BAB VI
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Berangkat dari serangkaian kajian yang dilakukan, dimulai dari bagian pendahuluan, tinjauan analistis, hingga desain pendekatan pastoral Tunjuitam maka, ada beberapa hal yang kiranya dapat disimpulkan pada bagian akhir ini, antara lain :
1. Tunjuitam merupakan konsensus nilai budaya yang berfungsi menyatukan dan menjaga keutuhan keluarga. Di sisi yang lain Tunjuitam memiliki nilai solidaritas sosial atas sebuah peristiwa kematian yang menimbulkan reaksi kedukaan. Hal ini nampak dari proses belajar bersama dari kultur yang diwujudkan lewat solidaritas dengan keluarga yang berduka dan proses syukur mereka bersama komunitas jemaat. Kebersamaan saat kematian itu terjadi, kaum keluarga/tetanggan bahkan jemaat datang ke rumah duka, membantu secara material dan spiritual, di gereja tercipta rasa saling menopang lewat doa dari semua orang, baik laki-laki, perempuan, tua/muda, yang memiliki pekerjaan atau tidak, umat dan pelayan bahkan dari strata sosial apapun.
ditemani, dikunjungi dan berbagi cerita. Tunjuitam secara langsung memberi ruang itu.
3. Tunjuitam dinilai baik oleh orang di GATIK. Bukan Cuma karena sebuah warisan yang dijalankan dari generasi ke generasi tetapi Tunjuitam memiliki nilai-nilai yang luhur bagi orang di GATIK. Dengan melakukan Tunjuitam, tidak lalu membuat orang yang berduka dengan cepat menyelesaikan kedukaan mereka, butuh waktu dan proses untuk hal itu. Namun, Tunjuitam memiliki hubungan dengan tindakan-tindakan pastoral, misalnya, lewat nasihat, kata-kata penguatan, kehadiran sanak saudara/ tetangga /kerabat /pelayanan dan jemaat. Jika, sepuluh keluarga datang dan memberi nasihat yang menguatkan, maka keluarga yang berduka merasakan bahwa ada yang peduli dengannya, ada yang menemaninya saat krisis kehidupan dialami dan Tunjuitam memberi ruang untuk siapa saja untuk memberi dukungan.
5. Pendampingan dan konseling pastoral kedukaan berlandaskan filosofi kumpul keluarga memiliki kandungan nilai-nilai spiritual sebagai pendekatan dan teknik: untuk mendamaikan, untuk menyembuhkan, memperbaiki relasi horisontal dan vertikal, dan mengutuhkan keluarga/jemaat. Keempat hal ini, bisa digunakan untuk mengatasi masalah-masalah keluarga dan bersama (jemaat), yakni masalah konflik internal, masalah luka batin, masalah lemahnya spiritualitas kristen dan kesenjangan sosial.
menyembuhkan luka batin (healing) para muridNya. Dia begitu peduli dan peka terhadap masalah yang di alami oleh para muridNya.
7. Seseorang butuh waktu yang lama untuk menghilangkan perasaan duka. Apalagi jika yang meninggal adalah orang yang sangat disayangi. Jadi, perasaan duka yang bertahan lama itu wajar sebab setiap orang berduka dengan cara yang berbeda-beda. Dari banyak pengalaman, menjelaskan bahwa kebanyakan Pelayan Gereja dan komunitas orang percaya kepada Yesus Kristus hanya terlibat sampai sampai pada upacara penguburan yang dilanjutkan dengan ritualisasi syukur (Mahburek), setelah itu sama sekali tidak ada pendampingan yang rutin dan berkelanjutan bagi orang (umat/warga gereja) yang mengalami kedukaan. Memang, ada yang terlibat dan melakukan ibadah syukur kematian di hari ke-3, 40,100 hari, namun itu hanya sebagai sebuah ritualisasi dan tradisi belaka dan sama sekali tidak dijadikan sebagai sebuah pendampingan yang rutin dan berkelanjutan dan para pelayan Gereja lainnya. Apa yang menjadi realitas menunjukkan bahwa kita sebagai pelayan Gereja belum mampu untuk melakukan tugas pendampingan kepada orang berduka yang akhirnya membuka ruang yang besar bagi orang berduka untuk terus merasakan kedukaannya. Yesus lewat pola pelayananNya menawarkan banyak cara dalam mendampingi murid-muridNya dan cara-cara itu sesuai dengan konteks dan kebutuhan masing-masing. Ada yang Ia kunjungi sendiri. Ada yang Ia kunjungi ketika mereka berdua. Ada yang Ia kunjungi ketika mereka bersama-sama. Ada yang Ia kunjungi sambil makan pagi di pinggir danau, saat mereka berdoa, beribadah, saat mereka menangis…dst.
secara penuh dan utuh, sehingga Para Pelayan Gereja harus bersedia untuk mengubah cara/model pendampingan dengan belajar dari Yesus, Gembala Agung.
B.SARAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dalam rangka penulisan tesis ini, maka ada beberapa saran yang dapat disampaikan terkait kajian mengenai Tunjuitam sebagai pendekatan pastoral kedukaan, yang bisa digunakan sebaga kontribusi bagi kehidupan bersama dan pelayanan GPM, yakni antara lain:
1. Bagi Gereja (GPM), pembahasan tentang Tunjuitam sebagai pendampingan dan konseling pastoral kedukaan dapat menjadi referensi, bahwa makna kumpul keluarga dalam hubungan dengan persekutuan jemaat adalah tanggung jawab bersama. Gereja bisa memanfaatkan budaya Tunjuitam sebagai bentuk pendampingan dan konseling bagi individu/ keluarga yang mengalami kedukaan akibat kehilangan orang yang dikasihi, tetapi juga bisa menyelesaikan masalah-masalah internal dalam hubungan genealogis maupun komunitas jemaat.
3. Bagi keluarga, pelayanan dan jemaat yang sudah terlibat dalam proses Tunjuitam, bisa memakai terus dan meningkatkan proses perjumpaan ini sebab inilah ruang yang bermanfaat untuk menyatakan solidaritas hidup sebagai manusia dan bermakna bagi keluarga yang berduka.
4. Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk mendalami konseling kedukaan, ada baiknya melakukan penelitian terhadap budaya-budaya lokal sendiri, sebab ternyata ada banyak kebudayaan sendiri yang bisa menolong orang yang berduka untuk menyelesaikan masa-masa kedukaannya.