsung dari si penghulu yang memegang gelar itu. Gelar demikian tidak dapat diwariskan kepada orang lain dengan alasan apapun juga. Jika tidak ada laki-laki yang akan mewarisi, gelar itu digantuang atau dilipek atau disimpan sampai nanti kaum itu mempunyai laki-laki pewaris.

Jika menganut sistem kelarasan Bodi Chaniago, maka sistem pewarisan sakonya berdasarkan hilang baganti.Artinya, Jika seorang penghulu pemegang gelar kebesaran itu meninggal.Dia dapat diwariskan kepada laki-laki didalam kaum berdasarkan kesepakatan bersama anggota kaum itu.Pergantian demikian disebut secara adatnya gadang balega. Di dalam halnya gelar kehormatan atau gelar kepenghuluan (datuk) dapat diberikan dalam tiga tingkatan;90

a) Gelar yang diwariskan dari mamak ke kemenakan. Gelar ini merupakan gelar pusaka kaum sebagaimana yang diterangkan di atas. Gelar ini disebut sebagai gelar yang mengikuti kepada perkauman yang batali darah.

b) Gelar yang diberikan oleh pihak keluarga ayah (bako) kepada anak pisangnya, karena anak pisang tersebut memerlukan gelar itu untuk menaikan status sosialnya atau untuk keperluan lainnya. Gelar ini hanya gelar panggilan, tetapi tidak mempengaruhi konstelasi dan mekanisme kepenghuluan yang telah ada di dalam kaum. Gelar ini hanya boleh dipakai untuk dirinya sendiri, seumur hidup dan tidak boleh diwariskan kepada yang lain; anak apalagi kemenakan. Bila

(31)

si penerima gelar meninggal, gelar itu akan di jemput kembali oleh bako dalam sebuah upacara adat. Gelar ini disebut sebagai gelar yang berdasarkan batali adat.

c) Gelar yang diberikan oleh raja Pagaruyung kepada seseorang yang dianggap telah berjasa menurut ukuran-ukuran tertentu. Gelar ini bukan gelar untuk mengfungsinya sebagai penghulu di dalam kaumnya sendiri, karena gelar penghulu sudah dipakai oleh penghulu kaum itu, tetapi gelaran itu adalah merupakan balasan terhadap jasa-jasanya. Gelaran ini disebut secara adat disebabkan karena batali suto. Gelar ini hanya boleh dipakai seumur hidunya dan tidak boleh diwariskan. Bila terjadi sesuatu yang luar biasa, yang dapat merusakkan nama raja, kaum, dan nagari, maka gelaran itu dapat dicabut kembali.

2. Pusako

Pusako adalah milik kaum secara turun-menurun menurut sistem

(32)

tetapi dia bukan pemilik pusako kaumnya. Dalam pengaturan pewarisan pusako, semua harta yang akan diwariskan harus ditentukan dulu kedudukannya.91

a) Pusako Tinggi

Kedudukan harta pusaka itu terbagi dalam;

Harta pusaka kaum yang diwariskan secara turun menurun berdasarkan garis ibu.Pusaka tinggi hanya boleh digadaikan apabila keadaan sangat mendesak sekali hanya untuk tiga hal saja yaitu; gadih gadang indak balaki, maik tabujua di tangah rumah, dan rumah gadang katirisan.Selain dari ketiga hal diatas harta

pusaka tidak boleh digadaikan apalagi dijual. b) Pusako Randah

Harta pusaka yang didapat selama perkawinan antara suami dan istri.Pusaka ini disebut juga harta bawaan, artinya modal dasarnya berasal dari masing-masing kaum.Pusako randah diwariskan kepada anak, istri dan saudara laki-laki berdasarkan hukum faraidh, atau hukum Islam.Namun dalam berbagai kasus di Minangkabau, umunya pusako randah ini juga diserahkan oleh laki-laki pewaris kepada adik perempuannya.Tidak dibaginya menurut hukum faraidh tersebut. Inilah mungkin yang dimaksudkan Tsuyoshi Kato bahwa sistem matrilineal akan menguat dengan adanya keluarga batih. Karena setiap laki-laki pewaris pusako randah akan selalu

91

(33)

menyerahkan harta itu kepada saudara perempuannya. Selanjutnya saudara perempuan itu mewariskan pula kepada anak perempuannya.Bagitu seterusnya.Akibatnya pusako randah pada mulanya, dalam dua atau tiga generasi berikutnya menjadi pusako tinggi pula.

C.3. Hak dan Kewajiban dalam Matrilineal

Kedudukan laki-laki dan perempuan di dalam adat Minangkabau berada dalam posisi seimbang. Laki-laki punya hak untuk mengatur segala yang ada di dalam perkauman, baik pengaturan pemakaian, pembagian harta pusaka, perempuan sebagai pemilik dapat mempergunakan semua hasil itu untuk keperluan anak beranak. Peranan laki-laki di dalam dan di luar kaumnya menjadi sesuatu yang harus dijalankannya dengan seimbang dan sejalan.92

1. Sebagai Kemenakan

Di dalam kaumnya, seorang laki-laki bermula sebagai kemenakan (atau dalam hubungan kekerabatan disebutkan; (ketek anak urang, lah gadang kamanakan awak).Sebagai kemenakan dia harus mematuhi segala aturan yang ada

di dalam kaum.Belajar untuk mengetahui semua asset kaumnya dan semua anggota keluarga kaumnya.Oleh karena itu ketika seseorang berstatus menjadi kemenakan, dia selalu disuruh kesana kemari untuk mengetahui segala hal tentang adat dan perkaumannya.

(34)

Dalam kaitan ini, peranan surau menjadi penting, karena surau adalah sarana tempat mempelajari semua hal itu baik dari mamaknya sendiri maupun dari orang lain yang berada di surau tersebut. Dalam menentukan status kemenakan sebagai pewaris sako dan pusako, anak kemenakan dikelompokan menjadi tiga kelompok yaitu kemenakan di bawah daguak, kemenakan di bawah pusek, dan kemenakan di bawah lutuik.

Kemenakan dibawah daguak adalah penerima langsung waris sako dan

pusako dari mamaknya.Kemenakan di bawah pusek adalah penerima waris apabila kemenakan di bawah daguak tidak ada (punah).Kemenakan di bawah lutuik, umumnya tidak diikutkan dalam pewarisan sako dan pusako kaum.

2. Sebagai Mamak

Pada giliran berikutnya, setelah dia dewasa, dia akan menjadi mamak dan bertanggung jawab kepada kemenakannya. Mau tidak mau, suka tidak suka, tugas itu harus di jalaninnya.Dia bekerja disawah kaumnya untuk saudara perempuannya anak-beranak yang sekaligus itulah pula kemenakannya.Dia mulai ikut mengatur walau tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan mamaknya yang lebih tinggi yaitu penghulu kaum.

3. Sebagai Penghulu

(35)

juga bertindak terhadap hal-hal yang berada di luar kaumnya untuk kepentingan kaumnya.93

4. Peranan di Luar Kaum

Setiap laki-laki terhadap kaumnya selalu diajarkan; kalau tidak dapat menambah (maksudnya harta pusaka kaum), jangan mengurangi (maksudnya menjual, menggadai atau menjadikan milik sendiri). Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa peranan seorang laki-laki di dalam kaum disimpulkan dalam ajaran adatnya;

Tagak badunsanak mamaga dunsanak

Tagak basuku mamaga suku

Tagak bakampuang mamaga kampuang

Tagak banagari mamaga nagari

Selain berperan di dalam kaum sebagai kemenakan, mamak atau penghulu, seorang anak laki laki setelah dia kawin dan berumah tangga, dia mempunyai peranan lain sebagai tamu atau pendatang di dalam kaum istrinya, dan istri sebagai duta kaumnya pula di dalam kaum suaminya. Satu sama lain harus menjaga keseimbangan dalam berbagai hal, termasuk perlakuan-perlakuan terhadap anggota kaum kedua belah pihak.

Didalam kaum istrinya, seorang laki-laki adalah sumando (semenda). Sumando ini di dalam masyarakat Minangkabau dibuatkan pula beberapa kategori:94

(36)

a) Sumando ninik mamak. Artinya semenda yang dapat ikut memberikan ketenteraman pada kedua kaum: kaum istrinya dan kaum sendiri. Mencarikan jalan keluar terhadap sesuatu persoalan dengan sebijaksana mungkin. Dia lebih berperan sebagai seorang yang arif dan bijaksana.

b) Sumando kacang miang. Artinya, sumando yang membuat

kaum istrinya menjadi gelisah karena dia memunculkan atau mempertajam persoalan-persoalan yang seharusnya tidak dimunculkan. Sikap seperti ini tidak boleh dipakai.

c) Sumando lapik buruk. Artinya, sumando yang hanya

memikirkan anak istrinya semata tanpa peduli dengan persoalan-persoalan lainnya. Dikatakan juga sumando seperti sumando apak paja, yang hanya berfungsi sebagai tampang atau bibit semata. Sikap seperti ini juga tidak boleh dipakai dan harus di jauhi.

Sumando tidak punya kekuasaan apapun dirumah istrinya, sebagaimana yang selalu di ungkapkan dalam pepatah pepitih;

Sedalam-dalam payo

Hinggo dado itiak

Sakuaso-kuaso urang sumando

Hinggo pintu biliak

(37)

Sebaliknya, peranan sumando yang baik dikatakan; Rancak rumah dek sumando

Elok hukum dek mamaknyo

5. Kaum dan Pesukuan

Orang Minangkabau yang berasal dari satu keturunan dalam garis matrilineal merupakan anggota kaum dari keturunan tersebut.Di dalam sebuah kaum, unit terkecil disebut samande. Yang berasal dari satu ibu (mande). Unit yang lebih luas dari samande disebut saparuik. Maksudnya berasal dari nenek yang sama. Kemudian saniniak maksudnya adalah keturunan nenek dari nenek.Yang lebih luas dari itu lagi disebut sakaum.Kemudian dalam bentuknya yang lebih luas, disebut sasuku. Maksudnya, berasal dari keturunan yang sama sejak dari nenek moyangnya. Suku artinya seperempat atau kaki.Jadi, pengertian sasuku dalam sebuah nagari adalah seperempat dari penduduk nagari tersebut.Karena, dalam sebuah nagari harus ada empat suku besar.95

95Ibid hal 91.

Pada mulanya suku-suku itu terdiri dari Koto, Piliang, Bodi dan Caniago.Dalam perkembangannya, karena bertambahnya populasi masyarakat setiap suku, suku-suku itupun dimekarkan. Koto dan Piliang berkembang menjadi beberapa suku; Tanjuang, Sikumbang, Kutianyir, Guci, Payobada, Jambak, Salo, Banuhampu, Damo, Tobo, Galumpang, Dalimo, Pisang, Pagacancang, Patapang,

(38)

Bodi dan Caniago berkembang menjadi beberapa suku; Sungai Napa, Singkuang, Supayang, Lubuk Batang, Panyalai, Mandaliko, Sumagek dll. Dalam

majelis peradatan keempat pimpinan dari suku-suku ini disebut urang nan ampek suku. Dalam sebuah nagari ada yang tetap dengan memakai ampek suku tapi ada

juga memakai limo suku, maksudnya ada nama suku lain; Malayu yang dimasukkan ke sana.

Sebuah suku dengan suku yang lain, mungkin berdasarkan sejarah, keturunan atau kepercayaan yang mereka yakini tentang asal sulu mereka, boleh jadi berasal dari perempuan yang sama. Suku-suku yang merasa punya kaitan keturunan ini disebut dengan sapayuang. Dari beberapa payuang yang juga berasal sejarah yang sama, disebut sahindu. Namun, yang lazim dikenal dalam berbagai aktivitas sosial masyarakat Minangkabau adalah; sasuku dan sapayuang saja.96

96Ibid. hal 93.

Sebuah kaum mempunyai keterkaitan dengan suku-suku lainnya, terutama disebabkan oleh perkawinan. Oleh karena itu kaum punya struktur yang umumnya dipakai oleh setiap suku;

(1) struktur di dalam kaum

Di dalam sebuah kaum, strukturnya sebagai berikut;

(39)

b. Mamak-mamak di bawah penghulu yang dipercayai memimpin setiap rumah gadang, karena di dalam satu kaum kemungkinan rumah gadangnya banyak. Mamak-mamak yang mempimpin setiap rumah gadang itu disebut; tungganai.

Seorang laki-laki yang memikul tugas sebagai tungganai rumah pada beberapa suku tertentu mereka juga diberi gelar datuk.Di bawah tungganai ada laki-laki dewasa yang telah kawin juga, berstatus sebagai mamak biasa.

Di bawah mamak itulah baru ada kemenakan. (2) Struktur dalam kaitannya dengan suku lain.

Akibat dari sistem matrilienal yang mengharuskan setiap anggota suku harus kawin dengan anggota suku lain, maka keterkaitan akibat perkawinan melahirkan suatu struktur yang lain, struktur yang mengatur hubungan anggota sebuah suku dengan suku lain yang terikat dalam tali perkawinan tersebut.

a. Induk bako anak pisang

Hubungan kekerabatan antara anak-anak dengan kerabat ayahnya, karena seorang anak bernasab kepada anaknya.Hubungan bako dengan anak pisangnya ini hanya dikenal dalam masyarakat minangkabau.Sebaliknya anak itu dipanggil anak pisang oleh kerabat ayahnya.97

97

Drs. H. Sjafnir Dt. Kando Marajo. 2006. Sirih Pinang Adat Minangkabau. Pengetahuan Adat Minangkabau Tematis. Padang:Sentra Budaya. hal 42.

(40)

ayah.Induak bako punya peranan dan posisi tersendiri di dalam sebuah kaum pihak si anak.

b. Andam pasumandan

Hubungan kekerabatan dalam suatu nagari dan kampung yang sudah saling silang, seperti sumando-mamak tungganai, ipar bisan.Hubungan itu disebut dengan hubungan andam.Hubungan antara dua kedua keluarga atau lebih disebut dengan hubungan pasumandan. Antara andam pasumandan dikampung dan nagari berlaku saling mengunjungi dating dalam berita suka maupun duka, kaba baiak barimbauan, kaba buruak barambauan atau Andan pasumandan juga merupakan dua kata yang berbeda; andan dan pasumandan.Pasumandan adalah pihak keluarga dari suami atau istri.98

a) Bundo kanduang sebagai perempuan utama di dalam kaum, sebagaimana yang dijelaskan di atas.

Suami dari rumah gadang A yang kawin dengan isteri dari rumah gadang B, maka pasumandan bagi isteri adalah perempuan yang berada dalam kaum suami.

Sedangkan andan bagi kaum rumah gadang A adalah anggota kaum rumah gadang C yang juga terikat perkawinan dengan salah seorang anggota rumah gadang B.

c. Bundo Kanduang

Dalam masyarakat Minangkabau dewasa ini kata Bundo Kanduang mempunyai banyak pengertian pula, antara lain;

(41)

b) Bundo Kanduang yang ada di dalam cerita rakyat atau kaba Cindua Mato. Bundo Kanduang sebagai raja Minangkabau atau raja Pagaruyung.

c) Bundo kanduang sebagai ibu kanduang sendiri.

d) Bundo kanduang sebagai sebuah nama organisasi perempuan Minangkabau yang berdampingan dengan LKAAM. 99

Bundo kanduang yang dimaksudkan di sini adalah, Bundo Kanduang sebagai perempuan utama.Apabila ibu atau tingkatan ibu dari mamak yang jadi penghulu masih hidup, maka dialah yang disebut Bundo Kanduang, atau mandeh atau niniek.Dialah perempuan utama di dalam kaum itu.Perempuan yang disebut bundo kanduang dalam kaumnya, mempunyai kekuasaan lebih tinggi dari seorang penghulu karena dia setingkat ibu, atau ibu penghulu itu betul.

Dia dapat menegur penghulu itu apabila si penghulu melakukan suatu kekeliruan. Perempuan-perempuan setingkat mande di bawahnya, apabila dia dianggap lebih pandai, bijak dan baik, diapun sering dijadikan perempuan utama di dalam kaum. Secara implisit tampaknya, perempuan utama di dalam suatu kaum, adalah semacam badan pengawasan atau lembaga kontrol dari apa yang dilakukan seorang penghulu.

Prof Mr. Hazairin mengatakan bahwa orang Minangkabau agak berbeda caranya untuk menentukan keluarga bagi mereka yaitu setiap orang laki-laki dan

99

(42)

perempuan menarik garis keturunannya keatas hanya melalui penghubung-penghubung yang perempuan saja sebagai saluran darah, yaitu setiap orang itu menarik garis keturunannya kepada ibunya dan dari ibunya yaitu neneknya dan dari neneknya itu kepada ibunya plus dari nenek itu dan begitu seterusnya.100

100Ibid. hal. 43.

Ditinjau dari atas maka setiap orang Minangkabau itu, jika ia perempuan hanya mempunyai keturunan yang terdiri dari anak laki-laki dan perempuan. Selanjutnya cucu laki-laki dan cucu perempuan yang lahir dari anaknya yang perempuan, selanjutnya piut-piut laki-laki dan perempuan yang lahir dari cucu perempuan.Sehingga akhirnya menurut sistem Minangkabau yang bercorak matrilineal itu seorang laki-laki tidak mempunyai keturunan yang menjadi keluarganya.

(43)

Dalam sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau kedudukan wanita dianggap kuat, wanita dilindungi oleh sistem pewarisan matrilineal, dimana rumah dan tanah diperuntukkan bagi wanita.Kemudian ikatan antara ibu dan anak-anak cenderung bersifat sangat kuat.Setelah menikah wanita tetap tinggal di rumah ibunya atau dilingkungan kerabat matrilineal.

Sebagai kesimpulan ciri-ciri masyarakat adat Minangkabau dengan sistem matrlineal adalah sebagai berikut:101

a) Keturunan dihitung berdasarkan garis keturunan ibu b) Suku terbentuk menurut garis ibu

c) Setiap orang tida dibenarkan kawin dengan sepesukuannya, atau mereka harus kawin dengan orang luar sukunya.

d) Kekuasaan di dalam suku secara teori terletak di tangan ibu, tetapi jarang sekali dipergunakan, karena dalam praktek yang berkuasa adalah saudara laki-laki dari ibu tersebut.

e) Perkawinan bersifat matrilokal yaitu suami mengunjungi rumah istrinya

f) Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak kepada kemenakannya yaitu dari saudara laki-laki kepada anak saudara perempuan

g) Rasa sehina semalu diantara pesukuan merupakan suatu kewajiban bagi seluruh anggota suku.

101

(44)

Perkawinan dalam masyarakat matrilieal sifatnya exogami, perkawinan yang terdiri dari dalam kelompok tidak dibenarkan karena mereka semuanya adalah berasal dari satu kelompok yang bertali darah.Suami tidak masuk kepada kelompok kaum istri dan anak-anaknya dengan perkawinan itu lelaki tetap menjadi kaumnya.

C.4. Struktur Matrilineal

Salah satu lembaga sosial yang mewakili kepentingan masyarakat adat di Sumatera Barat adalah Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM).Organisasi ini (idealnya) merupakan wadah penyaluran aspirasi komunitas adat dalam hubungannya dengan pelestarian nilai-nilai adat dalam masyarakat, disamping tentunya dalam menjaga kepentingan komunitas adat itu sendiri.Namun dalam perjalan sejarahnya ternyata fungsi itu kurang terlihat signifikan.Oleh karena secara historis struktur LKAAM sebagai organisasi yang mewadahi ninik mamak dan pemuka adat, sebenarnya tidak terdapat dalam struktur kepemimpinan tradisional masyarakat di daerah ini; tidak ada organisasi penghulu diatas penghulu-penghulu nagari.Hubungan antar nagari hanya ada bersifat kultural semata, yaitu adat Minangkabau.Bahkan tidak ada garis hirarkhi antara nagari-nagari itu sendiri dengan pusat kerajaan Pagaruyung sendiri.

(45)

terlindungi dari intervensi kepentingan-kepentingan di luarnya, yang dengan itu pula eksistensinya akan tetap terpelihara di tengah-tengah perubahan-perubahan politik di negara ini. Hal ini memang sejak lama diidamkan oleh masyarakat, khususnya sejak nagari-nagari tidak lagi memiliki otonomi atas wilayahnya oleh karena adanya struktur supra nagari yang memiliki otoritas yang lebih kuat.

Diawal kemerdekaan kepentingan komunitas adat di daerah ini diwakili oleh Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM).Majelis Kerapatan Adat ini telah memperlihatkan peranannya dalam mempertahankan kepentingan komunitas etnik pada waktu Kerapatan Adat Nagari (KAN) tidak lagi dimasukan menjadi bahagian dari kepemimpinan nagari dalam Maklumat Residen Sumatera Barat No. 20 dan 21 Mei 1946.102

Induk Organisasi ini berada di ibukota provinsi dan secara hirarkhis mempunyai cabang di setiap Daerah tingkat II Kabupaten/Kotamadya dan di Pada pemilu pertama 1995, organisasi ini bahkan menjadi satu kekuatan politik di Sumatera Barat, yaitu Partai Kerapatan Adat.

LKAAM sebagai organsasi adat bentukan pemerintah, dalam anggaran dasarnya, dicantumkan bahwa tujuan organisasi ini adalah untuk melestarikan nilai-nilai luhur adat Minangkabau serta mengembangkan falsafah adat Minangkabau yaitu; Adat basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Sebagai organisasi kemasyarakatan yang berorientasi kultural, wilayah kerja organisasi ini ternyata tidak meliputi semua wilayah kultural minangkabau, akan tetapi hanya mengikuti batasan wilayah territorial propinsi Sumatera Barat.

102

(46)

tingkat kecamatan.Untuk tingkat nagari ada Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang tidak mempunyai hubungan struktural secara langsung dengan LKAAM tingkat kecamatan, tetapi hanya bersifat konsultatif saja, terutama menyangkut program-program yang dilaksanakan di tingkat pedesaan.

Didalam susunan kepemimpinan lembaga ini, selain terdiri dari unsur-unsur pemuka adat, pemuka agama dan tokoh cendikiawan, juga terdapat unsur-unsur pemerintahan daerah. Struktur kepemimpinan LKAAM pada wal berdirinya terdiri dari: Payung Panji, Presedium, dan Badan Pekerja Harian. Struktur ini juga berlaku di setiap kepengurusan LKAAM di daerah tingkat II dan kecamatan-kecamatan.103

Dalam perjalannya, organisasi LKAAM ini telah memperlihatkan peranannya dalam rangka meningkatkan serta melestarikan nilai-nilai kebudayaan Minangkabau melalui berbagai program pembinaan-pembinaan dan penyebaran pengetahuan adat Minangkabau, baik melalui ceramah, penataran, serta

Sejak tahun 1974, terjadi perubahan struktur kepemimpinan pada lembaga ini.Istilah Payung Panji tidak lagi muncul dalam susunan kepengurusannya. Pada periode 1974-1978 struktur kepengurusannya terdiri dari tiga komponen, pertama: Dewan Pucuk Pimpinan, yaitu Ketua Umum, Wakil Ketua, Anggota dan Penasehat, kedua: Pimpinan Harian, yang terdiri dari Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, Bendahara, dan Pembantu Umum. Sedangkan unsur ketiga adalah Lembaga Pembinaan Adat dan Syarak, yang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Anggota.

103

(47)

Gambar

Tabel 2.1 Luas Nagari Pauah Menurut Pembagian Wilayah Jorong
Gambar 2.1 Peta Wilayah Nagari Pauah Kecamtan Lubuk Sikaping
Tabel 2.3 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Tenaga Kerja
Tabel 2.6 Jumlah Kelembagaan Pendidikan Masyarakat69
+6

Referensi

Dokumen terkait

Pemberitaan tersebut menyiratkan bahwa perempuan tidak dapat bekerja dengan baik di parlemen, karena perempuan yang bekerja di parlemen hanya untuk memenuhi kuota 30% saja

Al-Qardlâwî ketika mengomentari hadis Ibn Mâjah di atas ( Aku telah menerima putusan bapakku, hanya saja aku ingin agar kaum perempuan mengetahui, bahwa para

Dengan demikian, komitmen politik akan mengalami konkretisasi di dalam praktik demokratisasi politik, di mana sosok perempuan tidak lagi hanya sebagai “objek” pemenuhan suara

Pentingnya kecantikan wanita, bagi majalah perempuan tidak hanya dapat ditemukan dalam rubrikasi dan iklan saja, namun juga pada profil yang mereka tampilkan, terutama

Peneliti memilih untuk meneliti pramugari perempuan karena melihat fenomena yang ada, sebenarnya tidak hanya profesi pramugari saja yang dijadikan sebagai objek

Hakikatnya, adat Minangkabau hanya mengenal harta pusaka saja yang dimiliki secara bersama oleh kaum dalam adat matrilineal dan tidak mengenal istilah harta pencari-

Kedudukan Hukum terhadap perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga dalam perspektif Kitab UU Hukum Pidana Perlindungan hukum terhadap perempuan bukan saja hanya melalui UU yang

Perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang kami lakukan adalah: Penelitian kami tidak hanya membahas persoalan keterwakilan perempuan dalam politik, tetapi juga berfokus