KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DI
INDONESIA
diajukan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata praktikum Wawasan Agribisnis Program Studi Agribisnis
Fakultas Pertanian Universitas Jember
Asisten Pembimbing Rijal Syam Faishal
Oleh :
Golongan K / Kelompok 2 1. Ilham Arifiansyah (151510601077) 2. Yustika Prima P. (151510601067) 3. Nova Sofiatul M. (151510601083) 4. Novia Riskiatul (151510601084) 5. Sheflya Candra M. (151510601092) 6. Maftuhatul Hidayah (151510601094) 7. Ayu Kharismadani (151510601095) 8. Emalia Firdaus S. (151510601096) 9. Syifa Faidatul U. (151510601097)
LABORATORIUM MANAJEMEN AGRIBISNIS PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER
BAB 1. PENDAHULUAN
Sebagian besar mata pencarian penduduk Indonesia berasal dari sektor pertanian dan menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu pilar besar perekonomian Indonesia. Pada dasarnya pembangunan pertanian di Indonesia sudah berjalan sejak masyarakat mengenal cara bercocok tanam, namun perkembangan tersebut berjalan secara lambat. Pertanian awalnya hanya bersifat primitif dengan cara kerja yang lebih sederhana. Seiring berjalannya waktu, pertanian berkembang menjadi lebih modern untuk mempermudah para petani mengolah hasil pertanian dan mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan demikian pembangunan pertanian mulai berkembang dari masa ke masa.
Pembangunan pertanian diartikan sebagai rangkaian berbagai upaya untuk meningkatkan pendapatan petani, menciptakan lapangan kerja, mengentaskan kemiskinan, memantapkan ketahanan pangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah. Hanafie (2010) mendefenisikan kebijakan pertanian sebagai usaha pemerintah untuk mencapai tingkat ekonomi yang lebih baik dan kesejahteraan yang lebih tinggi secara bertahap dan kontinu melalui pemilihan komoditi yang diprogramkan, produksi bahan makanan dan serat, pemasaran, perbaikan structural, politik luar negeri, pemberian fasilitas dan pendidikan. Pemerintah melaksanakan perannya sebagai stimulator dan fasilitator yang mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi dan sosial para petani.
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Kebijakan Pembangunan Pertanian Pada Masa Penjajahan
Pertanian di Indonesia awalnya hanya bersifat primitif dengan cara kerja yang lebih sederhana. Pada tahun 1830 terjadi sistem tanam paksa yang dikeluarkan oleh Gubernur Jendral Johannes Van Den Bosch dengan tugas pokok mencari dana semaksimal mungkin untuk mengisi kas negara yang kosong. Bagi pemerintah kolonial sistem tanam paksa berhasil menuai sukses besar, sementara dilain pihak menyebabkan para petani mengalami kemiskinan.
Gubernur Jendral Johannes Van Den Bosch memfokuskan kebijakannya pada peningkatan produksi tanaman ekspor. Aturan sistem tanam paksa yang dilakukan oleh Jendral Johannes Van Den Bosch diantaranya adalah setiap penduduk diwajibkan menyerahkan 20% tanahnya untuk ditanami jenis tanaman yang laku dipasaran ekspor, khususnya tebu, tarum (nila) dan kopi serta hasil pertanian yang dimiliki petani harus diserahkan kepada pemerintah kolonial. Bagi penduduk yang tidak mempunyai tanah dapat menggantinya dengan bekerja di perkebunan, atau pabrik selama 66 hari.
Kebijakan tanam paksa dari pemerintah kolonial menimbulkan beberapa kekurangan dan kelebihan, berikut ini adalah beberapa kekurangan dan kelebihan dari kebijakan tanam paksa pada era penjajahan.
A. Kekurangan kebijakan tanam paksa pada era penjajahan. 1. Penderitaan fisik dan mental kerena bekerja terlalu keras. 2. Pertanian lokal khususnya padi mengalami gagal panen.
3. Menurunnya jumlah penduduk Indonesia
4. Beban pajak yang berat.
5. Kematian dan kelaparan dimana-mana.
6. Pergeseran sistem kepemilikan dan penguasaan tanah. B. Kelebihan kebijakan tanam paksa pada era penjajahan.
1. Rakyat Indonesia mulai mengenal tanaman dagang yang berorientasi ekspor. 2. Dapat mengenal teknik menanam berbagai jenis tanaman baru.
adanya kebutuhan untuk meningkatkan hasil pertanian baik untuk kepentingan penjajah maupun untuk memenuhi kebutuhan pribumi (Sadono, 2008). Setelah mencapai kemerdekaan, usaha penyuluhan pertanian terus dikembangkan oleh pemerintah, berbagai sarana dan prasarana pertanian telah disediakan, begitupula jumlah penyuluh ditambah dan ditingkatkan kemampuannya, serta adanya berbagi subsidi kepada petani.
2.2 Kebijakan Pembangunan Pertanian Pada Era Orde Lama
Pada era orde lama, pertanian di Indonesia masih termasuk pertanian primitif, itu disebabkan karena pada masa itu merupakan awal dari pemerintahan bangsa Indonesia setelah sekian lama dijajah oleh bangsa penjajah. Kegiatan produksi pertanian pada masa orde lama masih berada pada tingkat yang sangat rendah. Salah satu faktor yang menyebabkan pembangunan pertanian pada masa orde lama masih sangat rendah adalah keterbatasan produksi, lemahnya infrastruktur yang ada, serta ketidakstabilan situasi politik masa pasca kolonial selama 350 tahun dengan sistem tanam paksa dan kerja rodi. Pada masa pasca kolonial juga terjadi ketimpangan penguasaan tanah masih tetap mencolok.
Masa orde lama merupakan masa yang paling sulit bagi bangga Indonesia, karena bangsa Indonesia baru memulai untuk membangun kembali bangsa Indonesia yang baru terlepas dari masa penjajahan. Salah satu pembangunan bangsa Indonesia adalah dengan mengembangkan program-program dan kebijakan yang ada di sektor pertanian. Adapun program yang dibuat pada masa orde lama, antara lain:
1. Rencana Kasimo (Kasimo Plan)
Program ini disusun oleh Menteri Urusan Bahan Makanan I.J.Kasimo. Program ini berupa rencana produksi tiga tahun (1948-1950) mengenai usaha swasembada pangan dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Inti dari
hewan-hewan yang berperan penting bagi produksi pangan, di setiap desa dibentuk kebun-kebun bibit, dan transmigrasi bagi 20 juta penduduk Pulau Jawa dipindahkan ke Sumatera dalam jangka waktu 10-15 tahun.
2. Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA)
Tujuan diberlakukannya UUPA adalah meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria nasional yang merupakan alat untuk membawa kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi negara dan rakyat tani, dalam rangka masyarakat yang adil dan makmur, meletakkan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum pertanahan, dan meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum mengenai hak-hak atas tanah bagi rakyat seluruhnya. Kebijakan distribusi tanah secara adil menurut UU Pokok Agraria atau lebih dikenal dengan landreform kandas di masa orde baru, maka
Agrarische Wet yang menjadi dasar bagi Hak Guna Usaha (HGU) para pemodal dan partikelir untuk memeras tanah dan petani kecil terus berlangsung.
Kebijakan pembangunan pertanian pada masa orde lama antara lain, mempertahankan penghasilan tertentu bagi mereka yang diserahi tugas mengelola administrasi dan keamanan negara, program swasembada pangan dilaksanakan dalam tahun 50-an dan tahun 60-an, program padi sentra yang dimulai pada tahun 1959 bertujuan untuk mencapai swasembada, dan menaikan produksi beras melalui program BIMAS. Pola kebijakan pembangunan pertanian pada masa orde lama lebih menitikberatkan pada jenis tanaman lokal yang ditanam untuk dijadikan komoditas lokal, misalnya sejenis sagu di Maluku dan Papua. Tingkat ketergantungan terhadap tanaman padi masih tergolong tinggi, namun Indonesia di masa orde lama belum pernah tercatat mengalami krisis pangan yang menyebabkan kasus kelaparan. Pada beberapa periode, harga kebutuhan pokok sempat mengalami lonjakan harga yang cukup tinggi, tetapi lonjakan harga tersebut tidak banyak berimbas di wilayah pedesaan yang relatif masih menerapkan pola diversifikasi bahan makanan.
Kebijakan dan program-program yang telah dibuat pada masa orde lama pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, berikut ini adalah kekurangan dan kelebihan dari kebijakan pembangunan pertanian pada era orde lama.
1. Terjadinya ketidakseimbangan delam penguasaan lahan, khususnya lahan pertanian.
2. Pengadaan dan penguasaan tekologi pertanian yang belum maju 3. Sistem pertanian yang masih tradisional ( primitif )
4. Harga kebutuhan pokok sempat mengalami lonjakan harga yang cukup tinggi. 5. Kegiatan produksi di sektor pertanian terjadi pada tingkat yang sangat rendah,
karena keterbatasan kapasitas produksi dan infrastruktur pendukung, baik fisik maupun non-fisik.
B. Kelebihan kebijakan pembangunan pertanian pada era orde lama
1. Diversifikasi bahan pangan masih diterapkan pada wilayah pedesaan sehingga tidak ada masyarakat yang kekurangan pangan.
2. Adanya program Kasimo Plan dan Undang-Undang Pokok Agraria 3. Adanya swasembada bahan pangan
2.3 Kebijakan Pembangunan Pertanian Pada Era Orde Baru
Masa orde baru merupakan salah satu masa dimana banyak program-progam pembangunan di bidang pertanian yang dilaksanakan, seperti membangun infrastruktur perbenihan, pengamatan, dan pengendalian hama. Program pembangunan pada masa Orde Baru dilaksanakan dari pusat hingga ke daerah-daerah. Selain program-program yang dilaksanakan, Presiden Soeharto juga menyediakan sumber daya manusia yang mampu mendukung program tersebut, menyediakan sumber dana yang besar untuk menyukseskan program menuju swasembada pangan, serta sukses memobilisasi masyarakat, terutama petani untuk bersama-sama meningkatkan produksi pertanian.
sektor agraria dan mengeluarkan berbagai kebijakan yang mengarah pada revolusi pangan. Berikut merupakan kebijakan-kebijakan dalam bidang pembangunan pertanian pada era Orde Baru :
1. REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)
REPELITA adalah Rencana Pembangunan Lima Tahun yang menjadi kebijakan dari Presiden Soeharto pada masa Orde Baru untuk meningkatkan pembangunan Indonesia dari segi apa saja, tetapi lebih diutamakan pada pembangunan sektor pertanian. REPELITA sendiri terdiri dari berberapa tahap yang kesemuanya difokuskan untuk membangun sistem pertanian Indonesia dengan turut memajukan sektor lain yang juga mendukung pembangunan sektor pertanian seperti sektor industri dan teknologi.
2. Revolusi Hijau
Revolisi Hijau merupakan upaya untuk meningkatkan produksi biji-bijian dari hasi penemuan ilmiah berupa benih unggul baru dari beragam varietas gandum, padi dan jagung yang membuat hasil panen komoditas meningkat di negara-negara berkembang. Revolusi Hijau dipicu dari pertambahan penduduk yang pesat, yakni bagaimana mengupayakan peningkatan hasil produksi pertanian. Peningkatan jumlah penduduk harus diimbangi dengan peningkatan produksi pertanian. Perkembangan Revolusi Hijau yang sangat pesat juga berpengaruh pada masyarakat Indonesia. Sebagian besar kondisi sosial-ekonomi mayarakat Indonesia berciri agraris. Oleh karena itu, pembangunan pertanian menjadi sektor yang sangat penting dalam upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal tersebut didasari oleh kebutuhan penduduk yang meningkat dengan pesat, tingkat produksi pertanian yang masih sangat rendah, serta produksi pertanian belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan penduduk.
3. Pembangunan Irigasi dan Produksi Padi
laju sebesar 2,4% per tahun. Luas kenaikan maksimum dicapai pada tahun 1987. tendensi ini diikuti dengan melonjaknya jumlah produktifitas padi. Pada tahun 1987 produksi padi meningkat hingga 44 juta ton, naik 3 kali lipat sejak tahun 1966. Tingkat produksi yang dicapai ini diperoleh dengan naiknya intensitas tanam hingga mencapai rata-rata 1,8. Mengenai kenaikan produksi persatuan luas, tercatat naik dari 2,4 ton/ha menjadi 4,5 ton/ha. Nilai ini bila diplotkan ke dalam sejarah evolusi padi di negara-negara berkembang dengan Jepang sebagai perbandingan, telah berada di fase keempat bersama-sama dengan Taiwan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa lahan irigasi memberikan peranan yang besar dalam mencapai swasembada pangan. Kira-kira 60-70% padi diproduksi dari lahan beririgasi.
4. BIMAS, INMAS, INSUS dan Panca Usaha Pertanian.
Pemerintah Orde Baru melaksanakan program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian yang dimulai sejak Pelita I dan Pelita-Pelita berikutnya. Pada waktu itu dilaksanakan program Bimbingan Masal (BIMAS) yang kemudian berubah menjadi Intensifikasi Masal (INMAS), Intensifikasi Khusus (INSUS) dan Panca Usaha Pertanian. Pada upaya meningkatkan produksi pertanian padi, dilakukan penanaman bibit unggul, sepertu Varietas Unggul Baru (VUB) atau High Yealding Varietas (HYV) sebagai hasil penelitian International Rice Research Institute (IRRI). Panca Usaha Tani tani tersebut meliputi pengolahan tanah yang baik, pengairan/irigasi yang teratur, pemilihan bibit unggul, pemupukan, pemberantasan hama dan penyakit tanaman.
Kebijakan dan program-program yang telah dibuat pada masa orde baru pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, berikut ini adalah kekurangan dan kelebihan dari kebijakan pembangunan pertanian pada era orde baru.
A. Kelebihan kebijakan pembangunan pertanian pada era orde baru
1. Pemerintah mampu memenuhi kebutuhan pangan bagi masyarakat Indonesia. 2. Mengurangi import bahan pangan.
3. Mengurangi kelangkaan pangan dengan hasil pertani dari para petani dalam negeri.
4. Produktivitas para petani semakin tinggi.
1. Produktivitas tanah semakin rendah karena penggunaan pupuk kimia yang berlebih serta pola tanam tanaman tetap pada setiap musimnya, yaitu padi. 2. Meningkatnya tingkat kesenjangan sosial antar masyarakatnya.
3. Meningkatkan jumlah hutang negara pada IMF.
2.4 Kebijakan Pembangunan Pertanian Pada Era Reformasi
Pada era reformasi, paradigma pembangunan pertanian meletakkan petani sebagai subyek, bukan semata-mata sebagai peserta dalam mencapai tujuan nasional. Oleh karena itu, pengembangan kapasitas masyarakat guna mempercepat upaya memberdayakan ekonomi petani, merupakan inti dari upaya pembangunan pertanian/pedesaan. Upaya tersebut dilakukan untuk mempersiapkan masyarakat pertanian menjadi mandiri dan mampu memperbaiki kehidupannya sendiri. Pemerintah terus memperbaiki kebijakan-kebijakan yang ada dengan tujuan mengevaluasi hasil kerja yang sebelumnya dan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. Salah satunya dengan memperbaiki kebijakan pembangunan pertanian, pemerintah membuat beberapa kebijakan. Berikut kebijakan pembangunan pertanian pada era reformasi.
1. Gerakan Mandiri (Gema)
Gerakan Mandiri (Gema) yang merupakan konsep langkah-langkah operasional pembangunan pertanian, dengan sasaran untuk meningkatkan keberdayaan dan kemandirian petani dalam melaksanakan usaha taninya. Mulai tahun 1998/1999 telah diluncurkan berbagai Gema Mandiri termasuk Gema Hortina untuk peningkatan produksi hortikultura. Gerakan Mandiri Hortikultura Tropika Nusantara menuju ketahanan hortikultura (Gema Hortina), dilaksanakan untuk mendorong laju peningkatan produksi hortikultura.
tumbuh dan berkembangnya hortikultura unggulan tersebut meliputi penumbuhan sentra agribisnis hortikultura dan pemantapan sentra hortikultura yang sudah ada seperti sayuran, buah-buahan, tanaman hias, serta tanaman obat.
1. SRI (System of Rice Intensification),
SRI adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air, dan unsur hara. Metode SRI megutamakan potensi lokal dan disebut pertanian ramah lingkungan, akan sangat mendukung terhadap pemulihan kesehatan tanah dan kesehatan pengguna produknya (Leimona, 2015). Metode SRI ini terbukti telah berhasil meningkatkan produktivitas padi sebesar 50% bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100%. Teknik SRI ini telah berkembang di 36 negara antara lain Indonesia, Kamboja, Laos, Thailand, Vietnam, Bangladesh, Cina, Nepal, Srilanka, Gambia, Madagaskar dan lainnya. Perkembangan padi SRI (System of Rice Intensification) yang terkenal dengan motonya “More Rice with Less Water” atau hasil beras meningkat dengan penggunaan air yang sedikit. Metode SRI dapat menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan metode penanaman padi lain, dan hal itu akan membawa dampak perubakan yang baik bagi pembangunan pertanian di Indonesia (Anugrah, 2008).
2. Pembangunan Pertanian Lahan Beririgasi
Sesuai dengan pasal 4 Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 2006 tentang Irigasi, pengelolaan sistem irigasi diselenggarakan melalui azas partisipatif, terpadu, berwawasan lingkungan hidup, transparan, akuntabel, dan berkeadilan. Berikut adalah poin-poin yang dimaksudkan dengan kaidah pengelolaan yang diharapkan dari peraturan tersebut:
a. Partisipatif
Petani melalui P3A dan GP3A, diharapkan memiliki inisisatif swadaya ataupun swakelola dalam melestarikan kedayagunaan jaringan irigasi, sementara pemerintah sesuai daerah kewenangannya bertanggungjawab untuk mendukung inisiatif yang muncul dari petani.
Keterpaduan yang dimaksud bukan hanya pada proses pemeliharaan pelestarian jaringan, akan tetapi lebih diutamakan pada pemanfaatan yang sebesar-besarnya untuk meningkatkan kesejahteraan petani lahan beririgasi yang pada akhirnya mewujudkan ketahanan pangan yang solid.
c. Berwawasan lingkungan
Sebagai pemenuhan azas kelestarian pemanfaatan dan kegunaan. Dari segi teknis pemanfaatan, Dinas Pertanian dituntut pula melaksanakan sistem pertanian yang mendukung azas pelestarian lingkungan hidup seperti menerapkan sistem pertanian terpadu, integrasi tanaman dan ternak, metode budidaya padi organik (melalui metode SRI), PHT, dan lain-lain.
d. Transparansi, akuntabel, dan berkeadilan.
Dengan adanya peraturan ini, petani melalui organisasi P3A / GP3A dapat melakukan aksi pengawasan langsung atas proses dan pembiayaan operasi dan pemeliharaan di wilayah kewenangannya. Azas ini mensyiratkan bahwa proses pembangunan adalah milik masyarakat petani dan petani mempunyai hak untuk menentukan arah pembangunan daerahnya dan menuntut transparansi, akuntabilitas, dan keadilan kebijakan yang dilaksanakan.
Kebijakan dan program-program yang telah dibuat pada masa reformasi pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, berikut ini adalah kekurangan dan kelebihan dari kebijakan pembangunan pertanian pada masa reformasi.
A. Kekurangan kebijakan pembangunan pertanian pada masa reformasi.
1. Petani belum siap dengan beberapa kebijkan dari pemerintah yang dianggap terlalu sulit dan merepotkan.
2. Dalam permasalahan irigai petani menjadi kebingungan akibat tidak memahami penduan yang tidak pasti dalam sistem pembagian air.
B. Kelebihan kebijakan pembangunan pertanian pada masa reformasi.
1. Meningkatkan kesejahteraan petani yang pada akhirnya mewujudkan ketahanan pangan.
BAB 3. KESIMPULAN
1. Sistem tanam paksa yang dijalankan pemerintah kolonial Belanda banyak menimbulkan pengaruh bagi rakyat pada masa itu. Walaupun demikian banyak pihak yang diuntungkan dari pelaksanaan sistem ini, seperti penambahan pengetahuan rakyat tentang tanaman ekspor dan teknik penanamannya.
2. Pertanian pada era orde lama masih termasuk pertanian primitif karena merupakan awal dari pemerintahan bangsa Indonesia setelah dijajah oleh bangsa penjajah. Pemerintah terus mencoba mengembangkan formula untuk menyelamatkan pertanian dengan membuat kebijakan pertanian yang pada akhirnya masa orde lama ini tidak berlangsung lama.
3. Pada masa Orde Baru presiden Soeharto melakukan pembangunan pertanian dengan melakukan beberapa kebijakan untuk meningkatkan pembangunan pertanian khususnya dalam peningkatan produktifitas tanaman pangan yang akhirnya mampu mewujudkan Indonesia swasembada pangan.
DAFTAR PUSTAKA
Anugrah, I. S., Sumedi, dan Wardana, I. P. 2008. Gagasan Dan Implementasi Sistem Of Rice Intensification (SRI) Dalam Kegiatan Budidaya Padi Ekologis (BPE). Analisis Kebijakan Pertanian, 6(1): 75-99.
Hanafie, Rita. 2010. Pengantar Ekonomi Pertanian. Yogyakarta: Andi.
Leimona, B., S. Amaruzaman, B. Arifin, F. Yasmin, F. Hasan, B. Dradjat, H. Agusta, P. Sprang, S. Jaffee, dan J. Frias. 2015. Kebijakan dan Strategi “Pertanian Hijau” Indonesia: Menjembatani Kesenjangan antara Aspirasi dan Aplikasi. Bogor : World Agroforestry Centre (ICRAF).
Sadono, D. 2008. Pemberdayaan Petani: Paradigma Baru Penyuluhan Pertanian Di Indonesia. Penyuluhan, 4(1): 65-74.