Ryan Ahmadi
Hubungan Internasional Universitas Andalas
KRISIS DAN REGULASI DALAM EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL
Pada proses berjalannya ekonomi politik internasional di dunia, perkembangan terjadi pada setiap zaman, khususnya tidak dapat dipisahkan dari adanya Great Depresion. Konsep “Great Depression” merupakan depresi besar yang menimpa perekonomian Amerika Serikat dan berimbas pada perekonomian di seluruh dunia. Depresi besar ini bermula ketika terjadi penurunan pertumbuhan secara bertahap di luar Amerika Utara. Pada tahun 1928 kondisi pertanian memburuk di sebagian besar produser sementara Eropa dan Asia mulai jatuh dalam kemunduran. Pada Oktober tahun 1929 kekacauan sampai pada tahap ketika pasar kehilangan seluruh modal dan harga menjadi dua kali lipat hingga kas Amerika menjadi tipis, bahkan . Dalam tiga bulan produksi perindustrian Amerika jatuh 10% dan impor 20%. Pada perkembangannya, terdapat kenaikan suku bunga oleh “Federal reserve” yang diharapkan akan memicu kapital kembali dalam perekonomian dan keuangan sementara penghematan upah dan profit untuk membuat barang negara menjadi lebih kompetitif dalam pasar dunia. Pada awalnya, terlihat krisis mulai berakhir pada periode Oktober 1929, tetapi harga-harga komoditas merosot tajam, negara-negara produsen komoditas terkena dampak dari turunnya harga dan turunnya permintaan ekspor Amerika dan Eropa serta pemotongan pinjaman Amerika. Beberapa bulan setelah pasar saham Amerika jatuh, Argentina, Australia, Brazil dan Kanada tidak lagi menggunakan emas sebagai standar mata uang mereka (Frieden, 2006).
memberikan suntikan dana bagi negara-negara Eropa seperti Inggris dan Prancis. Dan menjadi suatu hal yang wajar jika saat perekonomian Amerika hancur pada 1929, negara-negara tersebut juga ikut mengalami dampaknya. Dan tentu saja perekenomian tidak juga membaik bahkan tingkat pengangguran semakin meningkat hingga tahun 1933. Likuidasi deflasi sangat jauh dari perbaikan pertumbuhan perekonomian dengan menurunkan harga dan upah tidak juga memacu adanya investasi baru dan konsumsi dan krisis pun semakin memburuk.
Pada awalnya, krisis yang terjadi kurang mendapatkan respon yang cepat sebagai bentuk penanganan pemerintah. Meskipun sempat terdapat The Fed yang menerapkan kebijakan “Liquidationism” untuk menurunkan harga dan gaji, namun hasilnya masih jauh dari harapan. Produksi industri Amerika menurun, begitu juga dengan pendapatan rumah tangga, sedangkan pengangguran semakin meningkat. Sempat ada inisiatif untuk membuat Bank for International Settlements tetapi hasilnya tidak efektif tanpa keterlibatan Amerika (Frieden, 2006). Saat Presiden F.D Roosevelt terpilih pada November 1932, dia mulai mengeluarkan kebijakan untuk menanggulangi krisis ekonomi tersebut. Upaya pertama yang dia lakukan adalah dengan adanya proteksi perdagangan. AS merekronstrusi ulang kebijakan “Smooth-hawley tariff”, serta mengkaji ulang penggunaan emas sebagai nilai tukar internasional. Kebijakan lain yang dilakukan Roosevelt adalah dengan meningkatkan nilai mata uang, serta menjalin kerjasama dengan negara lain untuk dalam upaya menangani deflasi. Berbagai kebijakan tersebut terbukti berhasil untuk memanjukan perekonomian AS sebanyak 70% selama tiga bulan pertama penerapan kebijakan tersebut.
keuangan dengan memberikan tagihan-tagihan pada orang-orang yang menabung. Hal ini akan mengembalikan kepercayaan konsumen, mereka akan membelanjakan uangnya, dan aliran keuangan pun akan terbangun kembali. Dalam hal ini, Keynesianisme ini berusaha untuk meningkatkan kapitalisme melalui pola ekonomi yang teratur berdasarkan indikator ekonomi yang dipergunakan oleh para pembuat kebijaksanaan. Strategi dan taktik yang diciptakan Keynesianisme membawa perubahan yang signifikan, hal tersebut dapat dibuktikan pada kurun tahun 1960-an, Presiden Nixon mendeklarasikan “We are all Keynesians now”. Bahkan, Presiden Barack Obama dalam menangani krisis tahun 2008 terinspirasi dari hal tersebut, Majalah Time pun menyebut Keynes sebagai salah satu dari 100 tokoh yang paling berpengaruh pada abad ke-20 dan menuliskan “His radical idea that governments should spend money they don't have may have saved capitalism".
Kemudian terdapat juga “Fordisme”, pertama kali metode ini dilakukan oleh Henry Ford, seorang industrialis Amerika yang merupakan pendiri dari Ford Motor Company pada tahun 1903. Fordisme merupakan sebuah metode manajemen industri dengan teori utama spesialisasi yang mengkhususkan jenis pekerjaan dari pekerja, serta berasaskan “assembly” line atau sering disebut metode ban berjalan dalam proses produksi yang bersifat massal. Konsep tersebut menggambarkan proses ekonomi produksi dengan cara membagi proses produksi ke dalam ratusan atau bahkan ribuan unit kecil, dimana seorang pekerja hanya mengerjakan satau jenis pekerjaan saja. Misalnya dalam pembuatan mobil dilakukn pembagian kerja dengan membagi pekerja untuk mengecat saja, megolah bahan baku saja. Dengan metode tersebut, diharapkan ongkos dapat diminimalkan dan keuntungan akan dapat dimaksimalkan. Kemudian pada tahun 1914 Ford juga menerapkan adanya upah minimum, dimana terdapat slogan "1 hari 5 US dollar", dua kali lipat dari upah pabrik mobil sejenis. Pada saat yang sama ia juga memberlakukan pengurangan jam kerja dari 9 menjadi 8 jam sehari. Selain itu, fordisme menerapkan sisi loyalitas buruh, aturan yang ketat, memata-matai buruh dan menggunakan kekerasan untuk mencegah terbangunnya kekuatan.
peningkatan produksi (Hobsbawm, 1987). Jika dibandingkan Fordisme merupakan proses yang lebih mengedepankan mekanisasi, rutinisasi, penyederhanaan pekerjaan, fragmentasi produksi, spesialiasi, kecepatan kerja dan pemaksaan lebih besar dari pada persetujuan dalam hubungan kerja.
REFERENSI:
Brown, Michael B. 1995. “The Keynesian Model”, dalam Models in Political Economy, London: Penguin, pp. 55-71
Frieden, Jeffrey A. 2006. “The Established Order Collapses”, dalam Global Capitalism: Its Fall and Rise in the Twentieth Century. New York: W.W. Norton Co. Inc., hal. 173-194
Gramsci, Antonio. 1971. “Americanism and Fordism”, dalam Selections from the Prison Notebooks, London: Lawrence and Wishart, hal. 277-318
Hobsbawn, Eric. 1987. “An Economics Change Gear”, dalam The Age of Empire 1875-1914, London: Weidenfeld & Nicolson, hal. 34-55