:: Lingkungan Bisnis dan Hukum Komersial ::
KEPEDULIAN INDONESIA
TERHADAP GAGASAN STANDAR
INTERNASIONAL IFRS
Disusun oleh
:
Alvianita Gunawan Putri
13/360643/EE/06667
Ayu Puspita Dewi
13/360715/EE/06735
Deska Putri Ananda
13/360699/EE/06720
Dini Ayu Zakiyati
13/360762/EE/06774
Febtasari Liza Herdifianti
13/360651/EE/06675
PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Kepedulian indonesia terhadap gagasan standar internasional (IFRS) berawal dari bergabungnya IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) untuk menjadi anggota IFAC (International Federation of Accountants) pada tahun 1987 yang mana IFAC menetapkan ketentuan bahwa setiap anggota IFAC secara otomatis akan menjadi anggota IASC (International Accounting Standards Commitee). Namun seiring perubahan, ketentuan tersebut tidak diberlakukan disebabkan perubahan IASC menjadi IASC Foundation dan sekarang berdasar konstitusi terbaru 2010 IASC Foundation berganti nama menjadi IFRS Foundation
(International Financial Reporting Standards Foundation). Tujuan didirikannya IFRS Foundation yaitu untuk mengembangkannya standar tunggal pelaporan keuangan di berbagai jenis entitas yang dapat diterima secara global, memiliki kekuatan dalam penerapan standar akuntansi yang dapat dipahami, berkualitas tinggi serta untuk mempromosikan & memfasilitasi proses konvergensi antara standar akuntansi nasional dan IFRS. IASB (International Accounting Standar Board) yang merupakan organ utama IASC kemudian bersama FASB pada september 2002, bersepakat melakukan konvergensi antara IFRS dan GAAP. Seiring perkembangan joint project antara keduanya melalui proses yang panjang, IFRS kemudian dapat diimplementasikan oleh beberapa Negara yang menjadi organisasi IFAC.
Indonesia memiliki keterkaitan yang sangat kuat dalam Implementasi IFRS seiring dengan keterlibatan Indonesia dalam G20 (Group of 20 Leaders) salah satunya adalah Konvergensi IFRS yang merupakan salah satu kesepakatan pemerintah Indonesia sebagai anggota G20 forum (Warsono, 2011). Pada Desember 2008, IAI telah mengumumkan rencana konvergensi standar akuntansi lokalnya yaitu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dengan
IASB. Rencana pengkonvergensian ini direncanakanakan terealisasi pada tahun 2012. Standar akuntansi di Indonesia saat ini belum menggunakan secara penuh (full adoption) standar akuntansi internasional atau International Financial Reporting Standard (IFRS). Standar akuntansi di Indonesia yang berlaku saat ini mengacu pada US GAAP (United Stated Generally Accepted Accounting Standard), namun pada beberapa pasal sudah mengadopsi IFRS yang sifatnya harmonisasi. Adopsi yang dilakukan Indonesia saat ini sifatnya belum menyeluruh, baru sebagian (harmonisasi). Pengadopsian standar akuntansi internasional ke dalam standar akuntansi domestik bertujuan menghasilkan laporan keuangan yang memiliki tingkat kredibilitas tinggi, persyaratan akan item-item pengungkapan akan semakin tinggi sehingga nilai perusahaan akan semakin tinggi pula, manajemen akan memiliki tingkat akuntabilitas tinggi dalam menjalankan perusahaan, laporan keuangan perusahaan menghasilkan informasi yang lebih relevan dan akurat, dan laporan keuangan akan lebih dapat diperbandingkan dan menghasilkan informasi yang valid untuk aktiva, hutang, ekuitas, pendapatan dan beban perusahaan (Petreski, 2005).
B. Permasalahan
Permasalahan yang akan diangkat dalam penulisan paper ini mengenai bagaimana fenomena dalam penerbitan PSAK 2011 dan gagasan akuntansi berbasis matematika dalam kaitannya kepedulian Indonesia terhadap gagasan standar internasional (IFRS)?
C. Tujuan Penulisan
Bab II
Pembahasan
A. Pengertian IFRS
IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh
International Accounting Standard Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasional (IFAC). Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB) merupakan lembaga independen untuk menyusun standar akuntansi. Organisasi ini memiliki tujuan mengembangkan dan mendorong penggunaan standar akuntansi global yang berkualitas tinggi, dapat dipahami dan dapat diperbandingkan (Choi et al., 1999).
IFRS bertujuan untuk memastikan bahwa laporan keuangan interim perusahaan untuk periode-periode yang dimaksudkan dalam laporan keuangan tahunan, mengandung informasi berkualitas tinggi yang:
1. Transparan bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang periode yang disajikan.
2. Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada IFRS.
3. Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para pengguna.
Sedangkan manfaat yang dapat diperoleh adanya suatu perubahan sistem IFRS sebagai standar global yaitu :
1. Pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di seluruh dunia tanpa hambatan berarti. Standart pelaporan keuangan berkualitas tinggi yang digunakan secara konsisten di seluruh dunia akan memperbaiki efisiensi alokasi lokal.
3. Perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan keputusan mengenai merger dan akuisisi.
4. Gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standard dapat disebarkan dalam mengembangkan standard global yang berkualitas tertinggi.
Dengan adanya manfaat yang dapat diperoleh ini, menjadi tantangan dalam menghadapi globalisasi dimana akses interaksi dari satu Negara ke Negara lain dapat dilakukan secara cepat dan mudah. Maka dari itu diperlukan adanya suatu standarisasi atau aturan umum yang dapat digunakan/dipraktekkan di seluruh dunia.
B. Konvergensi IFRS dan GAAP
Standar Pelaporan Keuangan di dunia didasari pada 2 dewan penyusun, yaitu IASB yang bertanggungjawab pada penerbitan IFRS, dan FASB (Financial Accounting Standards Board) yang merupakan organisasi di Amerika Serikat yang bertanggungjawab atas penerbitan GAAP (Generally Accepted Accounting Principles). Dari kedua standar pelaporan keuangan ini memiliki kesamaan dan juga perbedaan. Contoh dari perbedaan tersebut diantaranya:
1. IFRS diklaim mendasarkan diri pada rules-based, sedangkan GAAP mendasarkan diri pada principles-based.
2. IFRS menggunakan pengukuran terutama berbasis fair value, sedangkan GAAP mengguunakan pengukuran historical cost.
Namun pada dasarnya, IASB dan FASB menyadari kebutuhan mengenai perlunya standar tunggal pelaporan keuangan global yang berkualitas tinggi. Baskerville (2010) dalam Utami, et al. (2012) mengungkapkan bahwa konvergensi dapat berarti harmonisasi atau standardisasi, namun harmonisasi dalam konteks akuntansi dipandang sebagai suatu proses meningkatkan kesesuaian praktik akuntansi dengan menetapkan batas tingkat keberagaman.
Amerika Serikat untuk melakukan rekonsiliasi laporan keuangan sesuai dengan GAAP. Namun, sebagai respon terhadap IFRS, maka tahun 2007 SEC menghapuskan persyaratan tersebut. Kerjasama IASB dan FASB yang membentuk joint project terus berlanjut dan menghasilkan produk diantaranya adalah terbitnya Conceptual Framework for Financial Reporting. IASB dan FASB menggunakan 2 pijakan utama dalam konvergensi kerangka dasar, yaitu: 1. Pengembangan berfokus pada perbaikan kerangka dan bukan revisi
fundamental.
2. Pengembangan kerangka dasar terdiri dari beberapa tahap yang jika lengkap akan merupakan satu kesatuan dokumen.
Pada September 2010, joint project menghasilkan kerangka dasar final yang disebut Conceptual Framework for Financial Reporting.
C. Penerapan IFRS di Indonesia
Standar-standar tersebut juga mengatur tentang pengakuan, pengukuran, penyajian dan pelaporan atas keuangan perusahaan.
Menurut Ahmadi Hadibroto (2009), terjadi perubahan dari harmonisasi ke adaptasi, kemudian menjadi adopsi dalam rangka konvergensi dengan
International Financial Reporting Standards (IFRS). Menurut Warsono (2011;67) definisi harmonisasi, adaptasi, konvergensi dan adopsi adalah sebagai berikut : 1. Harmonisasi; standar nasional dan IFRS merupakan dua standar yang
berbeda tetapi terdapat kesepakatan untuk menjaga keserasian diantara keduanya.
2. Adaptasi; standar nasional diusahakan menyesuaikan diri dengan IFRS. 3. Konvergensi; standar nasional dan IFRS yang berasal dari titik awal yang
berbeda menuju kepada satu standar yang memiliki karakteristik umum yang dimiliki oleh kedua standar tersebut.
4. Adopsi; standar nasional menuju penerapan IFRS sepenunya (full adopted). Dari definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa konvergensi diartikan sebagai proses menyesuaikan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) terhadap IFRS. Namun proses ini bukan hal yang mudah. Proses ini memiliki hambatan seperti permasalahan nasionalisme dan budaya tiap-tiap negara, perbedaan sistem pemerintahan pada tiaptiap negara, perbedaan kepentingan antara perusahaan multinasional dengan perusahaan nasional yang sangat mempengaruhi proses antar negara, serta tingginya biaya untuk merubah prinsip akuntansi.
PROSES KONVERGENSI IFRS SAMPAI MAY 2011
D. Gagasan Akuntansi Berbasis Matematika 1. Akuntansi, Realita dan Matematika
Akuntansi merekam fakta dan menyajikan informasi keuangan berlandas fakta kepada para pengguna. Premis yang berlaku adalah bahwa fakta menggambarkan realita yang bermanfaat meskipun mungkin fakta tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi.
Yang kita tahu bahwa matematika mencerminkan realita, operasi matematika merupakan perspektif realita bukan sebatas kesepakatan. Antara akuntansi dan matematika tentu terdapat keterkaitan karena :
a. Adanya keberadaan symbol “+” dan “=” dan adanya tuntutan untuk menguasai operasi matematika dasar berupa penambahan dan perkalian dalam pembelajaran akuntansi.
Profesor matematika bernama Luca Pacioli. Terdapat dua kemungkinan kenapa akuntansi di bahas di buku ini karena Pacioli ingin mengkodifikasi pengetahuan tentang praktik-praktik bisnis yang dikembangkan oleh pedagang italia dan karena sistem pencatatan contoh, di seperempat awal abad 20 (Hatfield, 1924) menggunakan sistem pencatatan berpasangan untuk mempertahankan akuntansi sebagai bidang akademik.
Berlandas persamaan akuntansi “Aset = Liabilitas + Ekuitas”, ketentuan debet kredit untuk aset adalah sebagai berikut: jika aset bertambah didebet sedangkan jika aset berkurang dikredit. Ketentuan debet kredit yang berlaku untuk elemen Liabilitas dan Ekuitas adalah sebagai berikut: jika bertambah dikredit sedangkan jika berkurang didebet.
Peters dan Emery (1978) menyatakan bahwa persamaan akuntansi “Aset = Liabilitas + Ekuitas”, bukannya “Aset – Liabilitas = Ekuitas”, karena pada masa tersebut matematika belum menerima konsep angka negatif sehingga akuntansi menggunakan mekanisme debet kredit (Scorgie, 1985) menanggapi Peters menyatakan bahwa konsep angka negatif sudah dikenal dan digunakan pada masa tersebut. Namun demikian, sejauh ini belum ditemukan rasionalitas sederhana untuk menjelaskan mekanisme debet kredit.
Alasan mengapa di persamaan akuntansi tidak boleh menggunakan angka negatif yaitu akuntansi menyediakan informasi keuangan dimana tidak ada nilai moneter (uang) yang bernilai negatif.
3. Teori Akuntansi Berlandas Tiga Pilar
merupakan ilmu sosial murni. Dengan alasan akuntansi dikatakan sebagai seperangkat teori karena dalam buku Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan (Suwardjono, 2005) telah diatur mengenai rerangka konseptual, konsep dasar, dan topik-topik yang dibahas di standar akuntansi keuangan. Namun dalam pengembangan akuntansi terdapat beberapa perubahan standar yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosial dan politik, maka dari itu akuntansi dapat dikatakan sebagai ilmu social murni.
Peubahan-perubahan yang terjadi misalnya dalam pengembangan IFRS yang mempertegas bahwa standar akuntansi bukan merupakan teori. Aturan akuntansi yang dikembangkan selama ini lebih berusaha membentuk fakta, bukannya berusaha mencerminkan fakta yang merupakan salah satu karakteristik teori.
Pengembangan akuntansi seharusnya berlandas 3 pilar utama yang disebut Segitiga Pengembangan Akuntansi (Triangle development of Accountancy) sebagai berikut :
a. Pilar pertama berupa ilmu mapan yang menggambarkan realita, yaitu matematika. Merupakan pengetahuan yang ditemukan manusia bukan yang dibuat manusia.
b. Pilar kedua berupa prinsip dasar yang dikembangkan berdasar kesepakatan. Kerangka Dasar Konseptual (KDK) dan IFRS termasuk dalam pilar ini. Prinsip-prinsip dasar dimungkinkan mengalami perubahan yang dinamis. Pengembangan pilar kedua harus selalu berlandas pilar pertama sehingga perubahan di prinsip dasar lebih bersifat pengembangan, bukan penggantian.
c. Pilar ketiga berupa rancang-bangun (seni) yang dikembangkan sesuai kebutuhan masing-masing pengguna akuntansi. Pilar ini memungkinkan akuntansi memberi kontribusi optimal untuk setiap pengguna.
4. Teknologi Debet Kredit
masyarakat dapat berfungsi optimal, sedangkan teknologi mekanik menggunakan cara kerja yang berlandas sistem sehingga mekanisme kerjanya bersifat mekanik.
Penetapan KDK dan IFRS merupakan contoh perlakuan akuntansi sebagai teknologi sosial. Peraturan dan kesepakatan sebagai bentuk teknologi sosial sebenarnya belum bisa dikatakan sebagai teknologi yang sesungguhnya. Peraturan semata tidak akan menjadikan akuntansi diterapkan secara optimal. Peraturan yang tidak disertai dengan teknologi mekanik memungkinkan penerapannya bervariasi antar individu maupun antar entitas. Berikut ini 3 contoh sinyal ketidak-taatan entitas terhadap penerapan standar akuntansi yang telah diterbitkan :
a. Neraca yang tidak imbang b. Saldo akun bernilai negatif
c. Usaha banyak tetapi hasil belum terasa
Berikut ini argumen yang dapat diajukan untuk mendorong pemerhati akuntansi optimis terhadap pengembangan teknologi debet kredit. Sebagai catatan bahwa mekanisme debet kredit merupakan aplikasi matematika yang mencerminkan realita sehingga mekanisme ini terbukti dapat bertahan dalam kurun waktu yang tidak pendek.
pencatatan sesuai dengan realita. Sayangnya, pengembangan software aplikasi dewasa ini cenderung menyajikan fakta dengan menggunakan operasi matematika yang tidak sesuai realitanya.
Sejauh ini mekanisme debet kredit telah berfungsi untuk mengidentifikasi terjadinya kesalahan; jika total saldo akun-akun bersaldo debet tidak samadengan total saldo akun-akun bersaldo kredit menjadikan analisis data dapat dilakukan per akun (dengan membandingkan sisi debet dan sisi kredit suatu akun), analisis data antar akun (misal, membandingkan antara saldo debet Kas dan saldo debet Utang usaha), analisis data antar elemen (misal, total debet elemen Liabilitas dan total kredit elemen Penghasilan), analisis antar akun pembantu, dsb.
5. Mungkinkah Informasi Akuntansi untuk Stakeholders?
Sekarang berkembang Teori pemangku kepentingan (stakeholders theory). Dasar teori ini adalah bahwa perusahaan perlu melaksanakan akuntabilitasnya terhadap lebih banyak pihak, tidak hanya pemegang sahamnya saja. Pemangku kepentingan mencakup antara lain pemegang saham, kreditur, karyawan, pemasok, pelanggan, masyarakat umum bahkan lingkungan alam. Semakin banyak pihak dapat dipenuhi kebutuhannya semakin baik suatu pengetahuan maka akuntansi seharusnya menyajikan informasi yang berguna bagi stakeholders.
Dewan standar tidak menyediakan informasi akuntansi kepada pihak-pihak lain yang bukan merupakan pengguna primer (investor, pemberi pinjaman, dan kreditor) karena dipertimbangkan hal tersebut mahal, kurangnya pengetahuan akuntansi para pengguna non-primer, perlunya KDK yang jelas, dan menghindari konflik tujuan pelaporan keuangan.
pengurangan/penundaan pajak, fasilitas, dsb. Kondisi ini seharusnya menuntut perusahaan untuk memberikan informasi keuangan kepada pemerintah. Masih banyak pihak yang terlibat dengan perusahaan sehingga adalah penting bagi akuntansi untuk dapat menyediakan informasi keuangan kepada para pemangku kepentingan sebagai bentuk akuntabilitas entitas.
Bagaimana akuntansi dapat menghasilkan informasi keuangan yang memenuhi beragam pemangku kepentingan? Terdapat dua cara yang sangat mudah yaitu:
a. Cara pertama adalah membentuk elemen tersendiri untuk masing-masing pemangku kepentingan.
b. Cara kedua adalah membentuk akun-akun tersendiri untuk masing-masing pemangku kepentingan dibawah elemen ekuitas.
6. Informasi yang Relevan Sekaligus Disajikan Jujur
Informasi yang dikatakan relevan tetapi disajikan secara tidak jujur membawa risiko kepada pengambilan keputusan yang salah yang pada gilirannya menjadikan informasi tersebut dapat dikatakan tidak relevan (relevant). Demikian pula, informasi yang disajikan secara jujur tetapi relevan maka tidak banyak bermanfaat dalam pengambilan keputusan karena informasi tersebut dapat dikatakan out of date. Oleh karena itu, informasi akuntansi seharusnya relevan sekaligus penyajiannya jujur.
yang relevan disajikan. Jika suatu informasi keuangan yang relevan tetapi pengukuran berbasis nilai wajar ( fair value ) sebagiamana tertuang di IFRS 13 ( IASB, 2011 ) memunculkan resiko terdapatnya penyajian yang tidak atau kurang jujur karena 2 alasan berikut :
a. Nilai wajar mengandung unsur subyektifitas , dan
b. Nilai wajar berpeluang memunculkan perbedaan pendapat karena perbedaan cara pandang.
demikian, langkah ini menjadikan akuntansi menghasilkan laporan keuangan hanya dari satu pespektif, yaitu informasi yang relevan dengan, disadari atau tidak, mengorbankan penyajian jujur.
7. Identifikasi Keterbatasan Standar Akuntansi
Pendefinisian termenologi seharusnya jelas dan tidak kabur ataupun bermakna ganda sehingga semua pihak dapat berkomunikasi dengan baik dan terhindar dari salah interprtasi. Selain jelas pendefinisian terminologi juga harus lengkap, kelengkapan definisi semakin penting jika terminologi tersebut digunakan dalam produk-produk hokum termasuk standar. Ketidaklengkapan definisi akan membuka ruang bagi pihak-pihak tertentu untuk menyajikan informasi keuangan yang tidak menggambarkan kondisi dan kinerja sesungguhnya suatu entitas. Oleh karena itu ketidaklengkapan definisi di standar akuntansi dipertimbangkan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya fenomena manajemen laba.
Salah satu terminologi yang penting untuk didefinisikan secara lengkap adalah terkait dengan elemen-elemen laporan keuangan yaitu asset, liabilitas, ekuitas, penghasilan dan beban. Salah satu pendefinisian yang krusial dan harus dicermati adalah tentang elemen penghasilan dan elemen beban. Karena kedua elemen tersebut mencerminkan kinerja entitas (laporanlaba rugi komprehensif) dan banyak pengguna mendasarkan informasi tersebut untuk pengambilan keputusan ekonomi, selain itu karena pendefinisian elemen-elemen laporan keuangan yang ada berdasar balance sheet orientation (Dichev, 2008) sehingga pendefinisian elemen penghasialan dan beban berisiko tidak mampu mencakup semua transaksi penghasilan dan beban yang mungkin terjadi di praktik.
8. Untuk Kita Renungkan
diketahuinya berdasar sepotong informasi awal sebagai “jangkar”, dan selanjutnya melakukan penyesuaian seperlunya dengan tetap berlandas informasi yang merupakan jangkar tersebut.
Intisari herding behavior adalah sebagai berikut : individu sebagai anggota kelompok/masyarakat cenderung mengambil tindakan dengan cara “mengikuti”, “meniru” atau “mengimitasi” keputusan pihak lain. Hal ini terjadi terutama pada peristiwa yang relatif baru dan mengejutkan. Herding behavior dapat terjadi dibanyak situasi sehingga muncul fenomena antara lain stock market bubbles, football hooliganism, judgment and opinion forming, dan “tsunami” Yogya. Perilaku kawanan tidak selalu membawa dampak negatif. Namun demikian, perilaku kawanan ini mencerminkan tindakan tidak sepenuhnya berlandas pertimbangan matang.
Bab III
Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
Untuk menjawab permasalahan yang diangkat disini, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
akuntansi disetiap Negara. Indonesia dalam melakukan kepeduliannya terhadap perkembangan standar berbasis internasional melewati proses yang panjang dari mulai tahap harmonisasi sampai dengan konvergensi saat ini. 2. Fenomena yang terjadi dalam penerbitan PSAK 2011 tidak lepas dari
keterlibatan Indonesia yang menjadi anggota IFAC dan G20 yang menyepakati untuk melakukan konvergensi terhadap IFRS. Masih banyak tahapan dan langkah yang diperlukan agar Indonesia benar-benar dapat dikatakan mengadopsi IFRS sepenuhnya.
3. IFRS pada dasarnya menekankan arti penting pengukuran yang diwujudkan dalam penggunaan fair value dan .mendasarkan diri pada rules-based. Hal ini membuat pembelajaran akuntansi harus semakin memberi perhatian terhadap matematika dalam rangka mempelajari akuntansi. Pengungkapan debet kredit melalui prespektif matematika diharapkan menyadarkan pemerhati akuntansi atas peran matematika dalam pengembangan akuntansi.
4. Terdapat keterkaitan erat antara akuntansi dan matematika. Pembuktian sistem berpasangan sebagai aplikasi matematika, khususnya mekanisme debet kredit, benar digunakan dalam pengembangan akuntansi termasuk dalam pengembangan IFRS.
B. Saran
Dari pembahasan yang telah dibahas sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan:
2. Diharapkan pemerhati akuntansi lebih tertarik untuk melakukan pengembangan akuntansi berbasis matematika dengan harapan dapat menjadikan akuntansi memberi kontribusi yang luar biasa di masa yang akan datang.
3. Teknologi akuntansi dibutuhkan agar dapat menghasilkan informasi keuangan yang berkualitas tinggi yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan.
4. Diharapkan informasi keuangan tidak hanya ditujukan pada pemegang saham (Shareholders), tetapi juga pada para pemangku kepentingan lainnya
(Stakeholders).
Daftar Pustaka
https://agusnuramin.wordpress.com/ (diakses pada tanggal 31 Oktober 2014) http://lestachi.blogspot.com/2014/05/harmonisasi-standar-akuntansi.html (diakses
pada tanggal 31 Oktober 2014)
http://rhiahanafi.blogspot.com/2014/04/indonesia-dalam-akuntansi-internasional.html (diakses pada tanggal 31 Oktober 2014)
Ikatan Akuntan Indonesia. 2011. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Suwardjono. 2005. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan: Edisi ketiga. Yogyakarta: BPFE.
Warsono-bin-Hardono, Sony. 2010. Reformasi Akuntansi Membongkar Bounded Rationality Pengembangan Akuntansi. Yogyakarta: Asgard Chapter.
Warsono-bin-Hardono, Sony. 2011. Adopsi Standar Akuntansi IFRS: Fakta, Dilema, dan Matematika. Yogyakarta: ABPublishER.