• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efektivitas Progressive Muscle Relaxation terhadap Kualitas Tidur Pasien Kanker Payudara Chapter III VI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Efektivitas Progressive Muscle Relaxation terhadap Kualitas Tidur Pasien Kanker Payudara Chapter III VI"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Jenis penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian metode quasi eksperiment. Desain penelitian ini adalah dengan pretest posttest control group design yaitu melakukan perbandingan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol sebelum dan sesudah diberikan intervensi (Polit & Beck, 2012). Berdasarkan hipotesa penelitian untuk menjawab tujuan umum penelitian maka bentuk skema penelitian akan tergambar dengan:

Pre Test Post Test

Kelompok kontrol : Kelompok pasien yang tidak menerima intervensi progressive musle relaxation

O1 : Kualitas tidur sebelum intervensi

X :Intervensi berupa teknik progressive muscle relaxation diberikan 2 kali seminggu dengan durasi waktu 15 menit selama 1 bulan.

(2)

O2 :Kualitas tidur setelah intervensi

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di rumah sakit pemerintah yaitu RSUP. H. Adam Malik Medan. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit pendidikan dan memiliki kunjungan pasien dengan jumlah besar serta merupakan rumah sakit rujukan. Penelitian ini dilakukan dimulai dari tanggal 1 Juni – 30 Juli 2016.

3.3. Populasi dan Sampel

Populasi adalah merupakan wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek/subyek yang memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Dahlan, 2012). Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

(3)

Medan, 2016), hanya 56 responden pasien kanker payudara yang stadium 3 sehingga didapatkan jumlah sampel sebanyak 28 pada masing – masing kelompok intervensi dan kelompok kontrol.

3.4. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data tentang pasien penyakit kanker payudara yang mengalami gangguan kualitas tidur dan karakteristik responden dikumpulkan oleh peneliti. Intervensi tindakan progressive muscle relaxation dilakukan oleh pasien dengan panduan dari peneliti. Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi :

3.4.1. Tahap Persiapan

Tahap ini dipersiapkan lembar instrumen untuk pengumpulan data berupa lembar

prosedur latihan progressive muscle relaxation, kuesioner data demografi pasien,

kuesioner untuk mengukur kualitas tidur, panduan pelaksanaan latihan progressive muscle relaxation dan lembar petunjuk teknis progressive muscle

(4)

selanjutnya surat izin penelitian tersebut diproses hingga ke ruang rawat inap kemoterapi RSUP. H. Adam Malik Medan.

Selanjutnya peneliti mengidentifikasi jumlah sampel yang didapatkan sebesar 56 orang (28 kelompok intervensi dan 28 kelompok kontrol) dengan cara dalam pengambilan sampel yang diutamakan adalah kelompok intervensi PMR yang telah di screening terlebih dahulu hingga memenuhi besar sampel.

Dalam hal ini peneliti dibantu dengan seorang numerator dalam melaksanakan penelitian. Peneliti dan numerator telah diuji standar operasional prosedur (SOP) terkait pelaksanaan progressive muscle relaxation dengan hasil yaitu peneliti dan numerator dinyatakan mampu untuk melakukan tindakan sesuai dengan SOP tersebut dalam melakukan penelitian. Asisten yang dibutuhkan dalam penelitian ini berjumlah dua orang.

3.4.2. Tahap Pelaksanaan

Adapun tahap – tahap dalam pelaksanaan latihan progressive muscle relaxation (PMR) adalah

(5)

di rumah. Selanjutnya peneliti melakukan kontrak waktu dengan responden kelompok intervensi (2 hari dalam seminggu dengan perharinya 2 kali latihan selama 1 bulan lamanya latihan 15 menit). Jumlah intervensi yang dilakukan sebanyak 16 kali intervensi PMR. Latihan PMR dilakukan masing – masing oleh responden dibantu oleh peneliti dan asisten peneliti. Peneliti juga melakukan kontrak dengan responden kelompok kontrol (pada hari pertama sampai hari kedelapan penelitian, kelompok kontrol tidak diberikan latihan PMR dan hanya diukur kualitas tidur saja.

2) Peneliti melakukan pengambilan data awal (pretest) sebelum melakukan intervensi peneliti melakukan pengukuran untuk mengidentifikasi kualitas tidur menggunakan instrument Pitssburg Sleep Quality Index (PSQI). Pengukuran dilakukan pada masing – masing kelompok (kelompok intervensi dan kelompok kontrol). Pengukuran kualitas tidur responden dilakukan dengan cara menyerahkan kuesioner kualitas tidur PSQI untuk diisi dengan didampingi oleh peneliti yang telah menjelaskan terkait isi kuesioner kepada responden sebelumnya.

3) Peneliti memberikan progressive muscle relaxation kepada responden kelompok intervensi, sedangkan responden kelompok kontrol tidak diberikan. Saat pelaksanaan progressive muscle relaxation, peneliti membagi kelompok intervensi menjadi dua yaitu peneliti bertanggung jawab terhadap 10 responden dan 2 numerator bertanggung jawab terhadap 9 responden masing – masing. 4) Progressive muscle relaxation ini diberikan sesuai dengan SOP dan

(6)

15 menit sehingga intervensi dilakukan sebanyak 16 kali. Latihan ini dilakukan di masing-masing rumah responden kelompok intervensi.

5) Penggunaan alat neraca pegas/dinamometer manual dalam melakukan latihan PMR pada setiap satu pasien sebelum melakukan PMR, alat terlebih dahulu diputar yaitu pada bagian sekrup yang ada dibagian atas dinamometer tanpa beban hingga garis penunjuk skala menunjukkan pada skala nol.

6) Peneliti dan numerator memberikan penjelasan pada kelompok intervensi terkait cara melakukan progressive muscle relaxation. Teknik pelaksanaan progressive muscle relaxation menurut Setyoadi & Kushariyadi (2011) adapun standar operasional prosedur (SOP) dalam latihan Progressive Muscle Relaxation (PMR) adalah :

1. Alat dan bahan latihan PMR a. Kursi

b. Bantal

c. Neraca pegas (dinamometer manual) d. Pita ukur

2. Tujuan latihan PMR

Tujuan latihan Progressive muscle relaxation ini untuk meningkatkan dan memenuhi kualitas tidur pada pasien kanker payudara.

3. Aturan dalam latihan PMR

a. Selalu latihan di tempat yang tenang

(7)

pada punggung. Pada dassarnya, anda merasakan kenyamanan pada posisi tubuh anda

c. Relaksasi otot progresif sebaiknya dilakukan pada kelompok otot tubuh sesuai petunjuk secara berurutan. Jika ada terlupa maka boleh melakukan kembali latihan pada kelompok otot yang terlupakan.

d. Setiap gerakan dilakukan 2 kali latihan

e. Kontraksi otot dilakukan 5 – 7 detik dan melemaskan 10 – 20 detik f. Latihan membutuhkan waktu 15 menit

g. Pakailah baju yang longgar

4. Waktu pelaksanaan latihan Progressive Muscle Relaxation (PMR)

Latihan relaksasi Progressive Muscle Relaxation (PMR) dilakukan 2 kali sehari dan waktu pelaksanaannya ini dapat disesuaikan dengan kesepakatan klien. Latihan relaksasi ini terdiri dari 10 langkah (membutuhkan waktu 15 menit). Pelaksanaan ini dilakukan selama 1 bulan (16 kali latihan).

5. Tempat pelaksanaan latihan Progressive Muscle Relaxation (PMR)

Tempat pelaksanaan latihan ini dilakukan di dalam ruangan dan diharapkan ruangan yang tenang dan nyaman bagi klien. Latihan dapat dilakukan sambil berbaring, duduk menyandarkan punggung di sofa, atau di kursi keras dengan bantuan bantal pada punggung. Hal ini disesuaikan dengan kenyamanan klien. 6. Cara kerja alat neraca pegas/dinamometer manual terhadap pelaksanaan latihan

Progressive Muscle Relaxation (PMR)

(8)

a. Yakinlah posisi anda telah nyaman (duduk atau berbaring) b. Mata dipejamkan perlahan – lahan dan konsentrasi pada latihan

c. Mulailah dengan latihan nafas dalam dengan cara menarik nafas panjang dari hidung, tahan sebanyak 3 hitungan lalu keluarkan nafas perlahan – lahan melalui mulut sehingga anda akan merasakan tubuh menjadi nyaman. Ulangi latihan nafas dalam ini sebanyak tiga kali

d. Sekarang mulailah melakukan relaksasi otot dan bernafaslah secara perlahan – lahan selama melakukan relaksasi otot progresif

7. Langkah – langkah latihan relaksasi otot progresif dengan menggunakan alat neraca pegas/dinamometer manual sebagai berikut :

a. Kelompok otot pergelangan tangan (otot extensor carpi radialis longus) Merentangkan lengan dan kepalkan kedua telapak tangan dengan kencang, sekuat dan semampunya lalu berikan tarikan pada neraca pegas lalu rasakan ketegangan pada kedua pergelangan tangan anda selama 5-7 detik. Melepaskan kepalan tangannya dan rasakan tangan menjadi lemas dan semua ketegangan pada tangan menjadi hilang. Rasakan hal tersebut selama 10-20 detik. Ulangi lagi gerakan mengkontraksikan dan merileksasikan otot tangan. Rasakan pergelangan tangan menjadi semakin lemas.

b. Kelompok otot lengan bawah (otot trisep)

(9)

Rasakan ketegangan pada bagian lengan bawah selama 5-7 detik. Lemaskan dan luruskan kembali tangan bagian bawah pada posisi yang nyaman. Rasakan lengan bawah dan telapak tangan menjadi lemas dan ketegangan hilang. Rasakan hal tersebut selama 10-20 detik. Ulangi lagi gerakan mengkontraksikan dan merileksasikan otot lengan bawah, rasakan perbedaan pada saat kontraksi dan rileks serta rasakan lengan bawah menjadi semakin lemas.

c. Kelompok otot siku dan lengan atas (otot bisep)

Menggenggam kedua tangan sehingga menjadi kepalan kemudian bawa kedua kepalan ke pundak sehingga otot-otot lengan atas terasa kencang dan tegang dengan menarik neraca pegas dan lakukan selama 5-7 detik. Luruskan siku dan jari-jari, rasakan lengan atas menjadi lemas dan

ketegangan pada lengan atas sudah hilang. Rasakan hal tersebut 10-20 detik. Ulangi lagi gerakan mengkontraksikan otot siku dan lengan atas,

rasakan perbedaan antara saat kontraksi dan rileks serta rasakan otot siku dan lengan atas semakin lemas.

d. Kelompok otot bahu (otot deltoid dan otot trapezius)

(10)

e. Kelompok otot kepala dan leher (otot sternokleidomastoid)

Menekuk leher dan kepala kebelakang lalu menekuk leher dan kepala kedepan hingga menyentuh dada lalu melawan tahanan neraca pegas selama 5-7 detik. Lemaskan dan luruskan kepala dan leher hingga semua kontraksi otot pada kepala dan leher anda hilang, rasakan dalam 10-20 detik. Ulangi gerakan dan rasakan otot semakin lemas.

f. Kelompok otot punggung (otot latissimus dorsi)

Melengkungkan punggung dan busungkan dada dengan menarik neraca pegas, rasakan kontraksi otot pada punggung selama 5-7 detik. Rileksasikan punggung sehingga kontraksinya hilang dan rasakan melemasnya punggung 10-20 detik. Ulangi gerakan dan rasakan lemasnya punggung. g. Kelompok otot dada (otot pectoralis major) dan kelompok otot perut (otot

rectus abdominis)

(11)

dan hilangkan kontraksi otot serta rasakan rileksasiotot perut dalam 10-20 detik. Ulangi gerakan dan rasakan otot perut yang semakin lemas.

h. Kelompok otot kaki dan paha (otot quadriceps, otot biceps femoris)

Menekuk telapak kaki ke arah atas (dorso fleksi) dan ke arah bawah (plantar fleksi) dengan menahan tarikan neraca pegas, tekuk sebisa mungkin, dan rasakan ketegangannya selama 5-7 detik. Lemaskan otot- otot kaki dan paha, hilangkan ketegangannya dan rasakan selama 10-20 detik.

Sedangkan pada kelompok kontrol tidak mendapatkan perlakukan teknik PMR. Pada kelompok kontrol diberikan kuesioner untuk mengukur kualitas tidur pada waktu yang sama dengan kelompok intervensi. Posttest, peneliti melakukan pengukuran untuk mengidentifikasi kualitas tidur menggunakan Pitssburgh Sleep Quality Index (PSQI) pada masing – masing kelompok (kelompok intervensi dan kelompok kontrol) yang dilakukan kembali setelah 16 kali intervensi.

3.5. Variabel dan definisi operasional

Adapun variabel-variabel dalam penelitian ini adalah: Tabel 3.1. Defenisi operasional variabel penelitian

(12)

Lanjutan Tabel 3.1. Defenisi operasional variabel penelitian

(13)
(14)

asisten peneliti.

Dalam melakukan kontrol pada variabel tergantung (kualitas tidur) dilakukan dengan teknik konstansi karakteristik subjek penelitian yang disebut juga dengan teknik balancing (Dahlan, 2011). Konstansi karakteristik subjek dilakukan dengan menyamakan karakteristik subjek penelitian pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Ada dua teknik untuk mencapai konstansi karakteristik subjek penelitian, yaitu matching dan blocking. Matching dilakukan dengan mengurutkan nilai atau skor dari suatu karakteristik untuk setiap subjek, kemudian dibuat pasangan berdasarkan urutan tersebut. Sedangkan blocking menyetarakan kelompok penelitian yang terlibat dengan menyamakan jumlah subjek yang memiliki kategori dari variabel kualitas tidur yang sama. Blocking tidak membutuhkan nilai atau skor variabel kualitas tidur dari setiap subjek melainkan hanya kategorinya saja. Dalam penelitian ini digunakan teknik konstansi karakteristik subjek teknik blocking dengan variasi jumlah kualitas tidur yang baik dan kualitas tidur yang buruk masing-masing memiliki jumlah yang sama dalam setiap kelompok kontrol dan kelompok intervensi (Dahlan, 2011).

3.7. Uji validitas dan realibilitas

(15)

seseorang terhadap butir pertanyaan adalah konstan (Polit & Beck, 2012).

Penelitian ini menggunakan lembar kuesioner yang sudah baku yang tidak melakukan uji validitas karena kuesioner yang digunakan diadopsi dari kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Kuesioner PSQI sudah beberapa kali digunakan dalam berbagai penelitian sehingga sudah pernah dilakukan uji validitas oleh Arum Puspita Ningtiyas dengan judul penelitinnya yaitu pengaruh rendam kaki dengan air hangat terhadap kualitas tidur usia lanjut di Dusun Mangiran Trimurti Srandakan Bantul pada tahun 2014 dengan nilai content validity index (CVI) untuk kuesioner PSQI adalah 0.96 dan Arif Rahman dengan judul penelitiannya yaitu pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada lansia di Panti Sosial Tresna Wredha Unit Abiyoso Pakem Sleman Yogyakarta pada tahun 2014 dengan nilai CVI untuk kuesioner PSQI adalah 0.96. Beberapa penelitian ini uji validitas menggunakan Conten Validity Index (CVI) dengan tujuan untuk menilai relevansi dari masing - masing item terhadap apa yang akan di ukur oleh peneliti. CVI diterima minimal 0.80 (Polit & Beck, 2012). Bila validitas telah dicapai sesuai dengan kriteria maka data tersebut bebas dari kesalahan sistematis.

(16)

melihat konsistensi antara item atau antar bagian dalam tes itu sendiri (Polit dan Beck, 2012). Internal consistency dilakukan dengan cara mencobakan intrumen sekali saja, kemudian data dianalisis dengan tehnik tertentu (dapat ditentukan dengan nilai Cronbach alpha). PSQI memiliki konsistensi internal yang baik dengan uji reliabilitas yaitu nilai Cronbach alpha = 0,83 (Carpenter & Andrykowski, 1998). Polit dan Beck (2012) mengatakan interpretasi nilai reliabilitas dengan Cronbach alpha minimal 0.70 pada umumnya adekuat, namun nilai ≥ 0.80 merupakan nilai yang lebih diharapkan.

Instrumen yang sudah valid selanjutnya dilakukan pilot study. Pilot study bertujuan untuk menguji instrumen yang akan digunakan dalam penelitian. Pilot study dapat meningkatkan kelayakan suatu instrumen (Polit & Beck, 2012). Pilot study pada penelitian ini dilakukan kepada 30 klien pasien kanker payudara di RSUP. H. Adam Malik Medan untuk mengetahui kehandalan dari instrumen. Selanjutya dilakukan pengujian dengan menentukan nilai Cronbach alpha. Berdasarkan hal tersebut, didapatkan nilai Cronbach alpha pada instrumen ini adalah 0,81.

3.8. Metode Analisa Data

Data yang telah terkumpul melalui kuesioner akan dianalisis baik secara univariat dan bivariat dengan tehnik statistik.

3.8.1. Analisis univariat

(17)

setiap variabel. Analisa univariat pada penelitian ini mengedintifikasikan data demografi (meliputi usia, alamat, pendidikan, pekerjaan), pasien kanker payudara yang mengalami gangguan tidur sebelum intervensi dan sesudah intervensi pada masing – masing kelompok responden baik kelompok kontrol maupun kelompok intervensi.

3.8.2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat adalah analisis untuk menguji hubungan antara dua variabel. Analisis bivariat dilakukan untuk membuktikan hipotesa penelitian. Uji analisa bivariat dalam penelitian ini menggunakan statistik non-parametrik dengan menggunakan uji wilconxon signed rank test dan uji mann whitney test. Wilcoxon signed ranks test digunakan untuk membandingkan dua kelompok atau dua sampel yang saling berpasangan dan mann whitney test digunakan untuk membandingkan dua kelompok yang berbeda atau dua kelompok yang tidak saling ketergantungan atau tidak berpasangan. Analisis statistik uji wilconxon signed rank test dan uji mann whitney test dapat digunakan jika sebaran data dari

(18)

3.9. Pertimbangan Etik

Penelitian ini diawali dengan melakukan ethical clearance di Komite Etik Universitas Sumatera Utara. Aspek yang menjadi bahan pertimbangan etik dalam penelitian ini meliputi autonomy, non maleficienci, beneficience, dan justice. 3.9.1. Autonomy

Penelitian ini dilakukan sebelum responden diberi penjelasan secara lengkap meliputi tujuan penelitian, prosedur, gambaran risiko atau ketidaknyamanan yang mungkin terjadi, serta keuntungan atau manfaat penelitian. Setelah diberikan penjelasan, klien bebas menentukan pilihan untuk berpartisipasi dalam penelitian atau tidak, serta tidak ada unsur paksaan. Responden juga diberi kebebasan untuk mengundurkan diri pada saat penelitian. Polit & Beck (2012), mengemukakan klien yang bersedia ikut dalam penelitian dipersilahkan untuk menandatangani surat persetujuan menjadi responden penelitian di lembar informed consent.

3.9.2. Nonmaleficience

Beberapa hal yang mungkin menjadi kontraindikasi latihan PMR antara lain adalah cidera akut atau ketidaknyamanan muskuloskeletal, dan penyakit jantung berat/akut (Fritz, 2005). Ssubjek penelitian diupayakan semaksimal mungkin bebas dari rasa tidak nyaman akibat penelitian ini.

(19)

3.9.3. Beneficience

Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan memberikan terapi pada kelompok intervensi berupa latihan PMR artinya responden mempunyai potensi untuk menerima manfaat dari intervensi yang diberikan dapat mengatasi gangguan tidur pasien kanker payudara, sehingga prinsip dari beneficience dapat dipertahankan. 3.9.4. Justice

(20)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

Pengumpulan data penelitian dilaksanakan mulai tanggal 1 Juni sampai dengan 30 Juli 2016, di Ruang Rawat Inap Kemoterapi Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Bab hasil penelitian ini menguraikan tentang hasil penelitian yang dilakukan untuk menjelaskan kualitas tidur pasien kanker payudara antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi.

4.1. Gambaran umum lokasi penelitian

Penelitian dilakukan di ruang rawat inap kemoterapi di rumah sakit di kota Medan yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan merupakan sebuah rumah sakit pemerintah yang dikelola pemerintah pusat dengan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara. Rumah Sakit ini beralamat di Jalan Bunga Lau no. 17, Medan dan mulai berfungsi sejak tanggal 17 Juni 1991. Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik berdiri sebagai rumah sakit kelas A sesuai dengan SK Menkes No. 335/ Menkes/ SK/ VII/ 1990. Di samping itu, RSUP H. Adam Malik adalah Rumah Sakit Rujukan untuk wilayah pembangunan A yang meliputi Propinsi Utara, Aceh, Sumatera Barat, dan Riau. RSUP H. Adam Malik juga ditetapkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.502/ Menkes/ IX/ 1991 tanggal 6 September 1991.

(21)

nyeri akibat dari perkembangan penyakit dan efek samping pengobatan. Perkem-bangan penyakit dapat menyebabkan nyeri, banyaknya penderita kanker payudara merasakan beberapa tingkatan nyeri mulai dari ringan sampai hebat, dari akut sampai kronik yang disebabkan oleh kanker itu sendiri atau nyeri pasca pembedahan, nyeri akibat kemoterapi itu sendiri seperti sakit kepala dan terapi radiasi yang menyebabkan nyeri yang dirasakan panas didaerah kulit yang terkena radiasi. Nyeri yang disebabkan oleh kanker itu sendiri biasanya terjadi pada penderita stadium lanjut karena sel kanker telah menyebar ke bagian lain tubuh dan telah menyebar. Penanganan nyeri oleh perawat di ruang rawat inap kemoterapi RSUP. H.Adam Malik Medan dengan memberikan suatu terapi komplementer berupa tekhnik relaksasi nafas dalam atau dengan tekhnik distraksi tetapi jika pasien kanker payudara mengalami rasa nyeri yang berat, perawat diruangan mengatasinya dengan memberikan terapi farmakologi yaitu dengan minum obat yang diresepkan oleh dokter.

4.2. Hasil analisis univariat 4.2.1. Deskripsi subjek penelitian

(22)

Tabel 4.1. Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik demografi di ruang rawat inap kemoterapi RSUP. H. Adam Malik Medan Juni – Juli 2016 (N = 28).

No. Karakteristik responden

Kelompok intervensi Kelompok kontrol Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase 1. Usia

(23)

4.2.2. Kualitas tidur pasien kanker payudara kelompok intervensi sebelum latihan PMR dan kelompok kontrol sebelum periode intervensi

Hasil dari penelitian yang dilaksanakan di ruang rawat inap kemoterapi RSUP. H. Adam Malik Medan berikut akan ditunjukkan kualitas tidur pasien kanker payudara kelompok intervensi sebelum latihan PMR dan kelompok kontrol sebelum periode intervensi selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.2. Hasil analisis kualitas tidur pada pasien kanker payudara kelompok

intervensi sebelum latihan PMR dan kelompok kontrol sebelum periode intervensi di ruang rawat inap kemoterapi RSUP. H. Adam Malik Medan Juni – Juli 2016 (N = 28).

Kualitas tidur

Kelompok Mean Min – Max

Pretest Intervensi 9.36 6.00 – 1.00

Kontrol 8.86 6.00 – 5.00

(24)

4.2.3. Kualitas tidur pasien kanker payudara kelompok intervensi setelah latihan PMR dan kelompok kontrol setelah periode intervensi

Hasil dari penelitian yang dilaksanakan di ruang rawat inap kemoterapi RSUP. H. Adam Malik Medan berikut akan ditunjukkan kualitas tidur pasien kanker payudara kelompok intervensi setelah latihan PMR dan kelompok kontrol setelah periode intervensi selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.3. Hasil analisis kualitas tidur pada pasien kanker payudara

kelompok intervensi setelah latihan PMR dan kelompok kontrol setelah periode intervensi di ruang rawat inap kemoterapi RSUP. H. Adam Malik Medan Juni – Juli 2016 (N = 28).

Kualitas tidur

Kelompok Mean Min – Max

Posttest Intervensi 3.82 13.00 – 7.00

Kontrol 8.61 13.00 – 13.00

Pada tabel 4.3. dapat disimpulkan bahwa hasil analisa menunjukkan kualitas tidur pasien kanker payudara setelah dilakukan PMR pada responden kelompok intervensi menunjukkan rata – rata 3.82 (kualitas tidur baik) dan kelompok kontrol setelah periode intervensi menunjukkan rata – rata 8.61 (kualitas tidur buruk).

4.3. Hasil analisis bivariat

4.3.1. Perbedaan kualitas tidur pasien kanker payudara sebelum dan setelah pada kelompok intervensi

(25)

di ruang rawat inap kemoterapi RSUP. H. Adam Malik Medan berikut akan ditunjukkan perbedaan kualitas tidur pasien kanker payudara sebelum dan setelah pada kelompok intervensi selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.4. Perbedaan kualitas tidur sebelum dan sesudah intervensi PMR

pada kelompok intervensi pasien kanker payudara di ruang rawat inap kemoterapi RSUP.H. Adam Malik Medan Juni – Juli 2016 (N = 28)

Kelompok Kualitas tidur pasien kanker payudara

Mean Rank Nilai P

Intervensi Pretest 0.00 0.00

Posttest 14.50

Hasil penelitian pada tabel 4.6 dengan menggunakan uji statistik wilcoxon signed rank test dapat disimpulkan bahwa P = 0.00 dimana P < 0.05 kesimpulannya bahwa progressive muscle relaxation efektif dalam meningkatkan kualitas tidur pasien kanker payudara di RSUP. H. Adam Malik Medan.

4.3.2. Perbedaan kualitas tidur pasien kanker payudara sebelum dan sesudah pada kelompok kontrol

Perbedaan kualitas tidur pada penelitian ini dianalisa dengan membandingkan nilai awal dan akhir kualitas tidur dengan menggunakan uji analisa statistik wilcoxon signed rank test. Hasil dari penelitian yang dilaksanakan di ruang rawat inap kemoterapi RSUP. H. Adam Malik Medan berikut akan ditunjukkan perbedaan kualitas tidur pasien kanker payudara sebelum dan setelah pada kelompok kontrol selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

(26)

Tabel 4.5. Perbedaan kualitas tidur sebelum dan sesudah pada kelompok kontrol pasien kanker payudara di ruang rawat inap kemoterapi RSUP.H. Adam Malik Medan Juni – Juli 2016 (N = 28).

Kelompok Kualitas tidur pasien kanker

payudara

Mean Rank Nilai P

Kontrol Pretest 6.38 0.08

Posttest 5.00

Hasil penelitian pada tabel 4.7. dengan menggunakan uji statistik wilcoxon signed rank test dapat disimpulkan bahwa p = 0.08 dimana bila p > 0.05 kesimpulannya bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah terhadap kualitas tidur pasien kanker payudara di RSUP. H. Adam Malik Medan.

4.3.3. Perbedaan kualitas tidur antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol

Pengaruh PMR terhadap kualitas tidur pada penelitian ini diidentifikasi dengan membandingkan nilai akhir antara kelompok intervensi dan kontrol dengan menggunakan analisa statistik mann whitney test. Hasil dari penelitian yang dilaksanakan di ruang rawat inap kemoterapi RSUP. H. Adam Malik Medan

(27)

Tabel 4.6. Perbedaan kualitas tidur pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada pasien kanker payudara di ruang rawat inap kemoterapi RSUP.H. Adam Malik Medan Juni – Juli 2016 (N = 28).

Kualitas tidur pasien kanker payudara

Mean Rank Nilai P

Kelompok intervensi 15.04 0.00

Kelompok kontrol 41.96

(28)

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1. Perbedaan kualitas tidur subjek penelitian

5.1.1. Perbedaan kualitas tidur pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah dilakukan progressive muscle relaxation

Kualitas tidur adalah suatu keadaan yang dapat dilihat dari kemampuan individu dalam mempertahankan tidur dan mendapat kebutuhan tidur REM dan NREM (Kozier,at.,al. 2011). Menurut Buysse et al., (1989). Kualitas tidur merupakan hal yang penting untuk penyembuhan, serta meningkatkan fungsi imun dan kesehatan mental. Selain itu, kurang tidur diketahui berhubungan dengan depresi, kecemasan, dan menurunkan fungsi kognitif. Pada pasien kanker payudara, kualitas tidur yang buruk dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien, sistem kekebalan tubuh, kemampuan kognitif, dan kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari (Delsigne, 2013).

(29)

penyakit (nyeri), stres, atau efek mengonsumsi obat tertentu dan pernyataan ini didukung oleh penelitian Hananta (2014) bahwa nyeri pada pasien kanker payudara diketahui dapat menyebabkan gangguan tidur dibandingkan yang tidak mengalami nyeri dan dan gangguan tidur pada pasien kanker payudara tersebut berupa gangguan pada pemanjangan waktu laten tidur, yaitu waktu yang dibutuhkan sampai akhirnya tertidur.

Pasien kanker payudara mengalami kualitas tidur kategori baik setelah dilakukan latihan PMR pada responden kelompok intervensi menunjukkan rata – rata 3.82. Hasil analisa menunjukkan bahwa pada subjek kelompok intervensi terdapat perbedaan yang signifikan antara kualitas tidur pasien kanker payudara sebelum dan sesudah dilakukan PMR (P = 0.00 dimana P < 0.05). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Safaa et al. (2014) menunjukkan bahwa teknik relaksasi meningkatkan total skor kualitas tidur pasien dengan stase akhir gagal ginjal yang menjalani hemodialisis dengan sampel 20 (kelompok sebelum intervensi dengan nilai mean 10.95/SD = 2.282 dan kelompok setelah intervensi mean 4.45/SD = 1.820) dengan nilai signifikan p = 0.0002. Pada penelitian Sreelekshmi & Haseena (2015) menunjukkan bahwa progresif relaksasi otot dapat meningkatkan kualitas tidur padapasien yang menjalani hemodialisis dengan sampel 42 gagal ginjal kronik (kelompok sebelum intervensi dengan nilai mean 8.85/SD 3.415 dan kelompok setelah intervensi mean 4.69/SD 1.70 dengan nilai signifikan p < 0.05.

(30)

metode yang berguna untuk meningkatkan kualitas tidurpasien dibangsal hemodialisis, sampel 35 hemodialisa (kelompok sebelum intervensi dengan nilai mean 12.9/SD = 4.15 dan kelompok setelah intervensi mean 7.77/ SD = 3.60) dengan niali signifikan p = < 0.001. Menurut penelitian oleh Dayapoglu dan Tan (2012) menyebutkan PMR dapat meningkatkan kualitas tidur pada 32 klien multiple sclerosis. Penelitian ini dilakukan di Turki dengan kelompok sebelum intervensi mean = 10.81/SD = 4.01dan kelompok setelah intervensi mean 6.25/SD3.34 dengan nilai signifikan p < 0.001.

Gerakan – gerakan otot pada latihan relaksasi progresif sebagai salah satu relaksasi otot pada prinsipnya adalah mengkontraksikan dan merileksasikan kelompok otot besar secara bertahap, yaitu kelompok otot pergelangan tangan, otot lengan bawah, otot siku dan lengan atas. otot bahu, otot kepala dan leher, otot punggung, otot dada, otot perut, kelompok otot paha dan kaki, sehingga relaksasi progresif yang diberikan kepada klien dengan gangguan istirahat tidur mampu meningkatkan relaksasi otot-otot besar, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kenyamanan pada klien, kebutuhan istirahat-tidur terpenuhi baik secara kualitas maupun secara kuantitas (Setyoadi & Kushariyadi, 2011).

(31)

menyebabkan vasokostriksi yang akhirnya meningkatkan tonus otot yang menimbulkan berbagai efek seperti spasme otot yang akhirnya menekan pembuluh darah, mengurangi aliran darah dan meningkatkan kecepatan metabolisme otot yang menimbulkan pengiriman impuls nyeri dari medulla spinalis ke otak dan dipersepsikan sebagai nyeri (Smeltzer dan Bare, 2010). Dengan gerakan mengkontraksikan dan merileksasikan otot maka tubuh secara fisiologi akan memproduksi endogen untuk menghambat impuls nyeri tersebut dan suasana tubuh menjadi rileks (Smeltzer dan Bare, 2010). Endogen terdiri dari endorfin dan enkefalin, substansi ini seperti morfin yang berfungsi menghambat transmisi influs nyeri. Apabila tubuh mengeluarkan substansi-substansi ini, salah satu efeknya adalah pereda nyeri (Smeltzer dan Bare, 2010).

(32)

Keberadaan endorfin dan enkefalin ini juga membantu dalam mempengaruhi suasana menjadi rileks sehingga mudah untuk memulai tidur dan meningkatnya jumlah enkefalin dan serotoninyang dapat menyebabkan tidur dan relaksasi. Perasaan rileks diteruskan ke hipotalamus untuk menghasilkan Corticotropin Releasing Factor (CRF). CRF merangsang kelenjar Pituitary untuk meningkatkan Produksi β-Endorphin, Enkefalin dan serotoninyang pada akhirnya dapat meningkatkan kenyamanan pada klien, kebutuhan tidur terpenuhi (Smeltzer & Bare, 2010).

5.1.2 Perbedaan kualitas tidur pasien kanker payudara antara kelompok intervensi dengan kontrol

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat perbedaan kualitas tidur yang signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol disimpulkan bahwa diperoleh p = 0.00 dimana bila p < 0.05 kesimpulannya bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah terhadap kualitas tidur pasien kanker payudara di RSUP. H. Adam Malik Medan artinya PMR lebih baik dalam meningkatkan kualitas tidur daripada klien yang tidak mendapatkan latihan PMR.

(33)

perubahan kekuatan otot, kelunturan otot, kecepatan reaksi, ketangkasan dan koordinasi gerakan. Beberapa kondisi tersebut akan membuka sumbatan – sumbatan dan memperlancar aliran darah ke jantung serta meningkatkan aliran darah yang lebih banyak pada otot – otot untuk mendukung metabolisme (Jacobson, 1938). Aliran darah yang meningkat juga dapat meningkatkan oksigen. Peningkatan oksigen didalam otak akan merangsang peningkatan sekresi serotonin sehingga membuat tubuh menjadi tenang dan lebih mudah untuk tidur (Smeltzer dan Bare, 2010). Haris & Muhtar (2011) menunjukkan bahwa pemberian terapi latihan relaksasi otot progresif selama 15 menit setiap dua kali dalam seminggu secara teratur dapat menimbulkan efek relaksasi pada tubuh, sehingga membuat tubuh menjadi tenang dan lebih mudah untuk tertidur.

(34)
(35)

5.2Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah keseragaman waktu selama pemberian latihan progressive muscle relaxation (PMR) bagi pasien kanker payudara dan hal yang sangat sulit bagi peneliti dimana pemberian terapi PMR disesuaikan berdasarkan tempat tinggal klien dari masing – masing rumah atau jika klien dengan status bekerja.

(36)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

PMR memberikan efektivitas yang bermanfaat terhadap kualitas tidur pasien kanker payudara hal ini dapat dilihat pada kelompok sebelum intervensi latihan PMR menunjukkan kualitas tidur yang buruk dan pada kelompok setelah intervensi latihan PMR menunjukkan kualitas tidur yang baik yang dinilai dari kualitas tidur secara subjektif, latensi tidur, lama waktu tidur, efisiensi tidur, tidak mengalami gangguan tidur, tidak menggunakan obat – obatan; kualitas tidur sesudah intervensi latihan PMR pada kelompok intervensi menunjukkan kualitas tidur yang baik dan kelompok kontrol tetap menunjukkan kualitas tidur yang buruk yang dinilai dari kualitas tidur secara subjektif, latensi tidur, lama waktu tidur, efisiensi tidur, mengalami gangguan tidur, menggunakan obat – obatan dan disfungsi siang hari; terdapat perbedaan kualitas tidur kelompok intervensi sebelum melakukan latihan PMR yang menunjukkan kualitas tidur yang buruk dan kelompok intervensi sesudah melakukan latihan PMR yang menunjukkan kualitas tidur yang baik; dan tidak terdapat perbedaan kualitas tidur sebelum dan sesudah

(37)

6.2. Saran

Gambar

Tabel 3.1. Defenisi operasional variabel penelitian
Tabel 4.1.  Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik demografi di ruang rawat inap kemoterapi RSUP
Tabel 4.2. Hasil analisis kualitas tidur pada pasien kanker payudara kelompok intervensi sebelum latihan PMR dan kelompok kontrol sebelum periode intervensi di ruang rawat inap kemoterapi RSUP
Tabel 4.3. Hasil analisis kualitas tidur pada pasien kanker payudara  kelompok intervensi setelah latihan PMR dan kelompok kontrol setelah periode intervensi di ruang rawat inap kemoterapi         RSUP
+4

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien kanker yang menjalani kemoterapi yang diberikan latihan PMR selama tujuh hari dengan frekuensi latihan dua kali

Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan tentang pengaruh PMR terhadap kecemasan pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi di RSU Martha Friska Brayan Medan Tahun

Hasil penelitian menunjukkan pemberian progressive muscle relaxation (PMR) terhadap penurunan myalgia pada pasien kanker paru yang menjalani kemoterapi adalah

Pembahasan Dalam penelitian ini, intervensi yang digunakan bertujuan untuk dapat meningkatkan self- acceptance pada ketiga pasien kanker payudara pasca mastektomi yaitu intervensi

2 Pengaruh Progressive Muscle Relaxation terhadap Fatigue Sebelum dan sesudah Intervensi pada Pasien Kanker Paru yang menjalani Kemoterapi Tahun 2023 Berdasarkan tabel 2, pada

v ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN AROMATERAPI LAVENDER DAN PEPPERMINT UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS TIDUR PADA PASIEN KANKER PAYUDARA DI RSPAD GATOT SOEBROTO Srimpi Pamulatsih

ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN AROMATERAPI LAVENDER DAN PEPPERMINT UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS TIDUR PADA PASIEN KANKER PAYUDARA DI RSPAD GATOT SOEBROTO KARYA ILMIAH AKHIR

Srimpi Pamulatsih, 2023 PENERAPAN EVIDENCE BASED NURSING: PENGARUH AROMATERAPI LAVENDER DAN PEPPERMINT TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS TIDUR PADA PASIEN KANKER PAYUDARA DI RSPAD GATOT