• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Kuliah Praktek Pertamina Oleh Te

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Kuliah Praktek Pertamina Oleh Te"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia telah mengenal minyak bumi sejak lama, yaitu sekitar 6000 tahun

yang lalu. Digunakan untuk keperluan pengobatan, bahan bakar, penerangan,

bahan pembuat jalan raya, bangunan dan untuk peperangan. Usia industri

perminyakan di Indonesia masih relatif muda tepatnya pada tanggal 15 Juni 2007

yang lalu berusia 122 tahun, sedangkan usia PERTAMINA pada tanggal 10

Desember 2007 nanti berusia 50 tahun.

PERTAMINA sebagai perusahaan minyak nasional yang berwenang untuk

mengelola semua bentuk kegiatan perminyakan Indonesia mempunyai tiga tugas

utama, yaitu:

1. Sebagai sumber devisa Negara.

2. Menyediakan lapangan kerja / kesempatan kerja

3. Menyediakan dan menjamin pemenuhan BBM (Bahan Bakar Minyak)

Dalam pengemban tugas tersebut, PERTAMINA mengoperasikan

beberapa kilang minyak dalam negeri, antara lain UP-I Pangkalan Brandan, UP-II

Dumai, UP-III Plaju, UP-IV Cilacap, UP-V Balikpapan, UP-VI Balongan, dan

yang terbaru UP-VII kasim.

Sasaran utama pengadaan dan penyaluran BBM dalam menunjang

pembangunan nasional adalah tersedianya BBM dalam jumlah yang cukup dengan

kualitas yang memenuhi spesifikasi, suplai yang berkesinambungan, terjamin, dan

ekonomis. Pemenuhan kebutuhan BBM merupakan tugas yang berat karena

peningkatan kapasitas pengolahan minyak yang dimiliki PERTAMINA tidak

berjalan dengan lonjakan konsumsi BBM yang dibutuhkan masyarakat.

Kendala yang dihadapi dalam meningkatkan kapasitas pengolahan minyak

(2)

itu, kilang-kilang minyak yang dioperasikan menggunakan teknologi yang cukup

tertinggal dan tidak effisien. Oleh karena itu, dalam pembangunan kilang-kilang

lama diterapkan teknologi baru yang berwawasan lingkungan. Dalam

mengoperasikan kilang-kilang dalam negeri

Tiga kebijakan utama selalu mendasari langkah Pertamina, yaitu:

kepastian dalam pengadaan, pertimbangan ekonomi, pengadaan dan keluwesan

pengadaan.

1.2 Pelaksanaan

Kerja Praktek dilaksanakan selama 1 bulan yang dimulai pada 02 Juli

sampai dengan 31 Juli 2007. Bertempat di PT. PERTAMINA (Persero) Unit

Pengolahan VI Balongan. Jadwal kerja praktek yang akan dilakukan oleh

pelaksana dapat dilihat pada lampiran.

1.3 Tujuan

Tujuan kerja praktek yang dilaksanakan antara lain:

1. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperdalam ilmu

pengetahuan diluar perkuliahan.

2. Untuk memperkenalkan mahasiswa terhadap dunia kerja yang akan

dijalaninya suatu saat.

3. Menerapkan teori yang telah didapat diperkuliahan dengan kondisi

dilapangan.

1.4 Manfaat Kerja Praktek Adalah :

1. Bagi Mahasiswa

a. Memberikan pengetahuan yang lebih dalam dari dunia kerja yang akan

dihadapi oleh mahasiswa suatu saat nanti.

b. Melatih mahasiswa untuk berpikir secara alamiah dalam menganalisa

masalah secara terperinci sehingga didapatkan pemecahaan masalah

yang sesuai untuk diterapkan.

c. Melatih mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang telah didapatnya

(3)

2. Bagi Perguruan Tinggi

a. Sebagai bahan evaluasi dalam meningkatkan mutu mahasiswa dimasa

yang akan datang.

b. Membina hubungan baik antara akademika dan instansi yang

bersangkutan

c. Menyiapkan lulusan yang baik dan siap kerja

3. Bagi Perusahaan

a. Menjalin hubungan baik antara akademika dengan perusahaan

tersebut.

b. Memperdayakan mahasiswa untuk membantu memecahkan masalah –

masalah yang dihadapi oleh perusahaan, sesuai dengan kemampuan

mahasiswa yang bersangkutan.

c. Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan perusahaan dalam

menyelesaikan masalah-masalah yang ada di lapangan.

1.5 Sistematika Penyusunan Laporan

Dalam pembahasan ini disampaikan mengenai metodologi penyusunan

dan sistematika penyusunan laporan Kerja Praktek.

1. Metodologi Penyusunan

Dalam menyusun laporan Kerja Praktek ini digunakan metode –

metode sebagai berikut:

a. Metode wawancara, yaitu melakukan diskusi, wawancaran dan

tanya jawab dengan para teknisi dan pengawas yang bekerja pada

bagiannya masing-masing.

b. Metode observasi, yaitu melihat langsung pada peralatan yang

menjadi pembahasan pada kerja praktek.

c. Metode studi pustaka, melengkapi data-data yang didapat melalui

wawancara dan pengamatan dengan cara membaca dari sumber –

(4)

2. Sistematika Penyusunan

Untuk bagian awal akan dijelaskan secara singkat mengenai

perusahaan tempat kerja praktek seperti sejarah perusahaan, struktur

organisasi, proses produksi, produk, bahan baku, dan lain-lain. Hal itu

hanya sebagai pengantar dan pengenalan terhadap perusahaan tempat

kerja praktek dilaksanakan. Setelah itu akan dibahas studi analisis yang

dilakukan dengan sistematika sebagai berikut:

a. Tinjauan pustaka yang berhubungan dengan studi analisa tersebut

b. Penjelasan mengenai objek yang dianalisis termasuk penyajian

data-data lapangan yang diperoleh.

c. Pengolahan data dan analisa objek.

d. Menarik kesimpulan yang temasuk alternatif – alternatif yang bisa

(5)

BAB II

GAMBARAN UMUM

PT PERTAMINA (Persero) UP VI BALONGAN

2.1 Kilang

Kilang PT PERTAMINA (Persero)

Kilang – kilang PT PERTAMINA (Persero) dan kapasitasnya adalah

sebagai berikut :

Tabel 2.1 Nama Kilang PT PERTAMINA (Persero) dan Kapasitasnya

NAMA KILANG KAPASITAS

UP-I PANGKALAN BRANDAN 5.000 BPSD

UP-II DUMAI DAN SUNGAI PAKNING 170.000 BPSD

UP-III PLAJU DAN SUNGAI GERONG 133.700 BPSD

UP-IV CILACAP 300.000 BPSD

UP-V BALIKPAPAN 253.000 BPSD

UP-VI BALONGAN 125.000 BPSD

UP-VII KASIM-SORONG 10.000 BPSD

TOTAL 997.300 BPSD

sumber: PERTAMINA, 2004

2.2 Bahan Baku Minyak Mentah UP-VI BALONGAN

Bahan baku minya mentah UP-VI Balongan adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2 Spesifikasi Umpan Minyak Mentah

Minyak Mentah Minas Duri

(6)

Minyak Mentah Minas Duri

Produk-produk UP-VI Balongan adalah sebagai berikut :

Tabel 2.3 Produk-produk UP-VI Balongan

JENIS PRODUK KAPASITAS SATUAN

(7)

2.4 Tata Letak PERTAMINA UP-VI Balongan

Alamat Pertamina UP-VI Balongan adalah Jl. Raya Balongan Indramayu

Jawa Barat. Tepatnya kurang dari 40 km kearah barat laut Cirebon.

2.5 Ideologi PT PERTAMINA UP-VI Balongan

1. Visi

Menjadi kilang unggulan

2. Misi

a. Mengelola minyak bumi

b. Mengoperasikan kilang

c. Mengelola aset PERTAMINA UP-VI Balongan

3. Motto

Meraih keungulan komparatif dan kompetitif

2.6 Distribusi Produk UP-VI Balongan

Distibusi hasil dari UP-VI Balongan dapat dilihat pada gambar dibawah

ini :

(8)

Manajer SDM Manajer Eng & Bang

Ka.Bid. Jasrum Ka. Bid. LKKK Manajer Umum

Ka. Bag.P&B

General Manajer UP VI Balongan

2.7 Struktur Organisasi

Gambar struktur organisasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

(9)

BAB III

PROSES PRODUKSI

3.1 Distillation and Treating Unit (DTU)

DTU terdiri dari Distillation and Treating Unit (Unit 11), Amine

Treatment (Unit 23), Sour Water stripper (Unit 24), Sulphur Plant (Unit 25) dan

Caustic Soda (Unit 64). DTU merupakan unit pertama dalam rangkaian proses

pengolahan crude oil menjadi produk – produknya dan juga terdapat beberapa unit

treating yang mengolah aliran gas dan air untuk menurunkan kandungan sulfur

dan amonia.

3.1.1 Unit 11 : Crude Distillation Unit (CDU)

CDU dibangun untuk mengolah minyak sebesar 125.000 BPSD (828, 1

m3/ jam) yang terdiri dari 50% Crude Oil Duri dan 50% Crude Oil Minas. Unit ini

terdiri dari dua seksi, yaitu :

a. Crude Distillation Section

Dirancang untuk mendistilasi campuran crude oil yang menghasilkan

destilat overhead terkondensasi, gas oil dan residu.

b. Overhead F raksinasi dan Stabilizer Section

Dirancang untuk destilasi lanjutan kondensat overhead menjadi produk

LPG, Naphta, dan kerosene. Unit ini juga dirancang untuk mengolah campuran

wild naphta dari gas oil dan Light Cycle Oil (LCO) Hydrotreater.

3.1.2 Unit 23 : Amine Treatment Unit

Unit ini berfungsi untuk mengolah sour gas serta untuk menghilangkan

kandungan H2S yang terikat dalam sour gas. Proses yang dipakai adalah SHELL

ADIP, dengan larutan DIPA (Diisopropanolamine) sebagai larutan penyerap

(10)

1. Off Gas Absorber, untuk mengolah off gas dari CDU, ARHDM, GO

HTU. Hasilnya digunakan untuk fuel gas system dan umpan gas

Hydrogen Plant. Kapasitas 18522 Nm3/jam.

2. Residue Catalytic Cracking (RCC) Unsaturated Gas untuk mengolah

sour gas dari RCC unit dan hasilnya ke fuel gas system.

Kapasitasnya 39252 Nm3/jam.

3. Amine Regenerator berfungsi untuk meregenerasi larutan amine

yang telah digunakan dalam kedua absorber diatas, dengan kapasitas

100 % gas yang keluar dari kedua menara penyerap.

Spesifikasi produknya adalah kandungan H2S yang keluar dari

masing-masing menara maksimal 50 ppm volume.

3.1.3 Unit 24 : Sour Water Stripper Unit (SWS)

Unit SWS secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu :

a. Sour Water Stripper Section

Seksi SWS terdiri dari dua train yang perbedaannya didasarkan atas feed

berupa air buangan proses yang diolah. Kemampuan pengolahannya dirancang

untuk train no.1 sebesar 67 m3/jam dan untuk train no.2 sebesar 65,8 m3/jam.

1. Train no.1 : memproses air buangan yang berasal dari CDU, ARHDM dan

LCO HTU.

2. Train no.2 : memproses air buangan yang berasal dari RCC Complex.

b. Seksi Spent Caustic Treating

Seksi ini mempunyai kapasitas 17,7 m3/hari. Seluruh spent caustic

dinetralkan dengan asam sulfat (H2SO4) dan disalurkan ke effluent facility.

Ditinjau dari sumber Spent Caustic yang diproses seksi ini dibedakan menjadi dua

jenis, yaitu :

1. Spent caustic yang rutin (routinous) dan non rutin (intermittent) yang

berasal dari unit – unit :

a. LPG Treater Unit (LPGTR).

b. Gasoline Treater Unit (GTR).

(11)

d. Catalityc Condensation Unit (Cat. Cond.).

2. Spent Caustic merupakan regenerasi dari unit – unit :

a. Gas Oil Hydrotreater.

b. Light Cycle Oil Hydrotreater.

3.1.4 Unit 25 : Sulphur Plant

Berfungsi untuk mengambil unsur sulfur dari off gas unit amine treatment

dan H2S Stripper train no.1 Unit SWS. Unit ini terdiri dari unit Claus yang

berfungsi menghasilkan cairan sulfur dan fasilitas pemuatan sulfur padat.

3.2 Atmospheric Residue Hydrodemetallization (Unit 12/13)

Unit yang mengolah Atmospheric Residue (AR) dari CDU menjadi produk

yang disiapkan sebagai umpan untuk RCC. Unit ARHDM beroperasi dengan

kapasitas 58.000 BPSD (384 m3/jam). Selain mengolah residu, unit ini juga

berfungsi mengurangi kandungan logam Nikel (Ni), vanadium (V), dan karbon

(C) yang dibawa oleh residu dari unit CDU.

3.2.1 F eed Section

Yaitu pemanasan awal dan penyaringan kotoran pada feed menggunakan

filter sebelum dialirkan ke feed surge drum. Setelah kedua feed bergabung dan

dipanaskan, kemudian menuju filter yang membersihkan crude dari solid. Feed

yang sudah difiltrasi dialirkan ke Filtered Feed Surged Drum 12-V-501 yang di’blanket’ dengan Nitrogen. Kemudian feed dipanaskan kembali ke furnace

sebelum dialirkan secara paralel ke modul 12 dan 13.

3.2.2 Reaction Section

Masing – masing modul terdiri atas tiga reaktor yang disusun secara seri.

Karena reaksi Hydrtotreating adalah eksotermis, maka temperatur campuran

oil/gas akan naik pada saat bereaksi. Untuk mengatur kenaikan temperatur dan

mengontrol kecepatan reaksi maka diinjeksikan cold quench recycle ga s. Effluent

(12)

3.2.3 Cooling and Separating of Product Section

Pendinginan pertama dilakukan di exchanger. Panasnya diserap oleh

combine feed reactor, selanjutnya reaktor effluent feed mengalir ke Hot High

Pressure Separator (HHPS). Aliran liquid panas dari HHPS mengalir ke Hot

Flow Pressure Sepa rator, dimana uap yang terpisah dari Hot Liquid dalam HHPS

ini banyak mengandung H2, NH3, CH4 gas ringan hidrokarbon dan cairan

hidrokarbon lainnya. Uap tersebut didinginkan di Heat Reactor, dimana panas

dari HE ini akan ditransfer di Combine Feed Reactor.

Setelah itu aliran campuran uap dialirkan ke Effluent Air Cooler masuk ke

Cold Hight Pressure Sepa rator (CHPS). Recycle Gas yang kaya hidrogen serta

terpisah dari minyak dan air masuk ke recycle gas Compressor dan sebagian ke

unit Hydrogen Membrane Sepa rator untuk dimurnikan. Liquid dari bottom HHPS

di-flash di dalam Hot Low Pressure Separator (HLPS). Uap yang kaya H2

dipisahkan untuk recovery dan produk minyak berat digabung dengan produk

HLPS modul 13 dialirkan ke fraksionator.

Flash gas dari HLPS modul 12 dan 13 didinginkan melalui exchanger dan

air cooler sebelum di-flash-kan Cold Low Pressure Drum (CLPFD), Flash gas

dari CLPFD yang kaya akan H2 dialirkan ke make up gas compressor untuk

dikompresi dan dikembalikan ke unit ARHDM. Liquid ringan di-flash-kan

kembali bersama dengan liquid dari CHPS ke CLPS.

3.2.4 Recycle Gas Section

Aliran gas yang kaya hidrogen dari CHPS terbagi dua, sebagian

dikembalikan ke reaktor dengan Recycle Gas Compressor dan sebagian aliran

(BleedStream) ke Membrane Separation Unit.

3.2.5 F ractionation Section

Seksi fraksionasi memisahkan produk ARHDM menjadi naphta, kerosene,

diesel dan Hydrodemetallized Atmospheric Residue (DMAR). Diperoleh dengan

Atmospheric Fractionator dibantu dua buah stripper. Sebelum dikirim keluar,

(13)

Produk :

1. Sour gas

2. Unstabilized Naphta

3. Kerosene

4. Gas Oil

5. DMAR sebagai RCC feed

3.3 Unit RCC Kompleks (Residue Catalytic Cracking Complex)

Berfungsi mengolah residu minyak (Reduced Crude) menjadi : LPG,

Gasoline, Light Cycle Oil, Decant Oil, Propylene dan Polyga soline. Unit ini

berfungsi cara perengkahan yang memakai katalis. Unit ini berkaitan erat dengan

Unsaturated Gas Plant Unit yang akan mengelola produk puncak Main Column

Unit RCC menjadi Stabilized Gasoline, LPG dan Non Condensable Lean Gas.

Produk :

1. Overhead Vapour Main Column

2. Light Cycle Oil

3. Decant Oil

Desain Dasar :

RCC dirancang untuk mengolah Treated Atmosperic Residue yang berasal

dari unit ARHDM dengan desain 29.500 BPSD (35,5 % vol.) dan

Untreated Atmospheric Residue yang berasal dari unit CDU dengan desain

53.000 BPSD (64,5 % vol.). kapasitas terpasang adalah 83.000 BPSD.

3.4 LEU (Light End unit)

Berfungsi untuk mengolah produk keluaran RCU menjadi produk –

(14)

3.4.1 Unit 16 : Unsaturated Gas Plant

3. Non condensable Lean Gas / Off Gas

Desain dasar :

Unsaturated Gas Plant ini dirancang untuk mengolah 83.000 BPSD AR.

Unit ini menghasilkan Sweetened Fuel Gas yang dikirim ke Refinery Fuel

Gas System untuk diproses lebih lanjut dan menghasilkan Untreated LPG

yang akan diproses di LPG Treatment Unit (Unit 17) dan naphta yang

akan diproses di Naphta Treatment Unit (Unit 18).

3.4.2 Unit 17 : LPG Treatment Unit

Unit ini berfungsi untuk memurnikan LPG produk Unsaturated Gas Plant

dengan cara mengambil senyawa merkaptan dan sulfur organik lainnya dan

mengubahnya menjadi senyawa disulfida.

Produk :

1. Treated Mixed LPG, selanjutnya dikirim ke Propylene Recovery Unit

(Unit 19).

Desain Dasar :

LPG Treatment Unit dirancang untuk mengolah feed dari produk atas

Debutanizer pada Unsaturated Ga s Plant sebanyak 22.500 BPSD.

3.4.3 Unit 18 : Naphta Treatment Unit

Unit ini dirancang untuk mengekstraksi H2S dan mengoksidasi merkaptan

sulfur dalam untreated naphta. Untuk mendapatkan hasil produk dengan

spesifikasi antara lain Doctor Test Negative, kandungan merkaptan sulfur < 15

(15)

Produk :

1. Treated Naphta

Desain Dasar :

Unit ini dirancang untuk memproses 47.500 BPSD untreated RCC naphta

yang dihasilkan oleh Unit 16 (Unsaturated Gas Plant) dengan maksimum

kandungan 5 ppm-wt H2S dan 90 ppm-wt merkaptan dan dirancang dapat

beroperasi pada penurunan kapasitas hingga 50%.

3.4.4 Unit 19 : Propylene Recovery Unit

Berfungsi untuk memisahkan Mixed Butane dan memproses LPG C3 dan

C4 dari Unit 16 untuk mendapatkan produk propylene dengan kemurnian tinggi

(minimum 99,6 %) yang dipakai sebagai bahan baku untuk pembuatan di

Propylene Unit.

Produk :

1. Propylene dengan kapasitas terpasang 7150 BPSD.

2. Propana.

3. Campuran butana.

Desain Dasar :

Proses yang digunakan adalah Selective Hydrogeneration Process (SHP)

dengan reaktor Huels.

3.4.5 Unit 20 : Catalytic Condesation

Unit ini berfungsi untuk mengolah campuran butana dari Propylene

Recovery Unit (Unit 19) menjadi gasoline dengan angka oktan yang tinggi.

Produk :

1. Polygasoline

2. Butane

Desain Dasar :

Unit ini dirancang untuk menghasilkan produk dengan berat molekul yang

tinggi menggunakan katalis Soid Phosporus Acid. Kapasitas yang dimiliki

(16)

3.5 HTU (Hydro Treating Unit)

3.5.1 Hydrogen Plant (Unit 22)

Fungsinya untuk mengurangi atau menghilangkan impurities yang terikut

bersama crude oil dengan proses hidrogenasi. Kandungan impurities yang dimiliki

crude oil relatif cukup tinggi, antara lain : nitrogen, senyawa sulfur organik dan

senyawa – senyawa logam. Produknya digunakan untuk memenuhi kebutuhan di

ARHDM unit, LCO Hydrotreater Unit dan di Gas Oil Hydrotreater Unit.

3.5.2 Gas Oil Hydrotreater Unit

Unit ini mengolah Gas Oil yang tidak stabil dan korosif (mengandung

sulfur dan nitrogen) dengan bantuan katalis dan hidrogen menjadi ga s oil yang

memenuhi ketentuan pasar dengan kapasitas 32.000 BPSD (212 m3/jam).

GO HTU terdiri dari dua seksi, yaitu :

1. Seksi reaktor, untuk proses reaksi dengan katalis dan hidrogen.

2. Seksi fraksionasi, untukmemisahkan ga s oil hasil reaksi dari produk

lan, seperti off gas, wild naphta, hydrotreated gas oil.

3.5.3 Light Cycle Hydrotreating Unit (Unit 21)

Berfungsi sebagai menghilangkan sulfur dan nitrogen dari feed tanpa

perubahan boiling range yang berarti. Kapasitas unit LCO HTU ini adalah 15.000

BPSD (99,4 m3/jam) dengan menggunakan katalis UOP S-19 M.

Distribusi feed dan produk yang diolah dari unit LCO HTU ini meliputi :

1. Feed Stock Lco diperoleh dari RCC kompleks.

2. Katalis Hydrotreating UOP mengandung oksida nikel/ molibdenum

(S-12) dan cobalt/molybdenum (S-19 M) di dalam ba se alumina dan

dibuat berbentuk bulat atau extrude.

3. Make Hydrogen akan disuplai dari hydrogen plant unit.

Produk :

1. LCO,langsung ditampung di tangki untuk siap dipasarkan.

2. Hydrotreated Light Cycle Oil dipakai untuk blending produk tanpa

(17)

3. Off Gas dikirim ke Refinery Fuel Gas System

4. Wild naphta dikirim ke unit CDU atau RCC untuk proses lebih lanjut.

Berikut gambar diagram alir dan unit – unit utama UP-VI Balongan:

Gambar 3.1 Diagram alir UP-VI Balongan

(18)

BAB IV

DASAR TEORI

4.1 Klasifikasi Equipment

Pada UP-VI Balongan tindakan preventivedan predictive maintenance

pada peralatan – peralatan berdasarkan pada critical rating yaitu :

4.1.1 Vital Category

Peralatan – peralatan yang digunakan untuk proses utama terhadap proses

produksi dan keselamatan petugas. Bila rusak, akan mengakibatkan proses shut

down, pengurangan produksi, mempunyai biaya penggantian tinggi, keselamatan

kilang atau karyawan tidak terjamin. Peralatan – peralatan jenis ini memerlukan

frekuensi monitoring sangat sering secara periodik. Maintenance yang dilakukan

seperti Vibration , analysislub oil. Contohnya Main Air Blower.

4.1.2 Essential Category

Peralatan – peralatan yang dipergunakan dalam proses produksi dan

bersifat essential terhadap proses produksi. Bila rusak, akan mengakibatkan

pengurangan produksi dan mempunyai biaya penggantian yang tinggi. Peralatan –

peralatan jenis ini juga memerlukan frekuensi monitoring sering secara periodik.

Maintenance yang dilakukan seperti Vibration, color lub oil. Contohnya pompa

15-P-102 A/B/C.

4.1.3 Support Category

Peralatan yang digunakan dalam suatu proses dan memerlukan periodik

monitoring secara rutin. Apabila rusak, tidak akan berpengaruh terhadap proses

produksi dan keselamatan dalam jangka waktu tertentu. Peralatan – peralatan jenis

ini memerlukan frekuensi monitoring sesuai schedule sekitar 1 bulan sekali secara

periodik. Maintenance yang dilakukan seperti monitoring vibration, regreasing,

penggantian lub oil. Contohnya pompa 56-P-101A/B/C/D/E/F

4.1.4 Operating Category

Semua peralatan yang tidak termasuk dalam kategori diatas dan tidak

(19)

terhadap proses produksi dan keselamatan. Maintenance yang dilakukan seperti

monitoring vibration,regreasing, belt. Contohnya Fin Fan.

4.2 Pengertian Vibrasi

Vibrasi adalah pergerakan bagian dari mesin secara bolak – balik dari

posisi normal. Contoh sederhananya adalah jika kita menggantungkan sebuah

beban M pada sebuah pegas yang terikat secara vertikal pada posisi statis. Tiga

faktor yang mempengaruhi vibrasi adalah beban, kekakuan, daya redam.

4.2.1 Penyebab Terjadinya Vibrasi Pada Mesin

1. Unbalance dari part yang berputar

2. Misalignment dari coupling atau bearing

3. Shaft bengkok.

4. Kerusakan pada gear box, drive belt, bearing

5. Torsi yang berubah – ubah

6. Adanya gaya Electromagnetic, Aerodynamic, Hydrolic, Looseness

7. Adanya resonansi

8. Adanya rubbing

9. Dan lain - lain

4.2.2 Karakteristik Vibrasi

Berikut adalah karakteristik – karakteristik vibrasi fungsi waktu :

Gambar 4.1 Pergerakan dari massa yang bergetar dengan waktu Kondisi mesin dan adanya problem mekanik dapat diketahui dengan

(20)

a. F rekuensi Vibrasi (f)

Frekuensi vibrasi adalah jumlah getaran dalam satu satuan waktu. Biasanya

dalam satuan Hz atau cycle per minute (cpm).

Gambar 4.2 Periode dari sebuah vibrasi

Seperti terlihat pada gambar 4.3, waktu yang diperlukan oleh beban M untuk

bergetar satu kali disebut periode getaran. Maka,

Frekuensi (Hz) = 1 periode

Cpm = frekuensi x 60 (Sumber : IRD Mechanalysis, Vibration

Technology – 1, hal. 2 – 3)

Manfaat pengukuran frekuensi vibrasi adalah dapat menyimpulkan masalah –

masalah yang terjadi pada mesin tersebut. Seperti pada gambar dan tabel berikut :

Tabel 4.1 Vibration Identification Chart

Frequency In Terms

of RPM Most Likely Cause

Less than 1 X 1. Oil Whirl

2. Belts

1 X 1. Unbalance

2. Misalignment

2 X Looseness

3 X Misalignment

4 X Looseness

5 X and Up

1. Bearing 2. Gear 3. Vane

(21)

b. Amplitudo (Peak To Peak Displacement)

Amplitude adalah jarak total yang ditempuh benda getar antara kedua puncak

getaran. Biasanya dalam satuan mills (0.001 inch) atau micron (0.001 mm).

Besarnya amplitude getaran suatu mesin dibatasi oleh suatu standart (severity

chart), sehingga dengan membandingkan vibrasi yang terjadi kita dapat

menyimpulkan suatu mesin berjalan normal atau abnormal.

c. Kecepatan dan Percepatan

dalam pergerakannya massa selalu dipengaruhi oleh kecepatan dan

percepatan yang berubah – ubah baik arah maupun besarnya.

d. F ase Vibrasi

Fase adalah karakteristik vibrasi penting yang didenisikan sebagai posisi dari

bagian yang bergetar terhadap posisi referensi. Fase relative adalah perbedaan

waktu yang diukur dengan derajat antara dua buah signal. Syarat – syarat yang

harus dipenuhi dalam mengukur fase relative adalah :

1. Terdapat titik referensi sebagi fixed part.

2. Ada dua buah signal vibrasi.

3. Frekuensinya harus sama.

4. Satuannya harus sama (mills, micron, dan lain - lain).

5. Salah satu signal vibrasinya sebagai referensi.

6. Perbedaan fase relative adalah . Leading atau Lagging

Manfaat pengukuran fase vibrasi adalah :

1. Rotor balancing.

2. Mengetahui keretakan shaft.

3. Mengetahui bentuk shaft saat bergetar.

4. Mengetahui arah vibrasi.

7. Mengetahui sumber ketidak stabilan fluida induced.

e. Spike Energy

Spike Energy adalah energy vibrasi yang ditimbulkan oleh metal to metal

impact dan dalam waktu yang relative singkat serta terjadi pada frekuensi yang

(22)

getaran yang sangat tinggi, misalnya untuk mengetahui kondisi roller bearing.

Manfaat pengukuran dengan spike energy adalah untuk mengetahui kondisi :

1. Permukaan rolling elemen pada bea ring atau gear.

2. Adanya impact atau metal to metal contact pada part mesin.

3. Kebocoran steam atau udara bertekanan tinggi.

4. Adanya turbulensi aliran atau kavitasi.

4.2.3 Jenis

jenis vibrasi

Penyebab vibrasi dapat bervariasi, antara lain :

a. Vibrasi Karena Unbalance

Unbalance adalah salah satu penyebab vibrasi yang sering terjadi, umumnya

data dari unbalance memperlihatkan :

1. Frekuensinya 1 X RPM.

2. Amplitudonya berimbang dengan besarnya unbalance

3. Amplitudo vibrasinya biasanya lebih besar kearah radial.

4. Sudut fasenya analisis stabil.

Berdasarkan penyimpangan geometri titik berat shaft terhadap garis sumbu

shaft, unbalance dapat diklasifikasikan menjadi empat macam, yaitu :

Static Unbalance

Static Unbalance adalah kondisi dimana garis berat rotor menyimpang secara

parallel terhadap garis sumbu rotor

Couple Unbalance

Couple Unbalance adalah kondisi dimana garis berat rotor menyimpang secara

diagonal atau interseksi terhadap garis sumbu rotor.

Quasi

Static Unbalance

Kombinasi antara static dan couple unbalance

Dynamic Unbalance

Merupakan gabungan ketiga jenis unbalance sebelumnya, dan sangat dipengaruhi

(23)

Penyebab terjadinya unbalance, yaitu :

1. Adanya blow holes pada cor – coran komponen rotor

Semacam rongga udara yang tercebak dalam bahan cor - coran

2. Adanya Eccenticity

Garis tengah geometrisnya tidak pas dengan titik putar benda.

3. Adanya penambahan kunci pasak

Jika pada saat test balancing pasak tidak diperhitungkan maka pada

saat pemasangan akan membuat problem.

4. Distorsi

Terjadi pada bagian – bagian yang terkena perlakuan panas sehingga

secara otomatis geomtris akan berubah.

5. Clearance Tolerance

Akumulasi dari clea rances selama perakitan suatu mesin.

6. Korosi dan keausan

Korosi dan keausan tidak bisa diatur untuk bisa rata pada sekeliling

rotor

7. Terbentuknya deposit

Deposit terbentuk secara gradual dan merata

b. Vibrasi Karena Misalignment

Masalah misalignment umumnya hampir sama dengan unbalance, namun

data misalignment biasanya memperlihatkan :

1. Frekuensi vibrasi biasanya 1 X RPM, 2 X RPM, 3 X RPM.

2. Besarnya amplitude getaran setara dengan besarnya misalignment

3. Amplitude vibrasi aksial biasanya X

2 1

1 amplitude radialnya

(24)

Jenis – jenis vibrasi karena misalignment ada tiga yaitu :

Offset Misalignment

Offset Misalignment terjadi jika kedua poros tidak lurus atau sejajar

Gambar 4.3 Offset Misalignment

Angular Misalignment

Angular Misalignment terjadi jika kedua poros tidak lurus atau sejajar dan

membentuk sebuah sudut

Gambar 4.4 Angular Misalignment

Combination Misalignment

Combination Misalignment adalah gabungan dari Offset dengan Angular

misalignment

Gambar 4.5 Combination Misalignment

Bearing and Pulley Misalignment

Gambar 4.6 Misalignment rolling element bearing and shaft

Gambar diatas menunjukkan posisi roller bearing yang salah, hal ini menyeakan

(25)

Gambar 4.7 Misalignment sleeve bearing and shaft

Gambar diatas menunjukkan sleeve yang salah, hal ini tidak akan menunjukkan

indikasi apa – apa jika tida terjadi unbalance

Gambar 4.8 Misalignment sheaves

Gambar diatas menunjukkan pemasangan pulley yang salah. Hal ini menunjukkan

keausan pada pulley, belt, chain, etc

c. Vibrasi Karena Kerusakan Roller Bearing

Kerusakan pada roller bearing akan menyebabkan timbulnya vibrasi dengan

frekuensi 1 X RPM, 2 X RPM, 3 X RPM dan diikuti dengan frekuensi yang

tinggi. Faktor – faktor yang menyebabkan kerusakan bearing antara lain :

1. Excesive load.

2. Misalignment.

3. Defective shaft seats and housing bores

4. Fauly mounting

5. Improrer fit

6. Improrer lubrication

7. Poor sealing

8. False brinelling

(26)

d. Vibrasi Karena Kerusakan Sleeve Bearing

Terjadi vibrasi karena sleeve bea ring. Umumnya disebabkan bearing

clearance yang besar. Kerusakan terjadi biasanya karena wiping, chemical erotion,

longgarnya babbit didalam dudukannya, serta masalah pelumasan.

e. Vibrasi Karena Karena Oil Whirl

Oil whirl adalah masalah pada mesin – mesin yang menggunakan pressure

lubricated sleeve bearing yang beroperasi pada kecepatan relatif tinggi. Biasanya

terjadi pada fekuensi diatas kecepatan kritisnya. Vibrasi ini biasanya terjadi pada

X

2

1 RPM

f. Vibrasi Karena Mechanical Looseness

Vibrasi ini disebabkan oleh mounting bolt yang kendor, clearance bearing

yang besar (untuk sleeve tipe) atau kerusakan lainnya. Vibrasi ini akan muncul

dengan

g. Vibrasi Karena Kerusakan Drive Belt

Masalah vibrasi yang terjadi pada sistem belt,umumnya diklasifikasikan

sebagai :

1. Reaksi belt terhadap beberapa gaya yang timbul karena adanya

masalah pada mesin itu sendiri.

2. Kerusakan pada belt.

h. Vibrasi Karena Kerusakan Gear

Vibrasi yang disebabkan oleh problem gear biasanya akan muncul dengan

frequency gear meshing. Biasanya kerusakan gear meliputi keausan gigi, tidak

akuratnya posisi gigi, kesalahan pelumasan atau ada serpihan yang menempel

pada gigi

i. Vibrasi Karena Problem Electrical

Vibrasi karena electrical ini biasanya terjadi ketidak seimbangan gaya magnet

yang bekerja antara stator dan rotor. Penyebabnya mungkin disebabkan oleh salah

(27)

1. Rotor not round.

2. Eccentric armature journal.

3. Rotor and stator misalignment; unequal air gap.

4. Elliptical stator bore.

5. Open or shorted windings.

6. Shorted rotor iron

j. Vibrasi Karena Aerodynamic dan Hydraulic F orce

Mesin – mesin yang menangani fluida seperti minyak, air, udara ataupun gas

akan mengalami vibrasi dan noise sebagai reaksi dari fluida terhadap vane atau

blade impeller

k. Vibrasi Karena Rubbing

Rub adalah merupakan efek dari mesin yang tidak normal, antara lain :

1. Shaft bow

2. Fluid induced

3. Misalignment

4. Insuffivent clearance

5. Case bow

Pada saat terjadi rub, ada dua gaya yang bekerja pada poros, yaitu :

1. Impact force

Menyebabkan deformasi lokal dan rebounding motion.

2. Friction Force

Arahnya tangensial dan arahnya selalu berlawanan dengan arah vibrasi

4.3 Dynamic Motion Measurement

Pengukuran vibrasi pada rotating equipment dalam kategori vital dan

essential dilakukan agar kita dapat mengetahui gejala awal kerusakan pada

equipment, sehingga usia mesin lebih panjang dan spa re part dapat disiapkan

terlebih dahulu. Pengukuran sendiri dilakukan oleh teknisi dari SKF, hal ini

dikarenakan peralatan yang digunakan untuk Pengukuran vibrasi selalu update

(28)

Peralatan yang digunakan untuk Pengukuran vibrasi adalah DIAU (Data

Interface Acquisition Unit) dan ADRE (Automated Diagnostic of Rotating

Equipment) For Windows®. Parameter – parameter yang biasa digunakan adalah:

1. Spektrum Data.

2. Time Wave Data.

3. Orbit.

4. Bode Plot.

Pada pengukuran kali ini orbit dan bode plot tidak dapat di data,

dikarenakan titik referensi keyphasor yang terpasang pada pompa hilang. Dari

data spektrum pada setiap titik pengukuran ini menunjukan adanya amplitudo

yang lebih tinggi yang selalu muncul pada frekuensi tertentu, yaitu pada less than

1 X RPM,1 X RPM, 2 X RPM, 3 X RPM, 4 X RPM, dan more than 5 X RPM.

Dari tabel menurut SKF, pembagian jenis mesin sebagai berikut :

a. Kelas I = 0 – 15 kW

normalnya terletak pada perbatasan antara good dengan satisfactory. Pada

dasarnya dalam keadaan normal, nilai vibrasi harus pada awal atau pertengahan

zona good. Hasil pengukuran dilapangan dengan alat vibration tester data vibrasi

dalam satuan sehingga agar dapat dimasukkan dalam grafik harus

dijadikan , tetapi pada ADRE satuannya udah .

(Sumber : IRD Mechanalysis, Vibration Technology – 1, hal. 2 – 6)

4.3.1 Cara Pengukuran

Pengukuran vibrasi dilakukan pada tempat yang paling dekat dengan

(29)

1. Axial, sejajar dengan poros

2. Horizontal dan Vertical, kedua titik ini harus mempunyai sudut 90°

3. Non Driver atau out Board, titik ini letaknya jauh dari coupling.

4. Driver atau in board, titik ini letaknya dekat dari coupling.

4.4 Pengertian Pompa

Pompa adalah salah suatu alat yang dapat menaikan fluida dari tempat

yang rendah ke tempat yang lebih tinggi. Pompa merupakan mesin fluida yang

mengunakan zat cair, dengan menggunakan kecepatan putaran dari poros motor

penggerak yang menggerakkan impeler sehingga zat cair dapat naik ke permukaan

yang lebih tinggi.

4.4.1 Pompa Sentrifugal

Pompa sentrifugal adalah pompa yang mengunakan prinsip tenaga

sentrifugal dalam operasinya. Pompa 15-P-102 A/B/C jenis pompa sentrifugal

yang digunakan untuk memompa decant oil dari 15-V-102 ke tangki penimbun

Bagian pompa yang berfungsi untuk memberikan energi kecepatan pada

fluida melalui gaya sentrifugal.

2. Shaft

Alat yang berfungsi menyalurkan momen putar dari penggerak pompa

kepada impeller.

3. Casing

Bagian pompa yang berfungsi sebagai rumah dan pelindung impeller.

4. Bearing housing

(30)

5. Mechanical seal

Suatu jenis perapat yang memiliki konstruksi lebih kompleks dan

umumnya digunakan untuk fluida yang berbahaya dan bertekanan rendah

sampai tinggi.

6. Bearing

Alat yang berfungsi untuk mengurangi keausan poros dan menahan

gesekan-gesekan yang terjadi antara poros dan rumahnya juga sebagai titik

(31)

BAB V

ANALISA

5.1

Measurement Getaran dengan Sensor dan Data Akusisi

Pengaruh terpenting dari pemilihan parameter yang ada adalah frekuensi

dimana disetiap pengukuran sangat penting untuk mendapatkan data frekuensi

disetiap kesempatan.Tiga tahapan dalam keseluruhan pengukuran dari sebuah

mesin :

a. Tahap-1, Pengukuran sinyal yang ditimbulkan oleh mesin atau sistem

dengan menggunakan sensor-sensor atau tranduser, Istilah yang lebih

umum disebut data akusisi.

b. Tahap-2, Prosesing sinyal data menggunakan peralatan dengan output

satuan vibrasi, penunjukan visual atau hasil cetakan, dimana

semuanya dapat digabungkan dengan sistem alarm, bunyi atau saklar

pemutus.

c. Tahap-3, Penetapan kondisi ini adalah tahap keputusan dengan

membandingkan data referensi yang ada pada signature ideal

menyediakan informasi dimana kondisi sistem dapat diterapkan dan

keputusan yang tepat.

Dibawah ini adalah strategi yang bisa digunakan dalam mendiagnosa suatu

vibrasi.

Gambar 5.1 Strategy Flow Chart Apa Yang Telah Diketahui

Informasi Apa Yang Telah diperoleh

Apakah Diperlukan Tambahan Data Untuk Melaksanakan Analisa

(32)

5.2 Data Pompa 15-P-102 A

Berikut data sheet dan aktual pompa 15-P-102 A :

Tabel 5.1 Data sheet dan actual pompa 15-P-102 A

DATA SHEET DATA ACTUAL

Flow Rate 50.4 Flow Rate 41.5

Pressure Suction 3.5 Pressure Suction 1.2

Pressure Discharge 18.3 Pressure Discharge 41.5

Current (Amp) 100 Current (Amp) 105

SP. GR 0.86 SP. GR 1.04

Speed (RPM) 2970 Speed (RPM) 2800

Berikut data aktual vibrasi pompa 15-P-102 A tanggal 17-07-2007 :

Tabel 5.2 Data actual vibration pompa 15-P-102 A

IN BOARD OUT BOARD

V 0.2 V 1.8

H 2.5 H 5.2

- - A 1.7

5.3 Pembahasan

Dari tabel vibrasi aktual diatas nilai out board arah horizontal paling besar

yaitu 5.2 . Nilai ini merupakan angka yang paling dominan dari

(33)

unsatisfactory dimana mesin sudah mengalami kerusakan, agar kerusakan tidak

bertambah parah sebaiknya pompa di stop operasinya, jika terpaksa beroperasi

harus dilakukan pengawasan dengan ketat. Berikut data aktual vibrasi tanggal

20-07-2007:

Gambar 5.2 Tabular List IB Pump H

(34)

Gambar 5.4 Tabular List OB Pump H

(35)

Gambar 5.6 Tabular List OB Pump Axial

Berikut trending vibrasi pompa 15-P-102 A :

(36)

Keterangan :

1. = nilai yang paling dominan dari semua arah.

Gambar 5.8 Trending List OB Pump 105-P-102 A

(37)

Berikut spektrum vibrasi pompa 15-P-102 A :

Keterangan :

1. = nilai yang paling dominan dari semua arah.

Gambar 5.10 Spektrum Pompa 15-P-102 A

(38)

Berikut spektrum vibrasi pompa 15-P-102 A :

Gambar 5.12 Orbit dan time base Pompa 15-P-102 A

(39)

Pada data aktual vibrasi tanggal 20-17-2007, nilai vibrasi yang paling

mendominasi terdapat pada out Board pompa arah horizontal, yaitu 6.26

. Apabila dibandingkan dengan data aktual vibrasi tanggal

17-07-2007, terjadi peningkatan vibrasi sebanyak 1.06 . Nilai tersebut

berada pada zona unsatifactory keadaaan dimana mesin sudah mengalami

kerusakan, agar kerusakan tidak bertambah parah sebaiknya pompa di stop

operasinya, jika terpaksa beroperasi harus dilakukan pengawasan dengan ketat

sambil menunggu persiapan pompa 15-P-102 B/C. Berdasarkan gambar 5.9

menunjukkan bahwa pompa 15-P-102 A terdapat gejala pada 2 X RPM. Hal ini

mengindikasikan adanya mechanical looseness.

Pada spektrum out boa rd vertical, terdapat vibrasi harmonik. Hal ini

mengindikasikan gejala rubbing, yaitu gesekan antara metal to metal. Jika

meninjau faktor external, nilai aktual SP. Gr. lebih besar dari nilai SP. Gr. dari

yang dianjurkan. Hal ini mengakibatkan kerja motor meningkat diikuti arus motor

yang juga meningkat. Pompa 15-P-102 A mengalami looseness, diikuti dengan

gejala rubbing. Didalam casing pump terdapat looseness yang terjadi pada :

1. Antara bearing dengan housing bearing.

2. Antara shaft dengan impeller.

3. Rubbing antara impeller wea ring ring dengan casing wearing ring.

Dari bentuk pola time base terlihat indikasi rubbing dan losseness pada

puncak sinyal vibrasi. Untuk dapat mengetahui akibat yang pasti dalam kasus

diatas, harus dilakukan over haul. Apabila impeller wea ring ring dan casing

wearing ring aus dapat mengakibatkan internal circulation dimana fluida yang

keluar dari outlet impeller akan kembali masuk ke inlet impeller. Ditambah

dengan nilai kekentalan (SP. Gr.) melebihi yang dianjurkan, sehingga kerja motor

akan lebih berat. Masalah – masalah inilah yang akan mengurangi efisiensi, flow

total, dan performa. Seharusnya dengan keadaan seperti ini, pompa 15-P-102 A

harus dilakukan pemeriksaan dan perbaikan. Agar kerusakan tidak bertambah

parah sebaiknya pompa distop dari operasinya. Sementara pelaksanaan perbaikan,

(40)

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

1. Vibrasi salah satu indikator kerusakan – kerusakan yang dapat

diketahui dari penyebab sampai akibat, sehingga penanganannya dapat

lebih baik dan mesin akan lebih awet.

2. Dalam analisa vibrasi pada rotating equipment hanya mengacu pada

faktor yang dominan saja dan yang melebihi batas normal. Seperti

dalam pembacaan amplitudo pada spektrum.

3. Amplitudo sebesar 6.26 . Nilai ini udah melebihi batas

amannya yaitu sebesar 4.50 . Berdasarkan ISO-2372

standard, nilai ini berada pada zona unsatisfactory. Mesin masih dapat

beroperasi tetapi dengan pengawasan ketat, jadi biasanya

pengawasannya seminggu sekali menjadi setiap hari. Agar kerusakan

tidak bertambah parah sebaiknya pompa di stop dari operasinya.

Sementara pelaksanaan perbaikan, tugas 15-P-102A digantikan

dengan 15-P-102 B atau 15-P-102 C.

4. Unbalance pasti 1 X RPM, tapi 1 X RPM tidak mesti Unbalance.

Pada 1 X RPM terdapat 2 gejala, yaitu unbalance dan missalignment.

Faktor yang membedakan adalah arah getarannya. Dikatakan

unbalance jika arah getaran radialnya lebih dominan baik vertikal

maupun horizontal.

5. Pengukuran vibrasi radial, sudutnya harus 90°. Jika kurang atau lebih

dari 90°, analisa akan tidak tepat

6. Pada tabel vibration identification chart pada 2 X dan 4 X RPM

terdapat problem sama yaitu looseness. Salah satu ciri looseness

(41)

7. Pompa 15-P-102 A termasuk kelas III, karena dalam keadaan normal

(pompanya baru atau setelah overhaul) nilai vibrasi berada di zona

good. Pemberian kelas tidak hanya melihat dari daya motor, tapi juga

melihat faktor luar dan trend vibrasi

8. Problem oil whirl hanya terjadi pada sleeve bearing. Pompa 15-P-102

A tidak memakai sleeve Bearing sehingga tidak akan terjadi masalah

oil whirl

9. Pada ampere gauge menunjukkan arus motor. Arus ini menjadi

indikasi kerja motor. Semakin tinggi arusnya maka kerja motor

semakin berat, begitu juga sebaliknya. Penyebabnya bisa terjadi pada

saluran yang kotor, SP. GR fluida melebihi yang dianjurkan, terjadi

rubbing atau masalah vibrasi lainnya, ada suatu part yang telah aus.

6.2 Saran

1. Biasanya equipment yang tergolong essential umumnya mempunyai

satu spare unit. Seharusnya dengan keadaan seperti ini, pompa

15-P-102 A harus dilakukan pemeriksaan dan perbaikan. Agar kerusakan

tidak bertambah parah sebaiknya pompa di stop dari operasinya.

Sementara pelaksanaan perbaikan, tugas 15-P-102A, digantikan

dengan 15-P-102 B atau 15-P-102.

2. Alat ukur vibrasi sebaiknya dilakukan kalibrasi berkala sesuai standar

pabrik pembuat alat ukur vibrasi.

3. Untuk alat ukur vibrasi yang rusak hendaknya diperbaiki agar alat

(42)

DAFTAR PUSTAKA

Sularso, Harau Tahara, “pompa dan kompresor”, Cetakan ke-8, jakarta 2004. IRD Mechanalysis, Vibration Technology 1.

IRD Mechanalysis. Vibration. Alih Bahasa: F. Bambang, Indramayu

Technical Associates of Charlotte, INC. 1992. Ilustrated Vibration Diagnostic

Chart.

SKF. 2007. Microlog CMVA 65 available at http://www.skf.com

(43)

Gambar

Tabel 2.2 Spesifikasi Umpan Minyak Mentah
Tabel 2.3 Produk-produk UP-VI Balongan
Gambar 2.1 Distribusi Produk Rata-Rata per Bulan
Gambar struktur organisasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
+7

Referensi

Dokumen terkait

Fungsi pompa adalah suatu alat yang digunakan untuk memindahkan suatu cairan dari suatu tempat ke tempat lain dengan cara menaikan tekanan air, selain itu juga pompa

Pompa hidram adalah suatu alat untuk mengalirkan air dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi secara kontinyu dengan menggunakan energi potensial sumber air

Pompa sentrifugal terdiri dari sebuah poros dan impeller, untuk mengangkat fluida yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi atau sebaliknya.. Daya dari luar di berikan

Pompa hidram merupakan suatu alat yang digunakan untuk menaikkan air dari tempat rendah ke tempat yang lebih tinggi secara otomatik dengan energi yang berasal dari air itu

Alat yang digunakan untuk memindahkan panas dari fluida yang memiliki temperatur lebih tinggi menuju fluida yang memiliki temperatur lebih rendah disebut Alat Penukar Kalor (APK)

Pompa hidram merupakan suatu alat yang digunakan untuk menaikkan air dari tempat rendah ke tempat yang lebih tinggi secara automatik dengan energi yang berasal

Akibat tekanan yang rendah pada sisi isap pompa maka fluida akan naik dari kedalaman tertentu, sedangkan akibat tekanan yang tinggi pada sisi discharge akan memaksa fluida

Pompa hidrolik Ram Hidram merupakan alat yang digunakan untuk menaikkan air dari tempat rendah ke tempat yang lebih tinggi, pompa ini tidak membutuhkan Prinsip kerja hidram adalah